Poros Ketiga [Ganti Rezim Ganti Sistem]




Oleh: Nasrudin Joha


Menjelang Pilpres 2019, publik terbelah dalam menyampaikan aspirasinya. Preferensi politik terpolarisasi berdasarkan asas kepentingan yang berbeda. Pragmatisme politik, nampaknya masih tetap memiliki daya magnet tersendiri untuk menghimpun berbagai kalangan untuk berada di barisannya.

POROS PERTAMA ADALAH POROS REZIM, poros ini digawangi rezim Jokowi dan partai koslisinya. Meski belum fixd, tetapi poros rezim ini akan beredar dan berputar diseputar kepentingan dan pragmatisme politik.

Poros rezim ini akan berjibaku untuk mendapatkan konsesi politik, sebagai kompensasi koalisi yang dibangun. Jabatan RI 2 dan sejumlah menteri, akan menjadi isu sentral yang menghimpun partai koalisi.

Jika komitmen kompensasi tidak sebanding dengan saham politik yang diberikan, koslisi Jokowi ini tidak pula aman dari perpecahan. PKB misalnya, telah membuat ancang-ancang untuk hengkang, jika proposal Cak Imin sebagai cawapres Jokowi diabaikan. Meskipun, penulis lebih yakin manuver PKB lebih berorientasi pada pengamanan porsi menteri, bukan posisi RI 2 (menawar harga lebih untuk upah yang sepadan).

Demokrat, juga mulai mendatangi bibir koalisi. Proposal AHY yang disodorkan SBY, juga tidak luput dari pragmatisme politik. Meski sulit, semua mencoba ikhtiar pada masa tenggang sebelum Jokowi benar-benar melabuhkan pilihannya.

PPP dan Hanura juga akan menghitung ulang posisi kemitraan, jika pada akhir deklarasi ternyata kompensasi kekuasaan tidak lebih baik jika dibandingkan mereka menjadi kaum oposan. Dalam politik, salah satu dari dua benefit harus diraih : kekuasaan atau dukungan rakyat.

Jika kompensasi kekuasaan tidak signifikan, maka partai bisa mengambil posisi sebagai oposisi, sebab menjadi oposisi berarti berada di barisan rakyat. Mendapat dukungan rakyat.

POROS KEDUA ADALAH POROS RAKYAT, baik mereka yang mengusung wacana "Asal Bukan Jokowi" atau alternatif figur politik lain seperti mengajukan Rizal Ramli atau Sri Bintang Pamungkas sebagai tokoh oposan Rakyat.

Meski memiliki peluang, poros kedua ini tidak akan beranjak jauh dari posisinya selain hanya bisa merangkak dan menebar citra sesaat. Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa argumentasi :

Pertama, poros kedua ini -meskipun diusung partai (PKS misalnya) atau non partai (sosok atau Vigour), mereka hakekatnya hanya ingin merubah rezim. Mereka sebenarnya juga bagian dari rezim, yang hanya memiliki sudut pandang berbeda dalam hal tata kelola negara.

Mereka tetap menjadikan demokrasi dan Sekulerisme, sebagai asas sekaligus pijakan dalam mengelola negara. Mereka juga memiliki beban dan tanggung jawab moral secara politik, karena mereka juga hadir dan telah memberikan andil dalam berbagai kerusakan sistem yang ditimbulkan demokrasi.

Kedua, kekuatan berbasis pada tokoh atau partai tertentu tidak akan mampu keluar dari habitat politik yang rusak, selain hanya sekedar mewarnai. Poros kedua ini, tidak akan mampu memberikan solusi komprehensif selain solusi tambal sulam.

Ketiga, poros kedua ini rawan disalahgunakan untuk mengejar jabatan dan kekuasaan. Sebab, poros kedua ini pada pokoknya ingin menangkap peluang politik atas adanya sentimen politik "Ketidak-Sukaan" yang mewabah terhadap Jokowi. Sampai-sampai ada fatwa politik "BLUE SHOE CANT" muncul dari seorang kiyai. Jadi bukan atas dasar kesadaran ideologi.

Poros kedua initidak benar-benar mengerti dan paham, apa yang terbaik bagi umat bahkan apa yang terbaik untuk alam semesta. Pemikiran poros kedua, masih berada dibawah kendali nalar sekuler dan masih mengesampingkan kuasa transenden (agama/syariat Allah).

Namun, diantara dinamika dua poros diatas yang saling menggunting dan bermanuver untuk meraih simpati publik, perlu dipahami hari ini ditengah-tengah umat telah muncul poros politik ketiga.

POROS KETIGA ADALAH POROS UMAT, mereka telah bekerja siang dan malam memetakan seluruh persoalan yang mendera umat. Kesimpulan akhir, diagnosis menyebutkan seluruh problem yang mendera umat semua berasal dari kemaksiatan, yakni tidak diterapkannya syariat Islam dalam setiap kehidupan.

Poros ketiga menawarkan dan mengajak pada umat, untuk membuang sistem demokrasi yang rusak, seraya mengajak umat untuk bersama bergandengan tangan menegakkan sistem Khilafah.

Ide Khilafah ini, akan mengganti rezim sekaligus sistem. Khilafah, Hanya akan menerapkan syariat Islam, membuang jauh demokrasi, serta secara alamiah akan mensterilkan kekuasaan dari politisi pragmatis, politisi penjilat, politisi penipu umat.

Poros umat ini bekerja tanpa deadline, tidak mengenal masa pemilu atau musim kampanye. Poros umat ini benar-benar digagas dan dijalankan oleh putra-putra terbaik umat, yang ingin memuliakan umat dengan Islam dan telah menggadaikan seluruh hidupnya hanya untuk Islam.

Bagi mereka, semua waktu setiap hari adalah masa kampanye. Mereka selalu berkampanye dengan melakukan dakwah Islam, menyeru umat kembali pada Islam dengan menegakan sistem Islam, yakni Khilafah.

Poros ketiga ini terus menerus serius berjuang menghimpun umat bersama mereka, disaat poros pertama dan kedua saling bermanuver untuk memperoleh jabatan dan kekuasaan.

Poros ketiga ini meyakini, bahwa Al Khilafah Ar Rasyidah akan tegak sebentar lagi, dengan asbab pertolongan Allah SWT.

Karenanya poros ketiga ini, selain sibuk berdakwah juga terus menyibukkan dirinya dengan ketaatan. Sebab, hanya hamba-Nya yang taat saja yang berhak atas pertolongan dan kemenangan.

Poros ketiga ini tetap konsisten di jalur dakwah pemikiran tanpa kekerasan, membina dan memahamkan umat, agar mereka hanya mau tunduk dan diatur dengan syariat Islam.

Poros mana yang akan mendapatkan kemenangan ? [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget