KONSISTENSI SEORANG PEJUANG

KONSISTENSI SEORANG PEJUANG Oleh: Nasrudin Joha Diantara ujian ideologi pengemban dakwah adalah tuntutan kemaslahatan yang diinginkan oleh sekelompok masyarakat, padahal tuntutan itu menyelisihi ideologi perjuangan. Tuntutan itu muncul bukan karena umat merendahkan pengemban dakwah, tetapi muncul atas kepercayaan yang besar kepada pengemban dakwah.


KONSISTENSI SEORANG PEJUANG


Oleh: Nasrudin Joha


Diantara ujian ideologi pengemban dakwah adalah tuntutan kemaslahatan yang diinginkan oleh sekelompok masyarakat, padahal tuntutan itu menyelisihi ideologi perjuangan. Tuntutan itu muncul bukan karena umat merendahkan pengemban dakwah, tetapi muncul atas kepercayaan yang besar kepada pengemban dakwah.

Tuntutan kemaslahatan itu diarahkan kepada pengemban dakwah agar ia mengikuti peta jalan umat, yang menurut pandangan umat adalah jalan terbaik menuju kebangkitan Islam. Cara umat memahami realitas politik secara cekak, menjadikan mereka membuat kesimpulan kemaslahatan tertentu yang diduga akan wujud untuk merealisir tujuan tertentu dengan jalan tertentu.

Contoh saja saat ini muncul seruan massif agar pengemban dakwah menceburkan diri pada kubangan lumpur hina demokrasi. Umat -dengan batas kadar pemahamannya- melihat ada kemaslahatan besar jika pengemban dakwah terlibat dalam pusara pertarungan politik demokrasi.

Logikanya sederhana, bahkan terlampau sederhana. Ikut pemilu, kuasai parlemen, terapkan syariat Islam. Jika tidak, maka kekuasaan akan didominasi orang jahat, orang kafir, dan akan digunakan untuk menindas umat Islam.

Pandangan sederhana ini, meski sudah penulis ulas Kemuskilannya dalam tulisan yang lain (IKUT PEMILU, KUASAI PARLEMEN, TEGAKKAN SYARIAT ISLAM, Sebuah Mantra Palsu Nun Menipu), namun secara faktual dapat dipahami karena disebabkan :

Pertama, ada kejengahan yang luar biasa mendalam yang dirasakan oleh hati dan pemikiran umat terhadap kedzaliman yang ditimbulkan oleh penguasa dzalim. Rasa "tidak enak ini" mendorong umat untuk segera bergerak dan memikirkan jalan perubahan.

Kedua, ada kepercayaan dan peluang besar pada diri pengemban dakwah baik dari sisi kapasitas, keikhlasan dan keistiqomahan. Umat melihat ini potensi besar dan memberi harapan pada umat untuk meraih tujuan masa depan dan kegemilangannya, setelah aktivis parpol sekuler tidak bisa diharapkan lagi.

Ketiga, pemahaman faktual yakni kesadaran yang terbangun atas penginderaan realitas politik demokrasi, menjadikan umat berkesimpulan bahwa jalan untuk merubah keadaan adalah dengan meraih kekuasaan melalui sistem demokrasi.

Disinilah ujian konsistensi seorang pejuang, ujian bagi pengemban dakwah. Seorang pejuang akan mengarungi lautan kehidupan dan medan dakwah, diantara banyaknya tuntutan dan celaan.

Akan banyak proposal-proposal yang ditawarkan umat atas pengemban dakwah untuk merealisir apa yang dipahami sebagai kemaslahatan. Saat itu, pengemban dakwah wajib menggenggam erat ideologi perjuangan dan mengabaikan tuntutan kemaslahatan umat.

Pengemban dakwah harus tetap konsisten dengan thariqoh dakwah Nabi, ketimbang memenuhi tuntutan umat menceburkan diri pada kubangan lumpur demokrasi.

Pada awalnya umat akan kecewa, dianggap tidak dihiraukan, merasa pejuang dan pengemban dakwah egois, sok paling paham politik, tidak mau bersinergi, menghalangi umat untuk menguasai kekuasaan demokrasi, membiarkan kekuasan dikerumuni oleh politisi dan orang-orang jahat.

Namun, kekecewaan dan kemarahan umat ini akan berlangsung sebentar saja. Dalam konteks demokrasi, kemarahan itu akan sirna selepas berakhirnya kontestasi politik baik Pilkada, pemilu atau Pilpres.

Realitas politik akan kembali kepada titik awal, yakni tidak mungkin merealisir misi penerapan syariat Islam dan tujuan kemaslahatan, hanya melalui ajang pilih pilihan, coblos coblosan.

Meskipun boleh saja dijelaskan realitas rusak demokrasi dan sejarah kelam pilih-pilihan, yang tidak menghasilkan apapun kecuali perubahan formasi rezim, tetapi penjelasan telak dan menohok adalah penginderaan pada realitas kekuasan yang tidak bisa merealisir apapun pasca pemilihan.

Disinilah ujian pengemban dakwah terhadap umat, ia dituntut untuk terus menjelaskan peta perubahan hakiki menuju penegakan syariah dan Khilafah, disaat umat menginginkan peta jalan yang lain.

Pengemban dakwah dituntut untuk selalu sabar, ridlo dan ikhlas berinteraksi dan melayani umat, betapapun umat belum sependapat tentang peta jalan perubahan.

Pengemban dakwah harus tetap terikat dengan thariqoh dakwah Nabi. Khilafah hanya bisa diraih dengan meneladani perjuangan Nabi. Pembinaan dan pengkaderan, berinteraksi dengan umat dan Tholabun Nusyroh. Itulah peta jalan yang Sahih, bukan berenang dalam kubangan lumpur demokrasi. [].
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget