Majelis Cinta Rasul: Tanpa Sanksi, Aturan Islam Tak Mungkin Efektif



Bandung,- Lampu merah di simpang jalan itu aturan. Namun orang itu akan lebih taat jika disampingnya ada orang pakai helm, kacamata, dan rompi hijau (baca:polisi) yang siap memberi sanksi. Ilustrasi tersebut digambarkan oleh Ustadz Asoed Abu Kayyis, Pimpinan Majelis Cinta Rasul dalam Peringatan Isra Miraj yang di gelar Majelis Roudhatul Jannah, Kota Bandung, pada Sabtu (14/4)

Menurutnya, ilustrasi tersebut berlaku dalam konteks aturan Islam. Misalnya, urusan Sholat yang pada peristiwa Isra Miraj diperintahkan. "Sholat itu akan tegak ketika bukan hanya diajarkan, namun akan tegak efektif dengan sanksi yang dijalankan jika tidak sholat", jelasnya.

Bukan hanya sholat, aturan-aturan Islam yang lain juga demikian. Menurutnya, penegakkan sanksi-sanksi yang dalam proses menjalankan aturan Islam adalah kunci efektifitas aturan. "Dengan adanya sanksi, aturan akan efektif", tegasnya.

Namun ia menambahkan, sanksi-sanksi yang berdasarkan syariat Islam tersebut membutuhkan peran negara yang mau menerapkannya. Negara tersebutlah yang disebut dengan Khilafah.

Katanya Harus Ikuti Ulama, Tapi Giliran Ulama Bicara Khilafah Tidak Mau

"Sebagian kalangan menyatakan bahwa umat Islam wajib mengikuti ulama. Namun, giliran diberikan pendapat soal wajibnya Khilafah menurut para ulama, justru menolak". Demikian fenomena yang didapati KH Ali Bayanullah, Pimpinan Mahad Darul Bayan Sumedang, pada Sabtu (14/4).

Fenomena tersebut ia dapati ketika menjumpai sebagian kalangan kaum Muslimin yang mengingkari perkara wajibnya Khilafah. Para pengingkar Khilafah, kerap berpendapat bahwa ajaran Khilafah tidak terdapat dalam al Quran.

Padahal, menurutnya, para ulama yang memberikan pendapat mengenai wajibnya Khilafah tentulah berpijak pada al-Quran. "Para ulama tak sembarangan. Mereka melakukan istinbath tentu berdasarkan al-Quran juga", jelasnya.

Bahkan, ia menekankan, untuk memahami wajibnya Khilafah berdasarkan al-Quran sangat sederhana. Dalam al-Quran, menurutnya, banyak perintah-perintah yang membutuhkan peran negara dalam penerapannya. Seperti perintah memotong tangan pencuri atau menjilid pezina. "Perintah tersebut adalah fardhu kifayah yang membutuhkan negara untuk menunaikannya", tegasnya.

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget