June 2017


Oleh: Fahmi Amhar

Tulisan Prof. Moh Mahfud MD di harian Kompas edisi 26 Mei 2017 berjudul "Menolak Ide Khilafah" telah memulai sebuah diskursus tingkat elit intelektual di negeri ini. Kalau dulu diskursus ini ibaratnya hanya terjadi di antara para “prajurit” – bahkan “prajurit cyber”, maka kini para “senapati” sudah turun gelanggang.

Saya memahami kalau Prof. Mahfud mendapatkan pernyataan yang dirasakan “tidak cukup bermutu” dari seorang aktivis ormas Islam yang “nobody”. Bayangkan, seorang guru besar, Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara (APHTN-HAN); dan Ketua Mahkamah Konstitusi RI Periode 2008-2013, ditanya dengan nada marah dan merendahkan dari seseorang yang mungkin bahkan tidak hafal pembukaan UUD 1945.

Saya sendiri tidak merasa pantas untuk memberi komentar terhadap tulisan Prof. Mahfud tersebut. Namun sebagai anak bangsa, hak saya untuk berpendapat tentu saja dilindungi oleh konstitusi.

Saya bukan alumnus kampus-kampus yang dinilai Ketua Umum PB NU Said Agil Siradj tempat persemaian radikalisme. Saya S1 sampai S3 di Vienna University of Technology, Austria, sebuah negara demokratis di Eropa. Saya sepuluh tahun di sana. Sepertinya Austria negara yang sudah adil dan makmur, meski tidak mengenal Pancasila. Saya tidak belajar hukum secara khusus, melainkan hanya beberapa mata kuliah. Namun di tahun 1987 saya sudah mengenal tentang Constitutional Court, sesuatu yang saat itu belum pernah saya dengar di Indonesia. Saya juga ikut menyaksikan ketika tahun 1989-1991 negara-negara Blok Timur berubah dari komunis ke kapitalis. Dan saya juga menyaksikan bagaimana Austria melakukan referendum untuk bergabung ke Uni Eropa atau tidak.

Saya melihat, dalam sistem demokrasi, sistem di Austria berbeda dengan Jerman, Swiss atau Perancis, meski sama-sama Republik. Sistem demokrasi juga diterapkan di Inggris atau Belanda, meski mereka menganut monarki. Ini artinya, orang bisa sama-sama menerima demokrasi tanpa mempersoalkan “demokrasi yang seperti apa?”.

Pertanyaannya, mengapa untuk demokrasi kita bisa seperti itu, tetapi untuk sistem pemerintahan Islam - Khilafah - kita tidak bisa? Kenapa kita menolak ide khilafah dengan argumentasi tidak ada bentuk yang baku, khususnya cara suksesi kepemimpinan? Sebenarnya kita bisa lebih arif, setidaknya menantang diskusi bahwa ide khilafah adalah sebuah alternatif dari suatu kemungkinan kebuntuan politik.

Dalam sejarahnya, Republik Indonesia yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 pernah berubah-ubah. Tak sampai tiga bulan setelahnya, yakni pada 14 November 1945, Presiden Soekarno sudah mengubah sistem presidensiil menjadi parlementer. Pasca Konferensi Meja Bundar tahun 1949, Indonesia berubah menjadi negara federal (RIS). Lalu tahun 1950 kembali ke NKRI dengan UUDS-1950 yang bunyi sila-sila dari Pancasila sangat berbeda. Pasca dekrit 5 Juli 1959 kembali ke UUD-1945 tetapi masih mengakui Partai Komunis Indonesia (PKI). Inti dari sejarah ini, saya bertanya-tanya: benarkah dulu para pendiri bangsa menganggap UUD1945 itu adalah final? Kalau final, kenapa disisakan sebuah pasal 37 yang memungkinkan UUD1945 diubah? Kalau benar wilayah NKRI itu final, mengapa tahun 1976 kita menerima Timor Timur berintegrasi, lalu tahun 1999 kita lepas lagi? Kalau konstitusi NKRI itu final, mengapa pasca reformasi kita amandemen berkali-kali?

Oleh karena itu, kalau kita menuduh kelompok pro-khilafah itu radikal dan telah “terindoktrinasi” atau boleh juga “tercuci-otaknya”, tidakkah jangan-jangan kita juga tercuci otaknya dengan jargon “NKRI harga mati”?

Karena tinggal di Eropa yang sangat demokratis (bahkan agak liberal), sejak akhir 1980-an, saya cukup bebas mengenal berbagai ideologi di dunia. Buku “Das Kapital” – Karl Marx misalnya, saya baca pertama kali di Austria, karena di Indonesia dilarang. Di Austria, buku-buku komunisme sama bebasnya dengan buku-buku anti komunis. Pada masyarakat mereka yang maju, komunisme tidak dianggap ancaman. Partai Komunis Austria ada, tetapi tak pernah meraih kursi dalam pemilu.

Waktu itu, belum ada internet, namun bacaan-bacaan yang bebas itu bahkan mampu menembus tirai besi di negara-negara komunis, yang di sana cuma ada satu koran, satu radio, satu televisi dan satu partai, yang semuanya komunis. Dunia akhirnya menyaksikan keruntuhan adidaya komunis Uni Soviet tahun 1991.

Karena itu, tak heran di Austria juga saya mengenal berbagai gerakan Islam, termasuk di antaranya yang memperjuangkan suatu negara Islam global, khilafah. Untuk orang-orang di negara adil makmur seperti Austria, dakwah memerlukan rasionalitas yang sangat kuat. Mereka tidak bisa menjual perlawanan kepada otoritas publik yang sudah melayani rakyat dengan baik. Mereka juga tak bisa menjual dogma pada masyarakat yang sudah berpikir sangat rasional. Bahkan soal iman pun tidak bisa mengandalkan warisan seperti ditulis oleh ananda kita Afi Nihaya. Faktanya, gender, suku, ras, kelas sosial bisa diwariskan, tetapi jutaan warga Eropa mencari dan menemukan sendiri agamanya dengan bekal akal sehat karunia Tuhan pada mereka.

Oleh karena itu, ide khilafah perlu untuk ditantang dengan lebih arif secara akademis. Sama kalau dalam pelajaran sekolah kita memberi tahu anak-anak kita tentang sistem kerajaan vs sistem republik, demokrasi vs diktatur, kenapa kita keberatan, bahkan ketakutan untuk memperkenalkan sistem khilafah, yang diklaim bukan kerajaan, bukan republik, bukan demokrasi dan juga bukan diktatur? Lantas mahluk apakah ini?

Sependek yang saya tahu, inti dari sistem khilafah itu bukan model suksesi seperti yang Prof. Mahfud katakan sebagai “tidak baku” dan “ijtihadiyah”. Adanya berbagai varian suksesi – yang semua tidak diingkari oleh para shahabat Nabi radhiyallah anhuma – justru menunjukkan keunikan sistem ini. Orang yang akan dibai’at sebagai khalifah boleh dipilih dengan permusyawaratan perwakilan (seperti kasus Abu Bakar), dinominasikan pejabat sebelumnya (seperti kasus Umar, yang kemudian disalahgunakan oleh berbagai dinasti kekhilafahan), dipilih langsung (seperti kasus Utsman), atau otomatis menjabat (seperti kasus Ali, karena dia saat itu seperti wakil khalifah). Semua ini bisa dilakukan, dan bisa mencegah terjadinya krisis konstitusi, yaitu suatu kebuntuan ketika presiden sebelumnya sudah habis masa jabatannya, dan presiden yang baru belum definitif.

Itu baru sebuah contoh. Memang yang saya lihat selama ini ada jurang komunikasi antara pakar tata negara seperti Prof. Mahfud dengan gerakan pro khilafah seperti HTI. Bahkan terma “demokrasi” saja didefinisikan dan dimengerti secara berbeda Bagi HTI, sejauh yang saya tahu, demokrasi itu bukan sekedar prosedural seperti kebebasan bersuara, berserikat, adanya partai-partai politik, pemilu dan parlemen, tetapi demokrasi adalah ketika suara rakyat bisa di atas suara Tuhan, ketika hawa nafsu rakyat bisa mengalahkan dalil halal-haram kitab suci. Inilah demokrasi di Eropa yang bisa melegalkan nikah sesama jenis, atau melarang jilbab di ruang publik.

Pancasila dalam redaksi saat ini, tidak menyebut demokrasi, tetapi “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”. Sila ini dimaknai berbeda pada era Orde Lama, Orde Baru atau Reformasi. Demikian juga ekonomi Pancasila, ada aneka tafsir yang bertolak belakang antara ekonomi terpimpin ala Orde Lama, ekonomi kapitalis ala Orde Baru, dan ekonomi neoliberal ala Reformasi. Bukankah di sini sama tidak jelasnya dengan ide khilafah menurut Prof. Mahfud ? Oleh karena itu, menurut saya, khilafah sebagai ide sah-sah saja ditantang dalam meja diskusi dengan pikiran dingin dalam rangka mendapatkan solusi kehidupan berbangsa.

Prof. Dr. Fahmi Amhar
Anggota Dewan Pakar Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE).
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan bukan pendapat IABIE.


Bdg.News. Bandung. Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Mimin Sukarmin mengatakan, sebutan anti Pancasila dan anti NKRI merupakan alat yang digunakan oleh rezim yang sedang berkuasa untuk membungkam lawan politiknya. Hal ini ia sampaikan saat membuka acara Mudzakarah tokoh dan ulama Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Ahad, (18/06). Senada dengan Mimin, Ketua Lajnah Khusus Ulama (LKU) HTI Jawa Barat, Asep Soedrajat menilai, pancasila saat ini menjadi multitafsir tergantung pandangan rezim yang sedang berkuasa.



Acara yang bertempat di Mesjid Al Hikmah, Bojongloa Kaler, Kota Bandung ini dihadiri sejumlah tokoh dan ulama dari berbagai latar belakang organisasi islam. Diantaranya, perwakilan dari Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia (KBPII) Jawa Barat, Yusuf Efendi. Dalam kesempatan itu, Ia mengajak seluruh Umat Islam untuk menolak rencana pembubaran HTI oleh pemerintah. “Kita harus melakukan perlawanan, tentu saja perlawanan yang konstitusional melalui jalur hukum”, jelasnya. Lebih lanjut Ia memberikan dukungan kepada HTI untuk tidak khawatir dalam memperjuangkan syariat islam. “Kami sebagai Umat Islam mendukung setiap perjuangan Umat Islam yang memperjuangkan Syariat Islam, termasuk yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir”, tegasnya.

Ulama lainnya, perwakilan Pengurus Cabang Syarikat Islam Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Roni Sarosih Hidayat menilai, rencana pembubaran HTI adalah tindakan penguasa yang zalim. Lebih lanjut ia menganggap, wacana pemerintah membubarkan HTI sama saja pemerintah berencana membubarkan dakwah Islam. Ia beralasan, selama ini yang disampaikan oleh HTI adalah dakwah Islam, menyeru umat untuk menerapkan syariat Islam secara sempurna. “Maka jika pemerintah ingin membubarkan HTI, sama saja pemerintah ingin membubarkan dakwah Islam”, ucapnya.

Acara yang bertemakan “Tolak Kriminalisasi terhadap ulama, aktivis islam dan ormas islam” ini diakhiri dengan penandatangan petisi penolakan oleh seluruh peserta. Selaku panitia, DPC HTI Bojongloa Kaler, Kota Bandung menjelaskan, acara ini diselenggarakan sebagai bukti nyata dukungan para tokoh dan ulama dalam menolak upaya kriminalisasi ulama, aktivis Islam dan ormas Islam. “Selain itu, acara ini dilaksanakan untuk menghimpun kekuatan umat islam dalam menyatukan tekad memperjuangkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah”, ucap Mimin selaku ketua. [IW]


Oleh:
Ustadz Choirul Anam

Rasulullah saw saat memperjuangkan Islam pernah mendapat pertanyaan sulit sekali, yang memang tak mungkin bisa dijawab. Rasulullah hanya menjawabnya dengan diam. Iya, diam itulah jawaban beliau.

Terus terang pertanyaan itu juga sering diajukan pada zaman sekarang meskipun dalam bentuk dan konteks yang berbeda.

Pertanyaan itu adalah:
يا محمد ، أنت خير أم عبد الله ؟
أنت خير أم عبد المطلب ؟ فإن كنت تزعم أن هؤلاء خير منك ، فقد عبدوا الآلهة التي عبت ، وإن كنت تزعم أنك خير منهم فتكلم حتى نسمع قولك

"Wahai Muhammad, siapa yang lebih baik: kamu atau Abdullah (bapakmu)? Siapa yang lebih baik: kamu atau Abdul Muthalib (kakekmu)? Jika memang sekiraya mereka lebih baik dari kamu, sungguh mereka telah menyembah tuhan yang kamu cela. Jika memang kamu merasa lebih baik dari mereka, bicaralah sehingga kami mendengar ucapanmu?"

Sungguh, ini adalah pertanyaan sangat cerdas untuk membuat peta kompli kepada para aktivis dakwah.

Menganggap diri lebih baik dari nenek moyang dan para pendahulu, adalah sikap kesombongan yang sangat mudah dipatahkan secara intelektual karena seseorang pasti berhutang hampir dalam segala hal kepada nenek moyang dan pendahulu. Menjawab pendahulu lebih baik, juga jawaban mematikan, sebab jika generasi dulu lebih baik, mengapa harus bicara perubahan, mengapa tidak melestarikan saja apa yang telah digagas dan diwarisi dari nenek moyang dan pendahulu?

Dalam hal ini, yang dapat dilakukan Rasulullah hanya diam. Iya, diam. Sekali lagi, diam adalah jawabannya.

*
Berikut kisah lengkapnya pada Tafsir Ibnu karya Syeikh Ismail ibn Umar ibn Katsir Al Quraisyi Ad Dimasyqi halaman Juz 7 halaman 161-163, cetakan 1422 H cet Dar Taibah:

قال الإمام العلم عبد بن حميد في مسنده : حدثني ابن أبي شيبة ، حدثنا علي بن مسهر عن الأجلح ، عن الذيال بن حرملة الأسدي عن جابر بن عبد الله - رضي الله عنه - قال : اجتمعت قريش يوما فقالوا : انظروا أعلمكم بالسحر والكهانة والشعر ، فليأت هذا الرجل الذي قد فرق جماعتنا ، وشتت أمرنا ، وعاب ديننا ، فليكلمه ولننظر ماذا يرد عليه ؟ فقالوا : ما نعلم أحدا غير عتبة بن ربيعة . فقالوا : أنت يا أبا الوليد . فأتاه عتبة فقال : يا محمد ، أنت خير أم عبد الله ؟ فسكت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال : أنت خير أم عبد المطلب ؟ فسكت رسول الله - صلى الله عليه وسلم - فقال : فإن كنت تزعم أن هؤلاء خير منك ، فقد عبدوا الآلهة التي عبت ، وإن كنت تزعم أنك خير منهم فتكلم حتى نسمع قولك ، إنا والله ما رأينا سخلة قط أشأم على قومك منك ; فرقت جماعتنا ، وشتت أمرنا ، وعبت ديننا ، وفضحتنا في العرب ، حتى لقد طار فيهم أن في قريش ساحرا ، وأن في قريش كاهنا . والله ما ننظر إلا مثل صيحة الحبلى أن يقوم بعضنا إلى بعض بالسيوف ، حتى نتفانى - أيها الرجل - إن كان إنما بك الحاجة جمعنا لك حتى تكون أغنى قريش رجلا ، وإن كان إنما بك الباءة فاختر أي نساء قريش [ شئت ] فلنزوجك عشرا . فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : " فرغت ؟ " قال : نعم فقال رسول الله - صلى الله عليه وسلم -

Berkata Al Imam Al Alim Abd bin Hamid didalam musnadnya: telah berkata kebadaku Ibn Abi syu’bah, telah menceritakan kepada kami Ali ibn Mishri dari Al Ajlah, dari Az Zayyal ibn Harmalah Al-Asadi, dari Jabin ibn Abdullah r.a. berkata: "Pada suatu hari orang-orang Quraisy berkumpul, lalu mereka mengatakan: Carilah orang yang paling pintar diantara kalian dalam masalah sihir, meramal dan syair. Lalu suruh dia mendatangi lelaki ini (maksudnya: Nabi Muhammad Shalallahu ´alaihi wa Salam) yang telah memecah belah persatuan kita, memberantakan urusan kita, dan mencaci maki agama kita. Hendaklah dia berbicara denganya dan kita lihat apa jawabannya terhadapnya“.

Sebagian dari Mereka berkata:“ Kami tidak mengetahui orang yang dapat bebuat seperti itu selain Utbah bin Rabi’ah". Lalu mereka berkata: "Engkau yang maju ya Abu Walid (Utbah)“. Maka Utbahpun mendatangi Rasulullah dan berkata:

“Ya Muhammad, Mana yang lebih baik Engkau ataukah Abdullah?“. Rasulullah Shalallahu ´alaihi wa Salam diam. Lalu Utbah bertanya lagi: "Mana yang lebih baik engkau ataukah Abdul Muthalib“. Rasulullah (kembali) diam. Utbah melanjutkan: "Jika engkau mengaku bahwa mereka semua lebih baik daripada kamu, ketahulah bahwa mereka telah menyembah sembahan yang telah kamu hina itu. Dan jika engkau mengira bahwa dirimu lebih baik daripada mereka, maka berbicalah agar kami dapat mendengar perkataan yang akan kamu ucapkan."

"Sesungguhnya demi Allah aku tidak pernah melihat seekor anak kambingpun yang lebih mendatangkan kesialan pada kaummu daripada kamu, Kamu memecah belah persatuan kami, membrantakan urusan kami, mencela agama kami, mencaci maki agama kami, dan kamu mempermalukan kami di depan bangsa arab. Bahkan telah tersebar dikalangan mereka bahwa di dalam kabilah Quraisy, seorang ahli sihir, dan terdapat di kabilah quraisy seorang peramal. Demi Allah, tidaklah kami menunggu melainkan seperti erangan wanita hamil, sebagian kami bangkit dan menebas sebagian yang lain, hingga kami saling bunuh."

"Wahai anak muda, jika kamu melakukan semua ini karena menginginkan sesuatu, kami akan mengumpulkan harta untukmu sehingga kamu menjadi orang Quraisy paling kaya. Dan jika kamu melakukan semua ini karena ingin menikah, pilihlah wanita-qanita quraisy [yang kau inginkan] kami akan menikahkanmu dengan sepuluh wanita."

Lalu Rasulullah shalallahu ´alaihi wa Salam berkata: "sudah wahai Utbah?“ Utbah menjawab "ya“. Lalu Rasulullah shalallahu ´alaihi wa Salam berkata:

( بسم الله الرحمن الرحيم . حم تنزيل من الرحمن الرحيم ) حتى بلغ : ( فإن أعرضوا فقل أنذرتكم صاعقة مثل صاعقة عاد وثمود)

Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. (Beliau lalu membaca al-qur'a) Haa miim. Diturunkan dari Tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang... (hingga sampai dengan Firman-Nya)...Jika mereka berpaling maka katakanlah "aku telah memberikan peringatakan kepadamu dengan petir seperti halnya petir yang menimpa kaum Aad dan kamu tsamud“

فقال عتبة : حسبك ! حسبك ! ما عندك غير هذا ؟ قال : " لا " فرجع إلى قريش فقالوا : ما وراءك ؟ قال : ما تركت شيئا أرى أنكم تكلمونه به إلا كلمته . قالوا : فهل أجابك ؟ [ قال : نعم ، قالوا : فما قال ؟ ] قال : لا والذي نصبها بنية ما فهمت شيئا مما قال ، غير أنه أنذركم صاعقة مثل صاعقة عاد وثمود . قالوا : ويلك ! يكلمك الرجل بالعربية ما تدري ما قال ؟ ! قال : لا والله ما فهمت شيئا مما قال غير ذكر الصاعقة .

Utbah berkata:“ Cukup ! Cukup ! apakah kamu tidak memiliki selain ini?.

Rasulullah Berkata:“ tidak”.

Lalu Utbah kembali kepada orang-orang quraisy.

Dan mereka lalu bertanya “Apa yang terjadi?”.

Utbah menjawab: ”Tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang menurutku akan kamu katakan melainkan aku katakan kepadanya.”

Mereka bertanya “Apa dia menjawabmu?”.

Utbah menjawab: “Ya”.

Mereka kembali bertanya “apa yan dia katakan?”.

Utbah menjawab “ Tidak. Demi yang telah menancapkan ka’bah sebagai bangunan. Tidaklah aku mengerti sedikitpun yang ia katakan, selain sesungguhnya ia telah mengingatkan kalian dengan petir yang telah menimpa kaum Aad dan Tsamud.”

Mereka mengatakan “Celakalah kamu! Kamu diajak bicara oleh orang itu dengan bahasa arab dan kau tidak memahami apa yang dia katakan?”.

Utbah menjawab: ”Tidak demi Allah, aku tidak mengerti sedikitpun dari yang ia katakan selain masalah petir”.

*
Mmemang tidak mudah mengajak orang untuk berubah ke arah yang lebih baik. Di masyarakat selalu ada orang-orang, tokoh-tokoh, pejabat-pejabat yang tak mau berubah, yang menganggap apa yang telah dilakukan dan diputuskan nenek moyang dan para pendahulu adalah final. Tak mungkin berubah. Harga mati. Dan mereka siap melakukan apapun untuk mempertahankannya.

Tetapi, sejarah juga mencatat bahwa dunia ini terus berubah. Meski dihalang-haangi sedemikian rupa dengan kekuatan yang nyaris tak terkalahkan. Neski di sana ada tak terbilang orang yang siap menjaganya sebagai harga mati.

Perubahan adalah keniscayaan. Perubahan terjadi di mana pun dan pada zaman apapun. Perubahan merupakan hukum alam yang tak mungkin di lawan.

Hasbunallahu wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir. La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adzim.

Wallahu a'lam.



Bdg. News. Bandung. Pembina Mahad Usyaqil Qur’an Indonesia, Muhammad Suhud Al-Hafidz mengatakan, wacana pembubaran HTI oleh pemerintah telah melanggar HAM, hal itu ia sampaikan kepada Bdg.News melalui telepon, Selasa (13/06). Ia menilai, persoalan wacana pembubaran HTI berkaitan dengan politik. “Mereka takut Islam berkembang di Indonesia secara besar dan signifikan”, ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, sebagai seorang muslim saya tidak setuju dengan rencana pemerintah membubarkan HTI. “Harus ditolak dan penolakannya harus semakin dimasifkan”, ucapnya.

Saat ditanya mengenai sebagian tokoh dan ulama yang mendukung rencana pemerintah. Ia mengatakan, itu adalah bagian dari proses demokrasi. “Mereka tidak paham tujuan HTI, mereka hanya melihat cover, tanpa melihat isinya atau bisa jadi mereka mempunyai kepentingan tersendiri”, jelasnya. Lebih lanjut ia menjelasan, jika mereka tahu visi dan misi (HTI, red), mereka justru akan menjadi inisiator penengah. “Sebagaimana kawan-kawan advokat yang tergabung dalam 1000 advokat bela HTI, memperjuangkan HTI agar tidak sampai dibubarkan” tegasnya. [IW]



“Khilafah itu pernah ada, tapi kapan runtuhnya? Semua imam mahzab menyatakan mendirikan khilafah itu fardhu kifayah, tapi mengapa Arab kerajaan, Indonesia republik, dan negeri Muslim lainnya pun tidak ada yang menerapkan khilafah?"

Dua pertanyaan itu muncul dibenak, tatkala membaca bab imamah atau bab khilafah ketika aku diamanahi memegang kunci perpustakaan Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, saat aku nyantri di ponpes pimpinan KH Maimun Zubair itu.

Saat itu, saya benar-benar haus ilmu. Maka kulahap kitab-kitab yang ada, bahkan kitab-kitab yang besar pun kubaca. Kemudian aku berpikir, mengapa bab khilafah adanya di kitab-kitab besar, kalau di kitab-kitab kecil jarang sekali? Adanya di kitab Fathul Wahab karya Syeikh Zakaria Al Anshori. Dan itu memang dijelaskan ada.

Di kitab Bisarwani juga ada. Begitu juga dalam kitab Hayatul Hayawan tapi di situ tidak sampai Bani Ustmaniyah, ke Bani Fatimiyah juga tidak sampai, cuma sampai Bani Abasiyah. Dalam kitab bisyarahnya Fathul Wahab seperti Fujairrumi Wahab juga dijelaskan masalah imamah, tetapi sayangnya tidak dijelaskan secara rinci bagaimana cara pengangkatan seorang khalifah dan lain sebagainya?

Itu yang membuat penasaran, ingin mengetahui. Dari buka-buka kitab itu ditambah pengetahuanku ketika di sekolah belajar sejarah Islam itu, di situ khilafah dibahas mulai dari Khulafaur Rasyidin kemudian Bani Umayah dan Bani Abasiyah.

Saya ingin mengetahui sejarah khilafah dan bagaimana hancurnya. Dan bagaimana hubungannya ketika dulu, pada masa Nabi Muhammad SAW, kemudian diganti masa Khulafaurrasyidin, terus Bani Umayah dan Bani Abasiyah.

Lantas ke mana ini khalifah? Sekarang kok tidak ada di dunia Islam. Itulah yang menjadikan saya terus penasaran. Karena apa? Karena khilafah itu yang aku baca di kitab-kitab ketika di pesantren itu, ternyata wajib. Fardhu kifayah ini, semua imam mazhab menyatakan wajib tetapi mengapa sekarang tidak ada? Namun sayang, tidak ada satu pun kyai dan ustadz dapat memberikan jawaban yang dapat memuaskan rasa penasaranku.

Menemukan Jawaban

Tahun 1993, saya kembali ke kampung halaman, menikah dan mengamalkan ilmu yang saya dapat saat nyantri. Rasa penasaranku tidak hilang, namun saya pun bingung harus bertanya pada siapa? Terpaksa saya pendam sendiri.

Suatu hari pada tahun 2002, ketika melintas Jalan Pamager Sari, Sumedang saya benar-benar dikagetkan dengan adanya spanduk yang bertuliskan "syariah" dan "khilafah" membentang di atas jalan.

Nah, penasaranku membuncah kembali. Tapi aku bingung, siapa yang memasang spanduk ini? Satu-satunya indikasi hanya kata "Hizbut Tahrir" berarti yang memasang spanduk ini Hizbut Tahrir? Tapi apa itu Hizbut Tahrir? saya pun penasaran. Namun sayang, setiap orang yang kutemui dan kutanya, tidak ada yang mengenal "Hizbut Tahrir" itu.

Aneh, ada spanduk tetapi tidak ada orangnya. Padahal saya sangat berharap dari Hizbut Tahrir itulah pertanyaanku dapat terjawab. Sejak saat itu, pertanyaan yang menghantui benakku bertambah satu lagi, apa itu Hizbut Tahrir? Tapi lagi-lagi harus saya pendam sendiri karena orang-orang di sekelilingku tidak ada yang dapat memberikan petunjuk.

Sampailah pada suatu saat di tahun 2005, seorang pemuda bernama Acep Muhyiddin bertandang ke rumah saya. Ia menyatakan ingin bersilaturahmi. Namun betapa kagetnya saya ketika dia memperkenalkan diri bahwa dia adalah aktivis Hizbut Tahrir! Alhamdulillah, betapa senangnya saya.

Saya pun bertanya tentang Hizbut Tahrir dan khilafah. Subhunallah, meski lelaki itu berperawakan kecil, ilmunya sangat besar. Saya pun langsung kagum dengan jawabannya yang begitu gamblang terkait dua pertanyaan besarku itu.

Begitu rinci ia menjelaskan bahwa khilafah itu berdiri selama 13 abad, terhitung sejak Daulah Islam berdiri di Madinah ketika Rasulullah SAW hijrah, kemudian diteruskan oleh Khulafaurrasyidin, Bani Umawiyah, Bani Abbasiyah, dan berakhir pada 1924 saat ibukotanya berada di Turki pada masa Bani Utsmaniyah.

Keruntuhan itu terjadi bukan saja lantaran kemunduran kaum Muslim dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang mulia tetapi juga lantaran adanya konspirasi keji bangsa kafir penjajah Inggris dan para pengkhianat termasuk Mustafa Kamal Attaturk laknatullah. Sedangkan, Hizbut Tahrir adalah kelompok di antara kaum Muslim yang berjuang untuk mengembalikan tegaknya khilafah itu.

Di kesempatan berikutnya, ia datang kembali membawa kitab yang menjelaskan konspirasi meruntuhkan khilafah yakni kitab Kayfa Hudimat al Khilafah karya Syeikh Abdul Qadim Zallum.

Subhanallah, dari penjelasan sang aktivis dan kitab karya amir kedua Hizbut Tahrir itu terjawab sudah teka teki yang ada di dalam benak saya selama 15 tahun itu. Kemudian saya pun mendapatkan berbagai kitab lainnya yang diterbitkan Hizbut Tahrir. Dari situ, saya yakin tidak ada alasan untuk menolak ajakan Hizbut Tahrir untuk sama-sama berjuang menegakkan syariah dan khilafah.

Berdakwah

Sejak itu, saya sampaikan kepada yang lain yang datang ke Darul Bayan (majelis taklim dan tahfidz Alquran asuhannya—red) bahwa saya punya kitab-kitab Hizbut Tahrir, bila isinya bertentangan dengan kitab-kitab pesantren maka saya orang pertama yang akan menentangnya. Tapi kalau memang cocok dengan kitab yang saya jadikan patokan, ayo sama-sama kita dukung perjuangan Hizbut Tahrir.

Tapi sayang, tidak semua kyai, ustadz dan ajengan yang saya ajak menyambut ajakanku. Hanya sebagian saja di antara mereka yang mendukung. Kujelaskan pada mereka, bukankah kitab-kitab Hizbut Tahrir itu cocok dengan kitab-kitab yang selama ini kita pelajari di pesantren seperti Fathul Wahab, Fujurrami, Fujurrami Itsna, Sarwani, Muradhatut Thalibin.

Itu kan kitab-kitab yang tidak asing karena dikaji di pesantren. Itu yang saya ambil sebagai patokan. Ternyata semuanya malah sama."Jadi mengapa kita harus menolak ajakan Hizbut Tahrir?" ujarku pada mereka.

Yang menolakku itu setidaknya ada tiga tipe. Pertama, yang tidak percaya diri. Sebenarnya sebagian senang dengan ajakanku."Sebenarnya memang harusnya begitu. Ini memang harusnya diubah, hukum di kita ini harus diubah dengan Islam, ya tapi monggo woe, saya belum mampu," ujar mereka.

Kedua, mereka itu menjalankan agama bukan mengikuti manhaj agama, tapi yang diikuti itu adalah figur. Padahal saya sudah banyak memberikan dalil tentang bagaimana wajibnya khilafah kepada ustadz-ustadz, ajengan-ajengan itu. Mereka jawab, "Ya ini dalil tidak salah, cuma pemahaman Anda yang salah" Tapi ketika ditanya pemahaman yang benar terhadap dalil tersebut itu seperti apa, mereka tidak bisa jawab.

Bahkan ada yang berkata, "Ya pokoknya kita sudah punya guru lah” Tetapi ketika ditanya penjelasan gurunya seperti apa? Dia diam saja. Mungkin mereka anggap perjuangan khilafah ini perjuangan yang nyeleneh yang tidak pernah diperjuangkan oleh guru-guru mereka. Ini yang saya tangkap dari pemahaman mereka.

Yang ketiga, khawatir kehilangan jamaah. Saya katakan kembali kepada mereka jadi salah besar kalau sistem khilafah itu ide Hizbut Tahrir. Ini bukan ide Hizbut Tahrir tapi itu syariah Islam yang telah hilang kemudian dimunculkan kembali oleh Hizbut Tahrir. Jadi mestinya perjuangan khilafah itu harus diawali dari pesantren. Karena kitab-kitabnya itu banyak di pesantren itu. Nah itu yang menjadi keherananku, kenapa tidak muncul dari pesantren?

Mereka yang menolak ajakanku itu malah tidak datang lagi, aku pun tidak diundang lagi untuk acara-acara di pesantren mereka. Namun, saya tidak berputus asa. Saya tetap mengajak mereka dan umat untuk turut berjuang bersama Hizbut Tahrir. Allahu Akbar!

Oleh : joko prasetyo/seperti yang dituturkan KH Ali Bayanullah

Biodata Singkat Al Hafidz Pejuang Khilafah

Nama : KH Ali Bayanullah, Al Hafidz

Lahir : Sumedang, 1967

Pendidikan :

• 1975-1978 Madrasah Ibtidaiyyah, Sumedang, Jawa Barat

• 1978-1981 Madrasah Tsanawiyah, Surnedang, Jawa Barat

• 1981-1987 Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat

• 1987-1991 Pondok-Pesantren Al Anwar (KH Maimun Zubair), Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

• 1991-1993 Ponpes Tahfidz Alquran Darul Furqah; (KH Abdul Qadir Urnar Basyir), Janggalan, Kudus; Jawa Tengah

Jabatan : 1993-sekarang

Pimpinan Majelis Taklim wal Tahfidzil Quran Darul Bayan, Citeureup, Sumedang, Jawa Barat



BDG.NEWS. Kendari. Sebagaimana beredar di Lini massa media sosial, bahwa sejumlah Advokat kenamaan di Sulawesi Tenggara, yang tergabung dalam Tim Pembela HTI di Sulawesi Tenggara akan melaksanakan Konferensi Pers terkait rencana pembubaran HTI. Tim Pembela diketuai AKP (Purn) Syahirudin Latif, SH dan Rekan didukung beberapa Advokat lainnya. Konferensi pers sedianya dilaksanakan pada Kamis (8/6/2017) di hadapan para Wartawan cetak dan online, lokal hingga nasional. Acara yang rencananya akan dilaksanakan di Hotel Banbo pada pukul 16.00 Wita ini akan dilakukan secara live streaming.

Namun beberapa jam sebelum pelaksanaan, kami mendapatkan kabar bahwa Konferensi Pers dibatalkan oleh pihak HTI Sultra. Beredar informasi bahwa pembatalan ini akibat adanya tekanan dari pihak kepolisian karena alasan keamanan, dimana ada sejumlah ormas dan lembaga mahasiswa yang akan menggagalkan acara ini. Setelah kami konfirmasi kepada Ustadz Muslim, selaku ketua HTI Sultra beliau mengatakan bahwa pembatalan ini adalah inisiatif HTI Sultra, dengan mempertimbangkan informasi aparat bahwa akan terjadi deadlock. “Kami yang memutuskan untuk membatalkan acara ini, dan kami sudah sampaikan kepada Pak Latif. Alasannya karena kami memperoleh informasi aparat bahwa ada keompok yang akan memboikot acara ini. Jika ini benar biarlah kami mengalah untuk kesekian kalinya, bukan karena kami takut terhadap tekanan atau merasa bersalah, tetapi kami tidak ingin konfrontasi dengan sesama ormas Islam. Ada saatnya kebenaran itu harus mengalah”.

Ustadz Muslim menambahkan bahwa sebenarnya HTI ini ormas berbadan hukum perkumpulan yang terdaftar di Kemenkumham, dan kami punya hak konstitusi untuk dibela oleh pengacara atas tindakan inkonstitusional ini. Apalagi HTI secara konstitusi belum dibubarkan, dibubarkan dari mana? Proses pengadilan belum ada. Tapi mengapa kami seolah-olah sudah kehilangan hak konstitusi? Jika ada ancaman dari ormas lain yang ingin memboikot kegiatan ini, apalagi ada ancaman deadlock, bukankah seharusnya kami diberikan pengamanan dan perlindungan aparat, lagipula apa kepentingan ormas untuk membubarkan kami? Mengapa mereka harus bertindak melebihi tugas aparat? Bukankah ini juga pelanggaran hukum? Mengapa dibiarkan?” Tanya Ustadz Muslim retoris.

“Tapi kami menghargai dan menyayangi aparat yang menjalankan perintah atasan, kami juga menyayangi saudara sesama ormas Islam, sebenci apapun mereka kepada kami, mereka itu saudara kami bukan musuh kami. HTI berdakwah tidak dengan kekerasan, maka seandainya pun mereka melakukan tindakan fisik, kami tidak akan membalasnya, biarlah Allah yang akan membalas. Tambahnya menyimpulkan”.

Senada dengan Ustadz Muslim, Ustadz Muh Yasin selaku Humas yang ditemui terpisah juga menyayangkan pembatalan ini. “Kami diperlakukan sangat tidak adil, HTI belum dibubarkan tapi mengapa kebijakan pemerintah sudah melarang kegiatan yang berkaitan dengan HTI, bahkan seolah HTI ini bukan warga negara Indonesia yang punya hak konstitusional untuk dibela. Ini semacam pembungkaman terhadap aktivitas dakwah. Lagi pula dakwah yang dilakukan HTI hanya mengambil sumber dari Qur’an dan Sunnah, apakah itu salah?” Pungkasnya.

Dalam pantauan kami, meskipun acara sudah dibatalkan, aparat dari Kepolisian dan TNI terlihat berjaga di sekitaran Hotel Banbo, tampak juga puluhan aktivis PMII yang melakukan demo dari simpang kampus menuju Hotel Banbo yang berencana akan memboikot kegiatan HTI.

Sebagaimana diketahui bahwa sebelumnya, terkait wacana pembubaran HTI oleh Menkopolhukam, Prof Yusril Ihza Mahendra yang menjadi Ketua Nasional Tim Pembela HTI, telah tegas mengatakan bahwa HTI belum dibubarkan sehingga tidak boleh ada pelarangan dan intimidasi terhadap HTI.. Karena itu pelarangan atas kegiatan HTI menurutnya adalah pelanggaran hukum.

Sumber: dakwah Kendari



BDG.NEWS. GARUT.- Sebagai wujud kepeduliannya akan nasib sesama yang tengah ditimpa musibah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) DPD II Garut melakukan aksi solidaritas di lokasi terdampak banjir kompleks Pesantren Persis 99, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Rabu (7/6/17).

Selain menyerahkan bantuan logistik, para aktivis HTI Garut ini juga turun langsung ke lokasi terdampak banjir memberikan bantuan tenaganya. Mereka turut membantu bahu-membahu membersihkan kompleks pesantren Persis Rancabango dari material sisa sisa banjir.

“Inalillahi, musibah ini merupakan peringatan atau ujian dari Allah. Masya Allah, semoga dari kejadian ini bisa diambil hikmahnya oleh kita semua. Untuk adek adek kami para santri dan para Ustadz di Pesantren Persis yang terdampak banjir tetap bershabar. Ya, kami memberikan bantuan logistik berupa alat tulis, pakaian, peralatan mandi dan beberapa keperluan khusus untuk para santri akhwat (antriwati/red.),” tutur Ustadz Asep Abu Fikri, salah seorang aktivis HTI Garut, Kamis (8/6/17).

Dikatakannya, bantuan yang didistribusikan ke Pesantren Persis Rancabango ini merupakan titipan dari para donatur sesama kaum Muslimin yang spontan digalang sehari pascaberita musibah banjir tersiar di garut-express.com.

“Masya Allah, dana yang kita (HTI Garut/red.) galang ini merupakan titipan saudara saudara kaum Muslimin dari beberapa daerah. Kami spontan menggalang dana pascaberita yang tersiar di garut-express.com kami baca,”  ungkapnya.

Sementara itu salahseorang santri di Pesantren Persis Rancabango mengaku bersyukur dengan adanya bantuan dari HTI Garut ini. Menurutnya, bantuan logistik ini memang sangat diperlukan, terlebih dalam kondisi bulan Ramdan.

“ Alhamdlillah, tentunya bantuan kakak- kakak kami dari HTI ini sangat bermanfaat sekali. Apalagi dalam bulan Ramadan, di pesantren kan masih pada kotor akibat banjir, banyak juga buku buku dan kitab kitab yang hanyut kebawa banjir. Jadi bantuan alat tulis ini memang benar benar bermanfaat. Terima kasih untuk bantuan materil dan tenaganya, hanya Allah lah yang pantas membalas semua kebaikan kakak kakak dari HTI,” tutur gadis berjilbab ini, seraya menyeka air matanya.

Sumber: Garut express


Bdg.News – Bertepatan pada tanggal 02 juni 2017 Umat Islam Jawa Barat mengadakan Aksi Bela Ulama di Gedung Sate, Bandung. Aksi damai ini dimotori oleh API (Aliansi Pergerakan Islam). Aksi ini diadakan untuk menghentikan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis Islam serta menolak pembubaran Ormas Islam. Acara ini dimulai pukul 13.00 – 17.00 WIB. Masa melakukan Longmarch dari Pusdai hingga Gedung Sate.

Acara ini dihadiri oleh berbagai ormas di Jawa Barat. Sesampainya di Gedung Sate massa menyatakan aspirasinya melalui orasi. Salah seorang orator, yaitu KH Ali Bayanullah yang merupakan Ketua Forum Ulama dan Tokoh Umat, mengatakan bahwasanya umat Islam saat ini sedang menghadapi fitnah yang keji dan makar yang besar. “Kita sekarang menghadapi fitnah yang keji, makar yang sangat besar”, Ujarnya.

Beliau menambahkan walaupun Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan, atau bahkan HTI dihancur leburkan, dakwah Islam tidak akan pernah berhenti

“Demi Allah, walaupun HTI dibubarkan,  walaupun HTI dihancur leburkan, sampai kapanpun dakwah Islam tidak akan Pernah Padam”, Ujarnya

Diakhir orasinya beliau mengingatkan para penguasa, bahwasanya walaupun Hizbut Tahrir Indonesia Bubar, orang orangnya tidak akan berhenti memperjuangkan Islam.

“Ingat wahai penguasa, jika Allah kehendaki Hizbut Tahrir bisa bubar, tetapi orang orangnya akan tetap Istiqomah memperjuangkan Islam”, Ujarnya.

Sebelum acara berakhir Pimpinan API (Aliansi Pergerakan Islam), Ust Asep Syarifudin menyampaikan Resolusi Bandung. “Umat Islam Jawa Barat melakukan aksi dalam rangka solidaritas dan keprihantinan terhadap kriminalisasi Ulama, Aktivis islam dan Pembubaran Ormas Islam yang Sedang Berlangsung di Indonesia”, Ujarnya.

Acara ditutup dengan pembacaan do’a dan para peserta meninggalkan lokasi aksi dengan tertib.
[Randy]



Bdg.News – Bertepatan pada tanggal 02 juni 2017 Umat Islam Jawa Barat mengadakan Aksi Bela Ulama di Gedung Sate, Bandung. Aksi damai ini dimotori oleh API (Aliansi Pergerakan Islam). Aksi ini diadakan untuk menghentikan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis Islam serta menolak pembubaran Ormas Islam. Acara ini dimulai pukul 13.00 – 17.00 WIB. Masa melakukan Longmarch dari Pusdai hingga Gedung Sate.

Acara ini dihadiri oleh berbagai ormas di Jawa Barat. Sesampainya di Gedung Sate massa menyatakan aspirasinya melalui orasi. Salah seorang orator, yaitu Ipank Fatin Abdullah yang merupakan Ketua Forum Pemuda dan Mahasiswa Indonesia, mengatakan bahwasanya tuntutan keadilan terhadap penista Al-Quran direspon dengan kriminalisasi ulama dan ormas Islam.

“Lagi lagi kembali umat islam disakiti hatinya, ketika Al-Quran dinistakan, kita menuntut keadilan. Direspon dengan kriminalisasi ulama. Setelah kriminalisasi ulama, kemudian dibidik ormas islam, Dibuatlah rencana pembubaran ormas islam”, Ujarnya.

Dia juga menambahkan bahwasanya telah terjadi juga monsterisasi terhadap ajara Islam, yaitu ide Syariah dan Khilafah. Seakan akan Syariah dan Khilafah merupakan ide yang menakutkan.

“Tidak hanya sampai disitu dibuat juga monsterisasi Ajaran Islam. Ide Syariah dan Khilafah dianggap ide yang menakutkan”, Ujarnya.

Diakhir orasinya, dia mengatakan bahwasanya pemuda dan mahasiswa Islam akan melanjutkan perjuangan ulama dan meneriakan Islam hingga Islam tegak di negeri ini.

“Maka kami para pemuda dan mahasiswa islam akan terus melanjutkan perjuangan Ulama, akan meneriakan Islam hingga islam tegak di negeri ini ”, Ujarnya.

Acara ditutup dengan pembacaan do’a dan para peserta meninggalkan lokasi aksi dengan tertib.

[Randy]


Bdg.News – Bertepatan pada tanggal 02 juni 2017 Umat Islam Jawa Barat mengadakan Aksi Bela Ulama di Gedung Sate, Bandung. Aksi damai ini dimotori oleh API (Aliansi Pergerakan Islam). Aksi ini diadakan untuk menghentikan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis Islam serta menolak pembubaran Ormas Islam. Acara ini dimulai pukul 13.00 – 17.00 WIB. Masa melakukan Longmarch dari Pusdai hingga Gedung Sate.

Acara ini dihadiri oleh berbagai ormas di Jawa Barat. Sesampainya di Gedung Sate massa menyatakan aspirasinya melalui orasi. Salah seorang orator, Ust. Luthfi Afandi, SH., MH. Selaku Humas DPD 1 HTI Jawa Barat memaparkan bahwasanya Syariat dan Khilafah bukanlah ancaman bagi Indonesia. 

“Apa yang membuat rakyat Indonesia miskin?, apakah syariat Islam atau bukan ?. Apakah semua masalah yang terjadi di Indonesia adalah akibat diterapkannya syariat islam atau bukan ?.”
“Yang jelas Indonesia rusak dikarenakan para kapitalis kapitalis, para komprador komprador, dan para politisi busuk”, Ujarnya.

Beliau menambahkan “Yang disampaikan oleh HTI adalah ajaran islam, darimulai Akidah, Syariah hingga Siyasah (Politik). Kalo sudah bahas siyasah, kitab fiqih manapun pasti akan membahas imam atau khilafah”, Ujarnya.

Diakhir Orasinya beliau mengatakan bahwasanya yang merusak Indonesia adalah Kapitalisme.

“Jika ada yang mengatakan khilafah akan merusak Indonesia, maka saya katakan itu fitnah yang keji dan nyata. Yang merusak Indonesia itu adalah kapitalisme, sosialis – komunisme, neoliberalisme dan neoimperialisme”.

“Siapa yang menjual BUMN kepada asing?  siapa yang menggadaikan SDA kepada Asing ?, Siapa yang menaikan TDL, apa yang demikian sesuai dengan pancasila ?”, Ujarnya

Acara ditutup dengan pembacaan do’a dan para peserta meninggalkan lokasi aksi dengan tertib.

[Randy]


Bdg.News – Bertepatan pada tanggal 02 juni 2017 Umat Islam Jawa Barat mengadakan Aksi Bela Ulama di Gedung Sate, Bandung. Aksi damai ini dimotori oleh API (Aliansi Pergerakan Islam). Aksi ini diadakan untuk menghentikan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis Islam serta menolak pembubaran Ormas Islam. Acara ini dimulai pukul 13.00 – 17.00 WIB. Masa melakukan Longmarch dari Pusdai hingga Gedung Sate.

Acara ini dihadiri oleh berbagai ormas di Jawa Barat. Sesampainya di Gedung Sate massa menyatakan aspirasinya melalui orasi. Salah seorang orator, Ust. Luthfi Afandi, SH., MH. Selaku Humas DPD 1 HTI Jawa Barat menyampaikan bahwasanya dahulu Rasulullah merupakan orang yang sangat dicintai oleh Kaum Qurais, namun semuanya berubah setelah Rasulullah menyebarkan Ajaran Islam.

“Rasulullah sebelum menyebarkan risalah Islam begitu dicintai oleh orang orang kafir dan musyrik. Tapi kondisinya berubah 180 derajat menjadi membenci dan mencaci Rasulullah saw, karena Rasulullah saw menyampaikan risalah Islam secara terbuka tanpa bermanis muka kepada pimpinan kafir qurais”, Ujarnya.

Lanjutnya beliau menjelaskan dalam orasinya bahwasanya di Indonesia tidak hanya terjadi kriminalisasi ulama dan aktivis Islam saja, namun ada juga ide untuk mengkriminalisasi Ajaran Islam.

“Mereka tidak hanya mengkriminalisasi ulama dan aktivis islam, tapi mereka juga mengkriminalisasi ajaran Islam yang diantaranya khilafah. Khilafah itu ajaran islam atau bukan ?,”.

“Yang disampaikan oleh HTI adalah ajaran islam, dari mulai Akidah, Syariah hingga Siyasah. Kalo sudah bahas siyasah, kitab fiqih manapun pasti akan membahas imam atau khilafah”, Ujarnya.

Hal senada disampaikan Oleh Ketua Forum Pemuda dan Mahasiswa Indonesia, Ipank Fatin Abdullah. Dia mengatakan bahwasanya tuntutan keadilan terhadap penista Al-Quran direspon dengan kriminalisasi ulama dan ormas Islam. Dia juga menambahkan bahwasanya telah terjadi juga monsterisasi terhadap ajaran Islam, yaitu ide Syariah dan Khilafah. Seakan akan Syariah dan Khilafah merupakan ide yang menakutkan.

“Lagi lagi kembali umat islam disakiti hatinya, ketika Al-Quran dinistakan, kita menuntut keadilan. Direspon dengan kriminalisasi ulama. Setelah kriminalisasi ulama, kemudian dibidik ormas islam, Dibuatlah rencana pembubaran ormas islam”, Ujarnya.

 “Tidak hanya sampai disitu dibuat juga monsterisasi Ajaran Islam. Ide Syariah dan Khilafah dianggap ide yang menakutkan”, Ujarnya.

Acara ditutup dengan pembacaan do’a dan para peserta meninggalkan lokasi aksi dengan tertib.
[Randy]




Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget