Aku Iri Melihat Pejuang Khilafah



Oleh: Nasrudin Joha

Hatinya ridlo dengan ketetapan Tuhan-Nya,a jiwanya tenang sebab keyakinan atas janji-Nya, fikirannya tenteram menapaki thariqoh jalan perjuangan yg telah dicontohkan Nabinya. Ia berdiri Tegap, melangkah mantap, tidak terusik dengan gemerlapnya dunia, tidak berpaling karena remah-remah kekuasaan yang menipu, visinya jelas, meraih ridlo-Nya, misinya tegas : melanjutkan kehidupan Islam dengan menerapkan hukum Allah SWT melalui penegakan institusi daulah Khilafah.

Ia tidak pernah merasa kecil karena celaan, tidak pula lupa daratan karena pujian. Dihadapannya, ada dua keutamaan yang selalu menambah perbendaharaan pahala. Sabar dalam ujian dan syukur atas karunia-Nya.

Lisannya ringan menyampaikan kebenaran, ujarannya tegas membongkar makar penguasa antek dan para begundalnya. Dia tidak memiliki kepentingan akan dunia, maka siapapun yang ingin membelokan jalannya niscaya kecewa dan mendapati kegagalan.

Pikirannya terikat dengan ruh, kesadaran akan hubungannya dengan Allah SWT. Ia sadar, dirinya adalah makhluk, Allah SWT selalu mengawasinya, tidak ada satupun urusan hingga sebesar biji sawi, kecuali Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban.

Atas kesadaran Ruh, dirinya selalu terikat dengan syariat. Baik sendiri maupun bersama yang lain, baik saat suasana ramai atau didalam keheningan, baik saat dirundung duka nestapa atau dalam bingkai kebahagiaan, ia selalu sadar bahwa hidup berasal dari Allah, didunia mengabdi kepada Allah, dan kelak pasti kembali kepada Allah.

Ia tegar menapaki jalan perjuangan, menegakkan daulah Khilafah kedua yang dijanjikan, menyongsong Nasrulloh, mengembalikan kejayaan Islam, mengembalikan kemuliaan kaum muslimin.

Pejuang Khilafah, tidak pernah merasa resah. Ia ridlo dengan apa yang telah ditetapkan Tuhan-Nya. Ia tidak tergiur, dengan gemerlapnya godaan kekuasaan, tawaran untuk berhimpun dan berbagi kekuasaan dalam sistem demokrasi sekuler.

Seluruh kelapangan atau kesempitan hidup, bukanlah sebab yang membuatnya bersemangat atau melemah. Seluruh urusannya, telah diserahkan pada Tuhan-Nya. Ia berfokus menolong Agama Allah, sedang urusannya telah diserahkan kepada Allah sebaik-baik pemberi pertolongan.

Is berjuang bukan hanya untuk dirinya, Ia berjuang untuk anak, istri dan keluarganya. Ia memburu Syahid dan berharap bisa mengajak 70 anggota keluarganya menuju surga.

Pejuang Khilafah tidak takut pada kelaparan, kemiskinan dan kematian. Kematian, adalah janji dari Tuhan-Nya. Pintu, menuju gerbang surga yang telah dihamparkan.

Saat kematian menjemput, malaikat tersenyum gembira menyambutnya. Seraya berkata :

"Duhai jiwa yang engkau ridlo pada Rabbmu dan Tuhanmu pun telah meridloimu. Kembalilah pada ridloNya dan kebahagiaan abadi. Surga telah dihamparkan, untukmu dan keluargamu sebagai balasan atas keteguhan iman dan pengorbanan".

Ya, demikianlah hakekat perjuangan bagi pemburu ridlo Illahi. Sesungguhnya, kehidupan didunia laksana taman-taman surga baginya.

Ia tegar, sabar, dan terus Istiqomah melakukan pembinaan umat, membongkar makar penguasa jahat dan para anteknya, serta berfokus membangun koalisi umat - militer, untuk serius dan sungguh-sungguh menegakkan kedaulatan syara', menegakan daulah Khilafah.

Demikianlah, bagi siapa saja yang mencoba menghalangi pejuang Khilafah pasti akan kalah dan binasa. Bagi siapa saja yang mencoba membelokkan arah perjuangan dengan iming-iming dunia, pasti akan sia-sia.

Karenanya, bagi siapa yang iri dan ingin menjadi bagian pejuang Khilafah, mendekatlah, bergabunglah. Sungguh, tenggat waktu perjuangan sebelum berdirinya Khilafah tinggal sedikit lagi, jangan sampai Anda menjadi pejuang Khilafah, padahal Khilafah sudah tegak berdiri. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget