Sistem Ekonomi Dalam Negara Khilafah (Mensejahterakan, Membahagiakan dan Menyelamatkan Rakyat)




Oleh Dr. Ahmad Sastra
Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia

MENGENAL KHILAFAH. Khilafah adalah bentuk pemerintahan Islam. Pemimpin pemerintahannya dinamakan khalifah. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum Islam secara kaffah, dan menyampaikan risalah Islam ke seluruh muka bumi dengan dakwah dan jihad. Ketaatan kepada khalifah [ulil amri] adalah ketika ia taat kepada Allah dan RasulNya.

"Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian." (QS. An-Nisaa` [4]: 59).

Sayyidina Ali bin Abi Thalib, karamallahu wajhah dalam Tafsir Al Quran karya Al Baghawi menjelaskan bahwa seorang imam atau pemimpin negara wajib memerintah berdasarkan hukum yang telah diturunkan Allah SWT, serta menunaikan amanah. Jika dia melakukan itu, maka rakyat wajib untuk mendengarkan dan mentaatinya. Sebaliknya tidak wajib taat kepada kemimpin tidak memerintah berdasarkan hukum yang telah diturunkan Allah SWT atau memerintahkan kemaksiatan kepada Allah.

Asal-usul kata khilâfah kembali pada ragam bentukan kata dari kata kerja khalafa. Al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H) mengungkapkan: fulân[un] yakhlufu fulân[an] fî ‘iyâlihi bi khilâfat[in] hasanat[in]; yang menggambarkan estafeta kepemimpinan. Hal senada diungkapkan oleh al-Qalqasyandi (w. 821 H).Salah satu contohnya dalam QS al-A’raf [7]: 142. Al-Qalqasyandi menegaskan bahwa Khilafah secara ’urf lantas disebut untuk kepemimpinan agung, memperkuat makna syar’i-nya yang menggambarkan kepemimpinan umum atas umat, menegakkan berbagai urusan dan kebutuhannya.

Namun, bukan sembarang kepemimpinan, melainkan kepemimpinan yang menjadi pengganti kenabian dalam memelihara urusan agama ini, dan mengatur urusan dunia dengannya. Ini ditegaskan oleh Imam al-Mawardi (w. 450 H), Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H) dan para ulama lainnya.

Dengan kata lain, kepemimpinan dengan ruh Islam ini menjadi menjadi ciri khas mulia; berbeda dengan sistem sekular yang mengundang malapetaka. Inilah yang diungkapkan Al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani. Beliau menjelaskan makna syar’i Khilafah yang digali dari nas-nas syar’i, bahwa Khilafah adalah: kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia (yakni mengemban dakwah dengan hujjah dan jihad).

Sistem khilafah tidak sama dengan sistem manapun yang sekarang ada di dunia Islam. Meskipun banyak pengamat dan sejarawan berupaya menginterpretasikan khilafah menurut kerangka politik yang ada sekarang, tetap saja hal itu tidak berhasil, karena memang khilafah adalah sistem politik dan negara yang khas. Dengan kekhasannya inilah kemudian melahirkan peradaban Islam yang khas pula, baik sistem politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan sosialnya.

Khilafah sama sekali berbeda dengan sistem Republik yang kini secara luas dipraktekkan di dunia Islam, misalnya di Indonesia. Sistem Republik didasarkan pada demokrasi sekuler, dimana kedaulatan berada di tangan rakyat. Ini berarti, rakyat memiliki hak untuk membuat hukum dan konstitusi. Di dalam Islam, kedaulatan berada di tangan syariat.

Tidak ada satu orang pun dalam sistem khilafah, bahkan termasuk khalifahnya sendiri, yang boleh melegislasi hukum yang bersumber dari pikirannya sendiri. Hukum dan perundang-undangan khilafah didasarkan dari Al Qur’an dan Al Hadist. Demokrasi sekuler secara tidak langsung merupakan penyembahan kepada manusia.

Khalifah adalah kepala negara dalam sistem khilafah. Dia bukanlah raja, kaisar , perdana menteri maupun presiden, bukan. Ia adalah seorang pemimpin terpilih yang mendapat otoritas kepemimpinan dari kaum muslim, yang secara ikhlas memberikannya berdasarkan kontrak politik yang khas, yaitu bai’at. Tanpa bai’at, seseorang tidak bisa menjadi kepala negara khilafah. Ini sangat berbeda dengan konsep raja atau diktator, yang menerapkan kekuasaan dengan cara paksa dan kekerasan.

Sebagian kalangan menyamakan khalifah dengan paus, seolah-olah khalifah adalah pemimpin spiritual kaum muslim yang sempurna dan ditunjuk oleh Tuhan. Ini tidak tepat, karena khalifah bukanlah pendeta. Jabatan yang diembannya merupakan jabatan eksekutif dalam pemerintahan Islam. Dia tidak sempurna dan tetap berpotensi melakukan kesalahan. Itu sebabnya dalam sistem Islam banyak sarana check and balance untuk memastikan agar khalifah dan jajaran pemerintahannya tetap akuntabel dalam menjalankan hukum Islam dalam seluruh aspeknya.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. [QS Al Baqarah : 208].

Sistem pemerintahan kapitalisme sekuler dan komunisme ateis yang menjadikan Islam tidak diterapkan kaffah sejatinya adalah sistem setan, atau thaghut. Kedua sistem itu selalu menjadi penghalang bagi tegaknya khilafah. Sebab kedua sistem itu dijalankan dan dipuja oleh kaum kafir dan munafik. Dan Allah dengan tegas agar meninggalkan thoghut itu, sementara kaum munafik akan terus menghalangi tegaknya hukum Allah, meski mereka mengaku dirinya beriman.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya [QS An Nisaa : 60].

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu [QS An Nisaa : 61].

Islam merupakan agama yang realistik, yang membuktikan bahwa larangan dan nasehat saja tidak cukup. Juga membuktikan, bahwa agama ini tidak akan tegak tanpa negara dan kekuasaan. Agama Islam adalah manhaj atau sistem yang menjadi dasar kehidupan praktis manusia, bukan hanya perasaan emosional (wijdani) yang tersemat dalam hati, tanpa kekuasaan, perundang-undangan, manhaj yang spesifik dan konstitusi yang jelas”

Sejarah Islam, sebagaimana yang pernah ada, merupakan sejarah dakwah dan seruan, sistem dan pemerintahan. Tidak asumsi lain yang dapat diklaim sebagai Islam, atau diklaim sebagai agama ini, kecuali jika ketaatan kepada Rasul direalisasikan dalam satu keadaan dan sistem.

Eksistensi agama ini merupakan eksistensi kedaulatan hukum Allah. Ketika kondisi asal ini ternafikan, niscaya eksistensi agama ini juga ternafikan. Yang menjadi problem utama di muka bumi sekarang bagi agama ini adalah berdirinya para taghut yang selalu melakukan perlawanan terhadap ketuhanan Allah dan merampas kekuasaanNya, kemudian dirinya diberikan otoritas untuk menetapkan peraturan perundang-undangan untuk membenarkan dan melarang jiwa, harta dan anak.

Hakekatnya hukum Allah atau hukum jahiliyah. Tidak ada hukum tengah-tengah antara dua hukum tersebut, juga tidak ada hukum pengganti yang lain… hukum Allah ditegakkan di muka bumi, syariat Allah diterapkan di tengah kehidupan manusia, atau hukum jahiliyah dan syariat hawa nafsu. Mana diantara keduanya yang dikehendaki”. “ Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki ? Dan siapakah selain Allah yang hukumnya lebih baik, bagi orang-orang yang beriman ?” (QS al Maidah : 50).

Usaha bijak dan pengorbanan yang cerdas, pertama kali harus diorientasikan untuk membangun masyarakat yang baik. Masyarakat yang baik adalah masyarakat yang dibangun berdasarkan manhaj Allah. Ketika masyarakat telah mengalami kerusakan total, ketika jahiliyah telah merajalela, ketika masyarakat dibangun dengan selain manhaj Allah dan ketika bukan syariat Allah yang dijadikan asas kehidupan, maka usaha-usaha yang bersifat parsial tidak akan ada artinya.

Ketika itu usaha harus dimulai dari asas dan tumbuh dari akar, dimana seluruh energi dan jihad dikerahkan untuk mengukuhkan kekuasaan Allah di muka bumi. Jika kekuasaan ini telah tegak dan kuat, maka amar ma’ruf dan nahi munkar akan tertanam sampai ke akar-akarnya.

SISTEM EKONOMI DALAM KHILAFAH. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan [QS Al Qashas : 77].

Allah menegaskan bahwa sistem Islam akan mendatangkan rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya’ [21]: 107). Allah pun menjamin keberkahan hidup masyarakat akan terealisasi jika masyarakat beriman dan bertakwa (QS al-A‘raf [7]: 96), yaitu dengan menerapkan syariah Islam secara total dan formal.

Sistem ekonomi Islam dalam sistem khilafah dikonstruk atas tiga asas. Ketiga buah asas tersebut adalah : konsep kepemilikan [milkiyah], pengelolaan dan pemanfaatan hak milik [tasharruf al milkiyah] dan distribusi kekayaan bagi warga negara [tauzi’al amwal baina an nas].

Kepemilikan dalam Islam diatur oleh Allah dan terdiri dari tiga, yakni kepemilikan individu seperti semua barang yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak dan jumlahnya dibatasi. Misalnya rumah, tanah, kendaraan dan uang. Dalam sistem ekonomi kapitalisme segalanya bisa dimiliki individu dan jumlahnya tidak dibatasi.

Berikutnya adalah kepemilikan umum adalah izin dari Allah yang diberikan kepada orang banyak untuk memanfaatkan suatu barang. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan Abu Dawud bahwa kaum muslimin berserikat terhadap tiga hal yaitu air, padang rumput dan api.

Ketiga adalah kepemilikan negara adalah harta yang merupakan hak dari seluruh kaum muslimin, dimana pengaturan distribusi dari harta kekayaan tersebut diserahkan kepada khalifah. Harta negara ini misalnya zakat, pajak [jizyah] dari non muslim, pajak dari kharaj, ghanimah, harta orang murtad dan harta yang tak ada ahli warisnya. Konsepsi kepemilikan dalam khilafah inilah yang akan menjadi faktor kesejahteraan warga segara khilafah.

Ketiga konsep kepemilikan dalam khilafah ini sangat berbeda dengan sistem kapitalisme, dimana semua bisa dimiliki oleh individu dan tidak dibatasi jumlahnya. Melalui mekanisme privatisasi, maka barang milik umum dan negara pun bisa dimiliki oleh individu. Inilah yang menjadikan kemiskinan rakyat dalam sistem kapitalisme, sebab hanya segelintir manusia yang kaya.

Adapun pengelolaan dan pemanfaatan hak milik dalam sistem khilafah dibolehkan oleh hukum syara’ melalui aktivitas jual beli, sewa menyewa, syirkah, usaha pertanian atau mendirikan industri. Khilafah melarang usaha pengembangan harta dengan cara riba, judi dan segala bentuk penipuan.

Hal ini berbeda dengan sistem kapitalisme dan komunisme yang tidak menjadikan standar halal dan haram dalam pengembangan harta. Kedua sistem rusak ini bahkan mengorganisir perbangkan ribawi, pusat perjudian dan segala macam transaksi penipuan. Belanja dalam Islam hanya untuk barang halal, sementara dalam kapitalisme dan komunisme, barang harampun dibolehkan dalam jual beli.

Adapun distribusi kekayaan dalam negara khilafah dilakukan dengan mekanisme zakat dan membagikan kepada delapan golongan orang yang berhak menerimanya. Mekanisme lain dengan pemberian hak kepada seluruh masyarakat untuk memanfaatkan milik umum. Selanjutnya dengan pemberian kepada seseorang dari harta negara dan pembagian waris. Dalam khilafah, diharamkan penimbunan barang, penimbunan uang dan emas. Islam juga melarang sifat kikir dan bakhil.

Pernahkah fakta normatif kesejahteraan dan keberkahan hidup itu terwujud secara real di tengah kaum Muslim saat khilafah berdiri ?. Pertanyaan itu penting untuk dijawab, karena jika tidak pernah terwujud dalam 1300 tahun lebih sejarah kaum Muslim, sementara khilafah Islam diterapkan, maka orang sulit percaya bahwa sistem Islam akan mampu mewujudkannya pada masa datang. Berikut adalah beberapa catatan sejarah akan hal itu.

Abu Ubaid menuturkan, pada masa Umar ibn al-Khaththab (13-23 H/634-644 M), di provinsi Yaman, tiap tahun Mu’adz ibn Jabal mengirimkan separuh bahkan seluruh hasil zakat kepada khalifah. Sebab, ia tidak menjumpai seorang (miskin) pun yang berhak menerima bagian zakat.

Yahya ibn Sa’id pernah ditugaskan memungut zakat di Afrika oleh Umar ibn Abdul Aziz (99-101 H/717-120 M). Ia pun tidak bisa menjumpai satu orang miskin pun di Afrika. Gubernur Basrah, Hamid ibn Abdurrahman, sesuai arahan Umar bin Abdul Aziz, membelanjakan kas negara berlimpah untuk gaji pegawai dan anggaran rutin, membantu mereka yang dililit utang dan membantu mereka yang ingin menikah. Uang yang masih banyak di kas negara pun dijadikan sebagai pinjaman modal bagi warga nonMuslim agar bisa mengolah tanahnya, dan pengembaliannya setelah dua tahun atau lebih.

Sebagai gambaran kemakmuran pada masa Abbasiyah, Philip K. Hitti menyatakan bahwa al-Mansur membangun Baghdad mulai tahun 762 M—menurut as-Suyuthi tahun 141 H—selama 4 tahun dengan menggunakan tenaga lebih dari 100.000 orang baik insinyur, arsitek, pekerja ahli hingga pekerja biasa dan menghabiskan total biaya 4.883.000 dirham. Menurut M. Kurdi Ali, al-Mansur juga membangun sejumlah jembatan, kanal dan berbagai bendungan, tersebar merata di wilayah Khilafah.

Meski pembangunan begitu gencar, saat al-Mansur meninggal (159 H/775 M ) keuangan negara masih surplus sebesar 600 juta dirham dan 14 juta dinar. Saat Harun ar-Rasyid meninggal (194 H/809 M), di kas ada 900 juta. Saat al-Muktafi meninggal (296 H/908 M), kas negara surplus 100 juta dinar. Dari sisi pemasukan negara, Ibn Khaldun mencatat pada masa al-Makmun sebesar 332 juta dirham; Ibn Qudamah mencatat, pada masa al-Mu‘tashim sebesar 388,3 juta dirham setahun. Pada masa inilah dibangun kota Samara—singkatan dari sarra man ra’a (Memuaskan Mata Orang yang Memandangnya).

Adapun Ibn Khurdazbeh mencatat, pemasukan negara pada pertengahan abad ke-3 H sebesar 299,3 juta dirham. Dari sisi pembangunan terdapat begitu banyak catatan proyek pembangunan yang dijalankan. Hal itu tentu berdampak positif dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Khilafah Umayah di antaranya fokus pada pembuatan saluran air dan jaringan irigasi, penggalian sungai dan kanal, pembangunan bendungan dan penciptaan lahan produktif dari lahan mati yang ada.

Muawiyah telah memulai proyek penghijauan Hijaz. Khalifah al-Walid ibn Abdul Malik banyak membangun masjid, membuka berbagai rumah sakit, asrama orang-orang cacat, dan memberikan bantuan pembiayaan pada usaha pembangunan. Daerah rawa al Bata’ih di Irak antara Basrah dan Kufah pun disulap menjadi lahan produktif dengan biaya 3 juta dirham (jumlah yang cukup besar saat itu) dan dibagikan kepada rakyat. Khalifah Hisyam menggali sumber-sumber air di sepanjang perjalanan Makkah. Ia juga mendirikan Rasafa, tempat peristirahatan bagi pekerja dan musafir.

Jaringan irigasi itu tetap dipelihara dan diperluas oleh khilafah Abbasiyah. Istri Harun ar-Rasyid turut membiayai pembangunan saluran air di Makkah yang lalu dinamakan dengan namanya, mata air Zubaidah. Bahkan Khilafah Abbasiyah membentuk Direktorat Irigasi (Diwân al-Mâ’i) dengan pegawai ribuan orang. Khilafah Abbasiyah juga fokus pada industrialisasi.

Ribuan pabrik dibangun pada masa itu dan tersebar di berbagai wilayah negara. Damaskus terkenal dengan pabrik bajanya. Tripoli, Kairo, Maroko dan Spanyol terkenal dengan galangan kapalnya. Moshul terkenal sebagai pusat industri tembaga.

Menurut Svend Dahl, abad ke-8 M pada masa Harun ar-Rasyid, pabrik kertas sudah berdiri di Baghdad dan beberapa kota lainnya. Pada abad ke-10 M pabrik kertas itu sudah menyebar di Mesir. Sultan Abdul Hamid II pada 1900 M berhasil membangun jaringan kereta api Hijaz dari Damaskus ke Madinah dan dari Aqaba ke Ma’an.

Beliau juga membangun jaringan fax antara Yaman, Hijaz, Syiria, Irak dan Turki; lalu dihubungkan dengan jaringan fax India dan Iran. Semua itu diselesaikan hanya dalam dua tahun. Ini adalah potensi besar bagi kemajuan perekonomian, karena infrasruktur transportasi dan komunikasi sangat vital bagi kemajuan perekonomian.

Dalam dunia pendidikan, Khalifah Umar ibn al-Khaththab menggaji tiga orang guru yang mengajar anak-anak di Madinah 15 dinar (63,75 gram emas murni). M. Sharif menerangkan, pendidikan di Dunia Islam berkembang secepat kilat. Tidak ada satu kampung tanpa ada masjid, sekolah dasar dan menengah yang pertumbuhannya seiring pertumbuhan masjid.

Prof. Ballasteros dan Prof. Ribera menerangkan bahwa sekolah-sekolah disediakan dekat sekali dengan semua anak-anak. Untuk mahasiswa disediakan berbagai sekolah tinggi, akademi dan universitas beserta para guru besarnya. Bahkan telah diketahui secara umum, dunia pendidikan, sains, teknologi dan pemikiran, pada masa Abbasiyah telah berkembang sangat maju.

Sekolah dari tingkat dasar hingga universitas dan berbagai fasilitas pendidikan, sains, teknologi dan pemikiran dibangun secara modern dan disediakan sebagai fasilitas gratis untuk masyarakat. Di antara yang terkenal adalah universitas yang didirikan oleh al-Makmun dan perpustakaan Bait al Hikmahnya, yang dilengkapi observatorium; Universitas Nizhamiyah yang didirikan oleh Nizham al-Muluk wazir Sultan Alp Arsalan pada 1065 atau 1067 M; Madrasah Mustanshiriyah yang didirikan oleh Khalifah al-Mustanshir (1226 – 1242 M) di Baghdad yang bebas biaya dengan fasilitas perpustakaan dan laboratorium dan fasilitas lainnya.

Gambaran kesejahteraan dalam khilafah diungkap oleh Ibnu Katsir, Sungguh, di antara para pemimpin kalian ada seorang pemimpin yang memberikan harta secara berlimpah yang tidak terhitung, seseorang mendatanginya dan meminta harta kepadanya. Lalu pemimpin itu berkata, “Ambillah!” Kemudian orang itu menghamparkan pakaiannya dan pemimpin itu mencurahkan (harta/uang) di atasnya…Orang itu mengambilnya, lalu pergi. (al-Bidâyah wa an-Nihâyah).

Kabar gembira Rasul akan kembalinya khilafah. Hadis Imam Ahmad juga diriwayatkan oleh Baihaqi dari Nu'man Bin Basyir: “Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Masa kenabian itu ada di tengah tengah kalian, adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj annubuwwah), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya masa kerajaan yang menggigit (Mulkan ’Adhan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Setelah itu, masa kerajaan yang menyombong (Mulkan Jabariyyan), adanya atas kehendak Allah, kemudian Allah mengangkatnya apabila Dia menghendaki untuk mengangkatnya. Selanjutnya adalah masa Khilafah yang mengikuti jejak kenabian (Khilafah ’ala minhaj annubuwwah). Kemudian beliau (Nabi) diam.” [HR Ahmad dan Baihaqi dari Nuâman bin Basyir dari Hudzaifah].

Dengan adanya kabar gembira dari Rasulullah, maka pilihan ada di kita, apakah mau menjadi pejuang penegak khilafah untuk menebar rahmat bagi alam semesta, atau menjadi penghalang tegaknya khilafah. Dua pilihan itu ada konsekuensinya. Yang terbaik adalah berdiri sebagai pejuang, bukan pecundang dan penghalang.

Anda sendiri bagaimana ?

[Ahmad Sastra,KotaHujan,01/04/18 : 24.00 WIB]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget