HTI VS Penguasa Dzalim, Siapa yang Menang?



Pagi itu Abu Nawas mengendap mendekati rumah Nasrudin Joha. Seperti biasa, ia berharap Nasrudin Joha dapat berbagi kopi kapal api dan kerupuk Selondok, kudapan khas padepokan bukit Nasjo.

Tanpa menunggu lama, ia menyandarkan sepeda ontelnya di teritisan rumah. Ia pun, bergegas menuju teras depan dimana biasa ia bersandar dan berdiskusi, membincangkan banyak hal dan banyak persoalan bersama sahabat karibnya.

Abu Nawas: "Ya Syaikh, kabar BHP HTI dicabut dan dikukuhkan pengadilan, tersebar luas. Sebelumnya, massa HTI bersujud syukur pasca pengumuman putusan. Ada apa sebenarnya ini ? Ada skenario yang diluar konteks dan kendali ?"

Nasrudin Joha, setelah menyeruput kopi kapal api nikmatnya, Ia mulai beringsut dari duduknya. Ia memulai dengan tarikan nafas panjang, begitulah Nasrudin Joha. Ia terbiasa menerawang, seolah sedang mengumpulkan pikiran di benaknya, sebelum akhirnya menyampaikan jawaban.

Banyak orang sering penasaran, atas apa yg akan disampaikannya. Kadangkala, pandangan Abu Nawas terfokus pada bibir Nasrudin Joha, berharap dapat menebak kalimat awal yang akan disampaikannya.

Tetapi begitulah Nasrudin Joha, selalu membuat Abu Nawas penasaran. Bahkan, orang yang membaca tulisan ini juga penasaran, kiranya apa yang mau disampaikan.

Kemudian ia pun bertutur : "ehmmm...iya benar".

Sudah, itu saja yang keluar dari mulutnya, tidak ada analisis maupun konklusi.

Abu Nawas: "iya, tapi apa ya Syaikh sesungguhnya yang terjadi ? Siapa sebenarnya yang memenangkan pertarungan merebut hati umat ?"


Setelan menyeruput kopi kapal api, Nasrudin Joha memulai wejangannya.

"Begini ustadz, dakwah itu menyampaikan yang hak dan menyeru meninggalkan yang batil. Dakwah tidak membutuhkan izin manusia, apalagi penguasa. Dakwah itu perintah Allah SWT. Jadi, tidak akan berguna seruan untuk menghalangi dakwah, dari tekanan dan kesempitan hidup, ujian kehilangan harta dan nyawa, apalagi hanya sebab deklarasi selembar kertas".

"Kekeliruan rezim memandang HTI adalah menganalogikan HTI seperti rezim atau partai politik eksisting, atau lembaga dakwah yang berorientasi kemaslahatan".

"Pertama, mereka mengasumsikan, HTI akan mati jika tanpa status hukum. Sebab, mereka mengandaikan tanpa status hukum HTI tidak bisa mengajukan permohonan dana bantuan untuk menopang dakwahnya. Padahal, HTI berbeda dengan partai atau gerakan dakwah lainnya. HTI tidak pernah mengedarkan proposal atau mengemis bantuan kepada penguasa. Jadi, jika SK pencabutan BHP HTI dianggap akan memutus nadi kehidupan dakwah HTI, itu keliru besar".

"Kedua, mereka mengasumsikan dengan dicabut SK BHP akan membuat ikatan partai goyah, retak, berserakan. Sama seperti keretakan dan pecahnya partai sekuler yang bersengketa karena sengketa status hukum. Ini salah besar. Seluruh kader HTI telah mengikat diri dan jiwa mereka, dengan akidah dan pemikiran Islam".

"Ikatan akidah ini, menjadikan anggotanya tangguh, tidak menuntut kompensasi, tetapi justru berebut memberikan kontribusi"

"Ikatan akidah ini, membuat ketaatan pada struktur kepemimpinan mereka kuat dan menghujam. Ketaatan yang didasari Ruh, bukan sebab SK struktural dengan deskripsi jabatan tertentu".

"Ikatan akidah ini, mampu menjadi imun alamiah untuk menentang upaya perpecahan dari luar. Jadi, SK BHP dicabut ya tidak ngefek pada anggotanya".

"Kedua, orientasi kader HTI itu visioner, jauh kedepan, bahkan melampaui dimensi dunia. Mereka berburu pahala, berburu ridlo Allah, berburu jannah-Nya Allah SWT".

"Jadi mana mungkin kesempitan hidup, dan tekanan penguasa dzalim, mampu memalingkan visi hidup mereka ? Keliru besar rezim dzalim ini, jika ingin menekan Hizb berharap Hizb melunak dan mengangkat bendera putih. Tidak ada kamus menyerah dalam perjuangan Hizb"

"Jadi putusan PTUN itu secara politik sia-sia, blunder saja. Apalagi, HTI sebelumnya telah mampu mengedukasi umat pada argumen hukum gugatannya. Keputusan kemenangan untuk HTI ditunggu umat, ketika HTI dikalahkan yang gelisah dan marah, yang bersedih dan dipenuhi amarah, justru umat".

"Jadi tidak berguna menyiapkan banyak Polisi dan tentara, kendaraan anti huru hara, atau yang semisalnya. Sebab, aktivis HTI itu terkenal dengan dakwah smartnya, anti kekerasan, murni pemikiran".

"Asumsi kekalahan HTI akan membuat anggotanya menangis meraung-raung, menggoyang dan menggedor pagar pengadilan, teriakan kotor pada hakim dan pengadilan, lemparan batu dan yang semisalnya, pasti tidak terjadi".

"Nah, media yang disediakan juga tidak bisa mengabarkan aksi kotor itu untuk menjauhkan HTI dari umat".

"Justru aksi sujud syukur itu, membuat umat semakin merapat kepada HTI, menyatakan berbela sungkawa bersama HTI, sementara rezim justru semakin kokoh menyandang gelar rezim represif dan anti Islam".


"Jadi, selama anggota HTI terikat pada fiqrohnya, thariqohnya, taat kepada Allah SWT, maka merekalah pemenang sesungguhnya"

Selesai ceritanya. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget