Mercusuarumat.com | Cahaya Peradaban Islam

Terbaru

Oleh : Khansa Mubshiratun Nisa
(Mentor Kajian Remaja)

Senangnya dalam hati
Kalau beristri dua
Oh seperti dunia
Ana yang punya

Begitu kiranya kutipan lagu TRIAD “Madu Tiga” yang populer beberapa tahun lalu. Sebagaimana kita semua ketahui, dalam agama Islam, seorang suami memang dibolehkan untuk memiliki istri lebih dari satu. Hal ini biasa disebut dengan poligami. Namun, bagaimana halnya poliandri yang dilakukan oleh istri dengan memiliki suami lebih dari satu?

Bukan hanya wacana, ternyata poliandri ini benar terjadi. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Tjahjo Kumolo yang menyebut adanya laporan terkait Aparatur Sipil Negara (ASN) yang melakukan poliandri. Selain itu, ia pun mengatakan bahwa fenomena poliandri di kalangan PNS adalah hal baru. (wowkeren.com, 29/08/2020)

Sebetulnya kasus poliandri ini bukanlah sesuatu yang baru, hanya mungkin tidak terekspos saja oleh media. Sebelumnya kasus ini pernah terjadi di Madura, Jawa Timur. Poliandri ini dilakukan oleh Kamariyah yang mengajukan gugatan cerai lantaran suami pertamanya melakukan poligami. Namun belum selesai proses perceraian itu, Kamariyah langsung melakukan pernikahan dengan suami keduanya. Kemudian pada tahun 2014, poliandri dilakukan oleh Mei Marlina yang berjauhan dengan suami pertamanya, yakni di Nganjuk, Jawa Timur. Ia menikah dengan suami keduanya di Jakarta. Selanjutnya pada tahun 2019, kasus poliandri dilakukan oleh Ayu yang telah bersuami di Ngawi, Jawa Timur namun kepincut dengan lelaki lain. Akhirnya Ayu menggelar pernikahan keduanya secara adat di Bali. (brilio.net, 28/03/2019)

Itulah beberapa kasus poliandri di Indonesia yang tercatat oleh media. Kita tak pernah tahu, entah berapa banyak lagi kasus yang luput dari pemberitaan. MenPAN-RB saja menyebutkan, dalam setahun ini pihaknya telah menerima sekitar 5 laporan kasus poliandri ASN. Ini semakin membuktikan bahwa poliandri sebetulnya bukanlah fenomena baru.

Faktor Penyebab Poliandri

Dikutip dari Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Volume 1 No. 1 tahun 2017 karya Misran dan Muza Agustina, ada beberapa faktor yang bisa melatarbelakangi terjadinya poliandri, yaitu faktor ekonomi, jarak dengan suami yang jauh, aspek tidak terpenuhinya nafkah lahir batin, usia suami yang sudah lanjut, aspek tidak harmonis dalam rumah tangga, kurangnya iman dan lemahnya pemahaman agama sebagai kontrol sosial.
Dengan adanya faktor-faktor tersebut tidak juga menjadikan poliandri itu dibenarkan. Namun, faktor kurangnya iman dan lemahnya pemahaman agama bisa kita garis bawahi, karena hal ini menjadikan pemahaman antara halal dan haram dalam agama semakin kabur.

Adanya kasus poliandri ini sebenarnya adalah buah dari pemahaman sekuler liberalis yang lahir dari sistem demokrasi. Paham sekuler menjadikan manusia tidak akan merasa bahwa setiap aktivitas yang dilakukan terikat dengan aturan Allah Swt., sehingga paham ini menjadikan manusia mengatur kehidupan mereka sendiri sesuai dengan standar kepuasan semata. Alhasil, ia bisa berbuat apa pun sekehendaknya dengan dalih kebebasan (liberal) demi mencapai kepuasan dan kebahagiaan. Maka wajar, paham ini memandang hubungan antara laki-laki dan perempuan cenderung mengarah pada pandangan seksual saja, bukan untuk melestarikan keturunan. Dan pada akhirnya fenomena perselingkuhan, perzinaan hingga poliandri marak terjadi.

Sanksi bagi Pelaku Poliandri

Kasus poliandri memang melanggar hukum yang ada di negara ini. Di dalam pasal 3 ayat 1 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan berbunyi: "Pada asasnya seorang pria hanya boleh memiliki seorang istri. Seorang wanita hanya boleh memiliki seorang suami." Bagi yang melanggar khususnya para ASN, maka akan dijatuhi sanksi sesuai perkaranya. Seperti halnya penurunan jabatan atau penjatuhan disiplin sesuai kewenangan Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi.
Di samping telah melabrak undang-undang yang ada di negeri ini, poliandri juga bertentangan dengan syariat Islam. Namun demikian ada sanksi berbeda antara  undang-undang negeri ini dengan aturan syara.  Sanksi bagi ASN  diberikan sangat ringan oleh institusinya bahkan memungkinkan  tidak berefek jera bagi pelaku atau lainnya.   Padahal, dampak dari poliandri ini akan menimbulkan banyak madarat. Di antaranya adalah merusak jalur keturunan (nasab) dan kegagalan rumah tangga karena pasangan yang mengalami poliandri sangat rentan mengalami perceraian dan konflik berkepanjangan.

Hal ini sungguh sangat berbanding terbalik dengan Islam. Islam memandang peran keluarga sangat vital, terkhusus dalam mendidik dan menghasilkan generasi cemerlang yang dimana pasti lahir dari sebuah keluarga. Ayah dan ibu terutama, adalah seorang pendidik dan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Oleh sebab itu, negara yang menerapkan aturan Islam akan memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan tugasnya masing-masing dengan baik.
Negara Islam akan memastikannya melalui serangkaian mekanisme kebijakan yang lahir dari syariat. Maka jelas, tindakan poliandri akan dilarang karena haram hukumnya dan sangat membahayakan kualitas generasi yang dihasilkan. Keturunan yang dilahirkan dari pernikahan poliandri menyebabkan kerusakan jalur nasab sebab ketidaktahuan siapa ayah biologis dari anak yang dilahirkan. 

Syariat Islam telah gamblang dan tegas menjelaskan hukum poligami dan poliandri, baik dari Al-Qur'an maupun as-Sunnah. Poligami dalam Islam hukumnya mubah (boleh) bagi suami yang mampu menjalankannya. Sementara poliandri haram hukumnya sebagaimana firman Allah Swt.:
"Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki." (TQS. an-Nisa: 24)

Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan kata  al-muhshanaat (wanita yang sudah bersuami) dalam kitab an-Nizham al-Ijtima’i fi al-Islam :
"Diharamkan menikahi wanita-wanita yang bersuami. Allah menamakan mereka dengan al-muhshanaat karena mereka menjaga [ahshana] farji-farji (kemaluan) mereka dengan menikah."
Sementara itu, status poliandri di sini termasuk pada zina al-Muhshan (berstatus menikah) yang dimana sanksinya adalah dihukum rajam (dilempar dengan batu) sampai meninggal. Hal ini sebagaimana hadis Rasulullah saw. dari Ibnu Abbas ra. bahwa Umar bin Khaththab berkhutbah:
“Sesungguhnya Allah Swt. mengutus Nabi Muhammad saw. dengan haq dan juga menurunkan kepadanya Al-Qur’an. Dan di antara ayat yang turun kepadanya adalah ayat rajam (“Laki-laki yang sudah menikah dan perempuan yang sudah menikah bila mereka berzina, maka rajamlah mereka berdua, sebagai hukuman dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.)” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, at-Tirmidzi dan an-Nasai)

Tata cara pelaksanaan hukuman rajam sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. terhadap seorang wanita dari kabilah al-Ghamidiyah adalah dengan cara digalikan liang sampai dada kemudian dilempari batu hingga meninggal. (sumber: Kitab  Dudarul Bahiyyah karya Imam asy-Syaukani)

Selain itu, hukum rajam pun harus dilaksanakan di hadapan khalayak umum agar dijadikannya pelajaran oleh orang-orang yang melihatnya, sehingga menimbulkan perasaan takut (bagi yang melihat) bila melakukan hal yang sama. Efek jera pun langsung terasa. Sebagaimana firman Allah Swt.:
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (TQS an-Nur: 2)

Demikianlah Islam secara tegas  menjelaskan mulai dari hukum poliandri hingga sanksi yang akan didapat bagi para pelakunya. Semua ini hanya akan terlaksana manakala Islam dijadikan aturan bernegara dalam bingkai Institusi Islam Kaffah.

Wallaahu a'lam bish shawab.


BANTAHAN PETER CAREY TERKAIT JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA TIDAK BERNILAI

Oleh : Ahmad Khozinudin
Sastrawan Politik

Pasca diblokirnya film Jejak Khilafah Di Nusantara (JKDN), rupanya upaya untuk menjauhkan sejarah Umat Islam di Nusantara dengan Islam dan Khilafah terus berlanjut. Tak cukup dengan klarifikasi pendahuluan yang menyebut dirinya tak meridloi isi film JKDN, Peter Carey, Jawanis asal Inggris tersebut secara khusus mengutus Asisten penelitinya, Christopher Reinhart, melakukan upaya delegitimasi terhadap konten (materi) film JKDN.
 
Dalam keterangan pers Christopher menjelaskan, atas permintaan Prof Carey, informasi lanjutan mengenai klaim adanya hubungan antara Kekhalifahan Utsmaniyah dan Kesultanan-kesultanan Islam di Jawa.  
 
Poin Pokok delegitimasi itu adalah sebagai berikut. 
 
Pertama, tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan bahwa ‘negara’ Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak (1475–1558), utamanya raja pertamanya, Raden Patah (bertakhta, 1475–1518), memiliki kontak dengan Turki Utsmani.
 
Kedua, kesultanan yang ada di Pulau Jawa tidak dianggap sebagai vassal atau naungan Turki Utsmani, termasuk juga bukan wakil sultan-sultan Utsmani di Jawa. 
 
Ketiga, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Turki Utsmani dan Kesultanan Yogyakarta (didirikan 1749) dalam hal hierarkhi sebagaimana dimaksud di dalam poin nomor 2, termasuk tidak ada bukti dokumen sejarah yang menunjukkan bahwa panji ‘Tunggul Wulung’ merupakan ‘bukti’ bahwa Yogyakarta adalah wakil dari Turki Utsmani di Jawa, berdasarkan penelitian kearsipan Dr Kadi yang telah lama meneliti dokumen-dokumen Turki Utsmani di Arsip Utsmani di Istanbul.  
 
Perlu dipahami, bahwa sejarah yang rajih adalah sejarah yang ditransmisikan kepada generasi selanjutnya melalui metode periwayatan. Dengan syarat, diriwayatkan oleh orang yang adil dan hafal terhadap kisah yang diriwayatkan.

Karena itu, methode yang paling sahih untuk melegalisasi sejarah adalah melalui methode riwayat, persis seperti methode hadits. Hadits dipastikan diriwayatkan oleh orang yang adil, hafal (dlabit), dan jalur periwayatannya bersambung kepada Rasulullah SAW.

Adapun metode sejarah, tidak ada yang mengadopsi methode hadits dalam melakukan penelusurannya. Sejarah, banyak digali dari bukti peninggalan baik berupa bukti fisik berbentuk tulisan, artefak, alat bantu kehidupan dimasa lalu, dan beberapa penuturan (bisa dibilang dongeng) yang sejalan dengan bukti fisik yang diketemukan.

Karena itu, penulisan sejarah sangat terkait dengan paradigma, persepsi dan tafsiran si penulis. Jaman orba, semua sejarah Soekarno dan PKI kelabu. Jaman reformasi, sejarah orba kelabu, dan jaman now sejarah PKI mulai disemprot parfum agar bau amisnya hilang atau minimal berkurang.

Terkait hal ini, pandangan Peter Carey yang poin pokoknya membantah adanya jejak (baca: hubungan) antara Nusantara dan Khilafah bisa dipahami dalam konteks "persepsi", "paradigma" dan "Tafsir" seorang Peter Carey yang non muslim, bukan orang Nusantara, dan berasal dari Inggris yakni Bangsa yang pernah menjajah Indonesia.

Dalam methode Mustolahul Hadits, orang seperti ini tidak lolos derajat adil, apalagi terkait penuturannya bukan dia dengar dari pelaku sejarah namun berdasarkan tafsiran pikirannya. Tafsiran itu dianggap otoritatif, karena berdalih pada dogma "tidak ditemukan bukti otentik adanya hubungan antara Nusantara dan Khilafah". 

Redaksi ini bersayap, sebab tidak ada bisa ditafsirkan belum ditemukan atau tidak ditemukan oleh Peter Carey. Sementara, peneliti sejarah yang lain boleh jadi telah menemukan dan mengkaji benang merah hubungan antara Nusantara dan Khilafah.

Dasar yang dijadikan sandaran Peter Carey untuk mendelegitimasi adanya Jejak (baca : hubungan) antara Nusantara dan Khilafah adalah tafsirannya, bukan penegasan yang diperoleh dari bukti otentik, yang konon dia jadikan juga dalih untuk menolak konten film JKDN.

Peter Carey lupa, bahwa yang dikaji film JKDN bukan hanya Jawa, tetapi juga Nusantara. Nusantara yang dikaji juga bukan wilayah yang hari ini disebut Indonesia, tetapi juga meliputi Malaysia, Singapura, Thailand dan Philipina.

Lagipula jika gelar Sultan di kerajaan Jawa disebut tak ada kaitannya dengan Islam dan Khilafah, lantas apakah kerajaan Jawa memiliki hubungan dengan Inggris ? Ada, hubungan penjajahan.

Film JKDN sejak adanya komplain dari Peter Carey telah mengeluarkan seluruh argumentasi yang berdasar pada pikiran Peter Carey. Bahkan, tak ada lagi secuil pun wajah Peter Carey muncul di film JKDN. Lantas, apa relevansinya bantahan Peter Carey ?

Di penelitian Peter Carey tidak ada hubungan kerajaan Jawa dan Khilafah ? Ya terserah, wong sandaran argumen film JKDN tidak bersandar pada buku atau pikiran Peter Carey. Kenapa jadi ikut seperti rezim ?

Lagipula, Peter Carey hanyalah seorang sejarawan dari ribuan bahkan ratusan ribu sejarawan. Tak semua pendapat ahli sejarah seragam. Karena itu, dalam urusan ini, yakni klaim Peter Carey terkait tidak ada hubungannya antara Nusantara dan Khilafah cukuplah untuk dikesampingkan. [].

GENERASI DURHAKA

Oleh : Dr. Moeflich Hasbullah

Setelah menyaksikan film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKDN), salah satu kesimpulan saya, diantara kesimpulan-kesimpulan yang lain adalah, kesultanan-kesultanan Islam di Nusantara bukan hanya memiliki hubungan, relasi dan kerjasama ekonomi, dakwah dan militer dengan kekhilafahan sejak Khulafaur Rasyidin, kemudian Bani Umayyah, Bani Abbasiyah hingga Turki Utsmaniyah, tetapi, lebih jauh dari itu, Nusantara ini diislamkan oleh kekhilfahan Islam dengan fasilitas kekuasaan yang mereka miliki sebagai superpower saat itu. 

Lain kata, Nusantara hingga hari ini, dan kita semua hingga sekarang, mungkin masih beragama Hindu atau Kristen yang dibawa dan ditanamkan oleh kolonial selama dua abad, bila khilafah Islamiyah tidak mengirimkan ulama-ulama utusannya berdakwah ke Nusantara yang dimulai dengan Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik di Jawa Timur abad 14. 

Membaca jejak khilafah di Nusantara adalah jejak bersyukur bangsa Indonesia menjadi Muslim dan Islam menjadi mayoritas di negeri ini. Keimanan kita telah diselamatkan oleh Allah melalui khilafah Islamiyah yang mengutus para ulamanya ke negeri-negeri jauh termasuk ke Nusantara.

Jadi, bila kita sekarang khawatir dan ketakutan kepada khilafah Islamiyah bahkan alergi mendengarnya, itu sebenarnya kita menolak, anti dan membenci sesuatu yang telah menyebabkan kita menjadi Muslim, menolak yang, secara syariat, membuat kita menerima hidayah. Lucu? Tentu saja. Ironis? Sangat!! 

Mengapa bisa begitu? Wajar. Itu karena ketidaktahuannya. Menolak dan takut itu, teori psikologinya, karena ketidaktahuan. Apakah mereka salah? Tidak. Penjelasan sosiologis-historisnya, itu menunjukkan pengaruh Barat sudah sangat kuat berakar di negeri ini mempengaruhi alam pikiran sejak era kolonial hingga sekarang (4 abad) yang berlangsung di bawah sadar. 

Wajar bila sebagian masyarakat Muslim Indonesia sekarang, tanpa sadar, sudah terbaratkan bahkan teracuni alam pikiran Barat disebabkan selama 4 abad, kesadaran dan kemajuan Barat mempengaruhi alam pikiran masyarakat Indonesia terutama setelah kemerdekaan. 

Kekhawatiran dan penolakan masyarakat Muslim pada karuhunnya sendiri (khilafah) itu harus diterima dengan lapang dada dan dimaklumi tanpa amarah apalagi kebencian karena itulah tugas dakwah. Itulah lahan ibadah untuk membuktikan bahwa Islam adalah rahmatan lil 'alamin, sebagaimana yang sudah dibuktikan oleh para ulama utusan khilafah Islamiyah zaman lampau yang sudah mengislamkan negeri ini, menyiramkan hidayah dan keselamatan. 

Bila ditanyakan kepada Walisongo sebagai para ulama awal penyebar Islam di Nusantara tentang fenomena sebagian generasi sekarang yang alergi khilafah yang mereka menjadi Muslim itu justru atas rintisan dan jasa Walisongo, sambil duduk santai dan ngopdud di bilik pesantrennya, mungkin parawali itu akan menjawab dengan air muka yang sedih: "Yaa ... mereka generasi durhaka yang membuat negerimu kini jauh dari keberkahan." Wallahu a'lam.

RESPON TERHADAP SIARAN PERS PROF. PETER CAREY

Untuk Disiarkan Segera (dibuat tanggal 20 Agustus 2020)

Bukti Penelitian Sejarah yang Menyatakan ADANYA Hubungan antara Utsmaniyah dan Jawa (Respon terhadap Korespondensi Prof. Peter Carey dan Dr. Ismail Hakki Kadi)

Yth. Para jurnalis media Islam di Indonesia,

Saya Rachmad Abdullah, sebagai penulis buku Wali Songo, Sultan Fattah dan Kerajaan Islam Demak, ingin meneruskan, atas permintaan seorang sahabat, informasi lanjutan mengenai klaim TIDAK ADANYA hubungan antara Kekhalifahan Utsmaniyah dan Kesultanan-kesultanan Islam di Jawa sebagaimana Prof. Peter Carey yang tidak berkenan namanya dicatut di dalam Film “Jejak Khilafah di Nusantara”. 

Pada tanggal 16 Agustus 2020, Prof. Carey mengirimkan surel kepada ahli sejarah hubungan Utsmaniyah–Asia Tenggara, Dr. Ismail Hakki Kadi, yang dibalas pada tanggal 18 Agustus 2020 perihal klaim-klaim yang tersebut di atas. Pokok pemikirannya adalah sebagai berikut. 
1. Tidak ada bukti pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani yang menunjukkan bahwa ‘negara’ Islam pertama di Jawa, Kesultanan Demak (1475–1558), utamanya raja pertamanya, Raden Patah (bertakhta, 1475–1518), memiliki kontak dengan Turki Utsmani.
2. Kesultanan yang ada di Pulau Jawa tidak dianggap sebagai vassal atau naungan Turki Utsmani, termasuk juga bukan wakil sultan-sultan Utsmani di Jawa.
3. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara Turki Utsmani dan Kesultanan Yogyakarta (didirikan 1749) dalam hal hierarkhi sebagaimana dimaksud di dalam poin nomor 2, termasuk tidak ada bukti dokumen sejarah yang menunjukkan bahwa panji ‘Tunggul Wulung’ merupakan ‘bukti’ bahwa Yogyakarta adalah wakil dari Turki Utsmani di Jawa, berdasarkan penelitian kearsipan Dr. Kadi yang telah lama meneliti dokumen-dokumen Turki Utsmani di Arsip Utsmani di Istanbul.
4. Dr. Kadi menyebutkan bahwa jika ada satu saja dari ‘legenda-legenda’ di atas yang memiliki dukungan bukti sejarah, ia pasti telah memasukkannya ke dalam hasil penelitiannya yang terbaru, yang beliau sunting bersama dengan Prof. A. C. S. Peacock dari Universitas St. Andrew’s di Skotlandia, berjudul Ottoman-Southeast Asian Relations; Sources from the Ottoman Archives (Leiden: Brill, 2019), dua jilid (https://brill.com/view/title/27163).

Dari 4 pokok pemikiran di atas, penulis hanya merasa berhak menanggapi point pertama saja, karena terkait sejarah Kesultanan Demak yang berhubungan dengan Turki Utsmani.

1. Bukti kontak Kesultanan Demak (1482-1549) dengan Turki Utsmani tidak bisa hanya dibatasi pada dokumen-dokumen di Arsip Turki Utsmani saja, juga tidak bisa dibatasi masa Sultan Fatah saja (1482-1518). Sehingga penelitian parsial tersebut tidak bisa digeneralisir untuk kesimpulan umum. Bukti adanya hubungan Kekhalifahan Turki Utsmani dengan Kesultanan Demak melalui Kesultanan Aceh bersumber dari bukti dan saksi sejarah yang juga diakui beberapa sejarawan Barat. 

2. Daulah ‘Aliyah ‘Utsmaniyah yang sezaman dengan Kesultanan Demak dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih (1444-1446 & 1451-481), Sultan Bayazid II (1481-1512), Khalifah Utsmani Pertama: Yavuz Sultan Salim (1512-1520) dan Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520-1566 M).

3. Kesultanan Demak dipimpin oleh Sultan Fattah (1482-1518 M), Pati Unus (1518-1521), Sultan Trenggono (1521-1546) dan Sunan Prawoto (1546-1549).

4. Setelah dibukanya Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih (20 Jumadil Awwal 857 H/29 Mei 1453) dan didobraknya Roma Italia melalui Otranto (1480), Ferdinand-Isabella melakukan pemaksaan dan pembunuhan terhadap orang Islam dan Yahudi di Andalusia hingga runtuhnya Granada (1492). Paus Alexander VI merestui Perjanjian Tordesillas (1494) yang membagi dunia menjadi 2 bagian, Katolik Spanyol diberi wewenang dunia Barat sedangkan Katolik Portugal diberi wewenang dunia Timur. Inilah awal kolonialisme-imperialisme Kristen Barat terhadap banyak wilayah Islam (Kesultanan) yang minta bantuan Kesultanan ataupun Khilafah Turki Utsmani (1517). 

5. Saksi sejarah Fernao Mendez Pinto (1509-1583) yang pernah bertemu langsung dengan Fatahillah dan Sultan Trenggono di Jawa, memberitakan dalam buku Historia oriental de las Peregrinaciones de Fernand Mendez Pinto portugues, bab 178 (Anarchy in Demak), halaman 392,” They (Minhamundy) fell upon their enemies who at that time were busy dismantling the camp, dealing with them in such a way that in the space of half or an hour, which was as long as the full fury of the battle lasted, twelve thousand men were cut down in the field, two king sand five pates were captured, along with three hundred TURKYS, Abyssinians, and Achinese, as well as their caciz Moulana, the highest digtinary in the Moslem sect, on whose advice the Panguerirao had come there. In addition, four hundred vessels that were beached at the time, with the wounded aboard, were set afire, so that the entire camp was nearly devastated. Withdrawing safely once again, with his ranks depleted by only four hundred men, he let them embark that same day, which was on the ninth of March..” Lihat:  Historia oriental de las Peregrinaciones de Fernand Mendez Pinto portugues, bab 178 (Anarchy in Demak), hlm.392. Fernao Mendez Pinto pada halaman 382,” King of Demak, emperor of all the islands of Java, Kangean, bali, madura and all the other islands in this archipelago. (Raja Demak, kaisar dari semua pulau Jawa, Kangean, bali, madura dan semua pulau lainnya di nusantara ini.)

6. H.J. De Graaf & Th. Pigeaud (Kerajaan Islam Pertama di Jawa, hlm. 89) bersumber dari buku Da Asia jilid VIII bab 21, menyebut berita dari De Couto, orang Portugis bahwa,”Raja Aceh yang gagah berani, Ala’u Addin Syah pada pertengahan abad ke-16 telah mengirim utusan untuk meminta bantuan dari O rey de Dama, Imperador do Java (Raja Demak yang menjadi Maharaja Jawa). Tujuannya adalah untuk melakukan penyerangan terhadap kafir Portugis di Malaka dengan ekspedisinya. Sunan Prawoto menetapkan tekadnya untuk menguasai tanah Jawa seluruhnya, meniru Sultan Turki (Sulaiman Al-Qanuny) dengan menyatakan bahwa,” Apabila usaha ini berhasil, saya akan menjadi Segundo Turco (menjadi Sultan Turki kedua).

7. C. Guillot, Ludvik Kalus, Willem Molen dalam buku Inskripsi Islam tertua di Indonesia, halaman 177 menyebutkan ahli meriam (Khoja Zaenal, muallaf asal Portugis),”F. Mendes Pinto yang menyebutkan keikutsertaan ORANG-ORANG TURKI dalam pertempuran antara Aceh melawan Batak dan Kerajaan Aru sekitar tahun 1540. Menurutnya, ahli-ahli meriam Turki dan Aceh juga membantu kekuatan Islam di Demak sewaktu kota Panarukan dikepung mereka pada tahun 1546…”. Meriam Ki Amuk dan Ki Jimat foto dan wujudnya masih ada buktinya di Banten sampat saat ini.

8. Andre Wink.2003. Indo-Islamic Society : 14th-15th Centuries, hlm.233 menuliskan,” Serang  river which entered the sea between Demak and Japara. This river remained navigable until far into the eighteen century for smaller vessels, at least up to Godong. So that he himself will become another SULTAN OF TURKEY”. “Trenggono assumed the title of Sultan about 1524 M with authorization from Mecca, destroying the remnants of Majapahit four year later. According to a Portuguese observer who visited Java in the 1540, ‘his aim’ to Islamicise all the surrounding peoples. (Sungai Serang yang masuk ke laut antara Demak dan Japara. Sungai ini tetap dapat dilayari hingga abad kedelapan belas untuk kapal-kapal kecil, setidaknya hingga Godong. Sehingga dia sendiri (Sutan Trenggono) akan menjadi Sultan Turki lain. Trenggono menyandang gelar Sultan sekitar tahun 1524 M dengan otorisasi dari Mekah, menghancurkan sisa-sisa Majapahit 4 tahun kemudian. Menurut seorang pengamat Portugis yang mengunjungi Jawa pada tahun 1540, 'tujuannya' untuk mengislamkan semua orang di sekitarnya).” 

Masih banyak bukti lain yang diakui sejarawan Barat sendiri tentang ADANYA HUBUNGAN Turki Utsmani dengan Kesultanan Demak melalui Kesultanan Aceh abad 9-10 H (15-16 M). Sejarah dengan berbagai bukti dan saksinya adalah kenyataan masa lalu yang tidak bisa diingkari oleh hati yang suci dan akal yang sehat. Adanya upaya penghitaman sejarah dan penyelewengannya untuk kepentingan duniawi memang telah ada sejak zaman dahulu. Mencampurkan yang hak dan batil dengan menyembunyikan yang hak dan menampakkan yang batil sudah menjadi sunnatullah bagi musuh-musuh Islam sejak masa lalu, sekarang maupun yang akan datang. Tujuannya untuk menghalangi manusia dari jalan Allah yang lurus, agar tidak dapat meraih keselamatan dan kebaikan di dunia maupun di akhirat. 
Tulisan ini dibuat sebagai respon terhadap siaran Pers yang dianggap untuk meluruskan informasi yang diklaim berdasarkan sejarah di mana nama Prof. Peter Carey dicatut di dalamnya, padahal klaim “sama sekali tidak memiliki bukti dokumenter kesejarahan yang valid” justru itulah yang tidak valid. Tendensi semacam ini, yang perlu ditunjukkan oleh generasi Islam sekarang, sehingga tidak tampak seperti bentuk minderwardigheid (ketidakpercayadirian) yang menganggap bahwa orang-orang Islam Indonesia masa lampau dapat bertahan dari kolonialisme tanpa bantuan asing Kekhalifahan Utsmani. Padahal, jelas sejarah yang asli dari banyak Kesultanan yang saat itu belum menjada negara bernama Indonesia (Logan JIAEA IV, 1850) ini menunjukkan bahwa orang-orang Islam di Indonesia sendiri dan perjuangannya adalah faktor yang membuat Indonesia dapat bertahan melewati penjajahan Eropa (Kristen Barat) maupun Jepang hingga akhirnya mendeklarasikan kemerdekaan yang penuh pada 17 Agustus 1945. 

Demikian kami sampaikan, agar dapat disiarkan oleh media Islam. Terima kasih atas perhatian ikhwah fillah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh!.

Jakarta, 1 Muharram 1442 H
Penulis 

Rachmad Abdullah, S.Si., M.Pd.

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/meriam-ki-amuk/

TENTANG FILM "JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA"

Oleh: Ustadz Roni Abdul Fattah

Alhamdulillah bisa Nobar Film JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA, walaupun banyak "setan-setan" yang ketakutan, sehingga beberapa kali di baned. Ternyata kaum ISLAMOPHOBIA dan KHILAFAHPHOBIA bukan hanya takut dengan bendera tauhid, dengan film pun takut.

Penting sekali kita mengenalkan sejarah hubungan Nusantara dengan pusat ke Khilafahan pada masanya kepada generasi kita saat ini. Apa yang di bahas di film dokumenter ini sangat akurat, sesuai dengan yang selama ini saya kaji dari kitab-kitab sejarah karangan para Ulama ahli sejarah dan Sejarawan.

Distorsi sejarah Islam yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dari kalangan kaum Munafiqin (orang-orang Liberal dll), dan kaum kafir dan musyrik di negeri ini sangat mengerikan sekali. Mereka terus membuat kerusakan dengan menyebarkan fitnah bahwa "KHILAFAH" sebagai sistem pemerintahan Islam yang berdasarkan Ideologi Islam sebagai sesuatu yang mengerikan, ancaman dan tuduhan-tuduhan lainnya yang tidak benar. Bahkan ada yang lancang menyamakan KHILAFAH dengan KOMUNIS. Nusantara ini dulu pernah berjaya ketika menerapkan syariat Islam dari sabang sampai Merauke, dan terpuruk ketika meninggalkan syariat Islam. Ayo melek sejarah!!!

التاريخ يعيد نفسه

"Sejarah akan terus berulang"

Mudah-mudahan dengan adanya film dokumenter "JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA" kaum ISLAMOPHOBIA dan KHILAFAH PHOBIA terbuka hatinya, Allah beri hidayah.

Dengan atau tanpa peran kita, ISLAM pasti akan kembali bangkit, KHILAFAH di atas MANHAJ KENABIAN pasti akan hadir kembali, karena ini janji dan kabar gembira dari Nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wa sallam. Allahu Akbar!!!!

Mercusuarumat.com. Film dokumenter sejarah, Jejak Khilafah di Nusantara sudah ditunggu tayang perdana. Kamis (20/8/2020) bertepatan dengan Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1442 H. Seorang ulama Indonesia, KH Rahmat S. Labib menyampaikan pesan penting terkait Hijrah.

“Hijrah itu pemisah yang haq dengan bathil. Tak lain setelah hijrah umat Islam yang tadinya tidak punya daulah akhirnya miliki negara,”bebernya menjelaskan tonggak hijrah Rasulullah.

Peristiwa hijrah dimulai pada 13 H ketika rasulullah pada baitul aqobah kedua. Tatkala di Madinah al Munawaroh. Rasulullah menjadi pemimpin negara. 

“Karenanya seorang pemimpin negara berhak menentukan kapan perang dan berdamai?”

Fakta itu pun diungkap KH Rahmat dengan menjelaskan bahwa Rasulullah SAW mengangkat qadhi, wali, dan lainnya. Maka sejak saat itu, umat Islam punya daulah dan setelah itu seluruh jazirah arab berdad di kekuasaan Islam. 

“Beliau meninggalkan negara yang punya rakyat dan kedaulatan. Lalu dilanjutkan kepada Abu Bakar ra. Hal ini membuktikan bahwa khilafah adalah Negara warisan rasulullah SAW,”tambahnya.

Luar biasanya, Syam dan Persia ditaklukkan. Hal itu terus berlangsung selama 13 abad umat Islam memiliki negara. Saat itu, umat Islam memiliki kemualiaan yang luar biasa. Berlangsungnya dimulai Khilafah Abassiyah, Ummayyah, dan terkahir Utsmaniyah. 

“Hingga tahun 1924, berubahlah nasib umat Islam yang dari besar akhirnya mudah ditaklukkan. Maka untuk kembali menjadi Ummah adzimah, tiada lain kecuali mengembalikan khilafah seperti sebelumnya,” terang Kyai yang juga pengisi rubrik Tafsir di majalah Al-Wai’e itu.

Animo menonton film Jejak Khilafah di Nusantara, membawa nuansa baru memahami khilafah lebih dekat. Sebab jejaknya ada di sekitar umat Islam di Indonesia. Film pun akhirnya ditayangkan dengan lancar melalui saluran yang telah ditentukan panitia Jejak Khilafah di Nusantara. Selamat menikmati dan menonton.[hn]

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget