Mercusuarumat.com | Cahaya Peradaban Islam

Terbaru




Mercusuarumat.com. Ahad, 17 Maret 2019, masyarakat Kota Bandung menggelar agenda Tabligh Akbar dalam rangka memperingati Isra Miraj Rasulullah SAW.

Acara yang dihadiri ratusan umat Islam ini dilaksanakan di salah satu gor di Kota Bandung Jawa Barat.

Dalam acara tersebut beberapa pemateri di antaranya Ustadz Asoed Abu Kayyis, Ustadz Asrofi, Ustadz Yuana Ryan Tresna dan beberapa tokoh lain memaparkan pentingnya menerapkan kembali syariah Islam dalam kehidupan.

Mereka juga menyampaikan pentingnya menegakkan Khilafah, karena Khilafah adalah pelindung untuk kaum muslimin di seluruh dunia.

Ustadz Assoed mengingatkan bahwa tragedi yang terjadi di Selandia Baru adalah salah satu bentuk lemahnya umat Islam karena tidak adanya Khilafah.

Tidak ada pelindung kaum muslimin hingga 49 orang nyawa umat Islam melayang dibrondong teroris dengan senapan otomatis.

Oleh karenanya perkara Khilafah adalah perkara yang utama untuk ditegakkan, tegas ustadz Asoed.

Dalam acara tersebut, mereka juga membawa poster sebagai solidaritas terhadap muslim New Zealand atas penembakan yang terjadi di 2 Masjid beberapa waktu yang lalu.

Tampak di sosial media twitter, tagar #SupportNZMuslim #KhilafahProtectsMuslims yang sempat trending topik.

Selain kedua tagar tersebut, di twitter juga trending topik 3 tagar lainnya yakni #RasulullahPemimpinKami #RinduPemimpinCintaIslam #RinduPemimpinJujurdanAdil.

Bahkan tagar #RinduPemimpinJujurdanAdil terpantau hingga trending topik dunia, yang kebanyakan isinya adalah acara Tabligh Akbar serupa di berbagai kota di Indonesia [SY]



Oleh Yuana Ryan Tresna

Pada acara Tabligh Akbar (17/3) di Kota Bandung dalam momentum Isra' dan Mi'raj 1440 dengan tema "Meneladani Kepemimpinan Rasululllah ﷺ", saya menyampaikan "Dua Wasiat Politik Rajab 1440". Wasiat politik pertama dari Habibina wa Nabiyyina Muhammad ﷺ, dan wasiat politik kedua dari al-'Allamah al-Mujahid al-Mujaddid al-Qadhi Taqiyyuddin al-Nabhani رحمه الله تعالى.

Wasiat Politik Pertama,

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ   وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. (رَوَاه داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح)

Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariah radhiallahuanhu dia berkata: Rasulullah ﷺ memberikan kami nasihat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. Maka kami berkata: "Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat." Rasulullah ﷺ bersabda: "Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian ada yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunnahku dan sunnah Khulafa'ur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari bid'ah, karena semua perkara bid’ah adalah sesat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dia berkata: hasan shahih)

Hadits di atas adalah hadits politik yang sangat penting dan agung. Rasulullah berwasiat beberapa hal: (1) bertakwa kepada Allah, (2) patuh dan taat kepada pemimpin dalam pemerintahan meski ia seorang budak (majazi), (3) setelah zaman kenabian akan ada banyak perselisihan, (4) perintah sengikuti sunnah Nabi Muhammad ﷺ dan sunnah Khulafa'ur Rasyidin yang mendapat petunjuk (dalam hal penyelenggaraan pemerintahan), (5) perintah berpegang teguh pada sunnah seperti menggigit sesuatu dengan gigi geraham, dan (6) larangan perilaku bid'ah, karena bid'ah adalah kesesatan.

Dengan merujuk kaidah bid'ah sebagai berikut:

1. Perkara baru yang tidak semisal dengan contoh sebelumnya (اختراع / احداث على غير مثال سابق)
2. Perkara tersebut bertentangan dengan hukum syara' (مقابل الشرع)
3. Perkara tersebut ada penambahan dan pengurangan yang menyalahi hukum syara' (زيادة ونقصان تخالف الشرع)

maka sistem pemerintahan yang ada saat ini adalah sistem bid'ah, tidak sesuai sunnah Rasulullah dan sunnah al-Khulafa' al-Rasyidun. Misalnya, kedaulatan dalam membuat hukum harusnya di tangan syariat, bukan di tangan rakyat.

Dalam kitab al-Sunnah wa al-Bid'ah, syaikh Abdullah Mahfuzh al-Hadad menyebutkan jenis bid'ah kotemporer, yakni tidak menjadikan hukum syariah sebagai Undang-undang. Karena Hukum dan Undang-undang yang ada telah menghalalkan apa yang Allah haramkan.

Para ulama telah sepakat akan kewajiban imamah, khilafah dan nashbul khalifah.

Masa depan umat adalah masa depan Islam, kepemimpinan Islam dan khilafah.

Masa depan khilafah adalah di tangan ummat, karena sesuai dengan QS. An-Nur: 55, Allah akan memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang beriman dan beramal shalih. Siapapun dan umat pada generasi manapun.

Wasiat Politik Kedua,

Terakhir, saya sampaikan wasiat politik yang merupakan Seruan Hangat Hizbut Tahrir dari al-'Allamah al-Mujahid al-Mujaddid al-Qadhi' Taqiyyuddin al-Nabhani رحمه الله تعالى ونفعنا الله بعلومه فى الدارين.

dalam kitabnya,

نداء حار إلى المسلمين من حزب التحرير

Beliau mewasiatkan,

أيها المسلمون، إن مصيبتكم الفادحة أن العقيدة الإسلامية قد انطفأ نورها في قلوبكم، وذهب أثرها في أعمالكم، وفقدت حرارتها في تصرفاتكم، وصارت ميتة في نفوسكم. فأنيروها بأحكام القرآن وأحيوها بذكر الله، واجعلوها تعيدكم خلقاً آخر كالمسلمين الأولين من الصحابة والتابعين أو تابعي التابعين. أنيروها بالثقة بأفكار الإسلام وأحكامه وبالعمل لإعادة سلطان الإسلام ورفع راية القرآن. أنيروها بحمل الدعوة إلى الناس كافة لتخرجوهم من ظلمات الكفر والضلال إلى نور الإسلام، ومن جحيم القلق والشقاء إلى نعمة الطمأنينة ونعيم السعادة. وأحيوها بتقوى الله وطاعته، وبالخوف من عذابه والطمع في جنته، وبتقوية الصلة به، وبذكره في كل تصرف، وتذكّره عند كل عمل، وبالتقرب إليه لا بالصلاة والصوم والزكاة والدعاء فحسب، بل بقول الحق أينما كان، وكفاح الباطل أينما وُجد، وجهاد الكفار والمنافقين في كل وقت وفي كل حين. نداء حار (ص: 129)

“Wahai kaum muslimin, sesungguhnya musibah fatal kalian adalah bahwa akidah Islam telah padam sinarnya di hati kalian, telah pergi dampaknya dalam amal-amal kalian, telah hilang panasnya dalam perbuatan-perbuatan kalian dan telah menjadi mati dalam jiwa-jiwa kalian. Maka sinarilah ia dengan hukum-hukum al-Qur'an, hidupkanlah ia dengan mengingat Allah, jadikanlah ia mampu mengembalikan kalian menjadi sosok lain seperti kaum muslimin terdahulu dari para shahabat, para tabi'in dan tabi' tabi'in. Terangilah ia dengan keyakinan terhadap pemikiran-pemikiran Islam dan hukum-hukumnya, juga dengan beramal untuk mengembalikan kekuasaan Islam dan meninggikan panji al-Qur'an. Terangilah ia dengan mengemban dakwah kepada manusia seluruhnya, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kekufuran dan kesesatan kepada cahaya Islam, dan dari neraka kegundahan dan kesengsaraan, kepada nikmatnya ketenangan dan surga kebahagiaan. Hidupkanlah ia dengan bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya, dengan takut akan azab-Nya dan berkeinginan kuat terhadap surga-Nya, dan dengan menguatkan hubungan dengan-Nya, dan dengan menyebut-Nya di setiap aktifitas, dan mengingat-Nya pada setiap amal, juga dengan mendekat kepada-Nya, bukan hanya dengan shalat, puasa, zakat dan berdoa saja, tapi juga dengan mengatakan kebenaran bagaimanapun adanya, dan melawan kebatilan dimanapun berada, serta memerangi orang-orang kafir dan orang-orang munafiq di setiap waktu dan setiap saat” (Nida Har, hlm. 129)

Bandung, 10 Rajab 1440 H

#RasulullahPemimpinKami
#RinduPemimpinJujurdanAdil
#RinduPemimpinCintaIslam
#Bandung




Oleh : Sheila Nurazizah, S.Pd

Tanggal 1 Maret biasa diperingati sebagai hari Kehakiman Indonesia. Mungkin, tak banyak yang tahu peringatan hari ini, namun peringatan ini sangat bermakna bagi perangkat hukum di negeri yang kita cintai ini. Peringatan hari Kehakiman ini mestinya menjadi catatan evaluasi bagi para penegak hukum apkah mereka sudah menjalankan tugasnya dengan baik atau tidak. Merefleksi kembali sederet delik hukum yang terjadi, rasanya begitu mengiris hati. Sepanjang rezim ini berkuasa, kualitas penegakan hukum kita bukan bertambah baik. Bagaimana tidak, rakyat dibiarkan linglung dan heran sendirian dengan banyaknya kasus yang menggantung dan mencerminkan hukum kita saat ini layaknya pisau yang tumpul ke atas dan tajam kebawah. Sangat tegas dan keras bagi pihak yang bersinggungan, namun sangat toleran pada pihak kawan.

Belum tuntasnya kasus penyerangan pada Novel Baswedan, terjadinya diskriminasi dan kriminalisasi aktivis dan ulama seperti penangkapan Habib Bahar Bin Smith, vonis hukum untuk artis Ahmad Dhani, vonis untuk Bun Yani, dan sederet kasus lainnya yang menyita perhatian publik karena telalu banyak kejanggalan yang terjadi. Belum lagi kasus-kasus korupsi  masih menggantung hingga hari ini, seperti  penanganan tindak pidana korupsi BLBI dan Bank Century, suap terkait Reklamasi di Jakarta, korupsi pajak yang menyeret Ketua BPK Hadi Poernomo, korupsi alkes Banten, korupsi pembangunan RS Sumber Waras, dan sebagainya masih samar dan belum tuntas penanganannya.

Sejatinya sebagai penegak hukum, tugas utamanya untuk melindungi rakyatnya. Namun dengan maraknya kasus-kasus hukum yang terjadi saat ini membuat citra hukum di negri ini makin jauh dari rasa adil. Membuat rakyat harus mencari keadilan sendiri atau diam dengan kebobrokan yang ada hanya untuk mendapati rasa aman.

Kebobrokan dalam bidang hukum ini pun tidak bisa dilepaskan dari penerapan hukum sekular. Penerapan sistem hukum sekular yang menghilangkan peran agama untuk mengatur negara menjadikan aparat dan birokrat tidak merasa diawasi oleh Allah SWT. Padahal pengawasan melekat sangatlah penting untuk meminimalisasi terjadinya praktik korup aparat. Sebagai contoh, seorang hakim yang memutuskan perkara bukan dengan hukum Allah SWT, pasti akan melupakan Allah SWT. Berbeda halnya dengan seorang hakim yang memutuskan perkara dengan hukum Allah SWT, secara otomatis kesadarannya terpantik, merasa diawasi terus oleh Allah SWT.

Maka dari itu, penerapan hukum Allah SWT (syariah Islam) secara totalitas akan menghentikan problem hukum yang selama ini terjadi dalam sistem hukum sekular dan secara otomatis akan menjadikan aparat penegak hukum dan birokrat menaati dan merasa diawasi oleh Allah SWT.


Oleh : Imas Nuraini, S.P
(Pengasuh Majelis Taklim Nurul Ilmi)

8 maret diperingati sebagai hari perempuan internasional (International Woman`s Day). Dalam 5 tahun terakhir orasi yang disampaikan masih terkait isu #pressforprogress. Gerakan ini diusung untuk memotivasi kaum wanita untuk makin mendorong kemajuan terkait perkembangan kesetaraan gender di dunia. Perayaan tahun ini pun masih berjuang untuk menyuarakan isu yang sama #Balancedforbetter, mengingat berbagai problem yang berada di sekitar perempuan sebut saja problem kekerasan seksual yang dianggap sudah memprihatinkan, ternyata semakin tidak terkendali.

Berbicara perempuan, memang sesuatu yang renyah untuk dibicarakan. Banyak sisi yang bisa dijadikan inspirasi untuk membahasnya. Saat ini, upaya untuk menjadikan perempuan lebih baik ditempuh dengan beragam cara. Mulai dari dorongan untuk menjadikan perempuan terlibat di ranah publik, tidak melulu di ranah domestik yang dianggap kurang produktif dalam mendongkrak angka pendapatan per kapita. Sampai melibatkan perempuan dalam bidang politik, sehingga mereka bisa memperjuangkan hak-haknya melalui jalur konstitusi. Muara dari semua perjuangan tersebut adalah membebaskan perempuan dari hal-hal yang dianggap mengekang hak dan keinginannya. Pertanyaannya adalah, sudahkah tujuan perjuangan ini menyelesaikan problem-problem perempuan?

Feminisme memberikan sudut pandang pada permasalahan perempuan dengan konsep marginalitas perempuan sebagai sebuah ide yang dibangun pada sebuah masyarakat. Menurut feminisme, munculnya masalah-masalah seperti kekerasan seksual, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan dalam rumah tangga, perbudakan dan lain-lainnya adalah karena adanya ide yang masih dipegang pada sebuah masyarakat, yang menomorsatukan laki-laki dan mengabaikan perempuan. Islam seringkali dijadikan pihak tertuduh yang tidak memberikan ruang untuk perempuan bisa lebih baik, bisa mandiri, bahkan bisa lebih maju.

Tuduhan ini misalnya dengan menjadikan hukum kewajiban istri secara fitrah adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, sedangkan kewajiban mencari nafkah ada di tangan suami. Ketentuan ini, dalam pandangan feminisme mengekang perempuan untuk bisa berkiprah di ranah publik yang memungkinkan perempuan bisa mandiri dalam hal pendapatan, sehingga tidak bergantung pada suami. Karena ketergantungan nafkah ini, salah satu sebab banyaknya perilaku kekerasan dalam rumah tangga. Belum lagi aturan-aturan lain yang dirasa membatasi kebebasan perempuan seperti aturan berpakaian, kewajiban taat pada suami, poligami, pembagian waris dll. Padahal, benarkah sumber masalah perempuan itu karena penerapan aturan Islam yang dianggap mengekang kemajuan perempuan?

Kalau kita melihat fakta lebih objektif, misalnya kekerasan seksual yang dialami sebagian besar perempuan tidak bisa dianggap sumber masalahnya karena sudut pandang superioritas laki-laki atas perempuan. Mengapa demikian? Karena fakta yang terjadi angka kekerasan seksual meningkat faktor pemicunya adalah semakin tumbuh suburnya aktifitas pornoaksi dan pornografi serta pergaulan bebas yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Para pebisnis pornografi tidak ingin kehilangan pendapatan yang demikian besar untuk menutup industri pornografinya.

Demikian pula, diantara pelaku pergaulan bebas, mereka terjun dalam hal ini dengan beragam alasan, bisa jadi karena faktor ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, atau karena gaya hidup liberalnya. Selain itu, karena lemahnya sisi keimanan dan ketakwaan pada individu. Mereka tidak menghiraukan sanksi berat bagi para pelaku kekerasan seksual, apalagi mempertanggungjawabkan perbuatan mereka di hari kiamat kelak. Inilah sebab utama, angka kekerasan seksual tidak terkendali.
Karena penerapan kapitalisme yang menomorsatukan kebahagiaan materi atau keinginan hawa nafsu tanpa melihat bahaya yang ditimbulkan pada masyarakat. Selain itu, penerapan sekularisme di tengah-tengah kehidupan berhasil mengikis sisi keimanan dan ketakwaan seseorang untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Sehingga, upaya menghapus kekerasan seksual tidak cukup dengan mendorong undang-undang yang masih mengadopsi ide kapitalisme, ataupun sekulerisme. Dengan alasan, undang-undangnya mendorong keseimbangan antara hak laki-laki dan perempuan semisal RUU PKS yang sedang didorong untuk disahkan oleh DPR. Alih-alih menghapus kekerasan seksual, yang terjadi malah kekerasan seksual semakin meningkat.

Perempuan akan lebih baik hanya jika diperlakukan sesuai aturan yang adil menurut Sang Maha Adil. Aturan Syariat Islam sangatlah adil, tidak memihak pada laki-laki ataupun perempuan. Allah SWT yang membuat syariat untuk manusia baik laki-laki maupun perempuan demi mendapatkan kebahagiaan kehidupan di dunia dan di akhirat. Syariat Islam tidak hanya dirasakan kebaikannya untuk kaum muslim saja, melainkan seluruh alam baik manusia, termasuk alam semesta akan merasakan kebaikannya. Masihkan kita meragukan kemampuan Syariat Islam dalam menyelesaikan masalah kehidupan, termasuk masalah perempuan? Masalah perempuan di atas, sebenarnya dialami juga oleh kaum laki-laki.

Kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, ketidakadilan, perbudakan, dan lain-lain. Jawaban atas permasalahan ini hanya bisa diselesaikan dengan penerapan syariat Islam secara sempurna, penerapan sistem ekonomi Islam akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, penerapan syariat tentang sosial pergaulan akan menutup celah pergaulan bebas dan mendorong terwujudnya masyarakat yang sehat dan berperadaban. Selain itu, masyarakat akan disuasanakan untuk tidak memisahkan agama dari kehidupan, sehingga atmosfer keimanan dan ketakwaaan akan senantiasa terpelihara agar tidak mudah terjadinya tindak kriminalitas, karena selain ketegasan sanksi di dunia dia akan diminta pertanggungjawaban di akhirat kelak dalam pengadilan yang Maha Adil.   


- Nisa Agustina, M.Pd -


Akhir-akhir ini istilah unicorn naik daun selepas debat kedua pemilihan presiden 2019. Unicorn sendiri adalah sebutan bagi perusahaan rintisan (Start up) berbasis digital yang memiliki valuasi nilai 1 miliar dolar AS atau setara dengan 14 Triliun rupiah. Indonesia termasuk salah satu negara tersubur di Asia Tenggara dengan pertumbuhan unicorn terbanyak dikarenakan Indonesia tidak memiliki aturan dalam hal penanaman modal asing terhadap perusahaan-perusahaan unicorn.

Dimilikinya startup bervaluasi di atas US$1 miliar (unicorn) di Indonesia dianggap sebagai sebuah reputasi yang hebat. Apalagi Indonesia sudah punya empat startup unicorn yang telah berhasil menggaet investor kelas kakap luar negeri. Tokopedia menjadi unicorn yang paling banyak melakukan putaran penggalangan dana. Sedangkan Gojek menjadi unicorn bervaluasi tertinggi. Techcrunch melaporkan, Gojek telah tujuh kali melakukan putaran penggalangan dana dan mendapat suntikan di atas US$3 miliar. Saat ini Gojek diisukan tengah melakukan putaran penggalangan dana dan valuasinya mendekati US$10 miliar. Saat ini investor Gojek adalah Tencent Holdings, JD.com, New World Strategic Invesment dari China, Google dari AS, Temasek Holdings dan Hera Capital dari Singapura dan Astra International dan GDP ventures dari Indonesia. (CnnIndonesia.com/18-02-2019). Aksi pengumpulan dana ini masih akan terus berlangsung guna memunculkan unicorn baru atau menaikkannya menjadi decacorn. Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo di Kompas CEO Forum, Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Unicorn merupakan salah satu jenis usaha yang dilirik dalam investasi karena menjanjikan keuntungan bagi kapitalis. Indonesia  merupakan surga bagi perusahaan teknologi rintisan, dengan jumlah penduduk  kurang lebih 240 juta jiwa  dan masyarakat yang dinilai cukup konsumtif, ditunjang  media yang pertumbuhannya melesat.  Sehingga produk yang ditawarkan mudah terjangkau dari pelosok sampai perkotaan. Tidak tanggung-tanggung para investor asing berani mengalirkan dana cukup besar, bisnis startup diperkirakan mampu tumbuh 4 kali lipat pada tahun 2025. Startup ini juga sebagai ekosistem digital yang sudah terbentuk, sehingga sudah mempunyai pengguna yang loyal kepada layanan yang diberikan startup. Selain mendatangkan keuntungan,  investor bisa mendapatkan data yang dapat digunakan untuk mengembangkan bisnisnya.

Bagaimanapun, Indonesia adalah sebuah negeri besar yang seringkali dilirik bahkan menarik bagi investor asing. Para pemilik modal asing tersebut paham benar tentang keuntungan yang akan mereka dapatkan dengan investasi yang mereka lakukan. Sementara di pihak lain, Indonesia beranggapan bahwa investasi asing akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negeri ini dan melahirkan kesejahteraan bagi rakyat.

Benarkah demikian?  Ada bahaya yang mengintai kedaulatan negeri ini di balik penananam modal asing. Dengan derasnya laju investor asing ini, porsi pertambahan nilai terbesar lari kepada pihak asing melalui mekanisme perpindahan kepemilikan harta dengan model laba. Semakin banyak investor asing yang bermain di negeri ini, ketergantungan rakyat dan pemerintah kepada mereka akan semakin besar. Para pemilik bisnis ini dapat melakukan lobi atau bahkan tekanan baik secara ekonomi atau politik kepada pemerintah atau masyarakat untuk kepentingan mereka. Dengan dominasi modal  maka mereka berhak mengatur urusan  negara sesuai kepentingan. Keterlibatan investasi asing dalam memajukan pertumbuhan ekonomi sejatinya adalah pertumbuhan yang semu. Sebab, realiti kesejahteraan hanya dirasakan pada para pemodal.

Karenanya selama masih bergantung pada investor asing, selama itu pula kedaulatan negara menjadi lemah. Sebab tidak memiliki kekuatan hukum yang tegas bagi para investor asing. Berharap unicorn dapat memperbaiki perekonomian negeri bagaikan mimpi di siang bolong. Karena sumber masalahnya adalah bukan dari besar atau kecilnya rintisan usaha swasta yang diperoleh. Akan tetapi karena diberlakukannya sistem kapitalis liberalis dalam sistem ekonomi.

Untuk itu, wajiblah mencari solusi yang jernih atas masalah kekhawatiran penguasaan ekonomi bangsa oleh asing lewat saham-saham yang ditanamnya. Dan solusi jernih itu hanya ada dalam sistem ekonomi Islam. Yang memiliki pandangan yang sangat khas terkait permasalahan ekonomi, dalam bentuk apapun. Cara pandang sistem ekonomi Islam ini dilandaskan pada pandangan halal dan haram, bukan untung rugi seperti dalam perspektif kapitalis liberalis.

Seharusnya bila ingin jadi negara mandiri tanpa intervensi, jangan biarkan investor asing menguasai unicorn maupun aset negara lainnya. Indonesia harus bersikap tegas terhadap investasi yang dapat melemahkan kedaulatannya baik di dalam dan luar negeri. Ambil alih dan kelola sendiri perusahaan dan sumber daya alam milik umat. Maka akan menambah pemasukan negara, dan negara pun lepas dan bebas dari jeratan intervensi.

Dan kemandirian itu hanya akan terwujud jika negara menerapkan sistem Islam. Karena dalam Islam, kerjasama ekonomi tidak boleh dilakukan dengan kaum kafir harbi fi'lan seperti Amerika yang jelas memusuhi Islam. Namun hanya boleh dengan kaum kafir yang mau tunduk pada aturan Islam. Kerjasama itu juga tidak boleh menjadikan perusahan semacam Unicorn dimiliki individu. Tidak ada privatisasi maupun swastanisasi kekayaan umat  dalam Islam. Inilah aturan yang jelas dalam Islam mengenai perusahaan yang dikuasai asing. Jika Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, maka kesejahteraan yang hakiki akan dapat terwujud


.
Oleh: Ustadz Iwan Januar

Namanya Dede. Ia saya kenal sejak masih duduk di bangku SMA, berkecimpung di dunia dakwah. Dulu ia bagian dari sejumlah remaja yang rajin ikut kajian-kajian yang saya dan beberapa kolega adakan. Seringkali ia juga jadi bagian panitianya. Berpeluh-peluh tanpa bayaran sekedar ingin mengadakan pengajian agar kawan-kawannya sesama anak sekolah mau datang, duduk, dan menikmati pengajian.Itu dulu.
.
Sekarang ia bukan lagi anak SMA. Ia sudah seorang bapak. Tapi sikapnya pada pengajian dan dunia dakwah tetap konstan. Bahkan melebihi saya. Dede bukan lagi jadi penikmat pengajian, tapi sudah menjadi ustadz. Ia sudah duduk menjadi khotib, pengisi pengajian di beberapa majlis talim, dan pengajian lain-lain.
.
Pergaulannya juga bukan lagi dengan anak-anak SMA, tapi dengan para asatidz, kyai, dan habaib. Ia masuk ke jaringan mereka, jadi member grup WA mereka, dan lagi-lagi bukan sebagai penikmat. Terkadang ia menyampaikan materi, dan terkadang terlibat adu argumentasi dalam soal dakwah.
.
Dede yang dulu remaja SMA sederhana, nyantri di sebuah pesantren kecil, bermetamorfosa menjadi hamalatud da’wah yang luar biasa. Masuk ke orbit lain yang lebih luas dan tinggi.
.
Dari sekian remaja yang saya kenal, bukan hanya satu dua yang kemudian Allah lejitkan kedudukan mereka di dunia dakwah. Ada yang sudah menjadi dosen di kampus, penggerak majlis talim, masuk ke barisan kyai dan ustadz, dll. Tapi semuanya masih dalam jalur yang sama seperti mereka remaja dulu; berdakwah perjuangkan syariah dan khilafah, hanya dalam level yang berbeda. Level lebih tinggi lagi.
.
Ucapan mereka yang sering membuat saya terharu dan ingin menangis adalah, “Pak, ingat saya nggak? Dulu saya kan yang undang bapak ke sekolah untuk isi pengajian.”
.
Saya hanya bisa berucap dalam hati; alhamdulillah mereka adalah orang-orang yang istiqomah. Berdiri di atas agama Allah sejak remaja bukan karena tren, tapi karena keyakinan bahwa ini adalah jalan hidup yang harus dilewati dengan berbagai perjuangan dan pengorbanan.
.
Mereka tidak silau habiskan masa muda dengan berfoya-foya, berpacaran, lalu keluar dari orbit dakwah. Mereka jadikan terus dakwah sebagai poros kehidupan. Bahkan mereka juga tidak tergiur dengan pekerjaan yang bisa menghasilkan nafkah besar, bila itu melalaikan dakwah. Dan Allah Maha Menepati JanjiNya. Ia muliakan mereka yang istiqomah di jalanNya.
.
Keajaiban Lain:
.
Namanya Pak Adi, saya lupa nama lengkapnya. Sudah lanjut usia, 65 tahun. Beliau adalah penarik becak di Bandung. Kesibukan lainnya? Berdakwah! Kawan-kawan saya bercerita kalau Pak Adi tidak pernah absen dari setiap aksi dakwah. Meski itu harus mengeluarkan ongkos yang cukup lumayan sekalipun!
.
Keadaan ekonominya yang lemah tidak membuat beliau menjadi minder berada di barisan dakwah yang rata-rata anak muda, mahasiswa, karyawan, dosen, atau pengusaha. Ia duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan mereka. Bahkan ia pernah berorasi di lapangan Gasibu Bandung di hadapan ribuan peserta aksi. Tiada gentar.
.
Di luar dugaan orasi Pak Adi memukau. Ia sodorkan data-data kerusakan umat dengan lantang. Bisakah kita bayangkan ada tukang becak tapi bicara dengan sistematis lengkap dengan data statistik?
.
Usai orasi seorang petugas kepolisian bertanya pada panitia, “Itu dosen darimana?” Allahu Akbar!
.
Ujian lain juga dialami bapak kita yang luar biasa ini. Putranya mengalami gangguan kesehatan serius sehingga membutuhkan perawatan di rumah yang cukup intens. Tapi itu tidak menjadi alasan buat Pak Adi untuk bolos dalam setiap liqo atau pertemuan. Agar putranya tidak rewel jika ditinggal mengaji, maka ia mandikan dulu sejak pagi, ia pijiti agar merasa segar dan nyaman bila kemudian ditinggal beberapa saat untuk hadir dalam liqo’. Masya Allah!
.
Jangan bicara soal infaq dakwah, kita bisa dibuat malu hati oleh Pak Adi. Meski pekerjaannya hanya penarik becak, beliau tidak pernah mengeluh bila harus mengeluarkan infak. Agar nafkah keluarga dan infak dakwah dapat terpenuhi, ia mencari penghasilan tambahan. Ia punguti botol-botol plastik bekas di kali kecil dekat rumahnya. Ia jual dan keuntungannya ia pakai untuk keperluan dapur dan infak dakwah!
.
Ketika ada agenda besar yang membutuhkan dana besar. Pak Adi sama sekali tak mengeluh. Lagi-lagi beliau cari penghasilan tambahan. Apa? Membajak sawah tetangganya. Upahnya ia tabung sampai akhirnya bisa melunasi keperluan dana dakwah.
.
“Kalau beliau berinfak, uangnya recehan, kang,” tutur seorang kawan. Ah, saya jadi teringat sahabat Abu ‘Uqail al-Anshari yang tetap berusaha keras bisa berinfak untuk keperluan Perang Tabuk. Kala itu Abdurrahman bin Auf berinfak sebanyak 4 ribu dirham.
.
Abu ‘Uqail bukan orang kaya, bahkan tergolong miskin, lalu ia bekerja keras agar bisa turut membiayai ekspedisi Tabuk yang berjalan di masa sulit. Ekonomi sedang paceklik. Akhirnya ia punya sedikit harta. Ia infakkan segantang kurma untuk pasukan Tabuk.
.
ketika orang-orang munafik tahu mereka melecehkannya. Membandingkan infak Abu ‘Uqail dengan Abdurrahman bin Auf. Tapi kemudian Allah SWT. membela Abu ‘Uqail dengan firmanNya:
.
(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih (TQS. at-Taubah: 79).
.
Abu ‘Uqail dan Pak Adi mematahkan anggapan kalau infak dakwah itu khusus bagi orang kaya semata. Ada sebagian orang bilang; kita wajib kaya agar bisa bersedekah dan berdakwah! Dakwah tak bisa dibangun pakai daun, harus pakai uang! Dan itu berarti harus kaya!
.
Ah, saya bersyukur ada orang seperti Pak Adi yang bisa mematahkan argumen absurd macam itu. Dan Allah pun memuji amal orang-orang seperti Abu ‘Uqail – dan insya Allah Pak Adi.
 .
Sahabat, bila kita ingin mencari berbagai alasan untuk meninggalkan dakwah, sesungguhnya akan selalu tersedia. Tapi ada orang yang justru mencari jalan lain agar tetap bisa berdakwah, karena bagi mereka dakwah adalah seperti darah yang harus mengalir, dan udara yang harus dihirup.
.
Orang-orang yang terus mencari jalan agar bisa menapakkan kaki di jalan dakwah kelak akan berjumpa dengan keajaiban-keajaiban. Anak-anak muda yang berbaris di barisan dakwah dan setia berada di sana, kaum dluafa yang tegar berdiri tanpa meminta belas kasihan atau mengeluh, mereka semua akan diberikan keajaiban oleh Allah SWT.
.
Karenanya, alasan apapun tak bisa diterima untuk meninggalkan dakwah. Bila kita sakit, maka ada orang sakitnya lebih berat tapi tetap berdakwah. Bila kita fakir, maka ada orang lebih miskin yang sanggup berdakwah bahkan berinfak. Bila kita disibukkan dengan keluarga, maka ada orang yang harus merawat keluarganya tapi tetap berdakwah. Lalu adakah tersisa alasan untuk kita?
#Muhasabah

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget