December 2017


Oleh: DR. Moeflich Hasbullah
(Pakar Sejarah Islam, Dosen UIN Sunan Gunung Djati)

Lelaki muda Riau kurus ini, kini sudah jadi fenomena. Fenomena dalam gerakan Islam Indonesia kontemporer. Bisa dikatakan, ia fenomena baru pasca Habib Rizieq. Bedanya, Rizieq pemimpin pergerakan (FPI) dan penggerak massa, Abdul Somad pendakwah, da'i, mubaligh. Kedua-duanya ulama berkharisma. Rizieq seorang habib, Abdul Somad bukan. Dua-duanya berwatak keras, bersuara lantang, ucapannya tegas dan wawasan keislamannya luas. Kelebihan Abdul Somad dari Rizieq adalah penguasaan sumber kitab-kitab klasiknya lebih lengkap.

Dalam diri Abdul Somad, banyak kelebihan yang merupakan gabungan dari beberapa sosok ulama-mubaligh masyhur di Indonesia. Lebih dari KH. Zainuddin MZ, Abdul Somad menguasai sumber-sumber klasik Islam atau kitab kuning sebagai sumber keilmuan dakwahnya. Bila Zainuddin MZ hafal membacakan teks Arab dakwahnya, Abdul Somad dengan nama kitabnya, nama pengarangnya, teks kalimatnya dan konteks kitab yang dikutipnya itu. Dan dalam penyebutan itu, ia hampir tidak pernah ada jeda berpikir dulu, daya ingatnya luar biasa, informasi sumber kitab langsung mengalir dari ingatannya. Kalangan ulama, kyai, habaib, ustadz dan mubaligh angkat topi atas penguasaan sumber-sumber kitab klasiknya, semuanya hormat.

Yang unik dari Abdul Somad adalah hubungannya dengan NU. Dia orang NU tapi tidak seperti ulama-ulama NU lainnya yang umumnya berseberangan dengan mainstream atau dengan umat di luar NU. Pikiran Abdul Somad tidak mewakili NU tapi mewakili independensi keilmuan dirinya dan umat Islam. Abdul Somad orang NU tapi membenarkan khilafah dengan dasar kutipan kitabnya yang kuat dan juga simpatik pada Erdogan, bahkan mengidolakannya, yang rata-rata orang NU tidak suka.

Bila dikelompokkan dengan ulama NU lainnya, mungkin ia sejalur dengan KH. Hasyim Muzadi yang ketegasannya sama. Suara keduanya mewakili umat Islam bukan hanya mewakili NU, tapi di NU tetap diterima. Hasyim di jajaran ulama senior, Abdul Somad yunior.

Di kalangan para habib NU, Abdul Somad juga diterima karena kedalaman ilmunya. Ia diundang ke halaqah habaib NU diberi kesempatan bicara yang menunjukkan ke NU-an Somad dan sebelumnya dengan takzim mencium tangan Habib Umar bin Hafidz dan Habib Luthfi Yahya yang kharismatik.

Mungkin Abdul Somad lebih mewakili NU garis lurus bersama Gus Nur tapi beda popularitas, wawasan dan kematangan emosi. Kematangan emosinya Somad bahkan jauh dibandingkan dengan Ketua PBNU sendiri, Aqil Siraj. Tak heran, sebagian kalangan NU ada yang mengharapkan Abdul Somad memimpin NU menggantikan Aqil Siraj. Prediksi saya, bila itu terwujud, citra NU di masyarakat Muslim non NU akan jauh membaik yang selama ini seolah selalu menempatkan diri harus selalu berseberangan dengan gairah keislaman baru yang sedang berkembang.

Di luar NU, Abdul Somad juga pernah sowan ke Amien Rais di Yogyakarta yang merepresentasikan pemimpin senior Muhammadiyah, profesor dan cendekiawan Muslim senior yang tetap konsisten di sayap kritis atas penyelenggaraan pemerintahan. Dengan tawadhu dan pengakuan, kepada Prof. Amien Rais, Abdul Somad meminta nasehat dan Amien Rais pun memberinya nasehat agar Abdul Somad berhat-hati untuk tidak menjadi ulama yang datang ke penguasa dan mengetuk-ngetuk pintu istana.

Bukan mustahil, sarjana alumni Mesir dan Maroko yang kurus, cerdas, tegas, berilmu dan independen ini, akan menjadi pemimpin alternatif Islam Indonesia masa depan yang diterima semua golongan. Sosoknya jarang ada pada ulama-ulama lain yang selama ini dikenal. Ceramah-ceramahnya padat ilmu dan humor-humornya segar. Ia tegas tapi fleksibel, militan tapi juga kultural.

Dalam diri Abdul Somad ada kultur NU, ada kemajuan Muhammadiyah, ada nahyi munkar FPI, ada aspirasi para habib, ada penerimaan pada khilafah bahkan ada nuansa salafi-wahabi. Lengkap sudah ulama yang satu ini dan, sekali lagi, bukan mustahil, inilah sosok pemimpin Islam Indonesia masa depan yang selama ini sulit dicari!!

Wallahu 'alam.

28-12-2017




Bdg.newsBertepatan pada tanggal 24 Desember 2017, Forum Kajian Islam Kontemporer mengadakan Mudzakarah Ulama Jawa Barat di Bandung. Acara ini diadakan sebagai respon terhadap persoalan Palestina yang dipicu oleh pernyataan Trump bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel. Acara ini dihadiri oleh Lebih dari 50 Ulama di berbagai daerah di Jawa Barat. Mereka menyepakati bahwa solusi bagi Palestina ialah Jihad dan Khilafah.

Acara dibuka dengan pemaparan materi oleh, Ustadz Yuana Ryan Tresna. Beliau merupakan pimpinan Majelis Khadimus Sunnah, Bandung. Beliau memaparkan fakta terkait masalah Palestina dan solusinya menurut Syariat Islam . “Persoalan palestina ini bukan hanya permasalahan bangsa Palestina, tapi ini menjadi persolanan umat Islam. Persoalan yang terjadi disana adalah persoalan penjajahan.”, Ujarnya

KH. Ali Bayanullah

Diantara ulama yang hadir ialah Ketua Forum Ulama dan Tokoh (FUT) Jawa Barat, beliau adalah pengasuh pesantren Darul Bayan, Sumedang. Menyampaikan bahwa, Jihad dan Khilafah adalah solusi tuntas bagi Permasalahan Palestina.
 [MR]


Bdg.News. Jakarta. Zulfikar Akbar, Wartawan Majalah Olahraga Indonesia, Top Skor telah resmi dipecat oleh redakturnya dikarenakan Tweetannya yang menghina Ustadz Abdul Somad (UAS), Selasa (26/12). M. Yusuf kurniawan, redaktur Majalah Top Skor melalui akun twitternya, @Yusufk09 menjelaskan Top Skor sudah tidak ada kaitan lagi dengan Zulfikar Akbar sejak Ia menghina UAS. “Setiap perbuatan ada pertanggungjawabannya. @Zoelfick sudah umumkan sendiri vonis redaksi thdp dirinya di akun pribadinya. Sjk saat ini kami TopSkor tidak ada kaitan lagi dgn @Zoelfick. Wassalam” tulisnya.

Akbar melalui akun Twitternya pada Ahad, (24/12) menilai dakwah yang dilakukan oleh UAS melahirkan umat yang beringas, Ia juga menilai UAS merupakan pemuka agama rusuh. “Ada pemuka agama rusuh ditolak di Hong Kong, alih² berkaca justru menyalahkan negara orang. Jika Anda bertamu dan pemilik rumah menolak, itu hak yang punya rumah. Tidak perlu teriak di mana² bahwa Anda ditolak. Sepanjang Anda diyakini mmg baik, penolakan itu takkan terjadi, Jadi @ustabdulsomad jika ditanya knp negara spt Hong Kong menolak Anda krn memang terbukti hasil dakwah Anda selama ini telah melahirkan umat yang beringas”, tulisnya.

Akbar menilai tweet yang Ia tulis semata-mata kritikannya atas fenomena sosial yang terjadi dan upaya saling mengingatkan. “Selama ini saya melemparkan kritikan, bs sy tegaskan, bkn sbg permusuhan melainkan sbg sikap kritis atas fenomena sosial, lalu knp saya melemparkan kritikan begitu, tak lain sbg upaya saya saling mengingatkan dgn cara saya, "watashaubil haq, watawa shaubil haq"”, tulisnya.

Mengenai pemecatan yang menimpanya, Akbar mengatakan dengan tegas tidak akan pernah berhenti bersuara menyapaikan kritikan terhadap kezaliman. “Apakah saya lantas berhenti bersuara? Sepanjang kezaliman masih terjadi, sendiri pun saya tetap bersuara”, tulisnya.

Warganet menilai Akbar bukan menyampaikan kritikan namun Ia telah terbukti melempar fitnah dan menghina ulama. Warganet juga menilai setiap yang menghina ulama akan mendapatkan penderitaan. “Tak sampaikah berita kepadamu bahwa "Daging Ulama Beracun" ?.. sungguh berat derita mu nak. dipecat dari pekerjaan (urusan duniawi) tak lah seberapa, tp menghina para pewaris kenabian (para Ulama), akibat diakhirat? entahlah...”, tulis @yadipahlawi. “”Daging para ulama beracun. Allah Subhanahu wa ta'ala pasti menyingkap tirai para pencela mereka”. (Tabyin Kadzibil Muftari hal. 29)”, tulis @mkhumaini

Warganet pun menilai apa yang dialami Akbar seperti halnya yang dialami oleh artis Tio Pakusadewo. Tio pernah menghina lembaga ulama, Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ia mengatakan ingin mengharamkan keberadaan MUI. “Sekarang gimana kalau saya mengharamkan MUI di Indonesia”, ucapnya sebagaimana dilansir tribunnews.com, Sabtu (1/8). Tidak berlangsung lama Tio ditangkap Polisi setelah terbukti mengonsumi Narkoba, Jum’at (22/12). [Irfan]


Bdg.News. Bandung. Ustadz Abdul Somad, ulama karismatik yang akan dijadwalkan melaksanakan syiar dakwah di Hongkong, dideportasi oleh petugas Bandara Internasional Hongkong tanpa alasan yang jelas, Sabtu (23/12).

Peristiwa ini mengundang banyak respon dari berbagai tokoh, ada yang simpati dan bahkan membuly. Salah seorang tokoh liberal, Permadi Arya alias Abu Janda, yang selama ini kerap kali menyebarkan faham liberal dan plurasis diketahui membuly Ustadz Abdul Somad, Ahad (24/12) di media sosial Twitter miliknya.. “Kurang apa coba senyumnya manisss, rambut klimisss, wajah imoet kinyisss2.. eh malah dideportasi dianggap terorisss.. sakitnya melebihi fans Real Madrid yang barusan dicukur habisss ee e eta terangkanlah.. guyon ojo nesu ”, tulisnya.
Warganet menilai Abu Janda seringkali menyinyir ulama dan tokoh muslim tetapi menidolakan tokoh kafir. “Ulama di nyinyir.. kavir di idola.. hadeh..”, tulis @agoeseffendie78.

Warganet juga menilai Abu Janda terlihat garang di media sosial namun lemah di dunia nyata. “Banyak gaya di maya, melempem di nyata, bong200”, tulis @Mahdishutar. “ah monyet @ustadabujanda garang di medsos klu ketemu orangya sich lu tuh kelihatan GOBLOK'ya lol....”, tulis @Krizz39907724. “Ih ga malu si janda .. di ilc sdh babak belur .. astaghfirullah msh berani eksis dimedsos”, tulis @Bambang08687497
Ada juga Warganet yang meminta Abu Janda untuk ditertibkan oleh Kemenerian Agama RI. “Hedeh, masih aja ini orang ngaku2 ustad.. Mohon ditertibkan daripada membawa kesesatan kepada masyarakat yg ga tahu siapa dia @Kemenag_RI”, tulis @anggriavan. [Irfan]


Bdg.News. Bandung,- Sebagaimana diberitakan, Pemerintah tengah melakukan persiapan dalam rangka membuktikan bahwa ide Khilafah yang selama ini dibawa oleh HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) bukanlah ajaran Islam dalam sidang di PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara). Bahkan, pemerintah telah mengumpulkan para pakar semisal Azyumardi Azra untuk merumuskan pembuktian tersebut.

Menanggapi hal tersebut, KH Ali Bayanullah, Pimpinan FUT (Forum Ulama dan Tokoh Jawa Barat), mengaku sangat antusias untuk menanti uraian pembuktian tersebut. “Saya sangat menunggu, penasaran,” katanya pada (24/12)

Ia sangat menunggu karena baginya upaya tersebut sangatlah sulit. Menurutnynya, secara faktual, Khilafah yang selama ini digaungkan oleh HTI memang ajaran Islam dan ada dasarnya. “Tapi ya syukur-syukur saja kalau memang mampu membuktikan Khilafah bukan ajaran Islam. Kita lihat saja nanti.” Ungkapnya.


Bdg.news. Bandung,- Tak dapat dipungkiri, dalam lintasan sejarah nusantara, para ulama memegang peran penting dalam memerdekakan Indonesia dari penjajahan fisik dari Belanda. Hal tersebut adalah fakta sejarah. Demikian yang dinyatakan oleh Ustadz Yuana Ryan Tresna, Pengasuh Majelis Roudhoh Tsaqafiyyah Jawa Barat pada Ahad (24/12)

Terkait perwujudan melanjutkan perjuangan ulama, Ustadz Yuana menyatakan, dapat di pahami dengan terlebih dahulu tujuan para ulama mendirikan negara ini, “Negara ini dibuat buat apa? Kan untuk membuat rakyat sejahtera, melindungi rakyat, menciptakan rasa aman, dan sebagainya. Maka dari itu, amanah dipundak kita adalah bagaimana menjadikan darah para ulama yang tertumpah itu tak sia-sia. Bagaimana caranya mewujudkan cita-cita tersebut?” katanya

Dengan berpijak pada pemahaman tersebut, menurutnya, cara-cara yang dilakukan oleh penguasa hari ini terbukti tidak dapat mewujudkan cita-cita ulama meski sebagian besar diantara mereka adalah muslim, “Sekarang, apakah sistem yang diterapkan sudah benar bisa mewujudkan itu?” tanyanya retoris.

Dalam pandangannya, cara untuk mewujudkan cita-cita ulama adalah berjuang dengan berdakwah mewujudkan syariat Islam dengan membebaskan bangsa dari pemikiran-pemikiran penjajah yang sejatinya masih bercokol.”Jika ulama dulu berjuang memerdakakan diri dari penjajahan fisik, maka sekarang kita harus berjuang memerdekakan diri dari penjajahan pemikiran,” jelasnya.

Untuk itu, ia mengaku heran jika kini sebagian dari kaum Muslimin yang punya cita-cita menegakkan Syariat Islam, misalnya dalam bentuk Khilafah, malah dianggap tak menghormati ulama. [Farhan]


Bdg.News. Jakarta. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, Narapidana (Napi) kasus penistaan agama dipastikan akan mendapatkan remisi natal selama 15 hari. Hal ini disampaikan oleh Kasubang Humas Ditjen Pemasyarakatan (PAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Ade Kusmanto, Jum’at (22/12), seperti dilansir portal-islam.id.
Menanggapi hal ini, Pakar hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia,  Mudzakir mengatakan pemberian remisi untuk Ahok perlu dipertanyakan landasan hukumnya. Alasannya, Ahok tidak ditempatkan di lembaga pemasyarakatan (Lapas), tetapi di Markas Komando Brigade Mobile (Mako Brimob), Kelapa Dua, Depok, seperti yang dilansir metro.tempo.co.

Berdasarkan Pasal 34 ayat 3b PP 99/2012, syarat bagi Napi untuk mendapatkan remisi, salah satunya adalah mengikuti program pembinaan yang diselenggarakan oleh Lapas dengan predikat baik. Adapun Ahok tidak menjalani masa tahanan di Lapas, selama ini ia menempati Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. “Pertanyaannya, Ahok itu sedang menjalani hukuman penjara atau belum? Karena secara prinsip seharusnya pelaksanaan hukuman itu di lembaga pemasayarakatan, bukan Mako Brimob,” ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, tidak ada landasan hukum yang menyatakan Mako Brimob bisa menjadi tempat untuk menjalani hukuman pidana. Ia mengimbau aparat untuk memperlakukan Ahok seperti narapidana lain, yakni ditempatkan di lembaga permasyarakatan. Ia mengatakan jika alasannya adalah keselamatan, maka Ahok bisa dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan di derah lain.

Kejadian ini banyak disoroti oleh Warganet di media sosial Twitter. @ronavioleta menilai Ahok telah melakukan dua pelanggaran, pelanggaran pertama, Ia tidak menempati Lapas untuk melakukan pembinaan. Pelanggaran kedua, ia mendapatkan revisi walupun tak memenuhi syarat. Ia meminta klarifikasi Kemenkumham atas kejadian ini. “Pak @LaolyYasonna Berdasar Pasal 34 ayat 3b PP 99/2012, syarat2 bagi NAPI untuk dpt remisi adlh telah mengikuti program pembinaan yang diselenggarakan oleh LAPAS dengan predikat baik. Kan Ahok ga di LAPAS, kok dpt remisi?? Bukankah itu melanggar UU pak? Double lagi melanggarnya, Sbgai menkumham, tolong kami dijelaskan pak @LaolyYasonna ...apakah dg tdk menempatkan Ahok di LP dan memberi remisi kpd ahok pdhl ahok tdk pernah mengikuti program yg diselenggarakan oleh LP, tdk melanggar UU?”, tulisnya. [Irfan]


Bdg.News. Hongkong. Setelah dipersekusi di Bali, Ustadz Abdul Somad kembali dipersekusi di Hongkong dalam agenda safari dakwahnya, Ahad (23/12). Melalui Akun Instagramnya, Ustadz Abdul Somad menjelaskan, ia dihadang oleh beberapa orang tidak berseragam dan memintanya membuka dompet. Ia dimintai keterangan mengenai identitas, pekerjaan, pendidikan hingga keterkaitan dengan ormas dan politik. “Lebih kurang 30 menit berlalu. Mereka jelaskan bahwa negara mereka tidak dapat menerima saya. Itu saja. Tanpa alasan. Mereka langsung mengantar saya ke pesawat yang sama untuk keberangkatan pukul 16:00 WIB ke Jakarta”, tulisnya.

Apa yang dialami Ustadz Abdul Somad mengundang banyak simpati dari beberapa tokoh nasional negeri ini, Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan dalam Twitternya menegaskan agar kejadian yang menimpa Ustadz Abdul Somad tidak terulang kembali. “Menghadang & menghalangi ceramah #UstadzSomad atau kepada siapapun, tak dapat dibenarkan. Pelakunya harus diproses hukum agar kejadian yang sama tidak terulang”, tulisnya.

Selain Zulkifli, Plt Ketua DPR RI, Fahri Hamzah dalam Twitternya mendoakan atas kejadian persekusi Ustadz Abdul Somad di Hongkong agar Ustadz Abdul Somad menjadi ulama besar. “#UstadzAbdulShomad akan jadi ulama besar. Semoga sabar menghadi ujian. Ini fase yang harus dilalui. Pendengar dan murid beliau takkan berkurang tapi bertambah. Barokallah ya Ustadz, maju terus. Ini tanda2 bagi perkembangan Islam ke depan. Amin.”, tulismya. [Irfan]


Bdg.News. Jakarta. Kapolri Jenderal Polisi H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D tegas melarang aksi sweeping di perayaan Hari Raya Natal. “Tidak boleh ada sweeping, kalau ada sweeping kita (Polri) lakukan penegakan hukum”, ucapnya sebagaimana yang dipublikasikan oleh Akun Twitter Resmi Divisi Humas Polri, @DivHumaspolri, Selasa (19/12). Sontak, banyak Warganet yang menyambut positif langkah yang dilakukan oleh Kapolri. “Mantap pak.. .dan tangkap orang yg melakukan sweeping agar tdk seenaknya merusak kekhusuan hari natal.. tulis @JajangRidwan19 dalam Tweetnya.

Namun, banyak pula Warganet berfikir kritis mengenai ketidakberpihakan Kapolri terhadap Umat Islam. Sebagaimana yang disampaikan oleh @dusrimulya, ia menilai Kapolri tidak bertindak tegas terhadap sekelompok Ormas Hindu yang melakukan persekusi terhadap Ust Abdul Somad. “Ormas Hindu di Bali Sweeping Ustadz Abdul Somad, kata Humas Polda Bali, Polisi Netral. Ormas Kristen Manado sweeping @Fahrihamzah, gak ada tindakan. Ormas Kristen sweeping Ustadz @ustadtengkuzul, gak ada tindakan Klo Umat Islam sweeping pemaksaan atribut Natal, TINDAK !!” tulisnya. Selain @dusrimulya, @henao_212 menanyakan apakah tindakan Ormas Hindu mempersekusi Ust Abdul Somad sudah ditindak. “Kalo yg sweeping UAS di bali sudah di tindak pak pol?” tulisnya.

Banyak juga Warganet yang meminta Kapolri untuk menindak tegas perusahaan yang memaksa pegawai Non Kristen untuk memakai atribut Natal. Semisal @anacodena1987, Ia meminta Kapolri untuk tegas melarang perusahaan memaksa atribut Natal bagi pegawainya yang beragama Non Kristen. “trmasuk Perusahaan yg memaksaan pemakaian atribut Natal bagi yg non Kristen juga wajib ditindak tegas.”, tulisnya. Tak hanya @anacodena1987, @agusabah1980 berkomentar, “Admin YTH, sebelum hal tersebut kejadian, ayo larang perusahaaan utk tidak memaksa/mewajibkan karyawannya yg muslim utk beratribut natal. Krn ini menyangkut aqidah. Terima kasih”. [Irfan]


Bdg.News. Jakarta. Dede utomo, salah seorang pembicara dalam ILC (Indonesia Lawyers Club) TV One #ILCZinaLGBT, Selasa (19/12) mengatakan, praktik LGBT sering dilakukan di pesantren-pesantren. Ia mencontohkan di pasantren-pesantren banyak Homoseksual yang tidak menggunakan Seks Anal, tetapi menggunakan diantara paha. Ia meyakini homoseksual yang dilakukan diantara paha aman dan bebas dari HIV/Aids.

Kontras, apa yang diucapkan olehnya menuai banyak kritik dari Warganet, @Muslim_Bersatu1 dalam Tweetnya meminta Dede Utomo segera ditangkap dan dihukum berat karena telah menistakan lembaga islam pesantren “TANGKAP DEDE UTOMO’!!! PENISTA LEMBAGA ISLAM PESANTREN’. Gembong LGBT dari Surabaya Ini Sebut “Di Pesantren-Pesantren Terjadi Kasus LGBT” Kenapa Dia Mesti Ambil Pesantren2 Sebagai Contoh Kelakuan LGBT??? Dia SENGAJA Ingin MENGHINAKAN lembaga Pesantren #UsuTuntas #HukumBerat”, tulisnya.

Banyak Warganet yang mempertanyakan pesantren mana yang dimaksud oleh Dede utomo, diantaranya @MauludZeni, sedangkan @DivHumasPribumi dalam Tweetnya menilai Dede Utomo telah menyebar stigma buruk pesantren. “Si hombrenk itu sedang buat stigma buruk Pesantren sbg basis pendidikan utama umat Islam, jd tdk mungkin dia sebut yg mananya!. Dia cuma lg bikin propaganda Islamphobia, sama spt stigma Islam radikal, intoleran, dst. LGBT itu pengikut setan, jd jelas anti agama, terutama Islam!” tulisnya.

Peryataan Dede Utomo dinilai oleh Warganet sebagai fitnah bagi Organisasi Islam Nahdatul Ulama (NU) yang diketahui memiliki banyak lembaga pesantren di Nusantara, sebagaimana yang disampaikan oleh @kangsemproel dalam Tweetnya. “Tak selayaknya fitnah terhadap pesantren seperti ini dibiarkan NU sbg pemilik ribuan pesantren harusnya bisa proaktif minta klarifikasi pd dede mengenai issue yg dia sampaikan. Mintalah bukti dan data yg valid Jangan diam”, tulisnya. [Irfan]


Bdg.News. Jakarta. Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM), surati Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan RI, Wiranto, Jum’at (10/11) . Dalam surat tersebut Komnas HAM menilai bahwa pembubaran organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) merupakan pembatasan yang paling serius atas kebebasan berserikat yang hanya diperkenankan dalam hal adanya kepentingan yang memaksa. Lebih dari itu, Komas HAM menilai dengan dibubarkannya HTI memberikan indikasi terganggunya fungsi demokrasi di dalam masyarakat.

Komnas HAM meminta pemerintah konsisten dalam menjalankan hukum. “Pemerintah RI seharusnya melakukan penanganan permasalahan HTI dengan hukum yang ada secara konsisten, yaitu Undang-Undang No 17 tahun 2013, yang prinsipnya masih cukup memadai secara substansi menjawab tantangan radikalisme, intoleransi dan ekstrimisme” tulisnya. [Irfan]


Bdg.News. Bandung. Prof. DR. Romli Atmasasmita, SH, LLM, Guru Besar Ilmu Hukum Pidana Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung, dalam Twitternya menantang pemerintah mengeluarkan Perpu terkait LGBT dan Narkoba, Rabu (20/12). Ia menilai kondisi Indonesia saat ini darurat LGBT dan Narkoba. “lihat Dr Dewi Inong di ILC kok pmth diem2 adem sj tdk nyatakan keadaan darurat hiv aids sm jahatnya dgn narkoba sgr keluarkan Perpu ancaman pidana thd segala bentuk kejhatan Kesusilaan di RI dn Penutupan segala aktivitas Nigth Club dn Karaoke” tulisnya.

Lebih lanjut Ia menerangkan, Perpu LGBT sangat penting untuk pencegahan dan ketahanan bangsa. “Jika Perpu u LGBT penting u pencegahan dn ketahanan bangsa tapi juga penting bhw pemulihannya” tulisnya. Terkait Perpu Narkoba Ia menjelaskan, Perpu Narkoba perlu dikeluarkan untuk perketat pencegahan dan penindakan nerkoba ilegal termasuk dalam hal produksi, distribusi dan korporasi terkait.

Ia bersedia jika pemerintah memintanya untuk menyusun Perpu tersebut, “jika pmth cc menteri kesehatan meminta sy menyusun Perpu pasti sy bersedia menyelesaikannya dlm waktu 7 hari”, tulisnya. [Irfan]


Bdg.News. Batujajar. Tidak kurang dari 50 pelajar sekolah menengah se Bandung Raya mengikuti Program Pesantren Liburan Pelajar yang diselenggarakan oleh Yayasan Ash-Shodiqyah Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. Puluhan pelajar ini adalah pelajar pilihan dari Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Pertama Kota Bandung, diantarannya pelajar dari SMAN 1 Padalarang, SMAN 1 Cipatat, SMKN 3 Cimahi, SMKN 4 Padalarang, SMPN 1 Batujajar, SMK Taruna Harapan dan sekolah negeri/swasta lainnya.

Saat ditemui Bdg.News, Sulaeman, selaku ketua pelaksana menjelaskan, program yang bertemakan “Membangun Mental Juara” ini akan dilaksanakan selama tiga hari di Sekolah Dasar Islam (SDI) Cerdas Nurani, Batujajar, sejak kemarin (Senin, 18/12, red) hingga besok (Rabu, 20/12, red). Lebih lanjut ia menerangkan, program ini diisi dengan pemaparan materi dan simulasi mengenai public speaking, entrepreneur dan leadership.

Sebagaimana pantauan Bdg.News, peserta antusias dan semangat mengikuti setiap rangkaian acara. Wiwin, salah seorang peserta dari SMAN 1 Padalarang, seraya tersenyum menerangkan, liburannya diisi dengan hal positif. [Irfan]


Bdg.News,- Marsudi Syuhud, salah seorang Ketua PBNU yang juga anggota MUI ini beberapa hari ini jadi perbincangan diberbagai linimasa. Pasalnya, ia duga sebagai pihak yang menjadi ‘oknum’ pelarangan orasi ustadz Felix Siauw pada aksi Bela Palestina (17/12) lalu.
Sebagaimana yang disampaikan dalam akun instagramnya, Felix Siauw memohon maaf kepada para jamaah karena batal orasi meski telah dijadwalkan karena ada oknum yang tak menghendakinya orasi. Menurut pengakuan beberapa netizen yang menyaksikan, Marsudi Syuhudlah oknum yang dimaksud.
Namun, kabar mengejutkan datang selanjutnya. Ketua MUI Bidang Hubungan Internasional, Muhyidin Junaidi, sebagaimana diberitakan Kompas TV, mengaku mendapatkan berbagai permintaan dari internal maupun eksternal untuk memecat Marsudi Syuhud.
Pasalnya, Marsyudi Suhud bersama dengan Istibsjaroh telah melakukan pertemuan kunjungan ke Israel. Meskipun atas nama pribadi, Marsudi dianggap telah mencoreng nama MUI, ”Telah melakukan moral hazard.” katanya Muhyidin.
Untuk itu, Mahyudi akan segera menindak lanjuti berbagai masukan atas tindakan yang dilakukan oleh kedua anggota MUI tersebut, ”Kami akan rapat,” tegasnya. [Farhan]



Bdg.news. Bandung,- Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin, menyatakan bahwa perbedaan pandangan tentang LGBT harus dihormati. Banyak pihak yang berpandangan berbeda.

"Ada yang memandang perilaku LGBT itu karena takdir, ada memandang adalah kutukan dari Tuhan.Adanya perbedaan pandangan itu harus kita hormati," katanya sebagaimana dikutip Viva News, Senin (18/12)

Sehingga menurutnya, meskipun dianggap prilaku menyimpang, pelaku LGBT sebaiknya diperlakukan dengan sikap dirangkul, "Agama mengajarkan jika ada orang berperilaku sesat maka kewajiban untuk merangkul ke dalam ( agama) agar perilaku mereka sesuai dengan norma agama," katanya.

Hal berbeda dinyatakan oleh Chandra Purnairawan, Ketua KSHUMI (Komunitas Sarjana Hukum Muslim Indonesia). Menurutnya, prilaku LGBT merupakan prilaku menyimpang yang menimbulkan banyak kerusakan. Sehingga perlu ada larangan tegas agar tidak meluas.

"Keberadaan LGBT berpotensi merusak tatanan kehidupan sosial yaitu perkawinan,” kata Chandra dalam rilis yang dikeluarkannya.

Ia kemudian mengutip pasal 1 UU No.1 Tahun 1974 mengenai perkawinan. Di dalamnya tertulis bahwa perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Chandra juga merujuk pada apa yang tertuang dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, "Rasulullah bersabda, siapa menjumpai orang yang melakukan perbuatan homo seperti kelakuan kaum Luth maka bunuhlah pelaku dan objeknya!" [Farhan]


Bdg.news. Bandung,- Penjajahan yang dilakukan Israel kepada Palestina telah terjadi puluhan tahun lamanya. Selama itu, sudah berkali-kali bantuan pangan dan kesehatan dikirimkan kepada rakyat Palestina. Begitupun dengan doa dan serangkaian aksi-aksi yang mengutuk keberadaan Israel. Termasuk, aksi yang dilakukan Sabtu (17/12) lalu di Monumen Nasional, Jakarta.

Namun, bagi Muflih Hasbullah, Dosen UIN Bandung, aksi-aksi semacam itu hakikatnya tak akan memberikan pengaruh yang nyata bagi eksistensi Israel.

"Tanpa mengurangi rasa hormat pada mereka yang berunjuk rasa, menghadapi Israel itu sebenarnya bukan dengan demo, orasi, mengutuk, boikot, dan sebagainya. Semuanya gak akan ngaruh," katanya sebagaimana dikutip dari halaman Facebooknya.

Menurutnya, hanya ada satu cara untuk menghadapi Israel.

"Langsung serang dan gempur", tegasnya.

Seharusnya, menurut Muflih, negara-negara yang anti Israel berkumpul untuk bersama-sama memerangi Israel. Mulai dari Jerman, Turki, Palestina, Irak, Yaman, hingga Indonesia. Hanya dengan hal tersebutlah Isrel bisa habis dilawan.

Seorang netizen bernama Alfa Tiada Tara lantas menanggapi, bahwa menyerang Israel tak bisa dilakukan tanpa adanya komando dari yang berwenang. Menurutnya, komando tersebut memungkinkan ada bila kaum muslimin memiliki seorang Khalifah sebagai kepala negara yang mengayomi seluruh umat.

"Disinilah pentingnya Khilafah, yang akan mengomandoi kesatuan gerak seluruh kaum Muslim,"katanya. [Farhan]


Saya adalah peserta Aksi Indonesia Bela Palestina di Monas pada 17 Desember 2017 yang diadakan oleh MUI bersama ormas-ormas Islam, kelompok pengajian dan berbagai elemen masyarakat.

Saya datang sejak pukul 03.00 pagi, ikut shalat subuh berjamaah bersama puluhan ribu orang dan hadir di barisan terdepan sejak acara mulai hingga acara selesai.

Saya menyaksikan bagaimana tokoh-tokoh saling bergantian untuk maju menyampaikan orasi nan penuh semangat menggerakkan hati umat agar senantiasa bersatu bela Palestina.

Dari seluruh tokoh yang hadir, salah satu tokoh yang saya perhatikan sangat atraktif adalah salah satu Ketua PBNU KH. Marsyudi Suhud. Saat acara kemarin didapuk menjadi Ketua Pelaksana Aksi Bela Palestina.

Kenapa saya perhatikan?. Karena pertama, ini tokoh unik. Dianggap berpikiran maju karena membolehkan mengucapkan natal dan bahkan memberi ceramah rohani pada saat perayaan Natal.

Kedua, terkenal nyentrik dikalangan Kyai PBNU dan berbeda dengan Kyai pada umumnya yang tawadhu dan menjunjung tinggi adab serta menjaga tingkahnya dari gunjingan umat.

Bahkan foto kyai ini dengan seorang perempuan yang bukan istrinya dan nampak mesra, dengan mengedepankan husnudzon saja, sepertinya tidak patut untuk dishare ke publik.

Ketiga, dalam program ILC saat membahas kontroversi Reuni 212 yang dipermasalahkan, beliau nampak tidak jelas penyikapannya. Bahkan berkali-kali dibelakang panggung ILC sering ngobrol berempat dengan Denny Siregar, Abu Janda dan Aan Anshori.

Dua orang ini (Denny Siregar dan Abu Janda), kita tidak perlu ragukan lagi bagaimana mereka mengacau dan mengadudomba umat Islam dengan bungkus radikalisme antiterrorisme dan sebagainya.

Aan Anshori sendiri mengaku tokoh muda NU yang berjuang untuk kesetaraan. Dalam berbagai bisik-bisik di kalangan aktivis, Aan terdeteksi Gay dan memang semangat sekali membela LGBT.

Kyai Marsyudi ini dibelakang live ILC selalu bersama mereka. Ingat hadits Rasul; "Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun yang saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal (sifatnya, kecenderungannya dan sama-sama sifatnya) maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan tercerai-berai.”

Saya bicara dalam hati "ngga beres ini kyai", saat dia bolak balik berempat di ruangan ILC. Tapi baiklah, kita kedepankan sikap positif. Dan begitu juga saat di panggung Aksi Bela Palestina kemarin.

Awalnya, ketika mewakili PBNU untuk berorasi, tidak ada yang janggal. Saya catat semua kata-katanya. Tentang perlunya kita bela Palestina karena janji Allah.

Juga mengajak kepada bangsa di dunia yang lain untuk mewujudkan Palestina merdeka dan berdaulat. Dan mendorong segenap umat Islam untuk terus mendukung rakyat Palestina sampai mendapatkan hidup yang damai.

Kecuali soal ledekan Al-Aqsa dan Quds yang dia baca dengan sebutan Kudus. Walaupun itu joke ya.

Saat selesai acara pembacaan Petisi MUI menolak Yerusalem sebagai Inukota Israel yang dibacakan oleh Sekjen MUI itulah insiden itu terjadi. Saat proses pembacaan awalnya memang ada keributan dibelakang ulama antara Kyai Marsyudi dengan beberapa ulama. Nampak ketegangan.

Sesaat setelah petisi dibacakan, tiba-tiba KH. Marsyudi merebut mic MC yang dipegang oleh KH. Bahtiar Nasir. Dan langsung berbicara "pembacaan do'a oleh...[dan seterusnya].."

Untungnya panitia dan massa di depan berkata kompak "beluuuum".

Awalnya, kejadian ini, oleh kita yang didepan panggung mengira hanya miskomunikasi. Tapi agak lucu. Karena penanggungjawab jalannya acara bisa diambilalih micnya dan ada perubahan acara.

Keanehan lain nampak. Saat anak-anak muda diminta orasi, ada dua nama yang diteriakan massa umat. Fahri Hamzah dan Felix Siauw. Massa merasa tidak puas karena dua tokoh muda ini tidak tampil.

Tampak Kyai Marsyudi kembali bersitegang dengan panitia pengatur jalannya acara. Entah apa yang diperbincangkan. Tapi yang jelas, acara setelah itu jadi seperti tidak teratur rapi.

Kenapa umat hanya berteriak Fahri Hamzah dan Felix Siauw. Saya yakin ini soal hati dan perasaan umat dan rakyat yang bisa diwakili oleh mereka berdua. Mereka adalah bintang ILC saat tema "212: Perlukah Reuni".

Fahri Hamzah sendiri adalah orator yang kata-katanya di orasi Reuni 212 dua pekan lalu menjadi viral dan terus jadi narasi yang mengisi umat hingga sekarang. Wajar umat merindukan hadir.

Umat tentu saja bertanya. Ini ada apa?. Kenapa mereka tak muncul?. Apakah ketegangan itu bisa diasumsikan bahwa memang ada koordinasi yang tak selesai dikalangan ormas?. Adakah agenda lain yang masuk?. Adakah proses pembusukan dan pengkerdilan?.

Kepada para pemimpin umat. Tolong jangan mau dijebak dan ditakuti atau dikecilkan. Kesadaran umat sudah mengalir dan menemukan bentuknya. Orator dan pemimpin narasi seperti Fahri dan Felix harusnya ditampilkan.

Janganlah mau kita disetir oleh opini soal ormas anti Pancasila, antikebhinnekaan, radikalisme dan lain sebagainya. Apalagi dijebak kesepakatan-kesepakatan dengan orang-orang yang ingin mengkerdilkan gelombang umat.

Umat sudah bersatu. Segera klarifikasi kejadian kemarin. Jangan mau lagi disabotase atau dikerdilkan gerakan ini. Wassalam.

[Al-Ghifari, saksi di Reuni 212, Live ILC dan Aksi Bela Palestina]


Bdg.News, Bandung (7/12), Gerakan Mahasiswa Pembebasan Kota Banndung menyelenggarakan DIALOGIKA bertajuk dengan “Bandung di Kepung Konflik Pertanahan”. Dialogik yang bertempat di Café Panas Dalam mengundang beberapa narasumber, diantaranya Ardhiana NH (Kastra Gema Pembebasan Kota Bandung, Andika (Bandung Political Research) dan Linggo dari Aliansi Rakyat Anti Penggusuran (ARAP).

Linggo menuturkan bhwa kasus pertanahan ini disebabkan oleh maraknya investor yang mencoba melakukan pengembangan bisnis properti tanpa mempertimbangkan aspek-aspek yang menjadi tempt hidup masyarkat. Bahayanya, para investor tersebut justru bekerjasama dengan Pemkot Bandung. Tentu saja, apa yang dinyatakan RK terkait dengan pembangunan infrastruktur sebagai bentuk keberpihakan Pemkot terhadap Warga Bandung dinafikan dengan penyelewengan yang dilakukan oleh pihak-pihak swasta dalam menggerogoti hak tanah rakyat.

Pada aspek lingkungan geologis, Andika PP menuturkan, “jika dikatakan bahwa yang menempati letak geografis adalah cekungan maka akan sangat rentan bahaya jika kawasan bandung didominasi oleh pembangunan pemukiman penduduk dengan memadatkan bangunan berbeton. Akhirnya, Bandung banjir.”.

Selaras akan hal itu, Rizki (HMI Cab. Kota Bandung) memberikan statement bahwa konflik pertanahan adalah wujud ketidakseriusan pemerintah dalam mengelola kepemilikan tanah. Penguasaan tanah secara paksa dan merampas merupakan bentuk lain dari penjajahan gaya baru atas nama renovasi dan penataan runang.

Dengan sekelumit pandangan mengenai problem sengketa pertanahan ini, Ardhiana NH selaku Kastra GP Bandung menuturkan bahwa konflik terjadi akibat pengabaian negara dalam mengurus kepemilikan tanah, apalagi pemanfaatannya. “Tanah Usyuriah yang terkategorisasi sebagai tanah yang menempatkan warga bandung sendiri memiliki wewenang penuh dalam menguasainya tentu harus mendapatkan jaminan yang sah dari Negara, namun demikian eksistensi Negara kini tidak menunjang jaminan atas hak tersebut, melainkan Negara malah mewakili komplotan kapitalis melalui mekanisme demokrasinya dalam melegalkan langkah perampasan tanah yangtelah dihuni rakyat puluhan tahun.” Papar Ardhiana NH.

Dalam konteks inilah perlu kiranya Pergerakan Mahasiswa untuk menyatukan tekad untuk mengadakan sebuah institusi politik yang menjamin akan hak-hak rakyat tersebut berupa keluasan dalam penguasan tanah sebagai implikasi status tanah Usyuriah. [am]


Momentum reuni alumni 212 yang berbau wangi kalangan Islamis dan oposisi juga akan sengaja ditenggelamkan, dengan adanya aksi 1712 yang diadakan pada Ahad (17/12). Indikasi kuat tercermin dari statemen Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin pada Selasa (13/12).

Dikutip dari tribunnews.com, Ketua MUI dari kalangan yang dekat dengan pemerintah, Nahdatul Ulama (NU) menegaskan aksi 1712 akan jauh lebih besar dari reuni alumni 212.

"Kita harapkan nanti umat Islam dan umat-umat yang lain, secara bersama-sama untuk mendorong adanya pengakuan secara sah terhadap negara Palestina, supaya Donald Trump menarik keputusannya," katanya.

"Insya Allah, kita lebih besarlah," ujarnya

Reuni Alumni 212 sendiri dikenal sebagai momen peringatan kemenangan umat Islam terhadap Ahok. Ahok, sekalipun dekat dengan presiden Jokowi tetap bisa dipenjara sekalipun melalui proses yang berbelit belit. 2 tahun dirasa cukup singkat untuk seorang penista agama yang diidolakan oleh kalangan anti Islam sehingga efek jera tidak terwujud.

Kita amati bersama bahwa massa 212 yang digerakkan oleh eks HTI, FPI, GNPF berhasil menenggelamkan massa dari kalangan yang terindikasi dekat dengan pemerintah seperti MUI dan NU. Alhasil dibutuhkan panggung untuk mengampil posisi dan menampilkan citra positif untuk keperluan Pilpres 2019.

Indikasi lain, adalah kooperatifnya aparat kepolisian dalam mengamankan aksi umat Islam yang bersifat kolosal. Bukan rahasia lagi, pihak aparat berkali kali memicu kontroversi dengan menghalang halangi dan mempersulit perizinan umat Islam yang akan mengikuti aksi 212, 287, 299 dan reuni alumni 212.

Aksi Selamatkan Rohingnya di Magelang jelas merupakan bukti tak terbantahkan bahwa pihak kepolisian sengaja menghalang halangi aksi persatuan umat Islam. Juga, perampasan bendera tahuid yang dialami oleh umat Islam termasuk kontributor Mediaoposisi.com semakin memperkuat keberpihakan pihak kepolisian kepada siapa.

Kapolri, Tito Karnavian yang terkenal dekat dengan penguasa pun acapkali melontarkan statemen kontroversial ketika melihat persatuan umat Islam.

Salah satunya, dikutip dari Aktual.com, sosok yang turut dekat dengan Ahok ini berkomentar sinis terhadap umat Islam yang ingin Ahok –sang penista agama- dipenjara.

“Langkahnya solid jangan lagi bicara cakar-cakaran, tidak bicara misalnya agama ini dan agama itu, tidak bicara mengenai suku ini dan suku itu, tidak bicara keturunan ini dan keturunan itu,” ujarnya, Senin (14/8)

Pertanyannya, mengapa polisi begitu lunaknya di Aksi 1712 ? Bahkan, menurut informasi yang Redaksi Mediaoposisi.com dapatkan Kapolri memimpin rapat persiapan aksi 1712, ada apa sebenarnya ?

Ketika Pencitraan Terbongkar

Menimbang sosok yang akan diuntungkan dari adanya aksi 1712, tak lain adalah sosok yang dekat dengan Ahok, Presiden Jokowi. Jokowi sebelumnya menghadiri KTT OKI sekaligus menyampaikan 6 poin resolusi

 6 poin usulan sikap negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) terhadap langkah Amerika Serikat yang mengakui Al Quds/Yerussalem sebagai ibu kota Israel adalahs sebagai berikut.

Two state solution merupakan satu-satunya solusi dengan Yerusalem Timur sebagai Ibu Kota Palestina. Presiden Jokowi mengajak semua negara yang memiliki kedutaan besar di Tel Aviv untuk tidak mengikuti langkah Amerika Serikat memindahkannya ke Yerusalem. OKI dapat menjadi motor untuk menggerakkan dukungan negara-negara yang belum mengakui kemerdekaan Palestina untuk segera melaksanakannya. Presiden Jokowi menyerukan sejumlah negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel untuk meninjau kembali hubungan diplomatik tersebut. Anggota OKI harus mengambil langkah bersama dalam hal meningkatkan bantuan kemanusiaan, peningkatan kapasitas, dan kerja sama ekonomi terhadap Palestina," ujar Jokowi. OKI menjadi motor bagi gerakan di berbagai forum internasional dan multilateral untuk mendukung Palestina.

Pasca penyampaian resolusi yang “manis”  itu, di Indonesia MUI akan mengadakan aksi besar besaran untuk mendukung Palestina.  Tentu, perjalanan menuju 2019 menjadi semakin mudah dan lancar untuk Jokowi, apalagi umat Islam memang seringkali tidak sadar bahwa dimanfaatkan suaranya.

Sayangnya, statemen presiden Jokowi nampaknya hanya pemanis belaka. Pasalnya, dikutip dari tribunnews.com. Duta Besar AS,  untuk Indonesia, Joseph Donovan, Kamis (7/12/2017). mengatakan keputusan pengakuan Al Quds/ Yerusalem sebagai ibu kota Israel sudah dikonsultasikan dahulu dengan negara-negara lain termasuk Indonesia.

"Kami telah berkonsultasi dengan para teman, mitra, dan sekutu kami, termasuk Indonesia, sebelum Presiden Trump mengeluarkan keputusannya," katanya.

Sebuah kebodohan bagi Donald Trump bila melakukan kebijakan kontroversial tanpa melakukan pembungkaman para penguasa negeri muslim.

Lalu, bukankah sebuah pencitraan yang manis bila Jokowi memberikan resolusi perihal sesuatu yang ia pada dasarnya senada dengan Trump.

Waspada ditunggangi wahai MUI dan Ulama ulama yang hanif ! [MO]

Sumber: Mediaoposisi.com


Beliau kepala Program Studi (Prodi) di lingkungan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis (FPEB) UPI. Jenjang akademiknya sudah mentok, Doktor. Masih ingat saat bimbingan, ia menganalogikan proses kuliah seperti proses pembelajaran menghasilkan nasi goreng. Pembelajar nasi goreng harus mengeyam beberapa SKS (Sistem Kredit Semester) untuk menghasilkan nasi goreng yang nikmat. Ia harus menempuh 2 SKS mata kuliah mengiris bawang, 2 SKS mata kuliah menyalakan kompor, 2 SKS meracik bumbu, 3 SKS menggoreng telur, 3 SKS mencampurkan bumbu, telur dan nasi, hingga akhirnya ia harus diuji dengan menyerahkan laporan tertulis langkah-langkah yang ia tempuh untuk menghasilkan nasi goreng nikmat spesial.
Bagaimana jika hasil nasi goreng yangia racik tidak sesuai dengan apa yang dilakukan oleh chef nasi goreng lainnya? Tak masalah, justru disana letak pembelajarannya. Ia akan mendapatkan masukan dari sesama chef nasi goreng lainnya, begitupun chef lainnya, akan mendapatkan rekomendasi terbaik agar nasi goreng yang dihasilkan lebih baik lagi.
Saya coba berfikir, menerapkan analogi yang ia sampaikan dalam kehidupan yang sudah saya alami dan yang terjadi saat ini. Selama pembelajaran di kampus, menyusun skripsi bisa dikatakan hal yang paling menyulitkan, namun hasil penelitian skripsi tidak bisa dikatakan salah jika hasil penelitian tidak sesuai dengan peneliti lain, yang terpenting proses terlaksana sesuai dengan langkah-langkah ilmiah yang berdasarkan data dan dapat dipertanggungjawabkan. Misal, metode pembelajaran Mind Mapping dalam penelitian yang dilakukan oleh fulan dapat meningkatkan hasil belajar Ekonomi, sedangkan hasil penelitian peneliti lain menyimpulkan bahwa Mind Mapping tidak dapat meningkatkan hasil belajar Ekonomi. Lantas apakah salah hasil penilitian yang dilakukan oleh fulan? Tentu tidak, jika penelitiannya didasarkan langkah-langkah ilmiah yang berdasarkan data dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sayangnya, budaya ilmiah di negeri ini kian hari kian menipis. Penguasa negeri ini melakukan segala cara untuk membungkam lawan politik yang berbeda pandangan dengannya, tanpa melalui jalur imiah, diskusi dan klarifikasi. Lewat Perppu No 2 Tahun 2017, ormas-ormas yang dianggap bertentangan dengan Pancasila, menurut kacamata penguasa, wajib dibubarkan. Penguasa mempunyai hak tunggal penafsir Pancasila. Tak hanya itu, ada ormas, sebut saja Banser yang menyatakan diri paling pancasialis, membubarkan pengajian dan persekusi terhadap ulama. Apakah budaya ilmiah sudah tidak berlaku di negeri ini? Diskusi, konfirmasi dan komunikasi tergantikan dengan persekusi, menebar fitnah hingga berujung anarki?
Seakan-akan perubahan tidak dikehendaki, mereka yang mengaku diri paling pancasialis berfikir bahwa NKRI harga mati, Pancasila tak terganti! Sejak awal negeri ini berdiri perubahan selalu terjadi, rezim Soekarno, NKRI masih meliputi Papua Nugini, Rezmi putrinya, Megawati, Papua Nugini sudah lepas dari NKRI. Apakah ini yang dimaksud NKRI harga mati? Sekarang, Rezim Jokowi, sumber daya alam memang masih bercokol di NKRI, tapi coba tanyakan, siapa yang menguasai? Asing dan Aseng! Bukan rakyat pribumi.
Sekarang kita lihat Pancasila, setiap rezim berganti, Pancasila ditafsirkan berbeda. Tergantung kepentingan penguasa. Rezim Soeharto, Pancasila condong ke Komunis Sosialis, Rezim SBY, Pancasila condong ke Kapitalis Liberal, sekarang Rezim Jokowi Pancasila kembali condong ke Komunis Sosialis. Lalu dimana suara mereka yang mengatakan Pancasila tak terganti? Tak bersua, mungkin karena sudah kenyang dapat uang melimpah.
Maka, perubahan adalah hal yang pasti, dalam penelitian, hasil penelitian menunjukkan hasil berbeda, bukan berarti salah, coba konfirmasi dan diskusi barangkali keliru dalam proses atau keliru dalam data. Maka perlu intropeksi. Begitupun negeri ini, sudah lebih setengah abad negeri ini merdeka tapi belum terlihat tanda-tanda sejahtera. Mungkin karena masih berfikir purbakala, tidak mau menerima perubahan yang lebih pasti, yaitu Islam yang sudah terbukti. Wallahu’alam
[Irfan Wahyudin, Alumnus FPEB UPI]



KONSISTENSI HIZBUT TAHRIR (INDONESIA) SOAL KHILAFAH
(Bukan Tanggapan untuk @na_dirs Tetapi untuk Publik yang Salah Paham Setelah Membaca Kultwit Provokasinya)

by @YuanaRyanTresna (Pelajar yang Terus Belajar)

1. Membaca kultwit Prof @na_dirs di link https://chirpstory.com/li/376928 hanya bisa senyum2. Ini mengingatkan sy pada "diskusi" soal hadits panji Rasulullah yang katanya dha'if. Setelah dijelaskan, sy kira clear dan publik bisa menilai. Gagasan NH sdh sy anggap game over. @Hafidz_AR1924

2. NH masih bersikukuh sebagaimana pendahulunya bhw tdk ada sistem baku khilafah. Padahal sudah banyak dibantah. Bantahan terakhir dari Ust @Hafidz_AR1924 lebih dari cukup dan sangat telak. Ayo Prof @na_dirs @Makmun_Rasyid @mohmahfudmd baca ini: https://mediaumat.news/tanggapan-kepada-siapa-saja-yang-mengatakan-khilafah-tidak-punya-bentuk-baku/

3. Jadi berhentilah beretorika dan menyesatkan publik. Baiklah sy tdk akan membahas atau membantah kultwit NH, hanya ingin memberikan gambaran kepada publik soal konsistensi HT dlm memperjuangkan khilafah. Semoga bisa memberikan manfaat bagi siapa saja yang sdg mencari kebenaran.

4. Pertama, mari kita sepakati bahwa dalil syariah itu adalah al-Qur’an al-Sunnah, Ijmak Shahabat dan Qiyas. Sayangnya, Hadits tidak banyak dieksplorasi, padahal banyak ceritakan sistem khilafah dan khalifahnya. Ijmak juga demikian, hampir tdk disentuh. Padahal ia dalil syariah.

5. Ijmak Shahabat dengan sangat terang menunjukkan bagaimana mareka menjalankan pemerintahan pasca wafatnya Rasulullah Saw. Ini tidak boleh diingkari. Kalau cara pandangnya seperti itu, maka betapa banyak hukum Islam yg kaifiyahnya tidak dijelaskan dalam Qur'an dan Sunnah.

6. Kalau begitu cara pandangnya, mk berarti sistem khilafah yg dipakai oleh 4 org shahabat adl tidak baku. Sebab, sistem khilafah yg mrk terapkan itu tdk disebutkan dlm Quran dan Hadits. Bahkan, berdasarkan cara pandang tadi, sistem Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah pun tidak baku

7. Kalau Ijmak shahabat ditolak. Ya sudah lah, agak susah terus melanjutkan diskusinya. Lebih baik ngaji Ushul Fiqh lagi, dari pada membahas masalah ini. Shahabat Nabi menerima sistem Khilafah Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali dalam bentuk baiat tha'at (ketaatan). #UshulFiqh

8. Kalau semua shahabat Nabi menerima, mk berarti sistem khilafah yg dipakai oleh 4 orang shahabat itu baku. Sebab, semua shahabat menerimanya shngg terjadilah Ijmak di kalangan mrk. Ijmak pengangkatan Abu Bakr pasca wafatnya Rasul bukti hal itu (al-Shawa’iqul Mukhriqah,1/25).

9. Kedua, mari kita bedah dari sisi apa yang paling mendasar dalam penyelenggaraan sebuah negara. Kalau Prof @na_dirs pakar hukum dan sudah baca kitab Muqaddimah al-Dustur, pasti tahu dong. Esensi yang membedakan pemerintahan yg satu dgn yg lain adalah: KEDAULATAN DAN KEKUASAAN

10. Prinsip kedaulatan dan kekuasaan itu bisa dibedah menjadi 4 hal sebagai berikut. Ikuti terus kultwit sy agar tidak salah paham ya. Dan izinkan menyapa dulu para asatidz @Hafidz_AR1924 @faridwadjdi @felixsiauw

11. Pertama, KEDAULATAN/SIYADAH (otoritas tertinggi dalam membuat hukum) di tangan syara'. Tidak boleh ada di dalamnya hukum yang dibuat oleh manusia. Semuanya harus didasarkan kepada syariat atau merujuk kepada nash syara' melalui proses istinbath dan ijtihad syar'i.

12. Kedua, KEKUASAAN/SULTHAN (otoritas dalam memilih khalifah) di tangan umat (bukan rakyat). Karenanya orang kafir tidak punya hak pilih apalagi dipilih. Hanya saja mereka boleh hidup di bawah naungannya dengan akad dzimmah (membayar jizyah dan tunduk terhadap syariat Islam).

13. Ketiga, WAJIB SATU KHALIFAH utk sel kaum muslim di dunia. Tidak boleh lebih dari satu dan ini sdh merupakan ijmak. Ia berjuluk al-Imam al A'zham (pemimpin teragung) karena tidak ada lagi pemimpin umat Islam di atasnya. Kewajiban 1 khalifah ini dalilnya adl hadits shahih.

14. Keempat, KHALIFAH PUNYA HAK MENGADOPSI HUKUM (bukan membuat hukum). Apa maksudnya? Yaitu hukum syariat tertentu yg dibutuhkan demi pengurusan kemaslahatan umat Islam khususnya, dan seluruh warga khilafah umumnya. Khalifah bisa berijtihad sendiri atau mengadopsi ijtihad ulama.

15. Semua tadi sifatnya baku. Mari kita ngaji kitab Muqaddimah al-Dustur yang dikeluarkan HT dgn pendalilan yang jelas. Pertanyaannya, apakah sistem pemerintahan yg bisa mengakomodasi perkara2 baku tadi selain pemerintahan yang dicontohkan Nabi dan dilanjutkan Khulafa Rasyidun?

16. Atas nikmat Allah, HT sdh menyiapkan dan menyusun berbagai kitab utk mengisi ruang kosong dlm bidang publik ini. Kitab lain banyak. Tapi kitab soal sistem2 kehidupan, hrs diakui HT-lah yang secara serius menyiapkannya, mulai sistem pemerintahan, ekonomi, pergaulan, dll.

17. Memang benar kitab yang dikeluarkan oleh HT ada yang mengalami perubahan. Itu bukan dalil ketidakbakuan sistem khilafah. Itu soal rincian dari perkara pokok. Misal, struktur dari 8 menjadi 13, dasarnya adalah ijtihad dengan memperhatikan dalil dan realitas yg ada. #Ijtihad

18. Berbicara ijtihad, maka itu terjadi pada perkara yg secara tekstual tidak disebutkan dalam nash, baik al-Qur'an maupun al-Sunnah. Dgn ijtihad ini, khazanah Islam makin berkembang. Tantangan zaman dapat dihadapi. Ijtihad adl hukum syara bagi mujtahid dan yang mengikutinya.

19. Kalau tdk sepakat dgn hasil ijtihad org lain, hadirkan dong ijtihad yang lain. Jgn berlindung dibalik kata "itu ijtihadi" sambil tdk sanggup hadirkan ijtihad lain, bkn malah mendekontruksinya. Ini tentu tdk adil. Jangan pula berlindung di balik slogan2 kosong yang bias makna.

20. Makanya sy benar2 aneh jika dinamisasi ijtihad dikatakan sebagai bentuk inkonsistensi. Sebenarnya mengerti ijtihad nggak sih. Dalam banyak kitab, HT telah mengeluarkan karya yang sangat penting, penting dikaji dan silahkan dikoreksi jika ada yang salah.

21. Dinamisasi ijtihad dalam kitab2 HT, menunjukkan bahwa di dalam tubuh HT tumbuh budaya akademik yang sehat. Bukan doktrin. Pendapat dikoreksi dengan pendapat. Dasarnya adalah dalil2 syariah. Adu argumen, bukan dengan nyinyir sambil nyengir. Hehe.

22. Cara berpikir yg seakan menafikan ijmak, ijtihad, dll sangat berbahaya. Ini bkn tradisi ulama2 ahlus sunnah. Sejarah mmng bukan dalil, ttp layak diperhatikan. Sangat aneh jika sejarah Islam ditolak mentah2. Sejarah menunjukkan betapa umat Islam telah berpegang pd prinsip ini.

23. Para ulama telah bahas khilafah ini. Khilafah bukan ciptaan ulama. Para ulama menjelaskan hukum. Para ulama telah membahas tentang Khilafah. Secara obyektif, jika kita membaca kitab-kitab para ulama, maka kita akan dengan mudah mendapati pembahasan tentang Khilafah.

24. Imam Ar-Razi, misalnya, dlm kitab Mukhtar ash-Shihah hlm. 186, menjelaskan: “Khilafah, Imamah al-‘Uzhma, atau Imarah al-Mukminin semuanya memberikan makna yg satu (sama) dan menunjukkan tugas yang juga satu (sama), yaitu kekuasaan tertinggi bagi kaum Muslim”. @Hafidz_AR1924

25. Imam Ibnu Khaldun, dlm Al-Muqaddimah, hlm. 190 berkata: “Dan ketika telah mnjd jelas bagi kita penjelasan ini, bhw imam itu adl wakil pemilik syariah dlm menjaga agama serta politik duniawi di dalamnya disebut khilafah dan imamah. Sedangkan yg menempatinya adl khalifah/imam”.

26. Para ulama tidak akan asal2an menciptakan sesuatu yang tidak ada landasan dari al-Qur’an dan al-Hadits. Para ulama itu bkn pencipta ajaran Islam. Para ulama itu hanya menjelaskan Islam yang tentu saja sumbernya berasal dari al-Qur’an, Hadits, dan Ijmak Shahabat.

27. Adanya pebedaan dlm beberapa hal di kalangan ulama, tdk bisa disimpulkan tidak ada ajaran atau tidak ada dalilnya. Khilafah adl ajaran Islam yg diajarkan Rasulullah, dilaksanakan oleh para shahabat dan ditulis oleh para ulama di dalam kitab-kitabnya.

28. Berikutnya sy akan membahas beberapa pernak pernik pemikiran yang masih syubhat, atau sudah jelas tapi tetap saja ada orang yang ngeyel. Tanda kurang produktif itu ketika terus mendaur-ulang gagasan lama yang sudah terkubur. Ikuti terus kultwit sy ya.

29. Pertama, tafsir QS 24: 55. Marilah kita jujur. Para ulama ahli tafsir seperti al-Qurthubi (w 671-H) berpendapat bahwa janji Allah dalam ayat tersebut berlaku umum untuk seluruh umat Muhammad (Tafsir al-Qurthubi, 12/299). Ini Janji Allah yg harus diimani oleh kita.

30. Penjelasan Ibnu Katsir bukanlah batasan bahwa janji itu sudah terwujud dan tidak akan terwujud lagi. Mari baca yang seksama dan buka kitab tafsir lainnya biar tidak kuper. Malu. Bukan begitu Ust @felixsiauw ?

31. Perhatikan, "maka pendapat yang shahih adalah bahwa ayat ini berlaku umum untuk umat Muhammad, tidak bersifat khusus (untuk generasi tertentu dari umat ini-pen).” [Tafsir al-Qurthubi, 12/299].

32. "(Janji Allah dalam ayat ini) akan senantiasa berlaku sampai hari kiamat, selama mereka (kaum muslimin) menegakkan iman dan amal shalih. Diraihnya apa yang telah dijanjikan Allah, adalah sebuah kepastian.” [Tafsir as-Sa’di, hlm. 573]

33. Kedua, hadits bhw khilafah hanya 30 thn. Ketika dipahami sesuai hawa nafsu dan tanpa memperdulikan hadits lain yg jumlahnya banyak, termasuk hadits khalifah berjumlah 12, mk tak heran jika muncul kesimpulan yg ajaib. Silahkan baca semua hadits2 terkait khilafah dan syarahnya.

34. Sebenarnya Khilafah tiga puluh tahun itu maksudnya adalah Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Mereka adalah Abu Bakar as-Shiddiq, Umar bin al-Khatthab, Utsman bin al-Affan, Ali bin Abi Thalib dan al-Hasan bin Ali. Baca ini: https://tsaqofah.id/benarkah-khilafah-hanya-30-tahun/

35. Ketiga, adapun hadits kabar gembira kenabian ttg akan kembalinya khilafah, sdh sering sy bahas. Poinnya pasti status rawi Habib bin Salim yg dikatakan lemah (fihi nazhar menurut al-Bukhari). Sebaiknya kita belajar al-jarh wa ta'dil dulu sec serius dan kaji makna fihi nazhar.

36. Para ulama telah bahas makna fihi nazhar ini sec panjang lebar. Terjadi ikhtilaf di dalamnya. Makanya memang ada ulama yg melemahkan, ada juga yg mengatakan tsiqah. Tapi mengapa mrk tidak bisa toleran dalam ikhtilaf ini? Hmm.. Biar gaul baca kitab ini: http://khadimussunnah.info/2016/12/16/fihi-nazhar-imam-bukhari/

37. Ada tulisan utk menjadi pembanding: http://www.al-khilafah.net/2014/12/dhaif-kah-hadis-tentang-bakal-kembalinya-khilafah.html. Sy banyak kaji, tapi blm sempat tulis. Lagi pula hadits tersebut bukan dalil kewajiban menegakkan khilafah. itu hadits terkait kabar gembira akan kembalinya khilafah, sebagai targhib (motivasi) bagi umat.

38. Keempat, terkait mekanisme pengangkatan dan pemilihan khalifah. Baiknya kita kaji Muqaddimah al-Dustur sec perlahan dan tulus, tentu saja spy jelas. Metode pengangkatan hanya ada satu: baiat. Adapun tata cara pemilihannya, pr shahabat menunjukkan ada bbrp model.

39. Dalilnya demikian kokoh dan jelas. Btw kalau saya buat daurah Muqaddimah al-Dustur mrk yg selalu gagal paham apakah siap hadir? Hanya tawaran saja. Ini ngaji ya, bukan debat2an lah. Soalnya yang seperti ini (utk mau menerima pendapat lain) harus tadzkiyatun nafs dulu. hehe.

40. Semua yang sy jelaskan tadi menunjukkan konsistensi HT dalam memahami konsep khilafah dan konsistensi dalam memperjuangkannya. Semoga Allah selalu membimbing para pengemban dakwahnya dan memgampuni mrk yang salah paham atau berpaham salah. TAMAT.


Penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina merupakan tindakan dzalim. Haram Umat Islam ridho terhadap apa yang dilakukan oleh penjajah Israel terhadap Palestina.
Akhir-akhir ini konflik Israel–Palestina semakin mencuat di tengah-tengah umat. Mencuatnya konflik Israel–Palestina diawali oleh pidato presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Trump dalam pidatonya memberikan pengakuan resmi bahwa Yerusalem adalah ibu kota Israel. Ia juga menjelaskan bahwa pemindahan Kedutaan Besar AS akan segera berproses (news.detik.com, 2017).
Pernyataan Trump berujung penolakan di berbagai negara, termasuk di negaranya sendiri dan di negeri kita tercinta ini.
Bila melihat solusi yang ditawarkan oleh PBB (Persatuan Bangsa-bangsa), tentu Palestina yang dirugikan. PBB memberikan solusi dua negara (Two States Solution) untuk mengatasi konflik Israel-Palestina. Solusi dua negara merupakan salah satu opsi solusi konflik Israel–Palestina menyerukan untuk dibuatnya "Dua negara untuk dua warga." Dengan solusi dua negara, Negara Palestina berdampingan dengan Israel, di sebelah barat Sungai Yordan. Sejarah dari kerangka solusi telah tertulis dalam resolusi PBB mengenai "Penyelesaian damai tentang masalah Palestina" yang ada sejak tahun 1974 (id.wikipedia.org, 2017).
Dalam pandangan Islam solusi dua negara adalah kebhatilan yang harus ditolak karena tanah palestina adalah tanah kharajiyah, tanah milik kaum muslimin selamanya. Tanah kharaj adalah tanah suatu negeri yang dibebaskan melalui peperangan atau perdamaian (nusr.net, 2017). Ustadz Ismail Yusanto (Juru Bicara Hizbut Tahrir) melalui Twitternya mengatakan, “Palestina adalah tanah kharajiyah. Milik kaum muslimin. Tak seorangpun yg berhak menyerahkannya pd org lain. Karena itu, ‘two states solution’ hrs ditolak. Ini bukan solusi tp justru akan memberi jalan penjajahan menjadi abadi”.
Bila melihat sejarah Islam, ketika Kekhilafah Islam berdiri, Khalifah Sultan Abdul Hamid II dengan tegas menolak memberikan tanah Palestina walau se-inchi pun kepada Yahudi. “Aku tidak akan memberikan satu inchi tanah dari Palestina kepada Yahudi sebab Palestina bukanlah milikku namun ia adalah milik umat dan umat telah menumpahkan darah mereka untuk mempertahankan tanah ini”. Sultan Abdul Hamid II, kepada Theodore Herzl, 1896.
Bagi umat Islam Palestina adalah tanah miliki kaum muslimin, haram baginya dimiliki oleh kaum kafirin walaupun se-inchi saja. Solusi dua negara adalah solusi bathil dan dzalim. Umat Islam haram ridho atasnya. Jauh-jauh hari Khalifah Sultan Abdul Hamid II menegaskan, “Jika kekhilafahan Islam ini hancur pada suatu hari, mereka dapat mengambil Palestina tanpa biaya. Tetapi selagi Aku masih hidup, aku lebih rela sebilah pedang merobek tubuhku daripada melihat bumi Palestina dikhianati dan dipisahkan dari kekhilafahan Islam. Perpisahan tanah Palestina adalah suatu yang tidak akan terjadi. Aku tidak akan memulai pemisahan tubuh kami selagi kamimasih hidup”
Maka dari itu, solusi total untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina dengan menyatukan kekuatan Umat Islam seluruh dunia dalam satu kepemimpinan, berjihad dan menegakkan Syariah Islam secara sempurna dalam institusi Khilafah. Mengakhiri penderitaan Umat Islam dan mengembalikan kembali kejayaan Umat Islam sebagaimana yang alami pada masa kekhilafahan Khalifah Sultan Abdul Hamid II. Wallahu’alam
[Irfan wahyudin, Mahasiswa FPEB UPI Bandung]


Bdg.news. Bandung. Aksi #1112 yang diselenggarakan oleh Solidaritas Umat Islam Jawa Barat untuk Palestina, Senin (11/12) dihadiri alim ulama Jawa Barat. Ustadz Asep Soedrajat, Tokoh Ulama Jawa Barat dalam orasinya mengatakan, Kami tidak ridho atas apa yang dilakukan oleh penjajahan Israel. Palestina tanah negeri muslimin, haram dikuasai oleh kaum kafirin. Maka haram pula bagi kita ridho atas kondisi Palestina hari ini!

Ulama lainnya, Ustadz Jeni Anwar, Tokoh Ulama Sumedang menegaskan, Kami kaum muslimin tidak pernah gentar untuk berjihad membebaskan palestina, tapi kita tidak pernah melihat upaya pemimpin negeri muslimin mengirimkan pasukannya berjihad membebaskan palestina.

Lebih lanjut mengatakan, berkumpulnya kami hari ini mendukung pemimpin negeri muslimin untuk mengirimkan tentara membebaskan palestina. "Wahai pemimpin negeri muslimin, Anda punya tentara, kirimkanlah tentara muslimin untuk menghancurkan Israel!" ungkapnya.

Aksi yang digelar di depan Gedung Sate, Jawa Barat ini diikuti ribuan Umat Islam dari berbagi ormas Islam dengan berbagai tingkatan usia dan ragam pekerjaan.

Agus Suryana, Dosen sekaligus Pemerhati Pendidikan mengatakan dalam orasinya, Kami yang berkumpul di tempat ini bukanlah pengangguran, diantara kami ada yang berprofesi Dosen, pengusaha, pengajar dan mahasiswa, tapi kami hentikan sementara aktivitas kami hanya untuk membela kaum muslimin di tanah palestina, Allahu Akbar!, ucap ia menyemangati peserta aksi #1112.

Aksi diakhiri dengan pernyataan sikap mengutuk keras pernyataan Trump dan menyeru pemimpin negeri muslimin membebaskan tanah palestina dengan jihad dan menerapkan syariat islam secara sempurna dalam institusi khilafah. [Irfan]


Bdg.news. Bandung. Ribuan umat Islam Jawa Barat (Jabar) menggelar aksi 1112 di depan Gedung Sate, Senin (11/12). Aksi yang diselenggarakan oleh Solidaritas Umat Islam Jawa Barat untuk Palestina ini mengutuk keras pernyataan Trum, Presiden Amerika Serikat yang mengatakan "Sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel".

Sebagaimana pantauan Bdg.News, aksi dimulai pukul 08:30, dengan long march dari depan Mesjid Pusdai Jabar menuju depan Gedung Sate Jabar. Ribuan peserta mengusung panji-panji Rasulullah dan membentangkan spanduk kecaman terhadap Amerika dan Israel.
Selain itu mereka membawa berbagai poster menyeru para pemimpin negri islam mengirimkan pasukannnya menghancurkan Israel. [Irfan]



Pameran Pendidikan Islam yang digelar oleh UKM KALAM UPI dari tahun 2015 ini akan menjanjikan lebih professional dan meriah di tahun ketiganya ini. Dengan tema “Islamic Education For The Great Future”, panitia acara mengatakan bahwa untuk PPI 2017 ini telah dilakukan persiapan lebih dari 2 bulan lamanya. Untuk itu panitia merasa optimis bahwa untuk penyelenggaraannya di tahun ini baik pameran, seminar dan peluncuran buku akan berjalan lebih professional dan meriah.

Untuk acara seminarnya saja panitia telah mengundang Dr. Fahmy Lukman, M. Hum. sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Mesir dan Filipina periode 2013-2017.

Ditambah dengan penyampaian makalah dari para ahli pendidikan yg lain seperti Dr. Aam Abdussalam, M. Pd. yg saat ini menjadi Ketua Asosiasi Dosen Pendidikan Islam Seluruh Indonesia (ADPISI) dan Ketua Prodi Ilmu Pendidikan Agama Islam UPI.

Adapun pemakalah kedua akan disampaikan oleh Dr. Eka Cahya Prima, M. T. Selaku dosen Prodi International Program on Science Education UPI dan Sekolah Pascasarjana UPI.



Sementara untuk buku yang akan diluncurkan pada tahun ini adalah buku Pendidikan Islam Jilid II sebagai kelanjutan dari buku jilid pertamanya yg diterbitkan tahun lalu.

Sebagaimana yg disampaikan oleh ketua panitia PPI17 Wawang Nurfalah bahwa buku ini sebagai bentuk manifestasi dan kontribusi dari UKM KALAM UPI untuk Universitas dan untuk dunia intelektual pada umumnya. Pada peluncurannya buku ini juga akan langsung dibedah oleh Guru Besar UPI yg baru saja diangkat yakni Prof. Dr. Nunuy Nurjanah, M. Pd.

Sebagai icon acara sendiri yakni acara pameran pendidikan Islam untuk tahun ini akan dipamerkan tiga komponen pendidikan yakni tujuan pendidikan, guru & murid dan metode pendidikan yg akan dipamerkan dalam 6 stand yg berbeda.

“Akan profesional karena untuk PPI17 ini kami bekerjasama langsung dengan vendor – vendor profesional untuk dapat membantu persiapan acara. Dan tentu akan meriah karena dari rangkaian acara sendiri kami pastikan akan sangat menarik untuk diikuti, dan tempat acara kami juga memilih di PKM, dan tentunya kami akan melakukan publikasi dan promosi acara yg lebih mantap jiwa” Ujar Wawang Nurfalah selaku ketua panitia.

Melalui acara yang akan digelar pada tanggal 16 Desember 2017 mendatang ini panitia mengharapkan bahwa pendidikan Islam dapat diterima dan diyakini sebagai sebuah konsep pendidikan yg layak untuk dijadikan pilihan lain selain pendidikan sekuler. Karena melalui pendidikan Islam ini disampaikan oleh panitia yg dapat menjadikan seorang manusia kembali kejalur hidupnya sebagai Abdullah dan Khalifatullah.

Bandung, 15 November 2017
Panitia Acara PPI17

www.kalam.ukm.upi.edu
@kalamupi
@kalamupidivan


HADITS BARU ADA 200 TAHUN SETELAH RASULULLAH WAFAT?
(Sebuah Refleksi Atas Perdebatan Para Ulama dengan Orientalis Sejak Abad ke-19 yang Menginspirasi Gagasan Ingkar Sunnah)

Oleh: Yuana Ryan Tresna*

Saya "terpaksa" menulis catatan singkat ini setelah ada beberapa orang yang katanya menunggu-nunggu ulasan tema ini setelah ramainya media sosial dengan pernyataan seorang yang tidak bertanggung jawab. Saya sejak awal sangat tidak tertarik menulis hal ini karena saya tidak mau menanggapi sebuah pernyataan yang tidak memiliki bobot intelektual. Tulisan ini semata karena permintaan beberapa orang tersebut. Anggap saja ini adalah bahan ajar terkait realitas hadits pada masa qabla dan inda tadwin (pembukuan hadits). Bukan merespon siapa-siapa. Atau anggap saja ini monolog saya ketika merefleksi sejarah perdebatan di era ingkar sunnah modern.

Penyataan "hadits BARU ADA setelah 200 tahun Rasulullah wafat" berbeda dengan pernyataan "hadits BARU DIBUKUKAN setelah 200 tahun Rasulullah wafat". Pernyataan pertama sangat berbahaya, sedangkan pernyataan kedua adalah benar jika yang dimaksud adalah gelombang besar proses tadwin hadits oleh para ulama. Hadits sebenarnya sudah ditulis oleh para ulama sejak pertengahan abad pertama hijriyah, tetapi belum menjadi gelombang besar dan kesadaran para ulama untuk melakukan seleksi hadits.

Pernyataan pertama sebenarnya serius jika penuturnya memang mengerti apa yang ia katakan dan siap mempertahankan pendapatnya. Tetapi jika penuturnya sendiri kebingungan dan minta maaf karena tidak mengerti ilmu hadits, lantas saya harus respon apa? Apalagi setelahnya disusul dengan pernyataan membingungkan bahwa banyak hadits dha’if dan palsu, serta tidak bisa digunakan sebagai landasan hukum. Makin rancu. Jadi yang dibidik itu terkait keotentikan hadits atau hanya kevalidannya saja (shahih-dha’if). Kalau hanya begini sih, sebenarnya cukup direspon oleh santri yang baru belajar ilmu hadits saja.

Uji Otentisitas, Validitas atau Reliabilitas?
Jika dikatakan hadits baru ada 200 tahun setelah Rasul wafat, maka ini merupakan gugatan terhadap otentisitas hadits. Kalau dikatakan hadits baru dibukukan 200 tahun setelah Rasul wafat kemudian meragukan penerimaan sebuah hadits sebagai hujjah, maka ini merupakan gugatan terhadap validitas hadits. Adapun kalau dikatakan suatu hadits tidak relevan dalam penerapannnya, maka termasuk gugatan terhadap reliabilitas hadits. Jadi mau duel di ranah mana? Harus jelas dulu. Mau kelas berat atau kelas ringan. Tapi ya sudah lah kan ini adalah tulisan monolog, tidak ditujukan kepada siapa-siapa. Hanya terinspirasi oleh “kelucuan sosial” yang begitu atraktif dalam beberapa hari ini.

Gugatan terhadap Otentisitas Hadits dan Jawabannya
Pada bagian ini saya akan menampilkan penelitian Dr. Syamsuddin Arif dalam “Gugatan Orientalis terhadap Hadits dan Gaungnya di Dunia Islam”. Gugatan orientalis terhadap hadits bermula pada pertengahan abad ke-19 M. Adalah Alois Sprenger yang pertama kali mempersoalkan status hadits dalam Islam. Dia adalah seorang misionaris asal Jerman yang pernah tinggal lama di India ini mengklaim bahwa hadits merupakan anekdot atau kumpulan berita bohong. (Lihat Alois Sprenger, Das Leben und die Lehre des Mohammad, 3: 1xxxiii).

Klaim ini diamini oleh William Muir, seorang orientalis asal Inggris. Dia juga beranggapan Nama Muhammad sengaja dicatut untuk menutupi bermacam-macam kebohongan. (Lihat William Muir, The Life of Mahomet and The History of Islam, 1: x1ii).

Adapun yang lebih berbobot adalah kritik Ignaz Goldziher. Yahudi kelahiran kelahiran Hungaria ini sempat belajar di Al Azhar Kairo meski hanya satu tahun. Menurut Goldziher sebagian besar (kalau tidak dikatakan semua) hadits harus ditolak karena palsu. Dia menuduh hadits adalah buatan masyarakat Islam beberapa abad setelah Rasulullah wafat, artinya bukan asli dari beliau. (Lihat Ignaz Goldziher, Muhammedanische Studien, 2:5).

Pendapat Goldziher sudah dibantah oleh sejumlah ulama seperti Syaikh Musthafa al-Siba’i (al-Sunnah wa Makanatuh fi al-Tasyri’ al-Islam), Syaikh Muhammad Abu Shuhbah (Difa’ ‘an al-Sunnah) dan Syaikh Abd al-Ghani Abd al-Khaliq (Hujjiyyat al-Sunnah).

Pengikut Goldziher yang panatik adalah David Samuel Margoliouth. Dia menuduh hadits tidak otentik karena tidak ada bukti hadits dicatat sejak zaman Nabi dan lemahnya hafalan rawi. (Lihat Margoliouth, The Early Development of Mohammedanism, 121). Demikian juga dengan orientalis lain seperti Henri Lammens (Belgia), Leone Caetani (Italia), Josef Horovitz, dan Gregor Schoeler, Alfred Guillaume, dll.

Masalah ini juga sudah dijawab oleh Syaikh Muhammad ‘Ajaj al-Khathib dalam kitabnya, al-Sunnah Qabla Tadwin.

Demikian juga para pakar seperti Prof. Muhammad Hamidullah (Aqdam Ta’lif fi al-Hadits al-Nabawi), Fuat Sezgin (Geschichte des Arabischen Schrifttums), Nabila Abbot (Studies in Arabic Literaly Papyri II), dan Prof. Musthafa al-Azami (Studies in Early Hadith Literature) dalam karyanya masing-masing telah berhasil mengemukakan bahwa terdapat bukti-bukti otentik yang menunjukkan pencatatan dan penulisan hadits sudah dimulai sejak kurun pertama hijriyah, yaitu sejak Nabi masih hidup.

Spekulasi Goldziher dan sekutunya tersebut dilanjutkan dan didaur ulang oleh Joseph Schacht, seorang orientalis asal Jerman keturunan Yahudi. Dalam bukunya yang sangat kontroversial mengatakan bahwa tidak ada hadits yang benar-benar asli dari Nabi Muhammad, dan kalupun ada jumlahnya sangat sedikit. Senada dengan Goldziher, ia mengklaim hadits baru muncul pada abad kedua hijriyah dan baru beredar luas setelah zaman Imam Syafi’I (w. 204 H), yakni abad ketiga hijriyah. Katanya, sanad merupakan alat justifikasi dan otorisasi yang baru mulai dipraktikan pada abad kedua hijriyah. (Lihat Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence, 149).

Gagasan Schacht telah dibantah oleh Prof. Muhammad Abu Zahrah (An Analytical Study of Dr. Schacht’s Illusions), Prof. Zafar Ishaq Ansari (The Authenticity of Tradition) dan Prof. Mustafa al-Azami (On Schact’s Origins of Muhammadan Jurisprudence). Maka gagasannya sudah terkubur hidup-hidup. Apalagi di kalangan orientalis sendiri gagasan Schacht ini menuai kontroversi.

Meski demikian, gagasan Schacht ini masih saja ada pengikutnya, seperti Gauthier Juynboll. Seorang orientalis berkebangsaan Belanda. Juga, dengan sedikit revisi, ada John Burton (orientalis Inggris) dan Harald Motzki (Belanda). Motzki mengusulkan mengubah tesis dari via negativa menjadi via positiva. Via negativa bermakna semua hadits tidak otentik hingga ditemukan sebaliknya. Adapun via positiva bermakna semua hadits dianggap otentik kecuali yang terbukti tidak.

Gerakan Anti-Hadits atau Ingkar Sunnah
Orientalisme telah melahirkan gerakan ingkar sunnah. Muncul pertama kali di India, Pakistan, Mesir dan Asia Tenggara. Intinya, cukup al-Qur’an saja, tak perlu al-Hadits. Wabah anti Hadits sempat berkembang di Timur Tengah, setelah naiknya artikel Muhammad Taufiq Shidqi yang dimuat dalam majalah al-Manar, Kairo, Mesir. Setelah disanggah, akhirnya Shidqi sadar.

Pelopor gerakan anti-Hadits lainnya adalah Ahmad Amin, Muhammad Husain Haikal, dan Thaha Husain. Adapun yang paling memberikan pengaruh adalah terbitnya karya-karya Mahmud Abu Rayah. Dia menggugat otentisitas hadits, otoritasnya dan integritas para shahabat. Saya punya buku batahannya. Menarik.

Pendapat Abu Rayah sudah dibantah oleh sejumlah ulama seperti Syaikh Musthafa al-Siba’i, Syaikh Muhammad Abu Shuhbah, Syaikh Muhammad al-Samahi, Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Syaikh Muhammad Ajaj al-Khathib, dll.

Gaung ingkar hadits juga bergaung di Amerika hingga Nusantara. Jekanya bisa dilacak dari gejala-gejala yang muncul di lapangan, sebagiannya bahkan sudah berani tampil secara terbuka.

Di Indonesia, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia dalam sidangnya di Jakarta pada Tanggal 16 Ramadhan 1403 H, bertepatan dengan tanggal 27 Juni 1983 M telah menetapkan bahwa paham Ingkar Sunnah/Hadits sebagai sesat.

Pokok-pokok pemahaman dan pemikiran ingkar sunah intinya adalah Islam hanyalah al-Qur’an, Nabi tidak berhak menjelaskan al-Qur’an dan Hadis-hadis yang beredar ini palsu.

Kritik Metodologi dan Epistemologi
Ada satu kelemahan yang paling menonjol dalam metodologi Schacht, yaitu seringnya dia menarik suatu kesimpulan berdasarkan argumentum e silentio, yakni alasan ketiadaan bukti. Padahal ketiadaan bukti yang didapat oleh peneliti, bukan berarti bukti itu tidak ada.

Kerapuhan metodologi ini tidak terlalu mengejutkan, karena Schacht dan orang-orang semacam dia memang berangkat dari niat buruk untuk merobohkan pilar-pilar Islam. Karena dipandu oleh niat buruk ini, maka kajiannya pun diwarnai oleh sikap pura-pura tidak tahu dengan sengaja mengabaikan data yang tidak mendukung asumsi-asumsinya dan memanipulasi bukti-bukti yang ada demi membenarkan teori-teorinya (abuse of evidence).

Terkait dengan kerancuan metodologi adalah sikap ‘paradoks’ (berpendirian ganda) dan ‘ambivalen’ (menganut nilai kebenaran ganda). Disatu sisi mereka meragukan dan bahkan mengingkari kebenaran sumber-sumber yang berasal dari orang Islam (karena metodologinya menghendaki demikian). Sementara di sisi lain mereka menggunakan sumber-sumber Islam tersebut sebagai bahan referensi (yang berarti tanpa disadari mereka akui kebenarannya).

Adapun secara epistemologis, secara umum dapat dikatakan bahwa sikap orientalis dari awal hingga akhir penelitiannya adalah skeptis. Mereka mulai dari keraguan dan berakhir dengan keraguan pula. Meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Apa yang membenarkan praduga yang dikehendaki itulah yang di cari, dan jika perlu, diada-adakan. Sebaliknya, apa-apa yang tidak sesuai dengan misi yang ingin dicapainya akan dimentahkan. Konsekuensi lainnya dari pendekatan skeptis ini adalah terjebak dalam lingkaran setan. Menurut Syamsuddin Arif, mereka akan berputar-putar dalam lingkaran keraguan tanpa berhasil keluar dari sana.

Berhenti Ngigau dan Bangunlah dari Tidur Lelapmu!
Jika ada seseorang yang pandangannya selaras dengan pandang para orientalis, maka hanya ada 2 kemungkinan: (1) kebetulan sama karena kebodohannya dalam mengutip/merujuk/mendengar, atau (2) sebagai penerus agenda orientalisme dan ingkar sunnah. Untuk kasus kelucuan sosial paling akhir, dugaan saya sih yang pertama. Karena kalau yang kedua terlalu mewah.

Jika kesamaan gagasan tersebut karena kebodohannya ketika mengutip/merujuk/mendengar, maka hanya ada dua kemungkinan juga: (1) tidak sadar atau (2) dengan kesadaran.Kalau mengutip dengan tanpa sadar, maka beri tahu dan bangunkan, mungkin dia lelah sehingga banyak ngigau dalam tidur lelapnya. Memang benar, psikologi orang panik itu apapun akan dijadikan pegangan meski itu sebuah tumpukan jerami. Namun, kalau dia mengutip dengan sadar, maka kasih tahu juga agar segera mawas diri kalau sekarang ini abad 21. Mengapa? Karena jika mengulang nyanyian lama tanpa proses “daur ulang gagasan”, maka akan jadi cemoohan orang banyak. Ini dunia nyata dan abad 21 bung, sedangkan gagasan tadi sudah tumbang sejak puluhan tahun bahkan ratusan tahun silam.

Penutup
Terakhir, saya kutipkan firman Allah subhanahu wa ta’ala dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ويَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ}

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah (sunnah/petunjuk)ku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Ali ‘Imran:31).

Nabi bersabda,

((من أحيا سنة من سنتي فعمل بها الناس، كان له مثل أجر من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئاً))

“Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun“ [HR Ibnu Majah (no. 209), pada sanadnya ada kelemahan, akan tetapi hadits ini dikuatkan dengan riwayat-riwayat lain yang semakna]

===
*Penulis adalah Peneliti di Raudhah Tsaqafiyyah Daerah Jawa Barat, dan Pengasuh Majelis Kajian Hadits Khadimus Sunnah Bandung.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget