Udah Ngopi Belum?, Ngopi Yuk!



Oleh Ahmad Sastra

Ngopi yuk, udah ngopi belum ?. Jika direnungkan sejenak, maka kata-kata itu sekarang sedang jadi booming ya. Baik pagi, siang maupun malam ajakan untuk ngopi selalu menggema he he. Ngopi napa, jangan diem aje, tuh kan ngajak ngopi lagi. Silahan baca tulisan ini sambil duduk santai dan ngopi, sebab saya mau ngajak ngopi yang lain, yakni NgoPI : Ngobrol Pemikiran Islam. Baca ya, jangan bosan.

Apakah hari ini kita sudah berfikir. Apakah kita paham, apa itu berfikir ?. Salah satu ciri khusus manusia adalah kemampuan berfikir. Kemampaun berfikir pada manusia menjadi kelebihan manusia dibandingkan dengan makhluk Allah lainnya. Kemampuan berfikir ini disebabkan manusia memiliki potensi esensi yang bernama akal.

Dalam pandangan Syeikh Taqiudin An Nabhani, seorang ulama sekaligus ideolog mengemukakan bahwa berfikir itu ada tiga tingkatan : pertama, berfikir dangkal yakni melihat alam semesta dengan berbagai gejalanya sebatas fenomena alam yang berdiri sendiri. Pikiran dangkal hanya melihat sebatas empirisme dan inderawi.

Obyek yang diindera dilihat sebagai material belaka. Ideologi materialisme komunis sosialis melihat alam semesta dalam pandangan dangkal ini. Hasilnya kaum sosialis materialis melihat gejala perubahan alam semesta sebagai gejala alamiah melalui mekanisme evolusi yakni perkembangan dan perubahan alam dalam jangka waktu lama tanpa ada skenario kekuatan yang lain.

Contoh pemikiran dangkal adalah apa yang diungkap oleh ilmuwan ateis yang baru saja meninggal : Stephen Hawking. Dalam buku A Brief Story Of Time, Hawking menegaskan prinsip ateistiknya dengan melontarkan teori singularitas gravitasi yang menyatakan empat prinsip utama yakni tuhan sejatinya tidak ada, bukan tuhan yang menciptakan alam semesta, surga dan neraka hanyalah dongeng semata dan manusia sejatinya bisa hidup kekal. Meski seorang fisikawan terkenal, namun Hawking berfikir dangkal tentang alam semesta.

Itulah mengapa kaum sosialis menamakan dirinya sebagai ateis, yakni tidak mempercayai eksistensi Tuhan yang maha mencipta. Jika dikaji lebih mendalam ilmu-ilmu sosiologi, antropologi, biologi, dan sejenisnya merupakan derivasi dari pemahaman sosialis komunis ini.

Sosiologi, antropologi dan biologi jika tidak dikaitkan dengan relasi dan relevansi eksistensi Tuhan, maka ilmu-ilmu itu berasal dari paradigma materialisme, ateisme, sosialisme dan komunisme. Karena jika ada usaha para ilmuwan muslim untuk melakukan islamisasi sains menjadi dapat dimengerti.

Pertanyaannya adalah apakah ilmu-ilmu tadi telah diajarkan di sekolah-sekolah dalam paradigma Islam atau masih murni sekuler dan ateis, padahal murid-muridnya adalah muslim. Apakah pengajaran ilmu-ilmu sosial dan saintifik telah memberikan dampak positif bagi peningkatan keimanan dan ketaqwaan para siswa atau malah sebaliknya. Yang terjadi adalah sebaliknya, pengajaran sains telah dipisahkan jauh dari agama, namun didasarkan paradigma Barat yang sekuleristik dan ateisitik. Pengajaran sains di sekolah menengah dan atas bahkan tidak pernah dikaitkan dengan sejarah sains itu sendiri.

Kedua berfikir mendalam yakni berfikir bukan sekedar empirisme dari apa yang terindera, melainkan memikirkan juga hakekat dibalik realitas yang ada. Dari cara berfikir inilah lahirnya ilmu filsafat bisa ditelusuri jejaknya. Karena itu berfikir filsafat bisa dikatakan berfikir yang mendalam. Berfilsafat berarti mencari kebenaran dan hekekat dibalik realitas yang empirik atau inderawi.

Tentu saja berfikir mendalam ini instrumen utamanya adalah akal manusia yang nota bene sangat terbatas. Pertanyaannya adalah apakah dengan berfikir filsafat akan mendapatkan hakekat kebenaran, tentu tidak bisa sama sekali. Filsafat tidak akan pernah membawa manusia pada tujuan hakiki dari adanya realitas ini. Apa buktinya ?.

Buktinya para filosof yang menjadi penggagas filsafat adalah orang-orang tak beragama. Dinyatakan oleh Zainal Arifin Abbas dalam buku Perkembangan Pikiran Terhadap Agama halaman 13 bahwa para filosof seperti Plato dan Aristoteles bukanlah kristen, Islam maupun beragama lain. Mereka hanyalah merasakan dan meyakinkan dan memikirkan sedalam-dalamnya, seluhur-luhurnya bahwa tentu harus ada Yang Satu, Yang Maha Esa yang meliputi dunia dan alam.

Bagaimana jika ada gerakan ilmuwan muslim yang kemudian menggagas idiom filsafat Islam ? Tepatnya apakah ada ilmu yang bernama filsafat Islam itu ? Istilah filsafat Islam adalah soal interpretasi epistemologi belaka dan karenanya masih menimbulkan kerancuan (confius).

Ketiga berfikir cemerlang yakni melakukan penginderaan terhadap semua realitas alam semesta lantas mengkaitkan dengan keberadaan Allah SWT sebagai sang pencipta. Pemikiran cemerlang adalah pemikiran yang benar dan akan meningkatkan keimanan seorang ilmuwan. Pemikiran cemerlang (al fikru al mustanir) selain akan menghasilkan hakekat kebenaran realitas juga akan menjadikan pemikirnya mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan.

Pemikiran cemerlang akan memberikan pencerahan bagi manusia. Islam telah meletakkan pondasi yang kokoh di bidang metode berfikir ini yang jelas bertentangan dengan metode berfikir ala filsafat yang justru akan menimbulkan berbagai kerusakan kehidupan manusia. Pemikiran Islam inilah yang paling benar dan paling unggul dari dua pemikiran sebelumnya.

Metode berfikir Islami akan melahirkan kebangkitan hakiki yakni terangnya kebenaran sebagai pondasi peradaban manusia yang mulia. Adapun filsafat sebaliknya akan melahirkan keterpurukan dan kemunduran karena pondasinya adalah sekuleristik dan ateistik. Filsafat mendasarkan akal dan pengetahuan manusia sebagai basis kebenaran sedangkan Islam mendasarkan kebenaran akal dan wahyu sebagai landasan berfikir dan membangun peradaban manusia.

Islam layak menjadi solusi bagi kehidupamn manusia di dunia, bukan filsafat dengan semua turunnnya seperti kapitalisme, sekulerisme, demokrasi, HAM, liberalisme, empirisme, rasionalisme, pragmatisme, feminisme, dan sejenisnya. Isme-isme itu lebih layak disebut sebagai ayat-ayat setan dibandingkan metode berfikir.

Saat manusia beranjak baligh, salah satu tandanya mulai sempurna akal untuk melakukan tindakan berpikir. Semenjak itu pula mulai berpikir tentang keberadaan dirinya di dunia ini. Ia mulai berpikir tentang pertanyaan mendasar dan berusaha menemukan jawabannya. Tiga pertanyaan mendasar itu adalah : Dari manakah asal manusia ?. Untuk apa manusia hidup ?. Hendak kemana setelah mati ?.

Bila pertanyaan ini terjawab maka seseorang akan memiliki landasan kehidupan sekaligus tuntunan dan tujuan hidupnya. Selanjutnya ia berjalan dalam kehidupannya, berpikir, berbuat, dan berinteraksi dengan landasan tersebut.

Landasan kehidupan untuk sebagai tuntunan bertindak dan bersikap seseorang inilah yang disebut sebagai aqidah. Bagi seorang muslim tentu yang menjadi landasan berfikir dan bertindak adalah aqidah islamiyah yang bermuara pada tauhid kepada Allah SWT. Hakekat aqidah adalah keterikatan seseorang pada sebuah aturan yang diyakininya.

Ada suatu kaum menjawab tiga pertanyaan mendasar tadi dengan jawaban ‘ bahwa kehidupan dunia ini ada dengan sendirinya, manusia berasal dari tanah dan kelak akan kembali lagi menjadi tanah atau materi. Dari jawaban ini, maka berakibat manusia berorientasi materialisme semata. Kaum model ini akan hidup dengan aturan yang dibuatnya sendiri, standar baik-buruk dan kebahagiaan sesuai kehendaknya sendiri, kaum ini akan berbudaya, berekonomi, berpolitik, berinteraksi satu sama lain untuk mencapai visi pragmatisme dan materialisme belaka.

Islam secara tegas menjawab tiga pertanyaan mendasar ini bahwasanya dibalik alam dan kehidupan ini ada sang pencipta yaitu Allah swt yang menciptakan seluruh alam, tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah menjadi hamba Allah dan kelak setelah mati akan kembali kepada Allah dengan adanya kehidupan akherat. Jadi manusia diciptakan Allah, hidup di dunia dengan aturan Allah dan kelak di akherat akan ada pertanggungjawaban, apakah masuk surga atau neraka.

Obyek berfikir adalah tiga dimensi empiris yakni manusia, kehidupan, dan alam semesta. Ketiga obyek ini bersifat terbatas, lemah, dan saling membutuhkan satu sama lain. Ciri-ciri seperti ini menunjukkan sebagai makhluk, dan keberadaan makhluk ini tidak mungkin ada dengan sendirinya, pasti ada yang mengadakannya, membuatnya, atau menciptakannya. Maka wajib adanya sang pencipta atau sang khaliq yang menciptakan manusia, kehidupan, dan alam semesta.

Alkisah seorang arab badui tatkala ditanyakan perihal “Dengan apa engkau mengenal tuhanmu?”. Dijawab arab badui “Kotoran unta menunjukkan adanya unta dan bekas tapak kaki menunjukkan pernah ada orang yang berjalan.” Oleh karena itu, ayat-ayat Al Qur’an banyak menerangkan dan mengajak manusia untuk memperhatikan segala ciptaan Allah swt.

Firman-Nya dalam surat al Jaatsiyat ayat 3-4: “Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al Jaatsiyat: 3-4)

Sesungguhnya bagi setiap manusia yang menggunakan akal, hanya dengan perantaraan wujud benda-benda yang dapat diinderanya, ia dapat memahami bahwa dibalik benda-benda itu terdapat pencipta yang telah menciptakannya. Dengan memahami bahwa semua benda-benda tadi yaitu manusia, kehidupan dan alam semesta bersifat terbatas, lemah, dan saling ketergantungan, maka semua hanyalah makhluk.

Untuk membuktikan adanya Allah yang Maha pencipta, sebenarnya cukup hanya dengan mengamati segala sesuatu yang ada di alam semesta, kehidupan, dan di dalam diri manusia itu sendiri. Firman Allah swt “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan, dan langit bagaimana ia ditinggikan, dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, dan bumi bagaimana ia dihamparkan” (QS. Al Ghasyiah: 17-20)

Maka terjawab dari mana asal manusia, kehidupan, dan alam semesta, yaitu semuanya sebagai makhluk, hamba yang diciptakan oleh Allah.

Seorang muslim mengimani bahwa kehidupan di dunia akan musnah dan berakhir, kemudian berganti dengan kehidupan kedua di alam akhirat. Keyakinan ini merupakan bagian dari rukun iman, bukti-bukti keimanan adanya hari kiamat adalah dalil naqli (al quran dan hadist mutawatir) bukan dalil aqli. Sebab hari kiamat adalah sesuatu yang tidak terjangkau panca indera manusia.

Tanpa ada berita tentang hari kiamat dari wahyu Allah, maka manusia tidak mengetahui apakah ada atau tidak hari kebangkitan sesudah kematian, serta bagaimana bentuk kehidupan sesudah kematian itu ?. Firman Allah : “Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak dibangkitkan. Katakanlah,”Tidak demikian, demi Tuhanku, kalian benar-benar pasti dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Hal demikian adalah mudah bagi Allah”. (QS. At Taghabun: 7)

Manusia selalu bertanya kapankah terjadinya hari kiamat. Sesungguhnya hanya Allah yang tahu dengan pasti dan tepat kapan terjadinya. Allah swt berfirman: “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, “Bilakah terjadinya? Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada sisi Rabbku. Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu ada di sisi Allah. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al A’raf: 187).

Pada hari perhitungan/hisab, segala amal perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Sejak Nabi Adam as hingga makhluk terakhir. Manusia yang jumlah dosanya lebih banyak daripada amal kebajikan, mereka pasti disiksa dalam neraka. Sedangkan jika amal kebaikan lebih banyak dari perbuatan buruk mendapat balasan kenikmatan surga.

Firman Allah swt : “Dan setiap manusia itu telah kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami berikan kepadanya pada hari kiamat sebuah kitab (catatan amal perbuatan) yang dijumpainya terbuka: ‘Bacalah kitabmu. Maka cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab” (QS. Al Israa: 13-14)

Maka pertanyaan ketiga pun terjawab, kemana manusia setelah kehidupan dunia? yaitu dunia dan alam semesta dimusnahkan pada hari kiamat dan dibangkitkan kembali pada hari kebangkitan yaitu hari akherat, hari penghisaban atas segala perbuatan manusia selama hidup di dunia. Manusia akan masuk neraka atau surga.

Oleh karena itu kita wajib beriman kepada kehidupan sebelum dunia, yaitu adanya Allah swt dan proses penciptaan makhluk-Nya. Serta beriman kepada kehidupan setelah dunia yaitu hari akhirat. Keterangan ini merupakan tali penghubung kehidupan dunia saat ini dengan kehidupan sebelumnya, juga menjadi tali penghubung kehidupan saat ini dengan kehidupan sesudah dunia.

Karenanya manusia memiliki amanah menjalani kehidupan dunia saat ini terikat dengan peraturan Allah swt yaitu syariah Islam sehingga pada kehidupan akherat hari penghisaban amal perbuatannya dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Syariat Islam itu sempurna meliputi seluruh aspek kehidupan sekaligus sebagai solusi terhadap segala permasalahan manusia di dunia. Tugas manusia di dunia adalah ibadah dimana seluruh pola fikir dan pola sikapnya harus terikat dengan hukum syara’, bukan hukum manusia.

Seorang dikatakan kafir adalah jika membangkang seluruh aturan dan hukum Allah. Dikatakan munafik adalah jika mengaku beriman akan tetapi menerapkan hukum manusia. Kemunafikan lebih buruk dari kekufuran, karena dia bisa menikam orang beriman dari belakang dan bermesraan dengan orang kafir. Orang munafik itu mengaku beriman akan tetapi mendukung dan menerapkan ideologi thaghut demokrasi sekuler dalam berpolitik serta menolak dan menjegal penerapan sistem Islam.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya [QS 4 : 60]

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. [QS 4 : 61]

Seorang dikatakan muslim jika tunduk dan patuh terhadap seluruh aturan Allah dan membuang seluruh aturan manusia serta berjuang mewujudkan kehidupan Islami. Lihatlah bagaimana Rasulullah memulai dakwah Islam kepada masyarakat hingga menerapkan syariat Islam kaffah di negara Madinah. Begitupun kita sebagai umatnya, ikutilah Rasulullah, titik.

Allah berfirman “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al Hasyr: 7) [AhmadSastra,22/04/18 : 10.25 WIB].
Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget