Beda Antara Hubbul Wathan dengan Ta'ashub Wathaniyyah/Nasionalisme


Oleh:
Ust. Iwan Januar

1. Cinta tanah air adalah sesuatu yang harus dimiliki setiap muslim. Dengan cinta pada tanah airnya akan muncul sikap bela tanah air. Allah SWT. juga memerintahkan umat Muslim untuk mengusir orang-orang yang menginvasi/mengusir mereka, Firmannya:


Dan perangilah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah) (TQS. al-Baqarah: 191)

2. Rasullah SAW. juga memerintahkan setiap muslim untuk membela diri dan harta bendanya termasuk tempat tinggalnya dari orang-orang yang akan merampas dan menyerangnya. Sabda Nabi:

Siapa yang terbunuh membela hartanya maka dia syahid, siapa yang terbunuh membela keluarganya maka dia syahid, siapa yang terbunuh membela darahnya (jiwanya) atau agamanya maka dia syahid­ (HR. ABu Daud)

3. Kecintaan Nabi SAW. pada Madinah juga Mekkah bukan semata cinta tanah air tapi karena limpahan fadilah atau keutamaan yang Allah berikan pada kedua negeri tersebut. Bukan karena dorongan ta'ashub wathaniyyah.
Ketika beliau berpindah ke Madinah, beliau menyebut-nyebut Makkah sambil berlinangan air mata

­Engkau adalah bumi Allah yang aku cintai (HR. Abu Ya’la)


Akan tetapi, sebenarnya perkataan beliau ini tidak ada kaitanya dengan ta'ashub wathaniyyah/nasionalisme. Hal ini dapat diketehui dari ungkapan beliau yang lebih sempurna yang sering tidak di perintahkan oleh banyak orang:

Engkau adalah bumi Allah yang paling aku cintai sebab engkau adalah bumi Allah yang paling dicintai Allah. (HR. Tirmidzi)


4. Begitupula maqolah Umar bin Khaththab yang mengingatkan arti pentingnya cinta tanah air bukan menunjukkan BOLEH APALAGI WAJIBNYA TA'ASHUB WATHANIYYAH, tapi sekedar menunjukkan kewajiban menjaga dan membela tempat tinggal.

5. TA'ASHUB WATHANIYYAH BERBEDA dengan CINTA TANAH AIR (HUBBUL WATHAN). Ta'ashub wathaniyyah menunjukkan sikap arogan berbangga diri dengan asal kebangsaan sehingga memunculkan syiar-syiar jahiliyyah mengalahkan ukhuwah Islamiyyah. Sesungguhnya ta'ashub wathaniyyah adalah warisan budaya jahiliyyah dimana orang seringkali membanggakan kabilah dan suku bangsanya. Hal ini telah dikecam oleh lisan Baginda Nabi SAW. Bahkan Beliau menyebut kebanggaan suku bangsa itu lebih hina dari cacing tanah. Sabda Beliau:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالآبَاءِ مُؤْمِنٌ تَقِىٌّ وَفَاجِرٌ شَقِىٌّ أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ مِنْ تُرَابٍ لَيَدَعَنَّ رِجَالٌ فَخْرَهُمْ بِأَقْوَامٍ إِنَّمَا هُمْ فَحْمٌ مِنْ فَحْمِ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنَ الْجِعْلاَنِ الَّتِى تَدْفَعُ بِأَنْفِهَا النَّتْنَ

Sesungguhnya Allah telah menghilangkan dari dirimu kebanggaan dan kesombongan pada masa jahiliyah dan pemujaan terhadap nenek moyang. Saat ini ada dua macam manusia. Yaitu mukmin yang bertakwa dan orang-orang yang melanggar yang senantiasa membuat kesalahan. Kamu semua adalah anak cucu Adam dan Adam tercipta dari tanah. Manusia harus meninggalkan kebanggaan mereka terhadap bangsa mereka karena hal itu merupakan bahan bakar dari api neraka. Jika mereka tidak menghentikan ini semua, maka Allah akan menganggap mereka lebih rendah daripada cacing tanah yang menyusupkan dirinya sendiri ke dalam limbah kotoran.” (Abu Dawud dan Tirmidzi).


6. TA'ASHUB WATHANIYYAH diberikan SIFAT MENJIJIKKAN oleh Nabi SAW. Sabdanya dalam hadits yang ditulis oleh Misykat al-Masabih, Rasulullah SAW. berkata:

مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّة فَكَأَنَّمَا عَضَّ عَلَى هَنّ أَبِيْهِ

Dia yang menyeru kepada ashabiyyah laksana orang yang menggigit kemaluan bapaknya.

Sebutan "menggigit kemaluan bapaknya" menunjukkan kalau ta'ashub wathaniyyah adalah perbuatan yang kotor lagi menjijikkan, tidak pantas didengang-dengungkan oleh seorang muslim yang menginginkan kemuliaan.

7. Sesungguhnya munculnya negara-negara bangsa (nation state) di dunia Islam adalah hasil rekayasa tangan para penjajah di antaranya lewat Perjanjian Sykes & Picot, yakni Inggris dan Prancis yang berhasil memecah belah kesatuan umat dulu di bawah naungan Khilafah Islamiyyah menjadi negeri-negeri kecil yang ta'ashub wathaniyyah, sehingga memudahkan kaum kafir menguasai wilayah-wilayah kaum muslimin yang sudah tercerai berai. Dimana setiap muslim bangga dengan suku bangsanya dan bahasanya, dan hilang kebanggan sebagai umat Islam. Bahkan di antara mereka saling bermusuhan seperti Indonesia dengan Malaysia, Arab Saudi dengan Yaman, Turki dan Irak memerangi Suku Kurdi, dsb.

8. Kecintaan pada tanah air seharusnya diwujudkan bukan dengan slogan kosong, tapi dengan pembelaan negeri dari cengkraman neoimperialisme. Hari ini Indonesia dikuasai asing lewat ekonomi, sosial budaya dan politik. Sumberdaya alam mulai dari air, migas, mineral termasuk emas dikuasai asing. Bursa saham dan perbankan dikuasai asing, teknologi seluler yang beroperasi semua milik asing, dan negara pun dijerat hutang penuh riba.
Sedangkan sosial budaya diserbu perzinahan, LGBT, dan berton-ton narkoba, sedangkan politiknya tak berdaya menghadapi tekanan Barat dan Cina. Kemarin IMF yang sudah jelas menjerumuskan ekonomi Indonesia menjadi negara miskin justru disambut, bahkan acara mereka di Bali menghabiskan dana 1 triliun rupiah justru sebagian dibiayai negeri ini.

9. Kalau memang cinta tanah air sudah seharusnya ada upaya melawan semua penjajahan tersebut, mengembalikan kedaulatan umat dan melepaskan cengkraman asing. Bukan sekedar slogan dan nyanyian. Namun semua kebanggaan itu baru bisa dicapai dengan kembali pada ajaran Islam yang sudah menghapuskan ta'ashub wathaniyyah.

UKHUWAH ISLAMIYYAH itu derajatnya jauh di atas ta'ashub wathaniyyah yang sudah jelas keharamannya.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat.

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget