August 2016




CIAMIS,- Pondok Pesantren Darussalam, merasa terhormat menjadi tuan rumah shilaturahim para alim ulama yang diadakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Kami sangat terbuka dan menyambut baik kegiatan ini. Ini bukan kali pertama Ponpes Darussalam menjadi tempat kegiatan Hizbut Tahrir, sudah kali ketiga”, ujar Dr. KH Fadhil Yani Ainusyamsi, MBA, M.Ag. selaku Pimpinan Ponpes Darussalam, Ciamis ketika memberikan kata sambutan dalam acara Shilaturahim Ulama Jawa Barat bersama Pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia pada hari Sabtu lalu (13/08).

Dukungan Ponpes Darussalam terhadap kegiatan Hizbut Tahrir tersebut bukan hanya pada masa kepemimpinan KH Fadhil Yani Ainusyamsi atau yang akrab dipanggil Kang Icep, tetapi dimulai dari orangtua beliau Alm. KH Irfan Hielmy, Allahu Yarham, seorang ulama kharismatik nan tawadhu yang mampu mengangkat Ponpes Darussalam Ciamis menjadi pesantren yang diakui dan diperhitungkan, bukan hanya di Jawa Barat tetapi juga di tingkat nasional. Dalam sebuah forum yang dihadiri ulama Ciamis beberapa tahun silam, KH Irfan Hielmy mengatakan, bahwa setelah membaca kitab-kitab Hizbut Tahrir, beliau menegaskan bahwa Hizbut Tahrir itu berpaham sunni.

Acara shilaturahim ulama Jawa Barat bersama Pimpinan Hizbut Tahir tersebut dihadiri oleh sekitar 260 ulama dari berbagai wilayah di Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Cimahi, Garut, Sumedang, Majalengka, Kuningan, Indramayu, Cirebon, Tasikmalaya, Banjar, Pangandaran dan Tuan Rumah Ciamis.

Dalam kesempatan tersebut Al-Ustadz Rokhmat S. Labib selaku Pimpinan Pusat Hizbut Tahrir Indonesia mengajak para alim ulama untuk terus menerus berjuang bersama Hizbut Tahrir untuk menegakkan Khilafah Islamiyah tanpa rasa takut, karena yang ditakuti oleh ulama hanyalah Allah swt, sebagaimana firman-Nya “innamaa yakhsyallaha min ‘ibadihi al-‘ulamaa”, tegas Ustadz Rokhmat.

Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan pahala, kebaikan dan keberkahan untuk para alim ulama dan pimpinan pondok pesantren yang mendukung perjuangan penegakkan syariah dan khilafah.













Konsep Smart City hanya berorientasi pada pembangunan materi, belum serius berorientasi pada pembangunan peradaban”, tegas Yuana Ryan Tresna sebagai ketua Tim Perumus Konsep Bandung Barokah ketika memberikan penjelasan pada acara terbatas  Pers Conference & Public Expose Konsep dan Peta Jalan #BandungBarokah, 3 Agustus 2016 yang dihadiri oleh tidak kurang dari 35 peserta dari berbagai elemen masyarakat termasuk wartawan. Lebih lanjut beliau mengatakan gagasan smart city berpotensi mengundang masuknya budaya dari negara asalnya, yaitu budaya barat. Beliau juga mengkritisi perihal indeks kebahagiaan. Beliau mengatakan, bahwa dalam indeks kebahagiaan terdapat pergeseran indikator pembangunan dari standar “sejahtera” menjadi “bahagia” yang semu, karena menurut beliau hakikat kebahagian dalam pandangan Islam yaitu kebahagian dalam melaksanakan ketaatan bukan kebahagian dalam kemaksiatan.

Dalam kesempatan tersebut, Yuana bukan hanya memaparkan isu-isu strategis di kota Bandung, namun juga mengajukan beberapa rekomendasi, diantaranya adalah pembangunan di kota Bandung harus dengan dasar aspek ruhiyah (spiritualitas), keimanan dan ketaatan kepada Allah. Menyatukan antara pembangunan materi (fisik) dan ruh (spiritual), sehingga bermakna berpahala dan bernilai-bermanfaat. Kemudian secara teknis, merekomendasikan pemerintahan kota Bandung agar memberikan jaminan kemaslahatan publik, kemudahan dan kesempurnaan dengan prinsip maqashid syariah, dan ummah development index sebagai konsep turunannya. []







“Perlu para hadirin ketahui Dinas Sosial kota Bandung memiliki 25 macam masalah mengenai PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) dan setiap harinya kami selalu menerima laporan tentang permasalahan gelandangan, anak jalanan dan PMKS lainnya”, ujar Irma perwakilan Dinas Sosial Kota Bandung saat memberikan pendapat dalam kegiatan Public Expose, Konsep dan Peta Jalan Bandung Barokah yang digagas oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Kota Bandung, Rabu 3 Agustus 2016. 

Lebih lanjut Irma menegaskan bahwa konsep Bandung Barokah sangat didukung, bahkan konsep Bandung Barokah ini harus terus disosialisasikan ke seluruh masyarakat kota Bandung, karena jika Bandung Barokah ini terwujud mungkin tak akan ada lagi permasalahan-permasalahan sosial yang terjadi, khususnya di kota Bandung. Sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Irma, Haris Nugraha dari KPUB Bandung mengungkapkan dukungannya terhadap konsep Bandung Barokah yang digagas oleh HTI Kota Bandung, beliau mengatakan bahwa konsep ini menjadi hal yang harus kita tindaklanjuti, agar usulan ini dapat diterima oleh berbagai stakeholder, khususnya pemerintahan agar dapat terwujud.

Konsep Bandung Barokah sudah disosialisasikan oleh HTI Kota Bandung sejak awal tahun 2016 ini, bahkan pernah menjadi tranding topic di media sosial, sebagaimana yang disampaikan Ketua DPD II HTI Kota Bandung Ponsen Sindu Prawito. Dalam kesempatan tersebut lebih lanjut beliau mengharapkan para awak media bisa menyosialisasikan konsep ini, karena konsep ini memerlukan dukungan dari berbagai elemen masyarakat, agar terwujud sebuah negeri yang penuh Rahmat Allah Swt. []



Bandung – Ahad (25/10), HTI Kota Bandung menyelenggarakan acara kajian kesyariatan untuk publik yang disebut Dirasah Syar’iyyah ‘Ammah yang mengambil tema “Pentingnya Aspek Ruhiyah dalam Pembangunan Kota/Kabupaten” di Kantor HTI Jawa Barat. Hadir sebagai pembicara, ustadz Eri Taufiq Abdulkariim, Pimpinan Majelis Insoiring Al Qur’an dan ustadz Yuana Ryan Tresna, DPD II HTI Kota Bandung.

Eri Taufiq sebagai pembicara pertama menyampaikan tentang amal al-insan atau prisip dasar dalam aktivitas manusia termasuk dalam pengambilan kebijakan. Konsep itu dirinci terdiri dari input, proses, output  dan outcomes . Input (quwwah al-amal), kekuatan yang mendorong manusia beramal. Selain ada kekuatan materi dan maknawi, juga ada kekuatan spiritual. Kekuatan spiritual inilah yang paling penting bagi seorang muslim. Hal inilah yang harus diperhatikan dalam suatu kebijakan pembangunan. Proses (ihsan al-amal), syarat amal yang harus terpenuhi. Selain aspek kausalitas, ada dua perkara yang sangat penting yaitu ikhlas dalam niat dan kesesuain dengan syariat. Pembangunan yang hanya berorientasi pada kausalitas dan meninggalkan syariat maka amalnya tertolak. Output (qimah al-amal), nilai amal perbuatan yang harus dicapai. Ada beberapa nilai yang manusia ingin capai seperti nilai materi, nilai akhlaq, nilai kemanusiaan, juga nilai spiritual. Pembangunan tidak boleh hanya menekankan pada capaian-capaian materi tapi melupakan nilai kemanusiaan, akhlak dan spiritual. Adapun outcomes (ghayah al-amal), adalah tujuan perbuatan manusia. Bagi seorang muslim, tujuan perbuatan adalah ridha Allah SWT. Demikian juga, setiap pengambilan kebijakan pembangunan Kota dan Kabupaten seharusnya berorientasi pada outcome tercapainya ridha Allah SWT.

“Peradaban Islam itu dibangun dengan kekuatan spiritual, berbeda dengan peradaban komunis dan sekular-kapitalis”, tegasnya. Eri Taufiq juga menambahkan, “Hukum asal perbuatan manusia terikat dengan hukum syariat (perintah dan larangan Allah). Bukan didasarkan pada kemaslahatan, pandangan publik dan expert saja.” Terkait dengan tujuan perbuatan manusia, kebijakan pembangunan itu harus bertujuan mendapatkan ridha Allah SWT, ampunan dan surga-Nya. “orientasi hanya untuk mencapai tujuan harta dan syahwat adalah tujuan aktivitas orang jahiliyah sebagaimana yang digambarkan dalam al-Qur’an”, pungkasnya.

Pembicara kedua menjelaskan tentang konsep maqashid al-syari’ah dalam dalam Ummah Development Index (Indeks Pembangunan Umat) sebagai indikator keberhasilan dan kegagalan pembangunan. Pembangunan dari perspektif barat hanya tertumpu kepada konsep materi. Aqidah sekular menafikan peranan agama dalam konsep pembangunan. Agama dianggap penghambat sebuah pembangunan. “Teori pembangunan Islam yang meletakkan manusia sebagai fokus. Manusia mempunyai tugas dan tanggungjawab terhadap Penciptanya. Oleh itu Pembangunan Islam mencakup pembangunan materi (madaniyah) dan peradaban (hadharah yang didasarkan aqidah tertentu)”, jelasnya. Yuana juga menyinggung pembangunan Kota Bandung yang hanya membangun materi, bukan membangun peradaban.
Allah SWT berfirman yang artinya, “Tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Menurut Yuana, makna ar-rahmah dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syariah Islam kâffah dalam kehidupan sebagai tuntutan akidah Islam yang diemban oleh Rasulullah saw. Syariah Islam secara kaffah akan mewujudkan kemaslahatan. Kaidah syar’iyyah menyebutkan, “Di mana pun tegak syariah maka akan ada kemaslahatan”. Yuana juga mendeskripsikan indikator kemaslahatan dalam kerangka Maqashid al-Syariah. Dengan indikator penjagaan terhadap agama, diri, akal, harta dan keturunan/kehormatan, Yuana menilai bahwa Islam memberikan jaminan akan terwujudnya tujuan tersebut. Jaminan tersebut tercermin dalam aturan atau syariat Islam. “Maqashid syariah adalah kemaslahatan dimana keberadaannya adalah hikmah (akibat) penerapan syariat. Maqâshid al-syar‘iah adalah tujuan dari syariat sebagai keseluruhan”, terangnya lagi.

Para pembicara sama-sama mengutip firman Allah SWT yang artinya,
Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu sehingga Kami menyiksa mereka karena perbuatan yang mereka lakukan (QS al-A’raf [7]: 96).”
Sebagai kesimpulan, diketahui bahwa indikator berhasil dan gagalnya pembangunan adalah: (1) Apakah aturan yang ditegakkan bersumber dari keyakinan dan ketaatan pada Allah SWT?; dan (2) Apakah aturan yang ditegakan memberikan jaminan terwujudnya kemaslahatan manusia (maqashid syariah) yang akan berbuah kesejahteraan dan kebahagiaan?
Para peserta begitu antusias. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang melontarkan tanggapan dan pertanyaan kepada para pembicara. Salah satu peserta memberikan apresiasi  dalam acara ini. “Harus ada diagnosis baru dan itu disampaikan kepada Pemerintah Kota. Tentu saja lab sayi’ah akan berbeda dengan kalau pakai lab hasanah. Standarnya harus aqidah”, tegasnya. Acara pun diakhiri dengan doa oleh pemandu acara. [bdg.news]




 “Salah satu aktivitas Hizbut Tahrir adalah menyampaikan nasihat kepada penguasa, jika kebijakan-kebijakan yang diambilnya bertentangan dengan aturan-aturan Islam, dan ini adalah bukti cinta Hizbut Tahrir terhadap permasalahan umat dimana saja berada”. Hal ini, diungkapkan oleh Ust Yuana Ryan Tresna di acara Liqa’ Syawwal Bersama Ulama dan Tokoh, pada Ahad (31/07) di Waroeng Setiabudhi Jl. Cihampelas No. 159A Bandung, yang dihadiri oleh Ulama dan Tokoh, dari berbagai kalangan.
Hizbut Tahrir Indonesia sampai saat sekarang ini, terus  berusaha meneladani secara istiqamah strategi dakwah yang dilakukan oleh Rasul Saw, dalam melanjutkan kehidupan Islam.  Dengan melakukan berbagai cara (uslub), selama tidak melanggar Al-Qur’an dan Sunnah. HTI berkeyakinan, bahwa strategi ini dalam memperjuangkan Syariah dan Khilafah, mampu menyelesaikan berbagai permasalahan umat (yang terus dipengaruhi oleh kepentingan kapitalis-Liberal dan sosialis komunis), mulai dari politik, ekonomi dan sebagainya. “Sehingga untuk konteks kota Bandung, penting bagi kami, untuk membuat gagasan melalui konsep Bandung Barokah, sebagai landasan dan orientasi pembangunan,” tegas kandidat doctor UIN Bandung ini.
Konsep Bandung Barokah merupakan salah satu gagasan, yang terus diperkenalkan oleh HTI Kota Bandung.  Sebagaimana yang disampaikan oleh Yuana (Pengurus DPD II HTI Kota Bandung sekaligus ketua tim perumus konsep Bandung Barokah), ia mengungkapkan bahwa pembangunan-pembangunan fisik yang dilakukan oleh Pemerintahan Kota (Pemkot) Bandung harus dibarengi dengan pembangunan ruhiyah para penduduknya, sehingga maghfiroh Allah Swt bisa didapat. []



Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget