Vonis yang Menyesakkan Dada [Sang Emak Ihlas &Tabah Menjalani]



VONIS YANG MENYESAKKAN DADA
[Sang Emak Ihlas &Tabah Menjalani]

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.


Rangkaian persidangan telah dilalui, putusan sidang sudah dibacakan, sang emak telah dianggap sah dan meyakinkan menebarkan kebencian SARA melalui jejaring sosial media. Atas tudingan itu, sang emak diganjar vonis pidana 6 bulan penjara subsider denda 1 juta rupiah atau pengganti satu bulan kurungan.

Ujaran kebencian menjadi mantra ampuh yang menjadikan kritik bisa berujung penjara, ujaran kebencian, menjadikan partai politik berkuasa mampu berlindung dibalik unsur "Golongan" dan menjadikannya dapat tercemar dan dirugikan tanpa mengajukan tuntutan dan dakwaan.

Ujaran kejengahan pada sistem sekuler, ujaran kerinduan para syariat Islam, kerinduan berpulang kepada hukum Allah SWT, hukum dari Tuhan pencipta manusia, pencipta alam semesta dan pencipta kehidupan, telah ditafsirkan sebagai ujaran kebencian dan SARA.

Ujaran Pasal 28 ayat (2) UU ITE, akan menjadi pasal pukat harimau yang dapat mengangkut semua aspirasi yang berbeda dengan rezim yang berkuasa ke jeruji penjara. Kedepan, UU ITE hakekatnya hanya tinggal satu pasal, pasal 28 ayat (2) inilah, yang akan menjadi langganan pasal dasar hukum untuk memburu dan mengejar setiap geliat aspirasi yang menentang logika kekuasan.

Jonru dijerat dengan pasal ini, Buni Yani dijerat dengan pasal ini, Alfian Tanjung dijerat dengan pasal ini, Asma Dewi dijerat dengan pasal ini, bahkan Achmad Dani sampai hari ini disidang dengan tudingan melanggar pasal ini.

Pasal 28 ayat (2) ITE, akan menjadi pasal yang bisa langsung menahan Tersangka, karena ancaman pidananya melebihi 6 tahun penjara.

Dalam kasus Rini Sulistiawati, sesungguhnya yang lebih layak menurut ahli, seharusnya menggunakan pasal
27 ayat (3) tentang pencemaran nama baik, pencemaran terhadap PDIP karena dituding tidak butuh suara umat Islam. Namun pasca amandemen UU ITE, pasal ini tidak seksi, ancamannya diturunkan menjadi 4 tahun, sehingga tidak bisa digunakan untuk menahan tersangka.

Karenanya, pasal 28 ayat (2) kedepan akan menjadi pilihan pasal favorit untuk menjerat kritisme publik di jejaring sosial media, apalagi menjelang pemilu dan Pilpres. Ujaran berbeda, yang dilandasi perbedaan pilihan politik bisa saja ditafsirkan kebencian dan SARA, karena dianggap mendeskreditkan pihak lain.

Jika pihak lain yang dimaksud penguasa, yang ingin melanggengkan kekuasaannya (padahal didunia ini tidak ada yang abadi), maka penguasa akan berusaha menggunakan alat-alat kekuasan yang ada padanya, menjerat para pelaku ujaran berbeda, berdalih pasal 28 ayat (2) UU ITE.

Kembali ke nasib sang emak. Logisnya ini disebut vonis, betapapun tidak adil. Tetapi, itulah batas keadilan pada dimensi inderawi dunia. Pengadilan tidak pernah memberikan keadilan hakiki, banyak kebenaran tersirat tidak diungkap. Banyak tendensi lebih kental ketimbang nalar dan nurani yang dipertimbangkan.

Peradilan dunia, telah menyediakan sarana untuk banding, kasasi atau bahkan peninjauan kembali. Namun, ikhtiar itu tidak memberi jaminan keadilan benar-benar menjadi buah dari ikhtiar merawat pohon-pohon perjuangan hukum.

Buah dari pohon keadilan telan jauh dari akarnya, buah itu telah dirampas tirani kekuasaan. Buah itu telah dipanen dari batang dan pohonnya, sementara rakyat jelata dibiarkan sibuk menanam dan merawatnya tanpa pernah memetik ranum buahnya.

Buah keadilan telah dikapling dan hanya menjadi hak para penguasa dan mereka yang berpunya. Rakyat jelata diminta untuk terus tunduk, taat dan patuh, sementara para bromocorah kekuasaan sibuk berpesta pora menginjak-injak nurani dan keadilan.

Hari-hari kedepan, akan tetap dilalui oleh sang emak dibalik jeruji penjara. Ramadhan yang diberkati, keindahan hari raya Idul fitri, tidak mampu memantik naluri empati dan nurani, membisikkan kekuatan ruh agar mampu menggerakan Palu vonis untuk menyatukan keluarga yang terpisah.

Mengembalikan bakti seorang istri kepada suami, mengembalikan hak sekaligus kewajiban ibu merawat anak-anaknya, memberikan tangguh untuk menggerakan rasa agar asa untuk berjumpa pada sanak dan saudara di hari-hari bahagia.

Terdakwa, sang emak militan telah menyatakan menerima putusan. Kuasa hukum telah memberikan ikhtiar pembelaan maksimal, untuk memberikan yang terbaik bagi hukum dan keadilan.

Akhirnya, inilah ujian keimanan, ujian seorang hamba yang harus iman kepada Qadla (keputusan) dari Allah SWT, baik itu baik atau buruk menurut pencerapan indera manusia. Sungguh, putusan ini tidak terjadi kecuali atas izin dan kehendak Allah SWT. Keadilan hakiki, hanya ada pada yaumul hisab, dimana Allah SWT sendiri kelak yang menjadi hakimnya dan pengadilnya.

Kepada khalayak, kepada para aktivis, pemerhati hukum, netizen yang sempat dan setia mengikuti dinamika perkara ini, kami ucapkan Jazakumullah katsiran atas atensi, doa dan dukungannya. Semoga Allah SWT membalasnya. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget