Mercusuarumat.com | Cahaya Peradaban Islam

Terbaru



Kisah taubatnya almarhum Ustadz Hari Moekti dari rocker menjadi dai. Almarhum berpulang pada Ahad, 24 Juni pukul 20.49 WIB.

+++

Hari Moekti: Hidup itu Pilihan!

Sindiran apa yang kudapat, ”Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala, bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar”.

Ramadhan 1995, aku diundang dalam acara dialog interaktif ‘Buka Puasa Bersama Artis’ di SMAK Analisis Kimia Bogor. Saat itu dialog dengan Adi Maretnas dengan moderator Muhammad Syamsul Arifin. Adi ini kok pinter banget, pikirku. Masih muda tapi otaknya seperti kiai saja, karena semua argumenku terbantahkan.

Usai acara Syamsul ngobrol denganku. Dia mengajak aku untuk mengaji kepadanya. Aku bertanya, boleh enggak aku mengaji lagi di tempat lain. ”Boleh, ngaji itu bisa ke mana saja. ”Yang penting kita punya pemahaman,” jawab Syamsul. “Pemahaman apa?” tanyaku.”Kepemimpinan berpikir, pemimpin kita itu bukan perasaan tetapi pikiran kita yang diatur oleh syariah Islam. Jadikanlah Islam sebagai kepemimpinan berpikir” tandasnya.

”Intelek sekali, hebat banget ucapan-ucapan kayak begini,” ujarku dalam hati. Ia berbicara panjang lebar. Akhirnya aku mengerti ternyata sekitar 80 persen ajaran Islam adalah terkait politik. Artinya sebagian besar ajaran Islam itu mengatur seluruh kehidupan manusia, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, peradilan, pemerintahan dan lainnya. Sisanya, ya terkait ibadah mahdlah dan lainnya.

Seperti Lilin

Sejak itu aku dibina seorang ustadz muda secara rutin dengan berbagai dalil. Di antaranya Surat Al-Mulk ayat 2, agar Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang amal perbuatannya paling sempurna. Aku sebagai artis banyak amalnya. Membangun masjid, sunatan massal, sedekah menyekolahkan anak-anak orang miskin tetanggaku dan menyantuni anak yatim. Sindiran apa yang kudapat, ”Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar”. Artinya, pikiranku, hartaku, tenagaku, itu bermanfaat bagi orang lain tetapi akan mencelakakanku di akhirat, karena tidak mendapat ridla Allah.

Benarkah amalku selama ini tidak diridhai Allah? Aku terus mencari jawaban. Ayat Al Mulk itu ternyata menjelaskan bahwa ahsan amalan (perbuatan terbaik) itu harus dilandasi dengan niat ikhlas dan cara yang benar berdasarkan tuntunan Rasulullah. Aku lalu berpikir, apakah waktu menyumbang niatku ikhlas dan memperolehnya dengan benar? Dari situlah aku belajar memahami Surat Al-Fatihah, Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, segala puji bagi Allah Yang mengatur alam semesta. Maknanya, tidak layak dipuji, tidak layak memuji selain Allah. Sebagai artis, aku selalu ingin dipuji, selalu ingin memuja selain Allah. Sedangkan orang yang ihsan itu Mukmin yang beribadah, semata-mata hanya karena Allah.

Orang ikhlas itu selalu menutupi amal shalihnya sebagaimana ia menutupi keburukannya. Seperti orang yang kentut tanpa suara tapi baunya ke mana-mana. Pasti malu bila ketahuan kentut. Agar tidak ketahuan, pura-pura tidak merasa kentut. Jadi kalau orang ikhlas itu amal shalihnya bila tercium orang lain pura-pura tidak tahu. Kalau aku, saat itu, malah senang diberitakan di radio, televisi dan koran. Harusnya seperti orang yang kentut tadi, ia berharap agar baunya cepat-cepat hilang, bersyukur kalau tidak ada orang yang mengetahui kalau ia yang kentut.

Lantas apakah harta yang kuperoleh itu dari jalan yang benar? Pertanyaan itu berkecamuk dalam benakku. Ihdinashirathal mustaqiim, tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu sirathal ladziina an’amta ‘alaihim, jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yakni Nabi-Nabi dan para pengikut setianya. Bukti sebagai pengikut setia itu ya tentu saja yang mengikuti Nabi Muhammad SAW. Karena, tidak beriman seseorang di antara kalian, sehingga hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang kubawa, begitu sabda Nabi SAW. Apa yang Nabi Muhammad SAW bawa? Yaitu Alquran dan Sunnah. Yang kemudian diijtihad oleh para mujtahid dan diperkenalkanlah kepada kita sebagai syariah Islam dengan hukum yang lima itu, wajib, sunah, mubah, makruh dan haram.

Ghairil maghdhubi ‘alaihim, dan bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai. Mengapa kaumYahudi dimurkai padahal mereka adalah orang-orang yang cerdas? Ya karena kecerdasannya dipakai untuk merusak umat Islam. Jadi artis sebenarnya adalah ujung tombak Yahudi untuk menyebarkan paham setan, di antaranya adalah seks bebas dan sinkretisme agama. ”Jadi aku harus meninggalkan dunia artis ini?” tanyaku. ”Oh terserah Kang Hari, ente kan sudah paham tentang qadla dan qadar bahwa hidup itu pilihan,” ujar Syamsul.

Terus aku berdoa kepada Allah, ”Ya Allah berikan aku kekuatan untuk mampu meninggalkan apa saja yang Engkau tidak sukai dan gantikanlah aktivitas kehidupanku ke aktivitas yang Engkau ridhai”. Doa itu kupanjatkan di Padang Arafah ketika ibadah Haji awal tahun 1996. Pulang naik haji, aku berubah total. Tanpa ragu kutinggalkan dunia artis ketika kontrak sinetron dan iklan tinggal kutandatangani saja. Bahkan kontrak menyanyi yang sedang berlangsung, kubatalkan. Karena aku paham, dunia artis itu banyak keharamannya.

Memang, hukum nyanyinya sih mubah tetapi aktivitas lainnya yang terkait nyanyi banyak haramnya. Aku baru naik panggung saja, para penonton sudah mabuk. Campur baur laki-laki dan perempuan. Aku nyanyi, yang nonton memujaku, jatuh syirik nantinya. Si penyanyinya itu, tidak bisa dihilangkan dari rasa ingin dipuji, ujub namanya. Itu yang aku rasakan. Dua belas tahun aku sebagai artis dipuja-puja setan. Ternyata, saat itu, aku juga setan. Astaghfirullah.

Satu setengah tahun sejak dialog di SMAK itu, aku baru ngeh bahwa ustadz muda itu adalah aktivis Hizbut Tahrir. Kemudian aku diminta bergabung berdakwah, berjuang bersama untuk menyadarkan umat agar mau menegakkan kembali institusi politik Islam yakni Khilafah Islam. Aku jawab, kenapa tidak dari dulu saja Tadz![]

Diolah oleh Joko Prasetyo dari wawancara Joko Prasetyo dengan Ustadz Hari Moekti tahun 2010. Dimuat di tabloid Media Umat


TETAP BERBAKTI MESKI AKU TELAH MATI

Berbakti dari harta artis tak ada arti/
Laksana lilin menerangi tapi membakar diri/
Aku pun taubat dan karier menyanyi kuakhiri/
Lalu mengaji dan menjadi dai//

Jadilah aku anak shalih yang mendoakan orang tua/
Semua harta nyanyi sirna tidak mengapa/
Yang penting untaian doa tetap dipanjatkan kepadaNya/
Tapi keresahan tetap menyelimuti dada//

Karena doa pasti terhenti ketika aku mati/
Sedangkan aku ingin sekali tetap berbakti
Maka wakaf atas nama orang tua menjadi solusi/
Tidakkah Anda ingin turut berpartisipasi//

Di era tahun 1980 hingga 90-an siapa yang tak kenal saya, Hari Moekti? Kariernya melambung tinggi. Olah vokalnya banyak yang memuji. Saya jalani dunia artis yang glamour. Namun ada yang sangat menyedihkan hati. Saya jauh dari ibu. Ibu tidak suka saya menjadi artis.

Entah apa yang ibu doakan tentang saya, yang jelas pada 1995, saya mendengar ayat suci Al-Qur’an dari seseorang dan ia pun menjelaskan maknanya kepada saya. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(QS. Al Mulk: 2)

Allah menilai amal seseorang yang sempurna (ahsanu ‘amalan, amal yang baik/sempurna). Saya selama jadi artis banyak beramal.Setiap habis bernyanyi uang saya sedekahkan. Namun orang itu menyatakan: “Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala, bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar.”

Mengapa? Karena Allah tidak menuntut amal yang banyak, tetapi amal yang sempurna. Dan saya tidak sempurna. Manusia tidak sempurna. Mengapa Allah mengatakan amal yang sempurna? Ternyata simple saja.

Sempurnanya manusia itu melakukannya dengan ikhlas dan aktivitas itu benar, diridhai Allah. Sedangkan saat jadi artis, amal yang saya lakukan agar mendapat pujian, dan setiap manggung, saya pun jadi wasilah maksiat banyak orang; mabuk, berkelahi atau pun campur baur lelaki dan perempuan. Dan satu lagi, menjadi jauh dengan ibu.

Maka ketika karier berada di puncak, pada tahun yang kelima belas, saya merekam lagu baru, lagu ini akan meledak di pasaran, kemudian produser pun mendatangi saya, beberap iklan datang mau teken kontrak, saya bilang tidak mau. Saya mau muhasabah diri dulu.

Karena saya teringat ibu saya pernah mengatakan seorang tetangga bertanya. “Ibu hebat, punya anak terkenal, seneng ya.”

Ibu saya diam saja. “Kenapa Bu, tidak bahagia punya anak terkenal?”

Lalu Ibu menjawab. “Ah Bu, ayeuna mah, budak teh tara balik, teu jiga baheula, dititah naon wae nurut, ayeuna mah budak teh teu aya.” (Ah Bu, sekarang, anaknya tidak pernah pulang, tidak seperti dulu, disuruh apa saja menuruti, sekarang anaknya sudah tidak ada).

Itu ungkapan dari lubuk hati ibu yang merasa kehilangan anaknya. Karena saya menjadi anak yang melupakan orang tua. Ini merupakan kegelapan bagi saya. Karena ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua.

Ini yang menginspirasi saya ketika saya membaca Al-Qur’an bahwa ridha Allah itu ada pada ridha kedua orang tua. Selama saya menjadi artis saya melanggar ayat ini birrul walidayn, berbakti kepada kedua orang tua.

Berbakti kepada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, wajib ain, tidak bisa titip kepada orang lain. Pantas ibu saya sedih. Saya kirim uang untuk bisa bikin rumah, beli mobil, tidak pernah berwujud rumah, tidak pernah berwujud mobil, karena ibu saya tidak butuh itu. Uang itu oleh ibu disalurkan lagi kemana saja. Ibu saya tetap sederhana di rumah peninggalan suaminya yaitu bapak saya, yang telah berpulang sejak saya kecil.

Kemudian saya ingin mengharap ridha Allah dengan doa ibuku. Entah apa yang dia doakan. Kemudian saya bertaubat saja meninggalkan dunia artis. Saya tinggalkan dunia artis itu. Dalam waktu tiga setengah bulan, harta saya habis dan malah berutang. Karena saya tinggalkan begitu saja perusahaan saya. Saya ambil saham-sahamnya, tidak saya jual sahamnya.

Tapi ibu saya gembira. “Tah kitu atuh, sering ngalongok Mamih.” (Nah begitu, sering menjengguk Ibu). Kalau sudah miskin begini datang, sering melongok ibu. Ibu saya senang sekali. Dan dia mendoakan saya. Subhanallah, sekarang hidup saya bahagia. Ketika saya sedang menikmati kebahagiaan bersama ibu. Beliau meninggal. Saya belum banyak berbuat. Saya sedih.

Yaa Allah... apa yang harus saya perbuat untuk ibu. Mungkin ibu pun banyak membawa dosa pulangnya. Tapi sebagai anak saya tidak bisa berbakti apa-apa. Sementara uang saya sebagai artis tidak dapat menolong ibu.

Saya tidak boleh lama-lama bersedih. Kegelapan pasti akan berakhir. Pasti akan berlalu. Tapi bagaimana caranya. Dalam pertaubatan bertahun-tahun saya mengaji. Alhamdulillah bisa timbul rasa bahagia dengan mengaji bahkan menjadi dai. Karena bisa menjaga istiqamah. Agar mati dalam keadaan khusnul khatimah.

Dan yang tak kalah pentingnya lagi, saya tetap bisa berbakti meski ibu telah pergi, seperti yang dinyatakan Nabi: Jika seseorang mati, maka amalnya terputus, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim).

Tapi ada yang tidak puas dalam diri saya. Saya berutang besar kepada ibu saya. Kalau saya mati nanti, siapa yang akan mendoakannya? Alhamdulillah, pada 2005, Saya bertemu dengan teman dari Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) dan mereka mampu menghapuskan air mata saya.

Menurutnya ada amal yang bisa saya sampaikan kepada ibu secara berkesinambungan, meski pun saya telah mati! Ia pun membacakan hadits.

Dari Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, apakah aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: Ya. Aku berkata: “Sedekah apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab: “Mengalirkan air.” (HR An Nasa’i dan Ibnu Majah).

Mengalirkan air adalah salah satu bentuk dari wakaf ---sedekah yang paling afdhal. Subhanallah ternyata wakaf... amazing. Inilah yang membuat saya gembira bersama istri dan keluarga saya. Ada satu perbuatan meskipun saya mati pahalanya mengalir terus kepada orang yang saya cintai. Saya sangat mencintai ibu karena Allah, maka saya berwakaf atas nama beliau.

Inilah yang membuat saya bahagia, pendorong yang paling kuat untuk meraih surga. Bukan dengan bernyanyi tetapi dengan mewakafkan harta. Maka saya pun bergabung dengan BWA menginspirasi kaum Muslimin untuk ikut berwakaf. Oleh karena itu.... Anda harus ikut!

BAHAGIA
Melalui program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan (WAdP) BWA, saya menggalang dan menyalurkan Al-Qur’an wakaf dari kaum Muslimin ke berbagai pelosok Tanah Air. Dan ini membahagiakan saya.

Rasa bahagia itu kerap kali muncul, terlebih ketika melihat mereka bahagia mendapatkan Al-Qur’an wakaf. Misalnya ketika mendistibusikan Al-Qur’an kepada korban erupsi Gunung Merapi di Dusun Pule. Setelah menerima Al-Qur’an, salah seorang ustadz di sana berkata: “Subhanallah, ternyata ini sumbangan terbesar, dari mie supermi, dari beras, dari gula ternyata ini yang terbesar. Inilah sumbangan terbesar saat kita melupakan Allah.”

Ini sangat menginspirasi saya. Saya merasa puas melihat orang merasakan nikmat mendapatkan wakaf Al-Qur’an.

Begitu juga ketika ke Nias, menyerahkan Al-Qur’an kepada mereka yang terkena musibah tsunami. “Alhamdulillah... dapat Al-Qur’an, sudah sepuluh tahun kami tidak mendapat Al-Qur’an...” ini yang ngomong DKM setempat. Perjalannya cape banget tetapi bahagia banget, karena melihat orang bahagia mendapatkan Al-Qur’an.

Seringkali setiap menyalurkan wakaf, saya diamanahi untuk berbagi ilmu Islam yang saya pelajari. Usai ceramah, warga setempat menagih, “kapan tausiah di sini lagi?”

Ayo kita ke sana, membina warga di sana. Saya bukan artis lagi yang berfikir dapat duit berapa saya di sana, tetapi ada makna yang terkandung di situ, ada beberapa orang yang sadar dan kembali kepada Islam. Ke Senduro, ke Bromo, selebihnya itu ada orang masuk Islam lagi. Jadi hidup ini bermakna.

Melaksanakan program Water Action for People (WAfP), juga merupakan bagian dari aktivitas saya di BWA. Aktivitas yang pertama membangun sarana air bersih di Ponpes Yashi, Pontang, Banten. Tapi ketika warga berkata, “Opo tumon kok ono banyu” (masa sih bisa ada air), aku bilang dalam hati, eh orang ini tidak percaya ada air. Tetapi ketika air mengalir, subhanallah, mereka semua tersenyum gembira. Semoga ini menjadi amal yang pahalanya menghapus dosaku dan mengalir pada ibu bapakku.

Pada kesempatan lain, Gunung Merapa meletus, air bersih warga sekitar benar-benar habis ditutup oleh debu dan lava merapi. Kami bangun bak penampung air, tapi saya tidak punya uang lagi. Dan ini kami himpun dari kaum Muslimin yang berwakaf.

Sedangkan di Gunung Kidul ratusan tahun tidak ada air. Tapi mereka jadi bisa menikmati air dari wakaf kaum Muslimin yang saya salurkan ke sana. Karena saya punya keahlian naik gunung, turun tebing dan terjun payung, maka saya gunukan keahlian saya untuk menyenangkan warga Gunungkidul dan orang yang berwakaf, dengan masuk ke dalam gua Pego yang jaraknya 75 meter merangkak dan turun ke kedalaman 87 meter ke tempat air bersih berada.

Dan ini membahagiakan, sangat membahagiakan. Karena apa? Berbuat untuk orang lain. Emosional, dengan didorong rasa spiritual yang sangat tinggi. Sekarang tidak kurang dari 4000 penduduk di dusun-dusun sekitar gua tersebut dapat menikmati airnya. Yang biasanya mereka mendapatkan air satu jerigen setiap hari, sekarang tiga menit satu jerigen.

Setiap tetes air mengalirkan pahala bagi yang berwakaf. Inilah yang membuat saya bahagia, percaya diri menatap masa depan, berbakti kepada kedua orang tua, mengabdi kepada Allah SWT. Dan... Anda harus ikut![]

Diolah oleh Joko Prasetyo dari wawancara Joko Prasetyo dengan Ustadz Hari Moekti tahun 2014. Dipublikasikan dalam bentuk buklet yang diterbitkan Badan Wakaf Al-Qur’an pada Ramadhan tahun 2014 Masehi.



TEMUILAH JANJI TUHANMU, WAHAI JIWA YANG TENANG

Oleh: Nasrudin Joha


Pada akhirnya, sejauh apapun perjalanan kehidupan, ajal adalah akhir dari labuhan petualangan, gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Ajal, adalah satu diantara tanda kebesaran Allah, yang nyata dihadapan manusia, tapi seringkali tiada diindahkan.

Bagi penghamba, yang menunaikan misi taat, yang menetapi setiap jengkal jalan syariat, ajal adalah istirahat dari beban amanah. Ajal, adalah gerbang menuju janji kemuliaan sejati. Ajal, adalah pintu sebelum sang hamba bertemu dengan sang haribaan, menatap wajah-Nya, menikmati surga-Nya.

Bagi pendusta, ajal adalah gerbang duka dan nestapa tiada akhir, tiada bertepi. Tiada guna, segenggam maupun sekeranjang kebanggaan dunia, apalagi sejumput atau seujung kuku, dari tulang belulang dunia yang pernah dibanggakan. Tiada arti, semua upaya dan ikhtiar yang pernah dikorbankan.

Kabar itu, telah datang kepadaku. Kabar, dari seseorang yang telah mengambil ajal kemaksiatan dari pernik-pernik dunia, jauh sebelum ajal kematian datang padanya. Kabar, yang pada akhirnya menyampaikan ajal kematian itu menjemputnya, membawanya pergi menemui Rab-Nya, menemui Janji-Nya.

Dia, yang telah membunuh karier kemaksiatan di gegap gempita belantika musik. Dia, yang telah menenggak racun kematian dari puja-puja manusia atas kasta "Rocker" yang disandangnya.

Akhirnya dia, benar-benar berpulang. Dia benar-benar telah menyelesaikan misinya sebagai hamba. Dia, sampai pada titik kalimat "Duhai jiwa yang tenang, kembalilah pada Rabb-Mu, dan saatnya rehat dari amanah dakwahmu".

Ust. Harie Moekti, seorang yang telah mengubur kedigdayaan dunia, menyeluri serpih-serpih hidup sebagai sufi dan da'i sejati, mendermakan hidup untuk dakwah, telah berpulang kepada-Nya. Alhamdulllah 'ala kuli Hal. Dia, telah menuntaskan misi penghambaan, dia telah sampai pada janji yang ditetapkan. Dia, telah sampai pada ajal yang ditetapkan.

Dia, seorang pejuang Islam, pengemban syariat Islam, pejuang Khilafah. Dalam genggamannya, Al Liwa dan Ar Roya berkibar dalam berbagai forum dan momen perjuangan. Suara merdu melengkingnya, akan selalu terngiang menggaungkan kalimah "TAKBIR!".

Dia, telah menjadi penjaga Islam yang terpercaya, yang mengerahkan segenap daya dan upaya untuk merealisir misi melanjutkan kehidupan Islam. Dia, adalah seorang pejuang Khilafah yang teguh, Istiqomah dan menemui Rab-Nya dalam keadaan iman Islam.

Ya Allah, ampunilah dosanya, tempatkanlah dia pada sisi Mu bersama ridlo dan kemuliaan. Kumpulkan kami kelak, bersama Rasulullah SAW, bersama para sahabat ridwanullah ajmain, para Tabi'in, tabiit Tabi'in, serta segenap hamba beriman, dibawah bendera Rasulullah yang bertuliskan "LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADDARROSULULLAH".

Duhai jiwa yang tenang, temuilah Tuhanmu. Berbahagialah dengan bekal keimanan-Mu. Kelak daulah Khilafah yang kau perjuangkan, Khilafah yang dituntut dan dijanjikan Tuhan-Mu, akan tegak atas ijin dan pertolongan-Nya.

"kematian adalah nasihat kehidupan, yang akan menjadikan manusia hidup seutuhnya, memahami maqom dan misinya"

"Kematian adalah kabar gembira, bagi setiap hamba yang taat kepada-Nya. Kematian, adalah jalan menuju kebahagiaan sejati, mengetuk pintu surga dan menghadap wajah-Nya"

"Setiap kabar kematian, akan menambah ketaatan setiap hamba yang beriman. Petiklah hikmah dan kebajikan, dari setiap kabar kematian". [].



Harry Moekti atau Harry Mukti (lahir di Cimahi, 25 Maret 1957; umur 59 tahun) adalah mantan rocker Indonesia yang sekarang menjadi dai. Penyanyi dengan nama asli Hariadhi Wibowo ini berubah namanya menjadi Harry Moekti ketika banyak yang menanyakan dirinya Harry yang mana dan yang dijawab Harry yang kakaknya Moekti, jadilah dia dipanggil Harry Moekti.

Sejak kecil hingga menamatkan studinya di SMA, hari-hari Hari Moekti dihabiskan di Cimahi dan Bandung. Kemudian sebagai anak tentara, Harry mengikuti orang tuanya yang pindah tugas ke Semarang. Di kota Semarang Harry pernah menjadi room boy di Hotel Patra Jasa Semarang selama satu tahun. Dari kota Semarang pula karier Hari Moekti dalam bidang musik dimulai. Harry dan beberapa kawannya membentuk grup band Darodox (dari bahasa jawa yang berarti nderedeg atau gemetar).

Tahun 1980 sesudah ayahnya meninggal, Harry kembali ke Bandung. Di Bandung, Harry bergabung dengan Orbit band, Primas band bersama Tommy Kasmiri, kemudian New Bloodly Band. Perjalanan musik Harry kemudian dilanjutkan di kota Jakarta dengan bergabung bersama Makara dari tahun 1982 sampai tahun 1985. Namun ketika Harry melakukan rekaman solo grup ini bubar. Suatu hal yang dianggap mengangkat kariernya adalah ketika bergabung dengan Krakatau pada tahun 1985.

Beberapa rekaman Harry Moekti yang meledak di pasaran antara lain adalah Lintas Melawai pada tahun 1987, Ada Kamu, Aku Suka Kamu Suka dan Satu Kata bersama grup band Adegan. Selama kariernya Harry telah membuat tujuh album rekaman, albumnya yang terakhir adalah Di Sini. Album terakhir itu dibuat ketika Harry mulai menekuni agama Islam lebih mendalam, sehingga Hari tidak melakukan promosi dengan mengadakan show seperti yang dilakukan setiap penyanyi ketika albumnya muncul. Akibatnya album terakhir itu kurang laku di pasaran.

Dunia yang dekat petualangan alam adalah dunia Harry yang lainnya ketika masih menjadi penyanyi. Ia sempat membuat klub panjat tebing di Sukabumi, juga menjadi anggota SAR, aktif dalam olah raga Arung Jeram (search and Rescue) kemudian mengikuti kursus terjun payung di Australia. Semua itu dilakukannya dari tahun 1990 sampai 1996.

Hijrah dari rocker menjadi Da’i

Proses mendapatkan hidayah yang dilakukan oleh hari moekti bukanlah perjalanan yang instan, butuh proses dan pengorbanan. Harta, pikiran dan tenaga juga keluarga yang tidak mendukung beliau berubah dari rocker menjadi da’i ditentang, sehingga harta habis membayar hutang, bisnis hancur, sehingga tidak menyisakan apapun. Namun, dibalik itu semua beliau merasa terlahir kembali, dengan kehidupan baru yang sampai sekarang beliau jalani, yakni pengemban dakwah dan bergabung dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi dakwah Internasional yang berada di lebih 40 negara di dunia yang menyerukan tegaknya hukum-hukum Allah SWT dalam wadah Khilafah rasyidah ‘ala min Hajjin Nubuwah. Terdapat pro dan kontra dari fans beliau dengan bergabungnya beliau dengan HTI, namun beliau tetap istiqomah dengan dakwah bersama HTI.

Aktivitas Hari Moekti

Setelah hijrah dari rocker menjadi da’i kini ustadz Hari Moekti aktif dalam kegiatan dakwah dan juga kegiatan sosial dalam membantu kesusahan yang dialami oleh sesama di seluruh penjuru nusantara. Beliau aktif menyerukan Wakaf sebagai gaya hidup seorang muslim, hal ini beliau lakukan karena terinspirasi dari kebiasaan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang selalu mewakafkan hartanya jika mereka mendapatkan rejeki.

Dalam menjalan aktivitas ini, beliau saat ini aktif sebagai pembina di salah satu Lembaga Wakaf yang menyalurkan wakaf untuk proyek wakaf sarana air bersih, wakaf al quran, wakaf sarana dakwah, wakaf pembangkit listrik, wakaf produktif, donasi kesehatan, donasi pendidikan dan juga zakat peer to peer di Lembaga 

Sumber:
http://harimoekti.com/profil-hari-moekti/



Oleh: Habib DR Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI)

Bismillaah wal Hamdulillaah … Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah …

Sebuah pusat penelitian dan pengkajian strategi tentang Islam dan Timur Tengah di Santa Monica – California di Amerika Serikat (AS), yang bernama Rand Corporation (RC) telah melakukan penelitian tentang Gerakan Islam di seluruh dunia selama puluhan tahun.

Hasil penelitian lembaga ini telah diturunkan dalam bentuk sejumlah laporan resmi yang antara lain berjudul :

1. Civil Democratic Islam yang dibuat pada tahun 2003.

2. Building Moderate Muslim Networks yang dibuat pada tahun 2007.

Laporan RC menjadi referensi penting bagi National Intelligent Council (NIC), yaitu sebuah Dewan Intelijen Nasional AS yang membawahi 15 badan intelijen dari 15 Negara.

Klasifikasi Gerakan Islam

Dalam berbagai laporan hasil kajiannya, RC memetakan gerakan Islam di dunia sesuai “kepentingan barat”. RC membuat “Klasifikasi Gerakan Islam” lengkap dengan uraian karakter, ciri, status dan cara penanganan tiap kelompok. RC membagi gerakan Islam di dunia menjadi empat kelompok, yaitu :

Pertama, kelompok “Fundamentalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta anti Demokrasi dan sangat kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “BAHAYA”, sehingga penanganannya harus “DIHABISI”, karena kelompok ini “MUSUH BARAT”.

Kedua, kelompok “Modernis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro demokrasi, tapi tetap kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIRANGKUL”, walau terkadang masih mengkritisi barat saat “kepentingan” mereka terganggu. Namun kelompok ini tetap dianggap “KAWAN BARAT”.

Ketiga, kelompok “Liberalis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro demokrasi dan menerima sepenuhnya pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAT AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIBESARKAN”, karena kelompok ini adalah “ANTEK BARAT”,

Keempat, kelompok “Tradisionalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta juga pro Demokrasi tapi tetap kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “WASPADA”, sehingga penanganannya harus “DIAWASI”, karena tiga dari empat ciri kelompok ini sama dengan ciri “Fundamentalis”, sehingga jika sering bersentuhan dengan “Fundamentalis”, maka dengan sangat mudah menjadi “Fundamentalis”. Karenanya, kelompok “Tradisionalis” harus dijauhkan dari kelompok “Fundamentalis”, bahkan harus “DIADU-DOMBA”.

Strategi dan Taktik

Dalam laporan resminya, RC memaparkan secara detail tentang strategi dan taktik penanganan tiap kelompok Islam sesuai pemetaan dan klasifikasi yang mereka buat, antara lain :

1. Stigmatisasi & Pencitraan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus distigmatisasi sebagai kelompok “intoleransi”, “anarkis”, “radikalis”, “ekstrimis” dan “teroris”, dengan mengekspos secara besar-besaran segala bentuk berita sekecil apa pun terkait mereka, yang tidak disukai masyarakat, sekaligus menutup habis-habisan segala berita simpatik sebesar apa pun tentang mereka, melalui semua media yang dikuasai barat dan anteknya.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro Barat maka harus dicitrakan sebagai kelompok “toleran”, “santun”, “ramah” dan “lembut”, dengan mengekspos secara besar-besaran segala bentuk berita sekecil apa pun terkait mereka, yang sangat disukai masyarakat, sekaligus menutup habis-habisan segala berita buruk sebesar apa pun tentang mereka, melalui semua media yang dikuasai barat dan Anteknya.

2. Pengkerdilan & Pengagungan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat* maka harus dikerdilkan sehingga terkesan sebagai kelompok “terbelakang”, “kaku”, “kolot”, “bodoh”, “tidak berpendidikan” dan “tidak kreatif”.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro Barat maka harus dibesarkan dan dimajukan, sehingga terkesan sebagai kelompok “modern”, “cerdas”, “maju”, “terhormat” dan “berpendidikan”

3. Pengucilan & Pengaktifan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dikucilkan dengan cara jangan diberi kesempatan sekecil apa pun dalam sistem kekuasaan, baik legislatif atau eksekutif atau pun yudikatif.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus dimunculkan dengan cara diajak berperan aktif dalam sistem kekuasaan.

4. Pembusukan & Penyegaran

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dibusukkan dengan cara susupi dan tunggangi serta adu domba dan pecah belah antar mereka sendiri.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus disegarkan dengan cara memberi segala bantuan material mau pun spiritual.

5. Pembunuhan & Perlindungan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dihabisi baik melalui pembunuhan karakter mau pun pelenyapan nyawa sekali pun jika diperlukan.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus dilindungi dan dijaga serta selalu dibela dalam kondisi bagaimana pun.

Introspeksi Diri

Nah, jika kita ingin tahu posisi kita di mata barat ada dimana, maka lihat saja karakter dan ciri diri kita berdasarkan standar pemetaan mereka tersebut.

Jika kita pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta anti Demokrasi dan kritis terhadap pengaruh barat, baik kita lembut atau pun tegas, baik perorangan mau pun organisasi, maka kita masuk kategori “Fundamentalis” yang sangat berbahaya, sehingga harus dihabisi.

Kalau pun kita menerima Demokrasi, tapi tetap pro Khilafah dan Tathbiq Syari’ah serta kritis terhadap pengaruh barat, maka kita masuk katagori “Tradisionalis” yang harus diwaspadai, sehingga mesti selalu diawasi. Dan bagaimana pun caranya harus ditunggangi untuk dijauhkan dari kelompok “Fundamentalis”, bahkan mesti diadu-domba.

Semoga kita tidak masuk katagori “Modernis” dalam arti dan definisi barat yaitu anti Khilafah dan Tathbiq Syari’ah, apalagi kategori “Liberalis” yang nyata-nyata jadi antek barat.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi seluruh gerakan Islam yang pro Khilafah dan Tathbiq Syari’ah dari makar musuh-musuhnya, dan selalu menyatukan mereka dalam kasih sayang sesama, serta memberi kemenangan dari dunia hingga akhirat.

Hasbunallaahu wa Ni’mal Wakiil … Ni’mal Maulaa wa Ni’man Nashiir ...



SELAMATKAN KAMPUS KITA: SELAMATKAN DAYA KRITIS DAN INTELEKTUALITAS SIVITAS AKADEMIKA


Ahmad Khozinudin, S.H.
LBH PELITA UMAT



Pada Ahad 10 Juni 2018 (kemarin), bertempat di Jakarta, LBH PELITA UMAT dan Divisi Hukum Persaudaraan Alumni 212 yang terhimpun dalam Aliansi Tim Bantuan Hukum PA 212, membuat pernyataan bersama terkait maraknya Tindakan Persekusi, Intimidasi, Kriminalisasi, Teror & Ancaman Terhadap Tokoh dan Aktivis Pergerakan Sivitas Akademika.

Ada 5 (lima) poin utama substansi pernyataan. Pertama, menolak segala bentuk intervensi kekuasaan diruang kampus yang berpotensi memberangus nalar kritis, naluri pembelaan terhadap kebenaran dan keadilan, yang dapat merusak tatanan keilmuan dan jiwa kemanusiaan sivitas akademika.

Kedua, mengecam segala bentuk TINDAKAN PERSEKUSI, INTIMIDASI, KRIMINALISASI, TEROR DAN ANCAMAN TERHADAP TOKOH DAN AKTIVIS PERGERAKAN SIVITAS AKADEMIKA, dan meminta kepada penguasa untuk segera menghentikannya.

Ketiga, menghimbau dan mengajak kepada segenap elemen anak bangsa, para tokoh pemuda dan mahasiswa, habaib dan ulama, politisi dan pimpinan partai, praktisi dan akademisi hukum, untuk serius dan sungguh-sungguh turut serta dalam memberikan dukungan dan pembelaan terhadap sivitas akademika, baik tehadap dosen dan/atau mahasiswa, untuk tetap teguh dan Istiqomah berpegang teguh pada nurani, logika keilmuan dan semangat pembelaan terhadap nilai kebenaran dan keadilan.

Keempat, menuntut pembebasan Imam Besar Al Habib Riziq Sihab dari status tersangka dan seluruh tuduhan, membebaskan Prof Dr Suteki, SH, MHum, Prof. Daniel M. Rosyid PhD, M.RINA, dan seluruh Sivitas akademika lainnya dari segala bentuk kriminalisasi, tuduhan dan sanksi baik berupa peringatan, pencopotan tugas dan pembebasan jabatan dari pihak Rektorat atau otoritas lainnya dan mengembalikannya seperti sediakala.

Kelima, menghimbau dan mengajak segenap bangsa Indonesia, seluruh tumpah darah Indonesia, untuk membangun sinergi bersama, berfikir serius menghadirkan kekuasaan yang adil, yang melayani, yang berpihak pada kebenaran dan keadilan, yang mentaati perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, dan bersama-sama terlibat aktif dalam kerja-kerja kolektif yang bertujuan untuk menghentikan segala bentuk tirani dan keangkuhan. Kami Aliansi Tim Bantuan Hukum PA 212 akan memberikan pembelaan hukum kepada para tokoh intelektual, ulama dan aktivis yang dikriminalisasi oleh Rezim Zalim.

Langkah hukum ini diambil, mengingat Lingkungan pendidikan tinggi adalah tempat bersemai bagi tumbuh kembang nalar kritis, ilmu pengetahuan, pengembangan dan penjagaan nilai-nilai, norma dan moral, mulai ternodai dengan adanya intervensi kekuasaan.

Hiruk pikuk dinamika politik termasuk didalamnya adanya perbedaan yang tajam antara logika penguasa dan logika kritis segenap elemen anak bangsa, menyebabkan rezim mengekspor INTIMIDASI, TEROR DAN ANCAMAN untuk memaksakan tafsir tunggal bernegara dilingkungan sivitas akademika.

Padahal, Lingkungan kampus yang didalamnya terdapat sivitas akademika, harus steril dari unsur kekuasaan dan harus tetap berdiri tegak diatas nilai, norma dan etika dan berpegang teguh pada intelektualitas yang netral, berdasarkan ilmu pengetahuan dan keahlian yang diperoleh dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab khususnya untuk melaksanakan amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pemanggilan beberapa dosen dan mahasiswa, di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia, baik berujung teguran, surat peringatan bahkan pembebastugasan, yang disebabkan oleh adanya aktivitas penyampaian aspirasi, pembelaan dan dukungan pada nilai kebenaran dan keadilan oleh Sivitas Akademika, adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan, baik ditinjau dari aspek hukum maupun dilihat dari kacamata nilai pendidikan.

Organ-organ kekuasaan mulai memaksakan kehendak, membawa tafsir tunggal kebenaran penguasa, mendobrak dan masuk ruang kampus, menyebar teror dan ancaman, menekan dan memaksa sivitas akademika untuk tunduk, taat dan patuh, melepaskan nilai moral dan standar berdasarkan logika keilmuan, dan membenarkan seluruh tafsir kebenaran yang disodorkan penguasa.

Terakhir, Kemenristek Dikti sampai mengeluarkan kebijakan paranoid, dengan mewajibkan mahasiswa baru mendaftarkan akun sosmed mereka. Tindakan mengawasi (baca: memata-matai) mahasiswa, mengingatkan publik pada ingatan atas pemaksaan tafsir tunggal Pancasila yang dipaksakan rezim Orde Baru.

Tindakan intelek dan langkah penuh keadaban, telah diganti dengan represifme penguasa yang mengekang kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat. Padahal, konstitusi telah menjamin setiap warga negara -tidak terkecuali dosen dan mahasiswa- untuk secara bebas menjalankan hak berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat.

Terlebih lagi, Negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi Hak Asasi berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat, sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi.

Tindakan pengabaian apalagi jika terjadi pemberangusan terhadap hak berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat, sebagaimana dijamin dalam konstitusi (pasal 28 E ayat 3), berpotensi melanggar Hak Asasi Manusia sebagaimana diatur dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM.

Dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Kemenristekdikti telah dilaporkan ke Komnas HAM RI melalui divisi pemuda dan mahasiswa Persaudaraan Alumni 212. Secara politik, tindakan Kemenristekdikti yang abai menjalankan tugas pokok dan fungsinya memimpin lembaga pendidikan tinggi, menjadi pertimbangan tersendiri bagi publik untuk menuntut Presiden mencopot jabatannya.

Seorang menteri, tidak boleh mengumbar kesalahan etik bawahan keruang publik, apalagi membuat teror horor dengan membuat pilihan-pilihan paksaan yang tendensius dan radikal. Meminta seorang Guru Besar untuk memilih NKRI atau melepaskan jabatannya, adalah tindakan diktator dan radikal yang tak lazim.

Pernyataan ini melawan nalar dan logika sehat. Sebab, bagaimana mungkin seorang pengajar Pancasila yang telah lebih 24 tahun mengajar dituding anti NKRI ? Darimana vonis untuk melepaskan jabatan itu dipertimbangkan ? Apakah sudah ada pertimbangan pengadilan dimana amar putusannya memerintahkan demikian?

Jika diktatorisme kampus ini diambil atas adanya latar belakang ujaran berbeda, kongkritnya jika pertimbanannya adalah karena perbedaan pandangan penguasa dengan kaum intelektual atas menghangatnya diskursus tentang Khilafah, bukankah berdiskusi dan menguraikan argumentasi adalah pilihan bijak dan bermartabat ? Bukan secara sepihak mengambil jalan memvonis dan melakukan persekusi.

Perlu ditegaskan, hingga saat ini tidak ada satupun produk hukum yang memberi tafsir terhadap Khilafah sebagai paham atau ajaran yang dilarang. Jadi, jahat sekali jika penguasa melalui Kemenristekdikti membuat narasi sepihak untuk menggiring opini publik agar menjauhi Khilafah sebagai ajaran Islam yang agung, dengan memvonisnya sebagai ajaran terlarang.

Penjelasan fair dan berdasarkan hukum, yang memuat paham atau ajaran apa yang dilarang dianut, dikembangkan dan disebarluaskan adalah paham atau ajaran marxisme/leninisme, atheisme dan komunisme. Paham ini tegas dilarang, berdasarkan TAP MPRS No. XXV/1966.

Adapun terhadap ide Khilafah, tidak ada satupun produk hukum yang melarangnya. Apalagi, dalam khazanah fiqh Islam Khilafah adalah ajaran Islam. Khilafah sudah dikenal secara luas sebagai bagian dari ajaran Islam.

Dalam sesi tanya jawab dengan rekan media, kami telah menjelaskan secara rinci kesalahan-kesalahan pilihan kebijakan yang diambil oleh Kemenristekdikti. Maka, tuntutan kepada Presiden untuk mencopot M. Natsir dari posisi Menristekdikti adalah tuntutan yang wajar dan sangat beralasan.

Selanjutnya, pada beberapa hari kedepan Aliansi Tim Bantuan Hukum PA 212, akan melakukan serangkaian tindakan hukum agar kecerobohan dan kekeliruan mengelola pendidikan tinggi di negeri ini tidak terus berlanjut. Komitmen pada penjagaan nilai, etika dan norma perguruan tinggi wajib dijaga, semua pihak wajib menghormati tak terkecuali Kemenristekdikti. [].

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget