Dilan Berada di Kubangan Lumpur Hidup




Oleh: Nasrudin Joha


Nasib kekuasaan Dilan sudah sakratul maut, Dilan berdiri dikubangan lumpur hidup. Dia diam, perlahan lumpur itu akan menenggelamkannya. Dia bergerak, lumpur itu lebih cepat lagi melahapnya.

Jika saja, tangan-tangan kekuasaan tidak menopangnya, memegangnya agar tetap berdiri, niscaya Dilan sudah jatuh tenggelam. Tangan-tangan itu, adalah penguasa real di negeri ini. Tangan-tangan itu, yang mendudukan Dilan di kursi kekuasaan dan terus menopangnya. Dilan, dijadikan boneka untuk merealisir misi kekuasaan sesungguhnya.

Belum lama ini Dilan bicara tentang kalajengking, bukannya menginspirasi pernyataan ini justru banjir caci maki. Rezim Dilan memang karib dengan binatang-binatang aneh. Sebelumnya ada keong sawah, ada kecebong, ada kodok, ada cacing sarden, terakhir kalajengking.

Di akun resminya, setiap update postingan Dilan ditanggapi negatif. Dilan mau ngomong apa saja, tanggapannya negatif, ujaran yang ingin membangun empati meraih simpati justru berbuah caci maki.

Setiap kata yang keluar dari Dilan, tidak luput dari kritikan. Dilan sebenarnya lebih baik diam, ketimbang bicara justru menyakitkan. Itulah mengapa banyak, yang mengkritiknya justru menunggu pembicaraannya. Bukan untuk memuji, berempati, bersimpati, tapi untuk mencaci maki.

Kasihan sekali nasib Dilan, diunggulkan dan dipaksa diangkat dalam survey-surveyan, kenyataannya tidaklah demikian. Dilan, sepanjang tangan cukong, asing dan aseng tetap menopangnya, akan tetap bertahan. Tapi sampai kapan ?

Partai yang mengusung Dilan pun, pada titik tertentu -setelah tidak mampu memegang Dilan- akan melepaskannya. Dilan bisa ditinggalkan, didalam sunyi terbenam dalam lumpur. Dilan bisa tidak dihiraukan lagi.

Saat ini, sedang terjadi Tarik menarik. Antara tekanan rakyat, dan kekuatan penjagaan para cukong. Jika Dilan tidak bisa dipertahankan, Dilan akan dilepaskan, Dilan pasti terbenam.

Sampai kapan ? Kita tidak tahu posisi partai. Partai, sebenarnya juga bisa hengkang dari barisan Dilan. Terutama, jika posisi RI 2 pendamping Dilan sudah definitif.

Setiap melihat Dilan di layar kaca, melihat dia berbicara, hati ini berisik. Kok bisa orang seperti dia berkuasa. Dimana logika partai yang masih mau menopangnya ?

Dilihat dari sudut kamera dari arah manapun, tidak ada alasan rakyat untuk mempertahankan Dilan. Mungkin, hanya tinggal kodok dan kecebong yang masih merumput di sekitar Dilan, itupun sesaat saja.

Saat Dilan tak lagi manis, saat Dilan tdk lagi gula gula, saat Dilan menjadi ampas, cebong dan kodok itu pasti pergi mencari kolam lainnya. Iba sekali melihat Dilan. Didunia saja, saat dia berkuasa saja, dia dihinakan. Dilupakan. Diabaikan. Apalagi jika kekuasan itu pergi ?

Wahai manusia, ingatlah ! Dunia hanya sementara. Dilan hanyalah cerminan, agar kita mengukur perilaku agar tidak semau diri dalam bertindak dan berujar. Sesungguhnya, ada kampung akherat dimana setiap hamba akan ditanya: apa yang telah kau lakukan saat didunia ?

Kembali kepada Dilan, Dilan sudah tamat. Upaya mempertahankannya dengan segudang pencitraan, justru mempercepat ajal kekuasaannya. Persoalannya, bagaimana setelah Dilan ? Apakah umat akan dipimpin Dilan lain dengan wajah baru tetapi tetap menghamba pada asing ? Apakah hukum Jahiliah yg diadopsi Dilan akan tetap dilestarikan ?

Jadi, janganlah kebencianmu terhadap Dilan membuatmu berperilaku tidak adil. Yang penting bukan Dilan, asal bukan Dilan. Janganlah begitu. Ingat ! Menerapkan hukum selain hukum Allah SWT itu kufur, fasiq, dzalim. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget