August 2017



Pada hari Senin, 28 Agustus 2017, Majelis Ta’lim Al Hikmah yang bertempat di Mesjid Al Hikmah Kopo mengadakan mudzakaroh menolak Perpu Ormas No. 2 Tahun 2017. Mudzakaroh ini dilakukan karena pada saat ini ada sesuatu yang mengganjal dalam pergerakan perjalanan dakwah untuk meninggikan kalimat Alloh SWT, seperti yang disampaikan Ust. Roni Sarosih Hidayat sebagai Ketua Majelis Ta’lim Al Hikmah sekaligus sebagai tuan rumah dalam acara ini.
”Alhamdulillah pada malam ini kita sebagai umat Islam hadir dalam acara ini, sebagai bukti kepedulian kita terhadap keberlangsungan dakwah Islam. Kondisi sekarang merasa ada sesuatu mengganjal dalam pergerakan perjalanan dakwah untuk meninggikan kalimat Alloh, terutama dakwah Syariah dan khilafah yang telah mendapat dukungan sangat besar dari umat Islam Indonesia. Maka untuk menghambat gelombang dukungan tersebut munculah Perpu No. 2 tahun 2017. Hal ini merupakan hal yang biasa karena dakwah Islam akan menghadapi rongrongan dari orang-orang yang anti Islam. Seperti di jaman Rosululloh SAW, ketika dakwah yang dilakukannya mendapat dukungan dari penduduk Mekah ketika itu, maka para pembesar Quraisy yang takut kedudukannya hilang mengadakan rapat di Darun Nadwa dan bersepakat membuat Konsensus menghadang Dakwah Nabi kita, bahkan membuat rencana pembunuhan. Kondisi ini sama dengan sekarang munculnya Perpu No. 2 Tahun 2017 merupakan “Konsensus” untuk menghadang dakwah Islam di Indonesia. Tapi umat Islam tidak boleh takut, tetapi harus yakin bahwa ketika orang orang kafir dan antek-anteknya membuat makar, maka Alloh SWT akan membalasnya membuat makar " beliau sambil mengutip ayat Al-Qur’an Surat Ali Imran (3) ayat 54
“Orang-orang kafir itu membuat makar, dan Allah membalas makar mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas makar”.(TQS Ali Imran (3) ayat 54).
“Maka umat Islam harus terus maju dan menolak Perpu Ormas ini, karena sangat mengganjal dakwah untuk meninggikan kalimat Alloh SWT” pungkas beliau.

Hadir juga dalam acara ini Ust. Toni Hermanto (Alumnus Pondok Pesantren Gontor) beliau mengingatkan bahwa Perpu ini menimbulkan kondisi umat Islam tidak tenang, tidak tentram dan tidak damai, seperti yang beliau sampaikan,
" Kaum Muslimin bersaudara, dan kaum muslimin saat ini kondisinya sangat mengiris hati seperti kaum muslimin Rohingya, pemerintahnya membunuh kaum muslimin secara terang terangan. Semoga Alloh SWT memberikan pertolongan kaum muslimin di seluruh Dunia yang sedang di dzolimi. Ketidak tenangan ini juga terjadi di Indonesia. Undang undang yang diharapkan memberikan ketenangan, kedamaian dan ketentraman bagi rakyat, tetapi justru Perpu Ormas No. 2 Tahun 2017 memunculkan sebaliknya bagi umat Islam”. Dalam Perpu ini pasal 59 ayat 4c bahwa ormas yang dilarang adalah ormas yang ‘’menganut, mengembangkan, serta menyebarkan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila”. Dalam penjelasannya dijelaskan bahwa yang dimaksud ayat tersebut “antara lain ajaran ateisme, komunisme/marxisme-leninisme”. Tetapi justru aneh pemerintah tidak menindak pihak yang menyebarkan ajaran tersebut, seperti partai pendukung penguasa yang menjalin kerjasama baik dengan Partai Komunis Tiongkok, bahkan akhir-akhir ini pemerintah mengundang Partai Komunis Vietnam untuk bekerja sama. Jadi sangat jelas Perpu ini hanya ditujukan untuk Ormas Islam, jadi umat Islam harus menolak Perpu ini” tegas alumnus Ponpes Gontor ini.

Perwakilan dari Forum Tokoh dan Ulama Jawa Barat hadir juga dalam acara ini yaitu Ust. Asep Soedrajat, beliau memulai dengan hadis Nabi SAW
"Suatu saat umat Islam seperti makanan yang dikerumuni musuh musuhnya”.
Beliau merupakan salah satu Ulama yang pernah hadir dalam Aliansi Ulama Nusantara yang pernah mendatangi DPR RI dalam pembahasan RUU Ormas , yang sekarang sudah menjadi UU Ormas tahun No. 17 Tahun 2013. Beliau menegaskan bahwa,
“Perpu Ormas Ini juga menunjukan ke diktatoran rezim penguasa, karena
1. Perpu ini di keluarkan tidak dibutuhkan karena undang-undang ormas sudah ada
2. Tidak ada kegentingan yang memaksa, karena ormas tidak genting.
3. Berorganisasi itu hak warga negara, tetapi perpu ormas ini memasung hak berorganisasi. Inti perpu ini adalah untuk memberangus hak berorganisasi.”

Bahkan beliau juga menegaskan bahwa Perpu ini menunjukan kediktatoran pemerintah, buktinya yaitu,
1. Pembubaran ormas tidak lewat pengadilan tetapi hanya lewat surat peringatan satu kali, tujuh hari setelahnya bisa dibubarkan.
2. Pengurus, anggotanya bisa ditahan seumur hidup maksimal 20 tahun dengan jeratan anti Pancasila menurut tafsiran pemerintah.

Jadi beliau menegaskan Perpu Ormas ini persoalan politik maka kita harus melawan secara politik. Sehingga semua umat Islam harus melakukan penolakan secara politik terutama para ulamanya. Karena Perpu ini jelas alat untuk memberangus ormas Islam. Bahwa para ulama akan mengawasi Sidang DPR RI jika ada agenda membahas Perpu ini untuk dibuat Undang-Undang, para ulama akan mengingatkan bahwa mereka (anggota DPR RI) suatu saat akan “Mati” dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, jika mereka mendukung Perpu ini yang jelas membuat madharat bagi umat Islam maka mereka tidak akan pernah mencium bau Surga. Acarapun sempat dihentikan sesaat karena bersamaan dengan acara tersebut ada Jemaah masjid tersebut meninggal dunia. Jadi kematian akan selalu datang tidak terduga. Perpu Ormas ini jelas bermadharat bagi Umat Islam, jadi barang siapa yang mendukungnya termasuk anggota DPR RI harus mempertanggung jawabkannya di yaumil akhir kelak. (MS).


[OPEN RECRUITMENT]

Apa dan Mengapa ada Bandung Political Research?
Kemajuan sains dan teknologi tampak belum diimbangi oleh semangat mahasiswa dalam melakukan optimalisasi pengkajian terhadap berbagai data dan informasi akan persoalan pelik yang dihadapi oleh bangsa ini. Persoalan dalam berbagai bidang lini; pendidikan, sosial & budaya, politik, hukum, kemanusiaan dsb. Hal ini berdampak kepada kurangnya pemberdayaan karya-karya intelektual dari berbagai sumber dan rentan dimanfaatkan secara menyimpang.

Kondisi tersebut akan semakin mengencangkan kemandulan akan kemampuan analisis bagi mahasiswa dan kaum intelektual dalam merespon berbagai situasi dan kondisi yang dihadapi bangsa. Hal ini dikarenakan kepungan hasil pengelolaan data dan informasi yang telah mewujudkan isu-isu menyimpang sehingga mengarahkan kepada sebuah aksi kriminal. Dampaknya, masyarakat sebagai objek tanggungjawab atas peran dan fungsi mahasiswa mengalami perpecahan dan berpotensi cheos.

Maka dari itu, perlunya ada upaya optimalisasi peran dan fungsi mahasiswa dalam pemberdayaan berbagai data dan informasi untuk dikelola dalam ruang kajian strategis yang tersistematis secara rasional dan ilmiah. Hal itu untuk menopang peran fungsi mahasiswa dalam menyelamatkan masyarakat dan kondisi negeri ini dari berbagai ancaman-ancaman eksternal maupun internal.

Wujud nyata dari pemberdayaan tersebut adalah membangun produktivitas mahasiswa dalam melahirkan varian karya-karya politik baik berbasis bidang keilmuan maupun konsepsi tatanan kehidupan bermasyarakat. Sehingga dapat menjadi solusi komprehensif atas problem-problem yang dihadapi negeri ini. Maka diperlukan suatu kelembagaan yang memadukan Kastrat dan Advokasi dalam basis keahlian dan penguasaan konsepsi tatanan kehidupan ideal sebagai satu kesatuan motor penggerak untuk mewujudkan perubahan lebih baik bagi bangsa dan negeri.

Segera Ikuti Kegiatan-Kegiatan
Bandung Political Research

REGISTRASI ONLINE
http://www.bandungpoliticalresearch.org/p/registrasi-online.html



Menteri Kordinator bidang Kemaritiman (Menko Maritim) Luhut Binsar Panjaitan mengatakan China Development Bank (CDB) berencana akan membuka kantor cabang di Indonesia. CDB ini merupakan lembaga keuangan Tiongkok yang akan ikut membiayai kereta cepat Jakarta-Bandung. Sementara Agus Martowihardojo Gubernur BI menuturkan pemerintah mendukung dan memfasilitasi lembaga keuangan asing untuk membuka kantor perwakilan di Indonesia guna mendukung kegiatan pembiayaan infrastruktur.

Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung membutuhkan biaya hingga USD 5,1 miliar (setara Rp 67,8 triliun dengan kurs Rp 13.300) di mana CDB menanggung pinjaman sebesar 75 persen dari total investasi. Sisa 25 persen berasal dari modal perusahaan konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).

Pemerintah sedang gencar membangun Infrastruktur, menurut Gubernur BI Agus Martowihardojo, pemerintah membutuhkan sumber pembiayaan untuk proyek infrastruktur di Indonesia. Saati ini, alokasi anggaran untuk pembangunan Infrastruktur pembangunan dalam APBN 2017 sebesar Rp.387,7 Triliun. Sedangkan pada tahun 2018 anggaran Infrastruktur direncanakan naik 2 %, menjadi Rp.409 Triliun. Namun anggaran tersebut masih dirasa kurang mencukupi, sehingga harus mencari sumber-sumber pendukung, akhirnya pemerintah mendorong peran swasta dalam pembangunan Infrastruktur. Utang luar negeripun menjadi jalan pintas sumber pendanaan Infrastruktur.

Utang demi utang dari negara asing menjadi langganan, bahkan Bank Dunia telah menempatkan utang Indonesia kedalam level bahaya, sebab fluktuasinya sudah diatas 30 %. Pengamat ekonomi Ichsanuddin Noorsy mengatakan jika beban utang luar negeri suatu negara itu fluktuatifnya mencapai 30 %, maka dalam level bahaya. Bank Dunia menempatakan Indonesia pada level tersebut, dengan fluktuasi beban utang luar negeri sebesar 34,08 %. Selain itu pakar ekonomi ini juga mengungkapkan bahwa selama negara didikte oleh asing, maka Indonesia sampai 2040 tidak akan mampu menghadapi kekuatan asing. Namun dengan peringatan level utang bahaya dari Bank Dunia, utang indonesia kepada negara China terus meningkat tajam, peningkatan ini terjadi sejak 2015 setelah Presiden Jokowi memimpin, dari data yang dirilis Bank indonesia tercatat jumlah utang ke China pada bulan Mei 2017 sebesar 15,491 miliar dolar AS atau sekitar Rp.206 Triliun.

Selengkapnya: http://www.muslimanalyze.com/2017/08/neoimperialisme-aseng-melalui-proyek.html



Menteri keuangan Sri Mulyani mengajak mahasiswa untuk patuh membayar pajak, atau setidaknya membuat Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) agar bisa membayar pajak. Menteri ini juga terus mengungkapkan bahwa dalam keuangan negara, pajak begitu penting.

Pemetaan potensi wajib pajak bagi kalangan mahasiswapun sedang digalakkan oleh Dirjen pajak, nota kesepahaman peningkatan kerjasama perpajakan melalui menristek dikti sudah ditanda tangani oleh menteri keuangan bambang bojonegoro dengan Menristek dikti M. Nasir.

Tidak hanya mahasiswa, bahkan pelajarpun bisa juga wajib bayar pajak jika sudah punya penghasilan, hal demikian menurut pendapat dari Dirjen Pajak Ken Dwijugiastradi. Upaya menambah target pajak terus digiatkan oleh pemerintah, agar penerimaan dari sektor pajak bisa meningkat.

Dalam Perspektif ekonomi liberal sudah barang tentu akan menjadikan pajak sebagai sumber utama pemasukan APBN, di tahun 2017 saja target penerimaan perpajakan mencapai Rp.1.498 T, naik 15 % dari tahun 2016 sebesar Rp.1.355,203 T, reformasi perpajakanpun akan terus dilakukan untuk mencapai target tersebut.

Mahasiswa sebagai pihak yang sebelumnya tidak menjadi sasaran pajak, sekarang menjadi target wajib pajak, hal ini hanya dengan alasan bahwa potensi mahasiawa menjadi potensi wajib pajak pasca lulus atau ketika sudah memiliki usaha sambil kuliah bahkan dengan alasan untuk mengingatkan para orang tua mahasiswa untuk rajin bayar pajak.

Spirit reformasi perpajakan sebagai upaya optimalisasi penarikan pajak memang menuai banyak hambatan, hambatan penarikan pajak hari ini adanya upaya mangkir dari wajib pajak, khususnya upaya mangkir pajak dari perusahaan super besar. Mentri keuangan bambang brodjonegoro melaporkan saat ini terdepat 2.000 penanam modal asing (PMA) di Indonesia yang selama 10 tahun terakhir tidak membayar alias mangkir dari kewajiban membayar pajak, akibatnya Indonesia mengalami kerugian hingga Rp.500 T dalam 10 tahun. Dia juga mengungkapkan bahwa ada 6.000 WNI yang memiliki rekening di satu negara asing hanya untuk menghindari pajak. Selain itu data mangkir pajak juga disampaikan oleh Dirjen Pajak A. Fuad Rahmany bahwa ada 60 % perusahaan tambang tidak membayar pajak dan royalti kepada negara.

Beginilah nasib negara yang mengadopsi konsep kapitalisme dalam pengelolaan ekonominya, maka negara ini akan membebankan beban negara kepada rakyatnya, dengan cara menarik pajak ke rakyatnya, namun jika dirasa masih kurang maka akan meminjam ke luar negeri. Artinya APBN fokus menggunakan dana pajak dan hutang luar negeri, selain mengambil dari sumber daya alam dengan jumlah sedikit karena kekayaan SDA diserahkan kepada asing dan aseng. Sungguh ironis!

Dalam perspektif Islam, bukan hutang, apa lagi pajak, yang menjadi sumber APBN, tapi hasil dari sumber daya alam yang sejatinya milik rakyat akan dikelola negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat, selain negera mendapatkan pemasukan dari sumber-sumber lainya. Hal inilah yang membedakan konsep APBN Islam dengan perspektif ekonomi liberal, dimana kekayaan alam malah justru diserahkan kepada asing maupun aseng, serta penarikan pajak kepada warganya dijadikan sumber utama pembangunan []

Mashun Sofyan - Analis MAin Bidang Politik Ekonomi


Bdg.news. Bandung - Puluhan massa yang tergabung dalam Forum Pemuda dan Mahasiswa Islam (FPMI) Jawa Barat menggelar aksi damai menuntut pencabutan Perppu Ormas No 2 tahun 2017 pada Rabu (16/8/2017) di depan Gedung DPRD Jawa Barat.

Aksi tersebut dilakukan sebagai buntut dari pemerintah melalui Menkopolhukam Wiranto mengumumkan terbitnya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Ormas).

Andika Permadi sebagai koordinator aksi menyampaikan tuntutannya bahwa perpu ormas harus dicabut karena tidak memiliki latar belakang yang jelas dan bertentangan dengan fakta yang ada selama ini.
“Kami menuntut pencabutan Perppu Nomor 2 thaun 2017. Alasan pemerintah untuk terbitnya Perppu tersebut tidak bisa diterima karena bertentangan dengan fakta yang ada” katanya.

Ketua FPMI Jawa Barat ini juga mengungkapan dengan adanya perpu ormas maka negeri ini bisa berubah menjadi diktator yang represif dan otoriter yang justru selama ini ditolak.
“Perppu Nomor 2 tahun 2017 mengandung sejumlah poin-poin yang akan membawa negeri ini kepada era rezim dictator yang represif dan otoriter” ungkapnya.

Dia juga menambahkan bahwa dengan isi perpu ormas ini maka akan menjadikan rezim berkuasa hari ini bisa menghantarkan kepada rezim yang represif dan anti islam.
“Dengan diterbitkannya Perppu Nomor 2 tahun 2017 semakin menegaskan bahwa rezim yang berkuasa saat ini rezim represif dan anti Islam” tambahnya.

Dalam audiensinya dengan Komisi 1 DPRD Jawa Barat andhika mengajak kepada para anggota dewan untuk bersama-sama dengan pemuda dan mahasiwa menolak perpu ormas
“Kami meminta kepada anggota dewan, sebagai perwakilan rakyat untuk bergabung dalam barisan kami, dalam rangka menegakan keadilan dalam bermasyarakan dengan menolak Perppu Nomor 2 tahun 2017” tandasnya.

Beliau juga mengajak kepada seluruh koponen bangsa baik itu pemuda, mahasiswa, aparat kepolisian, dan masyarakat luas untuk terlibat dalam memperjuangan keadilan di negeri ini dengan cara menyuarakan pencabutan perpu ormas.
“Kami mengajak seluruh komponen masyarakat, termasuk pemuda dan mahasiswa untuk bersama-sama menyuarakan pencabutan Perppu No 2 tahun 2017 sebagai upaya menegaka keadilan untuk masyarakat dari kesewengan-wenangan pemerintah” pungkasnya.

Sejumlah tokoh mahasiswa menyampaikan orasinya di depan Gedung Sate serta DPRD Jawa Barat dan aparat kepolisian turut mengamankan unjuk rasa yang berlangsung tertib dan damai. []


Forum Tokoh dan Aktivis Muda : Indonesia Belum Merdeka!

Bandung - “Kita Muda, Kita Peduli Negeri”, Itulah tema yang dibahas dalam Forum Tokoh dan Aktivis Muda, Ahad, 13/08/17. Acara yang mengambil momen kemerdekaan Indonesia ini diselenggarakan oleh FPMI (Forum Pemuda dan Mahasiswa Islam) Jawa Barat dihadiri oleh puluhan mahasiswa dan pemuda dari berbagai lembaga.

Acara ini dipandu oleh tokoh mahasiswa yakni Fauzi Ihsan dan salah satu jurnalis muda, Saifal. Acara diawali dengan penayangan video tentang realitas Indonesia yang saat ini ternyata masih dalam keadaan terjajah. “Fakta rusaknya negeri ini sudah nyata, menafikkan kerusakan kondisi yang ada merupakan bentuk ketidakpeduian” ungkap Dhani selaku fasilitator dari FPMI.

Dalam sesi diskusi, muncul berbagai sudut pandang menarik dari berbagai tokoh dan aktivis muda.

Acara ditutup dengan beberapa hasil:

1. Indonesia sesungguhnya belum mendapatkan kemerdekaan hakiki. Meski sudah lepas dari penjajahan fisik, namun negeri ini ternyata menjadi objek penjajahan baru baik dalam bidang ekonomi, politik, budaya, dll.

2. Pemerintah belum hadir untuk kepentingan rakyat, namun justru berbagai kebijakan zhalim lahir, mulai dari kenaikan harga listrik hingga langkanya garam.

3. Pemerintah justru menekan suara-suara kritis atas kebijakan zhalim yang dilahirkan. Salasatunya dengan lahirnya Perppu No. 2 tahun 2017. Perppu ini mengandung sejumlah poin-poin yang akan membawa negeri ini kepada era rezim diktator yang represif dan otoriter. Hal ini menggiring kita untuk kembali hidup di zaman penjajahan. Oleh karena itu, Perppu ini harus dicabut.

4. Mengutuk segala bentuk kriminalisasi terhadap pihak-pihak kritis terhadap kebijakan pemerintah baik dari kalangan Ulama, Aktivis dan Pihak pengusung Ajaran Islam.

5. Mengajak para komponen kaum muda dan Mahasiswa Islam untuk terus kritis atas berbagai kebijakan neoliberal yang merusak negeri ini. Termasuk mengantisipasi berbagai fitnah dan kriminalisasi terhadap Ajaran Islam, agama yang menjadi mayoritas penduduk negeri ini.

6. Mengajak seluruh komponen Pemuda dan Mahasiswa untuk bersatu dan bersinergi dalam membangun perjuangan untuk membebaskan negeri ini menuju kemerdekaan hakiki []


Bandung - Ahad, 13/08/17, Forum Pemuda dan Mahasiswa Islam mengadakan Diskusi Para Tokoh dan Aktivis Muda dengan mengusung tema “Kita Muda, Kita Peduli Negeri”.

Acara ini dipandu oleh tokoh aktivis mahasiswa Bandung Raya, Fauzi Ihsan dan salah satu Jurnalis muda, Saifal. Acara diawali dengan penayangan video tentang realitas Indonesia yang saat ini ternyata masih dalam keadaan terjajah. “Fakta rusaknya negeri ini sudah nyata, menafikkan kerusakan kondisi yang ada merupakan bentuk ketidakpedulian” ungkap Dhani selaku fasilitator pertama dari FPMI.

Mashun selaku fasilitator kedua dari BE Korwil BKLDK Jawa Barat memaparkan bahwa kemerdekaan yang hakiki adalah bagaimana semua pilar merdeka. “Setelah dikatakan merdeka banyak permasalahan yang tidak kunjung selesai. Kemerdekaan hakiki adalah segala pilar yang ada merdeka. Namun dalam kenyataannya, konteks negara tidak merdeka, konteks bermasyarakat begitu mengekor cara hidup hedonisme, dan konteks individu tidak menyandarkan pada rasionalitas dalam bersikap” tuturnya

senada dengan hal tersebut, para aktivis pun menyampaikan pandangannya terkait kondisi Indonesia yang memprihatinkan, “Permasalahan kemiskinan menyebabkan masalah lain seperti konflik sosial. Ekonomi neo liberal tidak berhasil atau dikatakan gagal” ungkap Elan selaku Ketua LDK KMM STKS sebagai salah satu peserta forum.

Begitu juga Tatang Hidayat selaku Ketua BE Korda BKLDK Kota Bandung menyoroti permasalahan pendidikan yang semakin mahal. “Pendidikan saat ini seperti perusahaan swasta” tandasnya. []



Bdg.news. Bandung - Ahad, 13/08/17, Tokoh dan Aktivis Muda, berkumpul dalam acara yang diselenggarakan oleh FPMI (Forum Pemuda dan Mahasiswa Islam) dengan mengangkat tema “Kita Muda, Kita Peduli Negeri”.

Acara ini dipandu oleh tokoh mahasiswa Islam Jawa Barat yakni Fauzi Ihsan dan salah satu jurnalis muda, Saifal. Acara diawali dengan penayangan video tentang realitas Indonesia yang saat ini ternyata masih dalam keadaan terjajah. “Fakta rusaknya negeri ini sudah nyata, menafikkan kerusakan kondisi yang ada merupakan bentuk ketidakpedulian” ungkap Dhani selaku fasilitator pertama dari FPMI.

Selain merespon kondisi negeri yang dianggap masih belum benar-benar merdeka, para tokoh dan Aktivis Muda juga mengkritik pembungkaman suara-suara kritis dari kalangan umat Islam, “Kebebasan berpendapat sebenarnya sudah diatur. Tidak sedikit dari kalangan aktivis yang menyuarakan pendapat dianggap makar, bahkan dituduh anti NKRI. Maka jelas bagi kita semua harus bersatu” ungkap Ujay dari LDMI HMI Kabupaten Bandung.

Senada dengan itu Aji Teja selaku Ketua Gema Pembebasan Kota Bandung mengungkapkan, “Empat pilar digunakan sebagai alat legitimasi untuk menekan kelompok tertentu”.

Disisi lain, Ipank Fatin selaku Direktur Muslim Analyze Institute memaparkan bagaimana peran kaum muda dalam menyikapi permasalahan. “Peran dan langkah kaum muda muslim setidaknya mengambil estafet perjuangan kemerdekaan. Jangan sampai saat ini kita malah menjadi estafet penjajahan. Pemuda muslim harus membangun cara pandang kritis. Perjuangan Mahasiswa tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus bersatu dengan umat untuk sama-sama melakukan perjuangan di negeri ini” tuturnya []


Bdg.News – Bertepatan pada tanggal 11 Agustus 2017 Umat Islam Jawa Barat mengadakan Aksi Tolak Perppu Ormas di Gedung Sate, Bandung. Aksi damai ini dimotori oleh FUT (Forum Ulama dan Tokoh). Aksi ini diadakan untuk menolak pembubaran Ormas Islam dan menuntut pemerintah untuk mencabut Perppu Ormas. Acara ini dimulai pukul 09.00 – 10.30 WIB. Masa melakukan Longmarch dari Pusdai hingga Gedung Sate.

Di depan Gedung Sate mereka menyampaikan aspirasinya. Mereka menyampaikan bahwasanya mereka dengan keras menolak terbitnya PERPPU No.2 Tahun 2017 karena sesungguhnya tidak ada alasan yang bisa diterima bagi terbitnya PERPPU itu. UU No.17 tahun 2013 tentang ormas adalah peraturan perundangan yang telah ditetapkan.

Mereka juga menambahkan bahwasanya, PERPPU tersebut mengandung sejumlah poin poin yang bakal membawa negeri ini kepada era rezim diktator yang represif dan otoriter.

Berdasarkan hal tersebut Forum Ulama dan Tokoh mengatakan bahwasanya semua yang dilakukan membuktikan bahwa rezim yang berkuasa saat ini adalah rezim represif anti Islam. Buktinya, setelah sebelumnya melakukan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis, bahkan diantaranya ada yang masih ditahan hingga sekarang, lalu melakukan pencekalan terhadap para dai, pembubara atau penghalangan terhadap kegiatan dakwah di sejumlah tempat, kini pemerintah menerbitkan PERPPU yang sangat represif dengan tujuan membubarkan ormas.

Acara ditutup dengan pembacaan do’a dan para peserta meninggalkan lokasi aksi dengan tertib.

[MR]





Bdg.News – Bertepatan pada tanggal 11 Agustus 2017 Umat Islam Jawa Barat mengadakan Aksi Tolak Perppu Ormas di Gedung Sate, Bandung. Aksi damai ini dimotori oleh FUT (Forum Ulama dan Tokoh). Aksi ini diadakan untuk menolak pembubaran Ormas Islam dan menuntut pemerintah untuk mencabut Perppu Ormas. Acara ini dimulai pukul 09.00 – 10.30 WIB. Masa melakukan Longmarch dari Pusdai hingga Gedung Sate.

Di depan Gedung Sate mereka menyampaikan aspirasinya. Mereka menyampaikan bahwasanya mereka dengan keras menolak terbitnya PERPPU No.2 Tahun 2017 karena sesungguhnya tidak ada alasan yang bisa diterima bagi terbitnya PERPPU itu. UU No.17 tahun 2013 tentang ormas adalah peraturan perundangan yang telah ditetapkan.

Salah seorang orator, Dr. Mursalin Dahlan mengatakan, “Hizbut Tahrir maju terus”.

Berdasarkan hal tersebut Forum Ulama dan Tokoh mengatakan bahwasanya semua yang dilakukan membuktikan bahwa rezim yang berkuasa saat ini adalah rezim represif anti Islam. Buktinya, setelah sebelumnya melakukan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis, bahkan diantaranya ada yang masih ditahan hingga sekarang, lalu melakukan pencekalan terhadap para dai, pembubara atau penghalangan terhadap kegiatan dakwah di sejumlah tempat, kini pemerintah menerbitkan PERPPU yang sangat represif dengan tujuan membubarkan ormas.

Acara ditutup dengan pembacaan do’a dan para peserta meninggalkan lokasi aksi dengan tertib.

[MR]






Zaman pasti berputar dan perubahan adalah sebuah keniscayaan. Dunia hari ini memasuki era baru yang jauh berbeda dari era sebelumnya. Kecanggihan dunia teknologi, cepatnya arus informasi menjadi sesuatu yang sangat tidak asing dan begitu lekat dengan kehidupan kita.  Segala macam hal yang konvensional dan konservatif nyaris menjadi sesuatu yang usang dan tidak lagi berlaku dimana-mana. Semuanya beralih kepada sesuatu yang instan dan cepat, digital.  Generasi hari ini besar dengan barang-barang elektronik dan dunia informasi tanpa batas adalah tempat hidup mereka. [1]
Mereka tidak kenal lagi layar tancap. Mereka lebih kenal internet dan keseluruhan media social tanpa terkecuali. Mereka dapat mencari, menikmati, melakukan apapun di dunia maya tersebut. Sejalan dengan kemudahan akses informasi secara cepat dan praktis, kecerdasan dan kelincahan remaja seperti ini sangat mengagumkan. Tetapi di sisi lain kerawanan moral juga menyedot perhatian, karena secara tidak sadar moralitas mereka juga dibentuk oleh situs-situs yang mereka kunjungi setiap menitnya. Mereka adalah ‘manusia kekinian’ yang hari ini populer disebut sebagai generasi Z. [2]

Teori Generasi
Istilah generasi Z baru-baru ini memang sering terdengar dan cukup familiar di telinga. Generasi ini sangat akrab dengan gadget dan berbagai alat canggih di dalam kesehariannya. Mereka lahir dan tumbuh ditengah merebaknya teknologi digital, sehingga ada yang menjuluki mereka sebagai generasi digital native. Generasi digital native bisa menggunakan teknologi digital tanpa perlu belajar terlebih dahulu. Mereka lebih mengedepankan trial and error ketika menggunakan fitur-fitur teknologi digital.[3]
Berbeda dengan generasi-generasi pendahulunya, sejak kecil mereka sudah mengenal (dan diperkenalkan) dan akrab dengan berbagai gadget yang canggih. Arus informasi yang cepat dan tanpa batas membentuk generasi Z sebagai generasi yang lebih cepat dalam memproses informasi. Tak ayal, internet menjadi dunia baru bagi generasi Z yang secara langsung atau pun tidak memberikan pengaruh terhadap perkembangan perilaku dan kepribadiannya. Mereka menjadi generasi yang lebih bebas, lebih cepat dalam menentukan sikap, mengarahkan cita-cita dan keinginan kerja dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Tuhana Taufiq Andrianto dalam Jusuf AN (2011) memperkirakan akan terjadi booming Generasi Z  sekitar tahun 2020.[4]
Boomingnya istilah Generasi Z di Indonesia terbilang cukup baru. Generasi Z adalah salah satu dari pengelompokkan generasi yang dilakukan oleh para pembuat teori generasi yang awalnya berkembang di Amerika Serikat. Para pengamat yang mencetuskan Generation Theory pada awalanya beranggapan bahwa generasi adalah orang-orang yang lahir di masa tertentu memiliki kemiripan karakteristik satu sama lain. Hal ini bisa terjadi karena masing-masing kelompok generasi mendapatkan informasi perkembangan teknologi, tren, dan gaya hidup yang hampir sama. Dengan demikian, kemiripan itu dapat terwujud meski setiap individu dibatasi oleh perbedaan tempat tinggal, latar belakang kehidupan, pendidikan, dan budaya.[5]
Mannheim (1923), seorang sosiolog asal Hungaria mendefinisikan sebuah generasi adalah sebuah kelompok yang terdiri dari individu yang memiliki kesamaan dalam rentang usia, dan berpengalaman mengikuti peristiwa sejarah penting dalam suatu periode waktu yang sama. Berdasarkan teori generasi Man­nheim ini, para ahli sosiolog membagi manusia menjadi beberapa ge­nerasi; Generasi Era Depresi, Ge­nerasi Perang Dunia II, Generasi Pas­ca-Perang Dunia II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Ge­nerasi X, Generasi Y (Milenial), dan Generasi Z. Istilah Generasi Z, men­jadi semakin populer setelah di­gunakan saat presentasi oleh agen pe­ma­saran Spark and Honey pada 2014, dan menyebutkan bahwa Gene­rasi Z ada­lah mereka yang lahir antara tahun 1995 sampai 2014.[6]
Meskipun ada pengelompokkan tentang generasi, apabila kita membaca berbagai literatur yang mendiskusikan tentang hal ini, batasan pasti “Cut Off” setiap generasi sebenarnya tidak pernah ada suatu kesepakatan dari seluruh peneliti kapan setiap generasi ini dimulai dan berakhir. Sehingga akan kita temukan adanya perbedaan rentang waktu dalam penyebutan setiap kelompok generasi.  Strauss dan Howe yang hanya dua ahli dari banyak pakar yang ada tentang generasi, mendefinisikan bahwa generasi sebagai agregat dari semua orang yang lahir selama rentang waktu sekitar dua puluh tahun atau sekitar panjang satu fase dari masa kanak-kanak, dewasa muda, usia pertengahan dan usia tua.  Secara singkatnya dinyatakan dalam teori generasi bahwa  terdapat tiga kriteria yang harus dimiliki oleh sebuah generasi yaitu usia lokasi dalam sejarah, kepercayaan dan perilaku yang sama, serta keanggotaan periode waktu yang sama. Kriteria pertama maksudnya adalah generasi yang sama akan mengalami peristiwa sejarah penting dan tren sosial bersamaan. Hal ini akan menyebabkan sebuah generasi akan berbagi beberapa kepercayaan dan perilaku yang sama. Kriteria terakhir artinya satu generasi akan mengidentifikasi dirinya sebagai kelompok yang berbeda dibanding generasi lainnya.
Menurut teori generasi ini secara keseluruhan yang ditelitinya mencakup tujuh generasi dengan dibagi atas dari penelitian mereka dibatasi pada dua generasi sebelum perang dunia kedua dan lima generasi setelah perang dunia kedua. Dua generasi sebelum perang dunia kedua. Yaitu pertama, generasi pertama yaitu G1 Generation dengan tahun kelahiran 1901-1924 dan kejadian yang terjadi adalah setelah World War I, G1 Bill yaitu subsidi besar yang diberikan pemerintah kepada veteran yang kembali dari perang dunia membuat generasi G1 cukup dimanja. Kedua, generasi kedua adalah Silent Generation dengan tahun kelahiran 1925-1942 dan kejadian yang terjadi adalah menjalani masa kecil yang diwarnai krisis seperti Great Depression dan World War II, bahkan kejadian Pearl Harbor dan D-Day, generasi ini termasuk generasi yang ”diam”.
Lima generasi setelah perang dunia kedua yaitu, generasi pertama adalah  Baby Boomer (lahir tahun 1946–1964) yaitu generasi yang lahir setelah Perang Dunia II ini memiliki banyak sanak saudara, akibat dari belum adanya pemahaman tentang pentingnya program keluarga berencana (KB). Generasi yang adaptif, mudah menerima dan menyesuaikan diri. Generasi Baby Boomer ini diberi stempel sebagai orang lama yang mempunyai banyak pengalaman hidup. Generasi kedua adalah Generasi X (lahir tahun 1965-1980) Tahun-tahun ketika generasi ini lahir merupakan awal dari penggunaan PC (personal computer), video games, tv kabel, dan internet. Menurut hasil penelitian teori generasi, sebagian dari generasi ini memiliki tingkah laku negatif seperti tidak hormat pada orang tua, mulai mengenal musik punk, dan mencoba menggunakan ganja.
Selanjutnya generasi ketiga yaitu Generasi Y (lahir tahun 1981-1994), Dikenal dengan sebutan generasi millenial atau milenium. Generasi ini banyak menggunakan teknologi komunikasi instan seperti email, SMS, instan messaging dan media sosial seperti facebook dan twitter. Mereka juga suka main game online. Disebutkan dalam teori tersebut, bahwa generasi Y ini memiliki karakter yang pragmatis, dan ingin transparansi, juga segala sesuatunya itu dilakukan secara “fair”.
Generasi keempat adalah Generasi Z (lahir tahun 1995-2010). Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Generasi ini memiliki kesamaan dengan generasi Y, namun generasi Z ini mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Keseharian mereka kebanyakan berhubungan dengan dunia maya
Terakhir atau generasi kelima adalah Generasi Alpha (lahir tahun 2011-2025), adalah generasi yang lahir sesudah generasi Z, lahir dari generasi X akhir dan Y. Generasi yang sangat terdidik karena masuk sekolah lebih awal dan banyak belajar, rata-rata memiliki orang tua yang lebih makmur dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Generasi Alpha ini lebih senang berinteraksi dengan alat teknologi yang banyak memberikan kemudahan padanya dibandingkan berinteraksi dengan manusia.[7]

Mengenal Gen Z
Generasi Z (Gen Z) adalah Generasi yang lahir dan dibesarkan di era serba digital dan teknologi canggih. Tentunya hal ini berpengaruh terhadap perkembangan perilaku dan kepribadian mereka. Kiblat mereka adalah internet, sehingga mempermudah mereka mendapatkan akses informasi terkini. Sisi positif dari karakteristik generasi Z adalah mereka fasih dengan teknologi digital. Bill Gates menyebut generasi ini sebagai Generasi I atau Generasi Informasi. [8] Tetapi di sisi lain kerawanan moral juga menyedot perhatian, karena secara tidak sadar moralitas mereka juga dibentuk oleh situs-situs yang mereka kunjungi setiap menitnya
Apabila kita amati, anak-anak generasi Z ini menunjukkan ciri-ciri diantaranya memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses dan mengakomodasi informasi sehingga mereka mendapatkan kesempatan lebih banyak dan terbuka untuk mengembangkan dirinya. Secara umum, generasi Z ini merupakan generasi yang banyak mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi, bermain, dan bersosialisasi. Beberapa karakteristik umum dari Generasi Z diantaranya, mereka cenderung berkurang dalam komunikasi secara verbal, cenderung bersikap egosentris dan individualis, cenderung menginginkan hasil yang serba cepat, serba-instan, dan serba-mudah, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses. Kecerdasan Intelektual (IQ) mereka mungkin akan berkembang baik, tetapi kecerdasan emosional mereka jadi tumpul.[9] Beberapa sifat lain yang bisa kita temui pada karakter generasi Z lainnya adalah,
1.      Skeptis dan sinis. Tidak seperti generasi-generasi pendahulunya yang cenderung berjuang demi idealisme, generasi Z justru lebih skeptis dan sinis. Sikap skeptis dan sinisme yang dimaksud adalah perilaku yang mengutamakan realita dalam pengambilan keputusan. Generasi yang satu ini akan mengutamakan kebutuhannya sebagai dasar untuk menentukan sesuatu.
2.      Menjunjung tinggi privasi. Sang generasi Z tidak suka bila sepak terjangnya di media sosial dilacak orang lain. Hal ini ditunjukkan dengan menurunnya pengguna Facebook dari kalangan generasi Z. Sementara media sosial yang sifatnya lebih privat seperti SnapChat dan Instagram justru kian digandrungi. Generasi Z ingin bebas berekspresi di media sosial tanpa terusik oleh opini orang lain.
3.      Kemampuan multi-tasking yang hebat. Soal kemampuan multi-tasking, sudah pasti generasi Z-lah jagoannya. Generasi ini mampu memaksimalkan kemampuan multi-tasking dengan lima media berbeda sekaligus. Misalnya, mereka bisa mengetik di laptop sembari mendengarkan lagu dari internet, mengakses media sosial melalui gawai (gadget), mencari referensi penting untuk menyelesaikan tugas, dan menonton TV.
4.      Ketergantungan terhadap teknologi. Bagi generasi Z, teknologi dalam genggaman tangan bisa diibaratkan seperti udara dan air. Generasi ini tidak akan bisa hidup dengan baik jika tidak didampingi teknologi. Mereka merasa kalau teknologi membuat mereka mudah terhubung satu sama lain dan mudah mengakses berbagai informasi penting setiap hari.
5.      Pola pikir yang sangat luas dan penuh kewaspadaan (hyper aware). Berusaha meyakinkan generasi Z tentang suatu hal bukanlah perkara mudah. Sebagai generasi yang berhubungan erat dengan teknologi, generasi Z tidak pernah kesulitan untuk menemukan informasi yang dibutuhkan. Sehingga hal ini membuat generasi Z memiliki pola pikir yang sangat luas dan ekstra waspada terhadap hal-hal di sekitarnya.
6.      Keinginan untuk berwiraswasta. Para ahli memperkirakan bahwa 72% generasi Z ingin masuk ke dunia kerja sebagai seorang wiraswasta. Sebab generasi Z memiliki kemampuan analisis pasar serta tekad yang besar untuk menjadi seorang pebisnis mandiri.[10]

Mengeliminasi Gap Generation dengan Gen Z 
Anak-anak generasi Z dilahirkan oleh orang tua yang merupakan Generasi X akhir dan Generasi Y awal. Generasi X akhir dan Generasi Y awal merupakan generasi workaholic (pecandu kerja) yang tipikalnya adalah pekerja keras. Kedua generasi sebelumnya saat ini sudah berada dalam kemapamanan ekonomi dibanding generasi sebelumnya. Generasi X akhir dan Generasi Y  merupakan generasi yang sangat besar secara kuantitias dan para pasukan/angkatan pekerja (workforce). [1] Generasi Z yang cerdas dan sedang menempuh pendidikan membutuhkan banyak dukungan dari para generasi pendahulunya. Saat ini, generasi baby boomer, generasi X, dan generasi Y menempati posisi sebagai kakek atau nenek, orang tua, guru, atau tutor bagi generasi Z. Perbedaan karakteristik antargenerasi tentu menjadi salah satu hambatan terbesar untuk menjalin komunikasi efektif.
Jika dibandingkan dengan generasi Z, tentu saja baby boomer dan generasi X tertinggal jauh untuk urusan teknologi. Kendati demikian, hal ini tidak lantas menjadi batu sandungan untuk mendekatkan diri dengan generasi Z. Bermodalkan rasa ingin tahu dan semangat belajar yang besar, baby boomer dan generasi X pasti mampu menjadi pendidik dan teladan yang baik bagi generasi Z. Generasi Z tidak akan merasa bosan bila dibimbing oleh generasi baby boomer dan generasi X yang terbuka terhadap perkembangan zaman. Berbeda dengan baby boomer dan generasi X, generasi Y jelas memiliki pemahaman teknologi yang lebih baik. Lahir pada peralihan zaman konservatif ke zaman modern membuat generasi Y bisa memposisikan diri sebagai “jembatan penghubung” bagi dua generasi pendahulunya dan generasi Z.
Para peneliti mengemukakan fakta bahwa generasi Y memiliki kemampuan multi-tasking dengan tiga media berbeda. Hal ini tentu menjadi salah satu hal yang mendasari kemiripan generasi Y dengan generasi Z, walaupun multi-tasking generasi Z masih lebih unggul. Generasi Y mesti membatasi perilaku individualisme supaya bisa menyelami sang generasi Z. Bukan mustahil kalau kolaborasi generasi Y dan generasi Z akan menghasilkan hal-hal besar di masa mendatang.
Dengan kondisi ini, sebenarnya gap generation antara anak dengan orang tua ataupun guru (pembina) sangat bisa dihilangkan. Hal ini bisa dilakukan dengan mencoba dengan memahami karakteristik generasi digital ini dan memberikan pola pengasuhan dan pola pembelajaran yang tidak lagi harus meniru pola pengasuhan dan pola pembelajaran generasi sebelumnya. Orang tua dan guru (pembina) kerap harus melakukan pendekatan dengan pendekatan yang didapatkan oleh orangtua dan guru generasi Z saat mereka dididik, yang biasanya hal ini seringkali menimbulkan perbedaan persepsi antargenerasi ini.[2]
Dalam hal ini, orang tua dan guru (pembina) juga harus belajar bagaimana cara melakukan pendekatan terhadap generasi sehingga diketahui bagaimana karakternya. Dengan begitu, kita bisa masuk dan bersahabat dengan generasi Z ini. Hal ini jelas tidak bisa dilakukan dengan meng-copy paste-kan bagaimana cara kita dididik dan dibesarkan. Jika kita cermati, yang dimaksud dengan mengenal karakter generasi bukan bertujuan mengubah metode atau sistem pembelajaran dalam pembentukan generasi, melainkan kreatif dalam mencari berbagai cara dan sarana dalam membina dan membentuk generasi dengan tetap memiliki target untuk membentuk kepribadian Islam.

Bersambung.........


Penulis: Fika Apriani (aktivis muda, pengamat generasi)
Editor :  Tresna Dewi Kharisma


[1] http://fadhliyahnatsir96.blogspot.co.id/2017/07/dunia-baru-bernama.html
[6] http://harian.analisadaily.com/opini/news/pendidikan-generasi-z-dan-kecakapan-berpikir/349500/2017/05/23
[7] http://www.riaupos.co/5048-opini-mencermati-teori--pengotakan-generasi.html
[8] http://excellent-mgt.com/2016/07/22/teori-generasi-theory-of-generations/


Bdg.news. Bandung Oleh:  Mashun Sofyan *)

Indonesia dikenal sebagai negara berkembang di dunia ketiga yang berusaha membangun perekonomian negara, utang demi hutangpun menjadi agenda rutin tahunan. Dari data Kementerian Keuangan, jumlah utang pemerintah di akhir tahun 2014 adalah Rp 2.604,93 triliun, dan naik hingga posisi di akhir April 2017 menjadi Rp 3.667,41 triliun.

Selama kurang lebih 2,5 tahun pemerintahan Presiden Jokowi berjalan, jumlah utang pemerintah Indonesia bertambah Rp 1.062 triliun. Negara darurat utang, hutang pemerintah 2,5 tahun Jokowi setara dengan 5 tahun masa SBY.

Walaupun utang ribawi ini semakin menumpuk, bahkan tidak mampu untuk dilunasi, jangankan dilunasi untuk membayar bunganya saja kesulitan. Dengan hutang memuncak, akan tetapi fakta di masyarkat ternyata jauh dari harapan. Rakyat semakin miskin, pengangguran produktif membanyak, kesenjangan ekonomi serta ketimpangan berjarak jauh. 

Beberapa hari lalu listrik naik, subsidi kereta ekonomi juga sempat naik, harga barang-barang menaik khususnya menjelang bulan ramadhan. Fasilitas pelayaan publik berupa pendidikan juga masih mahal, angka putus sekolah tinggi, kesehatan masih terasa mahal, BPJS kesehatan telah menimbulkan masalah baru, keamanan justru sulit didapatkan yang ada hanya ketidakadilan dan  kegaduhan negara. Sandang pangan papan begitu sulit didapatkan oleh kalangan miskin serta menengah.

Mengapa hutang menjadi salah satu sumber andalan utama dalam pembangunan ekonomi negara atau APBN? Padahal, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, memiliki tambang emas terbaik didunia, cadangan minyak, gas, perak, tembaga serta batu bara melimpah, sumber daya hayati dilautan melimpah, kesuburan tanah, flora dan fauna. Ironi di negeri yang memiliki kekayaan alam melimpah ruah, namun gagal dalam mengelola hasil bumi sehingga masyarakat jauh dari kesejahteraan yang diharapkan.

Dalam perspektif sistem ekonomi liberal utang dan pajak menjadi sumber andalan utama pembangunan ekonomi, maka menjadi wajar jika hutang demi hutang menjadi tonggak utama APBN dalam pembangunan ekonomi di negara-negara yang menganut ekonomi liberal, selain menariki pajak yang terus naik angkatnya.
 
Utang ini tentu tidak gratisan, namun ada kepentingan tertentu dibaliknya yakni menguatkan cengkraman asing dalam pengelolaan SDA di negara yang diberikan hutang. Politik saling sandera berjalan mulus dengan strategi ini. Inilah strategi negara-negara kapitalis penjajah menjebak negara-negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki SDA begitu melimpah, mengeksploitasi SDA menjadi agenda utamanya, setelah mengeksploitasi SDA maka mereka menjadikan negera berkembang menjadi target pasar mereka. Inilah bentuk jebakan penjajahan gaya baru (neoimperialisme) yang amat mematikan.

Dalam perspektif Islam, bukan utang apalagi pajak yang menajadi sumber APBN, tapi hasil dari sumber daya alam yang sejatinya milik rakyat untuk dikelola negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Selain negera mendapatkan pemasukan dari sumber-sumber lainya, hal inilah yang membedakan dengan perspektif ekonomi liberal dimana kekayaan alam malah justru dijual kepada asing maupun aseng.

*) Analis Muslim Analyze Institute [Main] bidang Politik Ekonomi

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget