Mercusuarumat.com | Cahaya Peradaban Islam

Terbaru

Mendudukkan Polemik "Khalifah" dan "Khilafah" dalam Al-Qur'an

Mendudukkan Polemik "Khalifah" dan "Khilafah" dalam Al-Qur'an

Oleh: KH Hafidz Abdurrahman

Menyimak polemik yang berkembang antara Prof. Dr. Dien Syamsuddin, Ketua Dewan Pertimbangan MUI, dengan Dr. KH Hamdan Rasyid, LDNU, khususnya pada konteks penggunaan kata “Khalîfah” di dalam al-Qur’an, apakah bisa ditarik pada konotasi Mashdar-nya, yaitu “Khilâfah”, atau tidak? Atau, hanya sebatas makna harfiahnya saja, yaitu wazan Fa’îlah-nya, “Khalîfah”?

Polemik ini sebenarnya mewakili dua kelompok pemikiran. Dr. KH Hamdan Rasyid, LDNU, tampaknya mewakili kelompok yang menolak Khilafah sebagai ajaran Islam, ada dalam al-Qur’an. Sedangkan Prof. Dien Syamsuddin mewakili kelompok pemikiran yang menyatakan, bahwa Khilafah adalah ajaran Islam, dan ada dalam al-Qur’an, meski dalam konteks politik kenegaraan kekiniaan, “kurang” relevan.

Kesimpulan Prof. Dien Syamsuddin dibangun berdasarkan penggunaan kata “Khalîfah” dalam al-Qur’an, surat al-Baqarah: 30, dan surat Shad: 26. Dalam Q.s. al-Baqarah: 30, kata “Khalîfah” dinyatakan oleh Allah kepada para Malaikat, untuk manusia. Sedangkan dalam Q.s. Shad: 26, kata “Khalîfah” digunakan untuk mentahbiskan Nabi Dawud ‘alaihissalam, sebagai penguasa di muka bumi, disertai dengan perintah:

فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ، وَلاَ تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلُّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ

“Maka, perintahlah (terapkanlah hukum) di antara manusia itu dengan (menggunakan) kebenaran. Janganlah Engkau mengikuti hawa nafsu, sehingga ia menyesatkanmu dari jalan Allah.” [Q.s. Shad: 26]

Dimana penggunaan wazan Fa’îlah, tidak hanya berkonotasi pada orangnya saja, tetapi juga bisa menunjukkan adanya jabatan dan lembaganya. Karena, orang tersebut tidak akan pernah disebut sebagai “Khalîfah”, kalau dia tidak menduduki jabatan “Khilâfah”.

Sedangkan kesimpulan Dr KH Hamdan Rasyid dibangun berdasarkan kata, “Khalîfah” itu sendiri, yang merupakan wazan Fa’îlah. Karena ini bentuk wazan Fâ’ilah, maka yang hanya bisa digunakan ber-istidlâl adalah bentuk Fa’îlah-nya saja. Sementara “Khilâfah” adalah bentuk Mashdar-nya.

Mari kita kaji satu per satu. Kata “Khalîfah” mengikuti wazan, “Fa’îlah”, sebagaimana kata “Amîr” mengikuti wazan “Fa’îl”. Secara harfiah, kata “Khalîfah” diartikan dengan Al-ladzî yustakhlafu mimman qablahu [orang yang menjadi pengganti orang sebelumnya]. Jamaknya, “Khalâ’if”. Sedangkan menurut Imam Sibawaih [w. 180 H], jamaknya “Khulafâ’”. [Lihat, Ibn Mandzur, Lisân al-‘Arab, Dar al-Fikr, juz IX/83] Uniknya, “Khalîfah”, mengikuti wazan “Fa’îlah”.

Sebelum membahas wazan “Fa’îlah”, dengan tambahan “Tâ’” di akhir, mari kita bahas wazan “Fa’îl”, tanpa tambahan “Tâ’” di akhir. Wazan “Fa’îlah”, dan “Fa’îl” tidak hanya digunakan sebagai wazan Shifat Musyabbahah, seperti “Faqîh” [ahli fikih], atau “Khathîb” [orator], tetapi juga digunakan sebagai Shîghat Mubâlaghah [hiperbolis], seperti, “’Alîm” [Maha Tahu], atau “Shiddîq” [selalu jujur], “Amîr” [yang mengurus banyak urusan], “Khalîf” [yang menggantikan orang sebelumnya dalam banyak urusan]. Jika ditambah “Tâ’”, maka konotasinya semakin kuat, seperti “Khalîf” menjadi “Khalîfah”, atau “al-‘Allâm” menjadi “al-‘Allâmah”. [Lihat, Dr. Fadhil Shalih as-Sammara’i, Ma’ânî al-Abniyyah fî al-‘Arabiyyah, hal. 112-114]

Karena wazan “Fa’îlah” dan “Fa’îl”, sebagai Shîghat Mubâlaghah, itu ternyata diambil [manqûl] dari Shifat Musyabbahah, sedangkan wazan “Fa’îlah” dan “Fa’îl” sebagai Shifat Musyabbahah mempunyai konotasi yang berbeda. Misalnya, “Thawîl” [panjang] menunjukkan sifat yang permanen, tidak akan berubah, misalnya menjadi pendek. Begitu juga sebaliknya, “Qashîr” [pendek], selamanya pendek, tidak akan berubah menjadi panjang. Dalam konteks ini, kata “Khalîf” juga mempunyai konotasi orang yang mengganti secara permanen.

Tetapi, ketika menggunakan wazan, “Khalîfah” konotasinya berubah, dari konotasi sifat, menjadi benda. Karena itu, dalam bahasa Arab, “Dzabîhah” tidak berkonotasi hewan yang disembelih [al-madzbûh], tetapi hanya berkonotasi “hewan yang memang layak disembelih”. [Lihat, Radhiyuddin al-Istirbadi, Syarah as-Syâfiyyah, Juz II/ 142-143 dan az-Zamakhsyari, al-Kassyâf, Juz II/460] Dalam konteks ini, “Khalîfah” tidak berkonotasi orang yang menggantikan orang lain secara permanen, tetapi “as-sulthân al-a’dham” [Lihat, Ibn Mandzur, Lisân al-‘Arab, Juz IX/85].

Ini dari aspek bahasa, mengenai akar kata dan penggunaan lafadz, “Khalîfah”. Artinya, secara bahasa, pendapat Prof. Dr. Dien Syamsudin tidak salah. Kata, “Khalîfah” juga bisa berkonotasi Mashdar-nya, “Khilâfah”. Dengan kata lain, konotasi “Khilâfah” sebagai ajaran Islam memang ada dalam al-Qur’an. Pendapat ini dikuatkan oleh pendapat Ahli Tafsir ternama, Imam al-Qurthubi (w. 671 H), yang hidup di era Khilafah ‘Abbasiyah, ketika menjelaskan, Q.s. al-Baqarah: 30.

Ketika beliau menjelaskan konotasi kata “Khalîfah” tidak hanya konotasi, Khalîfatu-Llâh fi al-Ardh [wakil Allah di muka bumi], tetapi juga “Khalîfah” dengan konotasi “as-sulthân al-a’dham”, sebagaimana yang dijelaskan Ibn Mandzur di atas. Bahkan, menggunakan ayat ini tidak hanya untuk kekhalifahan Adam, tetapi juga kakhalifahan kaum Muslim.

هذه الآية أصل في نصب إمام وخليفة يسمع له ويطاع، لتجتمع به الكلمة، وتنفذ به أحكام الخليفة. ولا خلاف في وجوب ذلك بين الأمة ولا بين الأئمة إلا ما روي عن الأصم حيث كان عن الشريعة أصم، وكذلك كل من قال بقوله واتبعه على رأيه ومذهبه... ودليلنا قول الله تعالى: إني جاعل في الأرض خليفة، وقوله تعالى: يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض، وقال: وعد الله الذين آمنوا منكم وعملوا الصالحات ليستخلفنهم في الأرض، أي يجعل منهم خلفاء، إلى غير ذلك من الآي .

“Ayat ini merupakan dasar [pangkal] dalam pengangkatan Imam dan Khalifah, yang wajib didengarkan dan ditaati. Dengannya suara [kaum Muslim] bersatu. Dengannya, hukum-hukum Khalifah diterapkan. Tidak ada perbedan dalam hal ini antara umat dan para imam [mazhab] mengenai kewajibannya, kecuali apa yang diriwayatkan dari al-Asham, dimana dia memang tuli tentang syariat. Begitu juga, siapa saja yang menyatakan dengan pendapatnya, dan mengikuti pandangan dan mazhabnya... Dalil kami adalah firman Allah, “Sesungguhnya Aku akan menjadikan Khalifah di muka bumi.” Juga firman-Nya, “Wahai Dawud, Kami telah jadikan Engkau sebagai Khalifah di muka bumi.” Dia juga berfirman, “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih di antara kalian untuk menjadikan mereka sebagai Khalifah di muka bumi.” Maksudnya, Dia menjadikan di antara mereka Khalifah. Dan ayat-ayat yang lain.”

Dalam kajian Ushul, yang juga merujuk kepada Makna Isytiqâq, disebutkannya perintah kepada Nabi:

فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ

“Maka, perintah [putuskan]-lah di antara mereka berdasarkan apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu [Muhammad] mengikuti hawa nafsu mereka, sehingga memalingkanmu dari kebenaran yang datang kepadamu.” [Q.s. al-Maidah: 48]

وَأَنِ احْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَن بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ

“Hendaknya, kamu perintah [putuskan] di antara mereka berdasarkan apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu [Muhammad] mengikuti hawa nafsu mereka, serta berhati-hatilah terhadap mereka, agar mereka [tidak] memalingkan kamu dari sebagian yang diturunkan Allah kepadamu.” [Q.s. al-Maidah: 49]

tidak saja berkonotasi menerapkan hukum [sebagaimana yang dinyatakan oleh teks, Fahkum dan Wa Anihkum], tetapi juga berkonotasi adanya lembaga pemerintahan [hukûmah], yang digunakan untuk menerapkan hukum tersebut. Dalam ilmu Ushul, ini disebut Dalâlah al-Iqtidhâ’ [Lihat, al-Amidi, al-Ihkâm fî Ushûl al-Ahkâm, juz III/64-65].

Konotasi Dalâlah al-Iqtidhâ' ini juga dijelaskan, dan diperkuat oleh tindakan Nabi saw. ketika mengambil bai’at kepada para sahabat, pada saat Bai’at ‘Aqabah Kedua, sebagaimana yang dinyatakan oleh ‘Ubadah bin Shamit, “Kami membai’at Rasulullah untuk mendengarkan dan mentaati.” [Hr. Muslim] Pengambilan bai’at ini dilakukan sebelum hijrah Nabi ke Madinah, sebelum Nabi memerintah di sana, maka tindakan Nabi saw. ini membuktikan, bahwa Nabi saw. juga membentuk lembaga pemerintahan. Karena, tugas kenabian dan kerasulan tidak membutuhkan bai’at dari kaum Muslim, tetapi keimanan.

Setelah Nabi saw. hijrah ke Madinah, Nabi saw. telah membentuk struktur pemerintahannya . Lengkap, mulai dari kepala negara, Nabi Muhammad saw. sendiri. Kemudian ada pembantu Nabi yang membantu baginda saw. dalam mengurus pemerintahan. Mereka adalah Abu Bakar dan ‘Umar bin al-Khatthab, sebagaimana sabda Nabi, “Dua pembantuku dari kalangan penduduk bumi adalah Abu Bakar dan ‘Umar.” [Hr. al-Hakim]

Karena itu, sejak baginda saw. datang ke Madinah, baginda langsung memimpin kaum Muslim, melayani kepentingan mereka, mengurus urusan mereka, membentuk masyarakat Islam, dan mengadakan perjanjian dengan orang Yahudi. Baru kemudian dengan Bani Dhamrah, Bani Mudlij, lalu dengan orang kafir Quraisy, penduduk Ailah, Jarba' dan Adzrah. Baginda saw. melakukan perjanjian agar jangan sampai ada orang yang menghalang-hala ngi orang yang akan menunaikan ibadah haji. Juga agar tidak ada seorang pun yang terancam pada Syahrul Haram (bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab).

Baginda saw. juga pernah mengirim Hamzah bin Abd al-Muthallib, Muhammad bin ‘Ubaidah bin al-Harits, serta Sa'ad Bin Abi Waqas dalam sebuah detasmen untuk menyerang penduduk Dumatul Jandal. Dalam beberapa pertempuran, kadang baginda saw. sendiri yang memimpin langsung pasukannya. Bahkan baginda saw. juga terjun langsung dengan pasukannya dalam sebuah pertempuran yang dahsyat.

Baginda saw. juga pernah mengangkat para wali (kepala daerah tingkat I) untuk daerah-daerah tertentu, serta para ‘amil (kepala daerah tingkat II) untuk beberapa negeri. Baginda saw. pernah menunjuk ‘Utab bin Usaid sebagai wali di Makkah setelah kota ini ditaklukkan. Kemudian setelah Badzan bin Sasan memeluk Islam, dia diminta menjadi wali di Yaman. Baginda saw. juga pernah mengangkat Mu'ad Bin Jabal al-Khazraji menjadi wali di Janad. Khalid bin al-Walid menjadi amil di Shun'a'. Ziyad bin Lubaid bin Tsa'labah al-Anshari menjadi wali di Hadramaut. Abu Musa al-Asy'ari menjadi wali di Zabid dan ‘Adn. Amru bin al-Ash di Oman. Abu Dujanah menjadi ‘amil di Madinah.

Ketika baginda saw. menunjuk para wali tersebut, baginda senantiasa memilih di antara mereka orang yang paling sempurna dalam melaksanakan tugasnya, untuk menjadi wali atau ‘amil baginda. Baginda juga senantiasa menanamkan iman dalam benak mereka yang akan diterjunkan ke daerah yang telah baginda tentukan. Baginda saw. juga selalu menanyai mereka tentang cara yang akan mereka gunakan dalam menentukan keputusan mereka. Diriwayatkan dari baginda saw, bahwa baginda pernah bertanya kepada Mu'adz bin Jabal al-Khazraji, ketika baginda mengutusnya ke Yaman:

"Dengan apa kamu akan memutuskan (suatu perkara)?, (Mu'adz) menjawab, “Dengan kitab Allah”. Baginda bertanya, “Jika kamu tidak menemukan?”, (Mu'adz) menjawab, “Dengan sunah Rasul-Nya”. Baginda bertanya lagi, “Jika kamu tidak menemukannya?” (Mu'adz) menjawab, “Saya akan berijtihad dengan pendapatku”. Baginda lalu bersabda, “Segala puji hanya milik Allah, yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasulullah dengan sesuatu yang amat dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya."

Diriwayatkan juga bahwa ketika Nabi saw. menunjuk Aban bin Sa'id menjadi wali di Bahrain, baginda bersabda kepadanya:

"Aku wasiatkan agar kamu memperlakukan ‘Abdi Qais dengan baik, serta muliakanlah penduduknya."

Rasulullah saw. selalu mengutus orang yang terbaik, yang telah masuk Islam. Baginda biasanya memerintahkan mereka agar mengajarkan agama ini kepada orang-orang yang baru masuk Islam, serta mengambil zakat dari mereka. Dalam berbagai keadaan, baginda menyerahkan urusan tersebut kepada para wali agar walinya yang menarik zakat. Baginda juga menyerukan kepada mereka agar memberikan kabar gembira kepada seluruh umat manusia, serta mengajarkan al-Qur'an kepada mereka, dan mendidik mereka dalam keagamaan hingga betul-betul faqih (ahli). Baginda juga mengingatkan mereka agar tidak bersikap lemah dalam masalah yang jelas-jelas benar. Bahkan, menganjurkan agar bersikap keras terhadap kedzaliman, mencegah orang-orang agar tidak memprovokasikan isu kesukuan dan ras tertentu, sehingga provokasi mereka hanya kepada Allah semata, yang tidak akan mereka persekutukan dengan apapun yang lain. Serta mengambil khumus al-amwal (1/ 5 dari harta) dan sedekah-sedekah yang telah telah diwajibkan atas kaum Muslim (zakat mal dan sejenisnya).

Orang Yahudi dan Nasrani yang telah memeluk Islam dengan tulus dari lubuk hati mereka sendiri, mereka adalah orang-orang Mukmin. Mereka berhak mendapatkan hak dan kewajiban yang sama, sebagaimana orang Mukmin yang lain. Sedangkan mereka yang tetap dalam kenasranian dan keyahudiannya, tetap akan dilindungi. Sebagaimana yang tertuang dalam pernyataan Rasulullah kepada Mu'adz bin Jabal, saat baginda mengutusnya ke Yaman:

"Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah yang pertama kali kamu sampaikan kepada mereka adalah ibadah kepada Allah. Jika mereka telah mengenal Allah, sampaikan kepada mereka bahwa Allah memfardlukan kepada mereka zakat yang akan diambil dari mereka yang kaya, kemudian akan diberikan kepada yang miskin. Jika mereka menaatinya, maka ambillah (zakat) dari mereka, dan kehormatan hartanya pun akan dijaga. Berhati-hatilah , terhadap doa orang-orang yang terdzalimi. Sebab antara mereka dengan Allah tidak terdapat hijab (tabir pemisah)."

Dalam keadaan tertentu Rasulullah saw. mengirim orang khusus untuk mengurusi masalah harta. Karenanya, setiap tahun Rasul selalu mengutus ‘Abdullah bin Rawwahah kepada orang-orang Yahudi Khaibar untuk memungut kharaj dari hasil tanaman mereka. Mereka pernah mengadu kepada utusan Rasul tersebut karena beban pemungutannya terlampau berat, lalu mereka ingin menyuap ‘Abdullah bin Rawwahah. Mereka mengumpulkan cincin istri-istri mereka. Mereka katakan kepada ‘Abdullah, “Ini (hadiah) untukmu dan peringanlah (pungutan) yang menjadi beban kami. Bagilah secara merata." ‘Abdullah kemudian menjawab, "Wahai orang-orang Yahudi, (dengarkan) bagi kami kalian adalah orang yang paling dimurkai Allah. Harta ini tidak akan aku ambil dengan harapan aku akan memperingan (pungutan) yang menjadi kewajiban kalian. Suap yang kalian berikan ini sesungguhnya merupakan suht (harta haram). Sungguh kami tidak akan memakannya." Mereka kemudian berkomentar, "Karena sikap seperti inilah, maka langit dan bumi ini senantiasa tetap akan tegak."

Rasulullah saw. juga senantiasa mengorek keadaan para wali dan ‘amil baginda. Baginda saw. juga memperhatikan berbagai informasi tentang mereka yang disampaikan kepada baginda. Baginda pernah memberhentikan Ila' bin al-Hadhrami dari jabatannya sebagai ‘amil baginda di Bahrain, karena ada utusan dari Abdi Qaid yang mengadukannya kepada Nabi. Rasul pun memenuhi kritik yang ditujukan kepada ‘amil baginda. Baginda juga selalu mengontrol anggaran dan pengeluaran mereka.

Rasul juga telah mempekerjakan seseorang yang secara khusus untuk mengambil zakat. Tatkala kembali, baginda mengevaluasi kemudian orang tersebut mengatakan, "Ini untukmu (Ya Rasul), sedangkan ini telah dihadiahkan kepadaku." Baginda lalu bersabda:

"Mengapa bisa terjadi pada orang yang aku utus untuk melaksanakan tugas tertentu yang Allah berikan kepada kami, lalu mengatakan, “Ini adalah untukmu, sedangkan yang ini telah dihadiahkan kepadaku.” Mengapa dia tidak tinggal di rumah bapak-ibunya saja lalu kita lihat, apakah dia akan mendapat hadiah atau tidak."

Baginda melanjutkan sabdanya:

"Orang yang telah kami tugaskan untuk melaksanakan amal tertentu, kemudian kami bayar dengan bayaran tertentu, maka jika masih mendapatkan di luar itu tidak ada lain kecuali ghulul (harta haram)."

Penduduk Yaman pernah melaporkan bacaan yang dibaca Mu'adz bin Jabal ketika menjadi imam shalat, yang terlampau panjang, maka Nabi saw. segera menegurnya. Baginda bersabda:

"Barang siapa yang menjadi imam orang lain (dalam shalat) hendaknya memperingan (bacaannya)."

Nabi saw. pernah mengangkat para qadli untuk menegakkan hukum di tengah-tengah rakyat. Baginda pernah mengangkat ‘Ali bin Abi Thalib sebagai qadli di Yaman, dan Abdullah bin Naufal sebagai qadli di Madinah. Baginda juga pernah menugaskan Mu'adz bin Jabal dan Abu Musa al-Asy'ari menjadi qadli di Yaman (Yaman Utara dan Selatan). Rasul pernah menanyai mereka berdua:

"Dengan apa kalian (berdua) akan menghukumi?" Mereka berdua menjawab: 'Jika kami tidak menemukannya di dalam al-Kitab dan as-Sunah, kami akan menganalogkan (mengqiyaskan) satu masalah dengan masalah lain. Mana yang lebih mendekati kepada kebenaran, maka itulah yang akan kami pergunakan.'"

Nabi pun membenarkannya. Sikap baginda saw. ini menunjukkan, bahwa baginda senantiasa memilih para qadli serta menentukan tata cara mereka mengambil keputusan. Ternyata baginda saw. tidak hanya menentukan para qadli biasa, bahkan baginda menetapkan Qadli Madhalim. Baginda pernah menugaskan Rasyid bin ‘Abdullah sebagai kepala qadli sekaligus Qadli Madhalim. Baginda memberikan wewenang kepadanya untuk memutuskan perkara-perkara kedzaliman.

Nabi saw. juga mengatur seluruh kepentingan rakyat. Baginda mengangkat para penulis untuk mengatur urusan tersebut. Mereka itu layaknya seperti dirjen sebuah departemen. ‘Ali bin Abi Thalib adalah penulis perjanjian, bila Nabi sedang melakukan perjanjian serta penulis perdamaian, bila baginda sedang melakukan perdamaian. Harits bin ‘Auf al-Mari mengurusi cincin baginda (yang menjadi stemple negara). Mu'aiqib bin Abi Fatimah menjadi penulis ghanîmah (harta hasil rampasan perang). Hudzaifah al-Yaman menjadi pencatat hasil pendapatan tanah Hijaz. Zubeir bin ‘Awwam menjadi pencatat zakat. Mughirah bin Syu'bah menjadi pencatat hutang serta transaksi-trans aksi mu'amalah. Surahbil bin Hisan menjadi penulis surat kepada raja-raja. Dalam setiap urusan baginda selalu mengangkat notulen (penulis), yang bertugas mengurus urusan tersebut meskipun yang diurusi juga beragam kepentingannya.

Nabi saw. sering bermusyawarah dengan para sahabat baginda. Baginda tidak pernah lepas dari saran ahli ra'yu (mereka yang mempunyai pandangan) dan orang yang baginda pandang memiliki kecemerlangan berfikir dan kelebihan. Mereka semua memberikan penjelasan berdasarkan kekuatan iman, dan ketakwaan mereka, dalam rangka menyebarkan dakwah Islam. Mereka berjumlah tujuh orang dari kaum Anshar dan tujuh yang lainnya dari kaum Muhajirin. Mereka, antara lain, Hamzah, Abu Bakar, Ja'far, ‘Ali, Umar, Ibn Mas'ud, Salman, ‘Ammar, Hudzaifah, Abu Dzar, Miqdad, dan Bilal bin Rabbah. Baginda juga pernah meminta pendapat kepada yang lain, selain mereka. Hanya saja, frekwensi baginda bermusyawarah dengan mereka lebih inten. Jadi, mereka layaknya seperti majelis syura.

Nabi saw. telah menetapkan harta atas kaum Muslim serta yang lain, termasuk atas tanah, hasil panen, serta hewan, yang berupa zakat, usyûr (pungutan 1/10 di daerah perbatasan), fai' (harta rampasan yang telah ditinggal oleh pemiliknya tanpa terjadinya peperangan), kharâj, dan jizyah. Dimana anfâl serta ghanîmah tersebut menjadi milik Baitul Mal. Sedangkan distribusi zakat diberikan kepada delapan kelompok, yang telah dinyatakan di dalam al-Qur'an. Sedikit pun zakat ini tidak akan diberikan kepada kelompok lain. Begitu pula dalam urusan negara, negara Islam tidak akan mengambil sedikitpun dari sana. Untuk melayani kebutuhan rakyat, mereka akan disuplay dengan harta yang berasal dari fai', kharâj, jizyah, serta ghanîmah. Semuanya itu cukup untuk mengurusi kebutuhan negara beserta angkatan bersenjatanya. Negara tidak akan pernah merasa membutuhkan lagi harta yang lain.

Demikianlah, Rasulullah saw. membangun struktur negara Islam sendiri, kemudian baginda sempurnakan semasa hidup baginda. Bagindalah yang menjadi kepala negaranya. Baginda juga memiliki dua mu'âwin (pembantu), wali, ‘amil, qadli, pasukan, dirjen-dirjen departemen serta majelis syura. Struktur ini, dengan segala bentuk dan otoritasnya, adalah tharîqah (metode baku) yang wajib diikuti. Semuanya ini telah dinyatakan berdasarkan riwayat yang mutawatir.

Rasulullah saw. senantiasa menjalankan tugas sebagai kepala negara sejak tiba di Madinah hingga baginda saw. wafat, sementara Abu Bakar dan ‘Umar bin al-Khattab adalah mu'âwin baginda. Para sahabat, pasca baginda saw. telah sepakat untuk mengangkat kepala negara yang menjadi penerus Rasulullah saw. dalam memimpin negara, bukan sebagai penerus kerasulan dan kenabian. Sebab, kenabian dan kerasulan ini telah berakhir pada baginda saja.

Demikianlah Rasulullah saw. telah membangun struktur negara secara sempurna dalam kehidupan baginda. Baginda saw. telah mewariskan bentuk pemerintahan dan struktur negara yang telah sedemikian dikenal dan teramat jelas.

Tak hanya sampai di situ, Nabi saw. juga bersabda, “Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para Nabi, ketika seorang Nabi telah wafat, maka digantikan Nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada Nabi setelahku, yang ada adalah para Khalifah. Jumlah mereka banyak.” [Hr. Muslim]. Para sahabat memahami dengan benar hadits ini, karena itu, begitu Rasulullah saw. wafat, mereka berkumpul di Saqifah Bani Sa’idah untuk membahas, siapa yang akan memimpin umat ini, menggantikan Rasulullah saw. Karena itulah, mereka kemudian sepakat mengangkat Abu Bakar sebagai Khalifah, pengganti Rasulullah, yang menduduki jabatan Khilafah, pasca Nubuwwah dan Risalah itu.

Setelah Abu Bakar wafat, ‘Umar diangkat menjadi Khalifah, menggantikan Abu Bakar. Begitu seterusnya, hingga Khalifah ‘Abdul Majid dibuang ke Eropa, dan institusi Khilafah warisan Nabi ini dihancurkan oleh konspirasi kaum Kafir, Yahudi, Inggris, Perancis dengan Kemal Attaturk. Selama 14 abad, institusi ini dipertahankan umat Islam di seluruh dunia, karena begitulah titah Nabi, “Kalian wajib berpegang teguh dengan sunahku, dan sunah para Khalifah Rasyidin setelahku. Gigitlah itu dengan gigi geraham.” [Hr. Abu Dawud dan at-Tirmidzi].

Semuanya ini merupakan Sunah Nabi saw. Sementara, dalam ilmu Ushul, posisi Sunnah terhadap al-Qur’an itu sendiri merupakan penjelasan [bayân], bisa sebagai Takhshîsh al-‘Am, Taqyîd al-Muthlaq, Tafshîl al-Mujmal, dan Ilhâq al-Far’i bi al-Ashl. Jadi, jelaslah, bahwa semua Sunah yang telah dilakukan oleh Nabi saw. dalam konteks pemerintahan itu menjelaskan apa yang ada dalam al-Qur’an. Itu artinya, al-Qur’an jelas mengajarkan tata kelola negara. Itulah yang oleh Nabi saw. sendiri kemudian disebut Khilafah. Karena itu, Khilafah jelas ajaran Islam.

Karena itu, sebagai ajaran Islam, Khilafah dengan jelas tertuang dalam al-Qur’an, as-Sunnah, Ijmak Sahabat. Ajaran ini ada dalam khazanah umat Islam. Bahkan, warisannya pun hingga kini masih bertebaran memenuhi sejarah peradaban dunia, baik di Barat, Timur, Utara maupun Selatan. Mengingkarinya, jelas kekonyolan intelektual yang luar biasa. Seperti hendak menutupi sinar matahari. Mustahil.

Namun, sejelas apapun penjelasan tersebut, jika tidak ada keimanan pada ajaran Islam, maka al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijmak Sahabat pun pasti akan ditolak. Wallahu a’lam.[]



KLARIFIKASI EKS KAPOLSEK TAK AMPUH KARENA NASI SUDAH MENJADI BUBUR

Oleh : Nazril Firaz Al-Faziri

Pada Minggu (31/03), publik kembali diramaikan dengan pernyataan eks Kapolsek Pasirwangi, Kab.Garut AKP Sulman Aziz bahwa dirinya beserta 21 Kapolsek Kab.Garut lainnya diperintahkan oleh Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna untuk menggiring masyarakat memilih paslon nomor 01.

Pernyataan AKP Sulman Aziz itu disampaikannya saat jumpa pers di Kantor Lokataru, Jakarta Timur. Dirinya pun didampingi oleh Direktur Kantor Hukum dan HAM Lokataru, Haris Azhar. Haris pun berencana akan melaporkan kasus tersebut ke Ombudsman.




Mercusuarumat.com. Ahad, 17 Maret 2019, masyarakat Kota Bandung menggelar agenda Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Isra Miraj Rasulullah SAW.

Acara yang dihadiri ratusan umat Islam ini dilaksanakan di salah satu gor di Kota Bandung Jawa Barat.

Dalam acara tersebut beberapa pemateri di antaranya Ustadz Asoed Abu Kayyis, Ustadz Asrofi, Ustadz Yuana Ryan Tresna dan beberapa tokoh lain memaparkan pentingnya menerapkan kembali syariah Islam dalam kehidupan.

Mereka juga menyampaikan pentingnya menegakkan Khilafah, karena Khilafah adalah pelindung untuk kaum muslimin di seluruh dunia.

Ustadz Assoed mengingatkan bahwa tragedi yang terjadi di Selandia Baru adalah salah satu bentuk lemahnya umat Islam karena tidak adanya Khilafah.

Tidak ada pelindung kaum muslimin hingga 49 orang nyawa umat Islam melayang dibrondong teroris dengan senapan otomatis.

Oleh karenanya perkara Khilafah adalah perkara yang utama untuk ditegakkan, tegas ustadz Asoed.

Dalam acara tersebut, mereka juga membawa poster sebagai solidaritas terhadap muslim New Zealand atas penembakan yang terjadi di 2 Masjid beberapa waktu yang lalu.

Tampak di sosial media twitter, tagar #SupportNZMuslim #KhilafahProtectsMuslims yang sempat trending topik.

Selain kedua tagar tersebut, di twitter juga trending topik 3 tagar lainnya yakni #RasulullahPemimpinKami #RinduPemimpinCintaIslam #RinduPemimpinJujurdanAdil.

Bahkan tagar #RinduPemimpinJujurdanAdil terpantau hingga trending topik dunia, yang kebanyakan isinya adalah acara Tabligh Akbar serupa di berbagai kota di Indonesia [SY]



Oleh Yuana Ryan Tresna

Pada acara Tabligh Akbar (17/3) di Kota Bandung dalam momentum Isra' dan Mi'raj 1440 dengan tema "Meneladani Kepemimpinan Rasululllah ﷺ", saya menyampaikan "Dua Wasiat Politik Rajab 1440". Wasiat politik pertama dari Habibina wa Nabiyyina Muhammad ﷺ, dan wasiat politik kedua dari al-'Allamah al-Mujahid al-Mujaddid al-Qadhi Taqiyyuddin al-Nabhani رحمه الله تعالى.

Wasiat Politik Pertama,

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ   وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. (رَوَاه داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح)

Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah ﷺ memberikan kami nasihat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata: "Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat." Rasulullah ﷺ bersabda: "Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian ada yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Khulafa'ur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari bid'ah, karena semua perkara bid’ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dia berkata: hasan shahih)

Hadits di atas adalah hadits politik yang sangat penting dan agung. Rasulullah berwasiat beberapa hal: (1) bertakwa kepada Allah, (2) patuh dan taat kepada pemimpin dalam pemerintahan meski ia seorang budak (majazi), (3) setelah zaman kenabian akan ada banyak perselisihan, (4) perintah sengikuti sunnah Nabi Muhammad ﷺ dan sunnah Khulafa'ur Rasyidin yang mendapat petunjuk (dalam hal penyelenggaraan pemerintahan), (5) perintah berpegang teguh pada sunnah seperti menggigit sesuatu dengan gigi geraham, dan (6) larangan perilaku bid'ah, karena bid'ah adalah kesesatan.

Dengan merujuk kaidah bid'ah sebagai berikut:

1. Perkara baru yang tidak semisal dengan contoh sebelumnya (اختراع / احداث على غير مثال سابق)
2. Perkara tersebut bertentangan dengan hukum syara' (مقابل الشرع)
3. Perkara tersebut ada penambahan dan pengurangan yang menyalahi hukum syara' (زيادة ونقصان تخالف الشرع)

maka sistem pemerintahan yang ada saat ini adalah sistem bid'ah, tidak sesuai sunnah Rasulullah dan sunnah al-Khulafa' al-Rasyidun. Misalnya, kedaulatan dalam membuat hukum harusnya di tangan syariat, bukan di tangan rakyat.

Dalam kitab al-Sunnah wa al-Bid'ah, syaikh Abdullah Mahfuzh al-Hadad menyebutkan jenis bid'ah kotemporer, yakni tidak menjadikan hukum syariah sebagai Undang-undang. Karena Hukum dan Undang-undang yang ada telah menghalalkan apa yang Allah haramkan.

Para ulama telah sepakat akan kewajiban imamah, khilafah dan nashbul khalifah.

Masa depan umat adalah masa depan Islam, kepemimpinan Islam dan khilafah.

Masa depan khilafah adalah di tangan ummat, karena sesuai dengan QS. An-Nur: 55, Allah akan memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang beriman dan beramal shalih. Siapapun dan umat pada generasi manapun.

Wasiat Politik Kedua,

Terakhir, saya sampaikan wasiat politik yang merupakan Seruan Hangat Hizbut Tahrir dari al-'Allamah al-Mujahid al-Mujaddid al-Qadhi' Taqiyyuddin al-Nabhani رحمه الله تعالى ونفعنا الله بعلومه فى الدارين.

dalam kitabnya,

نداء حار إلى المسلمين من حزب التحرير

Beliau mewasiatkan,

أيها المسلمون، إن مصيبتكم الفادحة أن العقيدة الإسلامية قد انطفأ نورها في قلوبكم، وذهب أثرها في أعمالكم، وفقدت حرارتها في تصرفاتكم، وصارت ميتة في نفوسكم. فأنيروها بأحكام القرآن وأحيوها بذكر الله، واجعلوها تعيدكم خلقاً آخر كالمسلمين الأولين من الصحابة والتابعين أو تابعي التابعين. أنيروها بالثقة بأفكار الإسلام وأحكامه وبالعمل لإعادة سلطان الإسلام ورفع راية القرآن. أنيروها بحمل الدعوة إلى الناس كافة لتخرجوهم من ظلمات الكفر والضلال إلى نور الإسلام، ومن جحيم القلق والشقاء إلى نعمة الطمأنينة ونعيم السعادة. وأحيوها بتقوى الله وطاعته، وبالخوف من عذابه والطمع في جنته، وبتقوية الصلة به، وبذكره في كل تصرف، وتذكّره عند كل عمل، وبالتقرب إليه لا بالصلاة والصوم والزكاة والدعاء فحسب، بل بقول الحق أينما كان، وكفاح الباطل أينما وُجد، وجهاد الكفار والمنافقين في كل وقت وفي كل حين. نداء حار (ص: 129)

“Wahai kaum muslimin, sesungguhnya musibah fatal kalian adalah bahwa akidah Islam telah padam sinarnya di hati kalian, telah pergi dampaknya dalam amal-amal kalian, telah hilang panasnya dalam perbuatan-perbuatan kalian dan telah menjadi mati dalam jiwa-jiwa kalian. Maka sinarilah ia dengan hukum-hukum al-Qur'an, hidupkanlah ia dengan mengingat Allah, jadikanlah ia mampu mengembalikan kalian menjadi sosok lain seperti kaum muslimin terdahulu dari para shahabat, para tabi'in dan tabi' tabi'in. Terangilah ia dengan keyakinan terhadap pemikiran-pemikiran Islam dan hukum-hukumnya, juga dengan beramal untuk mengembalikan kekuasaan Islam dan meninggikan panji al-Qur'an. Terangilah ia dengan mengemban dakwah kepada manusia seluruhnya, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kekufuran dan kesesatan kepada cahaya Islam, dan dari neraka kegundahan dan kesengsaraan, kepada nikmatnya ketenangan dan surga kebahagiaan. Hidupkanlah ia dengan bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya, dengan takut akan azab-Nya dan berkeinginan kuat terhadap surga-Nya, dan dengan menguatkan hubungan dengan-Nya, dan dengan menyebut-Nya di setiap aktifitas, dan mengingat-Nya pada setiap amal, juga dengan mendekat kepada-Nya, bukan hanya dengan shalat, puasa, zakat dan berdoa saja, tapi juga dengan mengatakan kebenaran bagaimanapun adanya, dan melawan kebatilan dimanapun berada, serta memerangi orang-orang kafir dan orang-orang munafiq di setiap waktu dan setiap saat” (Nida Har, hlm. 129)

Bandung, 10 Rajab 1440 H

#RasulullahPemimpinKami
#RinduPemimpinJujurdanAdil
#RinduPemimpinCintaIslam
#Bandung




Oleh : Sheila Nurazizah, S.Pd

Tanggal 1 Maret biasa diperingati sebagai hari Kehakiman Indonesia. Mungkin, tak banyak yang tahu peringatan hari ini, namun peringatan ini sangat bermakna bagi perangkat hukum di negeri yang kita cintai ini. Peringatan hari Kehakiman ini mestinya menjadi catatan evaluasi bagi para penegak hukum apkah mereka sudah menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Merefleksi kembali sederet delik hukum yang terjadi, rasanya begitu mengiris hati. Sepanjang rezim ini berkuasa, kualitas penegakan hukum kita bukan bertambah baik. Bagaimana tidak, rakyat dibiarkan linglung dan heran sendirian dengan banyaknya kasus yang menggantung dan mencerminkan hukum kita saat ini layaknya pisau yang tumpul ke atas dan tajam kebawah. Sangat tegas dan keras bagi pihak yang bersinggungan, namun sangat toleran pada pihak kawan.

Belum tuntasnya kasus penyerangan pada Novel Baswedan, terjadinya diskriminasi dan kriminalisasi aktivis dan ulama seperti penangkapan Habib Bahar Bin Smith, vonis hukum untuk artis Ahmad Dhani, vonis untuk Bun Yani, dan sederet kasus lainnya yang menyita perhatian publik karena telalu banyak kejanggalan yang terjadi. Belum lagi kasus-kasus korupsi  masih menggantung hingga hari ini, seperti  penanganan tindak pidana korupsi BLBI dan Bank Century, suap terkait Reklamasi di Jakarta, korupsi pajak yang menyeret Ketua BPK Hadi Poernomo, korupsi alkes Banten, korupsi pembangunan RS Sumber Waras, dan sebagainya masih samar dan belum tuntas penanganannya.

Sejatinya sebagai penegak hukum, tugas utamanya untuk melindungi rakyatnya. Namun dengan maraknya kasus-kasus hukum yang terjadi saat ini membuat citra hukum di negri ini makin jauh dari rasa adil. Membuat rakyat harus mencari keadilan sendiri atau diam dengan kebobrokan yang ada hanya untuk mendapati rasa aman.

Kebobrokan dalam bidang hukum ini pun tidak bisa dilepaskan dari penerapan hukum sekular. Penerapan sistem hukum sekular yang menghilangkan peran agama untuk mengatur negara menjadikan aparat dan birokrat tidak merasa diawasi oleh Allah SWT. Padahal pengawasan melekat sangatlah penting untuk meminimalisasi terjadinya praktik korup aparat. Sebagai contoh, seorang hakim yang memutuskan perkara bukan dengan hukum Allah SWT, pasti akan melupakan Allah SWT. Berbeda halnya dengan seorang hakim yang memutuskan perkara dengan hukum Allah SWT, secara otomatis kesadarannya terpantik, merasa diawasi terus oleh Allah SWT.

Maka dari itu, penerapan hukum Allah SWT (syariah Islam) secara totalitas akan menghentikan problem hukum yang selama ini terjadi dalam sistem hukum sekular dan secara otomatis akan menjadikan aparat penegak hukum dan birokrat menaati dan merasa diawasi oleh Allah SWT.


Oleh : Imas Nuraini, S.P
(Pengasuh Majelis Taklim Nurul Ilmi)

8 maret diperingati sebagai hari perempuan internasional (International Woman`s Day). Dalam 5 tahun terakhir orasi yang disampaikan masih terkait isu #pressforprogress. Gerakan ini diusung untuk memotivasi kaum wanita untuk makin mendorong kemajuan terkait perkembangan kesetaraan gender di dunia. Perayaan tahun ini pun masih berjuang untuk menyuarakan isu yang sama #Balancedforbetter, mengingat berbagai problem yang berada di sekitar perempuan sebut saja problem kekerasan seksual yang dianggap sudah memprihatinkan, ternyata semakin tidak terkendali.

Berbicara perempuan, memang sesuatu yang renyah untuk dibicarakan. Banyak sisi yang bisa dijadikan inspirasi untuk membahasnya. Saat ini, upaya untuk menjadikan perempuan lebih baik ditempuh dengan beragam cara. Mulai dari dorongan untuk menjadikan perempuan terlibat di ranah publik, tidak melulu di ranah domestik yang dianggap kurang produktif dalam mendongkrak angka pendapatan per kapita. Sampai melibatkan perempuan dalam bidang politik, sehingga mereka bisa memperjuangkan hak-haknya melalui jalur konstitusi. Muara dari semua perjuangan tersebut adalah membebaskan perempuan dari hal-hal yang dianggap mengekang hak dan keinginannya. Pertanyaannya adalah, sudahkah tujuan perjuangan ini menyelesaikan problem-problem perempuan?

Feminisme memberikan sudut pandang pada permasalahan perempuan dengan konsep marginalitas perempuan sebagai sebuah ide yang dibangun pada sebuah masyarakat. Menurut feminisme, munculnya masalah-masalah seperti kekerasan seksual, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan dalam rumah tangga, perbudakan dan lain-lainnya adalah karena adanya ide yang masih dipegang pada sebuah masyarakat, yang menomorsatukan laki-laki dan mengabaikan perempuan. Islam seringkali dijadikan pihak tertuduh yang tidak memberikan ruang untuk perempuan bisa lebih baik, bisa mandiri, bahkan bisa lebih maju.

Tuduhan ini misalnya dengan menjadikan hukum kewajiban istri secara fitrah adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, sedangkan kewajiban mencari nafkah ada di tangan suami. Ketentuan ini, dalam pandangan feminisme mengekang perempuan untuk bisa berkiprah di ranah publik yang memungkinkan perempuan bisa mandiri dalam hal pendapatan, sehingga tidak bergantung pada suami. Karena ketergantungan nafkah ini, salah satu sebab banyaknya perilaku kekerasan dalam rumah tangga. Belum lagi aturan-aturan lain yang dirasa membatasi kebebasan perempuan seperti aturan berpakaian, kewajiban taat pada suami, poligami, pembagian waris dll. Padahal, benarkah sumber masalah perempuan itu karena penerapan aturan Islam yang dianggap mengekang kemajuan perempuan?

Kalau kita melihat fakta lebih objektif, misalnya kekerasan seksual yang dialami sebagian besar perempuan tidak bisa dianggap sumber masalahnya karena sudut pandang superioritas laki-laki atas perempuan. Mengapa demikian? Karena fakta yang terjadi angka kekerasan seksual meningkat faktor pemicunya adalah semakin tumbuh suburnya aktifitas pornoaksi dan pornografi serta pergaulan bebas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Para pebisnis pornografi tidak ingin kehilangan pendapatan yang demikian besar untuk menutup industri pornografinya.

Demikian pula, diantara pelaku pergaulan bebas, mereka terjun dalam hal ini dengan beragam alasan, bisa jadi karena faktor ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, atau karena gaya hidup liberalnya. Selain itu, karena lemahnya sisi keimanan dan ketakwaan pada individu. Mereka tidak menghiraukan sanksi berat bagi para pelaku kekerasan seksual, apalagi mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hari kiamat kelak. Inilah sebab utama, angka kekerasan seksual tidak terkendali.
Karena penerapan kapitalisme yang menomorsatukan kebahagiaan materi atau keinginan hawa nafsu tanpa melihat bahaya yang ditimbulkan pada masyarakat. Selain itu, penerapan sekularisme di tengah-tengah kehidupan berhasil mengikis sisi keimanan dan ketakwaan seseorang untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Sehingga, upaya menghapus kekerasan seksual tidak cukup dengan mendorong undang-undang yang masih mengadopsi ide kapitalisme, ataupun sekulerisme. Dengan alasan, undang-undangnya mendorong keseimbangan antara hak laki-laki dan perempuan semisal RUU PKS yang sedang didorong untuk disahkan oleh DPR. Alih-alih menghapus kekerasan seksual, yang terjadi malah kekerasan seksual semakin meningkat.

Perempuan akan lebih baik hanya jika diperlakukan sesuai aturan yang adil menurut Sang Maha Adil. Aturan Syariat Islam sangatlah adil, tidak memihak pada laki-laki ataupun perempuan. Allah SWT yang membuat syariat untuk manusia baik laki-laki maupun perempuan demi mendapatkan kebahagiaan kehidupan di dunia dan di akhirat. Syariat Islam tidak hanya dirasakan kebaikannya untuk kaum muslim saja, melainkan seluruh alam baik manusia, termasuk alam semesta akan merasakan kebaikannya. Masihkan kita meragukan kemampuan Syariat Islam dalam menyelesaikan masalah kehidupan, termasuk masalah perempuan? Masalah perempuan di atas, sebenarnya dialami juga oleh kaum laki-laki.

Kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, perbudakan, dan lain-lain. Jawaban atas permasalahan ini hanya bisa diselesaikan dengan penerapan syariat Islam secara sempurna, penerapan sistem ekonomi Islam akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, penerapan syariat tentang sosial pergaulan akan menutup celah pergaulan bebas dan mendorong terwujudnya masyarakat yang sehat dan berperadaban. Selain itu, masyarakat akan disuasanakan untuk tidak memisahkan agama dari kehidupan, sehingga atmosfer keimanan dan ketakwaaan akan senantiasa terpelihara agar tidak mudah terjadinya tindak kriminalitas, karena selain ketegasan sanksi di dunia dia akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak dalam pengadilan yang Maha Adil.   

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget