Terima Kasih HTI, Terima Kasih PTUN



Jasamu akan Kukenang dan Kuceritakan Kepada Anak Cucu

Oleh : Ahmad Sastra

Tanpa bermaksud mengabaikan peran ormas atau parpol Islam untuk Indonesia, sebab masing-masing memiliki ciri khas. Namun tulisan ini fokus kepada HTI yang kini sedang dalam ujian berat. Dari namanya, sudah bisa ditebak visinya. Hizbut Tahrir berasal dari bahasa Arab yang bermakna partai pembebasan.

Hizbut Tahrir berdiri dalam rangka membebaskan seluruh negeri-negeri muslim dari hegemoni penjajahan kapitalisme global. Kapitalisme adalah sebuah ideologi Barat yang kini mencengkeram dan menindas negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia. Terlihat dengan jelas di negeri-negeri muslim di dunia adanya kemiskinan, pecah belah, kemunduran, degradasi moral, pembantaian, perampokan sumber daya alam, disintegrasi, dan masih banyak lagi.

Tak mengherankan jika HTI justru menentang dengan keras disintegrasi Timor Timur dari Indonesia, menentang eksploitasi besar-besaran atas tambang dan minyak oleh asing, penentangan terhadap liberalisasi budaya yang mengakibatkan hancurnya moral bangsa, dan yang pasti menentang keras penjajahan kapitalisme di negeri-negeri muslim.

HTI memberikan solusi bahwa SDA harus dikuasai negara dan untuk kemakmuran rakyat. HTI memberikan solusi pendidikan Islam yang menjamin kualitas moral sekaligus sains. HTI menawarkan Islam yang tidak sekuler dimana budaya terikat dengan nilai-nilai mulia Islam.

HTI bukan hanya memberikan kritik pedas kepada penjajahan, karena memang sejak awal HTI anti kolonialisme, namun juga memberikan solusi yang benar, yakni Islam. Solusi yang diberikan tidak sembarangan, namun didasarkan oleh data akurat dan analisa tajam yang ilmiah dan berbasis nilai Islam. Ciri khas ini memang belum didapatkan pada ormas atau parpol Islam di Indonesia.

Secara global Hizbut Tahrir juga berusaha mewujudkan umat Islam sebagai umat terbaik yang kuat dan berdaulat dengan bersatunya umat di seluruh dunia dalam kepemimpinan global. Uniknya HT melakukan upaya itu semua dengan dakwah intelektual yang santun dan damai, tidak pernah menggunakan kekerasan. Bahkan media dan kitab yang dijadikan rujukan pemikiran organisasi ini bisa diakses siapapun.

Hizbut Tahrir membuka diri seluas-luasnya bagi siapapun untuk berdiskusi dan berinteraksi. Berbagai gagasan solutif selalu dilontarkan ke publik dalam menyikapi apapun permasalahan bangsa. Hizbut Tahrir tidak pernah memaksa orang lain untuk meyakini pemikirannya, bahkan memberikan kesempatan diskusi bagi yang berseberangan. Sejauh ini HTI hanya menyampaikan gagasan demi cintanya kepada Indonesia agar tidak terjajah oleh kapitalisme asing dan aseng.

Berbagai dakwah dan pembinaan kepada remaja dan masyarakat selalu dilakukan dengan tulus tanpa bayaran dari siapapun, juga tidak ada bantuan dari pemerintah. Semua dilakukan semata-mata lillah karena Allah. Banyak remaja dan masyarakat yang tadinya tidak memahami tentang aqidah, akhlak, dan muamalah, bisa mendapat pencerahan dan kemudian berhijrah menjadi lebih baik.

Sebagai sebuah organisasi dakwah, maka apa yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir adalah dakwah Islam dan menyampaikan ajaran Islam. Karakteristik dakwah HTI menjadi pembuktian kecintaan yang mendalam kepada negeri ini. Sebab HTI hanya menyampaikan dakwah Islam dari A sampai Z, Hanya menyampaikan. Sebagaimana Rasulullah juga hanya menyampaikan risalah Islam, tanpa paksaan, tanpa kekerasan dan tanpa bayaran.

Semisal ajaran tentang Khilafah yang memang bagian dari ajaran Islam, dimana kitab-kitab fikih sederhana hingga yang besarpun membahas tentang ajaran khilafah ini. Maka tidak ada satupun ulama yang menyatakan bahwa khilafah bertentangan dengan Islam. Sementara demokrasi, HTI menyampaikan bahwa dia adalah ajaran plato atau nenek moyang, bukan dari Islam. Apakah manusia lantas mengadopsi Islam atau demokrasi, itu terserah mereka, yang terpenting HTI telah menyampaikan.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?" [QS Al Baqarah : 170]

Untuk itu, secara jujur saya harus menyampaikan rasa terima kasih kepada HTI yang telah berkontribusi besar bagi kedaulatan negara dan perbaikan kualitas bangsa. Dari HTI kita bisa belajar bagaimana ketulusan, kesabaran, kesungguhan, keberanian, ketegasan dalam mencintai dan membela negara ini. Tak berlebihan jika peran nyata HTI bagi perbaikan negara ini akan saya ceritakan kepada anak cucu saya. Sebab sekarang saya masih muda, belum punya cucu.

Meski demikian, dakwah Islam tidaklah sepi dari ujian dan hambatan. Sebagaimana Rasulullah, meski beliau adalah manusia paling mulia akhlaknya, namun dakwah beliau mendapat penjegalan dan persekusi kafir Quraisy. Rasul dan para sahabat mendapat siksaan, propaganda fitnah dan pemboikotan dari mereka.

Dahulu kaum kafir Quraisy menolak ajaran Islam yang dibawa Rasulullah karena ditakar dengan sistem nilai jahiliyah yang telah lama mereka yakini, padahal sesat dan menyesatkan. Semestinya ajaran Islam dilihat oleh akal dan wahyu berdasar Al Qur’an dan Hadist, bukan akal dan nafsu. Pandanglah ajaran Islam dengan kacamata keimanan, bukan nafsu dan permusuhan.

Dan kini melalui PTUN setelah pemerintah mengeluarkan perppu ormas, gugatan HTI ditolak PTUN. Sontak banyak kritik yang menyasar pemerintah dan PTUN yang dianggap menciderai hak warga negara. Di satu sisi negara mengagungkan hak asasi manusia, namun disisi lain justru bertindak diskriminasi terhadap gagasan HTI. Padahal HTI sebatas menyampaikan gagasan dengan damai dan intelektual.

Sejak awal lahirnya perppu ormas oleh pemerintah Jokowi telah mengundang pro kontra, begitupun keputusan PTUN terhadap HTI dianggap banyak kalangan sebagai bentuk ketidakadilan. Pihak HTI menganggap tindakan pemerintah dan keputusan PTUN adalah sebagai bentuk kezaliman rezim yang anti Islam. Bahkan seorang profesor hukum mempertanyakan apakah PTUN itu pengadilan administrasi atau pidana.

Ada seorang akademisi kampus menolak perppu ormas karena dianggap sebagai bentuk otoritarianisme yang akan dipakai untuk mengontrol pemikiran orang dan menimbulkan kedunguan warga muda bangsa ini.

Meski demikian ada juga sebagian tokoh yang justru membenarkan keputusan PTUN. Mereka ada yang menganjurkan agar HTI legowo, ada juga yang menyatakan PTUN sudah benar, hingga ada yang menganjurkan penolakan pengadilan saat HTI banding. Tentu ini ridak sejalan dengan semangat negara hukum dan tidak baik untuk contoh bagi anak cucu bangsa ini.

Tapi ironisnya, sebelum pemerintah menerbitkan perppu ormas, gagasan HTI justru sering disebut sebagai sebuah mimpi yang utopis. Bukankah mimpi adalah hak setiap manusia. Sejak kapan mimpi diatur dan dilarang. Tapi begitulah pemerintah hari ini, HTI yang dianggap mimpi utopis, tapi justru dilarang. Sementara ideologi kapitalisme yang jelas merusak negeri ini justru dimanjakan.

Maka tidak berlebihan kalau saya juga mengucapkan rasa terima kasih kepada PTUN karena dengan keputusan ini rakyat bisa menilai ketidakadilan hukum di negeri ini. Saya akan menceritakan kepada anak cucu saya bahwa ketidakadilan adalah bagian dari kezoliman.

Tentu saja ucapan terima kasih kepada keduanya memiliki tujuan yang jelas yakni atas kontribusi nyata HTI terhadap Indonesia dan contoh nyata atas sebuah ketidakadilan. Dari keduanya, saat saya ceritakan kepada anak cucu, saya berharap mereka akan menjadi pejuang Islam sejati dan agar anak cucu saya tidak menjadi generasi yang tidak cinta keadilan.

Terima kasih HTI, terima kasih PTUN, kalian telah memberikan pelajaran berharga tentang makna perjuangan dan makna ketidakadilan. Namun, bagi siapapun, pintu taubat selalu terbuka. Dahulu sebelum bertaubat orang seperti Umar bin Khatab adalah manusia jahat yang memusuhi Islam.

Terima kasih HTI dan terima kasih PTUN, pilihan hidup ada di tangan kita. [AhmadSastra, KotaHujan,08/05/18 : 18.50 WIB].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget