Mercusuarumat.com | Cahaya Peradaban Islam

Terbaru



Mercusuarumat.com. Bagi warga Bandung raya, Anda pasti sudah terbiasa dengan pemadaman listrik berkala. Tiap wilayah punya jadwalnya masing-masing. Tunggu giliran diputuskan aliran listriknya.

Saya berusaha menemukan makna. Hikmah dibalik pemadaman berkala. Pelajarannya, listrik boleh mati tapi internet tak bisa mati. Lihatlah yang terjadi, TV, kulkas, radio, mesin cuci dan alat elektronik lainnya tak lagi berfungsi. Betulkan apa yang saya katakan? Mari dalami lagi, internet adalah software (perangkat lunak) dan alat elektronik adalah hardware (perangkat keras), iakan?

Software tak terindera sedangkan hardware terindera. Software punya kekuatan luar biasa, tak terhenti walaupun listrik mati. Sedangkan hardware, bisa mati bahkan hancur jika tak ada listrik yang mengaliri.

Analogi ini layak disematkan pada manusia. Tangan, kaki, mata, mulut, telinga, dan indera lainnya bak hardware yang teraba. Sedangkan akal layaknya software yang luar biasa.

Maka hati-hati dengan akal manusia. Akallah modal utama perubahan umat manusia. Jika akalnya rusak, kehidupan pun sama halnya, pun sebaliknya.

Jika akalnya telah terisi pemikiran sesat, tangannya, matanya, kakinya, mulutnya ikut mempraktikan kesesatannya. Sebaliknya, jika akal terisi dengan sesuatu yang mulia. Anggota tubuh nya tak akan mungkin melakukan hal yang hina.

Akal manusia adalah software yang paling hebat sealam dunia, harus terisi dengan sesuatu yang hebat pula, yaitu Islam yang dibawa oleh Rasulullah utusan Allah Swt.

Akal adalah kekuatan yang tak ada tara. Jika terisi selain dengan Islam pastilah pemikiran sesat yang kan merasukinya.

Hati-hati dengan akal pemikiran Anda, Barat sang penjajah tak ingin akal Anda terisi dengan ajaran Allah Swt. Barat mau, Anda isi dengan pemikiran sesuka mereka. Pemikiran liberal, sekuler yang dikampanyekannya.

Demokrasi, faham paling jahat yang dipaksakan oleh mereka. Akhirnya apa? Akal pemikiran umat manusia hancur lebur dibuatnya. Manusia rusak akal sehatnya. Halal-haram tak diubris oleh umat manusia, baik-buruk tak ada gunanya.

Umat muslim dibuat pecah ulah para penjajah. Politik adu domba jadi andalannya. Umat muslim sendiri akhirnya yang terkena jebakan penjajah.

Jangan mau, akal umat muslim diatur oleh Barat Amerika! Isi akal umat muslim dengan islam saja! [IW]



Mercusuarumat.com. Penistaan terhadap agama sering terjadi di Indonesia. Tak sedikit dengan mata telanjang, fenomena ini bisa diindera. Penistaan terhadap simbol agama, tokoh agama, eksistensi Tuhan hingga nabi yang mulia.

Tak lupa dalam benak umat muslim Indonesia. Tersangka penistaan ayat suci alquran, Ahok masih dibui sampai saat ini. Kemunculan nabi baru, Tuhan baru, kartun penghina nabi, video pelawak menghujat larangan Tuhan, hingga terakhir pembakaran panji tauhiid.

Sampai kapan semua ini kan terjadi? Sudah bosan umat muslim meladeninya. Tak ada sesal penghina berbusa. Seringkali diingatkan terus berulah.

Sabar kawan, bisa jadi mereka lupa. Akalnya tak berfungsi sempurna karena telah teracuni pemikiran barat.

Para penghujat agama hanyalah korban penjajahan pemikiran yang dilakukan barat. Barat tak lagi jajah secara fisik. Karena jika ini terjadi perlawanan umat muslim tak akan henti.

Cerdasnya Barat ia jajah umat muslim secara pemikiran. Sekelompok umat muslim diracuni akalnya. Pemahaman barat dengan mudah disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Demokrasi, kapitalisme salah satu ajarannya.

Sayangnya negeri islam malah menerapkannya. Padahal semua ini adalah jebakan sang penjajah. Penjajah tertawa terbahak-bahak, kekuasaannya makin mengggurita. Politik adu domba metode yang dijalankannya.

Umat muslim Indonesia dikotak-kotakkan oleh mereka. Padahal islam adalah satu, tak ada islam moderat, islam tradisional, islam fundamental seperti yang mereka kampanyekan.
Setelah dikotak-kotak, umat muslim diadu domba tak kenal iba. Lihatlah ulah mereka mengadu domba muslim trasional dengan muslim fundamental.

Ruginya umat muslim belum faham skenario jahat mereka. Sebagian umat muslim berjalan sesuai kehendak mereka.

Camkan dalam-dalam, musuh utama umat muslim bukan sesama umat muslim lainnya. Tapi penjajah barat dengan perang pemikirannya.

Tentu melawan perang pemikiran tidak boleh dengan kekerasan. Jika ini terjadi, barat makin menggila. Perang pemikiran harus dilawan dengan pemikiran pula.

Jangan vonis sesama umat muslim, walaupun saat ini mereka hina agamanya sendiri. Bisa jadi hari ini mereka bakar panji tauhiid, suatu hari nanti mereka kan berdiri menggenggam panji mulia ini. Hari ini sebagian umat muslim saling hujat sesama umat. Bukan mustahil esok hari mereka teriak takbir agungkan asma-Nya.

Kawan, musuh kita bukanlah mereka. Musuh kita adalah penjajah barat terhina, wabilkhusus Amerika dan sekutunya. Lewat perang pemikiran yang dijalankannya, Indonesia dijajah dengan pongahnya.

Pertanyaannya mendasar, setelah bakar panji tauhiid, selanjutnya apa?

Tentu, tugas kita akhiri ini semua. Melawan pemikiran barat dengan pemikiran Islam. Menginstalkan lagi islam dalan diri masing-masing umat manusia. Tak ada kata bagi mereka, selain lawan dengan pemikiran Islam yang sempurna!
Akhiri kezaliman sekarang juga! [IW]



Mercusuarumat.com. Rasulullah saw. adalah teladan yang baik (uswat[un] hasanah) bagi umat Islam (QS al-Ahzab [33]: 21). Apa saja yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. wajib diikuti oleh umat Islam. Sebaliknya, umat Islam haram menyelisihi beliau. Bendera (al-‘alam) termasuk perkara yang dicontohkan oleh Rasulullah saw., juga Khulafaur-Rasyidin sesudah beliau.Bendera Rasulullah saw. ada dua macam yaitu Al-Liwa‘ (bendera putih) dan ar-Rayah (bendera hitam) bertuliskan: Lâa ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Menurut sebagian ulama seperti Imam Ibnul Atsir dalam kitabnya An-Nihâyah fî Gharîb al-Hadîts, juga Imam Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, Al-Liwa‘ dan ar-Rayah adalah sinonim (sama). Namun, pendapat yang râjih (lebih kuat), sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnul ‘Arabi, al-Liwa‘ berbeda dengan ar-Rayah. Dalilnya adalah hadis dari Ibnu ‘Abbas ra. yang mengatakan, “Rayah Rasulullah berwarna hitam, sedangkan Liwa‘-nya berwarna putih.” (HR at-Tirmidzi dan Ahmad).Imam Ibnul ‘Arabi berkata, “Al-Liwa` berbeda dengan ar-Rayah. Al-Liwa` diikatkan di ujung tombak dan melingkarinya. Ar-Rayahdiikatkan pada tombak dan dibiarkan hingga dikibarkan oleh angin.” (Abdul Hayyi al-Kattani, Nizhâm al-Hukûmah an-Nabawiyyah [At-Tarâtib al-Idâriyyah], I/263).Makna Bendera/Panji Rasulullah saw.

Bendera Rasulullah saw., baik al-Liwa‘ (bendera putih) maupun ar-Rayah (bendera hitam) bukanlah sembarang bendera yang berhenti sebagai simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Di antara makna-makna di balik bendera Rasulullah saw. tersebut adalah: Pertama, sebagai lambang ‘Aqidah Islam. Pada al-Liwa‘ dan ar-Rayah tertulis kalimat syahadat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran; kalimat yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Thabrani dari Buraidah ra. diterangkan, “Rayah Nabi saw. berwarna hitam dan Liwa‘-nya berwarna putih.”

Ibnu Abbas ra. menambahkan, “Tertulis pada Liwa` Nabi saw. kalimat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh (Abdul Hayyi Al-Kattani, ibid., I/266).

Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, bendera tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. kelak pada Hari Kiamat. Bendera ini disebut oleh Rasulullah saw. sebagai Liwa‘ al-Hamdi (Bendera Pujian kepada Allah). Rasulullah saw. bersabda, “Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan aku tidak sombong. Di tanganku ada Liwa‘ al-Hamdi dan aku tidak sombong.” (HR at-Tirmidzi).

Kedua, sebagai pemersatu umat Islam. Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keanekaragaman bahasa, warna kulit, kebangsaan ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia tertentu yang ada di balik suatu bendera, yaitu jika suatu kaum berhimpun di bawah satu bendera, artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut (ijtimâ’i kalimatihim) dan juga tanda persatuan hati mereka (ittihâdi qulûbihim). Dengan demikian kaum itu akan menjadi bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al-wâhid) dan akan terikat satu sama lain dalam satu ikatan yang bahkan jauh lebih kuat daripada ikatan antar saudara yang masih satu kerabat (dzawil arhâm) (Abdul Hayyi al-Kattani, ibid., I/266).

Ketiga, sebagai simbol kepemimpinan. Faktanya, al-Liwa‘ dan ar-Rayah itu selalu dibawa oleh komandan perang pada zaman Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Misalnya pada saat Perang Khaibar, Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh aku akan memberikan ar-Rayah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepada dirinya.”

Umar bin al-Khaththab berkata, “Tidaklah aku menyukai kepemimpinan kecuali hari itu.” (HR Muslim).

Keempat, sebagai pembangkit keberanian dan pengorbanan dalam perang. Makna ini khususnya akan dirasakan dalam jiwa pasukan dalam kondisi perang. Pasalnya, dalam perang, pasukan akan terbangkitkan keberaniannya dan pengorbanannya selama mereka melihat benderanya masih berkibar-kibar. Pasukan akan berusaha mati-matian agar bendera tetap berkibar dan menjaga jangan sampai bendera itu jatuh ke tanah sebagai simbol kekalahan (Abdul Hayyi al-Kattani, ibid., I/267).

Bendera sebagai pembangkit semangat dan keberanian itu tampak jelas dalam Perang Mu’tah. Saat itu komandan perang yang memegang bendera berusaha untuk tetap memegang dan mengibarkan bendera walaupun nyawa taruhannya. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa yang memegang ar-Rayahdalam Perang Mu’tah awalnya adalah Zaid bin Haritsah, tetapi ia kemudian gugur. Ar-Rayah lalu dipegang oleh Ja’far, tetapi ia pun gugur. Ar-Rayah lalu berpindah tangan dan dipegang oleh Abdullah bin Rawwahah, tetapi ia akhirnya gugur juga di jalan Allah SWT (HR al-Bukhari, Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, IV/281).

Kelima, sebagai sarana untuk menggentarkan musuh dalam perang. Bagi diri sendiri bendera berfungsi untuk membangkitkan semangat dan keberanian. Sebaliknya, bagi musuh bendera itu menjadi sarana untuk memasukkan rasa gentar dan putus asa kepada mereka. Imam Ibnu Khaldun dalam kaitan ini menyatakan, “Banyaknya bendera-bendera itu, dengan berbagai warna dan ukurannya, maksudnya satu, yaitu untuk menggentarkan musuh…” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, II/805-806).

Fungsi Bendera/Panji Rasulullah saw. Saat Perang dan Damai

Al-Liwa‘ dan ar-Rayah mempunyai fungsinya masing-masing, baik dalam kondisi perang maupun dalam kondisi damai. Berdasarkan kajian terhadap berbagai peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat, dapat disimpulkan hukum-hukum syariah mengenai fungsi al-Liwa‘ dan ar-Rayahsebagai berikut:

Pertama, dalam kondisi perang. Al-Liwa’ selalu menyertai panglima angkatan bersenjata (amîr al-jaisy) di mana pun dia berada. Pada dasarnya al-Liwa’ tidak dikibarkan, tetapi dibawa dalam keadaan terikat dengan tombak. Al-Liwa’ dapat dikibarkan jika setelah ada kajian strategis mengenai keamanannya.

Adapun ar-Rayah dibawa oleh komandan pertempuran (qâ’id al-ma’rakah) di medan perang. Jika Khalifah turut terjun di medan perang, Khalifah juga boleh membawa al-Liwa’.

Kedua, dalam kondisi damai. Al-Liwa’ menyertai para komandan pasukan (qâ’id al-jaisy) dalam keadaan terikat dengan tombak (tidak dikibarkan). Namun, al-Liwa’ boleh dikibarkan di markas-markas para komandan pasukan itu berada.

Sementara itu, ar-Rayah dikibarkan oleh masing-masing satuan pasukan, seperti batalion, kompi, dst. Setiap satuan itu dari segi administrasi boleh mempunyai rayah khusus yang dikibarkan di samping rayahyang standar.

Hukum-hukum syariah di atas adalah ketentuan penggunaan al-Liwa’ dan ar-Rayah untuk pasukan perang. Adapun untuk lembaga-lembaga negara Khilafah, seperti Baitul Mal (Kas Negara), Majelis Umat, termasuk instansi-instansi militer, maka yang dikibarkan hanyalah ar-Rayah saja. Kecuali di Darul Khilafah(Kantor Kekhalifahan), yang dikibarkan adalah al-Liwa’ mengingat Khalifah berkedudukan sebagai komandan pasukan (qâ’id al-jaisy). Dari segi administrasi, boleh pula di Darul Khilafah itu dikibarkan ar-Rayah di samping al-Liwa‘ mengingat Darul Khilafah adalah instansi tertinggi dari lembaga-lembaga negara yang ada.

Adapun lembaga-lembaga swasta, termasuk masyarakat umum, boleh membawa dan mengibarkan ar-Rayah di kantor-kantor atau rumah-rumah mereka, khususnya pada momentum Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, atau pada saat pasukan Khilafah memperoleh kemenangan, dan pada momentum-momentum lainnya (Ajhizah Dawlah al-Khilâfah [fi al-Hukm wa al-Idârah], hlm. 172).

Bendera/Panji Rasulullah saw. dalam Sejarah Islam

Pada masa Khulafaur Rasyidin, al-Liwa‘ dan ar-Rayah mengikuti yang ada pada masa Rasulullah saw., yaitu al-Liwa‘ (bendera putih) dan ar-Rayah (bendera hitam) bertuliskan: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Pada masa Khalifah Abu Bakar, misalnya, sebanyak 11 (sebelas) al-Liwa‘ dibawa pasukan Islam dalam perang untuk memerangi orang-orang murtad di berbagai pelosok Jazirah Arab (Ibnul Atsir, Al-Kâmil fî at-Târîkh, II/358).

Pada masa Khilafah Bani Umayyah, ar-Rayah mereka warnanya hijau. Sebagaimana disebutkan Imam al-Qalqasyandi, “Syiar mereka adalah warna hijau.” (Ma’âtsir al-Inâfah fî Ma’âlim al-Khilâfah, II/805). Namun, sebagian sejarahwan seperti George Zaidan dalam bukunya, Târîkh at-Tamaddun al-Islâmi (I/88) menyebutkan warna ar-Rayah atau al-Liwa` masa Khilafah Umayah adalah hijau atau putih (Shalih bin Qurbah, Ar-Rayât wa al-A’lam fî at-Târîkh al-‘Askari al-Islâmi, hlm. 3).

Pada masa Khilafah Bani ‘Abbasiyah, al-Liwa’ dan ar-Rayah mereka berwarna hitam. Dengan demikian berakhirlah penggunaan warna hijau pada masa Khilafah Bani Umayah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qalqasyandi (Ma’âtsir al-Inâfah fî Ma’âlim al-Khilâfah, II/805).

Pada masa Khilafah Utsmaniyah, pada al-Liwa‘ atau ar-Rayah mereka terdapat gambar hilal (bulan sabit), meneruskan tradisi yang dirintis oleh rezim Fathimiyyin di Mesir. Sebagian orientalis mengklaim bahwa rezim Fathimiyyin mengambil gambar hilal tersebut dari tradisi Kerajaan Bizantium yang menggunakan gambar bulan sebagai simbol mereka (Amin al-Khauli, Al-Jundiyah wa as-Silm, hlm. 149).

Namun, ahli sejarah yang lain menolak klaim tersebut. Mereka mengatakan bahwa simbol hilal tersebut diambil karena berhubungan dengan sebagian ibadah umat Islam, yaitu shaum Ramadhan dan Idul Fitri, juga karena ada hubungannya dengan salah satu mukjizat Rasulullah saw., yaitu terbelahnya bulan. (Shalih bin Qurbah, Ar-Rayât wa al-A’lam fî at-Târîkh al-‘Askari al-Islâmi, hlm. 3).

Dalam perkembangan sejarah selanjutnya, al-Liwa’ dan ar-Rayah pada masa Khilafah Utsmaniyah itu akhirnya berpengaruh ke negeri-negeri Islam yang berada di bawah pengaruhnya, termasuk Nusantara. Maka dari itu, tidaklah aneh jika di tengah-tengah masyarakat Nusantara berkembang bendera yang melambangkan syiar Islam tersebut, yaitu bendera bertuliskan Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâhyang sering disertai simbol hilal (bulan sabit). Sebagai contoh, bendera pasukan Aceh saat berperang melawan Belanda, bentuknya mengikuti pola al-Liwa‘ atau ar-Rayah, yaitu bertuliskan: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Demikian pula bendera Kesultanan Cirebon yang tampaknya merupakan kombinasi al-Liwa‘ atau ar-Rayah. Bendera ormas Muhammadiyah menggunakan kalimat syahadat Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh (Deni Junaedi, Bendera Khilafah Representasi Budaya Visual dalam Budaya Global, hlm. 3).

Penutup

Setelah keruntuhan Khilafah di Turki tahun 1924, negeri-negeri Islam terpeca-belah atas dasar konsep nation-state (negara-bangsa) mengikuti gaya hidup Barat. Implikasinya, masing-masing negara-bangsa mempunyai bendera nasional dengan berbagai macam corak dan warna. Sejak saat itulah, al-Liwa‘ dan ar-Rayah seakan-akan tenggelam dan menjadi sesuatu yang asing di tengah masyarakat muslim.

Kondisi inilah yang mengakibatkan munculnya pandangan curiga dan sinis dari penguasa sekular terhadap bendera Islam yang bertuliskan Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Bendera yang dicontohkan sendiri oleh Rasulullah saw. ini pun kemudian sering dicap atau dihubungkan dengan terorisme atau radikalisme.

Pandangan curiga tersebut sesungguhnya lahir dari kebodohan yang nyata terhadap ajaran Islam selain karena adanya sikap taklid buta terhadap konsep nation-state (negara-bangsa) yang membelenggu dan memecah-belah umat Islam di seluruh dunia.



Oleh: Arief B. Iskandar

Mercusuarumat.com. Kalimat tauhid adalah kalimat: La ilaha illalLah-Muhammad RasululLah. Tidak ada tuhan selain Allah-Muhammad utusan Allah.
.
Kalimat inilah yang menjadi inti seruan Baginda Rasulullah saw. sejak awal hingga akhir perjuangan dakwahnya.
Kalimat tauhid merupakan pondasi keimanan setiap Muslim, sekaligus menjadi pintu bagi siapapun yang ingin masuk Islam. Kalimat tauhidlah yang membedakan Muslim dengan kafir.
.
Karena itu kalimat tauhid sejatinya senantiasa terpatri di dalam dada setiap Muslim. Terukir dalam zikir lisan, kalbu dan gerak tubuhnya. Termanifestasi dalam seluruh tindak-tanduknya.
Kalimat tauhid bahkan biasa tertulis dalam banyak media: kertas, buku, lukisan dinding, spanduk, baliho, topi, dll. Bahkan digunakan dalam bendera negara (seperti Saudi), bendera sebagian ormas Islam, dll.
.
Hari ini kalimat itu pun banyak menghiasi ragam media sosial. Bahkan menjadi foto/gambar profil di banyak akun medsos.
.
Karena itu tentu aneh jika tiba-tiba, hari ini, ada pihak-pihak yang begitu alergi terhadap kalimat tauhid. Di banyak tempat, lalu pembawa kalimat ini mereka persekusi. Tentu wajar jika yang mempersekusi adalah pihak yang anti tauhid. Yang tidak wajar, pelaku persekusi itu adalah Muslim yang mengaku bertauhid. Aneh. Mengklaim Muslim tapi anti kalimat tauhid. Menggelikan. Mengaku Aswaja tapi gerah dengan kalimat La ilaha illalLah. Mereka pasti bukan Aswaja. Jika pun iya, pasti Aswaja hoax. Aswaja sejati pasti pendukung dan pembela utama kalimat tauhid.
.
Tentu. Para pelaku persekusi itu menolak keras jika dituduh anti kalimat tauhid. Sebagaimana yang mereka lontarkan, mereka tidak anti kalimat tauhid. Yang mereka tolak, kalimat tauhid itu dijadikan “kedok” atau “topeng” oleh pihak-pihak yang makar terhadap negara. Mereka adalah kelompok yang ingin menegakkan Khilafah. Siapa lagi yang mereka tuding jika bukan HTI.
.
Tentu aneh. Bukankah mereka sendiri yang menyatakan bahwa HTI telah mati sejak status BHP (Badan Hukum perkumpulan)-nya dicabut oleh Pemerintah. Lalu mengapa mereka menuding semua yang terjadi belakangan—termasuk maraknya penggunaan simbol tauhid, yakni Al-Liwa dan ar-Rayah—ditunggangi oleh HTI?
.
Baiklah jika itu dalih mereka. Intinya, bukan kalimat tauhid yang mereka tolak. Bukan HTI yang mereka tolak. Yang mereka tolak adalah Khilafah. Adapun HTI konon akan mereka terima jika “bertobat” dari Khilafah.
.
Ya, karena dalam pikiran kotor mereka, Khilafah identik dengan keburukan. Kejahatan. Ancaman yang membahayakan.
Jelas, mereka sedang mendiskreditkan Khilafah.
.
Mereka menolak keras Khilafah. Itu sama saja artinya dengan menolak salah salah satu ajaran Islam. Ya, karena Khilafah adalah ajaran Islam. Sama dengan ajaran Islam yang lain seperti shalat, zakat, shaum atau haji. Sama-sama wajib. Bedanya, menegakkan Khilafah adalah fardhu kifayah atas kaum Muslim.
.
Khilafah bukan ajaran HTI. HTI hanya mempopulerkan kembali salah satu ajaran Islam yang telah lama dilupakan. HTI hanya ingin mengajarkan kembali Khilafah kepada umat. Agar umat kembali sadar bahwa Khilafah adalah bagian dari hukum syariah yang amat penting.
.
Saking pentingnya, sebagian ulama menyebut Khilafah sebagai taj al-furudh (mahkota kewajiban). Pasalnya, banyak kewajiban yang pelaksanaannya bergantung pada keberadaan institusi Khilafah. Sistem ekonomi syariah, sistem politik/pemerintahan Islam, sistem hukum/peradilan Islam, hudud (seperti: hukum rajam atas pezina, hukum mati atas orang murtad, dsb), jihad, dll terbukti tidak bisa ditegakkan dalam sistem selain Khilafah.
.
Lebih dari itu, HTI tak pernah memaksa orang untuk menerima ajaran Khilafah. HTI, sebagaimana organisasi dakwah yang lain, hanya berdakwah. Tentu dengan hikmah, mawizhah hasanah dan jidal (diskusi) yang baik. Bedanya, yang didakwahkan HTI adalah perkara yang jarang atau bahkan tak banyak diserukan oleh kebanyakan organisasi dakwah Islam lain. Itulah Khilafah sebagai salah satu ajaran Islam yang amat penting, tetapi telah begitu lama tak disuarakan.
.
Intinya, HTI mendakwahkan sistem politik dan pemerintahan Islam. Jika faktanya sistem ekonomi syariah diterima bahkan diterapkan di negeri ini (meski bersifat parsial), mengapa sistem politik Islam ditolak? Bahkan pihak-pihak yang mendakwahkan dan memperjuangkan sistem politik Islam (Khilafah) dituding sebagai pelaku makar terhadap negara?
.
Tuduhan bahwa kalimat tauhid—yang dipresentasikan antara lain dalam bentuk Al-Liwa dan ar-Rayah—hanya dijadikan kedok atau topeng oleh para pejuang Khilafah hanya layak dilontarkan jika Khilafah adalah identik dengan kejahatan.

Logikanya sederhana. Sesuatu yang baik hanya bisa disebut kedok atau topeng jika digunakan untuk menutupi sesuatu yang buruk.
.
Mengenakan kopiah atau kerudung, misalnya, adalah baik. Namun, jika itu digunakan oleh para koruptor hanya saat ia duduk menjadi pesakitan di kursi terdakwa, itulah kedok/topeng. Hanya untuk pencitraan. Agar tampak shalih. Untuk menutup tindak jahatnya, yakni korupsi.
.
Merangkul ulama itu baik. Mengunjungi pesantren itu bagus. Namun, jika itu dilakukan hanya saat kampanye Pemilu/Pilpres—sementara di luar itu malah sering mengkriminalisasi ulama dan acap mengaitkan pesantren dengan radikalisme—itulah kedok/topeng. Hanya untuk pencitraan. Agar tampak islami. Untuk menutupi tindak jahatnya, yakni anti Islam.
.
Begitu pun dengan kalimat tauhid. Jika kalimat itu dikenakan oleh para pelaku kejahatan—seperti koruptor, pelacur, pembunuh, pemabuk, dll—maka bisa dipastikan itu hanyalah kedok/topeng. Hanya pencitraan. Untuk menutupi segala tindak jahatnya itu.
.
Pertanyaannya: Apakah Khilafah kejahatan? Apakah mendakwahkan Khilafah bisa disejajarkan dengan tindak kriminal seperti korupsi, pelacuran, pembunuhan, mabuk, bahkan makar terhadap negara? Lalu saat para pejuang Khilafah ini kemana-mana mengenakan atribut tauhid—termasuk Al-Liwa dan ar-Rayah—layak dituding bahwa itu hanyalah kedok/topeng untuk menutupi niat jahatnya: makar terhadap negara?
.
Jika demikian, bagaimana dengan klaim Aswaja tapi suka dangdutan, gemar menjaga kebaktian gereja, sering membubarkan pengajian, mesra dengan kaum kafir penista Islam, keras terhadap sesama Muslim, kerjaannya memukul—bukan merangkul—saudara seiman? Bukankah Aswaja di sini lebih pantas dituding hanya sebagai kedok/topeng untuk menutupi ragam tindakan buruk tersebut?
.
Pasalnya, mana ada Aswaja mengajarkan dangdutan, mempersekusi pengajian, menjaga kebaktian gereja, memusuhi sesama Muslim, mesra dengan penista agama, sering memukul—bukan merangkul—saudara seiman?!
.
Lagi pula mana ada ulama Aswaja menolak Khilafah. Yang ada, mereka justru telah berijmak atas kewajiban menegakkan Khilafah ini.
.
Alhasil, jika mau jujur, merekalah sejatinya yang telah menjadikan Aswaja sebagai kedok/topeng untuk menutupi tindakan jahat mereka: “makar” terhadap salah satu ajaran Aswaja, yakni Khilafah.
Wa ma tawfiqi illa bilLah. []
.



Oleh: Ustadz Budi Ashari, Lc

Mercusuarumat.com. Muhammad bin Abi Amir (326 H – 392 H) atau yang dikenal saat memimpin dengan sebutan Al Hajib Al Manshur. Pemimpin Andalus terbesar dan terhebat. Hanya Abdurahman An Nashir yang disebut oleh para ahli sejarah yang mampu menyaingi kehebatan kepemimpinanannya di Andalus.

Wajar, kalau ia seperti itu. Walau tadinya hanya bekerja sebagai seorang Hammar (yang menyewakan Keledai untuk mengangkut barang di pasar) dan tinggal di rumah kos bersama teman-teman seprofesinya di pojok Kota Cordova, ibukota Andalus. Tetapi yang membedakan dirinya dan teman-temannya adalah setelah penat bekerja seharian hanya sebagai Hammar, ia pergi ke masjid raya Cordova untuk duduk bersama para ahli ilmu. Begitulah ia jalani hari-harinya hingga ia menjadi ahli ilmu. Dan ilmu serta iman lah yang mengangkat seseorang di dunia dan di akhirat.

Singkat cerita, ia meniti karir sebagai polisi hingga menjadi kepala polisi Andalus, kemudian menjadi pengawal pemimpin Andalus yang masih kecil sampai akhirnya resmi menjadi pemimpin tertinggi Andalus. Subhanallah....agar kita tahu, kebesaran bukan milik orang-orang berharta.

Saat ia memimpin. Ilmu, iman dan jihad adalah merupakan wajah aslinya. Dia sangat sering memimpin sendiri jihad melawan musuh Allah. Hingga ia begitu dekat dan merakyat. Maka tak heran jika kepemimpinannya adalah kebesaran.

Di tangan pemimpin seperti inilah, musuh Islam sangat segan dan takut kepada kekuatan muslimin. Muslimin masuk ke benak mereka sebagai sebuah kekuatan yang tak mungkin ditandingi seakan datang dari negeri dongeng.

Suatu saat pasukan muslimin memasuki wilayah masyarakat kafir. Kebiasaan pasukan muslimin saat memasuki wilayah perang, mereka menancapkan bendera di tempat tinggi. Dan bendera itu akan dicabut saat mereka meninggalkan wilayah tersebut. Maka pasukan pun menancapkan bendera-bendera di bukit-bukit dan di tempat yang tinggi.

Muslimin mencoba memasuki wilayah itu tanpa ada perlawanan apapun.Dan ternyata benteng-benteng tersebut telah kosong. Tak ada satupun penghuninya. Para penghuni telah kabur, karena mendengar pasukan muslimin mau datang ke wilayah mereka. Mereka berpencaran ke lembah-lembah di sekitarnya.

Karena tak ada penghuni, pasukan muslimin pun meninggalkan wilayah tersebut. Bendera-bendera dicabuti. Tapi seorang tentara muslim lupa mencabut sebuah bendera yang ditancapkan di bukit.

Para penghuni wilayah tersebut mengawasi terus wilayah mereka itu. Walaupun pasukan muslimin telah meninggalkan wilayah mereka beberapa hari yang lalu, tapi mereka tak kunjung kembali ke rumah-rumah mereka.

Apa pasalnya? Bendera tertinggal itu. Mereka menduga bahwa pasukan muslimin masih ada di benteng-benteng mereka, dengan bukti sebuah bendera yang tertinggal di puncak bukit.

Begitulah keadaan berhari-hari. Hingga mereka yakin bahwa muslimin telah pergi dan ternyata hanya bendera yang tertinggal.

Para ahli sejarah pun menyebut perang ini dengan Perang Ar Royah (Bendera). (Lihat: Al Andalus At Tarikh Al Mushowwar h. 236)

Begitulah izzah. Sekali lagi, izzah bukan karena jumlah yang banyak, juga bukan karena harta yang melimpah. Tetapi karena izzah itu hanya milik Allah semata. Tak ada yang memiliki selain Dia. Dan diberikannya kepada Rasul dan orang beriman.

Sayang banyak yang tak percaya. Sehingga mengejar izzah itu bersama orang-orang kafir dan konsep-konsep mereka.

Sayang, ada yang telah percaya konsep Islam tapi kurang memiliki keberanian untuk menerapkannya. Lagi-lagi, karena urusan dunia atau pasar.

Sayang, ada yang yakin, mencoba tapi setengah hati. Hingga ketika badai menerpa, ia pun kembali ke pantai lama. Jika demikian keadaan kita, bagaimana izzah mau hadir untuk kita? Mana mungkin kita bisa mendapatkan anak-anak penuh izzah yang tidak goyah oleh zaman dan lingkungannya.

Bandingkan dengan kisah di atas. Hanya sebuah bendera. Ya, selembar kain kecil. Bahkan hanya secarik kain kecil yang tak sengaja tertinggal. Tapi begitulah. Izzah bekerja di hati orang-orang kafir.

Tak perlu generasi ini yang hadir untuk mendatangi mereka. Hanya berita tentang generasi kita, hanya karya mereka, hanya perlengkapan yang mereka miliki. Tapi itu cukup untuk mengirimkan wibawa muslimin kepada mereka.

Saat itulah, keluarga-keluarga muslim berlomba melahirkan generasi sebanyak dan sehebat mungkin. Saat itulah, hampir tak ada orangtua yang khawatir peradaban kafir mempengaruhi anak-anak mereka. Saat itulah, yang ada adalah mempengaruhi dan mengarahkan dunia.

Inilah kisah izzah muslimin. Dan masih banyak sekali kisah-kisah semisal ini. Generasi penuh izzah. Bukan generasi imma’ah (ikut-ikutan).
***
Maka ini bukan sekadar bendera. Tapi merupakan bagian dari izzah kaum muslimin.



Mercusuarumat.com. Hari Santri, 22 Oktober 2019, telah dinodai oleh insiden pembakaran bendera. Yang dibakar bukan bendera biasa, meski sekuat tenaga para pembakar, termasuk Ketua Ansor, bahkan PBNU, sebgaimana yang dilansir media, menyatakan itu adalah bendera HTI. Padahal, bendera itu adalah bendera Rasulullah, bendera Tauhid, bendera Islam, bendera kaum Muslim di seluruh dunia. Bukan bendera kelompok, suku dan bangsa tertentu

Karena dengan jelas dinyatakan dalam nas hadits, sebagaimana riwayat dari Ibn 'Abbas berkata, "Rayah [panji] Rasulullah saw. berwarna hitam, dan Liwa' [bendera]-nya berwarna putih." Dalam riwayat lain, "Bertuliskan La ilaha Illa-Llah Muhammad Rasulullah" Hadits di atas selain diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Nasa’i dari Jabir, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Baihaqi, Thabarani, Ibnu Abi Syaibah, dan Abu Ya’la. Hadits ini shahih. Secara jelas dikatakan bahwa warna rayah adalah hitam dan liwa adalah putih

Para ulama sudah membahas hal ini ketika mereka semua menjelaskan hadits-hadits di atas dalam kitab syarah dan takhrijnya. Sebut saja seperti shahib Kanz al-Ummal, Majma’ al-Zawa’id, Fath al-Bari li Ibni Hajar, Tuhfah al-Ahwadzi, Umdah al-Qari, Faidh al-Qadir, dll. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, tentu saja dengan status shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hiban, Baihaqi, Abu Dawud Thayalisi, Abu Ya’la, Nasa’i, Thabarani, dll

Semuanya ini menjadi dalil, bahwa ini adalah bendera Rasulullah. Bukan bendera organisasi tertentu, tetapi bendera Islam dan umat Islam. Karena itu pembakaran ini mendapat reaksi dari seluruh Indonesia, bahkan meluas hingga ke luar negeri. Karena ini bukan bendera biasa, tapi kalimat Tauhid, bendera Rasulullah, bendera Islam dan umatnya

Saat Perang Mu'tah, Sayyidina Ja'far bin Abi Thalib sanggup mempertahankan bendera ini hingga kedua tangannya hilang, dan jantungnya ditembus tombak, hingga syahid. Begitu pun dengan Zaid bin Haritsah, dan 'Abdullah bin Rawwahah, sanggup mengorbankan jiwanya untuk mempertahankan kemuliaan bendera ini. Karena ia lambang perjanjian kita dengan Allah. Ia simbol eksistensi Islam, dan umatnya.

cc. Ustadz Hafidz Abdurrahman

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget