Aku Iba Melihat Pejuang Demokrasi



Oleh: Nasrudin Joha


Pejuang demokrasi, Ia berkelana berkeliling kampung dan desa demi suara, ia terbiasa berjanji demi simpati, terbiasa berdusta demi massa, terbiasa dengan berbagai maksiat untuk mendulang suara. Kadangkala, ia menyihir massa dengan dunia, tidak jarang pula Ia menipu massa dengan untaian killah akherat.

Pejuang demokrasi, siang dan malam tersiksa. Setiap hari, HP nya dipenuhi pesan WA dan telpon dari pendukung. Ada yang minta dukungan bantuan Masjid Mushola, ada yang minta uang rokok, ada yang mengeluh anaknya sakit, ada yang meminta komitmen untuk anggaran saksi, ada yang melapor kaos dan antribut sudah jadi tetapi belum dibayar, ada yang meminta sumbangan untuk kegiatan pemuda, dan seterusnya. Semua ditumpahkan ada pejuang demokrasi.


Meja kerjanya, telah dihiasi setumpuk proposal permohonan bantuan. Untung saja proposal itu setiap bulan selalu dimusnahkan, jika di arsipkan mungkin tumpukannya bisa tinggi mencapai bulan.

Belum lagi, partai terus merongrong, meminta komitmen mahar, uang konsolidasi, uang ini dan itu. Pejuang demokrasi kepayahan, tertekan, tertindas, tapi tidak ada yang peduli.

Sementara itu, urusan keluarga sering diabaikan. Seluruh waktunya, nyaris habis untuk konsituen. Untuk mempersiapkan DP bagi masa, tidak jarang ada yang jual sawah, ladang, kendaraan, pinjam utang, Gadaikan perhiasan, dan apa saja yang bisa diuangkan. Pikirannya sederhana, nanti kalau menang semua dikembalikan.

Yang lolos, tidak otomatis lega. Ada peluang digugat, dipermasalahkan, dipersoalkan. Setelah menang, menduduki posisi jabatan, pejuang demokrasi sibuk mencari celah kebijakan untuk meraih keuntungan. Untuk bayar kaos, spanduk, yang saksi, atau yang sejenisnya.

Yang kalah, ada yang berujung di RSJ. Mereka butuh waktu lama untuk menyendiri dan berkontemplasi, untuk meyakini bahwa kenyataan ini benar-benar terjadi.

Ia harus percaya, hartanya telah habis. Ia harus sadar, sawah ladangnya ludes, kendaraannya terjual, ia harus sadar hutangnya menumpuk dan dia harus sadar dia kalah, tidak punya jabatan.

Memang, ada gula ada semut. Semua orang jadi mendekat jika pejuang demokrasi memenangkan kontestasi, semua pengusaha mendekat, proses tawar menawar proyek mulai dilakukan. Pejuang demokrasi, terus mencari peluang proyek pemerintahan untuk dijadikan balas jasa bagi cukong yang membiayai.

Saat ada teriakan massa menuntut suatu kebijakan, pejuang demokrasi tertindas, jiwanya menjerit. Ia tidak bisa memenuhi tuntutan rakyat, karena kakinya telah di tali para pemodal. Dia wajib berkhidmat pada pemodal, bukan kepada umat.

Namun, perlahan ada saja perkara yang menetas. Tinggal menunggu waktu, ada saatnya pejuang demokrasi menjadi tersangka KPK. Saat itulah, berangsur semua teman dan kenalan menjauh. Semua pura-pura tidak kenal, hanya keluarga yang meratap menemani, kadangkala ada juga yang ditinggal keluarganya.

Didunia, pejuang demokrasi dihinakan. Sementara setelah diakherat, ia ditanya malaikat. Dengan hukum apa kamu mengatur masyarakat saat didunia ? Dengan lemah dan lunglai, pejuang demokrasi menjawab: dengan demokrasi.

Malaikat pun marah, dan membentak : BUKANKAH MENERAPKAN HUKUM ITU HAK ALLAH ? LANTAS APA DALILNYA MENJADIKAN SUARA RAKYAT SEBAGAI SUMBER HUKUM?

Seketika, pejuang Demokrasi tertegun, diam dan ketakutan. Neraka jahanam apinya telah menyala-nyala menunggu melahapnya.

Kasihan sekali, di dunia pejuang demokrasi berebut kuasa, diakherat pejuang demokrasi menyesal mendapat banyak dosa karena kuasa yang diperolehnya, kuasa yang menyebabkan ia menerapkan hukum selain hukum Allah SWT.

Ia tidak bisa menyelamatkan keluarganya dengan kekuasaanya, kekuasaannya justru membenamkan dirinya jauh ke jurang api neraka. Kasihan sekali, iba sekali melihat pejuang demokrasi, ia rela bersusah payah untuk merengkuh api neraka. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget