Mercusuarumat.com | Cahaya Peradaban Islam

Terbaru



Oleh : El-Fata Abdurrahman

Tidak ada satu pun kejahatan yang pernah dilakukan oleh HTI. Tapi, musuh-musuh muslimin senantiasa memfitnah dan memonsterisasi HTI. Para anggota HTI tidak pernah terlibat korupsi, menjual aset negara bahkan tidak pernah melakukan aksi separatis seperti OPM dan GAM.

Dibubarkannya HTI tanpa ada alasan yang jelas. TIDAK ADA putusan pengadilan yang menyatakan bahwa HTI merupakan organisasi terlarang. Dicabutnya BHP HTI merupakan tindakan sewenang-wenang rezim tanpa ada satu aturan perundang-undangan yang dilanggar oleh HTI.

Tuduhan Anti-Pancasila, Anti-NKRI, hanyalah fitnahan yang tidak terbukti. Adapun mendakwahkan Khilafah, seharusnya dilindungi oleh negara karena Khilafah adalah ajaran Islam. Dimana Islam adalah agama yang diakui di negeri ini.

Disaat Indonesia dicekik oleh utang luar negeri yang menggunung, SDA banyak yang dikangkangi asing, perekonomian yang memburuk, korupsi yang semakin menjadi-jadi, degradasi moal yang semakin parah. HTI hadir untuk menawarkan solusi yang paling mendasar, yakni penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan untuk selamatkan negeri.

Jalan perjuangan HTI hanyalah dengan dakwah, HTI hanya menawarkan solusi tanpa memaksa, HTI hanya berkata-kata dan takkan mengangkat senjata. Lalu dimana bukti yang nyata HTI akan merusak keutuhan bangsa?

Yang jelas merusak keutuhan bangsa adalah OPM, yang jelas menyengsarakan rakyat adalah koruptor dan penguasa yang menjadi pelayan asing, yang jelas memecah belah bangsa adalah mereka yang menistakan agama dan menghinakan ajaran islam.

Para perusak negeri ini malah meneriaki HTI sebagai ancaman keutuhan negeri. Padahal, mereka sendiri yang merusak dan memperkeruh suasana damai di negara ini. Justu, HTI ingin menyelamatkan negara ini dan HTI takkan pernah rela sejengkal tanah indonesia lepas dan memisahkan diri.[]




DIDUGA UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI) MELAKUKAN STIGMATISASI DAN DOKTRINASI TERHADAP MAHASISWA TERKAIT ORGANISASI DAKWAH ISLAM, HTI.

Oleh : Chandra Purna Irawan,SH.,MH.
(Ketua eksekutif nasional BHP KSHUMI & Sekjen LBH PELITA UMAT)

Berdasarkan surat No.137/SUD/B2/PAN.SEMINAR/Eks/BPO.SENAT FPIPS/XII/2018 dan poster yang beredar di Media sosial diduga diterbitkan oleh BPO SENAT MAHASISWA FPIPS dan diduga surat No. 12094/UN40.R4/TU/2018 yang ditandatangani a.n wakil rektor bidang riset, kemitraan dan usaha Universitas Indonesia ( UPI ) menyelenggarakan seminar dengan tajuk " Bahaya HTI Terhadap Keutuhan NKRI ", diselenggarakan hari Kamis ( 13 Desember 2018) jam 08.00 di Auditorium FPMIPA UPI.



Kampus adalah lembaga sivitas akademika, tempat mendiskusikan berbagai disiplin ilmu dan sudut pandang. Agar memiliki keseimbangan dan keadilan maka penyelenggara seharusnya menghadirkan pihak HTI sebagai pihak yang dituduh, agar terciptanya keadilan sehingga tidak menimbulkan fitnah dan pencemaran nama baik organisasi dakwah Islam seperti HTI. Sebagaimana diatur didalam pasal 310 KUHP Jo. 311 KUHP tentang pencemaran dan fitnah.

Sebaiknya kampus mengedepankan dialog dan argumentasi intelektual, adil dan berimbang, memberikan wawasan mahasiswa dengan berbagai literasi termasuk dari pihak yang sedang dijadikan atau difitnah. Tidak elok menghadirkan pihak yang sudah dikeluarkan dari HTI, lalu diundang untuk menyampaikan HTI.

Seperti suami istri yang sedang bercerai, lalu salah satu diantaranya diundang untuk menceritakan dan menjelaskan mantan pasangan nya, besar kemungkinan ia akan menjelekkan jelekan mantan pasangan nya.

Jika hal itu dilakukan sama saja sedang membangun narasi jahat, dan seolah-olah memaksa pendengar untuk mempercayai atau dengan kata lain melakukan stigmatisasi dan doktrinisasi. Semestinya hal itu tabu dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi.

Membangun narasi atau melakukan fitnah terhadap HTI berbahaya bagi NKRI, itu perbuatan yang tidak layak disebut sebagai kaum intelektual. Semestinya civitas akademika merujuk pada sumber primer nya yaitu kitab atau buku yang diterbitkan resmi. Sebagai wujud kaum intelektual yang memiliki literasi tinggi, kecuali sebaliknya.

Di dalam riset saja yang menjadi rujukan utama adalah sumber primer, jika tidak ada sumber primer bagaimana mungkin penelitian tersebut dapat dipertanggung jawabkan.

Terkait HTI, HTI adalah organisasi dakwah yang mengajak anak bangsa agar menjadi manusia bertaqwa dan berakhlak.

HTI hanya mendakwahkan ajaran Islam yaitu Khilafah, khilafah adalah ajaran Islam yang ada penjelasan didalam Al Qur'an, As-sunah dan dipraktekkan oleh para sahabat Rasulullah SAW yang dikenal Khilafah Rasyidah. Khilafah adalah pemersatu umat Islam, khilafah selamatkan negeri yaitu menyelamatkan Indonesia agar menjadi negeri yang berkah dan bermartabat atau 'baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur'. Lantas kenapa dituduh berbahaya bagi NKRI?!.

HTI tidak pernah mencuri kekayaan negara, tidak pernah korupsi, tidak pernah melakukan kekerasan, tidak pernah memberontak.HTI tidak pernah melakukan kudeta dan pemberontakan.

HTI murni berdakwah dengan pendekatan pemikiran, tanpa kekerasan dan tanpa fisik. Methode dakwah HTI adalah sebagaimana dicontohkan oleh Nabi SAW. Semua materi dakwah yang disampaikan murni ajaran Islam dan tidak ada satupun yang menyimpang darinya.

Tidak ada satupun jiwa yang meninggal karena menjadi korban dakwah HTI atau fasilitas publik yang rusak akibat dakwah HTI. Berbeda dengan PKI yang terbukti membunuh para pahlawan revolusi dan terbukti melakukan kudeta.

HTI BUKAN ORMAS TERLARANG. Bahwa Putusan PTUN Jakarta hanya menguatkan status pencabutan BHP HTI, tidak ada amar putusan PTUN Jakarta yang menyatakan HTI sebagai organisasi terlarang, termasuk tidak ada amar putusan yang menetapkan ajaran Islam yaitu Khilafah sebagai ajaran atau paham yang dilarang.

Berbeda kasus dengan HTI, contoh faktual organisasi yang dibubarkan, dinyatakan terlarang dan paham yang diemban juga dinyatakan sebagai paham terlarang, yakni kasus pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terbukti telah memberontak kepada negara.

Melalui TAP MPRS NO. XXV/1966, didalamnya tegas menyebutkan tiga hal. Pertama, pernyataan pembubaran PKI. Kedua, pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang. Ketiga, pernyataan pelarangan paham atau ideologi yang diemban PKI yakni marxisme/leninisme, atheisme, komunisme.

Wallahu alam bishawab

Jakarta, 13 Desember 2018.



Mercusuarumat.com. Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia, FPIPS UPI, hari ini akan menyelenggarakan seminar dengan tema "Bahaya HTI Terhadap Keutuhan NKRI". Banyak pihak yang mempertanyakan objektivitas penyelenggara, karena tidak mendatangkan pembicara dari pihak tertuduh, Hizbut Tahrir Indonesia.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Lembaga Bantuan Hukum Pelita Umat (LBH Pelita Umat), Ketua Korwil LBH PELITA UMAT Jawa Barat, Agus Gandara,SH.,MH. Atas nama lembaga, Ia berharap pihak penyelenggara mengedepankan dialog dan argumentasi intelektual, adil dan berimbang. Jika tidak, menurut Ia dikhawatirkan diduga berpotensi akan memunculkan perlawanan dari kaum intelektual yang didukung organisasi massa, sehingga khawatir terjadinya kemarahan masif yang diduga berpotensi terjadinya kekacauan ditengah-tengah masyarakat.

Ia juga dalam press releasenya, Rabu (12/12), Ia menekankan bahwa kampus adalah lembaga sivitas akademika, tempat mendiskusikan berbagai disiplin ilmu dan sudut pandang. "Agar memiliki keseimbangan dan keadilan maka penyelenggara wajib menghadirkan pihak HTI sebagai pihak yang dituduh, agar terciptanya keadilan sehingga tidak menimbulkan fitnah dan pencemaran nama baik organisasi dakwah Islam seperti HTI", terangnya. [IW]



Mercusuarumat.com. Senat Mahasiswa Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia (FPIPS UPI), hari ini, Kamis, 13 Desember 2018 hendak melangsungkan seminar bertajuk "Bahaya HTI Terhadap Keutuhan NKRI". Ada Beberapa catatan kritis yang hendak penulis sampaikan:



Pertama, sebagai lembaga pendidikan tinggi, universitas adalah tempat bertukar pikiran secara ilmiah. Di kampus pemikiran dari berbagai sudut pandang dapat didiskusikan secara bertanggung jawab, adil dan bijaksana. Penyelenggara dinilai lalai dalam menjunjung prinsip ini, justru penyelenggara terindikasi dengan sengaja mengatur arah seminar untuk mendiskreditkan Hizbut Tahrir Indonesia. Hal ini didasarkan dari tokoh pembicara yang didatangkan oleh penyelenggara. Penyelenggara tidak mendatangkan pembicara dari pihak HTI, padahal dengan jelas konten yang diseminarkan adalah Hizbut Tahrir Indonesia. Dikhawatirkan arah seminar menjerumus pada fitnah, caci dan hoaks, yang bertentangan dengan prinsip tanggung jawab, adil dan bijaksana.

Lewat judul seminar yang persuasi dan provokasi, penyelenggara terindikasi menggiring opini mencitra burukan HTI. HTI sebagaimana pengamatan penulis hingga detik ini tidak pernah terindikasi membahayakan Indonesia. Tidak ada berita yang menjelaskan HTI melakukan bom bunuh diri, tidak pernah ada pemberontakan HTI untuk melepaskan diri dari NKRI, juga tidak ada fakta yang menggambarkan HTI punya rencana mengkudeta negeri ini. HTI pun bukan organisasi terlarang yang terang-terang dibubarkan pemerintah. Tidak seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), yang dengan jelas telah dibubarkan pemerintah dan dilarang untuk menyebarkan fahammnya, karena mereka dengan terang-terangan membunuh para pahlawan dan memberontak pemerintah yang sah, Indonesia.

Selanjutnya, sebagai fakultas yang fokus pada bidang sosial, seharusnya konten seminar berkaiatan dengan fakta sosial yang sedang terjadi di Indonesia yang kemudian bisa dikaitkan dengan pembelajaran mahasiswa atau sering dikenal dengan model pembelajaran kontekstual. Penyelenggara dinilai tidak utuh mencerna fakta. Detik ini yang nyata-nyata menbahayakan NKRI adalah Organisasi Papua Merdeka (OPM) bukan HTI!

OPM, dengan segala syarat telah jelas masuk kategori organisasi yang membahayakan NKRI. OPM secara fakta telah membunuh puluhan warga Indonesia, OPM terbukti ingin memisahkan diri dengan Indonesia dan OPM telah jelas mempunyai senjata dan pasukan militer untuk menjalankan visinya. Sedangkan HTI, hanya organisasi dakwah yang menjalankan visinya tanpa kekerasan. HTI berdakwah sesuai ajaran Islam. Salah satu ajaran Islam yang mereka dakwahkan adalah khilafah.

Terakhir, wahai penyelenggara, Apakah khilafah, yang anda maksud membahayakan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia? [IW]



Mercusuarumat.com. Namanya Jaenudin, "Nabi baru" yang heboh di dunia milenia. Setiap sabdanya apik direalisasikan ribuan bahkan jutaan pengikutnya. Entah bagaimana, sudah diingatkan oleh umat lainnya bahwa Jaenudin bukan Nabi tetap saja banyak umat terhipnosis doktrin sesatnya.

Pernah suatu saat ia bersabda akan menindak habis pelaku persekusi, "Negeri ini akan jadi peradaban barbar jika main hakim sendiri" sabdanya. Betul saja, pengikutnya dengan santun mengerjakan titah mulianya.
Ia babat habis mereka yang hendak "main hakim sendiri". Dengan berpakaian ala tentara mereka melahap habis hak berbicara umat lain untuk ingatkan kesesatan sabdanya.

Jaenudin, bukan Nabi namamya jika Ia tak punya mukjizat bak nabi lainnya. Hebat benar mukjizatnya, ia pandai beretorika sampai-sampai media di negerinya tunduk pada titahnya. Pernah suatu saat, jaenudin berkeliling mengontrol para pengikutnya, setiap sisi kehidupannya tak luput dari penilaian positif awak media. Dengan mukjizatnya media bertekuk lutut dihadapannya.

Bukan hanya ini, mukjizat selanjutnya, Ia punya perlindungan ekstra spektakuler luar biasa. Hukum di negerinya tak mempan hadapi Ia dan para pengikutnya. Pernah suatu waktu pengikutnya terlihat asyik menghina umat lainnya. Bahkan hujatan, fitnah dan sebar berita bohong juga sering dilakukan pengikutnya. Tapi penegak hukum negerinya tak berani hukum mereka, karena apa? Karena mereka punya perlindungan ekstra spektakuler luar biasa.

Fenomena Nabi palsu sudah ada saat Nabi Muhammad Saw masih hidup, bodohnya sampai detik ini ada saja pengikut Nabi palsu yang jelas-jelas salahnya. Padahal telah jelas, Nabi Muhammad Saw adalah Nabi terakhir yang diutus Allah Swt. Lewat firman-Nya Allah Swt beberkan cara hidup mulia agar selamat dunia dan akhirat sana.

Jenudin. Anda akan sirna dengan sendirinya. Hakikatnya Rasulullah Muhammad Saw adalah Nabi akhir zaman sesungguhnya.

Wallahu'alam
[IW]



Mekkah, 14 April 2018 / 28 Rajab 1439 H
Oleh: Ustadz Roni Abdul Fattah, Asatidz Daarut Tauhid Bandung

Mercusuarumat.com. Setelah sholat shubuh di Masjidil Haram, saya membaca kiriman WA dari sahabat dan guru, ustadz Muhammad Ihsan Tandjung - hafizhahullah - (beliau adalah da'i senior & pakar kajian akhir zaman) tentang bahayanya berkawan dengan penguasa zhalim.

Saya heran, mengapa hadits Nabi yang mulia ini jarang dibahas bahkan hampir tak terdengar, atau jangan-jangan kitanya yang lalai dan tidak mau tahu?

Rasulullah ﷺ bersabda;

«اسْمَعُوا، هَلْ سَمِعْتُمْ أَنَّهُ سَيَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ؟ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الحَوْضَ،َ»

Dengarkanlah, apakah kalian telah mendengar bahwa sepeninggalku akan ada para pemimpin?. Siapa yang masuk kepada mereka, lalu membenarkan kedustaan mereka dan mendukung kezhaliman mereka, maka dia bukan bagian dari golonganku, dan aku juga bukan bagian dari golongannya. Dia juga tak akan menemuiku di telaga.
(HR. At-Tirmidzi, An-Nasai dan Al-Hakim)

Saudaraku! Tahukah anda apa itu telaga Nabi ﷺ?

Setiap Nabi memiliki telaga, dan mereka berbangga dengan banyak pengikutnya yang akan singgah padanya di akherat nanti.

Telaga Rasul kita Muhammad ﷺ adalah yang paling luas dan paling ramai. Padanya ada gelas yang jumlahnya seperti bintang di langit. Siapa yang meminum air darinya maka tidak akan pernah haus selama-lamanya.

Telaga ini terletak di padang Mahsyar sebelum para hamba melewati titian shirath. Airnya mengalir dari sungai / telaga Kautsar yang ada di surga.

Namun sayang, ternyata ada umat Nabi ﷺ yang akan diharamkan meminum air dan diusir dari telaganya.

Tahukah anda wahai saudaraku, siapakah mereka itu?

Akan ada pemimpin-pemimpin yang pandai berdusta dan menzhalimi rakyatnya. Maka siapa saja yang;

1. Berkawan dengan mereka;

2. Selalu membenarkan keputusan pemerintah zhalim, meskipun dengan modal dusta;

3. Mendukung mereka menzhalimi rakyat;

4. Tidak mau tahu walau faktanya demikian tapi tetap ngotot membenarkan pemimpin yang zhalim.

Maka Rasulullah ﷺ mengancam mereka;

1. Mereka tidak akan diakui sebagai pengikut Rasulullah ﷺ. Meskipun mereka merasa diri sebagai pengikut Sunnah / Salaf.

2. Rasulullah ﷺ tidak sudi dianggap oleh mereka. Wa Lastu Minhu

3. Mereka akan diusir dari telaga Nabi ﷺ.

Wahai para Ulama ...
Wahai para Ustadz ...
Wahai para Muslim ...
Ittaqullah, takutlah kepada Allah!!!
Ta'atilah Rasulullah SAW

Kalian semua merasa di atas Sunah Rasulullah ﷺ, padahal beliau tidak mengakui. Karena kalian selalu membela penguasa yang zhalim dengan dalih ulul Amri, padahal sudah jelas berkali-kali mendzholimi umat Islam malah mendukung penista ayat suci, dan mengkriminalisasi ulama.

Allah SWT berfirman:

ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِىَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظّٰلِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih
(QS. Asy-Syura: Ayat 21)

Bukankah Nabi yang mulia pernah mengingatkan kita dari semenjak empat belas abad setengah yang lalu - kurang lebihnya -;

غير الدجال أخوف على أمتي من الدجال؟

"Selain Dajjal ada yang lebih aku takuti atas umatku?"
Karena khawatir beliau masuk ke dalam rumahnya, maka aku (Abu Dzar Al-Ghiffari, rawi hadits ini) bertanya;

يا رسول الله أي شيء أخوف على أمتك من الدجال؟

"Wahai Rasulullah sesuatu yang lebih engkau takuti menimpa umatmu selain Dajjal itu apa?"

Beliau menjawab;

الأئمة المضلين
Para pemimpin yang menyesatkan.

Allah Ta’ala berfirman,

يُخٰدِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّآ أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ

Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanyalah menipu diri sendiri tanpa mereka sadari.
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 9)

Saudaraku hati-hati dalam memilih pemimpin, karena semuanya akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah kelak di akherat.

Allah Ta’ala berfirman:

Barang siapa diantara kamu berteman baik, menjadi penolong, teman setia, menjadikan mereka orang-orang munafik atau Kafir yang memusuhi agamamu menjadi pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?

Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah?

Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan kepadaNya.

(Lihat QS. An-Nisa : 88-89, 138-139; Ali-'Imran :118; At-Taubah :16; Al-Mujaadilah :14-15, 22; Al-Mumtahanah :1&13)

(Ustadz Roni Abdul Fattah Daarut Tauhid Bandung)

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget