Harga BBM Naik, Rakyat Tercekik Penguasa Dzalim Tertawa Asyik!


Oleh: Nasrudin Joha


Kembali, Rezim Dzalim mengeluarkan kebijakan Tiran. Tanpa mufakat, secara sepihak harga BBM dinaikan. Agar terlihat tidak sadis, kenaikan BBM berlindung pada frasa "Penyesuaian Harga".

Bahasa manis penyesuaian harga tetap saja tidak mengurangi rasa sakit dan derita yang dialami umat. Soal yang menjadi bencana bukan saja sebatas naiknya harga BBM, tanpa mufakat biaya transport juga akan ikut naik, harga sembako ikut-ikutan naik, harga harga produk barang dan jasa langsung atau tidak langsung ikut akan ikutan naik, sementara itu ?

Penghasilan umat tidak ikutan naik, gaji pegawai dan PNS tidak ikut naik, UMR dan upah tambahan tidak ikut naik, bahkan tanpa mufakat bisa saja PHK menjadi kenyataan, sebelumnya PHK hanya sebatas hantu yang menebar teror dan ancaman.

BBM naik, rakyat makin terjepit. Rakyat tidak mampu menghukum pasar, rakyat tidak bisa menghukum Pertamina, rakyat tidak bisa membeli BBM di Warung Lombok (baca: cabe), takuat tidak bisa nempur (baca: beli) BBM ke Warung pecel, tidak bisa isi BBM di WC umum.

Semua wajib ke SPBU, semua wajib membeli produk Pertamina, semua wajib tunduk pada "Hukum Besi Harga" yang telah disepuh Pertamina. Tidak akan ada yang menghukum Pertamina sehingga demand berkurang, yang karenanya harga BBM bisa turun sebab kelebihan suplai.

Pertamina menjadi algojo yang bisa secara sepihak menetapkan harga tanpa ada yang mengontrol. DPR yg seyogyanya menjadi lembaga kontrol, memiliki hak budgeting, telah melepas kuasanya dan Pertamina bisa bertindak sendiri dengan dalih untuk dan atas nama harga keekonomian, menaikan harga BBM sesukanya.

Rakyat pun diam seribu bahasa. Tidak ada antri kendaraan di SPBU menjelang pengumuman, tidak ada demo mahasiswa menentang rencana kenaikan BBM, tidak ada pengumuman kenaikan harga BBM seperti sidang Isbat menjelang Idul fitri atau Idul Adha. Tidak ada media ceriwis yang menumpahkan ujaran pengamat bengis yang mengkritik kebijakan tidak populis. Semua menjadi mayat mayat hidup, diam seribu bahasa. Kenaikan BBM seperti kentut, tanpa woro-woro langsung menumpahkan bau tak sedap.

Dewan yang mulia, lebih menjaga Marwahnya ketimbang nasib umat. Sibuk mengamandemen UU MD3 ketimbang mengevaluasi kendali harga, mengontrol Pertamina, agar berfikir untuk hajat rakyat, bukan berfikir sepihak untuk daulat kepentingan dan asas manfaat.

Wahai umat, sedih nian nasib dikau ? Semua partai saat ini berjibaku untuk pemilu dan Pilkada, tak satupu partai yang hirau atas penderitaan dan kesengsaraanmu.

Duhai umat, perih nian nasib dikau ? Ditengah ujaran pejabat yang tidak puas akan gaji, meminta berbagai fasilitas dan sarana penunjang, ditengah kegemilangan dan keberlimpahan. Engkau menjerit sendiri dan hanya mampu memaki.

Wahai umat, engkau telah terlalu letih, terlalu lama berjalan tertatih tanpa terpapar, menyusuri sesaknya jalan kehidupan tanpa pemandu dan pelayan. Penguasa yang harusnya melayanimu, justru dzalim terhadapmu.

Duhai umat, penguasa hanya ingin mendulang citra, bisa saja BBM kelak diturunkan, menjelang pemilu dan pemilihan Presiden. Lantas engkau dijadikan bahan agitasi, dijadikan raja pada ajang pemilu dan Pilkada, untuk selanjutnya menderita karena ulah durjana.

Kaum pendurja, politisi busuk, penguasa dzalim. Oh, lengkap sudah penderitaanmu wahai umat, bilakah pertolongan itu datang? [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget