Dimana Problemnya Puisi Sukma??



Moeflich H. Hart

Masalah puisi Sukmawati masih ramai dibicarakan dan saya merasa belum menulis maksimal. Saya belum menuliskan pandangan saya yg sesungguhnya. Ini menarik karena menyangkut hubungan seni dengan agama.

Dimana sesungguhnya problemnya puisi Sukma tentang Ibu Indonesia itu? Sebenarnya puisi itu indah, bagus dan feminim yang secara keseluruhan menggambarkan kelembutan dan keibuan Indonesia.

Lalu dimana masalahnya sampai jadi heboh, ada ketersinggungan umat dan ulama, ada pro kontra sampai ditarik ke masalah hukum, dilaporkan ke polisi dan akhirnya Sukmawati minta maaf secara terbuka.

Yang jadi masalah dari puisi itu adalah pengkaitannya dengan syariat Islam, yaitu perbandingan apalagi pengunggulan budaya lokal ketimbang syariat Islam pada dua bait kalimat ini:

1. "Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu."

2. "Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azanmu."

Apakah pengakuan Sukawati itu salah? Tidak. Itu pandangan pribadinya yang dia akui tidak tahu syariat Islam.

Apakah itu pelecehan agama? Tidak juga. Sebagai pandangan pribadi, dia sah saja merasakan seperti itu. Itu haknya dan tidak bisa disalahkan. Seperti orang melihat yoga lebih indah dari shalatnya umat Islam. Silahkan saja. Itu soal merasakan dan pengalaman.

Lalu, kalau begitu, dimana masalahnya? Jawabannya ada tiga:

Pertama, merendahkan dua simbol sakralitas agama di bawah simbol budaya lokal atau mengagungkan budaya lokal di atas simbol sakralitas agama: "Sari konde" di atas "cadar" dan "kidung" di atas "adzan."

Sakralitasnya bisa jadi perdebatan, karena cadar bukanlah wajib dan adzan faktanya banyak yang tidak nyaman didengar (suara tidak bagus, volume terlalu keras atau bacaannya salah).

Tapi, yang dilupakan Sukma dan para pembenar puisi itu adalah, menutup aurat dan adzan keduanya adalah perintah Tuhan yang itu doktrin ibadah dan derajat sakralitasnya tinggi. Ketika itu direndahkan dibawah budaya, apalagi budaya yang bernuansa Hindu seperti "sari konde" dan "kidung," disitulah keberagamaan kaum santri, umat dan ulama terusik.

Akan beda bila perbandingannya itu misalnya bukan dengan yang perintah Tuhan langsung, atau yang bukan bersifat ritual, ketaatan, ibadah atau bukan yang khas Islam.

Kedua, secara sosiologis, puisi itu dibacakan ditengah-tengah arus konflik Islam dan sekularisme sedang menguat belakangan ini. Umat sekarang sedang menggeliat, ada kebangkitan kesadaran agama, semangat politik Islam sedang menggelora, Ahok yang belum lama menista, ada gerakan 212, nuansa konflik pro Jokowi-Prabowo yang masih berlangsung, perasaan pemerintahan Jokowi yang dibajak asing dan terkesan anti Islam, pembiaran munculnya PKI, politik Cina yang makin hegemonik, ide khilafah yang dimusuhi, HTI dibubarkan, anarkisme pembubaran pengajian dll. Semuanya merajut bangunan persepsi bahkan keyakinan bahwa pemerintah sekarang ini anti Islam.

Nah, dalam konteks ketegangan politik inilah, puisi Sukma muncul yang dengan mudah akan dilihat sebagai rentetan sikap anti Islam. Karena itukah reasksinya keras.

Ketiga, yang membacakannya Sukmawati yang dalam konteks ketegangan itu, Sukma adalah orang sana, adiknya Megawati, PDIP, sayap nasionalisme sekuler.

Coba kalau yang membacakannya Syahrini atau Luna Maya, akan lain ceritanya. Minimal tidak setegang ini karena memandang Syahrini atau Luna Maya bisa menurunkan ketegangan urat syaraf!***

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget