Kebencian dan Kesombongan Ngisomuddin Terhadap Hizbut Tahrir



Oleh: Abdulbarr bin Ahmad (Peneliti Raudhah Tsaqafiyyah Jawa Barat)

Di dalam persidangan gugatan HTI dengan Pemerintah atas pencabutan Badan Hukum Perkumpulan HTI, Ahmad Ngisomuddin, M. Ag., alias Ahmad Ishomuddinsaksi ahli yang dihadirkan Pemerintah--rela menyerang pendapat madzhab nya sendiri karena kebencian nya pada Hizbut Tahrir. Padahal kalau mau cermat dan teliti, tentu saja pendapat Hizbut Tahrir amat sangat sejalan dengan pendapat madzhabnya sendiri, madzhab Syafi'i. Namun, nasi sudah menjadi bubur, demikianlah yang telah terjadi, jika kebencian seseorang telah mendarah-daging dalam dirinya maka kebenaran apapun yang ada pada pihak yang dibencinya akan ditolak dan diserang habis-habisan tanpa ampun. Padahal kalau kita perhatikan uraian Imam al-Mawardi menunjukkan dengan jelas bahwa pendapat yang dipegang Hizbut Tahrir adalah pendapat terkuat yang ada dalam madzhabnya sendiri, bahkan ia menjadi pendapat jumhur ulama lintas madzhab.

Nah, dalam kesempatan kali ini, saya hanya ingin mengutip pendapat dari Madzhab Syafi'i saja, khususnya pendapat al-Mawardi dalam dua kitabnya yang fenomenal dan Ibn Katsir dalam Tafsirnya yang terkenal, untuk menunjukkan kesalahan Ahmad Ishomuddin yang amat fatal. Dan saya berharap semoga Ahmad Ishomuddin menyadari kesalahannya dan mencabut pendapatnya yang diikuti dengan meminta maaf kepada HTI dan bertaubat kepada Allah azza wajalla. Aamiin. Baiklah, tanpa berpanjang-panjang kalam, saya langsung saja kutipkan pendapat al-Mawardi di dalam kitab al-Ahkamush Shulthaniyah hlm 9, beliau mengatakan,

وإذا عقدت الإمامة لإمامين في بلدين لم تنعقد إمامتهما لأنه لا يجوز أن يكون للأمة إمامان في وقت واحد وإن شذ قوم فجوزوه

"Apabila aqad Imamah ditetapkan untuk dua imam di dua negeri, maka keimamahan keduanya tidak sah. Karena, tidak boleh ada dua imam bagi ummat pada satu waktu, meskipun ada segolongan orang nyeleneh yang membolehkannya"

Kemudian, makna pernyataan al-Mawardi itu bisa kita dapatkan lebih gamblang dalam kitab Adab al-Dunya hlm 136. Beliau menyatakan,

فأما إقامة إمامين أو ثلاثة في عصر واحد، وبلد واحد فلا يجوز إجماعا. فأما في بلدان شتى وأمصار متباعدة فقد ذهبت طائفة شاذة إلى جواز ذلك

"Adapun mengangkat dua imam atau tiga, pada masa yang sama, dan pada satu negeri, maka tidak boleh menurut ijma'. Adapun (mengangkat dua imam atau lebih) di berbagai negeri yang berbeda dan saling berjauhan maka ada pendapat segolongan orang nyeleneh yang membolehkan hal itu".

Ibn Katsir sendiri menyatakan dengan tegas,

فأما نصب إمامين في الأرض أو أكثر فلا يجوز...

"Adapun mengangkat dua imam atau lebih di dunia ini, maka tidak boleh..." [Tafsir Ibn Katsir, juz 1, hlm. 73]

Benar bahwa ada segelintir ulama Madzhab Syafi'i seperti Imam al-Haramain, yang membolehkan berbilangnya pemimpin dalam satu waktu, jika berbagai negeri Islam tersebut saling berjauhan dan amat luas.

Namun menurut hemat kami, pendapat seperti ini masuk dalam cakupan yang telah disebutkan oleh al-Mawardi di atas. Meskipun demikian, pendapat Imam al-Haramain itu disampaikan dengan penuh adab dan ilmiyah, padahal keilmuannya tentu tidak bisa dibandingkan dengan Ahmad Ishomuddin. Berbeda dengan Ahmad Ishomuddin yang begitu sombong dengan keilmuan dan dirinya sendiri, padahal ilmunya sendiri tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan para ulama dalam madzhabnya, dia berani dan lancang mengatakan dalam paper nya:

"Padahal tidak ada seorang pun dari ulama madzhab Sunni dalam kitab-kitab mereka yang mewajibkan hanya ada satu negara yang sah di dunia yang sangat luas ini yang wajib berada dalam genggaman kekuasaan satu orang khalifah".

Namun sayang, bagaikan menepuk air di dulang, terpecik muka sendiri, orang-orang --termasuk saya sendiri
jadi tahu seorang yang bernama Ngisomuddin. Pada akhirnya, pernyataan-pernyataannya dalam persidangan, hanya mempermalukan dirinya sendiri. []

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget