Mercusuarumat.com | Cahaya Peradaban Islam

Terbaru


Mercusuarumat.com. Alloh Swt mengharamkan jalan apapun atas penguasaan umat Islam dan negerinya oleh orang-orang kafir. Alloh Swt pun tidak membolehkan ada suatu bahaya dan sesuatu yang membahayakan Islam dan Umat Islam. Hal ini disampaikan oleh Ustadz. DR. Muhamad Rian, M.Ag, seraya mengutip quran surat an nissa ayat 141 saat membuka acara Multaqo Ulama Ahlussunah wal Jama'ah (Aswaja), di Pondok Pesantren Darussalam, Wanaraja, Garut, Ahad (12/5).

Acara yang dihadiri ribuan ulama Aswaja ini bermaksud menuntut pemerintah membatalkan proyek One Belt One Road (OBOR) sekaligus menyeru penerapkan syariat Islam kaffah dalam naungan khilafah.

OBOR, menurut Rian berbahaya bagi Indonesia, karena diindikasikan sebagai bentuk penjajahan Cina baik secara teritorial mauapun ekonomi Indonesia. Inipun menjadi jalan penyebaran ideologi komunis di Indonesia. "Kita wajib menolak OBOR!", tegasnya.

Senada dengan Rian, DR. KH. Fahmi Lukman, M.Hum, Direktur Institut of Islamic Analysis and Development dan Former Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Cairo dan Filipina, ulama asal Bandung menjelaskan, Penolakan OBOR merupakan pembebasan Kita berani mati karena Allah dan Rasul-Nya demi tegaknya kedaulatan negara Indonesia. "Tidakkah kita belajar pada sejarah pembantaian yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia pada tahun 1951 dengan membiarkan ideologi komunis masuk ke Indonesia", pungkasnya. (IW)


Mercusuarumat.com. Pemerintah telah menandatangani kontrak proyek One Belt One Road (OBOR) pada tanggal 23 April 2019. Sontak, banyak masyarakat menuntut pemerintah membatalkan proyek ini, sebagaimana ribuan ulama ahlussunah wal Jama'ah yang tergabung dalam multaqo ulama ahlussunah wal Jama'ah, Ahad (12/5).

Ulama dari seantero nusantara ini berkumpul sejak dini hari di Pondok Pesantren Darussalam, Wanaraja, Garut. Lebih dari dua puluh ulama berorasi menuntut kontrak proyek OBOR dibatalkan, termasuk KH. Sahro Wardi, Guru KH. Ma’ruf Amin. KH. Sahro ialah guru KH. Ma'ruf Amin sewaktu Ma'ruf berusia 8 tahun. KH. Sahro Dengan tegas menuntut pemerintah membatalkan proyek OBOR dan diujung orasinya memunajatkan do'a agar Allah SWT segera hentikan proyek OBOR.

OBOR yang di dalamnya telah disetujui 23 proyek Cina terhadap Indonesia diindikasikan menyimpan bahaya. Sebagaimana yang disampaikan dalam pernyataan sikap ulama pada Multaqo Ulama Ahlussunah wal Jama'ah di Garut. "Bahaya Pertama, penguasaan, penjajahan, kolonisasi Cina atas Indonesia, baik secara teritorial maupun secara ekonomi. Kedua, penyebaran ideologi Komunisme di Indonesia", ucap Ust Muhammad Abu Nabila, selaku perwakilan ulama saat pembacaan pernyataan sikap. (IW)




Mercusuarumat.com. Islam sebagai agama yang mulia menolak segala jenis penjajahan. Sebagaimana yang disampaikan oleh KH Aa Samsi, ulama ahlussunah wal Jama'ah asal bogor. "Islam sangat anti kepada penjajah dan segala bentuk penjajahan", imbuhnya dihadapan ribuan ulama ahlussunah wal Jama'ah pada acara multaqo ulama ahlussunah wal Jama'ah di Pondok Pesantren Darussalam, Wanaraja, Garut, Ahad, (12/5).

Lebih lanjut ia menjelaskan, kita sebagai umat Islam mencintai negeri ini. Senada dengan KH. A a Samsi, DR. KH. Fahmi Lukman, M.Hum, Direktur Institut of Islamic Analysis and Development dan Former Atase Pendidikan dan Kebudayaan di Cairo dan Filipina, ulama asal Bandung menjelaskan, Umat Islam, umat yang paling mencintai Indonesia. Pahlawan muslim berjuang melawan kolonisasi penjajah Belanda.

KH. Fahmi menuturkan, saat ini sebagaimana diketahui, pemerintah telah menandatangani kontrak proyek One Belt One Road (OBOR) dan wajib ditolak. "Penolakan OBOR merupakan pembebasan Kita berani mati demi Allah dan Rasul-Nya demi tegaknya kedaulatan negara Indonesia", imbuhnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini mengapa kita hendak padamkan OBOR? Karena ini adalah model penjajahan komunisme China lewat pemberian utang. Tidakkah kita belajar pada sejarah pembantaian yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia pada tahun 1951 dengan membiarkan ideologi komunis masuk ke Indonesia?

Diakhir orasi, KH. Fahmi meyakinkan peserta penerapan syariat Islam kaffah adalah solusi satu-satunya dari kolonisasi barat dan timur. Begitupun KH. Aa, diakhir orasinya mengingatkan peserta agar tidak ragu dengan pertolongan Allah. "Keimanan akan tegaknya khilafah adalah harga mati", Pungkasnya. (IW)


Mercusuarumat.com. Multaqo Ulama Ahlussunah Wal Jama'ah yang dihadiri oleh ribuan ulama senusantara sukses digelar di Pondok Pesantren Darussalam, Wanaraja, Garut, Ahad, 12 Mei 2019.

Puluhan Kiayi dan Habaib silih berganti menyampaikan orasi penolakan kontrak proyek One Belt One Road (OBOR) dan seruan penegakan islam kaffah dalam naungan khilafah.

KH. Ahmad Zainudin, Pimpinan Pondok Pesantren Al Husna, Karawang sebagai salah seorang orator menyeru agar para ulama tidak berada di posisi zona nyaman.

Ia mengisahkan, paman Nabi Muhammad SAW, yang sampai akhir hayatnya tidak memeluk Islam. Lebih lanjut ia bercerita, Abu Tholib menyadari perjuangan Rasulollah SAW sangat berat dan ia mengetahui ajaran yang disampakainnya adalah benar. Tapi ia tidak kunjung memeluk Islam, karena tak ingin menyakiti hati Abu Jahal. Namun disisi lain iapun tak rela jika Rasulullah SAW disakiti. Maka sampai ajal menjemputnya, ia berada di zona nyaman, tidak memeluk Islam dan juga tidak menyakiti Rasul.

Banyak oknum ulama, kiayi mengambil zona aman. Mereka sudah mengetahui khilafah ajaran islam,  tapi tidak mau mendakwahkannya. Maka dari itu, Ia mengajak para ulama yang hadir agar tidak berada di zona nyaman dan menyeru ulama mendakwahkan syariah kaffah dalam naungan khilafah. (IW)



Mercusuarumat.com. Ribuan ulama Ahlussunah wal Jama’ah serentak tuntut pemerintah batalkan kontrak proyek One Belt One Road (OBOR). Mereka berkumpul dalam acara Multaqo Ulama Ahlussunah wal Jama’ah di Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Wanaraja, Garut, 12 Mei 2019.

Dalam acara ini, puluhan ulama silih berganti menyampaikan orasi berisi analisis politik berkaitan dengan proyek OBOR. Intinya semua ulama yang hadir dengan tegas menuntut pemerintah membatalkan proyek ini.

Ada dua sebab, proyek ini harus dihentikan, pertama, proyek OBOR adalah bentuk Kolonialisme China terhadap Indonesia, baik secara teritorial maupun ekonomi. Kedua, proyek OBOR jalan penyebaran faham Komunis masuk ke Indonesia. Sebagaimana yang dijelaskan oleh KH. Ali Bayanullah, Pimpinan Mahad Darul Bayan, Sumedang, One Belt One Road artinya Satu Ikatan Satu Jalan. China ingin menjamin rantai pasar produk china diterima oleh negara jajahannya. Bagaimana produk China dapat diterima? Mereka harus menguasai bahan baku, agar harga jual produksi murah. Bagaimana caranya? Agar lancar, dibangunlah infrastruktur, reklamasi dan MRT salah satunya. Bagaimana cara membangunnya? China beri utang yang begitu besar dan mereka pastikan utang tak bisa dibayar oleh negara jajahannya.

Ketika bahan baku telah dikuasai, bermunculan pengusaha-pengusaha gelap kemudian utang tak bisa dibayarkan, maka pengusaha lokal gulung tikar. Sejak itu, Tenaga Kerja Asing masuk, Komunis Atheis masuk ke dalam negeri.

"Maka Indonesia sudah tidak bisa menolak, terjajah dan masuk neraka", imbuhnya. Lebih lanjut ia bertanya, Maka ingin masuk surga? Tolak proyek OBOR!
Satu solusi untuk menghentikan penjajahan china adalah dengan tegaknya khilafah. Menolak China dengan mengandalkan demokrasi? Ibarat menunggu Ular memiliki bulu! Mustahil terjadi. (IW)


Mercusuarumat.com. Belum Subuh berkumandang Masjid Pondok Pesantren  Darussalam, Garut dipenuhi ratusan ulama nusantara. Berdasarkan laporan ketua pelaksana, Ust. Imam Rozana menjelaskan Ahad, 12 Mei 2019 akan dilaksanakan Multaqo Ulama Ahlussunah Wal Jama'ah yang dihadiri ribuan ulama seantero Indonesia.

Lebih lanjut ia jelaskan, acara yang akan dimulai pukul 08:00-11:30 WIB ini akan dibuka dengan penampilan seni musik islam, hadroh dan dilanjutkan dengan sambutan dari pemilik Ponpes, KH Cecep Abdul Halim, Lc., lalu penyampaian dari 21 ulama dan diakhiri dengan pembacaan pernyataan sikap penghentian proyek One Belt One Road (OBOR).

Adapun kedua puluh ulama yang dijadwalkan akan menyampaikan tausyiah adalah KH. Abdurrahman, KH. Abdul Karim, KH. Misbah Halimi dari Jawa Timur, KH. Aa Samsi, KH. Tatang Muchtar dari Bogor, KH. Sahro Wardi dari Banten, KH. Ainul Yaqin, KH. Ahmad Fa'iz dari Jawa Tengah, Abah Narko Afikri dari Daerah Istimewah Yogyakarta, KH. Bustomi dari Lampung, Habib Kholilulloh, KH. Asrori Marzuki dari Jakarta, KH. Ahmad Baidlowi dari Bekasi, KH. Ahmad Zainudin dari Karawang, KH. Dede Wahyudin dari Depok, KH. Fahmi Lukman dari Bandung, KH. Ali Bayanullah dari Sumedang, KH. Asep Sudrajat dari Bandung, KH. M Wawan dari Cianjur, KH. Hisyam dari Sukabumi, KH. Tamim dari Tengerang.

Ditemui langsung pada dini hari, Ust. sulthon, ulama asal Banjar mengaku bersama ulama lainnya berangkat menggunakan 5 mobil sejak pukul sepuluh malam dan tiba di lokasi pukul lima dini hari. Ia menuturkan, ia rela berkorban meninggalkan anak istri demi menghadiri acara ini. (IW)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget