Peran Utama Perempuan Dalam Islam


Islam mengatur sedemikian rupa rincinya tentang kedudukan perempuan, selain sebagai seorang hamba Allah yang mengemban kewajiban-kewajiban individual sebagaimana laki-laki juga sebagai seorang perempuan yang memiliki peran sebagai ibu dan pengelola rumah suaminya. Islam telah memberikan aturan yang khusus kepada kaum perempuan untuk mengemban tanggungjawab utama perempuan, yaitu sebagai ibu sekaligus sebagai pengelola rumah suaminya. 

Dijelaskan dalam sebuah kaidah, bahwa :Al-ashlu fil mar’ati annahaa ummun wa rabbatul bayti wa hiya ‘irdhun yajibu an yushana (hukum asal seorang perempuan adalah ibu dan pengelola rumah suaminya dan dia merupakan kehormatan yang wajib dijaga).

Peran Sebagai Ibu Pencetak Generasi
Rasulullah saw telah menggambarkan pertingnya fungsi ibu dalam banyak hadits. Di antaranya beliau bersabda: “Nikahilah oleh kalian wanita penyayang lagi subur, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyak kalian di hadapan para nabi di hari kiamat.” (HR. Ahmad). 
M. Nashih Ulwan, penulis buku pendidikan anak dalam Islam menyatakan: Ibu adalah sekolah yang jika engkau telah mempersiapkannya berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa yang mempunyai akar-akar yang baik.

Ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi para buah hatinya. Ibu adalah peletak dasar jiwa kepemimpinan pada anak dan mempersiapkannya menjadi generasi pejuang. Ibulah yang pertama kali mengajarkan anak tentang Kholiqnya, Allah SWT. Kepada siapa ia harus takut, tunduk dan patuh. Sejarah Islam telah mencatat sosok-sosok ibu yang telah melahirkan dan membentuk orang-orang besar seperi Muhammad al-Fatih, dan Imam Syafi’i. 

Islam memudahkan Ibu menjalankan perannya dengan mekanisme sebagai berikut: 
  • Ayah diperintahkan untuk mencukupi nafkah ibu. Bahkan bila ibu dicerai saat menyusui, ayah wajib membayar upah penyusuan (QS. Al-Baqarah : 234). Ini bertujuan agar ibu tidak perlu bekerja saat menyusui sehingga mengganggu hak  anak mendapat penyusuan yang sempurna.
  • Pengasuhan anak merupakan hak sekaligus kewajiban ibu sampai anak mendapatkan kasih sayang dan pendidikan dari ibu yang menjaminnya untuk berkembang secara sempurna.
  • Optimasilisasi peran ibu dalam menjalankan tugasnya mengasuh dan mendidik anak. Ibu dibebaskan dari berbagai kewajiban seperti shalat berjama’ah di masjid, bekerja, berjihad, dan hukum-hukum lain yang akan menelantarkan fungsi keibuannya.
  • Islam menetapkan aturan-aturan terkait seputar kehamilan, penyusuan, pengasuhan, dan perwalian. Islam membolehkan perempuan yang sedang hamil tidak berpuasa Ramadhan untuk menjamin bayinya tumbuh sempurna. Islam menganjurkan para ibu menyusui bayinya 2 tahun. Untuk menyempurnakan penyusuan ini, ibu juga dibolehkan tidak berpuasa.


Peran Sebagai Istri dan Rabbatu Al-Bayt (Pengelola Rumah Suaminya)

وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً   ۗ  اِنَّ فِيْ ذٰ لِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ruum: 21)

Rasulullah memerintahkan isteri-isterinya untuk berkhidmat kepadanya, misal dengan sabdanya: “Wahai Aisyah ambilkan minum kami, wahai Aisyah ambilkan makan kami, wahai Aisyah ambilkan pisau dan asahlah dengan batu.”, dan sebagainya.

Hadits tersebut menunjukkan bahwa ummul mukminin juga memaksimalkan perannya sebagai Rabbatu al-Bayt  yakni melakukan khidmat (pelayanan) terhadap urusan rumah. 
Peran sebagai Rabbatu al-Bayt (pengelola rumah suaminya), perempuan menjalankan peran sebagai mitra utama suami (pemimpin rumah tangga), hubungan keduanya dalam rumah tangga dibangun atas dasar persahabatan dan kasih sayang. Dengan begitu, sekalipun suami berlaku sebagai nahkoda dalam biduk rumahtangga, bukan berarti kepemimpinannya bersifat diktator atau seperti majikan terhadap budaknya.

Islam telah mengibaratkan bentuk persahabatan yang baik sebagaimana sabda Rasulullah saw: Perempuan adalah saudara kandung bagi laki-laki. (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i). Cukuplah keteladanan dari Fatimah binti ‘Abdullah Malik bin Marwan, istri Umar bin Abdul Aziz. Saat Umar diangkat sebagai khalifah, Umar memberikan pilihan kepada isterinya, apakah akan hidup bergelimang harta dan diceraikan oleh Umar, atau tetap mendampingi Umar sedang perhiasan dan hartanya diserahkan kepada baitul maal kaum muslimin. Fatimah tidak berpikir panjang untuk memberikan jawaban. Ia memilih tetap di samping Umar sekalipun ia harus hidup begitu sederhana untuk ukuran seorang first lady. Lapang dada ia menerima pilihan suaminya dan total ia mendukung suaminya.

Islam memberikan kedudukan mulia kepada perempuan yang bersedia mengambil peran utamanya sebagai ibu dan pengelola rumahtangga. “Surga di bawah telapak kaki ibu”. Inilah kemuliaan bagi perempuan. Namun kehidupan kaum muslimin saat ini tengah didominasi oleh ideologi kapitalisme. Nilai segala sesuatu diukur materi, kebahagiaan pun bermakna kelimpahan materi. Dengan standar nilai materi, peran perempuan yang mulia menjadi inferior karena dianggap tidak bernilai ekonomi. Tentu kita tidak boleh terjebak dalam propaganda menyesatkan ini. Wallahu a’lam. [tdk]



Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget