Rai Gedek Ndas Tank (Muka Tembok)


RAI GEDEK NDAS TANK (MUKA TEMBOK)

Oleh: Nasrudin Joha

Setiap orang Allah SWT karuniakan potensi hidup, baik berupa Al hajat Udlowiyah (kebutuhan hajat hidup) maupun Gharizah (Naluri). Diantara naluri yang fitrah ada pada setiap manusia adalah Naluri Gharizatul Baqo (Naluri Mempertahankan Diri).

Naluri mempertahankan diri (Gharizatul Baqo') akan wujud secara alamiah tanpa berfikir, tetapi ada juga yang kemunculannya perlu berfikir. Misalkan saja, seseorang akan segera merespons panas yang menyentuh kulitnya tanpa berfikir, seketika tubuh akan menghindari sumber panas secara otomatis.

Dorongan naluri mempertahankan diri juga akan memerintahkan kelopak mata secara otomatis menutup dan melindungi retina, manakala ada benda asing yang mendekat menuju bola mata. Jika Anda mengendarai motor, lantas mata Anda berair baik karena debu atau ada benda lain (semisal binatang kecil) yang masuk ke mata, maka Refleknya kelopak mata menutup mata adalah karena dorongan naluri mempertahankan diri (otomatis, tanpa berfikir).

Namun, naluri ini kadangkala muncul karena persepsi tertentu, pemahaman tertentu, maklumat tertentu. Pemahaman ini akan menghasilkan rasa yang ketika fakta tertentu hadir, rasa itu akan hadir.

Marah, benci, rindu, sedih, menangis, tertawa, berani, takut, adalah sifat yang mengandung rasa, dimana sifat ini menimbulkan rasa tertentu akibat kondisi tertentu, berdasarkan pemahaman tertentu.

Seorang muslim akan marah kepada Yahudi Israel, yang telah membantai jutaan kaum muslimin di Palestina, juga pasti marah terhadap rezim Bashar Ashad karena membantai rakyatnya sendiri -yang notabene saudara seiman-. Dua hal ini adalah contoh wujud rasa yang berasal dari naluri mempeahankan diri dan naluri beragama karena adanya pemahaman tertentu, persepsi tertentu, maklumat tertentu.

Pemahaman agama sekaligus rasa tersinggung karena kemuliaan agama dan saudara seiman di telanjangi dan dihinakan, akan memunculkan rasa marah yang menggelegak kepada Israel dan bashar asad laknatullah.

Namun rasa ini bukan alamiah muncul seperti tubuh otomatis menghindari sumber panas, meskipun keduanya berasal dari Gharizatul Baqo. Rasa ini muncul sebab persepsi tertentu, pemahaman tertentu, maklumat tertentu, yakni atas dasar persepsi, pandangan dan maklumat Islam.

Bagi orang yang telah jauh dari pemahaman dan persepsi Islam, bisa jadi wujud Gharizatul Baqo'nya menyimpang dan menunjukan rasa yang berkebalikan.

Misalkan saja, seseorang yang persepsi dan pemikirannya dikungkung Sekulerisme, rasa kecintaannya bukan didasari akidah Islam, informasi yang ada di kepalanya bukan informasi yang Islami, maka naluri baqo'nya akan memunculkan rasa yang berkebalikan.

Dia justru akan marah dan membenci aktivitas pengemban dakwah Islam. Dia justru mendendam, bahkan hingga kesumat terhadap Khilafah ajaran Islam. Semua ilmu dan pemahaman akan dia arahkan untuk mendeskreditkan dakwah Islam dan Khilafah.

Bahkan, ia mau dan berjibaku mengingkari berbagai pernyataan dan pemahaman yang disampaikan, bersilat lidah, hingga menelanjangi diri sendiri dihadapan publik, semata-mata karena pemahaman dan pemikirannya telah terpenuhi kebencian yang mendalam terhadap dakwah Islam.

Orang-orang semacam ini, sudah tidak punya malu. Baqonya tidak alamiah bahkan menyimpang jauh. Ia bangga jika bisa mempermalukan pengemban dakwah, ia lega dan puas ketika mampu mendeskreditkan ajaran Islam.

Orang-orang model ini telah memposisikan diri muka tembok, Rai gedek, ndas tank, tidak punya malu! Ia berbangga menelanjangi dirinya sendiri, padahal banyak orang yang prihatin terhadapnya.

Ia pendendam, ketika merasa kalah pada satu forum kemudian membentuk forum yang lain. Dalam forum sepihak, ia melakukan ghibah pada para pejuang Khilafah, padahal pada saat berhadapan mukanya seperti kerbau dungu.

Ia tidak peduli lagi pada dirinya, Marwahnya, agamanya, bahkan atas status sumpah yang diucapkannya. Dia tidak lagi paham posisi, apakah menjadi saksi atau ahli, sebab amarah dan kebencian telah mendarah daging dalam benaknya.

Kasihan sekali orang-orang model ini, telah menukar sumpah dengan remah dunia, telah mengambil bagian sekerat tuang dunia yang tidak mengenyangkan untuk menghalangi dakwah Islam.

Bago' (gengsi) nya bukan diarahkan untuk membela Islam dan kehormatan kaum muslimin. Justru ia tega, menelanjangi diri, membuka aib sendiri -padahal sebelumnya Allah SWT telah menutupinya- hanya karena kebencian terhadap dakwah Islam.

Semoga kita semua dijauhkan berkawan atau bersahabat dengan orang model ini. Biarlah kehadirannya cukup dijadikan pelengkap dinamika kehidupan, sebagai dalil fakta atas kebenaran Al Quran, bahwa didunia ini selain ada kaum Mukmin dan Kafir, ada jenis yang ketiga : KAUM MUNAFIK ! [].
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget