Mata Uang Daulah Khilafah, Bagaimana Konversinya?



Oleh: Nasrudin Joha

Ada anggapan, ketika nanti daulah Khilafah tegak mata uangnya dinar dirham (emas perak). Bagaimana duit yang ada di kantong masyarakat ? Apakah langsung dinyatakan tidak berlaku ? Bagaimana duit rupiah yang ada pada tabungan ? Apakah nilainya semua hangus ? Apakah ketika Khilafah tegak, semua orang kehilangan nilai uang dan tabungannya karena bukan dinar dan dirham ?

Memang benar, mata uang daulah Khilafah kelak yang akan dijadikan alat transaksi dan satuan penyimpan nilai adalah barang yang secara dzatiyah memang memiliki nilai, barang tadi adalah emas dan perak.

Namun untuk dijadikan mata uang, negara juga dapat menerbitkan uang kertas sejumlah cadangan emas atau perak yang ada pada kas negara (representasi money). Uang yang ada, baik dalam bentuk kertas maupun nominal digital dalam simpanan tabungan -sebelum tegaknya daulah- tetap diperhitungkan nilainya, setelah dikonversi dalam satuan nilai dinar dan dirham.

Uang kertas yang dijamin tadi, dapat diterbitkan dengan pecahan nilai yang disesuaikan dengan kebutuhan. Negara, juga dapat langsung menerbitkan mata uang dalam bentuk natural emas dan perak dengan nilai pecahan tertentu, misalnya : 1 dinar, 1/4 dinar, 1 dirham, 10 dirham, dan seterusnya.

Sebelum semua interaksi pertukaran menggunakan dinar dirham, baik natural emas perak maupun representasi Fiat money (uang kertas), Negara untuk sementara waktu dapat melegalkan penggunaan mata uang sebelumnya -setelah nilainya di standarisasi dengan nilai dinar dirham- dan mencetak uang kertas baru (Fiat money) untuk diedarkan ditengah masyarakat dengan nilai dan nominal dinar dirham sebagai penggantinya.

Fungsi lembaga perbankan yang menyimpan dana publik, dapat diadopsi dalam fungsi lembaga Baitul Mal. Nilai tabungan penduduk, secara otomatis dikonversi kedalam satuan digital dengan nilai dinar dan dirham.

Seluruh lembaga perbankan ada pada kendali negara dan dilekatkan pada fungsi Baitul mal atau pada divisi Al masholihin Nas, yakni lembaga khusus yang melayani kemaslahatan umum.

Untuk memudahkan konversi, negara mengalihkan nilai uang sebelumnya kepada nilai dinar dan dirham. Contohnya, jika satu dinar setara 4,25 gram emas, maka rupiah yang bernilai setara dengan harga 4,25 gram emas dikonversi menjadi nilai satuan 1 dinar. Misalkan saja setiap 1 dinar setara dengan 4 juta rupiah, maka tabungan dengan nilai 20 juta rupiah, dikonversi menjadi senilai 4 dinar.

Setiap rupiah -yang dikumpulkan masyarakat dan ditabung ke lembaga perbankan umum baik swasta maupun perbankan penerintah disatukan di divisi Baitul Mal- maka nilai uang kertas itu langsung dikonversi kedalam nilai dinar dan dirham. Seluruh uang kertas sebelumnya setelah masuk Baitul Mal di musnahkan.

Misalkan saja ada orang setor 4 juta rupiah ke rekening tabungannya, maka petugas Baitul mal akan mencatat pertengahan nilai tabungan sebesar 1 (satu) dinar.

Selanjutnya Negara dapat mencetak uang kertas yang telah disesuaikan dengan cadangan emas yang ada pada negara, untuk diedarkan ditengah masyarakat menggantikan mata uang sebelumnya. Perlahan namun pasti, uang kertas dengan nominal dinar atau dirham akan menggantikan uang kertas sebelumnya.

Seluruh mesin anjungan tunai mandiri, diisi uang kertas baru dinar dirham yang telah distandarisasi dengan nilai cadangan emas dan perak di kas negara. Negara mengharamkan pertukaran Valas, kecuali yang dilakukan secara real, secara kontan.

Bagaimana jika negara tidak memiliki cadangan emas ? Sementara peredaran uang kertas dengan nilai dan nominal dinar dirham dibutuhkan, padahal Fiat money yang dicetak negara haruslah uang representatif, yakni uang yang di back up emas dan liquid ?

Jawabnya, konversi nilai uang sebelumnya yang berbentuk kertas dilakukan secara berkala, sambil melihat ketersediaan emas yang ada. Adapun konversi uang dengan nilai digital, berupa nilai tabungan yang dimiliki masyarakat, dapat langsung dikonversi dengan nilai dinar dan dirham, secara seketika dan serta merta.

Udah dulu ya, pasti Anda di kepalanya banyak burung atau bintang. Karena itu, rehat dulu. Untuk merincinya, Anda perlu diskusi bukan sekedar membaca tulisan ini. Ajaklah orang, yang menurut Anda bisa memberikan penjelasan mengenai hal ini. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget