January 2017



Oleh :
Rikeu Indah Mardiani, A.Md.
(Tim Media Muslimah DPD I HTI Jawa Barat)


Racun secara harfiah adalah zat atau senyawa yang dapat masuk ke dalam tubuh dengan berbagai cara yang dapat menghambat respon pada sistem biologis sehingga dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Racun akhirnya dianggap tidak bermanfaat bahkan merusak tubuh. Di antaranya menyebabkan luka, rasa sakit, daya tahan tubuh melemah, lemas menderita hingga menghantarkan pada kematian. Sehingga wajar banyak orang berusaha menjauhi, menghindari bahkan mencegah masuknya racun ke dalam tubuhnya.

Jika kita pinjam istilah racun dalam dunia otak, akan keluar sebutan "racun pikiran". Racun pikiran menyebabkan seseorang berperilaku negatif, pendendam, kesal, selalu melihat dari sisi buruk, tidak damai dan tenang. Maka orang-orang pun akan berusaha sekuat tenaga agar tidak masuk racun pikiran ke dalam benaknya. Jika sudah masuk maka akan dilakukan detoksifikasi.

Lalu apakah bisa terjadi, keliru menganggap suatu obat sebagai racun? Bisa saja, ketika seseorang mempersepsikan bahwa yang sejatinya obat tapi dianggap tidak bermanfaat atau bahkan merusak tubuhnya. Alasannya, apakah memang karena ketidaksukaan, ketidaktahuan karena belum dapat pengetahuannya, malas mencari ilmunya atau karena memang tidak mau tahu.

Yang meyakini Islam sebagai sebuah obat berbagai problem kehidupan, sebuah konsep pelipur lara di dunia dan akhirat juga sebagai sebuah tatanan yang menyehatkan masyarakat tidak akan ragu meneguk setiap tata aturan (Syariat)nya. Namun, pada kenyataannya, ternyata tidak semua mensikapi seperti ini. Terutama ketika masuk dalam pembahasan Islam ideologi. Islam yang paripurna menyeluruh. Islam yang diamalkan dalam mengatur tata aturan publik termasuk pemerintahan dan kekuasaan.

Lalu apakah media massa sebagai bagian dari komponen berpengaruh dalam masyarakat terlibat Islamophobia menganggap Islam ideologi sebagai racun? Hingga dipelintir dan diberi angle tertentu, yang akhirnya masyarakat melihat frame Islam yang tidak lagi hakiki?

Jika media massa, baik itu mainstream atau yang bukan, berupaya menyembunyikan, menutupi, memecah belah, mengkotak-kotak, memelintir dan tidak mengetengahkan wajah Islam yang sebenarnya hingga membuat hoax dalam berbagai bentuk, maka media seperti ini, tak diragukan lagi masuk kategori yang menjadikan Islam ideologi sebagai racun. Menganggap jika mengusung Islam ideologi maka akan mengancam ideologi kapitalisme dan konglomerasi media.

Dr. Belinda F. Espiritu menyampaikan,"There is a current obsession in mainstream media and academic discourse pertaining to Islam and the West. This current obsession is tinged with negative signifiers with the global media’s predominantly negative portrayal of Islam and Muslims, depicting Muslims generally as violent, fanatical, bigoted, or as extremists and terrorists" (Ada obsesi saat ini di media mainstream dan wacana akademik yang berkaitan dengan Islam dan Barat. Obsesi saat ini diwarnai dengan penanda negatif dengan media global didominasi penggambaran negatif tentang Islam dan Muslim, yang menggambarkan Islam umumnya sebagai kekerasan, fanatik, atau sebagai ekstrimis dan teroris.) (www.globalresearch.ca). Sairra Patel pun dalam artikelnya "Young Women Speak : A Message to the Media" berpesan agar media tidak hanya menampilkan dua stereotip Muslim. Stereotip yang pertama adalah Muslim yang selalu memuji karakter yang konformis Barat, benar-benar mengadopsi nilai-nilai dan budaya Barat, masih ada tanda-tanda identitas agama atau etnis mereka, dan harus ada isu latar belakang budaya. Stereotip yang kedua adalah yang fanatik, dan identik dengan agama kekerasan. (http://www.themodernreligion.com/)                                                                
Yang dianggap fanatik ini adalah yang mengkritik neo-imperialisme, kapitalisme global, kebijakan dan kekuasaan zhalim. Disebut sebagai pemecah bangsa dan mengancam ketahanan nasional. Pada akhirnya, masyarakat terbelah dan saling tuding hingga pada level kekerasan.

Padahal, ada gambaran Muslim sejati yang menampilkan wajah Islam sebenarnya. Menciptakan perdamaian namun tetap memberi sanksi yang tegas dan adil bagi para perusuh dan perusak. Tata aturan ibadah individu diserahkan pada masing-masing penganut. Namun Islam secara utuh pun memiliki tata aturan publik yang mengayomi dan mensejahterakan semua pihak. Jika rela diatur dengan Islam dalam pemerintahan, maka keadilan yang sudah tersistem adalah jaminan.

Fakta sekilas ini menjadi pembelajaran bagi media untuk menjadikan Islam ideologi sebagai obat dan disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak melakukan detoksifikasi karena menganggapnya sebagai racun, lalu menjadi pendengki dan pendendam. Tidak perlu takut terancam konglomerasi media dan status quonya. Karena Islam menawarkan yang jauh lebih baik. Pemirsa dan penyimak media pun harus menjadi smart citizen untuk memilah framing dan angle news yang tepat dan tidak. Bahkan, akan lebih tepat jika menjadi opinion maker atau pembuat berita dengan mencerdaskan masyarakat mengenai "The Truth of Islam" atau Islam yang sebenarnya.

Wallahu a’laam bisshawwaab.[]


Oleh :
Ustadzah Rina Komara
(Koordinator Lajnah Khusus Ulama dan Mubalighah Muslimah DPD I HTI Jawa Barat)

Belakangan ini, kita dikagetkan dengan pernyataan Kapolri yang menyebut fatwa MUI menjadi ancaman keberagaman dan kebhinekaan. Bagaimana tidak, fatwa yang dimaksud merupakan hasil pengkajian para ulama terhadap sebuah perkara berdasarkan pemahaman mereka terhadap al-Qur’an, as-Sunnah, ijma shahabat ataupun qiyas. Secara telanjang pengkajian para ulama tersebut dipandang Kapolri sebagai sebuah kesalahan.

Kejadian tidak mengenakkan pun terjadi di Kalimantan, saat segerombolan orang yang mengatasnamakan Dewan Adat Dayak (DAD) menolak kedatangan Wasekjen MUI, Tengku Zulkarnain, saat mendarat di Bandara Susilo, Kab. Sintang (Kalimantan Barat) pada 12 Januari lalu. Padahal, Tengku Zulkarnain datang ke Kalimantan dalam rangka memenuhi undangan Bupati Sintang untuk berceramah dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Beberapa hari yang lalu, Ahok melaporkan Irene Handono setelah beliau menjadi saksi dari pihak pelapor dalam sidang penodaan agama di Jakarta pada 3 Januari lalu. Begitu juga dengan Habib Rizieq Shihab yang dilaporkan Sukmawati Soekarnoputri ke polisi atas tuduhan menghina Pancasila.

Apa yang terjadi terhadap para ulama tersebut menunjukkan – dengan keulamaannya - ada upaya kriminalisasi terhadap mereka. Ulama yang sejatinya dalam posisi yang mulia, justru diposisikan sebagai pelaku kriminal yang layak dijadikan pesakitan. Mari kita perhatikan bagaimana Islam memposisikan para ulama.

Pertama, ulama menjadi lambang keimanan, menjadi tumpuan dan harapan umat karena selalu memberi petunjuk yang bersumber dari Islam. Keberadaannya laksana penerang dalam kehidupan. Mereka adalah pewaris para nabi (waratsatul anbiya). Kedudukan mereka dijelaskan oleh Nabi saw. di dalam haditsnya,

إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِى الأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِى السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا فِى ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الهُدَاةُ

”Sesungguhnya perumpamaan ulama di muka bumi laksana bintang-bintang yang ada di langit yang menerangi gelapnya daratan dan lautan. Apabila padam cahaya bintang-bintang, maka jalan akan kabur” (HR. Ahmad)

Di dalam hadits yang lain Rasulullah saw. bersabda :

وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ

“Sesungguhnya kedudukan seorang alim dibandingkan ahli ibadah seperti kedudukan bulan di antara bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Menurut Imam Nawawi al Bantani, ulama adalah hamba Allah yang beriman, menguasai ilmu syariat secara mendalam dan memiliki pengabdian yang tinggi semata mata karena mencari keridhaan Allah SWT, bukan keridhaan manusia. Dengan ilmunya, mereka mengembangkan dan menyebarkan agama yang haq, baik dalam masalah ibadat maupun muamalah.

Kedua, ulama adalah orang-orang yang sangat takut kepada Allah SWT, baik di dalam hati, ucapan maupun perbuatannya, dan berpegang teguh kepada aturan Allah SWT. Firman Allah SWT :

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya di antara hamba-hambaNya yang takut kepada Allah hanyalah ulama” (TQS. al-Fathir [35] : 28)

Ketiga, mereka tidak pernah mendiamkan, menyetujui dan mendukung kezhaliman dan siapapun yang berbuat dzalim. Allah SWT  berfirman :

وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang berbuat zhalim, yang menyebabkan kalian disentuh api neraka dan tidak ada bagi kalian pendukung selain Allah, kemudian kalian tidak akan ditolong” (TQS. Huud [11] : 113)

Dengan posisi mulia para ulama tersebut, sangat memungkinkan jika kriminalisasi ulama memiliki beberapa tujuan, diantaranya :

Pertama, untuk semakin menjauhkan ulama dari umat Islam. Dengan kriminalisasi terhadap para ulama, kepercayaan umat terhadap mereka akan luntur. Jika sudah terjadi demikian, umat tidak akan mau dekat-dekat dengan para ulama . Lebih jauh lagi, umat akan menjauh dari ajarannya. Ulama yang sejatinya menjadi petunjuk bagi umat dalam mengarungi kehidupan, menjelaskan mana yang halal dan mana yang haram, justru dicerabut kepercayaannya dari umat. Ujung-ujungnya, umat semakin terbodohkan dan mudah dibodohi, tidak bisa membedakan mana yang halal dan mana yang haram. Ini sangat jelas saat MUI belum mengeluarkan fatwa haramnya menggunakan atribut agama tertentu. Umat Islam yang tidak paham keharamannya, dengan lugu ikut-ikutan melakukannya dengan alasan toleransi, sedangkan yang sudah paham dengan terpaksa melakukannya gara-gara takut diberi sanksi oleh atasannya. Lain halnya ketika MUI mengeluarkan fatwa yang menjadi tuntunan bagi mereka, yang tidak paham menjadi paham, dan yang sudah paham semakin kuat untuk menentukan sikapnya. Jika para ulama dijauhkan kesempatannya dalam membina umat Islam, bagaimana nasib mereka dalam  kehidupan beragama mereka? Lebih dari itu, upaya penegakkan syariah Islam yang gaungnnya sudah semakin besar, bukan tidak mungkin akan mendapatkan penentangan dari umat Islam sendiri akibat ketidakpahaman mereka terhadap kewajiban penerapan ajaran Islam secara kaffah.

Kedua, untuk mengebiri kekritisan ulama terhadap kedzaliman dan kesewenangan penguasa. Ketika penguasa semakin represif terhadap para ulama, sangat mungkin terjadi ulama hanya diam terhadap kedzaliman dan kesewenangan yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya. Penerapan hukum-hukum Allah yang sejatinya dilakukan oleh negarapun hanya tinggal impian, karena tidak ada pihak yang mengoreksi dan menjaga penguasa untuk melaksanakan kewajiban ini. Padahal Allah SWT telah memerintahkan mereka untuk menghukumi rakyatnya dengan hukum-hukum yang diturunkan Allah SWT kepada mereka. Firman Allah SWT :

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُون

"Dan (hendaklah) engkau memutuskan perkara di antara mereka dengan apa yang Allah turunkan, dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memperdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (TQS al-Maidah [5] : 49)

Imam al-Ghazali menyatakan, ”Dulu tradisi para ulama mengoreksi dan menjaga para penguasa untuk menerapkan hukum Allah SWT. Mereka mengikhlaskan niat. Pernyataannya pun membekas di hati. Namun, sekarang terdapat penguasa yang zhalim tetapi para ulama hanya diam. Andaikan mereka bicara, pernyataannya berbeda dengan perbuatannya sehingga tidak mencapai keberhasilan. Kerusakan masyarakat itu akibat kerusakan penguasa dan kerusakan penguasa akibat kerusakan ulama. Adapun kerusakan ulama akibat digenggam cinta harta dan jabatan. Siapapun yang digenggam cinta dunia niscaya tidak akan mampu menguasai kerikilnya, apalagi untuk mengingatkan para penguasa dan para pembesar (Ihya ’Ulumuddin, juz 7, hal 92)

Tentu apa yang dinyatakan oleh Imam Al-Ghazali terkait diamnya para ulama jangan sampai terjadi. Karena diamnya ulama hanya akan berdampak pada kerusakan rakyatnya, baik akibat kedzaliman dan kesewenangan penguasa, ataupun karena tidak diterapkannya syariah Islam oleh penguasa. Cukuplah kiranya peringatan Allah SWT akan dampak dari hal ini,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

"Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan  sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (TQS. ar-Ruum [30] : 41)

Para mufassir menafsirkan kata "bimaa kasabat aidinnaas" dengan "bima’aasyinnaas" (karena maksiyat manusia), yaitu dengan ditinggalkannya perintah Allah, sedangkan larangan-Nya justru dilaksanakan.

Oleh karena itu, kriminalisasi terhadap para ulama sangat berbahaya bagi umat, baik bagi kehidupan dunianya ataupun kehidupan akhiratnya. Namun patut disadari, bahwa kriminalisasi terhadap para ulama hanya akan terjadi dalam sistem kapitalisme-sekuler yang sangat menjunjung tinggi kebebasan. Upaya mengenyahkan sistem busuk inilah yang akan menjauhkan kriminalisasi terhadap para ulama. Sebaliknya, posisi para ulama yang mulia akan tetap terjaga dalam sistem yang mulia. Sistem tersebut tidak lain adalah sistem Islam yang diturunkan oleh Dzat Yang Maha Mulia, Dialah Allah SWT. Wallahu a’lam. []





Sebuah fenomena menyeramkan terekam oleh kamera. Dilansir dari Dailymail, (26/1/2017), hal ini terjadi di sepanjang jalan bebas hambatan di Houston, Texas, Amerika Serikat.

Saat itu secara tiba-tiba ribuan burung hitam tampak memenuhi langit yang gelap.

Video tersebut direkam oleh salah seorang pengemudi yang menyaksikan sendiri saat kawanan burung hitam itu ramai-ramai menyerbu kota dengan pola terbang yang tidak teratur.



Bahkan burung-burung itu terbang dengan ketinggian yang sangat rendah hingga membuat para pengemudi melambatkan laju kendaraannya.

Dalam video tersebut ribuan burung itu juga terdengar mengeluarkan suara yang menakutkan seperti sedang membawa kabar buruk.

Kawanan burung ini tampak seperti sebuah adegan dari film horor tahun 1963 karya Alfred Hitchcock, The Birds.

Ditambah lagi kondisi langit ketika itu memang sedang gelap sehingga membuat suasana nampak seperti film horor.

Sampai saat ini belum diketahui kenapa kawanan burung hitam itu tiba-tiba menyerbu kota saat langit sedang gelap.


Simak video-nya berikut ini! [Bito]




Aksi menentang kebijakan Presiden AS Donald Trump soal imigrasi dan pengungsi digelar di London dan beberapa kota Inggris lainnya.

Ribuan orang bergabung dalam aksi unjuk rasa di London, Senin (31/1/2017) malam, menentang kebijakan Presiden Donald Trump yang menghentikan sementara program pengungsi dan melarang warga tujuh negara berpenduduk mayoritas Muslim masuk ke negara itu.

Di London, demonstrasi digelar di depan kediaman resmi Perdana Menteri Inggris, 10 Downing Street, tak jauh dari tujuan wisata Big Ben dan Alun-alun Trafalgar.

Unjuk rasa di London merupakan salah satu dari aksi bersama di sekitar 30 kota di Inggris, seperti Manchester, Glasgow, Cardiff, Newcastle, Sheffield, dan Oxford.

Perintah eksekutif Presiden Trump melarang warga dari tujuh negara berpenduduk mayoritas umat Islam -Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman- datang ke Amerika Serikat dianggap sebagai kebijakan yang rasis.

Presiden Trump juga menghentikan program penerimaan pengungsi selama 120 hari dan larangan total kepada para pengungsi asal Suriah masuk ke AS.


"Saya di sini karena Presiden Donald Trump amat sangat berbahaya dan pria yang sangat tidak menyenangkan," kata pria ini lewat poster buatannya sendiri.

Para pengunjuk rasa dari berbagai latar belakang bersatu untuk mengungkapkan kemarahan kepada Presiden Donald Trump.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May -pemimpin dunia pertama yang melakukan pertemuan dengan Presiden Trump- juga menjadi sasaran kecaman pengunjuk rasa.

Jumlah orang yang menyatakan di Faceboook akan bergabung dengan unjuk rasa anti-Trump di beberapa kota Inggris mencapai 25.000 namun diperkirakan jumlah sebenarnya bisa lebih besar. [netralnews]



Minggu (29/01/2017). Dalam rangka sosialisasi Al-Liwa dan Ar-Rayah kepada masyarakat luas khususnya berkunjung ke Ustadz Nurul Fahmi, Habib Khalilullah dan Abu Salman sebagai wakil dari HTI DPC Duren Sawit silaturahmi di kediaman beliau di Tanah 80. Pentingnya sosialisasi tentang kalimat tauhid adalah karena kurangnya pengetahuan mengenai bendera Rasul yaitu bendera Islam yang bertuliskan kalimat tauhid di atas bendera hitam atau putih. Seperti yang diucapkan oleh Ustadz Nurul Fahmi bahwa, “Bila tidak mengakui kalimat tauhid, maka bapak tidak bisa masuk surga.” []Jakarta/mafs




BDG.NEWS, Jakarta - Pertanyaan tim pengacara terdakwa penistaan Agama, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang mempertanyakan keputusan dan sikap keagamaan yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dijawab tegas Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin bahwa persoalan Ahok tidak hanya cukup ditegur. Karena persoalan tersebut termasuk isu nasional sehingga berpotensi menimbulkan kegaduhan. “Ini sudah isu nasional. Sehingga bukan lagi masalah daerah dan sifatnya sudah nasional yang juga berpotensi menimbulkan kegaduhan yang bersifat nasional,” kata KH Ma’ruf Amin di Gedung Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (31/1). Kuasa hukum Ahok kembali menanyakan apakah keputusan dan sikap keagamaan MUI pusat tidak bertentangan dengan teguran yang dikeluarkan MUI DKI Jakarta sebelumnya.

“Bukankah (teguran) itu sudah merujuk pada Al Maidah 51?,” cecar kuasa hukum Ahok. Menjawab pertanyaan tersebut, KH Ma’ruf merespon bahwa teguran yang dikeluarkan MUI DKI Jakarta belum menjawab tuntutan masyarakat. Oleh Karena itu MUI pusat mengeluarkan keputusan dan sikap keagamaan dasar penegakan hukum positif oleh pihak Kepolisan. “Teguran itu belum menjawab tuntutan masyarakat. Dan kemudian masyarakat berharap bisa ditindaklanjuti dengan masalah hukum sehinggga dianggap cukup,” tegasnya.

Ditambahkan KH Ma’ruf, bersama 4 komisi yakni komisi fatwa, pengkajian, perundangan dan informasi komunikasi (infokom), MUI tidak membahas isi kandungan ataupun tafsir melainkan fokus pada satu kalimat yang diucapkan Ahok, yakni yang menggunakan surat Al-Maidah sebagai alat untuk Berbohong. “Kami tidak membahas kandungan isi dan tafsir Al Maidah. Yang kami bahas hanya ucapan terdakwa,’ tegas Ma’ruf. Masih dijelaskan KH Ma’ruf, keempat komisi tidak memerlukan pembahasan dari keseluruhan video. “Satu kalimat saja. Tidak ada masalah yang perlu pembahasan dari keseluruhan video. Kesimpulannya bahwa terdakwa mengatakan Alquran sebagai alat untuk kebohongan dan itu merupakan itu penghinaan,” ungkapnya.

Sumber : kiniNEWS
Editor   :  Hadi Rasyidi

Oleh : Abu Nusaibah Royatul Islam

Di mana ada kematian, di situ ada kehidupan. Di mana ada kegelapan, di situ ada cahaya. Di mana ada cerita horor, di situ ada legenda.

Semoga Allah Memberikan Rahmat dan Berkah Pada Utsman Badar, Syabab Hizbut Tahrir Australia Yang Telah Menceritakan Heroisme Brigade Royatul Islam di Aleppo. Semoga Allah Menyempurnakan Pahala Syahid Pada Seluruh Anggota Brigade Royatul Islam. Aaamiinnn.

Sabtu (21/01/2017) dini hari, sebanyak 36 syabab berkumpul untuk yang pertama dan terakhir kali menjelang pendakian Gunung Tertinggi Jawa Barat, Ciremai 3.078 mdpl. Sebelumnya, mereka hanya berkoordinasi melalui media sosial dan mempersiapkan diri dari daerah masing-masing. Mereka berasal dari Bandung, Cirebon, Kuningan, Jakarta, dan Bekasi.

Salah satu penginapan di Jln. Kanggraksan, Cirebon, menjadi saksi bisu misi gabungan yang dilakukan oleh para syabab pemberani tersebut.

Mereka bukanlah pendaki profesional, mereka bukanlah pasukan terlatih, mereka juga bukan pemuda kuat berdada bidang dan berotot tebal. Mereka adalah pengemban dakwah, orang-orang yang yakin terhadap Mabda Islam, yang merindukan Syariah dan Khilafah tegak di muka bumi. Beberapa di antara mereka adalah Dedi Saptaiji (56 tahun), Muhammad Indra Themmy (54 tahun), Dadan Hendarsah (50 tahun), dan Ilham Zairi (15 tahun).

Mereka semua, dihadapkan pada salah satu gunung paling terkemuka di Indonesia. Gunung yang menyimpan banyak cerita, baik mengenai keindahannya maupun tentang para pendaki yang mesti kehilangan nyawanya.

Sebelum 36 syabab tersebut mendaki Gunung Ciremai, mereka berkumpul untuk mendapatkan penjelasan teknis terkait pendakian dari Ketua Misi Royatul Islam, Aconk Haryadi, Wakil Ketua Misi, Tachta Rizqi Yuandri, dan Ketua Divisi Peserta, Rahmat Supriatna (Brand). Mereka bertiga menyampaikan sejumlah pesan penting untuk diperhatikan, terutama terkait skenario pendakian.

Pekik takbir menggema di tengah kegembiraan menyambut kemenangan yang hampir tiba. Doa dan dzikir dilantunkan pada detik detik sepertiga malam terakhir. Berharap Allah dan malaikatNya menjadi penjaga mereka, pembawa Kalimat Tauhid, pengusung Al Liwa dan Ar Rayah.

Setelah melakukan rapat teknis dan mendirikan sholat tahajud, seluruh anggota misi pun berangkat sesuai regu masing-masing.

Misi Royatul Islam adalah misi mengibarkan Al Liwa (Bendera Islam) Raksasa 5x7 meter dan Ar Rayah (Panji Islam) Raksasa yang juga berukuran sama. Pendakian tersebut bukanlah pendakian biasa, karena dilakukan melalui tiga jalur pendakian secara sekaligus.

Jalur Palutungan didaki oleh Regu Al Islam (14 anggota) yang bertugas membawa peralatan dokumentasi. Jalur Apuy didaki oleh Regu Al Liwa (11 anggota) yang bertugas membawa Al Liwa Raksasa. Sementara Jalur Linggarjati didaki oleh Regu Ar Rayah (11 anggota) yang bertugas membawa Ar Rayah Raksasa.

Pendakian melalui tiga jalur terinspirasi oleh Perang Badar dan Fathu Makkah. Pada Perang Badar, Umat Islam dihadapkan pada dua pilihan, dibinasakan Kaum Musyrikin atau mendapatkan Pertolongan Allah. Sementara ketika Umat Islam telah mendapatkan Pertolongan Allah, mereka terus berjaya hingga akhirnya bisa membebaskan Kota Mekah dan memasukinya dari tiga penjuru.

Pasukan Islam datang dari 3 penjuru dengan masing-masing pasukan dipimpin oleh Khalid bin Walid, Zubair bin Awwam, dan Abu Ubaidah bin Al Jarrah.

Bercermin dari hal di atas, maka keberhasilan Misi Royatul Islam, selain ditunjang oleh persiapan yang matang dan maksimal, juga ditentukan oleh turunnya Pertolongan Allah. Oleh karena itu, para pendaki adalah mereka yang meyakini Islam sebagai mabda dan meyakini Allah sebagai sumber kekuatan, satu-satunya pemberi pertolongan.

Apakah kamu mengira akan masuk surga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.
(QS. Al Baqarah 214)

Ternyata, memang pertolongan Allah tidak gratis. Selama pendakian, Dia terus membeli upaya terbaik setiap individu untuk imbalan diberikannya pahala terbaik dan pertolongan-Nya. Sebelum Misi Royatul Islam diberikan Pertolongan Allah dan dimenangkan oleh-Nya, berbagai ujian menimpa setiap regu. Cedera kaki, dehidrasi, kekurangan makanan, hipotermia, tersesat, hingga hampir melayangnya nyawa salah seorang anggota misi.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Ustadz Felix Siauw terhadap seluruh anggota misi sebelum melakukan pendakian, berbagai ujian ukhuwah dan godaan putus asa juga kerap menghinggapi selama perjalanan misi.

Namun demikian, semua itu berhasil dilewati, seluruh anggota Misi Royatul Islam berhasil mencapai Atap Jawa Barat. Al Liwa Raksasa dan Ar Rayah Raksasa pun berhasil dikibarkan. Seluruh peristiwa yang dialami oleh 36 Anggota Misi Royatul Islam, akan menjadi kisah yang tidak terlupakan. Perjuangan selama sekitar 48 jam di Gunung Tertinggi Jabar, menjadi kenangan manis. Kemenangan Bendera Islam dan Panji Islam di Atap Jawa Barat, akan hidup selamanya bersama kenangan Brigade Royatul Islam di Aleppo.

Wahai kaum mukmin, sekali-kali kalian jangan beranggapan bahwa para mujahid yang terbunuh ketika membela Islam itu mati. Mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka, dan selalu memperoleh rahmat. Para syuhada selalu gembira dengan rahmat yang Allah berikan kepada mereka. Para syuhada selalu diberi kabar gembira tentang saudara-saudaranya yang akan menyusul sesudah mereka. Para syuhada tidak mempunyai rasa takut menghadapi musuh, dan tidak mempunyai rasa sedih kehilangan jiwa dan harta mereka. Para syuhada selalu digembirakan dengan nikmat Allah dan karunia-Nya. Sungguh Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang-orang mukmin.
(QS. Ali Imran 169-171)

Keberhasilan misi ini, menjadi bukti. Dengan berbagai keterbatasan sekalipun, ketika persiapan dilakukan dengan serius dan matang, ketika doa-doa telah dipanjatkan, ketika fisik dan mental telah dikerahkan hingga batas maksimal, ketika tiada lagi daya dan upaya yang dapat dilakukan manusia, maka segalanya mudah bagi Allah.

Saudaraku, Syabab dan Syabah di manapun kalian berada. Demi Allah, berjuanglah, bertahanlah, hingga kita dimenangkan oleh Allah, atau binasa dalam perjalanan menuju kemenangan. Kisah mengenai 36 pendaki mungkin hanya main-main dibandingkan perjuangan kalian, terlebih jika dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para syuhada. Akan tetapi, inilah yang sementara dapat mereka lakukan, hingga Allah memberikan mereka kesempatan untuk mengikuti langkah para syuhada, memurnikan jiwa dan darah mereka dengan politik luar negeri yang hakiki, dakwah dan jihad.

Inilah kisah mereka

Bersambung...



Oleh :
K.H. Hafidz Abdurrahman

Suatu ketika Rasulullah saw. melihat Fatimah ra., puteri tercintanya itu sedang menggiling gandum sambil menangis. Rasulullah pun menghampirinya, seraya bertanya mengapa dia menggiling gandum sambil menangis. Dengan terbata-bata, Fatimah menuturkan kepada ayahandanya bahwa pekerjaan menggiling gandum dan semua pekerjaan rumah tangga yang dilakukannya setiap hari membuat dirinya bosan. Makanya ia menangis.

Mendengar cerita puteri kesayangannya itu Nabi saw. pun segera mengambil penggilingan gandum tersebut sambil mengucapkan Bismillah. Ajaibnya, atas izin Allah SWT tiba-tiba penggilingan gandum itu berputar sendiri. Lalu terdengar dari penggilingan yang terbuat dari batu itu BERTASBIH sambil menggiling gandum yang dilemparkan Rasulullah saw. Tak begitu lama penggilingan itu berputar, Rasulullah saw. memintanya berhenti. Atas izin Allah SWT seketika penggilingan itu pun berhenti sendiri. Allahu akbar..

Nabi saw. pun menoleh ke arah Fatimah, puteri tercintanya itu seraya bersabda, “Jika Allah menghendaki, penggilingan itu akan berputar sendiri untuk puteriku. Tapi itu terjadi karena Allah menghendaki beberapa kebaikan yang ditulis dan beberapa kesalahan yang dihapuskan dari Fatimah dan dinaikkan-Nya untuk puteri Nabi itu beberapa derajat lebih tinggi."

Nabi saw. pun tak lupa menyelipkan nasehat kepada putrinya, Fatimah, dengan menjelaskan beberapa kebaikan (pahala) yang bakal diperoleh setiap wanita (isteri), jika dia ikhlas dengan penuh kesabaran menjalankan tugas dan tanggung jawab kehidupan rumah tangganya. Nabi mengingatkan, “Jika seorang wanita melayani suaminya sehari semalam dengan baik, tulus, ikhlas serta dengan hati yang benar, Allah akan mengampuni segala dosanya dan akan dicatat untuknya dari setiap helai bulu dan rambut yang ada pada tubuhnya dengan seribu kebaikan dan dikaruniakan seribu pahala haji dan umroh.” (HR. Abu Daud)

Rasulullah saw. bersabda kembali, “Ketika seorang suami pulang ke rumah, kemudian isteri menyambutnya dengan senyuman, dan bersegera mengulurkan tangannya untuk mengambil tangan suaminya, maka dosa-dosa mereka berdua serta merta berguguran sebelum kedua tangan mereka dilepaskan.” (HR. Abu Daud)

Allaahu Akbar..
Subhanallah, walhamdulillah, betapa mudah jalan menuju surga bagi seorang isteri. Betapa mudah bagi seorang isteri mendapatkan ridha suaminya. Dengannya ridha Allah pun ia dapat.

Pesan Nabi saw. kepada puterinya :

“Fatimah, kepada wanita yang membuat tepung untuk suami dan anak-anaknya, Allah pasti akan menetapkan kebaikan baginya dari setiap biji gandum, melebur kejelekan dan meningkatkan derajat wanita itu.”

“Fatimah, kepada wanita yang berkeringat ketika menumbuk tepung untuk suami dan anak-anaknya, niscaya Allah menjadikan dirinya dengan neraka tujuh tabir pemisah.”

“Fatimah, tiadalah seorang yang meminyaki rambut anak-anaknya lalu menyisirnya dan mencuci pakaiannya, melainkan Allah akan menetapkan pahala baginya seperti pahala memberi makan seribu orang yang kelaparan dan memberi pakaian seribu orang yang telanjang.”

“Fatimah, tiadalah wanita yang menahan kebutuhan tetangganya, melainkan Allah akan menahannya dari minum Telaga Kautsar pada hari kiamat nanti.”

“Fatimah, yang lebih utama dari seluruh keutamaan di atas adalah keridhaan suami terhadap istri. Andaikata suamimu tidak ridha kepadamu, maka aku tidak akan mendoakanmu. Ketahuilah wahai Fatimah, kemarahan suami adalah kemurkaan Allah.”

“Fatimah, bila wanita mengandung, malaikat akan memohonkan ampunan untuknya, dan Allah menetapkan baginya setiap hari seribu kebaikan serta melebur seribu kejelekan. Ketika wanita merasa sakit saat akan melahirkan, Allah menetapkan pahala baginya sama dengan pahala para Mujahidin di jalan Allah. Jika dia melahirkan, maka bersihlah dosa-dosanya seperti ketika dia dilahirkan dari kandungan ibunya. Bila dia meninggal saat melahirkan, dia tidak akan membawa dosa sedikitpun. Di dalam kubur akan mendapat taman indah yang merupakan bagian dari taman surga. Allah akan memberikan pahala kepadanya sama dengan pahala seribu orang yang melaksanakan ibadah haji dan umrah, dan seribu malaikat memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat.”

“Fatimah, tiadalah wanita yang melayani suami selama sehari semalam dengan rasa senang serta ikhlas, melainkan Allah mengampuni dosa-dosanya serta memakaikan pakaian padanya di hari kiamat berupa pakaian yang serba hijau, dan menetapkan baginya setiap rambut pada tubuhnya seribu kebaikan. Allah memberikan kepadanya pahala seratus kali beribadah haji dan umrah."

“Fatimah, tiadalah wanita yang tersenyum di hadapan suami, melainkan Allah memandangnya dengan pandangan penuh kasih.”

“Fatimah, tidaklah wanita yang membentangkan alas tidur untuk suami dengan rasa senang hati, melainkan para malaikat yang memanggil dari langit menyeru wannita itu agar menyaksikan pahala amalnya, dan Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.”

“Fathimah, tiadalah wanita yang meminyaki kepala suami dan menyisirnya, meminyaki jenggot dan memotong kumisnya, serta memotong kukunya, melainkan Allah memberi minuman arak yang dikemas indah kepadanya yang didatangkan dari sungai-sungai surga. Allah mempermudah sakaratul-maut baginya, serta kuburnya menjadi bagian dari taman surga. Allah menetapkan baginya bebas dari siksa neraka serta dapat melintasi shirathal-mustaqim dengan selamat.”

Begitulah, nilai ketaatan isteri kepada suaminya. Pengorbanan yang diberikannya tak akan sia-sia.

Semoga keluarga kita dihiasi dengan wanita-wanita mulia penghuni surga seperti Fatimah, yang akan dikumpulkan oleh Allah, di dunia dan akhirat. Aamiin..



BDG.NEWS, Bandung - Tidak benar bahwa dasar utama penegakan Khilafah karena mimpinya Syekh Taqiyyuddin An Nabhani, ungkap Ust Yuana (HTI Jawa Barat). Hal ini, disampaikan pada Pengajian Umum dan Diskusi Buku bertajuk, “HTI, Gagal Paham Khilafah” yang ditulis Makmun Rasyid Hari Jum’at kemarin di Galeri Ciumbuleuit Hotel.

Menurut Ust Yuana (HTI Jawa Barat), Makmun Rasyid mengambil dasar tersebut dari buku (tesis di Iraq) Ustadz Muhammad Muhshin Radhi, berjudul “Hizbut Tahrir Tsaqafatuhu Wa Manhajuhu” dan itu adalah bukan buku primer dan bukan buku adopsinya Hizbut Tahrir. Hal tersebut, tidak pernah disampaikan kepada Umat dan kader Hizbut Tahrir, bahwa dasar penegakan Khilafah atau kewajiban penegakan Khilafah adalah mimpinya Syekh Taqiyyudin An Nabhani. Meski mimpinya orang soleh itu biasa, walaupun di dalam kitabnya para ulama termasuk kakeknya Syekh An Nabhani membahas mengenai mimpi tersebut. 

Oleh karena itu, dasar penegakan Khilafah atau Kewajiban penegakkan Khilafah ini bukan karena mimpi. Melainkan fardhu kifayah, karena fardhu kifayah ini kenyataannya belum terwujud, yakni berupa tegaknya Khilafah, maka hukum menegakan Khilafah saat ini, telah menjadi fardhu ‘ain, yakni menjadi kewajiban setiap Muslim sesuai kemampuan masing-masing, bukan hanya kelompok tertentu seperti Hizbut Tahrir.

Report / Editor : Hadi Rasyidi



                                                 

BDG.NEWS, Bandung - Asep Syaripudin, koordinator Aksi Bela Ulama dan juga sebagai koordinator Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat, menegaskan bahwa dirinya siap berdebat dengan Sukmawati Soekarnoputri mengenai Pancasila untuk membela Imam Besar FPI, Rizieq Shihab.
Asep lantas menyebut pelaporan Sukmawati ke Polda Jawa Barat tidak memiliki landasan hukum yang jelas. Menurutnya, pelaporan itu dipaksakan.

"Laporan Ibu Sukmawati tidak berdasar, saya siap berdebat dengan Sukmawati," ungkap Asep di sela-sela aksi Bela Ulama di depan Gedung Sate, Bandung, Kamis (26/1).

Asep mengatakan, kasus Habib Rizieq yang dilaporkan atas tuduhan penistaan Pancasila dan pencemaran nama baik Presiden pertama RI Soekarno bukan sebagai kasus hukum, melainkan kasus itu sarat dengan muatan politik.

"Kita semua mengerti apa yang dialami Habib Rizieq itu bukan persoalan hukum, tapi persoalan politik yang dilakukan elit kekuasaan," tegas Asep.

Lebih lanjut, Asep menyebut, saat ini ada banyak upaya-upaya mengkriminalisasi para ulama termasuk Habib Rizieq yang banyak dilaporkan ke pihak kepolisian.

"Saya lihat ada upaya, sila ke 4 itu adalah gerakan daripada ulama, sekarang itu ada kerisauan dari orang orang sekuler dengan menguatnya pengaruh ulama, kemudian kalau misalkan ulama menguat, ini berimplikasi menguatnya kebangkitan Islam ini," tuturnya.

"Nah ini ada pihak pihak yang tidak setuju dan tidak rela Islam bangkit kembali, ulama berperan, sehingga kemudian ulama didiskriminasi," pungkas Rizieq. 


Sumber: jitunews
Editor : Hadi Rasyidi



Bdg.News, Jakarta -- Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Tito Karnavian mengatakan intoleransi keberagamaan menjadi tantangan tersendiri bagi insitusi Polri pada 2017.

Tito mengatakan, Aksi 411 dan Aksi 212 yang berlangsung di pengujung 2016 memberikan petunjuk yang harus diwaspadai. Peristiwa itu dianggap berpotensi menggerus kebinekaan dan berbahaya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

'Dua peristiwa penting Aksi 411 dan Aksi 212 walau ditangani dengan baik tapi menimbulkan indikator yang harus diwaspadai bersama. Ini menggerus toleransi, kebinekaan, dan berbahaya bagi NKRI," kata Tito saat memberikan sambutan Rapat Pimpinan Polri 2017 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan, Rabu (25/1)

Selain itu, Tito juga menyoroti polarisasi yang belakangan terjadi di tengah masyarakat. Menurutnya, Polri harus mewaspadai hal itu jelang penyelenggaraan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2017, 15 Februari mendatang.

Tito mengatakan, polarisasi yang terjadi di tengah masyarakat berpotensi melahirkan konflik serta mengganggu penyelenggaraan Pilkada Serentak 2017. Menurutnya, daerah yang rawan konflik dalam penyelenggaraan pilkada tahun ini adalah Aceh, Papua Barat, dan DKI Jakarta. "Kalau tidak ditangani baik, dampaknya panjang," kata Tito.

Jenderal bintang empat itu juga menyoroti situasi regional dan internasional, seperti peristiwa yang terjadi di Timur Tengah dan Amerika Serikat. Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerikan Serikat dianggap bakal memberikan dampak signifikan bagi dunia, termasuk Indonesia.

Menurutnya, salah satu dampak Donald Trump yang akan bersinggungan langsung dengan Indonesia berkaitan dengan upaya menghancurkan kelompok radikal Islam dan rencana menjalin kerja sama dengan Rusia untuk membasmi kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

"Kebijakan (Donald Trump) sekuat tenaga menekan dan menghancurkan kelompok radikal Islam dalam pidatonya jelas pengaruh ke Indonesia yang mayoritas masyarakatnya Muslim. Perlu diwaspadai," tutur Tito.

Sumber: CNN Indonesia





BDG.NEWS, Jakarta - WikiLeaks meminta seseorang untuk mengirimkan dokumen pajak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, agar bisa dibocorkan kepada publik.

"Penasihat Trump hari ini menuturkan tidak akan merilis dokumen pajak Trump. Maka, kirim dokumen pajak itu ke https://wikileaks.org/#submit sehingga bisa dipublikasikan," bunyi kicauan dari akun Twitter WikiLeaks, seperti dilansir The Independent, Selasa (24/1).

Keinginan ini muncul setelah penasihat Trump, Kellyanne Conway, mengatakan bahwa sang presiden tidak akan pernah merilis dokumen pajak itu kepada publik, meskipun selama ini masyarakat sudah mendesak.

"Dia [Trump] tidak akan merilis dokumen pajaknya. Kami memastikan pembayaran pajak Trump sudah sesuai hukum saat pemilu kemarin. Rakyat Amerika juga tidak peduli," tutur Conway. 

Pernyataan Conway ini muncul setelah ratusan ribu orang menandatangani petisi yang mendesak Trump mempublikasikan riwayat pembayaran pajaknya.

Sejak 1976, setiap presiden AS, bahkan pejabat publik lainnya, selalu mempublikasikan dokumen pembayaran pajak dan bisnis mereka.

Pendiri WikiLeaks, Julian Assange, mengatakan bahwa sikap Trump yang tidak transparan ini lebih buruk ketimbang rivalnya saat kampanye, Hillary Clinton.

"Pelanggaran Trump terhadap janji untuk merilis data pajaknya ini bahkan lebih serampangan dari tindakan Clinton menyembunyikan pidatonya ke Goldman Sachs," tutur Assange.

Saat masa kampanye, WikiLeaks pernah meretas surat elektronik ketua kampanye Clinton, John Podesta, yang salah satunya berisi transkrip pidato untuk dibacakan di sebuah acara yang digelar Goldman Sachs.

Pidato itu dilaporkan menyinggung mengenai peran Wall Street dalam regulasi finansial, hubungan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, hingga kerugian yang dialami Kementerian Luar Negeri AS akibat pembocoran dokumen oleh WikiLeaks.(CNNIndonesia)

Editor : Hadi Rasyidi




BDG.NEWS, Jakarta - Bangsa Indonesia masih trauma dengan komunisme. Sayangnya, Polri dinilai mulai tidak sensitif soal komunisme.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengingatkan, Polri harus menghargai sensitivitas umat Islam dan ulama menyangkut komunisme. Menurutnya, sejarah pemberontakan Gerakan 30 September 1965 menjadi pembelajaran bagi semua pihak.

"Mari kita sadarkan. Polri harus waspada bahwa bangsa kita takkan mudah menerima kembali komunisme," ujar Fahri dalam akun Twitter @Fahrihamzah disertai hashtag PaluArit, Selasa (24/1/2017).

Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menilai sensitivitas ABRI saat itu (sekarang TNI-red) tidak kalah dengan sensitiVitas kalangan Islam mengenai simbol palu dan arit. Polri kata dia, juga seharusnya memiliki sensivitas yang sama.

"Polri dulu adalah elemen dalam ABRI yang sangat sensitif dengan pemberontakan PKI," ucapnya. 


Sumber : Sindonews

Editor : Hadi Rasyidi




BDG.NEWS, Jakarta - Lurah Pulau Panggang Kepulauan Seribu Yuli Hardi yang menjadi saksi fakta pidato Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada September 2016, dihadirkan menjadi saksi dalam persidangan.

Yuli yang mengaku tidak fokus mendengar pidato Ahok yang menjeratnya menjadi terdakwa dugaan penoda agama, sempat ditanya hakim mengapa tidak melaporkan Gubernur DKI Jakarta nonakaktif tersebut ke kepolisiaan.

Menurutnya, sebagai seorang lurah Yuli tidak memiliki kapasitas untuk mengomentari pernyataan Ahok sebagai atasannya. Ia hanya dipanggil sebagai saksi oleh kepolisian.

Majelis hakim pun menyinggung salah satu pernyataan Yuli Hardi dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) saat ditanya apakah pidato Ahok berpidato benar atau salah.

Yuli Hardi menyebutkan 'sebagai lurah saya tidak bisa mengomentari apa yang disampaikan gubernur. Gubernur adalah atasan saya dan bukan kapasitas saya mengomentari pernyataan gubernur'.

"Mengapa Anda tidak tegas menjawab?" tanya anggota hakim dalam persidangan di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (24/1/2017).

Yuli Hardi beralasan hanya mengetahui dugaan penistaan agama itu melalui televisi. Sehingga ia tak dapat mengambil simpulan terkait pidato Ahok.

"Tidak. Saya dipanggil penyidik untuk menjadi saksi," kata Yuli.

"Saya sebagai bawahan tidak mungkin membenarkan atau menyalahkan atasan saya. Saya tidak mengatakan ada dugaan penistaan agama tapi saya lihat dari televisi," tambahnya.

Lebih lanjut Yuli menjelaskan, respons masyarakat pulau mendengar adanya informasi tersebut tidak semuanya satu suara. Sebab tidak semuanya setuju Ahok dinilai melakukan penistaan agama.

"Macam-macam (sikap masyarakat). Ada yang pro, kontra, dan cuek," katanya. (tribunnews)

Editor : Hadi Rasyidi





BDG.NEWS, Jakarta - Ketua umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto mengaku tak lagi respek dengan hasil penelitian lembaga survei terkait Pilgub DKI Jakarta 2017. Pasalnya hasil polling kerap berbeda dengan fakta sebenarnya dan survei hanya dijadikan senjata politik oleh masing-masing kandidat. 

"Saya anggap polling ini senjata politik dan dipakai oleh orang yang banyak duit. Jadi demokrasi Indonesia ini mau dibeli oleh orang yang banyak duit," ungkap Prabowo saat ditemui di rumahnya, Hambalang, Bojong Koneng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu, (22/1).

Prabowo menilai, lembaga survei kerap menggiring opini publik dan melakukan propaganda. 

"Saya anggap mereka-mereka itu alat propaganda, mau mencuci otak rakyat," ucap Prabowo.

Dia pun menceritakan pengalamannya yang pernah didatangi oleh salah satu direktur dari lembaga survei yang menawarkan kerja sama. Orang itu, kata dia, datang ke rumahnya di Hambalang dengan menggunakan mobil mewah untuk membuat perjanjian terkait Pilgub DKI Jakarta. 

"Ada yang datang ke sini, pakai Mercedez S Class. Tukang poling pakai Mercedez. Gue yang kontrak saja enggak punya Mercedez. Jadi ini bagi dia bisnis, tapi ini penting," kata dia.

"Tolong ya, kita sebagai anak bangsa, hai kau tukang polling, yang katanya ahli-ahli, jangan kau pakai keahlianmu untuk menipu rakyat demi kamu kaya," katanya dengan suara lantang. 

Dikatakan Prabowo, hal serupa juga dilakukan di luar negeri seperti pada pemilihan Presiden Amerika tahun lalu. Banyak lembaga survei yang mengatakan bahwa Hillary Clinton akan menjadi Presiden Amerika menggantikan Barack Obama. 

Namun sebaliknya, justru pesaingnya Donald Trump yang justru menang dalam Pilpres tersebut dan dilantik sebagai Presiden Amerika ke-45. 

"Jadi, pelajarannya bagi kita, hai rakyat Indonesia, marilah kita belajar, kita mulai melangkah dengan kebaikan saja lah. Jangan selalu mengakali-mengakali, rakyat dianggap bodoh," tegas Prabowo. 

Untuk itu, Prabowo pun lebih percaya kepada akar rumput yakni rakyat biasa ketimbang lembaga survei. 

"Saya percaya sama suara rakyat langsung. Saya bicara sama ratusan orang di RT. Puluhan ribu sekarang relawannya," tutup Prabowo. (merdeka)

Editor : Hadi Rasyidi




BDG.NEWS, Jakarta - Sastrawan Taufik Ismail angkat bicara terkait kondisi kebangsaan yang terjadi saat ini. Menurut Taufik, situasi banyak ulama menerima fitnah dan kriminalisasi merupakan pengulangan apa yang dilakukan oleh komunis pada tahun 60-an.

“Apa yang mereka lakukan sekarang pengulangan,” ujar Taufik dalam diskusi Aksi Bela Islam dan Ulama/Aktivis Islam Hadapi Kriminalisasi, di Masjid Baiturrahman, Jalan Dr Saharjo, Menteng Atas, Jakarta, Ahad (22/1).

Taufik menilai, ada kesamaan kondisi saat ini dengan usaha komunis ingin merebut kekuasaan. Seperti banyak pemimpin Islam yang difitnah dan berusaha memasukkan mereka ke dalam penjara.

Pada masa 60-an, kata dia, mereka berhasil memenjarakan pemimpin dan aktivis Islam seperti Buya Hamka dan Isa Anshary. Untuk itu, Taufik menegaskan, banyak cara yang dilakukan oleh komunis agar bisa merebut kekuasaan. “Sama dengan sekarang, berbagai macam alasan dicari,” katanya.

Menurut Taufik, komunis selalu gagal merebut kekuasaan pada tahun 60-an. Namun, kata Taufik, mereka tetap berusaha agar usahanya mencapai keberhasilan. 

Seperti diketahui belakangan ini banyak fitnah ditujukan kepada ulama atau pemimpin umat dan aktivis Islam. Bahkan, kata dia, ada yang yang sampai menjurus ke kriminalisasi. (republika)

Editor : Hadi Rasyidi



BDG.NEWS, Jakarta - Jokowi-Ahok adalah rezim bentukan Obama Demokrat via James Riyadi. Kampanye Ahok-Jarot mengadopsi model Hillary: sok pluralis, liberal, Pro LGBT, didukung mainstream media, menggunakan artis dan sebagainya. Semuanya serupa. Tapi gagal. Artis tidak punya pengaruh sedot massa. Cuma gaya-gayaan dan hura-hura. Yang punya umat adalah ulama dan ketua partai.

Pasca Hillary kalah, James bermanuver temui ulama NU. Banyak yang bilang dia cari perlindungan. Harry Tanoe diam-diam terus bermanuver: kasi gerobak Perindo kepada pedagang bakmi dan rokok di sekitar Jatinegara.

Target utama Trump adalah mematahkan expansi China. Putin sudah dirangkul. China sulit menang di Indonesia. Ahok berada di persimpangan jalan. Either way, pasti tumbang.

Para taipan berkolaborasi dengan otoritas politik memunculkan Ahok sebagi simbol pendekatan primordial dengan China. Tujuannya, menjilat Beijing. Agar Penguasa RRT membuka pasarnya bagi mereka. Namun alas, citra Beijing dan etnik Tionghoa di mata rakyat Indonesia malah runtuh akibat ulah pribadi Ahok.

Trump bisa memainkan kartu lama sentimen rasial Anti Tionghoa untuk menggebuk Beijing seperti aksi rasialis 10 Mei 1963 di Bandung. Ahok alat sempurna untuk itu. Pemerintah pusat bisa dengan mudah diobok-obok dengan menggunakan kartu Ahok 

Sumber : politik.rmol.co
Editor : Hadi Rasyidi




BDG.NEWS, Bandung - Pemkot Bandung bekerjasama dengan Perum Damri dan Yayasan Amal Terbaik meresmikan Dai Bus Kota di Masjid Raya Bandung, Minggu (22/1/17).

Sebagai kota yang Islami, Kota Bandung terus berupaya memberikan pelayanan yang maksimal di bidang religi. Tak hanya di tempat ibadah saja warga Bandung mendengarkan tausiah, tetapi di dalam bus kota pun sudah ada. Dai bus kota ini merupakan pelayanan dengan memberikan siraman rohani untuk penumpang di bus.

“Tujuannya biar kita tidak bosan dalam perjalanan. Biasanya dalam kendaraan yang didengar itu musik. Nah, sekarang kita berikan dakwah di dalam bus supaya penumpang merasakan suasana yang baru ketika dalam perjalanan,”jelas Miftah.

Dai Bus ini bertujuan agar penumpang bisa merasa nyaman dalam bus. Dalam waktu yang singkat pendakwah memberikan tausiah yang singkat padat dan mudah dipahami.

“Mudah-mudahan kegiatan dai bus kota ini terus berjalan. Kedepannya harus lebih semangat lagi, berikanlah dakwah yang menarik dan nilai islaminya pun terus dikembangkan,” ucap Miftah.

Manager Usaha Perum Damri Kota Bandung,Giarno menyampaikan, Perum Damri Kota Bandung mengoperasikan bus sebanyak 175 unit. “Dengan jumlah bus yang cukup banyak ini kita berikan ruang tausiah yang nyaman. Setiap bus kita berikan penceramah yang menyampaikan nilai nilai keislaman,”jelasnya.

Bus ini beroperasi meliputi beberapa trayek yang dilintasinya. “Jadi masing-masing trayek ada yang 15 unit dan 20, itu bervariasi saja, lihat situasi dan kondisi,”sebut Giarnoa. Ia menyebut ada 39 dai yang memberikan tausiah dalam bus kota ini.

“Jadwalnya tausiahnya setiap hari, cuman waktunya tidak ditentukan baik pagi siang ataupun sore hari. Jadi berapa bulan atau beberapa tahun kita lihat perkembangannya. Mudah mudahan program ini terus berkembang sehingga kota bandung semakin islami di bidang keagamaan,”pungkasnya.

Peresmian Dai Bus kota ini dilanjutkan dengan penyerahan SK dari Damri ke Yayasan Amal Terbaik. Seusai penyerahan dilanjut dengan seluruh peserta dan tamu bersama-sama dalam satu bus kota berkeliling sambil mendengarkan tausiah yang disampaikan Ustadz Soleh Muslim yang juga penulis buku “30 Ceramah di Dalam Bus.”

Sumber: balebandung
Editor : Hadi Rasyidi




BDG.NEWS, Bandung - Sebagian besar masyarakat Jawa Barat masih mengandalkan unggas untuk memenuhi kebutuhan protein hewani.

Kepala Bidang Produksi pada Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Provinsi Jawa Barat Abdullah FA mengatakan sebanyak 65 % masyarakat jawa barat masih mengandalkan unggas seperti ayam dan bebek sebagai asupan protein utama.

"Sampai saat ini konsumsi sumber protein selain unggas baik ikan maupun daging masih rendah, untuk merubahnya juga sulit dan butuh proses lama," tutur Abdullah, Minggu (22/1/2017).

Tingginya konsumsi unggas, kata Abdullah, menjadikan komoditi tersebut menjadi salah satu penyebab inflasi.

"Kalau ada permasalahan unggas seperti harga tinggi, yang terdampak adalah masyarakat, bisa inflasi," katanya.

Oleh sebab itu, peningkatan produksi harus dilakukan supaya kenaikan harga akibat ketersediaan barang kurang bisa diminimalisir.

Sebenarnya, lanjut Abdullah, produksi unggas terutama amam ras cukup tinggi bahkan melebihi kebutuhan.

Dia menyebutkan setiap tahun peternak di Jabar membesarkan sedikitnya 600 juta ekor DOC. "Dengan 600 juta ekor DOC, produksi daging yang dihasilkan itu surplus 200.000 ton daging/tahun," ungkapnya.

Namun karena sebagian besar ayam yang dihasilkan tidak semuanya dipasarkan di Jabar. "Pemasaran kita ke Jakarta," ucapnya.

Dengan produksi yang melebihi kebutuhan, lanjut Abdullah, peluang untuk melakukan ekspor unggas sangat besar, namun terlebih dahulu produksi harus ditingkatkan.

Sumber : ayobandung

Editor: Hadi Rasyidi


BDG.NEWS, Bandung - Hasil rapat Komite Kebijakan menetapkan plafon kredit usaha rakyat (KUR) untuk tahun 2017 sebesar Rp 110 triliun dengan bunga 9% per tahun. Perinciannya, 81% KUR disalurkan untuk usaha mikro, 18% untuk sektor ritel, dan 1% untuk kredit Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

Hal itu disampaikan Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Koperasi dan UKM Braman Setyo seusai mengikuti rapat Komite Kebijakan di kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Jumat, 20 Januari 2017 malam.

"Itu‎ hasil keputusan rapat Komite Kebijakan," kata Braman kepada Pikiran Rakyat, Sabtu, 21 Januari 2017.
Rapat tersebut dihadiri juga Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menteri BUMN Rini Sumarno, Ketua Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad, Dirut Perum Jamkrindo Diding S Anwar, ‎dan beberapa bank penyalur KUR.

Untuk tahun ini, Braman mencatat ada 38 lembaga pembiayaan sebagai penyalur KUR yang terdiri atas 33 bank, 4 LKBB (lembaga keuangan bukan bank), dan 1 koperasi. Namun, dalam rapat tersebut ada usulan untuk menambah lagi lima lembaga pembiayaan yang selama ini melakukan pembiayaan TKI non KUR.

"Kalau itu disetujui, jumlah penyalur KUR akan menjadi sebanyak 44 lembaga pembiayaan, bank dan nonbank," tutur Braman seraya menyebutkan, lembaga penjaminan yang ditugaskan untuk menjamin KUR adalah Perum Jamkrindo dan Askrindo.

‎Untuk meningkatkan KUR di sektor produksi khususnya pertanian, Braman mengusulkan agar lembaga penyalur KUR (khususnya bank) bekerja sama dengan Puskud-Puskud yang ada di daerah. "Banyak KUD di daerah yang bagus-bagus dan berhasil. Saya usulkan agar potensi-potensi seperti itu disinergikan dalam meningkatkan penyaluran KUR di sektor produksi", tukas Braman.

Sementara untuk sektor perikanan, Braman berharap agar bank-bank penyalur KUR berhubungan langsung dengan sentra-sentra perikanan yang ada di seluruh Indonesia. Menurut dia, saat ini eranya penyaluran KUR masuk ke kelompok-kelompok, seperti sentra-sentra perikanan dan sebagainya.

"Saya pikir, itu jauh lebih efektif ketimbang menyalurkan KUR kepada individu-individu," ucap Braman.(prfmnews)

Editor : Hadi Rasyidi



BDG.NEWS, Bandung - Donald Trump dan Mike Pence, Jumat (20/1/2017), resmi menjadi Presiden ke-45 Amerika Serikat (AS) setelah membacakan sumpahnya di Washington DC.

Usai pelantikannya, Donald Trump menyampaikan pidatonya.

Ada yang menarik untuk mencermati pidato Donald Trump setelah pelantikannya sebagai Presiden AS.

Ada beberapa hal yang dapat dicatat dari isi pidato tersebut.

Meski pidato tersebut ditujukan untuk rakyat AS dalam menggelorakan semangat baru namun pidato tersebut sepertinya ditujukan juga kepada masyarakat dunia, menurut Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana kepada Tribun, Sabtu (21/1/2017).

Pertama, Trump menganggap penting lapangan pekerjaan bagi rakyat AS dan itu yang akan mewarnai kebijakan-kebijakan yang akan dibuat.

Kedua patriotisme dibangun dengan slogan-slogan American First kemudian juga Buy and Hire Americans. 

"Bahkan kebijakan yang terkait dengan perdagangan, pajak, keimigrasian dan masalah luar negeri dinyatakan akan memperhatikan keuntungan bagi pekerja Amerika dan keluarganya," ujar Guru besar UI ini.

Ketiga Trump seolah tidak mau lagi AS berperan sebagai polisi dunia dengan biaya dari AS yang memungkinkankan negara lain menjadi lebih sejahtera dan aman daripada Amerika sendiri.

Keempat, Trump sangat berani dalam pidato kenegaraannya yang menyebut teroris dengan sebutan Islamic Radical Terrorist.

Seolah yang hendak diberangus adalah kelompok teroris yang berbau Islam.

Ini tentunya akan mengundang ketidak-sukaan dunia Islam baik pejabat dan rakyatnya terhadap AS.

Kelima pernyataan bahwa we will build new alliances menjadi pertanyaan apakah AS akan bermitra secara erat dengan Rusia?

Keenam, Trump menyerukan persatuan dari rakyat AS yang dia sadari terpecah dengan terpilihnya sebagai Presiden AS.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Trump mengindikasikan akan berbeda dengan para pendahulunya.

Ini karena menurut Trump para politisi dianggap lebih mementingkan kesejahteraannya daripada kesejahteraan rakyat. 

"Trump menyampaikan hal ini karena mungkin ia sadar bahwa ia tidak mempunya latar belakang sebagai politisi atau pejabat pemerintah," katanya. (tribunnews)

Editor: Hadi Rasyidi



BDG.NEWS, Bandung - Guru Bimbingan Konseling (BK) paling banyak turun tangan saat ada siswa-siswi yang bermasalah di sekolah.

Bunda Literasi Jawa Barat Netty Heryawan meminta guru BK bisa terus memantau perkembangan kepribadian siswa tanpa harus menunggu siswa bermasalah.

Hal ini disampaikan Netty saat menjadi narasumber pada Acara Rapat Kerja Nasional II Guru Bimbingan dan Konseling (Musyawarah GBK) Indonesia di Auditorium Graha POS Bandung, Jl. Banda No. 8 Bandung, Jum’at (20/01/2017).

Anak-anak jaman sekarang, kata Netty, sudah kehilangan kepercayaan kepada orangtuanya. Sehingga guru BK harus mampu melihat peta masalah pada para siswa.

“Dengan demikian guru BK dapat membina siswa sebelum siswa tersebut menjadi anak yang bermasalah di sekolahnya,” kata Netty.

Menurutnya anak-anak di masa ini terjebak pada fenomena BLAST, yaitu Bored (kebosanan), Lonely (kesepian), Angry (kemarahan), Stress dan Tired (kelelahan). Fenomena ini menjadi titik awal penyebab tingginya angka kekerasan. Fenomena inilah yang harus jadi acuan guru, khususnya guru BK, dalam melakukan pendekatan dengan para siswa.

Siswa yang datang ke sekolah berlatar belakang berbeda-beda, baik dari status ekonomi keluarga, kondisi mental, hingga pengasuhan orangtua yang sangat mempengaruhi siap atau tidaknya anak menerima pelajaran di sekolahnya.

“Guru BK sangat penting, untuk membangun komunikasi interpersonal dengan para murid, karena dapat menumbuhkan rasa nyaman siswa dalam berbagi masalahnya”, ucap Netty.

Mendukung apa yang disampaikan Netty, Dirjen Guru dan Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Sumarna Surapranata mengatakan, pihaknya sedang merumuskan kebijakan yang mengatur jam kerja guru di sekolah, sehingga guru harus selalu ada untuk mendampingi siswa, mulai dari siswa datang ke sekolah hingga waktunya pulang.

“Kita sedang menyiapkan kebijakan agar guru hadir di sekolah 40 jam seminggu dengan hari kerja setiap senin sampai jumat, atau 8 jam sehari,” tukas Sumarna.

“Guru harus ada saat siswa mencari. Tidak ada guru yang pulang mendahului muridnya,” tegasnya.(fokusjabar)

Editor : Hadi Rasyidi



Bdg. News, Bandung- kado pahit pemeintah mengawali tahun 2017 tidak dibarengi dengan kualitas pelayanan prima. Hal ini ditunjukkan oleh dinas pendapatan provinsi Jawa Barat yang hanya menyediakan 1 petugas dilayanan samsat drive thru.
"ya, petugasnya hanya satu orang untuk pelayanan 2 kendaraan, motor dan mobil" tutur security samsat Ridwan M. Saat dimintai keterangan oleh bdg.news, jumat (20/1) dipelataran parkir drive thru.
Seperti diberitakan sebelumnya. Kenaikan pajak kendaraan bermotor mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNPB) tertanggal 6 Desember 2016.
(adi handarwanto)



                                                                        Foto: Bdg.News


BDG.NEWS, Bandung - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat mengatakan, pihaknya telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) dari Polda Jabar. SPDP itu terkait kasus dugaan penodaan Pancasila, dengan terlapor pimpinan FPI Rizieq Syihab.

"Bahwa benar Kejati Jabar telah menerima SPDP tiga hari lalu. Sebatas itu saja," kata Kepala Kejati (Kajati) Jabar Setia Untung Arimuladi, di kantornya, Jalan LL RE Martadinata, Kota Bandung, Jumat (20/1).

Terkait dengan materi penyidikan, kata dia, itu merupakan kewenangan Polda Jabar. Sebab sejak awal kasus tersebut memang ditangani penyidik dari Polda Jabar. Polda Jabar sendiri saat ini memastikan bahwa status Rizeq masih berstatus saksi. "Sekarang kami akan sinergi dengan kepolisian," jelasnya. 

Pihaknya mengaku akan menunjuk jaksa dengan terbitnya SPDP itu. Jaksa yang ditunjuk nanti itu untuk mengikuti proses penyidikan yang dilakukan Polda Jabar. Jaksa itu merupakan jaksa senior‎. 

"Jaksa yang disiapkan itu nanti mengikuti proses penyidikan,‎ yang dikerahkan nanti jaksa senior. Bentuk tim atau tidak kita lihat nanti," katanya. (bandung.merdeka)

Editor : Hadi Rasyidi


Pakar Hukum Tata Negara, Mahfud MD mengatakan bahwa tidak mungkin pihak berwenang dapat membubarkan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI).

Pasalnya, GNPF-MUI bukanlah organisasi massa yang memiliki akta pendirian organisasi yang tidak terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM ataupun Kementerian Dalam Negeri.


“Tidak mungkin bubarkan GNPF-MUI. Bagaimana mau bubarkan? Mereka gerakan situasional yang tidak memiliki akta pendirian organisasi dan tidak terdaftar dimanapun,” jelas Mahfud saat ditemui di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK), Jakarta, Selasa (17/1/2017).

Satu-satunya tindakan yang bisa dilakukan oleh aparat kepolisian, kata Mahfud, adalah menindaktegas gerakan tersebut apabila sudah melanggar aturan hukum, bukan dibubarkan layaknya organisasi masyarakat lainnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ma'ruf Amin menegaskan bahwa Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI tidak ada kaitannya dengan lembaga MUI baik secara struktur maupun non-struktur.

Gerakan itu, kata Ma'ruf, murni dibentuk dan dijalankan oleh sekelompok masyarakat.
"Tidak ada urusannya GNPF dengan MUI itu sendiri. Mereka itu murni dari masyarakat," jelasnya saat diskusi di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta, Selasa (17/1/2017)

Dijelaskan olehnya, apa yang dijalankan oleh GNPF bukanlah aturan atau instruksi yang diberikan oleh MUI untuk langsung dijalankan ketika sebuah Fatwa sudah keluar.

tribunnews.com


Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal (Pol) Tito Karnavian memerintahkan jajarannya untuk menyelidiki penghinaan bendera Merah Putih saat aksi unjuk rasa Front Pembela Islam (FPI) di Mabes Polri, Senin (16/1/2017).

Tito mengatakan, dalam waktu dekat, pihaknya akan memanggil penanggung jawab dan koordinator lapangan unjuk rasa tersebut.

"Tentu sekarang kami melakukan penyelidikan. Siapa yang membuat, siapa yang mengusung, penanggung jawab, korlapnya, akan kami panggil. Siapa ini?" kata Tito di Mapolda Metro Jaya, Rabu (18/1/2017).

Dalam sejumlah tayangan video dan foto dokumentasi unjuk rasa yang beredar, beberapa bendera Merah Putih dibubuhi tulisan Arab dan gambar pedang seperti bendera Arab Saudi.

Tito mengatakan, ada pasal yang mengatur bagaimana memperlakukan lambang negara, termasuk bendera. Hukuman memperlakukan bendera dengan tidak laik ini berupa satu tahun penjara.

"Bendera Merah Putih tidak boleh diperlakukan tidak baik, di antaranya membuat tulisan di bendera dan lain-lain, itu ada UU yang mungkin di negara lain tidak dilarang, tapi di negara kita dilarang, ada hukumannya satu tahun," kata Tito.

Tito berharap siapa pun yang bertanggung jawab terhadap bendera-bendera itu mengakui perbuatannya kepada polisi. Ia mendorong jajarannya untuk menyelidiki kasus ini secara maksimal.

"Kita melihat sportivitas. Jangan sampai nanti mohon maaf, akal-akalan bilang enggak tahu padahal tahu, itu namanya berbohong untuk melindungi diri sendiri," katanya.

http://megapolitan.kompas.com/read/2017/01/18/10521821/polisi.selidiki.penghinaan.bendera.merah.putih.saat.demo.fpi



 Kasus HIV/AIDS di Jawa Barat semakin memperihatinkan. Dinas Kesehatan mencatat kasus HIV sejak 1989-2016 sudah ada 24.639 orang  dan kasus AIDS 7.432 orang. Dan kasus HIV/AIDS paling tinggi di Jawa Barat ada di Bandung. Dari data tersebut, diketahui 44% pasien adalah umur produktif di angka 20-29 tahun. Kemudian kasus paling banyak adalah disebabkan oleh penularan melalui jarum suntik. Prihatin, miris, itulah yang dirasakan oleh kita saat melihat kenyataan bahwa penyakit seksual menular dan mematikan itu setiap hari bukannya berkurang, namun sebaliknya justru semakin bertambah dan bertambah. 

Upaya pemerintah dalam mengatasi hal ini bukan tidak ada. Bahkan, program penanggulangan HIV/AIDS semakin gencar dilakukan. Bahkan, dibuat penyusunan kesepakatan rencana kegiatan penanganan HIV/AIDS bersama beberapa elemen. Diantaranya adalah Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Badan Narkotika Nasional, dan Lembaga Swadaya Masyarakat dari berbagai Kabupaten dan Kota di Jawa Barat. Namun, yang perlu diperhatikan adalah  bahwa HIV/AIDS berawal dari permasalahan pergaulan bebas dan kebebasan perilaku yang sampai hari ini masih menjadi 'pekerjaan rumah' bagi pemerintah. Lihat saja, pacaran masih diperbolehkan, LGBT masih ditolelir, perzinahan tidak dilarang, bahkan pemberantasan narkoba hanya menyentuh target pengguna dan pengedar, sementara produsen kelas kakap masih bebas berkeliaran. Sepanjang pergaulan bebas dan kebebasan perilaku belum terselesaikan, maka permasalahan HIV/Aids tidak akan terselesaikan pula.

Cara Islam Menyelesaikan masalah HIV/AIDS
Negara adalah pihak yang paling memiliki tanggung jawab. Kerusakan di tengah masyarakat boleh jadi pada awalnya disebabkan oleh perilaku individu, namun saat negara menjalankan fungsinya sebagai ro'in (pengurus umat) dan junnah (penjaga umat), maka perilaku individu yang buruk akan segera dapat diselesaikan, bahkan dicegah.

Islam sejak awal mengharamkan pergaulan bebas, perzinahan, pelacuran juga narkoba. Inilah pintu awal HIV/AIDS merebak di tengah masyarakat. Negara dalam Islam akan melakukan beberapa hal berikut untuk menyelesaikan masalah HIV/AIDS. Pertama, negara mencegah pergaulan bebas, perzinahan, pelacuran dan narkoba secara individual dengan penanaman keimanan dan keterikatan dengan syariat Islam pada semua warga negara melalui para orang tua dalam keluarga, para ulama, guru-guru di sekolah dan para tokoh di tengah masyarakat. Keluarga-keluarga pengkaji Islam akan marak terbentuk jika negara memberikan keleluasaan pada masyarakat untuk menggiatkan kajian-kajian Islam di sekolah-sekolah, mesjid-mesjid, instansi-instansi, perusahaan-perusahaan, dan di semua tempat. Berbagai sarana-prasarana kota, seperti taman, gedung pertemuan, bahkan tempat wisata sekalipun, dibolehkan bahkan dipersilahkan untuk dijadikan tempat kajian Islam. Kedua, negara menerapkan peraturan dan sanksi  yang terkait pergaulan bebas dan kebebasan perilaku. Misalnya : kewajiban menutup aurat baik laki-laki dan perempuan, larangan berdua-duaan (khalwat), larangan ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), larangan berzina, larangan narkoba, sekaligus menerapkan sanksi bagi setiap pelanggaran hal-hal tersebut.

Dua hal diatas jika dilakukan oleh negara, maka akan menyelesaikan masalah merebaknya HIV/AIDS. Tinggal menunggu kemauan pemerintah, baik pusat maupun daerah untuk melaksanakan tugas mereka sebagai ro'in (pengurus umat) dan junnah (penjaga umat dari kerusakan dan kehancuran).[]


Nurul Hidayani N (Mubalighoh dan Pemerhati masalah generasi)



Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget