April 2018



Oleh: Nasrudin Joha


Pejuang demokrasi, Ia berkelana berkeliling kampung dan desa demi suara, ia terbiasa berjanji demi simpati, terbiasa berdusta demi massa, terbiasa dengan berbagai maksiat untuk mendulang suara. Kadangkala, ia menyihir massa dengan dunia, tidak jarang pula Ia menipu massa dengan untaian killah akherat.

Pejuang demokrasi, siang dan malam tersiksa. Setiap hari, HP nya dipenuhi pesan WA dan telpon dari pendukung. Ada yang minta dukungan bantuan Masjid Mushola, ada yang minta uang rokok, ada yang mengeluh anaknya sakit, ada yang meminta komitmen untuk anggaran saksi, ada yang melapor kaos dan antribut sudah jadi tetapi belum dibayar, ada yang meminta sumbangan untuk kegiatan pemuda, dan seterusnya. Semua ditumpahkan ada pejuang demokrasi.


Meja kerjanya, telah dihiasi setumpuk proposal permohonan bantuan. Untung saja proposal itu setiap bulan selalu dimusnahkan, jika di arsipkan mungkin tumpukannya bisa tinggi mencapai bulan.

Belum lagi, partai terus merongrong, meminta komitmen mahar, uang konsolidasi, uang ini dan itu. Pejuang demokrasi kepayahan, tertekan, tertindas, tapi tidak ada yang peduli.

Sementara itu, urusan keluarga sering diabaikan. Seluruh waktunya, nyaris habis untuk konsituen. Untuk mempersiapkan DP bagi masa, tidak jarang ada yang jual sawah, ladang, kendaraan, pinjam utang, Gadaikan perhiasan, dan apa saja yang bisa diuangkan. Pikirannya sederhana, nanti kalau menang semua dikembalikan.

Yang lolos, tidak otomatis lega. Ada peluang digugat, dipermasalahkan, dipersoalkan. Setelah menang, menduduki posisi jabatan, pejuang demokrasi sibuk mencari celah kebijakan untuk meraih keuntungan. Untuk bayar kaos, spanduk, yang saksi, atau yang sejenisnya.

Yang kalah, ada yang berujung di RSJ. Mereka butuh waktu lama untuk menyendiri dan berkontemplasi, untuk meyakini bahwa kenyataan ini benar-benar terjadi.

Ia harus percaya, hartanya telah habis. Ia harus sadar, sawah ladangnya ludes, kendaraannya terjual, ia harus sadar hutangnya menumpuk dan dia harus sadar dia kalah, tidak punya jabatan.

Memang, ada gula ada semut. Semua orang jadi mendekat jika pejuang demokrasi memenangkan kontestasi, semua pengusaha mendekat, proses tawar menawar proyek mulai dilakukan. Pejuang demokrasi, terus mencari peluang proyek pemerintahan untuk dijadikan balas jasa bagi cukong yang membiayai.

Saat ada teriakan massa menuntut suatu kebijakan, pejuang demokrasi tertindas, jiwanya menjerit. Ia tidak bisa memenuhi tuntutan rakyat, karena kakinya telah di tali para pemodal. Dia wajib berkhidmat pada pemodal, bukan kepada umat.

Namun, perlahan ada saja perkara yang menetas. Tinggal menunggu waktu, ada saatnya pejuang demokrasi menjadi tersangka KPK. Saat itulah, berangsur semua teman dan kenalan menjauh. Semua pura-pura tidak kenal, hanya keluarga yang meratap menemani, kadangkala ada juga yang ditinggal keluarganya.

Didunia, pejuang demokrasi dihinakan. Sementara setelah diakherat, ia ditanya malaikat. Dengan hukum apa kamu mengatur masyarakat saat didunia ? Dengan lemah dan lunglai, pejuang demokrasi menjawab: dengan demokrasi.

Malaikat pun marah, dan membentak : BUKANKAH MENERAPKAN HUKUM ITU HAK ALLAH ? LANTAS APA DALILNYA MENJADIKAN SUARA RAKYAT SEBAGAI SUMBER HUKUM?

Seketika, pejuang Demokrasi tertegun, diam dan ketakutan. Neraka jahanam apinya telah menyala-nyala menunggu melahapnya.

Kasihan sekali, di dunia pejuang demokrasi berebut kuasa, diakherat pejuang demokrasi menyesal mendapat banyak dosa karena kuasa yang diperolehnya, kuasa yang menyebabkan ia menerapkan hukum selain hukum Allah SWT.

Ia tidak bisa menyelamatkan keluarganya dengan kekuasaanya, kekuasaannya justru membenamkan dirinya jauh ke jurang api neraka. Kasihan sekali, iba sekali melihat pejuang demokrasi, ia rela bersusah payah untuk merengkuh api neraka. [].



(Disarikan dari Tabloid MediaUmat oleh Nazwar Syarif)

Semenjak Perppu ormas diterbitkan ormas HTI jadi kena sasaran, memangnya salah apa HTI sehingga harus SK BHP (Badan Hak Perkumpulan) nya dicabut ??

Bukankah yang didakwahkan HTI itu adalah ajaran Islam, tujuan HTI adalah melanjutkan kembali kehidupan Islam dengan menerapkan kembali Syariat Islam dibawah naungan Sistem Pemerintahan Islam yaitu Khilafah.

Pada Kamis (14/12/2017) Sidang kali ini mendengarkan pembacaan replik penggugat principal atas nama HTI yang disampaikan langsung oleh Jubir HTI, M. Ismail Yusanto,Dalam repliknya Ismail Yusanto membantah pandang tergugat yang mengatakan Khilafah itu adalah ideologi. Juru bicara HTI ini menegaskan Khilafah bukanlah ideologi, tapi merupakan ajaran Islam. “Kami menekankan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam, di dalam naskah replik ini lengkap mengutip pendapat dari empat mahzab tentang Khilafah sebagai ajaran Islam dan bukan ideologi seperti yang disebut tergugat.” Ujar Ismail Yusanto saat wawancara dengan mediaumat.news usai sidang. (https://mediaumat.news/ismail-yusanto-khilafah-itu-ajaran-islam-bukan-ideologi/)

Lalu sidang selanjutnya Kuasa hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengajukan bukti-bukti tertulis terkait tindakan semena-mena pemerintah dalam mencabut SK Badan Hukum Perkumpulan ormas Islam tersebut. (https://mediaumat.news/dalam-sidang-gugat-di-ptun-hti-ajukan-bukti-tertulis-tindakan-semen-mena-pemerintah/)

Dan sidang selanjutnya Jubir HTI mengingatkan, Pemerintah bisa digugat karena memfitnah dan mengkafir-kafirkan. Bukan hanya menolak barang bukti video yang diputar pemerintah (tergugat), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) bisa saja menggugat karena difitnah mengkafir-kafirkan. “Video yang diputar tidak semua acara HTI, namun diklaim sebagai acara HTI seperti sumpah mahasiswa bukan acara HTI tapi acara mahasiswa,” ujar Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto dalam sidang gugatannya, Kamis (18/1/2018) di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), Jakarta Timur. (https://mediaumat.news/jubir-hti-mengingatkan-pemerintah-bisa-digugat-karena-memfitnah-mengkafir-kafirkan/)

Sidang selanjutnya saksi fakta menyatakan apa yang diketahuinya terkait khilafah dan ceramah-ceramahnya Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto.

“Khilafah ini yang saya tahu adalah dakwah ajaran Islam,” ujar Novia Bactiar ketika ditanya pihak penggugat tentang apa yang diketahuinya terkait khilafah, Kamis (25/1/2018) dalam sidang gugatan atas pembubaran HTI secara semena-mena oleh pemerintah di PTUN, Jakarta Timur.(https://mediaumat.news/saksi-khilafah-ini-yang-saya-tahu-adalah-dakwah-ajaran-islam/)

Sidang selanjutnya Pakar Hukum Administrasi Tata Negara Prof. Dr. Zainal Arifin menegaskan pencabutan SK BHP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak sesuai dengan hukum dan administrasi negara. Hal ini disampaikan Zainal Arifin saat menjadi saksi ahli dari pihak penggugat dalam lanjutan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) pada Kamis (15/02). (https://mediaumat.news/pakar-hukum-administrasi-tata-negara-pencabutan-sk-hti-tidak-sesuai-dengan-hukum/)

Sidang selanjutnya Advokat Kemenkumham I Wayan Sudirta kembali memfitnah kali ini menyatakan khilafah yang dimaksud HTI berbeda dengan ahli di persidangan. Menurut HTI “khilafah wajib” sedangkan menurut ahli adalah “sesuatu yang dapat didiskusikan”. Parahnya, advokat beragama Hindu ini mengatakan keharaman pemimpin perempuan disebut sebagai “diskriminatif”.

“Wayan ngarang! Jelas sekali baik ahli Dr Daud Rasyid maupun Prof Didin, keduanya menyatakan dengan tegas bahwa khilafah adalah ajaran Islam yang wajib ditegakkan!” tegas Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Muhammad Ismail Yusanto kepada mediaumat.news, Ahad (25/2/2018). (https://mediaumat.news/advokat-kemenkumham-kembali-memfitnah-jubir-hti-wayan-ngarang/)


Sidang selanjutnya setelah mengkriminalisasi cadar, sekarang Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Drs Yudian Wahyudi, MA, PhD menjadi saksi ahli Pemerintahan dan menyebut Presiden Amerika Donald Trump yang kafir itu sebagai khalifah.

“Jadi aneh orang seperti itu dikatakan ahli dalam agama,” ujar cendikiawan Muslim Ustadz Rokhmat S Labib kepada mediaumat.news, mempertanyakan kapabilitas ahli yang ditunjuk pemerintah dalam sidang gugatan HTI atas pencabutan SK Badan Hukum Perkumpulan ormas Islam tersebut secara semena-mena, Kamis (8/3/2018) di Pengadilan Tata Usaha Negara, Jakarta Timur.(https://mediaumat.news/setelah-kriminalisasi-cadar-sekarang-rektor-uin-jogja-sebut-donald-trump-sebagai-khalifah/)

Sidang selanjutnya pemerintahan mendatangkan saksi ahli dosen UIN Lampung Ahmad Ishomuddin yang menyebut “hanya Hizbut Tahrir saja yang menyatakan kewajiban khilafah dengan mengangkat satu orang kholifah ” dinilai aneh.

“Ini aneh, justru banyak ulama yang pernyataannya sama dengan Hizbut Tahrir,” ujar Ketua Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ustadz Rokhmat S Labib kepada mediaumat.news usai mengikuti sidang gugatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) atas pencabutan SK BHP-nya secara semena-mena, Kamis (15/3) di Pengadilan Tata Usaha Negara, Jakarta Timur.(https://mediaumat.news/tidak-kredibel-memberikan-keterangan-ahli-agama-dari-pemerintah-dinilai-aneh/)

Sidang terakhir ini pemerintah mendatangkan Zuly Qadir tokoh liberal, pada sidang PTUN pertarungan duel antara HTI vs Kemenkumham masuk pada pendatangan saksi terakhir dari Pemerintah, Kamis (5/4). Salah satu saksi yang didatangkan pemerintah adalah Zuly Qadir salah satu tokoh Islam Liberal di Indonesia.

Melihat latar belakang saksi yang seperti itu sudah dapat ditebak seperti apa omongan-omongan yang akan keluar dari kesaksiannya, karena sejak awal JIL tidak menyukai Islam, apalah lagi seruan-seruan untuk mengajak umat menerapkan Islam.

Tentu kesaksian Zuly Qadir tidak jauh beda dengan saksi-saksi yang didatangkan pemerintah sebelumnya, mengingat semua yang didatangkan adalah mereka yang dari awal tidak suka Islam diterapkan secara kaffah. mengapa yang didatangkan oleh pemerintah bukan ulama-ulama yang menjadi rujukan oleh umat ? bukan ulama yang telah dikenal oleh masyarakat sebagai ulama yang lurus yang mencintai Islam ? sehingga jelas apakah sesuatu yang buruk apa yang diperjuangkan HTI atau justru sebaliknya suatu ide yang layak untuk diemban dan diberikan ruang sebagai salah satu bentuk tawaran solusi bagi problematika Indonesia yang benar-benar semerawut seprti sekarang ini (https://mediaumat.news/zuly-qadir-tokoh-liberal-menjadi-saksi-terakhir-sidang-ptun-hti-terakhir/)

Kesimpulannya HTI layak menang dan pasti menang bagaimanapun cara Pemerintah untuk menggagalkan rencananya dengan mencabut SK BHP HTI pasti akan gagal. Karena Allah lah yang akan memenangkan HTI. Wallahhu'allam.




Oleh: Nasrudin Joha

Dzalim itu haram, baik terhadap orang lain maupun kepada diri sendiri. Namun, bagaimana jika seseorang aniaya terhadap syariat ? Mendzalimi syariat dengan tetap ngotot menerapkan Sekulerisme Demokrasi ?

Kadang-kadang, entah karena tidak berakal, pendek akal, atau akalnya telah dikuasai nafsu, seseorang mengeluarkan ujaran ngasal yang kalau diteliti lebih lanjut, ujaran ini menyelisihi syariat.

Misalkan saja, mereka ngotot yang penting pilih pemimpin, tidak peduli hukum apa yang diterapkan pemimpin kelak. Mereka, ogah berdiskusi tentang substansi kepemimpinan.

Kadang-kadang, karena kalah argumen baik dalil maupun fakta, orang-orang ini ngotot dengan pendapatnya dan menganggap ajakan menerapkan syariat sebagai penggembosan gerakan perjuangan.

"Sudah, yang penting pilih Presiden, yang penting ambil kekuasaan, urusan syariat mah nanti bisa kita atur. Jika diskusi syariat terus, perdebatan panjang dan kekuasaan bisa diambil alih orang kafir".

Ungkapan diatas adalah sepenggalan kalimat yang sering diajukan, ketika seruan syariat diajukan dalam diskursus kepemimpinan. Padahal, siapapun pemimpinnya baik dia muslim, hafal Quran, jebolan dari pondok pesantren, tetapi jika dia konsisten menerapkan demokrasi, berarti dia telah aniaya, dzalim.

Sebab, Allah SWT telah mendeklarasikan sesiapa saja yang menerapkan hukum selain hukum Allah maka ia termasuk golongan yang dzalim (aniaya).

Ada juga yang berdalih, mengajak rebut kekuasaan dulu, urusan syariat nanti diterapkan berkala saat sudah berkuasa. Hanya saja, realitanya kekuasan di negeri ini sudah puluhan tahun dipimpin dan dikuasai umat Islam, tetapi apakah syariat Islam sudah dan bisa diterapkan ?

Sesungguhnya orang-orang yang hanya bernafsu pada kekuasaan tetapi tidak bisa menjelaskan bagaimana keluasaan itu digunakan untuk menerapkan hukum Allah, mentaati Allah dan rasul-Nya, maka hakekatnya mereka adalah pemburu dunia.

Bagaimana mungkin kita, umat Islam, menyerahkan urusan kekuasan pada orang yang tidak memahami syariat dan hanya mengejar kekuasan untuk dunia ? Bagaimana mungkin, kita menceburkan diri pada kawah berdarah di belantara politik demokrasi, sementara ujung pertarungan itu tidak memberi jalan bagi syariat Islam untuk mengatur negara ?

Islam tidak pernah memberi perintah mengikuti pemilu atau Pilkada, tidak ada satupun dalil yang memerintahkannya atau mewajibkannya. Tetapi syara', mewajibkan kaum muslimin untuk membaiat Khalifah.

Lantas bagaimana mungkin kita berjibaku sibuk dalam pemilu dan Pilkada, sementara kita abai atas upaya membaiat seorang Khalifah ? Bagaimana mungkin kita sibuk dengan energi yang diakadkan untuk mendudukan penguasa dzalim yang tidak menerapkan syariat Islam, sementara kewajiban menegakan Islam terus kita abaikan ?

Darimana logikanya, kita ngotot untuk menegakan demokrasi, memilih pemimpin yang akan menetapkan hukum sekuler, sementaranya syara' telah tegas memerintahkan untuk menegakkan kekuasan Islam ?

Darimana asalnya kengototan pada tingkah aniaya, dengan terus Istiqomah berjibaku untuk demokrasi, sementara syariat Islam terus ditelantarkan ? Apa jaminannya Islam bisa ditegakkan, jika sistem yang digunakan adalah sistem demokrasi sekuler ?

Sayang sekali energi umat yang begitu besar, jika arusnya hanya diarahkan untuk menggerakan turbin-turbin demokrasi. Seharusnya, arus energi umat diarahkan untuk menghidupkan pembangkit adidaya umat, negara super power milik umat, negara yang akan menerapkan syariat secara kaffah, negara Khilafah. [].



Oleh : Nazwar Syarif

Ulama adalah pewaris para Nabi guys sesuai dengan hadist Rasulullah SAW (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu), Sosoknya ulama seharusnya menjadi contoh teladan bagi umat Rasulullullah SAW.

Tetapi tidak semua orang bisa menjadi ulama guys karena menjadi seorang ulama tanggung jawabnya besar sekali loh..ulama juga dibagi menjadi dua ada ulama baik dan ada ulama yang tidak baik

RASULULLAH shallallahu alaihi wasallam bersabda "ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama." (HR ad-Darimi).

Berikut adalah tentang ulama busuk/ buruk (al-ulama al su') Imam Ghazali membahasnya dalam kitab Ihya' Ulumiddin, yang membagi ulama dalam dua bentuk kategori, Ulama Akherat dan Ulama Dunia. Yang pertama adalah ulama pewaris Nabi, warasat al-anbiya. Sedangkan yang kedua adalah Ulama su' (jahat).

Ulama baik Inilah dia ulama yang haq, ulama pewaris Nabi, yakni ulama yang benar-benar beramal dengan Al-Quran dan Sunnah, disebut juga ulama ul 'amilin. Umumnya mereka ini banyak di zaman salafussoleh. Karena itu kita sebutkan mereka ulama salafussoleh. Yang mana selepas generasi mereka, cukup sulit untuk dapatkan ulama yang haq ini. Kita balik ke sejarah kisah seorang ulama yang dijuluki singa padang pasir Omar Moekhtar yang tidak mau menuruti kemauan penjajah italia akhirnya Omar Moekhtar Syahid digantung. Beliau rela menjual nyawanya kepada Allah untuk akhiratnya daripada dunianya.

Contoh teladan yang sering kita dengar guys saat Rasulullah SAW ditawari harta, tahta dan wanita untuk berhenti menyebarkan Islam Rasulullah menolak dengan tegas. Rasulullah saw. bersabda, “Seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, sekali-kali aku tidak akan meninggalkan usaha dakwah ini hingga Allah memenangkannya atau aku binasa dalam perjuangan itu.”

Seharusnya Ulama sekarang jika didatangi para pemimpin yang dzalim tetap katakan yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil guys jangan mau Ulama diakali pemimpin agar pemimpin itu berkuasa kembali.

Wallahhu'allam (NS)



Oleh: Nasrudin Joha

Sebelum Anda membaca lebih lanjut tulisan ini, coba perhatikan konklusi fakta yang tidak mungkin terbantahkan, sebagai berikut :

Pertama, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap problem utang luar negeri dan pertambahan utang yang otomatis bertambah akibat riba yang diterapkan.

Kedua, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap konsesi pertambangan yang telah dikuasai asing dan aseng, bahkan korporat keluarga domestik yang telah berbagi jatah tambang di negeri ini.

Untuk urusan ini, logika sederhananya
jangankan mengusir Freeport, meminta konsesi lebih atas pajak yang menjadi hak negara saja tidak akan pernah bisa.

Ketiga, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap penguasaan lahan yang mayoritas dikuasai korporat baik domestik, asing maupun aseng, yang pada umumnya dikelola melalui perseroan saham.

Jangankan menarik tanah tersebut menjadi hak negara dan didistribusikan kepada rakyat, meminta konsesi lebih atas pajak yang menjadi hak negara saja tidak akan mampu.

Keempat, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap problem ekonomi yang diakibatkan sistem ekonomi kapitalis, dimana harta ditengah-tengah umat akan ditarik dan terkonsentrasi kepemilikannya pada segelintir kaum kapitalis, baik domestik, asing dan aseng.

Kelima dan ini yang paling utama, siapapun presidennya baik yang saat ini menjabat atau yang di jagokan untuk menggantikannya, tidak akan mampu menerapkan syariat Islam secara kaffah, mengemban misi dakwah Islam keseluruh penjuru alam, membebaskan Palestina, khasmir, Rohingya, Suriah, dan negeri Islam lainnya yang tertindas.

Sampai disini, sebenarnya seluruh umat wajib berfikir sebelum bertindak, wajib merujuk dalil syara' sebelum berbuat, jangan bergerak hanya atas dasar sentimen perasaan dan kecenderungan semata.

Bahwa rezim hari ini menampakan kedzaliman yang sangat nyata, iya. Tetapi, mengganti rezim saja apakah itu akan menyelesaikan persoalan kedzaliman yang ada ? Padahal, Allah SWT berfirman "BARANG SIAPA MENERAPKAN HUKUM SELAIN HUKUM ALLLAH MAKA MEREKA ITU TERMASUK KAUM YANG DZALIM".

Dari firman Allah SWT tersebut, mengganti satu Presiden dengan Presiden yang lain tidak akan menghilangkan unsur kedzaliman. Sebab, akar masalahnya adalah ada pada sistem demokrasi Republik, yang meletakan kedaulatan hukum ditangan rakyat, bukan ditangan syariat.

Lantas, bukankah suatu kedzaliman jika umat meletakan syariat dibawah ketiak kedaulatan rakyat ? Bukankah tidak ada perubahan, jika yang diubah hanyalah aktor kedzaliman. Bukankah ini sama saja, lolos dari mulut macan masuk mulut buaya ?

Jika umat mau berfikir sejenak saja, kemudian seraya mengesampingkan rasa yang hanya didorong kecenderungan semata, maka umat akan mendapati kesimpulan sebagai berikut :

Pertama, hanya syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem utang luar negeri dengan menghentikan hutang, mengharamkan riba, mengembalikan hanya pokoknya -setelah dikompensasikan dengan nilai cicilan yang sudah dilakukan- kemudian menyatakan berlepas diri dari seluruh konsekuensi ribawi. Jika mau fair menghitung, sesungguhnya nilai bunga cicilan ini jika dikompensasikan dengan pokok pinjaman, persoalan utang luar negeri ini sudah selesai, lunas, tuntas.

Bagaimana jika negara pemberi pinjaman komplain ? Mereka menuntut atas bunga yang belum ditunaikan ? Jawabnya Negara Khilafah menyatakan berlepas diri dari itu, dan siap membela diri dengan seruan Jihad, jika ada Negara yang berani menuntut atas hak yang tidak dibenarkan menurut syara'. Persoalan utang luar negeri ini selesai, tuntas.

Kedua, hanya syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem konsesi pertambangan yang telah dikuasai asing dan aseng, bahkan korporat keluarga domestik yang telah berbagi jatah tambang di negeri ini.

Khalifah akan mengadopsi konstitusi dan Perundangan yang akan mengumumkan hak atas harta kepemilikan umum yang dilarang (haram) dimiliki pribadi, korporat, baik domestik, asing dan aseng.

Negara akan mengambil alih seluruh konsesi pertambangan dari swasta, mengelolanya atas nama negara, dan mendistribusikan manfaatnya kepada seluruh rakyat, tanpa membedakan status dan agama.

Perusahaan swasta, asing maupun aseng -termasuk perusahaan domestik- hanya memiliki hak atas investasi alat dan teknologi, itupun setelah dikompensasikan dengan nilai manfaat tambang yang selama ini telah dijarah dari negara.

Ketundukan wajib dilaksanakan, jika membangkang negara Khilafah dengan perangkat, alat dan struktur negara akan memaksa setiap entitas baik pribadi maupun korporat yang ada di yurisdiksi wilayah negara untuk tunduk, taat dan patuh pada hukum syariah yang telah diadopsi negara. Persoalan kedua selesai, tuntas.

Ketiga, hanya syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem penguasaan lahan yang mayoritas dikuasai korporat baik domestik, asing maupun aseng, yang pada umumnya dikelola melalui perseroan saham.

Negara akan membubarkan perseroan saham yang diharamkan dalam Islam, menggantinya dengan syirkah-syirkah Islami. Perseroan saham yang dibubarkan, aset tanahnya diminta untuk dikelola sesuai syirkah Islami yang dibentuk, dengan mengelolanya secara langsung.

Sisa lahan yang tidak bisa dikelola, diambil alih negara dan kemudian didistribusikan kepada rakyat secara merata dengan konsesi pemberian dari negara (Iqto' Ad Daulah). Ini berkaitan dengan lahan pertanian.

Sementara, lahan yang pada asalnya individu terlarang untuk memiliki, lahan yang demi kemaslahatan negara berhak untuk melakukan pemagaran (Tahjir), seperti lahan hutan, lembah dan rawa-rawa, maka negara langsung mengambil alih dari swasta tanpa kompensasi.

Selanjutnya negara akan melakukan pengelolaan, sesuai pandangan dan ijtihad Khalifah, untuk merealisir kemaslahatan umat. Adakalanya, lahan dibiarkan untuk menjaga ekosistem alam. Ada kalanya lahan dihidupkan, atau dibuka untuk lahan pertanian. Ada kalanya lahan didistribusikan kepada rakyat, baik dalam bentuk natural lahan atau telah diubah bentuk menjadi permukiman dan yang semisalnya. Persoalan ketiga selesai, tuntas.

Keempat, syariat Islam yang diterapkan melalui institusi Khilafah, yang akan tuntas menyelesaikan problem ekonomi yang diakibatkan sistem ekonomi kapitalis, dimana harta ditengah-tengah umat akan dikelola sesuai hukum syara'.

Harta-harta kepemilikan individu (Milkiyatul Fardiyah), dibiarkan dikelola oleh individu umat, sesuai ketentuan syara dan negara melakukan kontrol secara umum terhadap proses transaksi dan pertukarannya.

Harta-harta milik umat (Milkiyatul Ummah) dikelola dan dikendalikan oleh negara, dimana hasilnya dikembalikan kepada rakyat baik secara langsung maupun dalam bentuk layanan publik.

Harta-harta milik negara (milkiyatud daulah) dikelola dan dimanfaatkan oleh negara untuk melaksanakan tugas-tugas riayah (pelayanan) negara terhadap umat.

Harta-harta akan beredar ditengah umat secara adil, dan tidak menumpuk pada individu tertentu. Persoalan keempat selesai, tuntas.

Kelima dan ini yang paling utama, ketika Khilafah ditegakkan, ketika Khalifah telah dibaiat, maka demi hukum negara akan menerapkan syariat Islam secara kaffah, mengemban misi dakwah Islam keseluruh penjuru alam, membebaskan Palestina, khasmir, Rohingya, Suriah, dan negeri Islam lainnya yang tertindas.

Tugas-tugas ini akan dipimpin langsung oleh Khalifah, bersama seluruh perangkat negara, tentara kaum muslimin dan atas dukungan seluruh umat warga negara daulah Khilafah.

Jadi, jelas persoalannya bukan sekedar ganti rezim tetapi juga ganti sistem. Persoalannya bukan sekedar gonta-ganti presiden, tetapi bagaimana kaum muslimin bisa melaksanakan kewajiban membaiat seorang Khalifah.

Atas akad Bai'at itulah, Khilafah kaum muslimin berdiri. Serius, Anda hanya mau ganti rezim ? Serius, Anda tidak ingin ganti sistem ? Saran saya, bersatulah di barisan politik Nasrudin Joha: GANTI REZIM GANTI SISTEM, TEGAKKAN KHILAFAH! [].



Oleh Ahmad Sastra

Imam As Suyuthi berkata
Bahwa sejarah adalah sebuah deskripsi
Tentang pertarungan potensi manusia
Antara kejahatan dan kebaikan
Dan ini terus akan berulang sepanjang masa
Tinggal kita, mau memilih yang mana
Tinggal kita, mau memilih bersama siapa

Jika demikian
Sejarah adalah manusia
Sejarah adalah perilaku
Sejarah adalah peristiwa
Sejarah adalah pelajaran
Sejarah adalah pengulangan dan pilihan

Sejarah adalah pengulangan
Tinggal terserah kita
Mau memilih di mana dan dan bersama siapa
Saat peristiwa itu menyapa kita
Dalam lakon dan perilaku manusia
Yang bijaksana maupun yang durjana

Saat sejarah Nabi Adam dimulai
Dialah manusia sholeh dan mulia
Sementara disana ada iblis yang durhaka
Tercatat pula ada Qobil yang jahat
Sementara ada Habil yang bijak
Andai kita sudah disana
Bersama Adam atau bersama iblis
Bersama Habil atau bersama Qobil

Saat sejarah Nabi Nuh dimulai
Dialah manusia penyabar lagi bertaqwa
Sementara disana ada kaumnya yang melawan
Bahkan hingga anak dan istrinya
Hingga turun perintah membuat bahtera
Andai kita sudah disana
Bersama bahtera Nuh atau bersama kaumnya yang durjana

Saat sejarah Nabi Hud dimulai
Dialah manusia bijak nan agung
Sementara disana ada kaum Ad
Kaum durjana penuh kesombongan
Seolah kepandaiannya akan menyelamatkan mereka
Hingga Allah menurunkan azab pedih bagi mereka
Andai kita sudah disana
Bersama Nabi Hud atau bersama kaum Ad

Saat sejarah Nabi Ibrahim dimulai
Dialah manusia agung dan kokoh imannya
Sementara disana ada kaumnya penyembah berhala
Bahkan hingga sampai keluarganya menentangnya
Bahkan hingga tubuhnya harus dibakar
Dalam bara api berkobar menyala
Bahkan dihadapkan juga kepada kecongkakan raja Namrud
Andai kita sudah disana
Bersama Ibrahim atau para penyembah berhala
Bersama Ibrahim atau bersama raja Namrud

Saat sejarah nabi Musa dimulai
Dialah manusia perkasa nan mulia
Sementara disana ada Firaun yang berkuasa
Mampu melakukan apa yang dia suka
Harta melimpah tak terkira
Membunuh siapa saja yang tak disuka
Membiarkan hidup bagi yang mau memuja
Memburu Musa hendak membunuhnya
Andai kita sudah disana
Pilhan sungguh berat dan hanya dua
Bersama Musa atau bersama Firaun

Saat hari ini kita berada dalam sejarah akhir zaman
Sejarah masa Rasulullah penutup para Nabi
Maka disana ada abu jahal, abu lahab
Maka disana ada kekafiran dan kemunafikan
Maka disana ada penindasan dan kezoliman
Maka disana ada penistaan dan penjajahan

Namun disana pula
Ada ketulusan dan perjuangan
Meski harta dan jiwa taruhannya
Dan hari inipun sama
Sejarah itu telah berulang lagi
Menyapa dan menerpa kita

Pilihannya tinggal dua
Bersama Musa atau bersama Firaun

Kebatilah sungguh telah nyata

Kita bersama siapa ?

#KotaHujan, 31/03/18 : 08.00



Oleh HANIF KRISTIANTO (Analis Politik dan Media)

Apa saja bisa terjadi, jika tujuannya untuk politik. Tiada rumus baku dalam memenangkan pemilu di Indonesia, kecuali harus dekat dengan ulama dan umat Islam. Umat Islam adalah market politik. Pasalnya, sistem politik demokrasi suka memanfaatkan orangnya dan bukan ajaran Islamnya. Tahu sendiri, demokrasi sesungguhnya antitesis dari Islam. Karena itu, seketika demokrasi berubah wajah seolah-olah islami.

Partai politik dalam sistem demokrasi sedikit yang berbasis ideologis. Kalaupun ada sangatlah kecil. Islam, nasionalisme, dan pancasila sekadar asasnya. Praktiknya jauh panggang dari api. Kerumunan massa sekadar basis mendulang suara, demi memposisikan diri di kursi kuasa. Seiring itu pula, pendidikan politik sering dilupakan partai. Mereka sibuk menyusun strategi pemenangan, baru menjelang pemilu mereka bergegas melakukan blusukan. Rakyat pun diminta dukungannya untuk menang di kontestasi lima tahunan.

Mendadak Islami?

Sebenarnya bukanlah mendadak Islami. Ini lebih dari strategi. Di tengah riuh umat meraskan kebijakan yang menyengsarakan. Presiden dan partai pendukungnya kerap jadi sasaran. Tak kurang-kurang, Presiden dan partai pendukungnya dibully habis-habisan. Sesungguhnya, posisinya kalah, karena rakyat merayap secara nyata.

Sikap mendadak Islami memang bukan karakter parpol di Indonesia. Di beberapa parpol ada sayap yang dikhususkan mengurusi tabligh dan keagamaan. Mereka cerdik mempolitisasi umat Islam dengan bumbu racik yang melenakan. Ujungnya Islam tidak bisa dilepaskan dari politisasi demi merebut simpati. Kalulah sekadar ada badan urusan keagamaan di Parpol, wajah Islam seperti apa yang ingin ditampilkan?

Sementara itu, umat senantiasa disuguhi dengan sikap politisi rakus. Rakus kekuasaan, uang, jabatan, dan kewanitaan. Kasus korupsi sudah mendarah daging. Tumpukan harta kekayaan politisi. Wanita cantik dan hidup glamour menghiasi. Sementara, rakyat dan umat tetap dalam kemelaratan hidup. Kata sejahterah menjadi angin surga.

Sikap mendadak Islami, tak lebih memanfaatkan umat yang tak memahami hakikat politik. Karenanya dari kalangan umat ada yang dengan mudah bilang, "ternyata partai itu Islami", "partai ini membela ulama dan peduli rakyat", "partai itu nasioanlis religius dengan bukti ada kegiatan keagaamaan" , dan sederet ketakjuban lainnya. Hal ini bisa dipahami, karena umat selama ini ditelikung dalam urusan politik oportunis.

Tanda Apa Ya?
Ada beberpa tanda dan catatan penting bagi parpol di Indonesia. Hal ini bertujuan sebagai kritik agar tak ada lagi cerita rakyat yang terus dijadikan pesakitan.

Pertama, parpol selama ini telah kehilangan kepercayaan di hati umat. Baik yang berbasis agama atau nasionalis religius. Pasalnya, rakyat senantiasa dininabobokan dengan keculasan politik.

Kedua, komunikasi politik menjelang pemilu seringnya menyentuh wilayah keagamaan. Hal ini wajar, mereka memandang sisi keagamaan masih menjadi penentu dan penarik dukungan. Kondisi ini tak terlepas dari harapan rakyat adanya perubahan, meski rakyat kerap dikecewakan.

Ketiga, jika parpol betul-betul peduli kepada umat Islam, maka landasannya harus Islam berdasarkan quran dan sunnah. Parpol itu melakukan amar ma'ruf nahi munkar dan hanya menjadikan Islam sebagai solusi kehidupan. Percuma peduli kepada umat, tapi landasannya bukan Islam dan masih dalam koridor demokratisasi. Sama halnya, menyerahkan leher rakyat untuk dipenggal.

Keempat, parpol harusnya sadar-sesadarnya. Jangan hanya ketika oposisi dia bak singa. Sementara tatkala koalisi dan berkuasa, ia tunduk pada kepentingan dan membuat banyak alasan. Tak elok ketika rakyat di ambang kebinasaan, parpol itu menjauh dan mengacuhkan.

Bagi politisi dan calon penguasa negeri ini, ketahuilah Islam memiliki sistem politik yang lebih sempurna. Nabi Muhammad telah mewariskan dasar pemerintahan dan syariah Islam yang mulia. Janganlah umat ini dibodohi dengan istilah demokrasi yang sesungguhnya tidak ada dalilnya dalam quran dan sunnah. Umat ini akan optimis menatap masa depan, jika politik Islam mampu diwujudkan dengan metode kenabian. Wahai politisi dan partai politik, berjuanglah mewujudkan izzul islam wal muslimin, agar engkau masuk dalam golongan yang diselamatkan. Parpol harus tahu diri, umat Islam jangan terus dikebiri.



Oleh: Nasrudin Joha

Saya mengingatkan Anda, agar tidak masuk lubang biawak untuk kedua kalinya, agar kemuliaan dan keikhlasan Anda terjaga, agar kepercayaan umat terhadap Anda tidak ternoda, agar terjaga jaminan kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Saya ingatkan kepada Anda, diantara mereka yang mengaku ulama, atau berada dan berdesakan bersama Anda, banyak yang telah menggadaikan dirinya untuk sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan.

Mereka berusaha meraih pundak Anda, memeluk dan menggelayuti kepercayaan umat terhadap Anda, kemudian menjual kepercayaan itu dengan harga yang sedikit, mendekati pintu-pintu penguasa, untuk menikam Anda dan umat dari belakang.

Wahai para ulama, ketahuilah ! Kemenangan itu hanya bisa diraih dengan ketaatan, atas kehendak dan pertolongan Allah SWT. Tidak boleh berasumsi, kemenangan diberikan oleh rezim atau atas belas kasihan rezim.

Tidak ada gencatan senjata, tidak ada pengumuman menghentikan pertarungan, justru Anda harus mengumumkan pertarungan dan serangan lebih sengit, dari apa yang telah Anda lakukan sebelumnya. Fatwa Anda ditunggu umat yang telah bersiap di bibir Medan Jihad.

Anda tidak menghadapi rezim jujur, yang kata dan tindakannya dapat Anda percaya. Ingat ! Anda menghadapi rezim pendusta, khianat dan dzalim. Camkan itu !

Rezim ini, akan terus membokong Anda dari belakang. Rezim ini, akan bertindak sama sebagaimana Belanda menipu Diponegoro, Imam Bonjol, dan para ulama terdahulu yang mendahului Anda.

Rezim ini tidak bertindak untuk dan atas nama umat, rezim ini bertindak untuk dan atas nama asing dan aseng. Bagaimana mungkin Anda masih mempercayainya, sementara pengkhianatan itu masih merah di pelupuk mata Anda ?

Ketahuilah ! Rasulullah SAW tidak pernah berkompromi dengan rezim dzalim kafir Quraisy, berbagi konsesi kekuasaan untuk kemudian meninggalkan amanah dakwah. Rasulullah telah bersumpah, akan memenangkan dakwah dengan pertolongan Allah, atau beliau binasa bersama dakwah.

Rasulullah SAW telah menolak, kepingan hina dunia, baik dari harta, tahta, dan wanita. Bahkan beliau tegas mencampakkan, seumpama saja konsesi yang diberikan matahari dan rembulan.

Begitulah, seharusnya Anda meneladani Rasul Anda. Begitulah, selanjutnya umat juga akan meneladani Anda. Karena itu, tetaplah berada di parit-parit perjuangan, tetap umumkan fatwa-fatwa penentangan, sementara umat akan terus berada digaris depan, beradu dan menentang rezim dzalim hingga dakwah dimenangkan.

Sesungguhnya, ajal rezim ini telah menampakan tandanya. Usia rezim telan senja, sebentar lagi rezim akan ambruk dan tidak dihiraukan lagi. Karena itu, lakukanlah tindakan sebelum ajal rezim benar-benar hadir dihadapan Anda. Raihlah kebajikan dan lautan amal, dengan menyerang rezim lebih keras lagi.

Wahai ulama, ketahuilah ! Ada dua kemuliaan dihadapan Anda, kemenangan di dunia atau meraih Syahid di jalan-Nya. Karena itu, Bimbinglah umat agar menapaki jalan itu, hingga umat menerima kemenangan bersama Anda, atau umat meraih Syahid bersama Anda.

Wahai kalian, yang berusaha memisahkan umat dengan ulama, yang berusaha menarik ulama kami menuju barisan pintu-pintu penguasa dzalim, saksikanlah !

Sekerat tulang dunia yang tidak mengenyangkan, tidak akan memuliakan kalian, tidak di akherat tidak pula di dunia. Penguasa dzalim itu, juga akan mencampakkan kalian manakala kalian tidak bisa menjalankan peran atau kalian sudah tidak lagi dibutuhkan.

Lantas akan kemana kalian berlabuh ? Kepada penguasa yang telah menginjak martabat kalian ? Kepada umat dan ulama yang telah kalian khianati ? Kepada Allah SWT yang telah kalian durhaka ?

Karena itu, ittaqillah ! Kembalilah ke jalan yang lurus, bertaubatlah ! Sebelum datangnya hari, dimana pertaubatan kalian tiada arti lagi. []



Oleh: Nasrudin Joha

Bismillah, risalah ini aku tulis, ditujukan kepada siapa saja yang menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya, ditujukan kepada siapa saja yang mengambil pilihan Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di Jalan-Nya, melebihi kecintaannya kepada bapaknya, istrinya, anaknya, kaum kerabatnya, hartanya, rumahnya, perniagaannya, serta seluruh urusan dunia lainnya.

Risalah ini hanya mampu dibaca dan dipahami, oleh siapa saya yang yakin terhadap akherat, dan menyatakan dirinya berserah diri hanya kepada Allah SWT. Bagi hamba yang demikian, dunia yang dihamparkan hanya terlihat sepepenggalan. Sementara itu, tabir kematian tidak menghalanginya melihat surga yang seluas langit dan bumi. Surga itu, telah dihamparkan dihadapannya, selalu menjadi penuntunnya, sehingga kesulitan dan kesempitan hidup tiada lagi terasa olehnya.

Risalah ini, hanya untuk pengemban dakwah. Mereka yang telah menyerahkan seluruh hidupnya untuk dakwah, bahkan akhir kematiannya pun dipersembahkan untuk dakwah. Pengemban dakwah, yang tegar meniti jalan, mengemban misi mulia yang diemban para rasul dan ambiya, misi pembebasan.

Risalah ini, ditujukan kepada siapa saja yang ingin membebaskan umat manusia, dari kesempitan hidup menuju luasnya karunia Allah SWT, dari penghambaan terhadap makhluk menuju menghamba hanya kepada Allah SWT semata.

Risalah ini risalah cinta, karena hanya ditulis atas dasar cinta, untuk dan atas nama cinta, kecintaan karena Allah, kecintaan terhadap ridlo-Nya. Cinta yang akan mengumpulkan pengemban dakwah satu barisan didunia, cinta yang akan mengumpulkan pengemban dakwah di akherat, bersatu dibawah panji "LA ILAHA ILLALLAH".

Risalah ini, akan menarik siapa saja yang masih mencintai dunia, untuk berpaling darinya, mencampakkannya, seraya berlari dan memeluk dakwah, mengasuhnya, membesarkannya, dan mengantarkannya menuju pintu kemenangan. RIDWANULLAH.

Risalah ini, ingin kusampaikan agar semua yang membacanya tetap teguh dan kokoh, Istiqomah di Jalan dakwah. Dakwah adalah nyawa kita, tanda kehidupan kita. Tanpa dakwah, niscaya umat Islam seperti bangkai-bangkai yang berjalan.

Wahai pengemban dakwah, wahai kaum muslimin. Sesungguhnya, jaminan atas kemaslahatan hidup kalian didunia, jaminan keselamatan kalian di akherat, hanya ada pada Islam. Karenanya, jangan pernah meninggalkan Islam dalam setiap aktivitas kalian.

Islam tidak akan tegak, hanya melalui mimbar-mimbar doa. Islam tidak akan tegak, dengan menunggu belas kasihan penguasa. Islam tidak akan tegak, dengan keyakinan semu tanpa ikhtiar. Islam tidak akan tegak, hanya dengan menagih dan menunggu janji Allah SWT.

Karena itu, berjuanglah ! Sebagaimana Nabi Anda berjuang, berdakwah, menuntut kekuasaan, menuntut penerapan syariah Islam, hingga pertolongan itu datang.

Ingat ! Tidak boleh ada kompromi, tidak boleh ada pencampuran antara yang hak dan yang bathil. Dakwah wajib diterapkan dalam kekuasaan, kekuasaan seutuhnya, semuanya.

Karena itu, serulah umat dan para Ahlul Quwwah, untuk menerapkan Islam secara kaffah. Abaikan bujuk rayu penguasa, yang mulai putus asa terhadap aktivitas kalian, dengan menawarkan konsesi kekuasaan.

Kalian harus meneladani Nabi, yang dengan tegas menolak kekuasaan kompromistis, menolak berbagi urusan pemerintahan, menolak mencampur antara yang hak dan yang bathil. Menolak kekuasaan dari kafir Quraisy, dan tetap teguh meniti dakwah mencari kekuasaan yang menolong.

Kekuasaan yang menolong itu, akhirnya Nabi peroleh di Madinah, kekuasaan itu Nabi dapatkan di Madinah. Kekuasaan itu diberikan kepada nabi, keseluruhannya, dengan tanpa syarat, tanpa pamrih.

Karenanya, dengan kekuasaan itu Nabi dapat menerapkan syariat Islam secara kaffah, tanpa kompromi dengan hukum jahil, tanpa berbagi konsesi dengan penguasa thogut. Karena itu, contohlah Nabi kalian.

Jangan pernah mengikuti petunjuk Demokrasi, yang menjual ilusi kekuasaan kedaulatan rakyat, dan menjanjikan syariat Islam dapat berbagi konsesi. Demokrasi sistem kufur, haram mengemban, menerapkan dan mendakwahkannya.

Demokrasi tidak pernah dicontohkan Nabi, demokrasi mencampur antara yang hak dan yang bathil. Demokrasi, telah menjadi alat penjajahan barat di negeri kaum muslimin.

Karena demokrasi kufur itulah, kaum muslimin lalai untuk membaiat seorang Khalifah, untuk didengar dan di taati, untuk menerapkan Quran Sunnah serta mengemban risalah Islam keseluruh penjuru alam.

Demokrasi kufur telah menjadikan umat, tersibukan dengan pilih-pilihan, coblos-coblosan, dukung-dukungan, yang tidak jelas juntrungannya. Demokrasi, telah menjadi jebakan lubang biawak Yahudi, sehingga banyak kaum muslimin terlena, terjebak, dan tidak berdaya terperangkap didalamnya.

Oleh dan karenanya, bersatulah dalam barisan pejuang syariah dan Khilafah. Berfokuslah, mencari kekuasaan dari umat dan dukungan Ahlul Quwwah. Jika militer dan umat bersama Anda, sungguh kejatuhan rezim dzalim demokrssi sekuler itu hanyalah soal waktu.

Datangi oleh kalian pintu-pintu umat, hingga umat menjadi bagian perjuangan Kalian, atau setidaknya memberikan dukungan terhadap upaya menegakkan Khilafah. Bakarlah, semangat dan gelora umat, untuk kembali pada kemuliaannya, pada syariahnya, pada negaranya, daulah Khilafah yang kedua.

Berpautlah dan saling menjaga amanah diantara kalian, abaikan seluruh celaan orang yang suka mencela, dan teriakan orang-orang yang akan dihinakan. Cukuplah Allah, yang menjadi dasar dan tujuan perjuangan.

InsyaAllah, pada saat yang telah ditetapkan, pada hari yang telah Allah SWT rencanakan, Anda dan saya, kita semua, akan bersama dalam suatu malam yang penuh berkah, melaksanakan akad Bai'at kepada seorang lelaki, untuk dijadikan Amirul Mukminin, Khalifah seluruh kaum muslimin. [].




Oleh: Henri Shalahuddin, M.A.

(Peneliti INSISTS)

"Ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiyat", demikian petuah masyhur guru Imam Syafii, Waqi.

Ibnu Mas'ud r.a., salah satu Sahabat Nabi saw pernah berwasiat, bahwa hakekat ilmu itu bukanlah menumpuknya wawasan pengetahuan pada diri seseorang, tetapi ilmu itu adalah cahaya yang bersemayam dalam hati.

Kedudukan ilmu dalam Islam sangatlah penting. Rasulullah saw., bersabda:

"Sesungguhnya Allah SWT, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi hingga semut dalam tanah, serta ikan di lautan benar-benar mendoakan bagi pengajar kebaikan". (HR. Tirmidzi).

Mengingat kedudukannya yang penting itu, maka menuntut ilmu adalah ibadah, memahaminya adalah wujud takut kepada Allah, mengkajinya adalah jihad, mengajarkannya adalah sedekah dan mengingatnya adalah tasbih.

Dengan ilmu, manusia akan mengenal Allah dan menyembah-Nya.

Dengan ilmu, mereka akan bertauhid dan memuja-Nya.

Dengan ilmu, Allah meninggikan derajat segolongan manusia atas lainnya dan menjadikan mereka pelopor peradaban.

Oleh karena itu, sebelum menuntut ilmu, Imam al-Ghazali mengarahkan agar para pelajar membersihkan jiwanya dari akhlak tercela.

Sebab ilmu merupakan ibadah kalbu dan salah satu bentuk pendekatan batin kepada Allah.

Sebagaimana shalat itu tidak sah kecuali dengan membersihkan diri dari hadas dan kotoran, demikian juga ibadah batin dan pembangunan kalbu dengan ilmu, akan selalu gagal jika berbagai perilaku buruk dan akhlak tercela tidak dibersihkan.

Sebab kalbu yang sehat akan menjamin keselamatan manusia, sedangkan kalbu yang sakit akan menjerumuskannya pada kehancuran yang abadi.

Penyakit kalbu diawali dengan ketidaktahuan tentang Sang Khalik (al-jahlu billah), dan bertambah parah dengan mengikuti hawa nafsu.

Sedangkan kalbu yang sehat diawali dengan mengenal Allah (ma'rifatullah), dan vitaminnya adalah mengendalikan nafsu.
(lihat al-munqidz min al-dhalal).

Sebagai amalan ibadah, maka mencari ilmu harus didasari niat yang benar dan ditujukan untuk memperoleh manfaat di akherat.

Sebab niat yang salah akan menyeret kedalam neraka, Rasulullah saw., bersabda:

"Janganlah kamu mempelajari ilmu untuk tujuan berkompetisi dan menyaingi ulama, mengolok-olok orang yang bodoh dan mendapatkan simpati manusia. Barang siapa berbuat demikian, sungguh mereka kelak berada di neraka.
(HR. Ibnu Majah).

Diawali dengan niat yang benar, maka bertambahlah kualitas hidayah Allah pada diri para ilmuwan.

"Barang siapa bertambah ilmunya, tapi tidak bertambah hidayahnya, niscaya ia hanya semakin jauh dari Allah", demikian nasehat kaum bijak.

Maka saat ditanya tentang fenomena kaum intelektual dan fuqaha yang berakhlak buruk, Imam al-Ghazali berkata:

"Jika Anda mengenal tingkatan ilmu dan mengetahui hakekat ilmu akherat, niscaya Anda akan paham bahwa yang sebenarnya menyebabkan ulama menyibukkan diri dengan ilmu itu bukan semata-mata karena mereka butuh ilmu itu, tapi karena mereka membutuhkannya sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah".

Selanjutnya beliau menjelaskan makna nasehat kaum bijak pandai bahwa 'kami mempelajari ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itu pun enggan kecuali harus diniatkan untuk Allah', berarti bahwa "Ilmu itu tidak mau membuka hakekat dirinya pada kami, namun yang sampai kepada kami hanyalah lafaz-lafaznya dan definisinya".
(Ihya' 'Ulumiddin).

Ringkasnya, Imam al-Ghazali menekankan bahwa ilmu saja tanpa amal adalah junun (gila) dan amal saja tanpa ilmu adalah takabbur (sombong).

Junun berarti berjuang berdasarkan tujuan yang salah.

Sedangkan takabbur berarti tanpa memperdulikan aturan dan kaedahnya, meskipun tujuannya benar.

Maka dalam pendidikan Islam, keimanan harus ditanamkan dengan ilmu; ilmu harus berdimensi iman; dan amal mesti berdasarkan ilmu.

Inilah sejatinya konsep integritas pendidikan dalam Islam yang berbasis ta'dib.

Ta'dib berarti proses pembentukan adab pada diri peserta didik.

Maka dengan konsep pendidikan seperti ini, akan menghasilkan pelajar yang beradab, baik pada dirinya sendiri, lingkungannya, gurunya maupun pada Penciptanya.

Sehingga terjadi korelasi antara aktivitas pendidikan, orientasi dan tujuannya.

Ketika seseorang mempelajari ilmu-ilmu kedokteran, kelautan, tehnik, komputer dan ilmu-ilmu fardhu kifayah lainnya, maka mereka tidak memfokuskan niatnya pada nilai-nilai ekonomi, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya.

Tapi kesemuanya ini dipelajarinya dalam rangka meningkatkan keimanan dan bermuara pada pengabdian pada Sang Pencipta.

Disorientasi pendidikan diawali dengan hilangnya integritas nilai-nilai ta'dib dalam pendidikan (sekularisasi).

Sekularisasi dalam dunia pendidikan berjalan dengan dua hal:

(a) menempatkan ilmu-ilmu fardhu 'ain yang dianggap tidak menghasilkan nilai ekonomi dalam skala prioritas terakhir, atau dihapus sama sekali.

Sehingga mahasiswa kedokteran misalnya, tidak perlu dikenalkan pelajaran-pelajaran agama.

(b) mengutamakan pencapaian-pencapaian formalitas akademik.

Sehingga keberhasilan seorang pelajar hanya ditentukan dari hasil nilai ujian yang menjadi ukuran pencapaian ilmu dan keberhasilan sebuah lembaga pendidikan.

Rusaknya dunia pendidikan terjadi ketika ilmu diletakkan secara salah sebagai sarana untuk mengejar syahwat duniawi.

Padahal Ali bin Abi Talib r.a., telah mengingatkan: "Barang siapa yang kecenderungannya hanya pada apa yang masuk kedalam perutnya, maka nilainya tidak lebih baik dari apa yang keluar dari perutnya".

Wallahu a'lam wa ahkam bis shawab. (***)




Oleh: Nasrudin Joha

Ngaco ! Negeri seterah ! Negeri Antah Barantah ! Semua kengerian sudah pada titik paripurna ! Tidak ada satupun dari mereka yang disebut pemimpin, mampu mengeluarkan ujaran yang menentramkan. Semua kalimat yang keluar ajaib ! Ajaib menyakitkan hati, menyayat, melukai, menghinakan !

Menteri itu jika ditanya harga, seyogyanya menjelaskan kinerja. Paling tidak menjelaskan penyebab, apakah karena kurangnya stok, tingginya permintaan atau alienasi pasar. Kemudian bicara solusi, yang diawali dengan data stock nasional, rincian hambatan, serta langkah kongkrit.

Jika persoalan karena rendahnya stock, misalnya bisa diambil langkah intervensi pasar dengan menambah pasokan. Jika karena permainan sindikat kartel beras, misalnya melakukan kontrol dan monitoring distribusi serta pemberian sanksi. Dll.

Ini ditanya beras mahal kok jawabnya suruh tawar ? Sudah Nawar belum ? Ini menteri dagelan apa ? Mau menggarami lautan? Eh Pak menteri, jangankan beras yang harganya belasan ribu, bawang tiga siung saja ibu-ibu itu pasti nawar.

Ini persoalannya bukan pada tawar menawar, ini persoalannya ada pada ketidakbecusan pengelolaan stok pangan. Ini ketidakbecusan kinerja Anda Pak menteri ! Ngerti ?

Giliran ada permintaan tinggi Anda impor dari luar Negeri, siapa yang untung ? Rakyat ! Rakyatnya luar negeri. Giliran rakyat panen, ente tetep juga impor dari luar negeri, siapa yang untung ? Rakyat ! Rakyatnya luar negeri. Giliran mau Lebaran, ente solusi impor lagi. siapa yang untung ? Rakyat ! Rakyatnya luar negeri.

Ditanya data suplai pangan, tidak punya. Ditanya kalkulasi permintaan pangan, tidak punya. Apa kalau mau impor pertimbangannya suka-suka Gua ? Ente menteri, atau makelar impor ? Ente menteri WNI atau menteri WNC ?

Sudah terserah ! Impor saja semua ! Bilang saja agar rakyat mendapatkan harga murah. Tidak perlu analisis atau pertimbangan, tidak perlu juga minta rekomendasi kementrian yang lain, terus kebut isi pundi parpol !

Sebentar lagi Pilkada, pemilu, Pilpres, semua butuh amunisi untuk menyihir rakyat agar mendatangi bilik-bilik hipnotis. Mencoblos kertas yang tidak jelas apa fungsinya bagi kesejahteraan rakyat.

Rakyat dipaksa hiruk pikuk dan menyerahkan lehernya pada altar penyembelihan masal, mengambil darah aspirasi dan legitimasi, setelah itu digunakan untuk berpesta pora para garong, para mafia politik yang berdalih "UNTUK DAN ATAS NAMA RAKYAT".

Rakyat sendiri ? Sudah lah, hari-hari akan selalu menjadi korban keganasan kapitalisme demokrasi. Rakyat akan terus menjerit, sementara pejabat bersorak sorai dalam aksi gelamor pesta-pesta politik.

Tidak ada pilihan, tidak ada jalan, ganti rezim ganti system. Campakkan Sekulerisme demokrasi, tegakkan Syariah & Khilafah.

Khilafah akan melahirkan pemimpin-pemimpin laksana Abu Bakar Asy Sidiq, Umar bin Khatab, Ustman Bin Affan. Mereka adalah pemimpin yang tidak bisa tidur memikirkan rakyatnya.

Mereka, selalu detail dan rinci mengurusi urusan rakyatnya, sampai urusan mahar saja mereka buat kebijakan terhadapnya. Mereka, mencintai dan menyayangi rakyat bahkan lebih dari keluarga mereka sendiri.

Ya Allah, betapa kami rindu pemimpin seperti itu. Pemimpin yang akan membimbing kami taat kepadamu, mencukupi seluruh urusan kehidupan kami, melindungi kami dan memberikan ketentraman, rasa aman dan keadilan. [].



Oleh: Nasrudin Joha


Sungguh, pilu batin ini melihat ulama yang seharusnya menjadi panutan umat, mengambil uslub dan manuver politik yang justru menimbulkan pertanyaan dan kontroversi ditengah umat. Setelah Partai tidak lagi dapat dipercaya, tinggal ulama' lah harapan umat.

Wahai ulama, kalimat kebenaran itu bukan saja wajib disampaikan kepada Penguasa tetapi wajib juga disampaikan kepada para Ulama. Setiap kata dan ujaran, bahkan tindakan Anda sebagai ulama, akan menjadi rujukan dan perhatian umat.

Wahai ulama, ketahuilah ! Anda tidak sedang berhadapan dengan rezim ksatria, yang Anda hadapi adalah rezim khianat, pendusta dan dzalim. Anda harus menperhatikan apa yang menjadi tindakan mereka, bukan apa yang terucap apalagi janji yang diikrarkan.

Wahai ulama, jangankan kepada Anda, kepada seluruh rakyat dan umat saja rezim ini terbiasa berdusta. Bagaimana mungkin Anda yang dikaruniai kepahaman dan ilmu dapat mempercayainya, kemudian menyerahkan leher-leher Anda kepada rezim ?

Wahai ulama, tidakkah cukup pengkhianatan rezim ini dirasakan umat, sehingga Anda rela mendekati rezim dan untuk kemudian Anda juga dikhianati ?

Wahai ulama, tidakkah Anda bisa saksikan bahwa saat ini tidak adalagi yang patut dirahasiakan ? Baik itu aktivitas dakwah untuk kebaikan umat, atau aktivitas membongkar makar rezim dan para anteknya. Lantas, dimana letak kerahasiaan itu ? Apa yang sedang Anda tutupi dari umat ?

Wahai ulama, ketahuilah ! Rezim ini sedang berupaya memisahkan diantara Anda, karena itu jauhilah siapa saja diantara anda yang masih mengejar dunia. Wahai ulama, ketahuilah ! Rezim ini hendak menjauhkan Anda dari Umat, karena itu segeralah berlari dan memeluk umat, dan segeralah tinggalkan singgasana dan istananya rezim dan para begundalnya !

Wahai ulama, jika Anda sedang mengumandangkan kalimat hak dihadapan penguasa dzalim, ajaklah umat turut serta bersama anda. Sehingga, tidak ada celah bagi rezim untuk memisahkan anda dari umat.

Wahai ulama, segeralah kembali ke rahim umat, putuslah seluruh hubungan dan ikatan dengan rezim. Sungguh, kemenangan itu dicapai atas pertolongan Allah, bukan kebaikan dan belas kasihan dari rezim !

Wahai ulama, bertakwalah kepada Allah ! Sungguh, amanah ilmu yang ada pada pundak Anda jauh lebih tinggi ketimbang amanah yang ada dipundak umat.

Karena itu, Bersumpahlah ! Anda tidak akan lagi berhimpun dan mendekat pada rezim, Anda harus berdiri tegak bersama umat. Anda tidak boleh lagi dipalingkan dari perjuangan dan perlawanan, betapapun keringat dan peluh dakwah itu terus bercucuran. Anda tidak boleh mengangkat bendera putih, betapapun letih, lelah, dan banyaknya pengorbanan yang telah dipersembahkan.

Wahai umat, teruslah menasihati baik kepada penguasa kalian atau ulama diantara kalian. Sungguh, rezim ini hendak memisahkan kalian dengan ulama. Karena itu, Dekatlah pada ulama, tarik kuat ulama kalian agar menjauh dari rezim, peluk erat ulama kalian, agar tetap berdiri tegak bersama kalian.

Wahai umat, sesungguhnya Al Quran dan As Sunnah adalah petunjuk jalan. Karena itu, berpedomanlah pada keduanya agar kalian diberi Hidayah dan petunjuk jalan. Taatlah kepada Allah, karena itu satu-satunya jalan menuju kemenangan.

Wahai umat, sungguh rezim ini nyaris tersungkur jika saja ikatan dan penopang rezim tidak terus memegangnya. Karena itu, potonglah setiap tangan yang terus mendukung rezim, menopangnya, dan terus mempertahankannya.

Bergeraklah hanya untuk visi Islam, melanjutkan kehidupan Islam, menerapkan syariat Islam. Sebab, hanya dengan syariat Islam saja ulama dan umat dapat dimuliakan. [].



Ilmu lebih berharga ketimbang harta; ilmu menjagamu sementara harta butuh kau jaga, ilmu menjadi hakim bagimu sedangkan harta harus kau hakimi ( Ali bin Abi Thalib )

Sobat. Seharusnya mahasiswa dan buku adalah teman sejoli,alias soulmate. Itu artinya mahasiswa berteman karib dengan buku, di mana ada mahasiswa di situ ada banyak buku, di kampus, di perpustakaan, di rumah dan kos-kosan, di asrama, juga di masjid, bahkan di mana saja. Berikut cuplikan puisi budayawan kita Taufik Ismail :
“Agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di stasiun bis dan ruang tunggu kereta api ini buku di baca, di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca, di tempat penjualan buku laris dibeli, dan ensiklopedi yang terpajang di ruang tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.”

Sobat. Ironi kondisi real kebiasaan membaca di Indonesia masih memprihatinkan terbukti indeks tingkat membaca masyarakat Indonesia menurut hasil survei Unesco Tahun 2011 hanya 0,001 % itu artinya, hanya ada 1 orang dari 1000 penduduk yang masih mau membaca buku serius. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi 124 dari 187 negara dalam penilaian indeks pembangunan manusia didunia.

Rendahnya minat baca ini makin menyebabkan kualitas dan mutu pendidikan di Indonesia juga hanya stagnan dan cenderung mundur. Bila kondisi ini terus berlangsung dan tak diantisipasi sejak dini, kita tak bisa berharap banyak pada mutu dan kualitas sumber daya manusia kita. Lalu apa yang harus kita lakukan? Maka agar buku dan mahasiswa soulmate tidak bisa tidak para mahasiswa, kaum intelektual, dan calon-calon pemimpin Indonesia masa depan harus rajin membaca dan menjadikan Membaca dan menulis sebagai sebuah habit bagi bangsa ini.

Sobat. Berikut kiat-kiat untuk memahami bacaan (buku) menurut Bobbi de porter & Mike Hernacki dalam bukunya Quantum learning :

1. Jadilah pembaca yang aktif. Gunakan enam kata pertanyaan : Siapa? Kapan? Apa?Di mana? Mengapa? Bagaimana? Buatlah teks bacaan menjawab pertanyaan anda saat anda membaca. Ketika Anda bertanya, anda memusatkan pikiran anda ke dalam keadaan yang lebih menuntut, mengeluarkan gagasan dari teks seolah-olah Anda menyedot bensin dari dalam tanki.

2. Baca gagasannya bukan kata-katanya. Kata-kata yang dipakai seorang penulis adalah alat untuk menyampaikan gagasan-gagasannya, dan satu-satunya cara anda dapat memahami gagasan tersebut adalah dengan membaca kata-kata dalam konteks yang berhubungan. Alih-alih membaca masing-masing kata, dapatkan seluruh gambaran dengan melihat seluruh ungkapan, kalimat, dan paragrafnya.

3. Libatkan seluruh indra Anda. Gunakan indra pendengaran anda dengan membaca secara keras. Bacalah sekali seluruh bacaan dengan cepat. Lalu jika buku itu milik anda, libatkan indra kinestetik dan visual anda dengan menggarisbawahi hal-hal yang penting dengan stabilo dan gambarlah sesuatu di tepinya untuk membantu anda memahami konsep-konsep kunci.

4. Ciptakan minat. Lebih mudah membaca buku ketika anda agak mengenal subjeknya dan membacanya akan menguntungkan anda dalam beberapa hal. Ciptakan AMBAK ( Apa Manfaat Bagi Ku ) dengan Membaca Buku. Dengan bertanya kepada dirinya sendiri,” Mengapa aku perlu membaca buku ini?” Dengan begitu anda akan membuka halaman demi halaman untuk melihat sekilas tentang buku itu dan dapat menyingkirkan beberapa judul yang tidak begitu sesuai dengan kebutuhan anda.

5. Buat peta pikiran dari bahan bacaan tersebut. Setelah anda membaca dengan cepat seluruh materi bacaan anda, buatlah Peta Pikiran dengan menggunakan judul-judul bab atau pembagian topik lainnya. Lalu bacalah sekali lagi secara menyeluruh dan istilah detail-detail yang penting untuk diingat.

Sobat. Sebagai penutup dari artikel singkat ini, Ayo budayakan Membaca dan Menulis! Saydina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan :Ilmu lebih berharga ketimbang harta; ilmu menjagamu sementara harta butuh kau jaga, ilmu menjadi hakim bagimu sedangkan harta harus kau hakimi.

Tip singkat membaca buku ; mempersiapkan diri dan minimalkan gangguan, duduklah dengan sikap tegak, luangkan waktu beberapa saat untuk menenangkan pikiran, gunakan jari anda sebagai petunjuk, lihat sekilas bacaan sebelum memulai membaca. Salam Literasi !

Salam Dahsyat dan Luar Biasa !

( Spiritual Motivator – DR.N.Faqih Syarif H, M.Si. Penulis Buku Gizi Spiritual dan Character Building. Narasumber Thank God tommorow is Friday di Radio SMART 88.9 FM Surabaya. Pengurus Komnas Pendidikan Jawa Timur. www.faqihsyarif.net )



Rabu (25/04/2018), sidang atas nama Terdakwa Rini Sulistiawati kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Kuasa Hukum Terdakwa, menghadirkan Dr. H. Abdul Chair Ramadhan, S.H. M.H. Sebagai ahli pidana.

Ahli menerangkan bahwa berdasarkan ketentuan pasal 6 UU ITE, konten informasi yang dijadikan alat bukti agar memenuhi ketentuan bukti surat sebagaimana diatur dalam 184 KUHAP harus dapat diakses, ditampilkan, dijamin keutuhannya, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan.

Ahli juga menuturkan, pada proses penyidikan dalam perkara harus dituangkan dalam sebuah dokumen hasil lab forensik, dengan keterangan penyidik yang dihadirkan di pengadilan, untuk memastikan bahwa konten informasi yang dipersoalkan asli, dapat diakses, ditampilkan dan dipertanggungjawabkan.

"Jadi jelas kasus ini seharusnya tidak ada. Ditutup. Terdakwa bebas. Pada persidangan yang lalu, penyidik selaku pelapor juga penyidik dari Tim Cyber Polda Metro Djaya tidak pernah bisa menampilkan konten unggahan meme yang dipersoalkan di laman Facebook Terdakwa, sebagaimana disebutkan dalam surat Dakwaan" ujar Ahmad Khozinudin, kuasa Terdakwa memberikan keterangan.

"Selain tidak bisa menampilkan konten meme -meskipun sudah beberapa kali diberi kesempatan untuk menampilkan konten meme yang didakwakan di komputer-, penyidik juga tidak melakukan uji forensik atas konten meme untuk memastikan konten dakwaan dapat dipertanggungjawabkan" tambah Ahmad.

Dalam persidangan, Terdakwa terlihat tegar dan bersemangat. Suami dan sahabat-sahabat Terdakwa, juga terlihat hadir mengikuti persidangan.

Spirit Al Quran membuat Terdakwa yakin atas pertolongan Allah, dan konsisten melawan kedzaliman. Tidak ada perasaan cemas dan takut, Terdakwa tenang mengikuti persidangan.

Terdakwa didakwa melanggar ketentuan pasal 28 ayat (2) jo pasal 45 ayat (2) dan pasal 35 jo pasal 59 ayat (2) UU No 19 tahun 2016 tentang perubahan UU No 11 tahun 2008 tentang ITE.

Terdakwa membagikan tautan unggahan konten meme yang bertuliskan "PDIP tidak butuh suara umat Islam". Atas unggahan tersebut, penyidik menangkap dan menahan terdakwa sejak Desember 2017 hingga saat ini. [].



(Istiqomahlah Bela Islam, Tetaplah Berada di Jalan Allah dalam Perjuangan)

Oleh: Ahmad Sastra

Aksi 212 bela Islam yang alhamdulillah saya ikut terlibat di dalamnya adalah sebuah fenomena baru dalam kesadaran akan kebangkitan Islam di Indonesia. Setidaknya kini telah tumbuh sebuah ghirah membara untuk bela Islam di kalangan umat Islam Indonesia.

Allah berjanji jika umat ini istiqomah menolong agama Allah, maka Allah akan menolong umat Islam. Syaratnya hanya agama Allah yang ditolong. Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu [QS Muhammad : 7].

Dimulai dari aksi bela Islam dan tolak pemimpin kafir, lantas menyebar dan membesar menjadi gerakan umat untuk untuk bela Islam. Meski harus diakui bahwa aksi 212 adalah aksi umat Islam yang belum terorganisir dengan baik. Mereka masih sekumpulan umat yang sadar, namun tidak terikat dengan organisasi yang rapih.

Padahal Allah sendiri mengingatkan agar umat Islam terikat dengan jamaah dakwah dengan pengaturan yang rapi. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma´ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung [QS Ali Imran : 104]. Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh [QS Shaff : 4].

Jamaah meski berjumah jutaan, namun jika tidak ada komitmen ikatan yang kuat, maka sangat rawan terpecah belah, jika tujuan gerakan dirasakan telah selesai. Maka seharusnya alumni 212 tetap istiqomah membawa semangat perjuangan agama Allah, tidak terjebak kepada pragmatisme. Gelombang kesadaran umat Islam sebenarnya akan membawa kebangkitan dan datangnya pertolongan Allah. Kecuali terjadi disorientasi perjuangan, sebagaimana telah terjadi saat peranf Uhud, maka pasukan Rasulullah dengan mudah bisa dikalahkan oleh pasukan kafir.

Oleh sebab itu, mari kita lihat kembali bagaimana Allah mengkonstruksi skenario ayat-ayat dalam Surat Al Maidah yang menjadi latang belakang gerakan dan aksi bela Islam 212. Semoga secara bertahap pengurus persaudaraan 212 dengan istiqomah bisa menapaki jalan yang telah digariskan Allah.

Inilah skenario Allah itu, istiqomahlah menapakinya hingga pertolongan Allah datang atas kemenangan Islam. Iya kemenangan Islam, bukan kemenangan yang lain :

AL MAIDAH 50 dimulai dengan pentingnya meyakini bahwa hanya hukum Allah yang benar dan penegasan sesatnya hukum jahiliyah. Hukum Allah inilah yang semestinya diperjuangkan oleh jamaah aksi 212 dan seluruh kaum muslimin, bukan hukum jahiliah. Berpihaklah hanya kepada Allah dan RasulNya, jangan tergiur bujukan kekuasaan sistem jahiliyah, sebab akan berpotensi menjadi pengkhianat.

Firman Allah, “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin”. [QS Al Maidah : 50]

AL MAIDAH 51 dilanjutkan dengan peringatan Allah tentang komitmen seorang mukmin agar sekali-kali tidak menjadikan kaum kafir sebagai pemimpin. Kepemimpinan Islam yang akan menyatukan umat Islam sedunia, menegakkan hukum Allah dan dakwah menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia-lah yang harus diangkat sebagai pemimpin.

Tradisi kepemimpinan Islam adalah baiat seorang khalifah, bukan presiden. Ini perjuangan berat, tapi alumni 212 harus bisa istiqomah, yakin dan ikhlas. Perjuangan dan jihad itu memang berat, jika ringan namanya istirahat. Tengoklah bagaimana perjuangan Rasulullah membela agama Allah dan ikutilah seluruh metode perjuangan Rasulullah, jangan bergeser sedikitpun.

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [QS Al Maidah : 51].

AL MAIDAH 52 berisi peringatan Allah akan hadirnya kelompok munafik sekuler yang mengkhianati Allah dan RasulNya. Kaum munafik yang disebut partai setan terlihat mendekat kaum kafir, mendukung dan membelanya, bahkan minta perlindungan dan nasehat. Baik secara diam-diam maupun terang-terangan kelompok munafik dalam kancah perjuangan umat hari ini begitu jelas terlihat. Umat Islam harus berhitung betul agar langkahnya tidak salah.

Perjuangan menegakkan dan memebela Islam sdengan demikian akan dihadapkan dengan musuh dari dua golongan yakni kafir dan munafik. Pun begitu yang dihadapi oleh Rasulullah. Namun jika istiqomah, maka perjuangan agama Allah akan dimenangkan, sebagaimana kemenangan Rasulullah.

Firman Allah, “ Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.” [QS Al Maidah : 52].

AL MAIDAH 53 berisi tentang petunjuk Allah kepada orang beriman untuk bisa memperhatikan dan menyaksikan karakter kelompok munafik dalam kancah perjuangan dan jihad politik umat hari ini. Saat dilantik menjadi pejabat, mereka disumpah dan bersumpah atas nama Allah dibawah al Qur’an, namun isi al Qur’an tidak pernah dijalankan dalam pemerintahan.

Inilah kemunafikan sejati yang harus dijauhi oleh kaum beriman, jangan sampai pejuang Islam 212 terlibat mendukung atas pengkhianatan politik ini. Sungguh orang kafir dan munafik akan dibinasakan oleh Allah. Alumni 212 dan jamaah kaum muslimin jangan sampai terlibat dalam sandiwara politik sekuler ini, sebab akan menjerumuskan dalam lobang kemunafikan dan pengkhianatan.

Firman Allah, “Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: "Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?" Rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi”. [QS Al Maidah : 53]

AL MAIDAH 54 berisi peringatan Allah agar mukmin tetap istiqomah dalam perjuangan Islam. Jangan sampai tergiur dengan iming-iming yang menjadikan umat Islam keluar dari agamaNya atau disorientasi perjuangan. Jika kaum muslimin murtad dan berkhianat, maka Allah akan mendatangkan pejuang Islam sejati yang mencintai sesama muslim dan tegas kepada kekafiran serta berjihad di jalan Allah. Pejuang Islam tidak takut mendapat celaan dari kaum kafir dan munafik, jangan malah berdekat-dekatan dengan mereka atas nama koalisi politik.

Di tengah hegemoni HAM dan demokrasi, bersikap tegas atas kekufuran memang sangat berat, karena akan dianggap kaum intoleran. Begitupun Rasulullah saat tegas memperjuangkan Islam dan menyatakan kesesatan kafir Quraisy, beliau mendapat fitnah sebagai pemecah belah bangsa. Begitupun hari ini, tapi jangan takut, yakinlah akan kebenaran firman Allah.

Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [QS Al Maidah : 54].

AL MAIDAH 55 berisi janji pertolongan Allah kepada para pejuang agamaNya yang istiqomah, sebagaimana Rasulullah. Sebab pertolongan kemenangan Islam, bukan dari manusia, namun dari Allah semata bagi orang-orang beriman. Selain melaksanakan ibadah individu, orang beriman juga tunduk total kepada hukum dan aturan Allah.

Disinilah pentingnya alumni 212 dan jamaah kaum muslimin secara umum berjuang menegakkan aturan dan hukum Allah secara kaffah. Sebab Allah dengan tegas mewajibkan kaum muslimin untuk masuk Islam secara kaffah, tidak setengah-setengah sebagaimana dipropagandakan oleh partai setan sekuler. “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” [QS Al Baqarah : 208]. Saat hukum Allah tegak, kaum muslimin berkewajiban tunduk dan patuh sepenuhnya.

Firman Allah, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). [QS Al Maidah : 55]*

AL MAIDAH 56 berisi janji kemenangan dari Allah kepada jamaah kaum muslimin yang hanya berharap kepada Allah, Rasulnya dan meminta pertolongan kepada orang-orang mukmin. Makna sebaliknya adalah tidak meminta pertolongan kepada orang-orang kafir dan munafik. Apalagi sampai menjadikan orang kafir dan munafik menjadi pemimpin, tempat minta bantuan atau menjadikan sebagai penasehat.

Kemenangan hanya akan diberikan kepada pejuang agama Allah yang istiqomah, bersabar dan bersungguh-sungguh. Tidak tergiur dengan harta, tahta dan syahwat duniawi. Ikhlas berjuang berkorban harta, tenaga, pikiran dan jiwa untuk Allah semata. Inilah beratnya perjuangan bela agama Allah.

Firman Allah, “Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang”. [QS Al Maidah : 56].

AL MAIDAH 57 berisi penekanan Allah kepada orang beriman agar tidak memilih pemimpin yang kerjanya menista agama Islam. Bisa jadi pemimpin itu dari kalangan kafir ataupun muslim munafik yang tidak suka atas perjuangan dan kebangkitan Islam. Sehingga mulut dan perilaku mereka selalu berusaha memusuhi, menfitnah, menista, melecehkan ajaran Islam. Sehingga mereka terus berusaha menghadang, menjegal dakwah penegakan Islam kaffah di Indonesia.

Bukankah akhir-akhir ini banyak kalangan kaum yang mengaku muslim dari masyarakat biasa, pejabat, mahasiswa hingga yang bergelar profesor, namun mereka justru merendahkan ajaran Islam dan memuja ajaran Barat sekuler. Umat Islam harus jeli atas fenomena ini. Jangan pernah mengajak kaum munafik dalam barisan perjuangan Islam. Ingat kekalahan perang Uhud, ingat.

Firman Allah, “ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.” [QS Al Maidah : 57].

AL MAIDAH 58 berisi penekanan Allah atas sifat pembangkang dan bodoh kaum kafir dan munafik yang menolak ajakan kepada Islam. Mereka dengan songong justru selalu melecehkan ajaran Islam. Ejekan mereka kepada ajaran Islam dari mempermainkan sholat, melecehkan adzan, melecehkan busana Islam, melecehkan asma Allah dan RasulNya, melecehkan ritual haji dan ka’bah hingga melecehkan khilafah sebagai ajaran Islam. Mereka mendadak bodoh.

Gerombolan kaum munafik ini begitu jelas dihadapan kita. Waspadalah, sebab merekalah sebenarnya musuh Islam itu. persaudaraan 212 dan kaum muslim pada umumnya yang istiqomah menegakkan Islam jangan sampai berkoalisi dengan kaum kafir munafik atau dengan partai mereka.

Firman Allah, “Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal” [QS Al Maidah : 58].

AL MAIDAH 59 berisi tentang kebencian kaum kafir dan munafik kepada ajaran Islam. Bahkan di beberapa negara mereka memusuhi, mengusir hingga membunuh kaum muslim hanya karena keimanan dan keislaman. Mereka begitu benci kepada ajaran Islam yang telah diturunkan Allah kepada Rasulullah. Mereka, oleh Allah disebut sebagai orang fasik.

Firman Allah, “ Katakanlah "Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik [QS Al Maidah : 59]

AL MAIDAH 60 berisi tentang pembalasan pedih dan hina dari Allah kepada orang-orang kafir dan munafik serta fasiq. Mereka dikutuk dan dimurkai oleh Allah karena telah tunduk kepada sistem thoghut dan tidak tunduk kepada hukum Allah. tak tanggung-tanggung, mereka dijadikan kera dan babi oleh Allah.

Firman Allah, “ Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?". Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.”
[QS Al Maidah : 60].

Untuk itulah, wahai para alumni dan persaudaraan 212, ingat gerakan kita sejak awal adalah bela agama Allah, menegakkan agama Allah, bukan menegakkan sistem thoghut, ingat itu. Maka istiqomahlah dalam jalan dakwah dan perjuangan ini. Jangan pernah terbujuk oleh rayuan apapun selain keterikatan hanya kepada Allah. Sebab kita hanya berharap bantuan dan pertolongan Allah semata untuk kemenangan agama Allah. Target dakwah dan perjuangan adalah kemanangan Islam dengan tegaknya kekuasaan Islam untuk menebar rahmat bagi alam semesta.

Ingat janji Allah bagi kekuasaan Islam yang akan diberikan Allah kepada orang-orang beriman dan bertaqwa, bukan kepada kaum kafir dan munafik sekuler.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik [QS An Nuur : 55].

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat [QS An Nashr : 1-3].

Dari Saudaramu



Ahmad Sastra
Bogor, 25/04/18 : 09.30 WIB



Oleh: Nasrudin Joha


Situasi politik saat ini mirip peristiwa menjelang lengsernya soeharto. Kebosanan dan rasa jengah pada rezim telah mencapai titik kulminasi, dimana hampir semua segmen dan lapisan masyarakat menuntut adanya perubahan.

Sayangnya, tuntutan perubahan itu juga tidak jauh berbeda dengan situasi dan tuntutan perubahan saat Soeharto lengser. Faktor kebencian pada Soeharto, menyebabkan umat ketika itu tidak memeriksa detail roadmap perubahan.

Kebencian kolektif pada Soeharto hanya mengantarkan tuntutan ganti rezim, seolah persoalan umat selesai dan mendapat solusi pasca dilengserkannya Soeharto. Padahal, ada persoalan subtantif yang tidak pernah tersentuh, yakni sistem sekuler demokrasi yang merupakan akar dari seluruh persoalan yang mendera umat.

Bedanya, saat ini proses kebencian pada rezim disalurkan melalui proses suksesi politik. Suksesi politik dijadikan sarana formal untuk mengganti rezim. Fokus umat hanya pada ganti rezim, asal bukan Jokowi.

Substansi masalah utang luar negeri, pengangguran, dekadensi moral, potensi disintegrasi, masalah perampokan tambang dan sumber daya alam lainnya, persoalan intervensi luar negeri, invasi budaya, persoalan pergaulan bebas, kenakalan remaja, perzinahan, LGBT, dan seabrek soal-soal lainnya tidak pernah disentuh. Apalagi soal penerapan syariat Islam, tidak pernah diusik.

Tidak ada jaminan, jika kekuasaan dipergilirkan dari satu rezim ke rezim lainnya, akan menuntaskan persoalan. Contoh sederhana saja, jika rezim berganti dari satu pemimpin ke pemimpin lainnya, apakah negara dapat mengambil alih tambang emas Freeport ? Menghadapi satu perusahaan tambang saja negara tidak berdaya, sampai pajak yang harusnya menjadi hak negara dihapus dan dikalahkan oleh Freeport.

Itu baru satu Freeport, bagaimana dengan ratusan tambang lain yang telah merampok negeri ini ? Berdayakah pemimpin-pemimpin yang sedang ikut akademi idol-idolan itu ? Sanggup ? Semua nama yang masuk survey-surveyan itu sanggup mengusir Freeport ?

Jangankan mengusir Freeport, menegur saja tidak berani, mengambil hak pajak saja tidak bisa. Ini baru urusan Freeport.

Apalagi, jika pemimpin itu dituntut untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah. Apakah mereka mampu ? Jangankan mampu, mau saja belum tentu.

Padahal, esensi politik dalam Islam adalah bagaimana mengatur urusan umat, memerintah dan melarang umat, menyelenggarakan kemaslahatan umat berdasarkan syariat Islam.

Tidak mungkin ada solusi, tidak mungkin ada maslahat, jika umat ini menelantarkan hukum Allah dan dengan sombong membuat hukum sendiri. Apakah ada hukum yang lebih baik selain hukum Allah SWT bagi orang yang yakin ?

Artinya, ada dua perubahan yang wajib diraih untuk mengembalikan umat pada posisi kemuliaannya. Pertama persoalan rezim, semua harus mengakui semua rezim yang terlibat dalam kekuasaan saat ini, semua tokoh yang ditawarkan dalam survey-surveyan, semua partai yang bersaing dalam kontestasi politik, telah, sedang dan terus diberi waktu berkuasa.

Sepanjang kekuasaan mereka yang telah dipergilirkan, mereka telah terbukti gagal menyejahterakan umat. Justru sebaliknya, mereka secara sistemik, kolektif kolegial selalu mengkhianati umat.

Mari kita periksa. Tokoh dan partai apa saja yang khianat dan terlibat korupsi BLBI ? Tokoh dan partai apa saja yang khianat dan terlibat korupsi Century? Tokoh dan partai apa saja yang khianat dan terlibat korupsi sumber waras ? Tokoh dan partai apa saja yang khianat dan terlibat korupsi reklamasi ? Tokoh dan partai apa saja yang khianat dan terlibat korupsi e KTP ?

Tokoh dan partai apa saja yang khianat dan terlibat korupsi APBD di daerah ? Tokoh dan partai apa saja yang khianat dan terlibat korupsi setelah menjadi Kepala Daerah ?

Ingat ! Semua tokoh dari semua partai terlibat. Semua memiliki dosa-dosa sejarah. Apakah kita ridlo menyerahkan urusan pemerintahan ini pada kaum pendosa itu ?

Karenanya sudah cukup, rezim khianat ini harus segera diganti, semuanya. Rezim ruwaibidloh ini harus diganti dengan orang orang yang taat dan amanah, orang yang berkomitmen melayani umat.

Kedua, persoalan perubahan sistem. Sistem demokrasi sekuler yang diterapkan di negeri ini adalah warisan penjajah. Esensi Perubahan adalah manakala negara terbebas dari penjajahan.

Bagaimana mungkin negara merdeka, jika sistem peraturan dan perundangan, sistem ekonomi dan politiknya masih mengadopsi sistem warisan penjajah ?

Sistem demokrasi sekuler ini, yang telah memberikan legitimasi bagi Freeport dan korporat lainnya terus mencengkeram dan menjajah negeri ini. Freport tidak mungkin bercokol, jika negeri ini menerapkan syariat Islam.

Islam telah mengharamkan tambang yang menguasai hajat rakyat diserahkan pada swasta apalagi asing. Negara selaku wakil umat, wajib mengambil alih dan mengelolanya, untuk kemudian hasilnya dikembalikan kepada umat. Bukan sekedar menarik pajak.

Sistem inilah yang akan mengeluarkan umat dari belenggu penjajahan, fisik maupun non fisik. Membebaskan umat dari belenggu penghambaan kepada makhluk dan hanya menghamba pada Allah SWT semata.

Karenanya, arah perubahan harus juga memuat perubahan sistem. Dari sistem demokrasi sekuler menuju sistem Islam.

Karena bagi umat Islam, tidak ada gunanya kekuasaan jika tidak untuk menerapkan syariat Islam. Bahkan, kekuasan yang menentang syariat Islam di akherat kelak akan menjadi sesalan.

Karenanya, untuk merubah rezim sekaligus sistem umat wajib memperjuangkan Khilafah. Sebab, Khilafah adalah sistem Pemerintahan Islam. Pengelola Khilafah, adalah manusia yang dibimbing oleh wahyu, dan karenanya dapat terhindar dari nafsu.

Khilafahlah yang akan memunculkan rezim dan pribadi sholeh, seperti rezim Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA dan Ali RA. Saatnya, gelorakan seruan ganti rezim ganti sistem, InsyaAllah berkah menaungi seluruh umat. [].



Oleh : ustadz Syamsul Arifin

‘Khilafah itu ditegakkan dengan Jihad dan darah!’
‘Khilafah tidak akan tegak kalau hanya ngomong, konferensi atau hanya kumpul-kumpul saja!’
'Khilafah tidak akan tegak kalau ngemis, tidak berjihad!'
'Khilafah tidak akan tegak kalau hanya pemikiran’.

Itulah beberapa bentuk pertannyaan yang menyalahkan. Memang dakwah ini berat saudaraku.

Dulu waktu Anda belum bergabung dengan Hizbut Tahrir, anda selalu disinggung karena masih bersikap apatis terhadap dakwah, membuka aurat dan lainnya. Kini, setelah masuk dalam jamaah, Anda juga tidak berhenti diuji. Bahkan, kini lebih berat lagi.

Apakah yang mereka katakan bahwa Dakwah Pemikiran / Ideologi tidak akan menegakkan Khilafah? Tunggu, jangan terburu-buru menyimpulkan, menyalahkan bahkan mencaci dan menghina, karena semuanya adalah tanda dari kemalasan berpikir.

Mari kita simak FAKTANYA!

------

1. Syeikh Taqiyyudin sudah menjelaskan dalam Kitab Takatul Hizby, bahwa yang meruntuhkan Khilafah tahun 1924 adalah karena lemahnya pemahaman kaum Muslim. Dan itu …. | Pemikiran.

2. Banyak gerakan dakwah dari gerakan bersenjata, sosial, pendidikan, ahlak, dan lainnya yang sudah mencoba menegakkan Khilafah namun gagal. Itu karena lemahnya … | Pemikiran.

3. Khilafah Utsmaniy, dikalahkan bukan karena lemahnya tentara atau kurangnya persenjataan. Tapi, karena … | Pemikiran.

4. Tentara Khilafah Utsmaniy sangat kuat dan disegani, bahkan dikatakan takkan terkalahkan, namun Khilafah jatuh karena lemahnya bahasa Arab, berhentinya kaum muslim dari aktifitas ijtihad. Dan itu … | Pemikiran.

5. Ratusan tahun Barat mencari kelemahan kaum Muslim, perang demi perang, puluhan kali perang salib, Khilafah tidak bisa dikalahkan. Namun akhirnya jatuh karena lemahnya kaum Muslim akan …. | Pemikiran.

6. Barat mengetahui bahwa cara terbaik mengalahkan Khilafah bukan dengan peperangan fisik, tapi dengan …. | Pemikiran.

7. Mereka berpikir keras untuk meruntuhkan Khilafah, ratusan tahun akhirnya ditemukan bahwa cara yang paling ampuh adalah dengan menjauhkan Alquran dari dada kaum Muslim. Dan itu … | Pemikiran.

8. Kaum Muslim dilemahkan dari sisi pemahaman tentang Islam, diberikan pemahaman Asing. Itu … | Pemikiran.

9. Oleh sebab itu, kaum Muslim sebelum dipecah-belah menjadi beberapa bagian Negara kecil seperti sekarang, mereka dicekoki pemahaman asing seperti nasionalisme. Dan itu … | Pemikiran.

10. Arab meminta lepas dari Turki Utsmaniy, Turki memerdekakan diri oleh Kamal At-Tarturk dan menjadi Negara sekuler. Itu karena … | Pemikiran.

11. Sebelumnya, didirikan sekolah Orientalis, kaum orientalis disebar ke seluruh penjuru dunia Islam dan bertujuan untuk melemahkan Kaum muslim dari segi … | Pemikiran.

12. Dari pemahaman yang rancu tentang Islam, lemahnya pemikiran akhirnya mereka mengadopsi hukum-hukum Barat. Dan itu karena lemahnya … | Pemikiran.

13. Kaum Muslim dinistakan seperti sekarang karena mereka lemah akan pemahaman yang benar tentang Islam. Dan itu juga disebabkan oleh … | Pemikiran.

14. Sulitnya (bukan mustahil) perjuangan mengembalikan Daulah Islam juga karena banyak kaum muslim yang tidak paham bahwa Khilafah / Daulah itu wajib ditegakkan dan meninggalkan hukum-hukum sekarang. Itu juga karena … | Pemikiran.

15. Kaum muslim dicekoki pemahaman asing dari mulai sekolah dasar dengan kurikulum liberal dan sekuler hingga mereka dibentuk menjadi apatis terhadap islam. Itu juga masalah … | Pemikiran.

16. Banyak orang Islam tapi tidak mau menerapkan hukum Islam, tidak sholat, tidak menutup aurat dan lainnya. Juga akibat dari lemahnya … | Pemikiran.

17. Barat merencanakan ini ratusan tahun dan kini bisa terlihat hasilnya. Kaum muslim terbagi 42 negara dan seakan tidak pernah bersatu dahulunya, karena mereka tidak memahami sejarah yang memang sudah diputarbalikkan oleh Barat dan antek. Itu masalah … | Pemikiran.

18. Jika Barat menghancurkan Khilafah, melemahkan pemahaman kaum Muslim, dan men-sekulerkan dan meliberlakan Kaum Muslim dengan pemikiran, bukankah solusinya juga … | Pemikiran.

19. Barat mengetahui senjata tidak akan mempan terhadap Khilafah, begitu juga senjata tidak akan mempan untuk menegakkan Khilafah. Namun yang akan menegakkan adalah … | Pemikiran.

20. Kita lihat sejarah, waktu Rosul dakwah di Makkah, saat belum menjumpai Nushroh. Apa yang beliau dakwahkan? … | Pemikiran.

21. Apa yang ditakutkan oleh kaum Quraisy terhadap Rosul dan Sahabat? Mereka tidak memiliki senjata. Tapi karena mereka membawa … | Pemikiran.

22. Quraisy memahami betul bahwa apa yang dibawa oleh Rosul dan Sahabat akan membuat mereka kalah baik dari sisi jumlah, pengaruh dan … | Pemikiran.

23. Oleh sebab itu, kaum muslim disiksa, dicaci, dihina, diburu, dibunuh oleh Quraisy. Itu bukan karena mereka membawa senjata atau melakukan perlawanan. Tapi karena … | Pemikiran.

24. Kemudian, apa yang dilakukan Mus’ab di Madinah hingga suku Aus dan Khazraj masuk Islam dan siap menjadi Nushroh untuk menyebarkan Islam, dimana ini sebelum Khilafah tegak. Apakah Mus’ab datang dengan senjata? atau… | Pemikiran.

25. Sekarang, Barat juga mengetahui, seberapapun kuatnya kelompok bersenjata, selama pemahaman tentang Islam masih lemah, maka itu sama saja. Dan itu disebabkan … | Pemikiran.

26. Berkaca dari runtuhnya Khilafah Utsmaniy, kurang apa mereka coba? Mereka memiliki tentara superpower, menjadi adidaya. Namun kalah akibat lemahnya … | Pemikiran.

27. Maka, bagi Barat, seberapapun banyak dan kuat kelompok bersenjata mengancam mereka, jika itu bukan oleh Khilafah, maka akan tetap melanggengkan hegemoni Barat di Negara-negara Islam. Afghanistan banyak klan Mujahidin namun Demokrasi masih berjalan. Itu karena masyarakat lemah akan … | Pemikiran.

28. ISIS sudah berjuang keras, namun hanya sebatas beberapa wilayah dari Iraq dan Suriah saja yang dikuasai, sistem Demokrasi masih berjalan disebagian besar wilayah Iraq dan Suriah. Ini karena … | Pemikiran.

29. Dan, yang dimaksud Amerika, Eropa dan Rusia takut dengan Hizbut Tahrir bukanlah takut dalam arti Hizb sebagai gerakan tanpa senjata. Tapi kareana … | Pemikiran.

30. Oleh sebab itu, di Amerika, Eropa dan Rusia banyak syabab yang ditangkap dan dipenjara bukan karena membawa senjata. Mereka takut dengan apa yang dibawa Hizb, yaitu … | Pemikiran.

31. Mereka sadar betul dengan apa yang dibawa Hizb akan menyatukan seluruh negeri-negeri Muslim dan Khilafah akan tegak. Ini yang mereka takutkan. Bukan Hizb sendiri tapi apa yang diemban. Itu … | Pemikiran.

32. Mereka mengetahui bahwa ideology Islam yang menyadarkan seluruh muslim bersatu. Ketika bersatu, sudah pasti Khilafah tegak. Itu … | Pemikiran.

33. Mereka mengetahui jika umat Islam sadar akan kekuatan agama dan ideology Islam akan bisa menyatukan kaum Muslim dan mampu menegakkan Khilafah. Dan itu juga … | Pemikiran.

34. Jadi, umat Islam dipecah belah oleh pemikiran maka disatukan kembali juga dengan … | Pemikiran.

35. Oleh sebab itu, jika ingin memahami fakta tentang konstalasi politik dalam dan luar negeri, harus dengan jeli dan harus dengan kecermelangan dan kejernihan … | Pemikiran.

36. Bukan dengan semangat saja, melihat darah dan senjata menjadi wah. Dan bukan begitu cara memahami alur peta politik luar negeri. Harus dengan mendalamnya pemahaman tentang fakta. Itu juga … | Pemikiran.

37. Itulah yang dikatakan sebagai politikus muslim yang ulung dan negarawan yang handal. Sebab dengan … | Pemikiran.

38. Itupula yang menyebabkan Hizbut Tahrir tidak bisa dipidanakan dengan alasan kekerasan atau sabotase dan teroris. Karena apa yang dibawah Hizb adalah … | Pemikiran.

39. Ingat, satu peluru menembus paling banyak dua kepala dengan Magnum Sniper Rifle Kaliber 7.62×51 mm NATO. Namun, dengan Dakwah memahamkan kaum muslim, satu ide, jutaan kepala bisa dirubah, itu terbukti dengan jumlah Hizb yang berkembang pesat. Itu juga … | Pemikiran.

40. Apa yang dibawa Rosul tentang Islam juga … | Pemikiran.

41. Bahkan, Dakwah adalah … | Pemikiran.

42. Jihad juga untuk menyebarkan … | Pemikiran.

43. Semua bersimpul dari … | Pemikiran.

44. Jadi, jangan hina dakwah yang mengedepankan persatuan kaum Muslim dengan tegakknya Khilafah melalui … | Pemikiran.

45. Maka, Khilafah akan tegak sebagaimana janji Rosul bahwa Khilafah yang kedua adalah sama persis seperti Khilafah yang pertama, dari mulai permulaan, perjuangan, penyebaran dan penerapan. Itu semua adalah … | Pemikiran.

#ReturnTheKhilafah
#Khilafahajaranislam

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget