Menyatukan Umat Itu Dengan Khilafah, Bukan Dengan Demokrasi (Sebuah Seruan Cinta)



Oleh Ahmad Sastra

Di atas semua kelemahan saya sebagai muslim. Di tengah kondisi muslim yang kian mengenaskan nasibnya. Inilah seruan cinta untuk kaum muslimin di Indonesia dan dunia. Duhai kaum muslim tercinta, segera sadarlah dan kembalilah ke rumah kita. Rumah persatuan Islam kita. Jika kita mau, jika kita lillah, pasti bisa bersatu. Pasti bisa.

Bukankah Tuhan kita sama : Allah swt. Bukankah Nabi kita sama : Muhammad saw. Bukankah kitab kita sama : Al Quran. Bukankah kiblat kita sama : Baitullah Kabah. Bukankah rukun iman kita sama-sama enam. Bukankah rukun Islam kita sama-sama lima. Lantas apa yang membuat kita enggan bersatu. Duhai kaum muslim tercinta, sadarlah, kembalilah ke rumah kita.

Tunggu apa lagi, bukankah Allah Tuhan kita sangat membenci keterpecahan ini. Bukankah Allah sangat menganjurkan kita untuk bersatu padu dalam iman dan perjuangan. Bukankah musuh kita sudah jelas, berbagai kezaliman akibat ideologi sekulerisme dan komunisme. Pulanglah ke rumah kita.

Tidakkah mata kita melihat segala penderitaan yang menimpa kaum muslimin di seluruh dunia oleh kezaliman rezim anti Islam. Tidakkah mata kita melihat kemiskinan dan kesengsaraan kaum muslimin akibat penjajahan negeri-negeri muslim. Tunggu apa lagi, bersatulah, pulanglah ke rumah kita.

Apakah mata kita tidak melihat, musuh-musuh Islam dengan terang benderang menebar kebusukan mereka. Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan menebarkan kezaliman, kebengisan, kejahatan, dan watak amoral lainnya. Lihatlah, maka pulanglah ke rumah kita.

Bukankah kita juga sadar bahwa kemualiaan diri kita bukan karena harta dan tahta duniawi, namun karena ketaqwaan kita. Tanggalkan segala perbudakan duniawi, jika akan menjadikan umat Islam terpecah belah. Ingat, Allah akan menolong kita, selama kita menolong agamaNya. Waktu semakin pendek, pulanglah ke rumah kita.

Kehidupan hedonisme dan politik pragmatisme hanya akan mencerai beraikan persatuan kita. Cinta dunia dan takut mati hanya akan menyumbat ghirah perjuangan kita. Padahal kesejahteraan dan kebahagiaan akan dianugerahkan kepada kita, saat kita berjalan di atas jalan dakwah dan perjuangan agamaNya. Jangan pikir panjang, pulanglah ke rumah kita.

Pengembaraan diri untuk meraup libido duniawi, dengan meninggalkan Allah telah menjebak kita pada jurang kesengsaraan. Padahal dunia adalah sarana untuk ibadah dan lahan untuk berbuat baik. Bukankah akherat yang abadi telah menanti kita, menjamin kebahagiaan hakiki. Hilangkan hambatan diri, pulanglah ke rumah kita.

Kurang apa lagi, bukankah kehidupan Rasulullah telah tergambar jelas di mata hati kita. Kehidupan mulia dengan visi misi pengabdian total kepada Allah semata. Mengorbankan harta, tenaga, pikiran dan nyawa untuk perjuangan agama mengantarkan Rasulullah sebagai penghuni surga nan abadi. Tak ada alasan lagi, pulanglah ke rumah kita.

Apakah hati ini tega melihat berbagai kezoliman atas kaum muslimin di penjuru dunia di satu sisi. Namun di sisi lain, kaum muslimin cakar-cakaran berebut secuil harta dan tahta dunia. Adakah jawaban yang bisa kita berikan di hadapan Allah kelak di akherat. Demi cinta sesama muslim, pulanglah ke rumah kita.

Apakah kita tidak malu, saat nyawa, hati, otak, nafas, mata, telinga, mulut, dan seluruh anggota badan yang diberikan Allah kepada kita, lantas kita enggan tunduk kepada Allah. bagaimana pula saat kaki dan tangan kita menjadi saksi atas pengkhianatan kita. Renungkan, pulanglah ke rumah kita.

Apakah di padang makhsyar kita tidak malu kepada Rasulullah saat dikumpulkan ternyata berdera kita berbeda-beda. Bukankah syahadat kita menghajatkan patuh tunduk dibawah panji Rasulullah, bukan panji yang lain. Kapan lagi kalau bukan sekarang, siapa lagi kalau bukan kita. Duhai kaum muslimin, pulanglah ke rumah kita.

Allah dan RasulNya telah menyeru dengan terang, bahwa seorang muslim adalah bersaudara dengan muslim lainnya tanpa dibatasi oleh sekat-sekat kelompok dan geografis. Persaudaraan atas nama iman adalah kemuliaan di sisi Allah. Apa yang dirasakan oleh saudara seiman, mesti juga dirasakan oleh saudaranya seiman lainnya. Karena itu, pulanglah ke rumah kita.

Apakah kita tidak takut saat menjual agama ini demi secuil harta duniawi. Apakah kita tidak takut saat menfitnah sesama muslim hanya untuk mendapat harta dan tahta. Apakah kita tidak takut saat mengkhianati perjuangan Islam demi isi perut. Takutlah kepada murka Allah, pulanglah ke rumah kita.

Inilah seruan cinta untuk kembali ke rumah persatuan seluruh kaum muslimin di Indonesia dan seluruh penjuru dunia. Duhai Allah, sungguh telah kami sampaikan seruan cinta ini. Saksikan dan bukalah hati-hati seluruh kaum muslimin di seluruh penjuru dunia ini.

Jika kaum muslimin telah kembali pulang ke rumahnya sendiri. Kita bersatu padu bergerak dan berjuang demi Allah dan Rasulullah. Bersama menghadapi kepongahan musuh-musuh Allah. Berdiri tegak membela agama dari kejahatan kaum pembangkang agama. Maka, cukup hitungan menit, musuh-musuh Allah akan mudah dijungkalkan.

Duhai kaum muslimin, pulanglah ke rumah persatuan kita, di bawah panji tauhid kita, dalam naungan khilafah islamiyah. Menyatukan umat sedunia itu dengan Khilafah, bukan demokrasi nasionalisme. Sebagaimana daulah Islam yang didirikan Rasulullah.

Jawablah seruan cinta ini, jawablah !!!

[AhmadSastra,KotaHujan,04/05/18 : 09.09]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget