Mercusuarumat.com | Cahaya Peradaban Islam

Terbaru



Mercusuarumat.com. Siapa pernah lihat orang gila? Di jalanan, di pasar, di perkampungan hingga di rumah sakit jiwa. Saya pernah lihat orang gila bicara sendiri, senyum-senyum sendiri hingga mengamuk tak terkendali.

Orang gila, sakit jiwanya, akalnya terganggu juga. Ia tak mampu berpikir sehat. Pun ia berpikir bebas tak ada batas. Fisiknya kuat, badannya sehat. Buktinya banyak diantaranya mampu berjalan puluhan kilometer jauhnya.

Orang gila tak mampu bedakan benar atau salah. Maklum jika orang gila bicara ngelantur. Teriak sana, teriak sini. Ngamuk di muka umum tak tahu malu. Tidak berbusana dan tak kenal tata bahasa. Bicara tak santun, menghina orang yang ia anggap tak sama. Bisa jadi, ia menganggap orang yang sehat justru gila. Menganggap temannya yang gila, malah sehat bak dia.

Orang gila hina agama tak mengapa. Karena akalnya sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya. Ia tak berbusana, tak ada dosa baginya. Ia makan babi yang haram hukumnya tidaklah langgar titah Tuhan-Nya.

Anda tahu dua pelawak yang lagi viral saat ini?
Akun IG tretanmuslim dan cokipardede namanya. Dua pelawak ini bicara tak pakai akalnya. Aksi melawaknya heboh tak tahu malu. Bahkan agama ia hujat jadikan candaan. Kuang lebih seperti ini ia berbusa:

"Untuk pertama kalinya dalam hidup saya melihat daging babi. Nggak bau ya (pas cium daging babi). Coba kita dengarkan, neraka, neraka, api neraka, babi ini neraka. Saya akan memasak daging babi. Ini keren ya seorang chef memasak tanpa dicicipi. Kalau orang Islam bagian terbaik dari babi, dibuang. Tidak ada yang terbaik dari alharamin. Karena daging babi haram, kita akan campurin unsur-unsur Arab, kurma dan madu. Sangat Arab, sangat Timur Tengah sekali. Kira-kira apa yang terjadi makanan haram babi ini dicampur dengan makanan barokah dari kurma dan madu," ucap Muslim dalam vlognya.

"Sebenarnya karena persiapannya kurang prepare ya, kalau bisa dapatin air zam-zam kan menarik juga dong. Ada daging babi dicampur ini minumnya air zam-zam," timpal Coki.

"Jadi bagaimana ceritanya kalau sari-sari kurma masuk ke dalam pori-pori apakah cacing pitanya akan mualaf. Kita tidak tahu dong. Dalam (daging babi) ini kan ada cacing pita," kata Coki Pardede lagi.

Orang gila bicara ngelantur karena akalnya sudah hancur. Orang gila menghujat karena ia tak tahu mana benar mana salah. Orang gila makan segala karena ia tak tahu hala haramnya.

Ini ada dua pelawak yang akalnya masih berfungsi sempurna. Namun sayang perilakunya justru hina. Apakah dua pelawak ini gila? Atau lebih dari orang gila? Tolong jawab pemirsa! [IW]



Tanya :

Ustadz, apakah dalam syariah Islam ada batas maksimal laba dalam perdagangan, misalnya 30 persen atau 100 persen?

Muhammad, Bogor

 Jawab :

Yang dimaksud dengan “laba” (ar ribhu, profit) adalah tambahan dana yang diperoleh sebagai kelebihan dari beban biaya produksi atau modal. (Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqaha, hlm. 168). Secara khusus “laba” dalam perdagangan (jual beli) adalah tambahan yang merupakan perbedaan antara harga pembelian barang dengan harga jualnya. (Yusuf Qaradhawi, Hal li Ar Ribhi Had A’la?, hlm. 70).

Menurut kami, tidak ada batasan laba maksimal yang ditetapkan syariah Islam bagi seorang penjual, selama aktivitas perdagangannya tidak disertai dengan hal-hal yang haram. Seperti ghaban fahisy (menjual dengan harga jauh lebih tinggi atau jauh lebih rendah dari harga pasar), ihtikar (menimbun), ghisy (menipu), dharar (menimbulkan bahaya), tadlis(menyembunyikan cacat barang dagangan), dan sebagainya. (Yusuf Qaradhawi, Hal li Ar Ribhi Had A’la?, hlm. 72-74; Taqiyuddin An Nabhani, An Nizham Al Iqtishadi fi Al Islam, hlm. 191).

Dalil tidak adanya batasan laba maksimal yang tertentu, adalah dalil-dalil tentang perdagangan yang bermakna mutlak, yaitu tanpa ada ketentuan batas maksimal laba yang tak boleh dilampaui. Misalnya firman Allah SWT (artinya) : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan (tijarah) yang berlaku dengan suka sama suka (saling ridha) di antara kamu.” (TQS An Nisaa [4] : 29).

Ayat ini menunjukkan bolehnya perdagangan (tijarah), yang sekaligus menunjukkan juga bolehnya mencari laba (ar ribhu). Sebab pengertian perdagangan (tijarah) adalah aktivitas jual beli dengan tujuan memperoleh laba (al bai’ wa al syira li gharadh ar ribhi). (Wahbah Zuhaili, At Tafsir Al Munir, 5/31; Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah, 10/151; Rawwas Qal’ah Jie, Mu’jam Lughah Al Fuqaha, hlm. 26).

Bolehnya mencari laba berdasarkan ayat di atas, dari segi berapa besarnya laba, bersifat mutlak. Artinya, tidak ada batas maksimal laba yang ditetapkan syariah. Sebab tidak ada dalil syar’i yang membatasi kemutlakan ayat tersebut. Dalam hal ini kaidah ushul fikih menetapkan : al muthlaqu yajriy ‘alaa ithlaaqihi maa lam yarid daliilun yadullu ‘ala at taqyiid. (dalil yang mutlak tetap dalam kemutlakannya, selama tidak terdapat dalil yang menunjukkan adanya pembatasan). (Wahbah Zuhaili, Ushul Al Fiqh Al Islami, 1/208).

Sebagian ulama mazhab Maliki, seperti Ibnu Wahab, mengatakan bahwa maksimal laba dalam perdagangan adalah sepertiga (tsuluts), dengan dalil sabda Rasulullah SAW bahwa batas maksimal harta yang dapat diwasiatkan adalah sepertiga (tsuluts). (Yusuf Qaradhawi, Hal li Ar Ribhi Had A’la?, hlm. 75; Wahbah Zuhaili, At Tafsir Al Munir, 5/33).

Pendapat ini tidak dapat diterima, dengan dua alasan. Pertama, sabda Rasulullah SAW yang menyebut batas maksimal sepertiga (tsuluts) tersebut tidak dapat menjadi taqyid (pembatasan) terhadap kemutlakan ayat di atas (QS An Nisaa` : 29). Sebab sabda Rasulullah SAW itu topiknya terkait dengan wasiat, sementara ayat di atas topiknya terkait dengan perdagangan. Jadi konteksnya berbeda.

Kedua, penetapan batas maksimal laba sepertiga (tsuluts) bertentangan dengan nash-nash syariah yang membolehkan laba lebih dari sepertiga. Dari ’Urwah RA, bahwa Nabi SAW pernah memberikan kepadanya uang 1 dinar untuk membelikan seekor kambing untuk Nabi SAW. Kemudian Urwah membeli dua ekor kambing dengan uang itu, lalu Urwah menjual salah satu dari dua ekor kambing itu seharga 1 dinar. Urwah kemudian datang kepada Nabi SAW dengan membawa 1 ekor kambing dan uang 1 dinar, Nabi SAW pun mendoakan keberkahan bagi Urwah. (HR Bukhari, no 3642). Hadits ini membolehkan laba 100 persen, karena Urwah awalnya membeli 1 kambing dengan harga ½ (setengah) dinar, lalu menjualnya kembali dengan harga 1 dinar. (Yusuf Qaradhawi, Hal li Ar Ribhi Had A’la?, hlm. 76).

Kesimpulannya, tidak ada batasan laba maksimal yang ditetapkan syariah Islam bagi seorang penjual, selama aktivitas perdagangannya tidak disertai dengan hal-hal yang haram. (Yusuf Qaradhawi, Hal li Ar Ribhi Had A’la?, hlm. 74; Wahbah Zuhaili, At Tafsir Al Munir, 5/30). Wallahu a’lam.[]

Dijawab oleh : K.H. M. Shiddiq al Jawi

Sumber: Tabloid Media Umat Edisi 115



Mercusuarumat.com. Bicara cinta memang luar biasa. Karena cinta orang rela korbankan apa saja. Mulai dari harta, tahta hingga nyawa. Qolbulah tempat berpangkal cinta. Sayangnya qolbu tidak bisa menerima dua cinta. Maka jangan salahlah dalam membangun cinta.

Tuhan yang Maha kuasa sudah menganugerahkannya kepada setiap umat manusia. Tidak mengenal agama, pun tak terbatas usia. Siapapun yang berusaha menghilangkannya, maka hasilnya akan sia-sia.

Sekarang mari bahas pemuda. Fase yang paling sulit dilupakan setiap insan manusia. Katanya masa paling indah tiada tara. Pemudalah penerus cita-cita bangsa. Bangkit atau tidaknya ada di tangan mereka.

Cinta dan pemuda bak kedua belah mata uang yang tak terpisah. Banyak pemuda justru hancur hidupnya karena cinta. Sebaliknya, tak sedikit pemuda sukses karenanya.

Tuhan ciptakan manusia plus potensi yang dimilikinya. Yakni potensi kebutuhan jasmani, naluri dan akal yang menakjubkan fungsinya. Setiap manusia butuh makan, minum, tidur juga istirahat. Inilah yang dimaksud kebutuhan jasmani manusia.

Pun manusia diberikan potensi mempertahankan diri, menyembah sesuatu yang maha tinggi juga naluri mencintai. Di sinilah titik point yang harus kita diskusikan bersama.

Lalu apa gunanya akal. Ia adalah penuntut potensi jasmani juga naluri manusia. Misal manusia membutuhkan makan untuk menyambung hidupnya. Ia akan berpikir, makan yang halal atau yang haram jenisnya. Akallah yang memandu itu semua. Tentu akal tak boleh bebas begitu saja. Jika itu yang tercipta, hancur lebur alam semesta beserta isinya.

Lihat saja apa yang dilakukan oleh kedua orang komika. Akun IG tretanmuslim dan cokipardede namanya. Niat ingin bercanda justru malah menista agama. Daging babi yang telah jelas haramnya, lalarangan dari Tuhan yang maha esa. Diolok-olok, menantang azab Tuhan yang maha kuasa. Inilah bukti, jika akal bebas berekpresi. Manusia saling hujat eksistensi Tuhan yang Maha tinggi. Sistem liberal-demokrasi yang fasilitasi semua yang terjadi saat ini.

Akal jika tidak dipandu oleh sesuatu yang maha tinggi dan maha mengetahui. Ia akan tak terkendali. Apa itu yang maha tinggi? jawabannya tentu Tuhan pencipta manusia dan isi bumi. Allah turunkan pedoman hidup berupa quran dan sunnah untuk mendampingi akal manusia. Agar ia menjadi kekuatan bagi manusia, jalankan kehidupan bahagia dunia nan akhirat abadi.

Jika potensi manusia dibiarkan sekehendak akal yang bebas. Pastilah ia akan seperti selama ini yang terjadi. Hukum Allah dihiraukan tak berarti. Agama dijauhkan dari muka bumi. Karena manusia menganggap, akal harus bebas tak terkendali, itulah salah satu asas demokrasi.

Sekarang kita bicara naluri mencintai. Cinta membutuhkan pengorbanan pun butuh deklarasi. Bohong jika cinta tapi sembunyi-sembunyi.

Di sinilah sekali lagi peran akal dalam mendampingi. Naluri mencintai tak boleh dibiarkan begitu saja dalam berekpresi. Tanya kenapa? Karena jika ini terjadi, kami ingatkan kembali, manusia dan bumi akan hancur tak terkendali!

Mencintai sebuah potensi yang harus didampingi, oleh sesuatu yang maha tinggi. Tentu bukan oleh manusia yang serba terbatas ilmunya, ia harus disandarkan pada Tuhan yang maha mengadili.

Seks bebas adalah contoh ekspresi cinta yang tak terkendali. Pacaran hingga LGBT adalah bukti nyata kehancuran pemuda masa kini.

Apa bedanya manusia dengan hewan jika akal manusia tak terkendali? Hewan mencuri fenomena wajar dan bisa dimaklumi. Karena mereka tak punya akal tuk bedakan benar dan salah. Hewan berhubung badan di jalanan adalah hal biasa. Hewan tak pedulikan makanan halal atau haram. Yang penting baginya perut terisi.

Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Jika manusia mencuri, jika manusia memakan makanan haram. Jika manusia mengekpresikan cinta dengan pacaran dan LGBT. Jika manusia menciptakan hukum yang tak bersumber dari hukum Illahi. Jika manusia bebas berekpresi tanpa batasan norma yang menunjuki. Lalu apa bedanya manusia dengan binatang?

Naluri mencintai harus terikat pada aturan yang maha tinggi. Yakni Allah Rabbul izzati. Mencintai-Nya jadikan kekuatan yang tak tertandingi. Lihat lah masa khilafah berdiri. Para khalifah bertahta dilandasi karena cinta-Nya. Sehingga apa? Ia rela dikritik rakyat jika ia salah dalam mengambil langkah. Ia ikhlas mendengarkan nasihat ulama agar ada perbaikan dalam negeri. Ia berani menentang kezaliman jika hukum Allah dikhianati.

Pun dengan pemuda masa islam mulai berdiri. Sebut saja, Usamah bin Zaid. Usianya masih 18 tahun, namun ia sanggup memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat nabi. Seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di kala itu. Ada juga Al Arqam bin Abil Arqam, 16 tahun usianya. Ia jadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Saw beserta sahabat selama 13 tahun lamanya. Banyak sekali contoh nyata para pemuda yang cintanya telah terpaut pada Allah, Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Wahai pemuda penerus perjuangan bangsa! Mari akhiri cinta semu selama ini. Sandarkan cinta hanya pada Allah Swt. Biarkan akal yang memadu cinta. Akal yang jernih, akal yang tertuntun titah Allah dalam al quran dan sunnah.

Intinya potensi manusia yang telah Allah karuniai. Harus disyukuri dan ditafakuri. Jangan biarkan potensi manusia tak terkendali. Akibatnya seperti saat ini. Musibah tak henti-henti menghampiri bumi ibu pertiwi. Mulai dari sosial, hubungan luar negeri, hukum, politik hingga ekonomi.

Akal luar biasa ini, jangan dibiarkan tak terkendali. Faham liberal-demokrasi harus segera diakhiri. Akal-akal manusia harus terinstal kembali dengan Islam yang yang suci.

Wahai pemuda, masihkah cintamu diekpresikan pada kecintaan dunia?
Mari akhiri! [IW]



Adalah amanah, sesuatu yang seharusnya kita anggap sebagai cobaan, bukan sebagai sebuah celah kesempatan yang sering kita persepsikan kepadanya. Padahal sahabat Abu Bakar r.a telah mencontohkan kepada kita semua, betapa amanah adalah suatu cobaan, yang untuknya hanya ada satu ucapan yang lazim, yakni Inna lillahi wainna ilaihi rojiun yang beliau ucapkan saat ia diangkat sebagai khalifah menggantikan Rasulullah SAW.
Masing-masing kita punya amanah. Besar ataupun kecil. Untuk diri sendiri ataupun terkait dengan orang lain. Saat beranjak baligh, tiap-tiap kita mulai diamanahi makna hidup sebagai pribadi mandiri yang bertanggung jawab. Pada setiap perbuatan yang ia lakukan, baik atau buruk ia mendapatkan ganjaran langsung untuk dirinya, berupa pahala ataupun dosa. Bahkan untuk menuju masa itu, Rasulullah mulia mengamanahkan para orang tua untuk membiasakan melakukan kewajiban sejak usia tujuh tahun, bahkan sebuah pemaksaan mutlak diperlukan saat sang anak menginjak usia sepuluh tahun.
Beranjak dewasa, masing-masing kita mulai ditambahi amanahnya, ditambahi muatannya. Para orang tua menitipkan amanah pada anak-anaknya untuk menjadi orang-orang yang berhasil. Kita pun mulai diamanahi peran-peran atau jabatan tertentu di tiap aktivitas kita, sebagai ketua, pimpinan staf, ataupun anggota dan utusan. Lalu, seiring umur kita, amanah itu bertambah saat kita menjadi seorang suami atau seorang istri. Amanah sesama suami dan istri maupun amanah terhadap sang anak nantinya. Semua amanah punya kajian dan ranahnya masing-masing. Tapi, urgensinya tetap sama. Semua bermula dari konsekuensi hidup kita dan bermuara pada tanggung jawab kita pada Zat Yang Maha Adil..
Untuk itulah Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan padamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah bahwa harta dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal : 27-28).
Amanah bukanlah ha yang main-main. Ia adalah sesuatau yang penting, terlebih bagi kita sebagai muslim. Ia bukan hanya berdampak di dunia, tapi lebih besar lagi pengaruhnya di kampung akhirat kelak. Dampaknyapun bukan hanya pada pemegangnya, tapi juga bagi orang lain yang terkait dengan amanah tersebut. Lihatlah petaka negeri kolam susu yang kian terpuruk akibat para pemimpinnya yang jauh dari makna tanggung jawab, yang kian jatuh dalam derita yang tak berniat untuk berujung. Inilah negeri dimana para pengkhianat dilahirkan, dibentuk, dan dibina dalam kebiasaan yang mengakar turun temurun, dari orang tua kepada anaknya.
Karenanya Rasulullah sejak awal mewanti-wanti kepada kita dengan sabdanya, "Jika amanah itu disia-siakan, maka tunggulah saat-saat kehancurannya. Seorang sahabat bertanya, "Bagaimana menyia-nyiakan amanah itu?" Rasulullah bersabda, "Jika diberikan amanah itu pada yang bukan ahlinya." (HR. Bukhari)
Lihatlah betapa amanah bukanlah hal yang main-main. Apa jadinya jika seorang anak tidak amanah pada orang tuanya? Apa jadinya jika orang tua tidak amanah pada anak-anaknya? Apa jadinya jika masing-masing jiwa tidak amanah pada dirinya sendiri? Apa jadinya jika suami tidak amanah pada istrinya dan sebaliknya? Dan apa jadinya jika seorang pemimpin, terlebih pemimpin umat, yang bergelut di bidang da'wah, tidak amanah pada yang dipimpinnya?
Jika ini terus terjadi. Jika para pengkhianatan ini terus dibiarkan dan terus dilahirkan, maka sejatinya ini adalah sebuah kehancuran generasi. Bagaimana tidak, jika tiap hari di belahan negeri ini terus dilahirkan dan dibentuk jiwa-jiwa cikal bakal pengkhianat, maka tunggulah saja saatnya kehancuran negeri ini.
Predikat penghianat itu adalah sebutan yang diberikan Rasul pada kita yang menyia-nyiakan amanah. Rasulullah SAW bersabda, "Tanda-tanda orang yang munafiq ada tiga macam. Bila dia berbicara, ia berdusta. Bila ia berjanji,  ia tidak menepatinya. Dan bila ia dipercaya, ia berkhianat." (HR. Bukhori). Bahkan lebih sesak lagi, orang yang tidak amanah disebut dengan munafiq. Yang diembel-embeli dengan keburukan lainnya, seperti dusta dan tidak tepat janji.
Maimun bin Mihran mengatakan, "Ada tiga cara untuk membedakan baik buruknya seseorang. Yaitu, bagaimana orang itu memelihara amanah, bagaimana ia menepati janji dan beramah-tamahnya.
Sekarang, kita renungkan lagi, Berapa banyak para pemimpin di negeri ini yang bergelar munafiq. Berapa banyak di negeri ini yang bergelar pengkhianat. Naudzubillahi min dzalik. Maka sekali lagi, ingat sabda Rasulullah, tunggulah saat kehancuran kita.

Para pemegang amanah
Bisa dipastikan bahwa zaman gilang-gemilang adalah saat tiap-tiap jiwa adalah para pemegang amanah yang baik. Bukan hanya para pemimpin, tapi setiap individunya. Karena sejatinya tiap individu adalah pemimpin, bagi dirinya sendiri. Maka pastilah tiap individu adalah para pemegang amanah.
Saat gilang-gemilang itu adalah saat-saat dimana generasi awal Dien Islam ini dibentuk, dimana langsung dibina oleh mentor yang paling amanah yang karenanya ia digelari Al-Amin. Sifat amanah inilah yang kemudian terwariskan hingga para penerusnya yang mudah-mudahan hingga saat ini. Bayangkan, karena sebuah amanah inilah dua pertiga dunia yang diperintah Islam mampu menjadi negeri yang makmur, adil, dan sejahtera.
Sahabat Abu Bakar r.a dalam pidato penobatan dirinya sebagai Khalifah pengganti Rasulullah berkata bahwa sifat jujur adalah amanah, sedangkan kebohongan itu adalah pengkhianatan. Abu Bakar r.a tahu betul betapa junjungannya adalah orang yang amanat menghargai amanah dan kejujuran. Maka sepatutnya Abu Bakar, dan juga kita, mencontoh Beliau, Sang suri tauladan.
Dalam riwayat Dailami, Rasulullah bersabda, "Amanah itu mendatangkan rezeki, sedangkan khianat mendatangkan kemiskinan." Lihatlah, betapa sebuah amanah bukan hanya penjaga peradaban, tapi juga penjaga isi kantong kita masing-masing. Jika amanah itu dipegang tentunya. Maka, telah jelas risalah yang dibawa anak Abdullah ini, bahwa peradaban Islam dan dunia hanya akan terjaga jika dipegang oleh orang-orang pembawa amanah yang mengerti benar konsekuensinya, baik di dunia maupun di akhirat, baik secara pribadi maupun keumatan. SubhanAllah.
Ibnu Taimiyah mengatakan dalam kitab As Siyaasah Al Syar'iyyah bahwa karena kepemimpinan merupakan suatu amanah maka untuk meraihnya harus dengan cara yang benar, jujur dan baik. Dan tugas yang diamanahkan itu juga harus dilaksanakan dengan baik dan bijaksana. Karena itu pula, dalam menunjuk seorang pemimpin bukanlah berdasarkan golongan dan kekerabatan semata, tapi lebih mengutamakan keahlian, profesionalisme, dan keaktifan. Peka dalam menerima solusi-solusi yang membangun atau merima kritik-kritik yang menuju kepada perbaikan.
Dan seharusnya para pemimpin, sang pemegang amanah dari umat adalah orang-orang yang seperti disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya, "Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami telah mewahyukan kepada mereka untuk mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan selalu menyembah (mengabdi) kepada Kami." (QS. Al-Anbiya : 73)
Begitulah, amanah para pemegang amanah.  Bukan hanya para pemimpin umat, tapi juga amanah para pemimpin diri sendiri. Amanah yang apabila dipegang dengan sebenar-benarnya, maka hasilnya adalah bangkitnya peradaban Islam. Kembalinya cahaya Islam ke muka bumi. Dan sekali lagi cita-cita kita untuk memiliki sebuah pemerintahan Islam di bumi Allah ini akan terwujud, jika saja para pemegang amanah adalah jiwa-jiwa yang paham betul keindahan balasan di surga dan kemirisan balasan di akhirat. Ada sebuah riwayat dari Abdullah bin Mas'ud bagi kita para pemegang amanah.
"Berjuang di jalan Allah akan menghapuskan segala dosa, kecuali penyalahgunaan amanah." Ia melanjutkan bahwa pada hari kiamat orang yang berjihad di jalan Allah akan diminta membayar hutangnya berupa amanah. Orang itu menjawab, Ya Tuhan, bagaimana mungkin hal itu bisa dilakukan sedangkan kehidupan dunia telah berakhir." Allah berfirman, "Bawa dan masukkan dia ke neraka." Pada saat yang bersamaan, sejumlah amanah akan tampil dalam bentuk ketika dititipkan kepada orang itu di dunia dahulu. Dia melihat dan seta merta mengenalnya. Dia akan menghampirinya dan minta dipanggul di pundak orang itu hingga ia merasa cukup kemudian amanah itu akan turun dari pundak orang itu. "Perbuatan ini akan berlangsung terus dan tidak akan berakhir," ujar Ibnu Mas'ud. Selanjutnya Abdullah bin Mas'ud mengatakan bahwa sholat merupakan suatu amanah, mengambil air wudhu juga amanah, menimbang dan mengukur juga amanah. Amanah yang paling besar tanggung jawabnya adalah amanah yang berupa titipan harta benda kepada seseorang. Dan kelak catatan panjang tentang amanah itu akan diungkap.

Peradaban itu bukan utopi
Menjadi harapan kita semua untuk kembali pada peradaban Islam dahulu. Tentu saja menjadi harapan kita pula untuk memiliki kondisi masyarakat para pemegang amanah.
Saat-saat dimana tiap jiwa sadar akan amanah yang dipikulnya. Seperti kisah-kisah nyata yang pernah terjadi sewaktu Islam diterapkan secara totaliter. Seperti pada saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah didatangi putranya ketika dia berada di kantornya. Putranya kemudian bercerita tentang keluarga dan masalah yang terjadi di rumah. Seketika itu, Umar mematikan lampu ruangan. Putra Umar keheranan dan bertanya kenapa sang ayah mematikan lampu sehingga hanya berbicara dalam ruangan yang gelap. Dengan sederhana sang ayah menjawab bahwa lampu yang digunakan ini adalah amanah dari rakyat yang hanya dipergunakan untuk kepentingan pemerintah bukan urusan keluarga.
Kisah mengharukan lain terjadi saat Khalifah Umar bin Khattab merasa sedih dan mencari tahu apa yang menyebabkan daun di kebun milik umat Islam saat itu rontok. Padahal itu hanyalah sehelai daun. Tapi, bagi Umar, kepemimpinannya bukan hanya amanah pada umat muslim saat itu, namun juga pada makhluk hidup lainnya. Termasuk dedaunan yang harus ia ketahui kondisinya.
Amanah pun mampu membawa keadilan. Seperti yang dicontohkan Hakim Syuraih di era pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dalam perang Shiffin, Khalifah Ali bin Abi Thalib kehilangan baju besinya, kemudian ia melihat baju besi itu di tangan seorang Yahudi. Khalifah Ali mengatakan pada orang Yahudi tersebut bahwa baju besi itu adalah miliknya tetapi Yahudi itu mengatakan bahwa ia sudah memiliki baju besi tersebut sebelum perang Shiffin meletus. Perkara itu kemudian disampaikan ke pengadilan. Hakim negara, Syuraih mengadili perkara ini. Oleh Hakim Syuraih, Khalifah Ali disuruh mengajukan saksi bukan dari kalangan keluarga tetapi Khalifah Ali tidak bisa mengajukannya. Orang Yahudi itu pun kemudian menang perkara karena Khalifah Ali tidak bisa mengajukan saksi. Sebenarnya Hakim Syuraih yakin bahwa baju besi itu milik Khalifah Ali tetapi ia menjalankan hukum dengan sebaik-baiknya. Khalifah Ali pun tidak menggunakan kekuasaannya untuk memenangkan perkara. Hal inimembuat orang Yahudi itu takjub akan keadilan Islam. Kemudian orang Yahudi itu pun masuk Islam.
Masih banyak contoh-contoh yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita. Bagaimana mereka memelihara amanah. Bagaimana mereka menyadari urgensi amanah. Bahwa amanah bukanlah hal yang main-main. Bahwa amanah bukanlah sesuatu yang bisa dibangga-banggakan, seperti sekarang ini dimana orang berbondong-bondong mengadakan pesta pira sesaat setelah dilantik pada jabatan atau posisi tertentu.
Amanah yang kita pikul, baik itu amanah pribadi maupun keumatan, jelas akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Dzat Maha Adil. Maka, berpikirlah bahwa kita menunaikan amanah bukan hanya untuk menjaga kestabilan kehidupan di dunia, tapi lebih besar lagi, yaitu nasib kita di akhirat nanti.
Dan, negeri ini, negeri yang diharapkan oleh seluruh umat muslim di dunia untuk menunjukkan gigi keislamannya, membutuhkan kita. Negeri ini membutuhkan jiwa-jiwa kita yang senantiasa siap menerima amanah dengan segala konsekwensinya dan tahu betul bagaimana menjalankan amanah tersebut.
Negeri ini butuh jiwa-jiwa kita yang paham betul karakteristik kemampuan masing-masing sehingga tidak semena-mena mengambil lahan amanah yang bukan kemampuan kita. Negeri ini butuh tangan-tangan kita yang menjalankan amanah bukan untuk kepentingan pribadi saja, tapi juga untuk keumatan dan kehidupan akhirat nanti. Dan, semua itu kembali pada kita. Kita ditantang Allah untuk memasuki surga-Nya yang mahal dengan memikul amanah-amanah yang kita pegang. Dan jika kita ingin Islam kembali pada relnya, kejayaan Islam, maka sadarilah bahwa itu semua bergantung pada kita. Semua bergantung pada amanah-amanah yang kita pikul. Apapun itu. Sebesar apapun itu. Walaupun kita hanya sebagai baut dari sebuah pondasi peradaban agung. Tapi yakinlah, karena kita-lah generasi-generasi pengubah, generasi pembaharu. Generasi yang diharapkan oleh jutaan pasang nyawa di bumi ini. Generasi yang merindukan perjumpaan dengan Allah, yang ditunggu-tunggu dan dirindukan oleh surga Allah. Wallahu a’lam bisshowab

Disadur dari Majalah Kautsar Edisi 02/Vol. 01/Rabiul Awwal 1425 H



Oleh : KH.Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Tanya :
Ustadz, benarkah yang akan menegakkan kembali Khilafah nanti adalah Imam Mahdi? (Afrian Satria, Bantul)

Jawab :
Tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa yang menegakkan kembali Khilafah adalah Imam Mahdi, karena terdapat dalil-dalil syar’i yang justru menunjukkan bahwa Khilafah akan tegak lebih dulu sebelum munculnya Imam Mahdi.
(Sa’ad Abdullah ‘Asyur & Nasim Syahdah Yasin, Al Khilafah Al Islamiyyah wa Imkaniyyat ‘Audatiha Qabla Zhuhur Al Mahdi AS, hlm. 25-29).

Di antara dalil syar’i yang menunjukkan Khilafah akan tegak lebih dulu sebelum munculnya Imam Mahdi adalah hadits tentang kemunculan Imam Mahdi dalam Sunan Abu Dawud dan lain-lain berikut ini :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِى أَبِى عَنْ قَتَادَةَ عَنْ صَالِحٍ أَبِى الْخَلِيلِ عَنْ صَاحِبٍ لَهُ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « يَكُونُ اخْتِلاَفٌ عِنْدَ مَوْتِ خَلِيفَةٍ فَيَخْرُجُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ هَارِبًا إِلَى مَكَّةَ فَيَأْتِيهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ مَكَّةَ فَيُخْرِجُونَهُ وَهُوَ كَارِهٌ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ وَيُبْعَثُ إِلَيْهِ بَعْثٌ مِنَ الشَّامِ فَيُخْسَفُ بِهِمْ بِالْبَيْدَاءِ بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِينَةِ فَإِذَا رَأَى النَّاسُ ذَلِكَ أَتَاهُ أَبْدَالُ الشَّامِ وَعَصَائِبُ أَهْلِ الْعِرَاقِ فَيُبَايِعُونَهُ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ ثُمَّ يَنْشَأُ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ أَخْوَالُهُ كَلْبٌ فَيَبْعَثُ إِلَيْهِمْ بَعْثًا فَيَظْهَرُونَ عَلَيْهِمْ وَذَلِكَ بَعْثُ كَلْبٍ وَالْخَيْبَةُ لِمَنْ لَمْ يَشْهَدْ غَنِيمَةَ كَلْبٍ فَيَقْسِمُ الْمَالَ وَيَعْمَلُ فِى النَّاسِ بِسُنَّةِ نَبِيِّهِمْ -صلى الله عليه وسلم- وَيُلْقِى الإِسْلاَمُ بِجِرَانِهِ إِلَى الأَرْضِ فَيَلْبَثُ سَبْعَ سِنِينَ ثُمَّ يُتَوَفَّى وَيُصَلِّى عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ »


“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Mu’adz bin Hisyam, telah menceritakan kepada saya oleh ayahku, dari Qatadah dari Shalih Abi Al Khalil dari seorang temannya dari Ummu Salamah isteri Nabi SAW dari Nabi SAW beliau bersabda,”Akan ada perselisihan pada saat matinya seorang khalifah. Maka keluarlah seorang laki-laki dari penduduk kota Madinah berlari menuju Makkah. Orang-orang dari penduduk Makkah mendatanginya, lalu mereka mengeluarkan laki-laki itu sedang laki-laki itu membencinya. Kemudian mereka membaiat laki-laki itu di antara rukun [Yamani] dan Maqam [Ibrahim], lalu dikirimkan kepadanya satu pasukan lalu pasukan itu ditenggelamkan di Baida yang terletak antara Makkah dan Madinah. Maka tiba-tiba orang-orang melihat laki-laki itu didatangi oleh para Abdal dari Syam dan kelompok-kelompok dari Irak lalu mereka membaiat laki-laki itu di antara rukun [Yamani] dan Maqam [Ibrahim]. Lalu muncullah seorang laki-laki dari golongan Quraisy yang paman-pamannya dari suku Kalb, kemudian dia [Imam Mahdi] mengirimkan kepada mereka satu pasukan lalu pasukan itu pun mengalahkan mereka. Itu adalah pasukan suku Kalb, dan adalah suatu kerugian bagi siapa saja yang tidak mempersaksikan ghanimah dari Kalb itu. Kemudian dia [Imam Mahdi] mengamalkan di tengah manusia sunnah Nabi mereka dan menyebarkan Islam ke seluruh bumi. Dan dia [Imam Mahdi] akan tinggal selama tujuh tahun lalu [meninggal dan] disholatkan oleh kaum muslimin.”
{HR Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Juz 4/175 no 4288; Musnad Ahmad, 6/316 no 26731; At Thabrani, Al Mu’jam Al Ausath, no 1153; Shahih Ibnu Hibban, 15/160 no 6757; Musnad Abu Ya’la, 12/369 no 6940; Al Hakim, Al Mustadrak, Juz 4 no 8328}.
.
Syaikh Nashiruddin Al Albani menilai hadits dalam Sunan Abu Dawud itu lemah (dhaif). Demikian pula Syaikh Syu’aib Al Arnauth menilai hadits dalam Musnad Ahmad bin Hanbal tersebut lemah (dhaif). Penyebab kelemahan hadits menurut mereka adalah karena ada satu periwayat hadits yang majhul (tak diketahui) yaitu “seorang teman Shalih Abi Al Khalil” (shaahibin lahu).

Namun dalam periwayatan-periwayatan lain, seperti riwayat Imam Thabrani, dapat diketahui bahwa perawi itu adalah Mujahid bin Jabar. Maka pendapat yang lebih kuat adalah pendapat yang menilai hadits tersebut sebagai hadits shahih, seperti pendapat Imam Al Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid (Juz 7 hlm. 318) yang berkata, ”Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Ausath dan para periwayatnya adalah periwayat-periwayat hadits shahih.”
(rawaahu at thabrani fi al ausath wa rijaaluhu rijaalush shahih).
(Lihat : Muhammad Al Syuwaiki, Al Thariq Ila Daulah Al Khilafah, hlm. 57; Hisyam Abdur Rahim Sa’id & Muhammad Hisyam Abdur Rahim, Mausu’ah Ahadits Al Fitan wa Asyraath As Sa’ah, Riyadh : Jihad Al Ustadz & Maktabah Al Kautsar, cetakan ke-2, 1429 H, hlm. 688; Muhammad Ahmad Al Mubayyadh, Al Mausu’ah fi Al Fitan wa Al Malahim wa Asyrath As Sa’ah, Kairo : Muassah Al Mukhtar, cetakan ke-1, 2006 (1425), hlm. 620).
.
Berdasarkan hadits tersebut, jelaslah bahwa kemunculan seorang laki-laki yang kemudian dikenal dengan Imam Mahdi tersebut adalah pada saat matinya seorang khalifah. Ini berarti bahwa Imam Mahdi bukanlah khalifah yang pertama dalam Khilafah yang akan kembali tegak nanti, insyaallah.

Pengertian seperti ini ditegaskan oleh dua pengarang kitab Al Khilafah Al Islamiyyah wa Imkaniyyat ‘Audatiha Qabla Zhuhur Al Mahdi AS yang mensyarah maksud hadits di atas dengan berkata :
.
فالنبي صلى الله عليه وسلم يخبر بأن ظهور المهدي – عليه السلام – يكون عقب موت خليفة للمسلمين، مما يدل عل أن الخلافة تكون موجودة وقائمة قبل ظهوره

“Maka Nabi SAW mengkabarkan bahwa kemunculan Imam Mahdi ‘alaihis salam akan terjadi setelah matinya Khalifah kaum muslimin, hal ini menunjukkan bahwa Khilafah akan ada dan tegak sebelum kemunculan Imam Mahdi.”
(Sa’ad Abdullah ‘Asyur & Nasim Syahdah Yasin, Al Khilafah Al Islamiyyah wa Imkaniyyat ‘Audatiha Qabla Zhuhur Al Mahdi AS, hlm. 27).
.
Kesimpulannya, tidak benar pendapat yang mengatakan bahwa Khilafah nantinya akan ditegakkan oleh Imam Mahdi. Yang benar, Khilafah akan ditegakkan oleh kaum muslimin dan ketika pada suatu saat seorang khalifahnya meninggal dunia dan timbul perselisihan, pada saat itulah Imam Mahdi alaihis salam akan muncul dan dibaiat menjadi seorang Khalifah (Imam). Wallahu a’lam.[]

Silahkan antum merujuk ke sumber-sumber berikut ini;

1》Sa’ad Abdullah ‘Asyur & Nasim Syahdah Yasin, Al Khilafah Al Islamiyyah wa Imkaniyyat ‘Audatiha Qabla Zhuhur Al Mahdi AS, hlm. 25-29
2》 HR Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Juz 4/175 no 4288
3》 Musnad Ahmad, 6/316 no 26731
4》 At Thabrani, Al Mu’jam Al Ausath, no 1153
5》 Shahih Ibnu Hibban, 15/160 no 6757
6》 Musnad Abu Ya’la, 12/369 no 6940
7》 Al Hakim, Al Mustadrak, Juz 4 no 8328
8》Imam Al Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawaid (Juz 7 hlm. 318)
9》 Ath Thabrani dalam Al Mu’jam Al Ausath
10》 Muhammad Al Syuwaiki, Al Thariq Ila Daulah Al Khilafah, hlm. 57
11》 Hisyam Abdur Rahim Sa’id & Muhammad Hisyam Abdur Rahim, Mausu’ah Ahadits Al Fitan wa Asyraath As Sa’ah
12》 Riyadh : Jihad Al Ustadz & Maktabah Al Kautsar, cetakan ke-2, 1429 H, hlm. 688
13》 Muhammad Ahmad Al Mubayyadh, Al Mausu’ah fi Al Fitan wa Al Malahim wa Asyrath As Sa’ah, Kairo : Muassah Al Mukhtar, cetakan ke-1, 2006 (1425), hlm. 620





بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على محمد وآله وصحبه وسلم.اما بعد:

Saya berharap tulisan ini bisa membantu semua yang merasakan sakit karena ‘ain atau hasad untuk melakukan ruqyah mandiri dirumah tampa harus susah-susah atau di pusingkan dengan meminta bantuan peruqyah.Ruqyah mandiri ini tentu tidak berbeda dengan cara ruqyah mandiri pada umumnya,tapi ruqyah mandiri untuk ‘ain dan hasad,saya berikan cara bacaan yang diulang-ulang pada kalimat tertentu yang memiliki makna sama dengan keluhan yang sedang dialami.

Dengan cara mengulang-ulang ini akan menimbulkan rasa butuh kita kepada Allah semakin difokuskan dan akan meningkatkan pengaruh yang semakin dahsyat pada penyakit,dan menyebabkan terbukanya ikatan ‘ain dan hasad lebih cepat,juga mengeluarkan jin khodam ‘ain dan hasadnya dari tubuh kita.

Perlu kita sadari bahwa kita semua tidak akan luput dari terkena ‘ain atau hasad,karna kita semua bisa saling menimpakan ‘ain dan hasad satu sama lain.Kita sebenarnya setiap hari terkena ‘ain dan hasad karena semua orang memiliki rasa iri dan dengki pada sesuatu yang dimiliki orang lain.Kita setiap hari memandang seseorang lalu mengaguminya tampa memberkahinya dan pada akhirnya yang kita pandang dan kagumi itu tiba-tiba merasakan perubahan kesehatan pada tubuhnya.

Jelasnya kita semua sebenarnya tidak bisa luput dari yang namanya sakit karena ‘ain dan hasad.Untuk itu saya sarankan pada semua orang untuk melakukan ruqyah mandiri dengan cara yang,in syaa Allah,segera saya berikan.Inilah cara-caranya dan dianjurkan dilakukan setiap hari sebelum tidur:

1.Dalam keadaan suci/wudhu
2.Menghadap kiblat
3.Lintaskan niat dalam hati untuk menyembuhkan penyakit ‘ain dan hasad
4.Lalu baca ini:

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على محمد وأله وصحبه وسلم

Alhamdulillahi Robbil’aalamiiiin was sholatu was salaamu ‘ala Muhammad wa aalihi wa shohbihi wa sallam
5.Baca istiqfar 3x atau 100x
6.Tanamkan rasa lemah anda dengan membaca Alhauqalah 3x yaitu:
لا حول ولا قوة الا باالله
Laa haula wa laa quwwata illa billah
“Tiada daya dan upaya selain kekuatan Allah”.
7.Berdo’a dengan do’a berikut 3x

يا حي يا قيوم برحمتك استغيث

Ya Hayyu Ya Qoyyum birahmatika astagist
“Wahai Zat Yang Maha Hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya,dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan”.

8.Mulailah baca ayat-ayat berikut dengan khusyu’ dan penuh harap bantuan Allah SWT.Saya sarankan membacanya lewat musyhaf yang terjemahan agar mengerti apa yang dibaca.Inilah ayat-ayatnya dan ulang-ulang kalimat yang didalam kurung sekurang-kurangnya 7x:

1.Alfatihah 7x
2.Albaqarah:1-5 (1x)
3.Albaqarah:7
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ (وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِم)ْ غِشَاوَةٌ ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

4.Albaqarah:17-20

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ (لَا يُبْصِرُونَ)صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ * أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ * يَكَادُ الْبَرْقُ (يَخْطَفُ أَبْصَارَهُم)ْ ۖ كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيهِ وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ (وَأَبْصَارِهِمْ) ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءقدير.
6.Albaqarah:50
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمْ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ (وَأَنْتُمْ تَنظُرُون).
7.Albaqarah:60
وَإِذْ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ (عَيْنًا) قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلاَ تَعْثَوْا فِي الأَرْضِ مُفْسِدِينَ.
8.Albaqarah:69
قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّنْ لَنَا مَا لَوْنُهَا قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَوْنُهَا (تَسُرُّ النَّاظِرِين)َ.
9.Albaqarah:109
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ ( كُفَّارًا حَسَدًا) مِنْ عِنْدِ أَنفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.
10.Albaqarah:255(Ayat kursi) 1×
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ (وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ)
11.Albaqarah:285-286 1×
آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ * لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
12.Al-Mulk:1-4
ِ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ * الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ * الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِنْ تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِنْ فُطُورٍ * ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ (يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ) خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ.
13.Al-Qolam:51
وَإِنْ يَكَادُ الَّذِينَ كَفَرُوا (لَيُزْلِقُونَكَ بِأَبْصَارِهِم)ْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُولُونَ إِنَّهُ لَمَجْنُونٌ
14.likhlas 3x
15.Alfalaq:7× atau lebih dan khusus ayat terakhir diulang-ulang terus.
16.An-Nas:3×
17.Baca zikir berikut dan ulang-ulang kalimat didalam kurungnya:
أعوذ بكلمات الله التمة من كل شيطان وهمة (ومن كل عين لمة)

A’udzu bikalimaatillahi tammah min kulli syaithonin wa hammah wa min kulli ‘ainin lammah
“Aku mohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna dari setan dan binatang berbisa dan dari pandangan mata jahat”.

بسم الله أرقيني من كل شيء يؤذيني ومن كل نفس او (عين حاسد) الله يشفيني بسم الله أرقيني

Bismillahi arqiini min kulli syai’in yukdzini wa min kulli nafsin auw ‘ainin haasid Allohu yasyfiini bismillahi arqiini

“Dengan nama Allah aku menjampi diriku dari segala yang menyakitiku,dari segala jiwa atau pandangan dan dengki Allah lah yang menyembuhkanku dengan nama Allah aku menjampi diriku”.

17.Tutup dengan shalawat dan hamdalah.
Demikia semoga bermamfaat.Aamiiiin

Ust. Salahuddin.

وصل الله على محمد وأله وصحبه وسلم. والحمد لله رب العالمين.والله اعلى واعلم.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget