Mercusuarumat.com | Cahaya Peradaban Islam

Terbaru


Mercusuarumat.com. Sumedang. "Sesungguhnya Allah Tidak Akan Mengubah Keadaan Suatu Kaum, Sebelum Kaum Itu Sendiri Mengubah Apa Yang Ada Pada Diri Mereka", demikian apa yang disampaikan oleh Ust Dr. Rahman Hakim, ulama Sumedang dalam acara Multaqo Ulama Ahlussunah Wal Jama'ah (Aswaja) Jawa Barat, Sabtu (11/1). Ia menjelaskan, ayat ini menyuruh kita untuk bergerak, berusaha semaksimal mungkin guna merubah keadaan, dari buruk menjadi baik

Sebagaimana diketahui, dahulu saat umat Islam menerapkan syariah Islam secara kaffah (Menyeluruh, red) dalam institusi Khilafah, umat Islam berjaya, sejahtera dan mampu memimpin dunia.

Menguatkan pendapatnya, ia menceritakan kisah seorang pemuda yang menemui Imam Syafi'i, Imam Syafi'i lantas bertanya, pernahkah Anda melihat dan berkunjung ke Baghdad? Pemuda itu menjawab, belum pernah! Maka imam Syafi'i menjawab, sangat disayangkan, Anda belum pernah melihat indahnya dunia, kisah ini terdapat dalam kitab Albidayah karangan Ibnu katsir. Baghdad yang kala itu adalah ibu kota Khilafah digambarkan oleh imam Syafi'i seindah-indahnya dunia, dikarena umat Islam sejahtera dan bahagia di dalamnya.

Namun, ia lanjut menjelaskan, jauh berbeda dengan saat ini, umat Islam dihinakan, termarjinalkan dan ajarannya dikriminalisasikan.  Tengok saja apa yang menimpa umat muslim Uighur yang sampai detik ini dianiaya, diperkosa hingga nyawa mereka tak ada harganya. Bahkan ia mengisahkan, bahwa ia pernah ke Xianjing Cina, tahun lalu. Ia pernah bertanya pada salah seorang muslim, "Anda sudah sholat isya?", Muslim itu lantas menjawab, "saya hanya bisa sholat Jum'at", hanya ada satu masjid yang bisa dipergunakan untuk menjalankan ibadah shalat fardhu berjamaah disana, terangnya.

Ada apa dengan kaum muslimin? Bukankah Islam agama yang tinggi? Tanyanya.

Sejak runtuhnya khilafah pada 1924, umat muslim bak hidangan yang siap disantap tak berdaya. Maka dari itu ia mengajak seluruh ulama yang hadir untuk bersama merekatkan ukhuwah mendakwahkan Islam secara kaffah demi tegaknya khilafah dan membersihkan pikiran-pikiran kotor yang bercokol pada benak umat muslim, termasuk pemikiran sekulerisme, demokrasi!, Pungkasnya.

Senada dengannya, KH Ali Bayanullah, pimpinan  Pimpinan Pondok Pesantren Darul Bayan, Sumedang menegaskan, berkumpulnya kita saat ini, tak lain karena kita punya tanggung jawab terhadap ummat, menyampaikan risalah Rasulullah, karena ulama adalah pewaris para Nabi. Menjadi sunatullah, Para Nabi/para Rasul dalam dakwahnya menyebarkan islam selalu berhadapan dengan para rezim, termasuk berhadapan dengan mereka, para ulama penjilat penguasa. Ia mengajak, jadilah ulama yang senantiasa di jalan Allah, mendakwahkan syariah Islam secara kaffah, walaupun resikonya besar! "Jangan takut menyuarakan Khilafah", Pungkasnya. [WI]

Mercusuarumat.com. Setiap kita mengetahui, penindasan Muslim Uighur oleh Rezim komunis Cina, penjajahan bangsa Yahudi Israel terhadap Muslim Palestina, pelarangan agama Islam di India, konflik politik di Suriah dan nestapa di negeri-negeri umat muslim lainnya. Namun banyak diantara kita belum mengetahui tiga wasiat penting Baginda Rasulullah berkaitan hal ini.
Ust. Yuana Ryan Tresna dalam orasinya di  depan Gedung Sate, Bandung menjelaskan, setidaknya ada tiga hadits penting untuk kita renungkan (Wasiat penting Baginda Rasulullah SAW):
Pertama, Hadits tentang darah. Hal ini disabdakan oleh Rasulullah ketika haji wada. 
"Sungguh darah dan harta kalian haram, seperti sucinya saat ini, bulan ini dan negeri ini". Ia mengatakan, hadits ini merupakan pesan politik yang sangat penting bagi kaum muslimin. Bahwasanya, haram hukumnya menumpahkan darah dan merampas harta kaum muslimin tanpa Haq! Namun kini kita saksikan darah kaum muslimin sangatlah murah di hadapan kafir penjajah. Menyambung ke hadits kedua, bahwasannya segala penindasan di negeri-negeri muslim tak lain karena faham sekularisme yang ditanamkan barat, termasuk  ide nasionalisme. 

Berkaitan dengan nasionalisme, hadits yang kedua menjelaskan, “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (maksudnya Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit merah atas orang berkulit hitam, bagi orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan?” mereka menjawab: Iya, benar Rasulullah SAW telah menyampaikan.”
Hadits ini, menurut Yuana menegaskan haramnya ide nasionalisme. Akibat nasionalisme umat muslim terpecah belah. Penindasan di satu negeri Muslim menjadi bukan urusan negeri Muslim lainnya. Negri Muslim lainnya hanya sebatas mengutuk dan retorika kecaman belaka. Dengan dalih itu urusan luar negeri bukan dalam negeri, jelasnya.

Lalu kemana lagi kita memohon pertolongan? Berkaitan dengan hadits ketiga, Yuana menegaskan, keterpurukan umat muslim saat ini tidak lain karena hilangnya pelindung ummat, yakni Khalifah atau imam. Sebagian hadist nabi SAW, “Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Ketidakadaan khalifah artinya ketidak adaan institusi yang menaunginya, yakni Khilafah. Dengan Khilafah kehormatan umat muslim tinggi kembali.
Maka agenda utama kita saat ini adalah mengembalikan junnah pelindung umat dengan bersama berjuang menegakkan syariah dan khilafah, pungkasnya [IW]

Mercusuarumat.com. Genosida terhadap Muslim Uighur nyata adanya. Patrick Poon dari Amnesty Internasional menyatakan, lebih dari satu juta orang ditahan di kamp-kamp yang serupa kamp konsentrasi masa perang. Mereka dipaksa untuk menghadiri pelajaran re-edukasi politik dan menyanyikan lagu-lagu politik komunis. Tak hanya itu mereka pun di paksa untuk mengutuk Islam dan bersumpah setia kepada partai komunis China, bahkan mereka dipaksa untuk makan daging babi dan minum alkohol.

Belum habis disana, pemisahan orang tua dari anak-anak mereka yang dimasukkan dalam institusi khusus, pengawasan dengan teknologi canggih serta kerja paksa terhadap penghuni kamp re-edukasi. Bagi para muslimah, mereka dipaksa memakan obat untuk menghentikan menstruasi lalu dipaksa menikah dengan kafir Cina.

Telah cukupkah kabar tragis ini tersampaikan kepada Anda? 
Bayangkan jika Muslim Uighur adalah saudara kandung kita? Adik kita, kakak kita, anak bahkan orang tua kita? 

Marah! Satu sikap yang wajib diekspresikan, sebagaimana yang disampaikan oleh Ust Abu Umar. "Marah karena iman", tegasnya. Lanjut ia berorasi, Ingatkah kalian kisah muslimah yang dilecehkan kehormatannya oleh tentara Romawi?  
Ketika seorang muslimah kala itu dilecehkan, Sontak ia berteriak, "Wahai al-Mu’tashim Billah", tak lama kabar ini terdengar olehnya, lantas ia marah, da mengirim ribuan pasukan untuk menyelamatkan seorang muslimah tersebut.

Maka, hadirnya kita ditempat ini, tak lain adalah bentuk solidaritas terhadap Muslim Uighur, jelas Ust Yuana Ryan Tresna. Muslim satu dengan muslim lainnya adalah saudara, haram baginya merampas harta dan menumpahkan darah sesama muslim tanpa Haq, ucapnya lebih lanjut. Dalam orasinya, ia menjelaskan, hadist Rasulullah yang disabdakan olehnya ketika haji wada, "Sungguh darah dan harta kalian haram, seperti sucinya saat ini, bulan ini dan negeri ini".

Namun, apa yang terjadi saat ini! Saksikanlah penindasan saudara kita Muslim Uighur, penjajahan bangsa Yahudi Israel terhadap Palestina, saudara kita di India diperlakukan dengan zalim, umat muslim Rohingya, Irak, Afghanistan dan negeri Muslim lainnya. Seakan-akan darah dan harta mereka murah dihadapan kafir penjajah!

Benarlah apa yang disampaikan oleh Ust. Asep Sudrajat, ia mengutip sabda Rasulullah yang menjelaskan bahwa suatu saat nanti umat muslim bagaikan hidangan. Saat ini terbukti dirasakan. Umat muslim dicabik-cabik tak bisa melawan, dikunyah bak makanan, dilahap habis oleh kafir penjajah. Lantas, "Ketika saudara kita dizalimi tak boleh kita abai, karena ini bentuk keimanan kita", ucap ia lebih lanjut. Hadir kita saat ini setidak-tidaknya level terendah bentuk keimanan kita, pungkasnya.

Aksi bela  Muslim Uighur, Jum'at, 20 Desember 2019 bertempat di depan Gedung Sate, Bandung ini setidaknya adalah bentuk keimanan kita dalam membela kaum muslimin Uighur.  [IW]



Oleh: Nurjian Begum Amir , alumni fakultas Psikologi di kampus Bandung
Sebuah kabar memprihatinkan warganet di laman Facebook tengah viral. Mengabarkan kondisi langsung yang dialami seorang warga di tengah kerusuhan yang terjadi di Papua. Beliau seorang dosen salah sau perguruan tinggi negeri di Papua. Hari itu beliau bersembunyi di tengah kejaran orang Papua yang membidik pendatang. Tak tahu apa yang akan terjadi, yang penting bisa menyelamatkan diri. Terlintas dalam benak untuk lebih dulu bunuh diri daripada lebih dulu dizalimi. Kabarnya, pemicu awalnya karena hoax yang beredar bahwa adanya ucapan rasis dari seorang guru. Namun aparat setempat memastikan bahwa itu hanyalah berita bohong.
Problematika Papua hari ini nyatanya bukan kali pertama terjadi. Isu lain tentang inginnya kemerdekaan Papua justru sudah lebih lama terjadi. Berbagai solusi telah ditawarkan. Namun tidak menghasilkan solusi yang berarti.
Akhirnya  kita  perlu merenungkan kembali, bahwa konsep nation state state justru menjadi bumerang tersendiri bagi bangsa ini. Karena justru perasaan tidak sebangsa, se-ras, yang dirasakan oleh saudara-saudara di Papua menjadikan salah satu alasan bahwa mereka bukanlah bagian dari negeri ini.
Seorang pakar Psikologi politik bernama Emerson (1970) memaparkan bahwa nasionalisme adalah pemahaman yang ada pada komunitas orang-orang yang hidup bersama, dalam arti ganda bahwa mereka memiliki unsur-unsur warisan umum yang sangat penting dan mereka memiliki takdir yang sama untuk masa depan. Pemahaman nasionalisme juga sering kali menengarah pada keinginan untuk kemerdekaan. Namun jika itu berada pada sebuah negara kesatuan, kemerdekaan satu pihak justru merupakan disintegrasi bagi pihak lain. Itulah kenyataannya yang dialami antara Indonesia dan Papua saat ini. Satu sisi apa yang perjuangan Papua adalah bagian dari ide nasionalisme yang juga di pasarkan. Tapi di sisi lain itu merupakan ancaman disintegrasi bagi negara Indonesia sendiri. Akhirnya kita perlu merenungkan kembali, kiranya konsep apa yang benar-benar menghasilkan persatuan hakiki.
Konflik Papua juga menunjukkan bahwa Indonesia  butuh konsep mendasar yang dapat benar-benar mempersatukan Indonesia tanpa terbatasi oleh perbedaan alamiah seperti ras, bahasa, suku, tempat lahir, dan sebagainya. Karena perbedaan yang lahir dari kondisi alamiah memang tidak bisa dihindarkan. Sudah sunatullah yang harus kita terima. Namun tidak lantas hal tersebut menjadi alasan untuk tidak bersatunya di atas perbedaan itu. Karena sejatinya persatuan itu sangat mungkin terwujud walaupun terdapat perbedaan alamiah.
Sejarah membuktikan terdapat sebuah peradaban yang berhasil meleburkan bangsa-bangsa 2/3 belahan dunia. Dari Asia, Afrika, Eropa. Berlangsung 1400 lamanya. Itulah peradaban Islam yang diemban oleh rasullullah Muhammad SAW dan umatnya. Semua itu dapat terwujud ketika Islam menjadi ideologi yang diterapkan masyarakat dalam sistem kehidupannya. Sebuah way of life yang dibangun di atas aqidah Islam, yang meniscayakan persatuan dan tetap mengakui perbedaan alamiah sebagai sebuah bukti kekuasaannya. Sebagaimana firman Allah tentang niscayanya perbedaan :
Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujurat 13)

Rahasia mengapa Islam bisa mempersatukan manusia yang berbeda ras,suku,bangsa bahkan yang berbeda akidah bisa melebur dengan masyarakat Islam diantaranya sebagai berikut: 
Pertama, Islam sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal dan menentramkan hati , hal ini tampak pada hukum Islam yang mengatur berbagai dimensi kehidupan manusia yg tidak bertentangan dengan sifat kemanusiaannya.
Kedua, Islam adalah agama yang akidahnya bersifat rasional. Ide-ide maupun hukum-hukumnya bersifat pemikiran. Islam mewajibkan pemeluknya untuk beriman melalui proses berpikir dan memahami hukum-hukumnya dengan proses berpikir pula. Tidak dibenarkan pula untuk memaksa warga non-Muslim berpidah keyakinan walau Islam menjadi agama mayoritas penduduk di sebuah negeri karena mereka harus diseru secara pemikiran dan disertai dengan kesadaran.
Ketiga, Kaum Muslim membebaskan berbagai negeri untuk mengemban dakwah Islam dan menyebarluaskannya di negeri tersebut. Karena itu, mereka merasa sebagai duta-duta Allah yang membawa rahmat dan hidayah. Mereka masuk ke suatu negeri dan memerintahnya dengan Pemerintahan Islam. Dengan hanya masuknya penduduk negeri tersebut sebagai ahlu dzimmah, maka hak dan kewajibannya sama dengan kaum Muslim. Negeri yang dibebaskan tersebut juga memiliki hak dan kewajiban dalam negara yang sama dengan negeri lainnya dari negeri-negeri kaum Muslim, bahkan menjadi bagian darinya. Hal ini karena sistem pemerintahan dalam Islam adalah kesatuan. Dengan demikian penduduk negeri yang dibebaskan tidak merasa bahwa mereka dijajah, dan tidak sedikit pun mencium aroma penjajahan. Karena itu, tidak mengherankan bahwa manusia menerima Islam setelah menyaksikan secara praktis hakikat Islam dalam tatacara yang digunakan oleh kaum Muslim dalam menjalankan pemerintahannya.
Keempat, Islam memerintahkan adanya jihad dan pembebasan negeri-negeri, sehingga memberikan kesempatan kepada manusia untuk memahami Islam. Juga menuntut adanya pemberian kebebasan kepada manusia untuk memilih. Jika menghendaki Islam, mereka dapat memeluknya. Jika tidak, mereka dapat tetap dalam agamanya dan cukup bagi mereka tunduk kepada hukum-hukum Islam dalam urusan-urusan muamalah dan uqubat. Semua itu agar tercapai keharmonisan dalam aktivitas manusia dengan kesatuan peraturan yang memberikan solusi atas persoalan-persoalan hidup mereka dan mengatur aktivitasnya. Di samping untuk menumbuhkan perasaan jiwa warga non-Muslim bahwa kedudukan mereka di mata sistem Islam adalah sama dengan kaum Muslim. Masyarakat bersama-sama menerapkan sistem yang diberlakukan di dalamnya dan menikmati ketentraman serta berlindung di bawah naungan panji negara.
Kelima, Islam mengharuskan agar memandang orang-orang yang diperintah dengan pandangan kemanusiaan, bukan pandangan sektarian, kelompok, atau madzhab. Karena itu, penerapan hukum-hukum terhadap seluruh komponen masyarakat harus sama, tidak membedakan antara Muslim dan non-Muslim. Allah Swt. berfirman: Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (TQS. AlMâidah [5]: 8).
“Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol. Islam pun telah memiliki cita-cita mereka, menguasai akhlaknya, membentuk kehidupan¬nya, dan membangkitkan harapan di tengah-tengah mereka, yang meringankan urusan kehidupan maupun kesusahan mereka. Islam telah mewujudkan kejayaan dan kemuliaan bagi mereka sehingga jumlah orang yang memeluknya dan ber¬pegang teguh padanya pada saat ini [1926] sekitar 350 juta jiwa.
Agama Islam telah menyatukan mereka dan melunakkan hati¬nya walaupun ada perbedaan pendapat maupun latar belakang politik di antara mereka.” (Will Durant – The Story of Civilization).
Dengan demikian, jika Indonesia serius menginginkan terwujudnya persatuan dan perdamaian di negeri ini. Tidak ada solusi lain selain menjadikan mabda Islam di terapkan dalam tataran individu, masyarakat, dan negara. Karena ketika kita ingin mendapatkan keberhasilan yang sama seperti yang telah dicapai peradaban Islam, maka kita pun perlu menggunakan jalan yang sama dengan menerapkan Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya.
Wallahu Alam bi Showab










Mercusuarumat.com. Sudah saatnya  masyarakat  menyadari bahwa  kapitalisme dan komunisme sama-sama berbahaya. Halim Husein, Mantan Hakim tinggi agama di Pengadilan Tinggi Agama Bandung ini menyampaikan pandangannya terkait dengan zaman komunisme dan cengkraman kapitalisme pada acara Islamic Lawyer Forum yang diselenggarakan oleh LBH Pelita Umat  koordinator wilayah Jawa Barat, Sabtu 28 September 2019.

Ia yang sekarang berprofesi menjadi advokat ini menceritakan kisah pengalaman pahit keluarga besarnya ketika pada masa kekuasaan Partai Komunis Indonesia bergerak leluasa di negeri ini.

Selain Halim, Agus Gandara, SH., MH, Ketua LBH Pelita umat Korwil Jawa Barat, menyampaikan fakta perkembangan sejarah komunisme di Indonesia. Selanjutnya, Muhammad Rian, Doktor muda dalam ilmu politik ini memaparkan tentang fakta-fakta kerusakan akibat cengkraman kapitalisme.

Hadir juga KH. Ali Bayanullah, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Bayan ini memaparkan Persepsi Ideologi Islam atas kebangkitan komunisme dan cengkeraman kapitalisme.

Forum yang telah digelar 3 edisi ini mengambil tajuk waspadai kebangkitan komunisme dan cengkraman kapitalisme. Acara yang mengambil tempat di Meeting Room Rumah makan di bilangan Jl. PHH. Mustopa Bandung ini menghadirkan beberapa narasumber, diskusi berlangsung hangat dengan diakhiri sesi tanya jawab lanjut, doa dan sesi foto bersama.



Oleh: Hadaina (Aktivis Mahasiswa di Kampus Bandung)

Belum juga reda kasus kebakaran hutan di Riau beberapa tahun silam. Seperti tidak diizinkan beristirahat dari kasus semacam ini, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi baru-baru ini di Kalimantan membuktikan ada upaya yang belum mengakar untuk menangani petaka ini karena musibah terus berulang. Hampir setiap tahun bencana kabut asap terjadi di pulau Sumatera dan Kalimantan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan enam provinsi di Indonesia masuk kategori siaga darurat kebakaran hutan. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) hingga September 2019, jumlah hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia mencapai 328.722 ha.

Mesti diperhatikan adalah mengenai dampak yang terjadi. Seperti Kabut asap yang menyeliputi sejumlah wilayah, gangguan kesehatan seperti ISPA, serta terganggunya proses belajar mengajar, dan bahkan parahnya lagi menyebabkan kematian.

Menurut Satuan Tugas (Satgas) karhutla pusat yang dikomando BNPB, untuk memadamkan karhutla di Kalimantan Selatan, harus menerjunkan 1.200 personel. Penyebab kasus ini terdapat berbagai faktor, satu diantaranya pembukaan lahan untuk pertanian ataupun untuk area perkebunan. Dari pernyataan menteri LHK, Siti Nurbaya menyatakan, ada empat perusahaan asing yang terlibat dalam pembakaran lahan di Kalimantan. Keempatnya merupakan perusahaan asing yakni Malaysia dan Singapura.

D balik semua kejadian ini memanglah disinyalir karena adanya dominasi kepentingan bisnis besar. Para perusahaan besar membakar lahan untuk dijadikan perkebunan dengan skala besar dan masif demi menghemat biaya. Koalisi Indonesia Bergerak menyebut bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi selama ini dilakukan secara terorganisasi. Aksi terorganisasi karhutla itu pun dituding telah diketahui pemerintah pada dasarnya. Itu dibakar tanpa ketahuan siapa yang pemiliknya. Tapi setelah 5, 6 bulan itu sudah ada bibit-bibit sawit yang muncul. Itu temuan di lapangan. Pembakaran itu diorganisir, pemerintah tahu," kata Koordinator Institut Hijau, Chalid Muhammad dalam jumpa pers koalisi di kantor Seknas Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), Jakarta Selatan.

Gerbang kejahatan Karhutla karena negara menerapkan hak konsesi lahan kepada para pengusaha yang menyebabkan fungsi, wewenang, dan tanggung jawab negara menjadi tumpul. Paradigma yang dibangun dalam memberikan hak konsesi kepada pengusaha ini jelas salah karena kawasan hutan yang produktif harusnya dikelola dan dilestarikan tapi malah diberikan izin perkebunan hutan tanaman industri kepada korporasi. Ditambah lagi pemerintah tidak tegas dan memberikan efek jera kepada pengusaha yang melanggar aturan. Temuan Greenpeace menunjukkan sepanjang periode tersebut terdapat 10 konsesi perusahaan kelapa sawit di Indonesia dengan total area terbakar terbesar yang luput dari sanksi pemerintah. Sebanyak tujuh konsesi di antaranya menyumbang titik api karhutla tahun ini. pemerintah bahkan tidak mencabut satu pun izin dari perusahaan kebun sawit yang terkait Karhutla. 

Kebijakan seperti ini adalah hal wajar dalam sistem neoliberal yang sedang bercokol. Sistem ini meniscayakan pengelolaan kekayaan alam diserahkan kepada swasta, penguasa hanya menjadi fasilitator dan regulator tentu yang menguntungkan pihak korporasi. Berharap kebijakan akan pro rakyat seperti punuk merindukan bulan.

Bencana kebakaran hutan dan lahan hanya akan bisa berakhir secara tuntas dengan sistem Islam. Dalam Islam, hutan termasuk dalam kepemilikan umum yang tidak boleh dimiliki pribadi atau swasta. Seperti sabda Rasulullah saw. “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang, air, dan api” (HR, Dawud dan Ahmad) .

Para ulama terdahulu sepakat bahwa air sungai, danau, laut, saluran irigasi, padang rumput adalah milik bersama, dan tidak boleh dimiliki/dikuasai oleh seseorang atau hanya sekelompok orang. Dengan demikian, berserikatnya manusia dalam ketiga hal pada hadis di atas bukan karena zatnya, tetapi karena sifatnya sebagai sesuatu yang dibutuhkan oleh orang banyak (komunitas), dan jika tidak ada, maka mereka akan berselisih atau terjadi masalah dalam mencarinya.

Dari hadist tersebut jelas bagaimana Islam melarang adanya penguasaan lahan hutan oleh korporasi. Hutan tidak boleh dimiliki atau dikuasai oleh individu, beberapa individu, ataupun negara sekalipun. Individu, sekelompok individu atau negara tidak boleh menghalangi individu atau masyarakat umum memanfaatkannya, sebab hutan adalah milik mereka secara berserikat. Namun, agar semua bisa mengakses dan mendapatkan manfaat dari hutan, negara mewakili masyarakat mengatur pemanfaatannya, sehingga semua masyarakat bisa mengakses dan mendapatkan manfaat secara adil dari hutan. Dengan paradigma tersebut, maka kasus pembakaran hutan dan lahan secara liar akan lebih dapat diminimalisir bahkan bisa ‘nol’ karena masyarakat juga menyadari bahwa hutan adalah milik umum yang harus kita jaga kelestariannya.

Tidak hanya itu dalam  Islam ada  sistem peradilan Islam, yakni ada Qadhi Hisbah yaitu hakim yang menangani penyelesaian dalam masalah penyimpangan (mukhalafat) yang dapat membahayakan hak-hak rakyat seperti gangguan terhadap lingkungan hidup (contoh: karhutla). Vonis dapat dijatuhkan kepada pembakar hutan dan lahan di tempat kejadian perkara. Sehingga bila Islam ditegakkan maka tidak ada kondisi krusial bencana darurat asap yang saat ini terjadi yang mengancam jiwa manusia.

Jadi, solusi satu-satunya adalah dengan mengembalikan hutan dan lahan gambut kepada syariat Penciptanya, bukan dikelola berdasarkan aturan buatan manusia yang telah terbukti kelemahannya dan membuat kerusakan di bumi ini

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget