Epistemologi Partai Setan



Oleh: Ahmad Sastra

Al Qur’an mengungkapkan istilah hizb yang artinya partai atau golongan. Partai adalah sebuah wadah atau organisasi yang berisi sekelompok orang dengan visi, aktivitas dan tujuan tertentu. Dalam kajian politik modern, partai adalah wadah politik yang memiliki visi misi memperjuangkan ideologi tertentu bagi negara dan rakyatnya.

Ruh dari sebuah partai adalah ideologi yang menjadi pijakan perjuangannya. Tidak ada partai yang netral di dunia ini. Semua partai secara subyektif pasti memiliki sistem pemikiran yang menjadi energi penggerak bagi anggota partainya. Mungkin ada ribuan partai di dunia ini. Di Indonesia, mungkin ada ratusan partai atau golongan, baik yang ikut pemilu, tidak bisa ikut pemilu maupun tidak ikut pemilu. Dari partai abal-abal hingga partai beneran.

Makna politik sendiri sangat luas, bukan sekedar terkait persoalan pemilu praktis. Dalam Islam, politik [siyasah] berkaitan erat dengan kepengurusan masyarakat. Siyasah Islam artinya upaya mengurus masyarakat dengan landasan hukum Islam. Maka dengan demikian, makna partai politik Islam menjadi mudah dipahami bukan ?.

Namun menarik apa yang diungkap Allah dalam Al Qur’an terkait dengan istilah hizb [partai] ini. Bagi Allah, partai itu hanya ada dua, yakni partai Allah [hizbullah] dan partai setan [hizbusyaiton].

Membahas dan memaknai partai setan harus dikembalikan kepada epistemologi Al Qur’an, sebab istilah partai setan adalah istilah yang ada dalam Qur’an. Hal ini untuk menghindari subyektifitas atas fakta dan realitas. Meski tentu saja partai setan itu memang ada, begitupun partai Allah.

Tulisan ini akan fokus pada ayat terkait dengan epistemologi partai setan berdasarkan al Qur’an. Perhatikan firman Allah terkait partai setan dalam Al Qur’an Surat Al Majadilah ayat 14-19 berikut :

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ?. Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. [14]

Allah telah menyediakan bagi mereka azab yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. [15]

Mereka menjadikan sumpah-sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka halangi (manusia) dari jalan Allah; karena itu mereka mendapat azab yang menghinakan [16].

Harta benda dan anak-anak mereka tiada berguna sedikitpun (untuk menolong) mereka dari azab Allah. Mereka itulah penghuni neraka, dan mereka kekal di dalamnya. [17]

(Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Allah lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta [18]

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi [19].

Dalam kitab ringkasan Tafsir Ibnu Katsir jilid 4 karya Muhammad Nasib Ar-Rifa’i halaman 634 – 637 secara rinci menjelaskan dan menggambarkan partai setan itu sebagai berikut :

Allah mengingkari orang-orang munafik yang batinnya menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka. Sedangkan mereka pada hakekatnya tidak bersama orang kafir dan tidak pula bersama orang-orang beriman.

Karakter kaum munafik ini sejalan dengan firman Allah surat An Nisaa ayat 143 : Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

Sebenarnya orang-orang munafik mengetahui bahwa mereka telah berdusta dalam sumpah-sumpah mereka, inilah yang disebut sebagai sumpah palsu. Apalagi lahir dari orang-orang munafik seperti itu mereka yang terlaknat itu. Kita berlindung kepada Allah dari sumpah yang seperti itu.

Sebab orang munafik jika bertemu dengan orang beriman mereka mengatakan kami telah beriman. Jika mereka bertemu Rasulullah, maka mereka bersumpah bahwa diri mereka telah beriman. Sedangkan mereka tahu bahwa mereka telah berdusta atas sumpahnya sendiri, sebab mereka sendiri tidak yakin akan ucapanya sendiri. Itulah sebabnya Allah bersaksi atas kedustaan mereka, keimanan, dan atas persaksian mereka terhadap hal itu.

Kemudian Allah mengancam kaum munafik dengan azab yang pedih disebabkan perwalian mereka kepada pemimpin kafir dan karena menjadikan orang kafir sebagai penasehat mereka serta pengkhianatan mereka kepada orang-orang beriman.

Kaum munafik selalu berdusta atas janji dan sumpah mereka. Mereka selalu menampakkan keimanan dan menyembunyikan kekufuran. Mereka melindungi dirinya dengan sumpah-sumpah dusta dan palsu. Kepalsuan inilah yang sering menipu dan menjebak bagi orang-orang yang tidak tahu hakekat kemunafikan, sehingga banyak yang justru mendukung dan membenarkan.

Maka wajar jika Allah murka kepada kaum munafik disebabkan mereka meremehkan sumpah-sumpah atas nama Allah dan watak pengkhianat yang mereka miliki. Oleh Allah seluruh kaum munafik dari pertama hingga kahir akan dikumpulkan tanpa tertinggal satupun untuk menerima azab yang pedih dan menghinakan.

Kaum munafik berani bersumpah atas nama Allah bahwa mereka berada di atas jalan petunjuk dan istiqomah, padahal mereka sedang berdiri di jalan setan dan akan dibangkitkan diatas jalan kesesatan itu. Mereka merasa akan mendapat manfaat dari Allah atas sumpah mereka sebagaimana mendapatkan manfaat dari manusia di dunia. Padahal mereka justru mendapat siksa yang pedih dan menghinakan dari Allah.

Terhadap kaum munafik, Rasulullah bersabda bahwa kelak akan datang seseorang yang melihat dengan dua mata setan, bila ia datang kepadamu, maka janganlah kamu berbicara padanya. Hadist ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Ibnu Abi Hatim.

Di akhir ayat Allah menegaskan akan kaum munafik,”Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan setan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan setan itulah golongan yang merugi”.

Dalam interpretasi saya, kaum munafik dengan demikian adalah golongan setan atau partai setan. Kemunafikannya meniscayakan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dan teman, serta watak jahat pengkhianatan mereka kepada orang beriman. Dalam teori modern partai setan ini bermakna partai sekuler. Partai sekuler adalah partai setan, maka waspadalah.

Lihatlah karakter partai sekuler yang isinya adalah orang-orang yang tidak mementingkan aqidah dan tauhid dalam perjuangannya. Siapapun akan diterima sebagai anggota asalkan mau memberikan manfaat. Memilih pemimpin bagi partai sekuler tidaklah dikaitkan dengan keimanan, meski kafir jika memberikan manfaat, maka akan diangkat sebagai pemimpin bahkan dijadikan sebagai penasehat.

Jika mendalami sinyal-sinyal dari Allah, kayaknya banyak ya partai di Indonesia yang berwatak munafik sekuleristik. Seluruh ucapan saat kampanye hanya dusta belaka, dusta dan terus berdusta. Partai sekuler telah dikuasai oleh paradigma setan, makanya namanya partai setan. Aktivitas partai sekuler hanyalah kedustaan, penipuan, pragmatisme dan pengkhianatan.

Semoga tulisan ini bisa memberikan semacam renungan bagi siapa saja yang kini terlibat dalam sebuah partai, golongan, ormas, ataupun organisasi apapun untuk tidak menjadikan sekulerisme sebagai asas gerakan. Sebab jika sekulerisme menjadi asas gerakan, maka bersiapkan akan diberikan predikat oleh Allah sebagai golongan atau partai setan. Partai setan telah dinanti oleh Allah dengan azab pedih dan menghinakan di akherat.

Jadi, partaimu apa mas bro ?

[AhmadSastra,19/04/18 : 14.45 WIB]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget