Berhenti Berfantasi, Ini Demokrasi!


Oleh: Farhan Akbar Muttaqi

Mereka yang berdarah-darah, mengira menjadi penguasa itu segalanya jadi serba mudah. Mereka bebas melangkah. Memberikan siapa saja yang dikangkanginya beragam titah. Meraih segala hal tanpa bersusah payah.

Semua fantasi, segalanya pasti terealisasi nanti. Ada jaminan bahwa anak dan istri memiliki stok nasi yang tak dibatasi. Mewujudkan ingin semudah mengangkat telunjuk kaki. Bahkan benteng caturpun kelak bisa dipaksa belok kanan dan kiri.

***

Namun ternyata, itu bayangan. Cerminan ambisi yang tak diimbangi dengan utuhnya pemahaman.

“Ini demokrasi teman, bukan alam khayalan.”

Menjadi penguasa tak sebahagia yang kau angankan. Lelap mimpimu pasti berakhir ketika kau duduk di atas kursi yang diidamkan.

Di alam Demokrasi, kau tak bisa lupakan jasa-jasa para pemodal yang pernah memberimu sepasang sendal atau sepaket wanita sundal. Mereka tak benar-benar tulus ketika menjabat tangan dan merangkul pinggangmu yang pegal karena menghadapi jalan fantasi yang nyatanya terjal.

Lihatlah narasi yang sudah berulangkali terjadi. Fantasi para pemimpi sebelummu selalu hangus bersama arang-arang janji yang sempat bernyala api.

Tak banyak yang bisa diperbuat. Karena dalam alam itu, bukan hanya kau yang memiliki syahwat. Ingatlah, ada juragan syahwat. Mereka yang melihat segalanya dibalik jendela pesawat. Menertawakan betapa konyolnya manusia-manusia yang dapat diperalat.

Merekalah yang akan memberimu bibit agar berubah menjadi pohon batu. Tak menangis ketika dibilang penipu. Tak mengeluh ketika diminta gadaikan nuranimu.

Mungkin saja mereka juga telah merekam segala aibmu. Tentang uang yang kau terima di balik pintu, atau wanita yang kau rayu di bilik kamarmu. Mengunci segala fantasi yang sempat menggebu.

Hingga saat kau terjebak dibalik dinding penghakiman. Tak ada yang peduli kecuali hewan-hewan pengerat yang justru menjadikanmu semakin dekat dengan kerapuhan. Sulit mencari pilihan. Kecuali tetap berada pada posisi yang mungkin tak pernah kau bayangkan.

Betapa perihnya terus mengabaikan nurani dan merevisi janji yang sudah diikrarkan. Mendengarkan umpatan yang bergema disetiap simpang jalanan.

Perih, juragan!

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget