Partai Allah dan Partai Syetan, Mana Yang Harus Ditakuti?

Partai Allah dan Partai Syetan, Mana Yang Harus Ditakuti? Pagi itu Nasrudin Joha hatinya berbunga. Di pagi yang cerah, Sang Istri telah menghidangkan kopi kapal api nikmat dan kerupuk Selondok lezat.

Pagi itu Nasrudin Joha hatinya berbunga. Di pagi yang cerah, Sang Istri telah menghidangkan kopi kapal api nikmat dan kerupuk Selondok lezat.

Pagi itu Nasrudin Joha hatinya berbunga. Di pagi yang cerah, Sang Istri telah menghidangkan kopi kapal api nikmat dan kerupuk Selondok lezat.

Seruput...PYAR, ah...sueger tenan. Seruputan kopi terdengar nyaring, sesekali riuh gemuruh suara kerupuk yang dikunyah memecah keheningan pagi.

Suara motor Butut dari kejauhan beringsut mendekat. Suaranya meledak ledak, asap hitam mengepul dari ujung kenaplot. Pastinya itu bukan motor Dilan.

Motor itu sendirian, tanpa pengawal, tanpa vlog, tanpa selvie. Tidak ada lensa kamera yang menemani. Ya, itu motor milik abu Nawas.

Sedari dulu abu Nawas tidak mau mengganti motornya. Katanya sich mau menghindari gemerlapnya dunia, asal ada kendaraan. Satu manuver alasan yang cantik, dibalik kenyataan yang ditutupi. Ya, abu Nawas tidak punya duit untuk beli motor baru.

Betapapun demikian, abu Nawas termasuk yang mawas diri. Ia tidak merasa risih dengan pertanyaan koleganya, atau mertuanya, yang melihat ekonomi keluarga abu Nawas tidak pernah merangkak naik. Mirip ekonomi bangsa ini. Stagnan.

Namun abu Nawas tak mau bersolek citra, menumpuk bedak kepura-puraan. Ia tidak mau dianggap sukses atau kaya, dengan kredit ribawi untuk menutupi berbagai kebutuhan keluarganya.

Terlihat, betapa abu Nawas menikmati kesahajaannya. Yang jelas, sebagaimana Nasrudin Joha, abu Nawas adalah hamba yang taat. Dan ketaatan itulah, yang membuat persahabatan mereka langgeng. Mereka bagaikan Upin dan Upin, dua sejoli yang selalu setia menemani.

Abu Nawas : "Assalamu'alaikum.."
Nasrudin Joha: "Waalaikumsalam ..tafadhol ya akhi, Silahkan masuk".

Seperti biasa, keduanya Cipika cipiki, persis tinky winky, Lala, dipsy dan po. Kemudian keduanya duduk dan asyik dalam perbincangan.

Abu Nawas :
"ya akhi, bagaimana kondisi politik negeri saat ini ? Hamba melihat, ketegangan politik dibalik senyum renyah ketum partai begitu terlihat. Apalagi, polaritas partai Allah dan Partai setan, tampaknya akan membelah preverensi politik umat. Dari sini, juga muncul kekhawatiran partai akan ditinggalkan umat".

"Pada saat yang sama, antar partai juga saling berebut pengaruh untuk menangguk porsi RI 2. Semua saling klaim sebagai pihak yang paling layak mendampingi Dilan".

Nasrudin Joha:

"Benar akhi. Nampaknya isu partai setan dan partai Allah ini akan memekakkan telinga politisi setan. Sebab, jika diskursus setan ini diteruskan mereka akan kesetanan. Persiapan materi kampanye ndakik-ndakik, akan hancur diterpa isu partai setan".

"Partai partai sekuler, akan merasa pada posisi sebagai partai setan. Faktanya, mereka memang tidak pernah mengusung ide Islam dalam kampanye mereka. Tentu saja, semua yang menjauhkan umat dari syariat Islam itu ide setan".

"Namun, tidak berarti partai yang mengklaim Islam atau berbasis masa Islam itu partai Allah. Jika dalam aktivitas justru menentang syariat Allah, bisa saja mereka terkategori partai setan. Misalnya, Allah mengharamkan pemimpin kafir, tapi partai malah mendukung pemimpin kafir. Nah, yang begini bisa saja disebut partai setan, karena berani menentang syariat Allah".

"Partai Islam juga, bisa diklaim partai setan jika mereka berjibaku membela demokrasi dan mengesampingkan tuntunan syariat. Mereka menjadikan kedaulatan rakyat untuk memproduksi hukum dan perundangan. Khamr diharamkan, tapi partai ikut mengadopsi perundangan yang membolehkan minuman alkohol, meski dengan pengaturan tertentu".

"Atau partai ini, justru menentang opini penegakan syariat Islam dalam naungan Khilafah. Nah, yang beginian bisa jatuh menjadi partai setan, meski atributnya Islam. Jadi, penting bagi umat untuk memperhatikan mana partai setan, mana partai Allah, agar tidak ikut amaliyah partai setan".

"Kalau didunia ikut amaliah setan, di akherat pasti dikumpulkan dengan setan. Di neraka !".

Abu Nawas :
"Itu dia akhi, hamba melihat umat dinamika politik ini harus jeli. Hamba khawatir, umat terperosok pada agitasi partai partai setan".

Nasrudin Joha:
"Tidak perlu khawatir, umat sudah cerdas. Umat sudah paham, mana partai setan mana partai yang memperjuangkan syariat Allah. Umat juga sudah paham, demokrasi itu ajaran nafsu, bukan berasal dari wahyu. Sesuatu yang kekuar dari akal dan nafsu, cenderung dekat dengan setan".

"Maka umat harus fokus mendukung partai yang memperjuangkan syariat Islam, Khilafah Islamiyah, mengibarkan panji Rasulullah, panji Islam. Bukan panji panji Jahiliah".

Abu Nawas terlihat manggut manggut tanda paham dab setuju. Ketika abu Nawas melihat Nasrudin joha perhatiannya sedang mengawasi matahari pagi yang bersinar, segera saja secepat kilat abu Nawas meraih stoples kerupuk Selondok dan menikmatinya. [].
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget