Mendag: Harga Beras Mahal, Tawar Dong? Menteri Dagelan!




Oleh: Nasrudin Joha

Ngaco ! Negeri seterah ! Negeri Antah Barantah ! Semua kengerian sudah pada titik paripurna ! Tidak ada satupun dari mereka yang disebut pemimpin, mampu mengeluarkan ujaran yang menentramkan. Semua kalimat yang keluar ajaib ! Ajaib menyakitkan hati, menyayat, melukai, menghinakan !

Menteri itu jika ditanya harga, seyogyanya menjelaskan kinerja. Paling tidak menjelaskan penyebab, apakah karena kurangnya stok, tingginya permintaan atau alienasi pasar. Kemudian bicara solusi, yang diawali dengan data stock nasional, rincian hambatan, serta langkah kongkrit.

Jika persoalan karena rendahnya stock, misalnya bisa diambil langkah intervensi pasar dengan menambah pasokan. Jika karena permainan sindikat kartel beras, misalnya melakukan kontrol dan monitoring distribusi serta pemberian sanksi. Dll.

Ini ditanya beras mahal kok jawabnya suruh tawar ? Sudah Nawar belum ? Ini menteri dagelan apa ? Mau menggarami lautan? Eh Pak menteri, jangankan beras yang harganya belasan ribu, bawang tiga siung saja ibu-ibu itu pasti nawar.

Ini persoalannya bukan pada tawar menawar, ini persoalannya ada pada ketidakbecusan pengelolaan stok pangan. Ini ketidakbecusan kinerja Anda Pak menteri ! Ngerti ?

Giliran ada permintaan tinggi Anda impor dari luar Negeri, siapa yang untung ? Rakyat ! Rakyatnya luar negeri. Giliran rakyat panen, ente tetep juga impor dari luar negeri, siapa yang untung ? Rakyat ! Rakyatnya luar negeri. Giliran mau Lebaran, ente solusi impor lagi. siapa yang untung ? Rakyat ! Rakyatnya luar negeri.

Ditanya data suplai pangan, tidak punya. Ditanya kalkulasi permintaan pangan, tidak punya. Apa kalau mau impor pertimbangannya suka-suka Gua ? Ente menteri, atau makelar impor ? Ente menteri WNI atau menteri WNC ?

Sudah terserah ! Impor saja semua ! Bilang saja agar rakyat mendapatkan harga murah. Tidak perlu analisis atau pertimbangan, tidak perlu juga minta rekomendasi kementrian yang lain, terus kebut isi pundi parpol !

Sebentar lagi Pilkada, pemilu, Pilpres, semua butuh amunisi untuk menyihir rakyat agar mendatangi bilik-bilik hipnotis. Mencoblos kertas yang tidak jelas apa fungsinya bagi kesejahteraan rakyat.

Rakyat dipaksa hiruk pikuk dan menyerahkan lehernya pada altar penyembelihan masal, mengambil darah aspirasi dan legitimasi, setelah itu digunakan untuk berpesta pora para garong, para mafia politik yang berdalih "UNTUK DAN ATAS NAMA RAKYAT".

Rakyat sendiri ? Sudah lah, hari-hari akan selalu menjadi korban keganasan kapitalisme demokrasi. Rakyat akan terus menjerit, sementara pejabat bersorak sorai dalam aksi gelamor pesta-pesta politik.

Tidak ada pilihan, tidak ada jalan, ganti rezim ganti system. Campakkan Sekulerisme demokrasi, tegakkan Syariah & Khilafah.

Khilafah akan melahirkan pemimpin-pemimpin laksana Abu Bakar Asy Sidiq, Umar bin Khatab, Ustman Bin Affan. Mereka adalah pemimpin yang tidak bisa tidur memikirkan rakyatnya.

Mereka, selalu detail dan rinci mengurusi urusan rakyatnya, sampai urusan mahar saja mereka buat kebijakan terhadapnya. Mereka, mencintai dan menyayangi rakyat bahkan lebih dari keluarga mereka sendiri.

Ya Allah, betapa kami rindu pemimpin seperti itu. Pemimpin yang akan membimbing kami taat kepadamu, mencukupi seluruh urusan kehidupan kami, melindungi kami dan memberikan ketentraman, rasa aman dan keadilan. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget