Amirul Jihad Daulah Khilafah



Oleh: Nasrudin Joha


Amirul Jihad adalah gelar untuk seorang yang memimpin militer daulah Khilafah. Militer dalam Islam memiliki fungsi utama mengemban jihad, untuk menopang dakwah Islam keseluruh penjuru alam.

Jihad adalah perang di jalan Allah untuk meninggikan agamanya, menundukan kekufuran dan membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk menuju menghamba pada Allah semata.

Jihad dalam Islam sifatnya ofensif, menyerang. Adapun jihad bertahan (defensif), adalah pengkhususan ketika daulah Khilafah diserang musuh. Hukum asalnya kaum muslimin mendatangi negeri-negei yang hendak dibebaskan dengan perantaraan jihad.

Jihad, tidak dilakukan kecuali dakwah telah memasuki negeri yang hendak ditaklukan. Jika dakwah diterima, negeri ditundukan dan disatukan (unifikasi) secara ridlo dalam satu kesatuan entitas Khilafah, maka jihad tidak perlu lagi dilakukan.

Jika negeri yang hendak ditaklukan, mengambil opsi damai, mengadakan perjanjian dengan daulah Khilafah, dan mau tunduk membayar jizyah, maka jihad juga ditangguhkan.

Tetapi jika suatu negeri menentang dakwah, memusuhi Islam dan kaum muslimin, mengumumkan penentangan kepada daulah Khilafah, maka Amirul jihad yang telah mendapat perintah dan pengumuman perang dari Khalifah, seluruh tentara kaum muslimin tawakal kepada Allah, menyiapkan seluruh skenario dan strategi penaklukan, untuk berjihad (perang) menaklukan negeri musuh.

Perang dilakukan, dengan batasan: tidak membunuh wanita, orang tua, anak-anak, tidak merusak fasilitas publik dan mencederai sipil. Perang hanya ditujukan kepada tentara dan milisi negara musuh, yang mengumumkan penentangan terhadap daulah Khilafah.

Untuk menopang misi jihad, industri negara Khilafah dibangun diatas asas perang. Sebab, hubungan asal antara daulah Khilafah dengan Darul harbi adalah hubungan perang. Perdamaian dan penaklukan adalah pengecualian, jika negara tidak berdamai, tidak pula menyatukan diri dengan daulah Khilafah, maka negara tersebut berstatus perang (Darul Harb), yang setiap saat bisa melakukan penyerangan terhadap Khilafah, Khilafah juga setiap saat sah melakukan jihad untuk menundukanya.

Asas perang ini, mewajibkan seluruh industri yang berada didaulah Khilafah, baik yang dikelola negara atau swasta, wajib dibangun diatas asas perang. Maksudnya, jika industri dibutuhkan untuk menopang kemampuan perang, maka industri tadi harus fokus untuk memproduksi peralatan perang.

Contoh nya industri besi baja, pada keadaan normal industri besi baja boleh menjual produk atau melakukan proses penggunaan besi dan baja untuk perkakas publik, seperti untuk industri mobil, perkakas rumah tangga, rangka beton jembatan, dan yang semisalnya.

Namun, jika dalam kondisi perang dan strategi perang mewajibkan dibangun banyak senjata mesin serbu, tank, kapal perang, atau peralatan tempur lainnya, maka industri besi baja ini wajib mensuplai kebutuhan bahan baku industri peralatan perang, dan tidak boleh menjual produknya untuk industri rumah tangga, kecuali kebutuhan industri bahan baku besi baja untuk alat perang telah terpenuhi.

Demikian juga industri lainnya, industri garmen, makanan olahan, bahan bakar minyak, jika negara dalam keadaan perang dan membutuhkan logistik perang, maka seluruh industri tadi wajib menopang kebutuhan logistik perang. Tidak boleh ada industri, yang mengutamakan suplai untuk urusan lain, kecuali telah memenuhi kebutuhan logistik perang.

Adapun militer daulah Khilafah diisi tentara reguler dan tentara cadangan. Tentara reguler, adalah militer negara yang direkrut, dilatih, diangkat menjadi tentara dan digaji negara. Tentara cadangan, adalah seluruh warga negara Khilafah baik yang muslim maupun ahludz dzimah.

Ketika Khalifah, melihat pertempuran tidak cukup mengandalkan militer reguler, maka Khalifah menyeru seluruh kaum muslimin, seluruh warga daulah Khilafah sebagai tentara cadangan, untuk berperang membela daulah Khilafah. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget