June 2018



By Al-faqir Bahron Kamal

Kami akrab memanggilnya dengan sapaan Kang Hari. Tempat kami biasa bertemu adalah di kantor redaksi Majalah Al-wa'ie Cimanggu Bogor. Kami dipertemukan dan dipersaudarakan oleh misi hidup sebagai muslim. Di sana sejumlah kawan memang kerap bertemu meski tidak selalu ada agenda khusus. Begitu pun Kang Hari tanpa ada undangan sering sambang dan bertandang ke kantor itu.

Boleh jadi rentang waktu itu adalah masa di mana Kang Hari berupaya meneguhkan diri di jalan dakwah dari perjalanan hijrahnya. Sebelum itu sempat beberapa lama surut, seolah 'menjauh' dari interaksi bersama kami. Problem-problem dan kondisi yang dialaminya membuat kami sangat memaklumi.

Pasca itu semangat dakwah Kang Hari kembali menggelora setelah salah seorang sahabat kami yang lebih muda, berilmu, kalimat-kalimatnya berhikmah, punya kharisma dan kami sangat menghormatinya, dialah ustadzuna Hafizh Abdurahman sengaja mengunjungi beliau. Beliau memberi penguatan kepadanya. Mungkin itu salah satu hal yang dapat membantu Kang Hari dapat memenangkan pergolakan bathinnya.

Malam itu cuaca agak mendung selepas Isya Kang Hari datang. Kebetulan kantor cukup sepi hanya berdua atau bertiga dengan beliau sendiri. Seperti ada gelisah yang tengah bergayut dan terkesan ada sesuatu yang membuatnya kurang rilek dari biasanya. Rupanya malam itu Kang Hari telah dijanjikan oleh seorang Kyai di Pondok untuk dipertemukan dengan seorang Nisaa dan akan dinikahkan jika beliau berkenan. Tetapi ia bimbang. Mantan istri terkasihnya pernah berpasan kepadanya, kalau Aa (Kang Hari) mau married lagi harus kasih tahu Neng dulu. Tampaknya walau keduanya telah berpisah sebagai suami-istri namun benih-benih kasih di antara keduanya belumlah sirna. Perpisahan terjadi karena provokasi dan intervensi pihak ketiga. Lebih karena 'dunia' Kang Hari sudah tidak lagi bisa memberi harapan hidup gemerlap. Rongrongan itu begitu kuat tanpa sanggup dihadapi oleh keduanya. Akhirnya cinta kasih pun harus terberai. Secara spesifik beliau tidak bertutur kepada kami, tetapi sebagai saudara kami mengempati.

Persoalan yang muncul, beberapa kali Kang Hari mengutarakan rencana pernikahan keduanya kepada Sang mantan peragawati itu selalu berujung pada urungnya akad nikah. Kami pun paham dan berupaya mengurai dilema yang menggayuti pikirannya.

"Kang Hari, berangkat saja ke Pondok," ujar kami, "terimalah niatan mulia Pak Kyai. Tidak ada kewajiban memberitahu kepada mantan istri, sehingga tidak ada dosa bagi Kang Hari tidak memberi tahu lebih dulu. Setelah akad pernikahan nanti boleh Kang Hari beri kabar dia." Beliau pun minta doa lalu berangkat menemui Pak Kyai. Alhamdulillah pernikahan itu menjadi pernikahan yang diberkati dan mengantarkan mereka pada maghligai rumah tangga bahagia sakinah mawaddah warahmah...

Bulan-bulan setelah itu kami nyaris tak pernah lagi bertemu. Kami sekeluarga pindah domisili ke kota Malang, Jawa Timur. Hanya pada event-event tertentu atau ketika Kang Hari ada agenda safari ke Jawa Timur kami bisa bertemu. Setiap kali bertemu beliau selalu bermaksud cium tangan saat bersalaman, tetapi sekuatnya kami menghindar. Beliau seorang yang tawaddu' apalagi kepada orang yang dipandangnya berilmu. Maka cipika-cipiki yang tanpa basa-basi, peluk ketulusan lebih dari cukup untuk mengekalkan persaudara, keakraban, dan kasih sayang di antara kami...

Ahad malam itu kami berdua dengan istri baru istirah di kamar. Kami berdua masih berbincang tentang rencana esok hari, melanjutkan silaturrahim Syawwal ke famili dan lkhwanii seperjuangan. Tiba-tiba putri kedua kami mengetuk pintu kamar seraya mengabarkan bahwa Wak Hari Moekti meninggal dunia, lkhbar dari grup wa. Putra-putri kami memang kami akrabkan memanggil beliau Wak Hari. Meski beliau sendiri tidak mengenali langsung satu persatu, hanya bertemu diforum-forum dakwah bersama Ustadz Hari Moekti.

Spontan kami membuka hape: innalillahi wa innailaihi roji'uun...
Keesokan hari-hari sesudah itu kami banyak menyimak video-video yang memuat kenangan jejak hidup beliau dan tak kuasa kami memampat deraian air mata...

Wahai sahabat kami Kang Hari Moekti
Engkau berpulang setelah nyalakan terang
Dan di bawah terang yang engkau nyalakan orang-orang menemukan jalan menuju tujuan engkau bukan lagi lilin yang memancarkan terang dengan kehancuran diri yang nihil makna
engkau telah menjadi Dian yang memancar cahaya lalu engkau bersama mereka yang menyunting nyala cahaya itu berjalan bersama beriringan menuju Rabbnya
Dan tentulah cahaya itu kini tengah menerangi dirimu di sana dan niscaya engkau tidak akan ditimpa kegelapan selama-lamanya, aamiin...


Malang, Jum'at mubarak jelang akhir Juni 2018



KEBESARAN ITU TIDAK AKAN HILANG

Oleh :
Akmal Kamil Nasution, S.H (LBH Pelita Umat Korwil Kepri)

Dalam siroh diceritakan, Stikma buruk tukang sihir, majnun, tukang syair tidak mampu memalingkan kaum Muslimin dari Rasulullah SAW, justru iman mereka semakin bertambah dan kokoh. Sehingga Abu Jahal dan kawan-kawannya mulai bertanya-tanya pada diri mereka sendiri "jangan-jangan apa yang dibawa Muhammad memang benar"?.

Begitupula hari ini, penulis yakin, dari keteguhan HTI dalam memegang ide Islam, akan membuat hati para pendengki bertanya-tanya "jangan-jangan ide syari'ah dan Khilafah itu memang benar ? pasalnya, di cap radikal malah dakwahnya semakin gencar, dicabut Badan Hukum Perkumpulannya justru dakwahnya tetap jalan, di teror malah tidak ada rasa takut, jangan-jangan kita yang salah, HTI benar"?.

Dulu pertanyaan seperti itu mendorong Sufyan bin Harb, Abu Jahal, Amru bin Hisyam dan al-Akhnas bin Syariq untuk mendengarkan Al-Qur'an dengan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai suatu malam mereka mendengarkan Muhammad SAW yang sedang membaca Qur'an dalam sholat malamnya, satu sama lain tidak mengetahui tempat duduk masing-masing, hati mereka terpesona dan jiwa mereka sejuk mendengarkan Qur'an, mereka lakukan itu sampai fajar, lalu mereka kembali kerumah masing-masing. Namun, ditengah jalan mereka saling berpapasan dan kemudian saling mengejek satu sama lain, mereka berjanji tidak akan mengulangi lagi, tapi kaki mereka bagaikan diseret sehingga mereka lakukan itu sebanyak tiga malam. Hati mereka menerima tapi nafsu kekuasaan menutupi cahaya kebenaran.

Hari ini penulis juga yakin, para penentang ide Khilafah itu ada yang diam-diam mendengarkan ceramah dan khutbah maupun dokumentasi dakwah syari'ah dan Khilafah. Hati mereka menerima sebenarnya, tapi mereka takut kehilangan jubah kekuasaan dan kebesaran.

Apakah kekuasaan dan kebesaran itu yang mereka takutkan ? Bukankah semasa Jahiliyah Umar dan Hamzah juga orang besar ? setelah memeluk Islam, kekuasaan dan kebesaran itu justru tetap dan semakin besar, sampai-sampai Umar pernah menjabat sebagai Kholifah, Hamzah mendapat gelar dari Rasulullah sebagai Panglima Syuhada. Dulu Almarhum Hari Moekti juga begitu, semasa jadi artis besar di atas panggung, setelah hijrah tetap juga besar di atas panggung dakwah, jadi kebesaran diatas panggung tidak hilang.

Maka begitulah, Kekuasaan, kebesaran, populatitas tidak akan hilang, hanya gara-gara menerima ide Islam. (Kabirukum fil jahiliyyah, kabirukum fil Islam, iza faqquh fiddin.

Wallahu a'lam bissawab



Oleh : Iwan Januar

Kapan saya kenal Hari Moekti? SMP, kelas 3. Lewat lagu Ada Kamu saya tahu muka dan sosok Kang Hari. Pendekar, pendek dan kekar. Waktu itu TVRI berulang kali menayangkan video klip Ada Kamu. Kang Hari bergaya glam rock. Jaket dan celana kulit plus make up ala David Bowie. Suaranya beuuuhhh keren! Menurut kuping saya yang bertahun-tahun diisi musik cadas alias rock, vokal kang Hari lebih powerfull ketimbang Vince Neil-nya Motley Crue, lebih gahar ketimbang Don Dokken, dan lebih bulet ketimbang David Lee Roth. Lagu Ada Kamu juga sering dinyanyikan teman-teman di kelas yang waktu itu gandrung pada grup cadas mancanegara macam Loudness, Motley Crue, Judas Priest, Bon Jovi dan Iron Maiden. Ternyata ada lagu rock lokal yang catchy di telinga dan powerfull.

Sosok Kang Hari juga saya kenal lewat majalah dan tabloid musik. Di tabloid Citra Musik saya baca lagi profil Kang Hari. Eh, ini rocker beda pisan. Hobinya rock climbing mirip David Lee Roth, tapi no drug, no alcohol, no women. Dan subhanallah, eta aya foto sang rocker sholat di atas bukit ba’da climbing.


Setelah itu saya tak pernah kenal lagi jejak Kang Hari sampai kemudian di SMA, panitia mengundang Kang Hari mengisi acara pengajian. Saya tidak kaget, karena kasak kusuk yang beredar kang Hari sudah mulai berubah. Sudah mau diajak ikut pengajian. Kang Hari mulai berani isi pengajian; isinya pengalaman pribadi dan keresahan beliau sebagai musisi. Main lempar-tarik-tangkap mikropon dan kalimat “saya mantan setan!” jadi ciri khas di atas panggung pengajian. Orang-orang penasaran setiap kali ada pengajian mengundang kang Hari; bagaimana ceritanya ia bisa berubah.

Setelah lulus sekolah, saya jadi lebih sering bertemu kang Hari, itu karena saya menjadi pimred satu majalah remaja Islam, Permata. Bersama kolega saya, Oleh Solihin, beberapa kali kami berkunjung ke rumah mertua beliau dari pernikahan yang pertama, di Cicurug. Saya melihat Kang Hari sebagai sosok yang jujur, terbuka dan egaliter. Kami yang umurnya lebih muda dan bukan siapa-siapa diperlakukan sama. Diajak makan bahkan dibelikan bahan celana untuk kemudian dibayari pula ongkos menjahitnya. Wew, segitunya, kang.

Waktu itu kang Hari sering didampingi beberapa orang ustadz, ada coach Syamsul Arifin dan Luthfi yang sering mendampingi dan men-charge keislaman beliau. Lagi-lagi saya dibuat terkesima; kang Hari ini semangat belajarnya luar biasa, semangat menyampaikannya juga luar biasa. Apa yang beliau sudah pelajari biasanya disampaikan lagi di sesi tabligh. Kang Hari ini sosok yang ‘rakus’ ilmu agama.

Saya percaya orang yang ikhlas akan lebih mudah mendapatkan hidayah. Itupula yang saya lihat dari sosok Kang Hari. Beliau nothing to loose. Nggak pernah berpikir dapat apa dari dakwah. Beberapa kali amplop yang diberikan panitia beliau kembalikan ke mereka, dengan niat membantu renovasi mesjid atau musola. Belum lagi jiwa pemurahnya. Kalau berkumpul dengan kawan-kawan pengajian, tak sungkan beliau traktir makan bersama.


Untuk bisa istiqomah di jalan dakwah dan hijrah, juga perlu kesabaran ekstra. Kang Hari nampaknya punya cadangan sabar yang luar biasa. Berbagai terpaan hidup sepanjang hijrah tak membuat Kang Hari surut dari jalan dakwah. Kondisi finansial yang njomplang dibandingkan profesi artis sampai pernikahan pertama yang berujung perceraian, tidak membuat beliau meminta pamit mundur dari dunia dakwah. Totalitas hijrah beliau membuat saya geleng-geleng kepala. Kagum. Masya Allah, kang!

Pernah beliau cerita nilai show saat manggung bisa mencapai 50 juta rupiah persesi. Ini ukuran besar untuk tahun 90-an. Atau syuting sitkom beliau di satu tv swasta yang perepisodenya bernilai 10 juta rupiah. Belum lagi tawaran iklan (salah satu yang paling ngetop adalah kata “bungkusss!”). Dengan mantap beliau lepas karena merasa itu tidak sejalan dengan dakwah.

Banyak yang menyayangkan, banyak yang menuduh, dan lebih banyak lagi yang mengapresiasi mundurnya Kang Hari dari dunia entertainment. Orang-orang yang menyayangkan karena seorang Hari Moekti sebenarnya masih bisa bertahan di panggung entertainment beberapa tahun lagi. Terbukti albumnya bersama grup Adegan melejitkan hit Hanya Satu Kata dan Perbedaan. Ada juga yang menuduh Harmoek mundur karena memang sudah tak laku, ada juga yang menuduh Kang Hari itu ‘sesat’. Disebut sesat karena Kang Hari sering menyampaikan di atas panggung kalau profesi artis itu banyak haramnya. “Saya mantan syetan!” itu yang sering disampaikan beliau. Nah, pernyataan itu yang tidak disetujui sesama artis sampai muncul tudingan ‘sesat’.

Beliau pernah cerita, hijrah dan aktifitas dakwahnya membuat sebagian kawan artis bukan hanya segan tapi ‘takut’ bertemu beliau. Takut dinasihati dan dihentikan kemungkarannya. Apalagi artis-artis yang bergaya bencong, takut luar biasa bertemu beliau. Ada cerita menarik saat beliau baru pulang dari satu agenda dakwah. Ketika landing di bandara Kang Hari menyadari di belakang beliau ada seorang rocker senior di bandara yang sama. Tapi rocker ini enggan menyapa dan menemui kang Hari, agar tidak bertemu sang rekan ini melambatkan jalannya. Akhirnya Kang Hari menghampiri sang rocker, belum saja Kang Hari menyapa rocker ini duluan bicara, “Eh, Ri, gimana kabar lo? Makin sesat aja nih!” Wkwkwk.


Sebagai mantan artis, saya heran juga dengan gaya hidup beliau. Kang Hari bukan tipikal orang atau mubaligh yang rigid dengan urusan fasilitas. Beliau tak ambil pusing mau naik pesawat jenis apa, tiket kelas berapa, atau menginap di hotel bintang berapa. Setahu saya sejumlah mubaligh, coach, trainer, atau dai ada yang minta fasilitas khusus dari panitia. Hotel bintang lima dan harus penerbangan kelas satu. Alasannya? Jaga imej. Tapi kang Hari bisa nyaman saja tidur di rumah warga. Ada kejadian memalukan yang saya alami. Ceritanya saya pernah ikut dampingi Kang Hari dan supirnya ke acara di Cimahi. Usai tabligh kebiasaan beliau adalah diskusi sampai larut malam. Saya yang sudah keletihan dipersilakan oleh tuan rumah untuk tidur di kamar tidur. Saya pun langsung tumbang di atas kasur. Besok paginya saya bangun, eh Kang Hari ternyata tidur di kursi panjang. Waduh, siapa yang ceramah siapa pula yang dapat fasilitas lebih baik. Malu, bro.

Kalaupun ada yang beliau cereweti adalah kualitas sound system, karena menyangkut kualitas tabligh. Kalau ada mesjid penyelenggara yang kualitas sound-nya kurang pas, tak sungkan beliau ajari operator untuk mengatur mixer sound, lalu beliau biasanya rekomendasikan merk sound system yang bagus untuk dipakai di mesjid. Komplit dah, kang ceramahnya. Akhirat dapet, dunia juga dapet.

Kesederhanaan kang Hari itu ternyata saya tahu bentukan dari masa kecil dan masa muda. Hidup dari keluarga tentara yang sederhana dan bekerja keras, termasuk jadi room boy di hotel. Saat jadi artis pun Kang Hari lebih senang menggunakan uangnya untuk membeli peralatan climbing, nraktir kawan ketimbang shoping atau dugem. Maka saat hidayah dan dunia dakwah menyentuh kang Hari, suasana bersahaja itu menjadi semakin kuat. Rumah masih mengontrak, pakai mobil sewaan dan mau aprak-aprakan (berjibaku) ke pelosok untuk mengisi pengajian di kampung yang di ujung gunung. Yang tak berubah adalah kebiasaan beliau memuliakan tamu. Sekitar enam tahun lalu, saya dan beberapa rekan dari kantor berkunjung ke rumah beliau untuk membicarakan urusan bisnis. Entah senang karena baru bertemu lagi dengan saya (suer ini saya ge er), beliau langsung mengajak istrinya lalu menraktir kami semua makan siang di satu restoran sunda di Cibubur Junction. Ya Allah, kang, bageur teh teu robah-robah!

Kang Hari bagi saya panutan sebagai dai pejuang. Beliau sosok dai ‘cadas’. Sampai perkampungan puncak gunung beliau datangi. Tak pernah menolak. Ada foto beliau sedang siduru (menghangatkan badan) di depan hawu/tungku, bersama istri beliau. Itu lokasi tabligh yang cukup jauh dan di pelosok gunung.

Beliau juga sosok ‘cadas’ saat berdakwah. Tanpa tedeng aling-aling sampaikan Islam. Haram ya haram, mungkar ya beliau bilang mungkar. Tanpa ragu beliau sampaikan hukum wajibnya menerapkan syariat Islam dan menegakkan Khilafah di depan siapa saja. Cadas banget. Luar biasanya adalah beliau mampu mengartikulasikan pembahasan yang berat seperti tema qodlo-qodar dan kewajiban khilafah dalam retorika yang mudah dicerna audiens.


Hidup beliau bukannya tanpa ujian. Belum punya rumah pribadi, bercerai dari istri pertama, sampai sakit yang berkali-kali mendera beliau. Tapi daya juang beliau untuk berdakwah nampaknya yang membuat beliau tetap kelihatan sehat dan kuat. Suatu waktu saya mencoba dampingi beliau mengisi tabligh di satu mesjid di satu kawasan di Bogor. Sore hari ketika dikontak beliau sedang menjalani perawatan di rumah sakit di Bogor. Sampai isya beliau belum bisa keluar. Panitia sudah dag dig dug. Bada isya barulah beliau bersama istri tiba di lokasi. Membawa kendaraan sendiri. Sampai lokasi beliau minta waktu untuk istirahat sejenak di dalam mobil. Alhamdulillah tak berapa lama beliau tampil di atas panggung seperti tak sakit apapun. Cadas. Masya Allah.

Hijrah total dan istiqomah adalah hal lain yang menjadi teladan bagi saya. Meninggalkan panggung entertainment bukan perkara yang gampang. Itu berarti kehilangan popularitas dan penghasilan yang amat besar. Tapi beliau bisa istiqomah di jalan dakwah dan saya tak pernah mendengar beliau mengeluh. Beliau juga bersabar menghadapi berbagai suasana dakwah yang tak selamanya manis. Pernah beliau diminta isi tabligh di satu tempat. Berangkat naik pesawat, tiba di bandara, ternyata tak acara itu batal. Tak ada konfirmasi sama sekali. Beliau tidak kapok dan tidak berpaling dari dakwah.

Lama saya tak bertemu lagi Kang Hari Moekti selain sesekali membaca berita beliau sudah semakin sering sakit-sakitan. Sampai kemudian di WAG saya membaca berita wafatnya beliau. Pagi-pagi bersama istri dan dua anak remaja saya, berangkat ke Cikereteg, tempat peristirahatan terakhir beliau. Kami berharap masih sempat ikut menshalatkan jenazahnya. Di tengah cuaca mendung, sesekali gerimis, kami tiba di lokasi. Jamaah sudah penuh, saya tak bisa mendekat ke keranda jenazah apalagi menatap wajah beliau untuk terakhir kali. Saya hanya bisa menshalatkan, mengantarkan ke pemakaman, dan menatap keranda jenazah berbalut bendera liwa.

Saya mengingat keistiqomahan beliau di saat ada sebagian orang mundur dari jalan dakwah karena berbagai alasan. Beliau tetap berada dalam jamaah dengan segala hiruk pikuknya, saat ada orang-orang yang saya kenal pamit mundur. Beliau meninggalkan dunia untuk mendapatkan agama dan akhirat, ketika ada orang yang meninggalkan dakwah untuk mendapatkan dunia.

Selamat jalan kang Hari.

Semoga akang mendapatkan panggilan dari Rabbmu;

Wahai jiwa yang tenang

Kembalilah ke pangkuan Rabbmu

Penuh keridloan yang diridloi

Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu

Masuklah ke dalam jannahKu



AYO DENSUS 88, SERBU TERORIS OPM !

Oleh: Nasrudin Joha

Kurang jelas apa, bukti yang bagaimana, motif politik apalagi ? Jelas, menggunakan kekerasan, bersenjata, menyerang objek vital strategis, menyerang aparat negara, membunuh warga sipil. Kurang apa lagi ?

Sudah jelas, sejak lama OPM pingin merdeka, masih cari-cari motif politik. Apa jika Papua sudah merdeka, baru terbukti motifnya ? Apa jika Papua merdeka, baru OPM disebut teroris ? Atau setelah merdeka OPM justru jadi mitra kerja ?

Ayolah, jangan hanya "gagah" terhadap umat Islam. Jangan hanya tegas terhadap yang sholat tarawih, tanpa menunggu witir langsung ditangkap. Jangan cari-cari bukti kitab suci umat Islam. Itu bukti terorisme di Papua SUDAH CETA WELA-WELA !

Apa mau menyebut itu cuma gerombolan kriminal ? Kelompok bersenjata ? Ayo, Kejar dan buru pelaku penyerang aparat dan mengganggu negara, ayo libatkan semua kekuatan dan sumber daya negara. NEGARA TIDAK BOLEH KALAH DENGAN TERORIS OPM !

Jangan hanya bikin operasi kecil-kecilan, minta anggaran sampai 44 triliun. Itu, TERORIS OPM segera ditindak, ajak wartawan meliput, agar tegas pesan kepada publik bahwa DENSUS 88 MELINDUNGI RAKYAT DARI TERORIS OPM DI PAPUA !

Jika negara diam, berarti benar dugaan SBY. Negara tidak netral, tidak hanya urusan Pilkada. Negara tidak netral menerapkan isu TERORISME, keras terhadap umat Islam tetapi lembek pada TERORIS OPM.

Ayolah Densus 88, kami rakyat mendukungmu untuk melumat Teroris OPM. Kami tunggu aksi heroikmu datang ke Papua. Jangan hanya digdaya terhadap kasus yang menimpa umat Islam.

Kasus ini kasus besar, dan sangat memalukan jika tidak segera ditindak. Bayangkan, serangan ke bandara, pesawat membawa logistik Pilkada, menyerang aparat brimob dan TNI, menewaskan warga sipil.

Disisi yang lain, mereka tegas ingin memisahkan diri, ingin merdeka. Mereka kirim surat ke Presiden, menantang eksistensi negara. Jika dibiarkan, ini berbahaya. Sangat berbahaya sodara !

Kami umat Islam, akan selalu mengawasi dari jarak yang sangat dekat. Kami tidak akan membisikkan apapun, jika persoalan tidak ditindak secara adil, kami hanya akan mengadu kepada Allah SWT.

Mengadu atas terbunuhnya jiwa kaum muslimin atas tudingan-tudingan jahat. Mengadu atas zalimnya penguasa kepada umat Islam. Karena itu, wahai Densus 88, ayo..segera terbang ke Papua. Tangkap hidup atau mati, gerombolan teroris OPM ! [].



Kisah taubatnya almarhum Ustadz Hari Moekti dari rocker menjadi dai. Almarhum berpulang pada Ahad, 24 Juni pukul 20.49 WIB.

+++

Hari Moekti: Hidup itu Pilihan!

Sindiran apa yang kudapat, ”Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala, bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar”.

Ramadhan 1995, aku diundang dalam acara dialog interaktif ‘Buka Puasa Bersama Artis’ di SMAK Analisis Kimia Bogor. Saat itu dialog dengan Adi Maretnas dengan moderator Muhammad Syamsul Arifin. Adi ini kok pinter banget, pikirku. Masih muda tapi otaknya seperti kiai saja, karena semua argumenku terbantahkan.

Usai acara Syamsul ngobrol denganku. Dia mengajak aku untuk mengaji kepadanya. Aku bertanya, boleh enggak aku mengaji lagi di tempat lain. ”Boleh, ngaji itu bisa ke mana saja. ”Yang penting kita punya pemahaman,” jawab Syamsul. “Pemahaman apa?” tanyaku.”Kepemimpinan berpikir, pemimpin kita itu bukan perasaan tetapi pikiran kita yang diatur oleh syariah Islam. Jadikanlah Islam sebagai kepemimpinan berpikir” tandasnya.

”Intelek sekali, hebat banget ucapan-ucapan kayak begini,” ujarku dalam hati. Ia berbicara panjang lebar. Akhirnya aku mengerti ternyata sekitar 80 persen ajaran Islam adalah terkait politik. Artinya sebagian besar ajaran Islam itu mengatur seluruh kehidupan manusia, seperti pendidikan, ekonomi, budaya, peradilan, pemerintahan dan lainnya. Sisanya, ya terkait ibadah mahdlah dan lainnya.

Seperti Lilin

Sejak itu aku dibina seorang ustadz muda secara rutin dengan berbagai dalil. Di antaranya Surat Al-Mulk ayat 2, agar Dia menguji kalian siapa di antara kalian yang amal perbuatannya paling sempurna. Aku sebagai artis banyak amalnya. Membangun masjid, sunatan massal, sedekah menyekolahkan anak-anak orang miskin tetanggaku dan menyantuni anak yatim. Sindiran apa yang kudapat, ”Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar”. Artinya, pikiranku, hartaku, tenagaku, itu bermanfaat bagi orang lain tetapi akan mencelakakanku di akhirat, karena tidak mendapat ridla Allah.

Benarkah amalku selama ini tidak diridhai Allah? Aku terus mencari jawaban. Ayat Al Mulk itu ternyata menjelaskan bahwa ahsan amalan (perbuatan terbaik) itu harus dilandasi dengan niat ikhlas dan cara yang benar berdasarkan tuntunan Rasulullah. Aku lalu berpikir, apakah waktu menyumbang niatku ikhlas dan memperolehnya dengan benar? Dari situlah aku belajar memahami Surat Al-Fatihah, Alhamdulillahirabbil ‘alamiin, segala puji bagi Allah Yang mengatur alam semesta. Maknanya, tidak layak dipuji, tidak layak memuji selain Allah. Sebagai artis, aku selalu ingin dipuji, selalu ingin memuja selain Allah. Sedangkan orang yang ihsan itu Mukmin yang beribadah, semata-mata hanya karena Allah.

Orang ikhlas itu selalu menutupi amal shalihnya sebagaimana ia menutupi keburukannya. Seperti orang yang kentut tanpa suara tapi baunya ke mana-mana. Pasti malu bila ketahuan kentut. Agar tidak ketahuan, pura-pura tidak merasa kentut. Jadi kalau orang ikhlas itu amal shalihnya bila tercium orang lain pura-pura tidak tahu. Kalau aku, saat itu, malah senang diberitakan di radio, televisi dan koran. Harusnya seperti orang yang kentut tadi, ia berharap agar baunya cepat-cepat hilang, bersyukur kalau tidak ada orang yang mengetahui kalau ia yang kentut.

Lantas apakah harta yang kuperoleh itu dari jalan yang benar? Pertanyaan itu berkecamuk dalam benakku. Ihdinashirathal mustaqiim, tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan yang lurus itu sirathal ladziina an’amta ‘alaihim, jalannya orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, yakni Nabi-Nabi dan para pengikut setianya. Bukti sebagai pengikut setia itu ya tentu saja yang mengikuti Nabi Muhammad SAW. Karena, tidak beriman seseorang di antara kalian, sehingga hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang kubawa, begitu sabda Nabi SAW. Apa yang Nabi Muhammad SAW bawa? Yaitu Alquran dan Sunnah. Yang kemudian diijtihad oleh para mujtahid dan diperkenalkanlah kepada kita sebagai syariah Islam dengan hukum yang lima itu, wajib, sunah, mubah, makruh dan haram.

Ghairil maghdhubi ‘alaihim, dan bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai. Mengapa kaumYahudi dimurkai padahal mereka adalah orang-orang yang cerdas? Ya karena kecerdasannya dipakai untuk merusak umat Islam. Jadi artis sebenarnya adalah ujung tombak Yahudi untuk menyebarkan paham setan, di antaranya adalah seks bebas dan sinkretisme agama. ”Jadi aku harus meninggalkan dunia artis ini?” tanyaku. ”Oh terserah Kang Hari, ente kan sudah paham tentang qadla dan qadar bahwa hidup itu pilihan,” ujar Syamsul.

Terus aku berdoa kepada Allah, ”Ya Allah berikan aku kekuatan untuk mampu meninggalkan apa saja yang Engkau tidak sukai dan gantikanlah aktivitas kehidupanku ke aktivitas yang Engkau ridhai”. Doa itu kupanjatkan di Padang Arafah ketika ibadah Haji awal tahun 1996. Pulang naik haji, aku berubah total. Tanpa ragu kutinggalkan dunia artis ketika kontrak sinetron dan iklan tinggal kutandatangani saja. Bahkan kontrak menyanyi yang sedang berlangsung, kubatalkan. Karena aku paham, dunia artis itu banyak keharamannya.

Memang, hukum nyanyinya sih mubah tetapi aktivitas lainnya yang terkait nyanyi banyak haramnya. Aku baru naik panggung saja, para penonton sudah mabuk. Campur baur laki-laki dan perempuan. Aku nyanyi, yang nonton memujaku, jatuh syirik nantinya. Si penyanyinya itu, tidak bisa dihilangkan dari rasa ingin dipuji, ujub namanya. Itu yang aku rasakan. Dua belas tahun aku sebagai artis dipuja-puja setan. Ternyata, saat itu, aku juga setan. Astaghfirullah.

Satu setengah tahun sejak dialog di SMAK itu, aku baru ngeh bahwa ustadz muda itu adalah aktivis Hizbut Tahrir. Kemudian aku diminta bergabung berdakwah, berjuang bersama untuk menyadarkan umat agar mau menegakkan kembali institusi politik Islam yakni Khilafah Islam. Aku jawab, kenapa tidak dari dulu saja Tadz![]

Diolah oleh Joko Prasetyo dari wawancara Joko Prasetyo dengan Ustadz Hari Moekti tahun 2010. Dimuat di tabloid Media Umat


TETAP BERBAKTI MESKI AKU TELAH MATI

Berbakti dari harta artis tak ada arti/
Laksana lilin menerangi tapi membakar diri/
Aku pun taubat dan karier menyanyi kuakhiri/
Lalu mengaji dan menjadi dai//

Jadilah aku anak shalih yang mendoakan orang tua/
Semua harta nyanyi sirna tidak mengapa/
Yang penting untaian doa tetap dipanjatkan kepadaNya/
Tapi keresahan tetap menyelimuti dada//

Karena doa pasti terhenti ketika aku mati/
Sedangkan aku ingin sekali tetap berbakti
Maka wakaf atas nama orang tua menjadi solusi/
Tidakkah Anda ingin turut berpartisipasi//

Di era tahun 1980 hingga 90-an siapa yang tak kenal saya, Hari Moekti? Kariernya melambung tinggi. Olah vokalnya banyak yang memuji. Saya jalani dunia artis yang glamour. Namun ada yang sangat menyedihkan hati. Saya jauh dari ibu. Ibu tidak suka saya menjadi artis.

Entah apa yang ibu doakan tentang saya, yang jelas pada 1995, saya mendengar ayat suci Al-Qur’an dari seseorang dan ia pun menjelaskan maknanya kepada saya. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(QS. Al Mulk: 2)

Allah menilai amal seseorang yang sempurna (ahsanu ‘amalan, amal yang baik/sempurna). Saya selama jadi artis banyak beramal.Setiap habis bernyanyi uang saya sedekahkan. Namun orang itu menyatakan: “Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala, bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar.”

Mengapa? Karena Allah tidak menuntut amal yang banyak, tetapi amal yang sempurna. Dan saya tidak sempurna. Manusia tidak sempurna. Mengapa Allah mengatakan amal yang sempurna? Ternyata simple saja.

Sempurnanya manusia itu melakukannya dengan ikhlas dan aktivitas itu benar, diridhai Allah. Sedangkan saat jadi artis, amal yang saya lakukan agar mendapat pujian, dan setiap manggung, saya pun jadi wasilah maksiat banyak orang; mabuk, berkelahi atau pun campur baur lelaki dan perempuan. Dan satu lagi, menjadi jauh dengan ibu.

Maka ketika karier berada di puncak, pada tahun yang kelima belas, saya merekam lagu baru, lagu ini akan meledak di pasaran, kemudian produser pun mendatangi saya, beberap iklan datang mau teken kontrak, saya bilang tidak mau. Saya mau muhasabah diri dulu.

Karena saya teringat ibu saya pernah mengatakan seorang tetangga bertanya. “Ibu hebat, punya anak terkenal, seneng ya.”

Ibu saya diam saja. “Kenapa Bu, tidak bahagia punya anak terkenal?”

Lalu Ibu menjawab. “Ah Bu, ayeuna mah, budak teh tara balik, teu jiga baheula, dititah naon wae nurut, ayeuna mah budak teh teu aya.” (Ah Bu, sekarang, anaknya tidak pernah pulang, tidak seperti dulu, disuruh apa saja menuruti, sekarang anaknya sudah tidak ada).

Itu ungkapan dari lubuk hati ibu yang merasa kehilangan anaknya. Karena saya menjadi anak yang melupakan orang tua. Ini merupakan kegelapan bagi saya. Karena ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua.

Ini yang menginspirasi saya ketika saya membaca Al-Qur’an bahwa ridha Allah itu ada pada ridha kedua orang tua. Selama saya menjadi artis saya melanggar ayat ini birrul walidayn, berbakti kepada kedua orang tua.

Berbakti kepada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, wajib ain, tidak bisa titip kepada orang lain. Pantas ibu saya sedih. Saya kirim uang untuk bisa bikin rumah, beli mobil, tidak pernah berwujud rumah, tidak pernah berwujud mobil, karena ibu saya tidak butuh itu. Uang itu oleh ibu disalurkan lagi kemana saja. Ibu saya tetap sederhana di rumah peninggalan suaminya yaitu bapak saya, yang telah berpulang sejak saya kecil.

Kemudian saya ingin mengharap ridha Allah dengan doa ibuku. Entah apa yang dia doakan. Kemudian saya bertaubat saja meninggalkan dunia artis. Saya tinggalkan dunia artis itu. Dalam waktu tiga setengah bulan, harta saya habis dan malah berutang. Karena saya tinggalkan begitu saja perusahaan saya. Saya ambil saham-sahamnya, tidak saya jual sahamnya.

Tapi ibu saya gembira. “Tah kitu atuh, sering ngalongok Mamih.” (Nah begitu, sering menjengguk Ibu). Kalau sudah miskin begini datang, sering melongok ibu. Ibu saya senang sekali. Dan dia mendoakan saya. Subhanallah, sekarang hidup saya bahagia. Ketika saya sedang menikmati kebahagiaan bersama ibu. Beliau meninggal. Saya belum banyak berbuat. Saya sedih.

Yaa Allah... apa yang harus saya perbuat untuk ibu. Mungkin ibu pun banyak membawa dosa pulangnya. Tapi sebagai anak saya tidak bisa berbakti apa-apa. Sementara uang saya sebagai artis tidak dapat menolong ibu.

Saya tidak boleh lama-lama bersedih. Kegelapan pasti akan berakhir. Pasti akan berlalu. Tapi bagaimana caranya. Dalam pertaubatan bertahun-tahun saya mengaji. Alhamdulillah bisa timbul rasa bahagia dengan mengaji bahkan menjadi dai. Karena bisa menjaga istiqamah. Agar mati dalam keadaan khusnul khatimah.

Dan yang tak kalah pentingnya lagi, saya tetap bisa berbakti meski ibu telah pergi, seperti yang dinyatakan Nabi: Jika seseorang mati, maka amalnya terputus, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim).

Tapi ada yang tidak puas dalam diri saya. Saya berutang besar kepada ibu saya. Kalau saya mati nanti, siapa yang akan mendoakannya? Alhamdulillah, pada 2005, Saya bertemu dengan teman dari Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) dan mereka mampu menghapuskan air mata saya.

Menurutnya ada amal yang bisa saya sampaikan kepada ibu secara berkesinambungan, meski pun saya telah mati! Ia pun membacakan hadits.

Dari Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, apakah aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: Ya. Aku berkata: “Sedekah apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab: “Mengalirkan air.” (HR An Nasa’i dan Ibnu Majah).

Mengalirkan air adalah salah satu bentuk dari wakaf ---sedekah yang paling afdhal. Subhanallah ternyata wakaf... amazing. Inilah yang membuat saya gembira bersama istri dan keluarga saya. Ada satu perbuatan meskipun saya mati pahalanya mengalir terus kepada orang yang saya cintai. Saya sangat mencintai ibu karena Allah, maka saya berwakaf atas nama beliau.

Inilah yang membuat saya bahagia, pendorong yang paling kuat untuk meraih surga. Bukan dengan bernyanyi tetapi dengan mewakafkan harta. Maka saya pun bergabung dengan BWA menginspirasi kaum Muslimin untuk ikut berwakaf. Oleh karena itu.... Anda harus ikut!

BAHAGIA
Melalui program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan (WAdP) BWA, saya menggalang dan menyalurkan Al-Qur’an wakaf dari kaum Muslimin ke berbagai pelosok Tanah Air. Dan ini membahagiakan saya.

Rasa bahagia itu kerap kali muncul, terlebih ketika melihat mereka bahagia mendapatkan Al-Qur’an wakaf. Misalnya ketika mendistibusikan Al-Qur’an kepada korban erupsi Gunung Merapi di Dusun Pule. Setelah menerima Al-Qur’an, salah seorang ustadz di sana berkata: “Subhanallah, ternyata ini sumbangan terbesar, dari mie supermi, dari beras, dari gula ternyata ini yang terbesar. Inilah sumbangan terbesar saat kita melupakan Allah.”

Ini sangat menginspirasi saya. Saya merasa puas melihat orang merasakan nikmat mendapatkan wakaf Al-Qur’an.

Begitu juga ketika ke Nias, menyerahkan Al-Qur’an kepada mereka yang terkena musibah tsunami. “Alhamdulillah... dapat Al-Qur’an, sudah sepuluh tahun kami tidak mendapat Al-Qur’an...” ini yang ngomong DKM setempat. Perjalannya cape banget tetapi bahagia banget, karena melihat orang bahagia mendapatkan Al-Qur’an.

Seringkali setiap menyalurkan wakaf, saya diamanahi untuk berbagi ilmu Islam yang saya pelajari. Usai ceramah, warga setempat menagih, “kapan tausiah di sini lagi?”

Ayo kita ke sana, membina warga di sana. Saya bukan artis lagi yang berfikir dapat duit berapa saya di sana, tetapi ada makna yang terkandung di situ, ada beberapa orang yang sadar dan kembali kepada Islam. Ke Senduro, ke Bromo, selebihnya itu ada orang masuk Islam lagi. Jadi hidup ini bermakna.

Melaksanakan program Water Action for People (WAfP), juga merupakan bagian dari aktivitas saya di BWA. Aktivitas yang pertama membangun sarana air bersih di Ponpes Yashi, Pontang, Banten. Tapi ketika warga berkata, “Opo tumon kok ono banyu” (masa sih bisa ada air), aku bilang dalam hati, eh orang ini tidak percaya ada air. Tetapi ketika air mengalir, subhanallah, mereka semua tersenyum gembira. Semoga ini menjadi amal yang pahalanya menghapus dosaku dan mengalir pada ibu bapakku.

Pada kesempatan lain, Gunung Merapa meletus, air bersih warga sekitar benar-benar habis ditutup oleh debu dan lava merapi. Kami bangun bak penampung air, tapi saya tidak punya uang lagi. Dan ini kami himpun dari kaum Muslimin yang berwakaf.

Sedangkan di Gunung Kidul ratusan tahun tidak ada air. Tapi mereka jadi bisa menikmati air dari wakaf kaum Muslimin yang saya salurkan ke sana. Karena saya punya keahlian naik gunung, turun tebing dan terjun payung, maka saya gunukan keahlian saya untuk menyenangkan warga Gunungkidul dan orang yang berwakaf, dengan masuk ke dalam gua Pego yang jaraknya 75 meter merangkak dan turun ke kedalaman 87 meter ke tempat air bersih berada.

Dan ini membahagiakan, sangat membahagiakan. Karena apa? Berbuat untuk orang lain. Emosional, dengan didorong rasa spiritual yang sangat tinggi. Sekarang tidak kurang dari 4000 penduduk di dusun-dusun sekitar gua tersebut dapat menikmati airnya. Yang biasanya mereka mendapatkan air satu jerigen setiap hari, sekarang tiga menit satu jerigen.

Setiap tetes air mengalirkan pahala bagi yang berwakaf. Inilah yang membuat saya bahagia, percaya diri menatap masa depan, berbakti kepada kedua orang tua, mengabdi kepada Allah SWT. Dan... Anda harus ikut![]

Diolah oleh Joko Prasetyo dari wawancara Joko Prasetyo dengan Ustadz Hari Moekti tahun 2014. Dipublikasikan dalam bentuk buklet yang diterbitkan Badan Wakaf Al-Qur’an pada Ramadhan tahun 2014 Masehi.



TEMUILAH JANJI TUHANMU, WAHAI JIWA YANG TENANG

Oleh: Nasrudin Joha


Pada akhirnya, sejauh apapun perjalanan kehidupan, ajal adalah akhir dari labuhan petualangan, gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Ajal, adalah satu diantara tanda kebesaran Allah, yang nyata dihadapan manusia, tapi seringkali tiada diindahkan.

Bagi penghamba, yang menunaikan misi taat, yang menetapi setiap jengkal jalan syariat, ajal adalah istirahat dari beban amanah. Ajal, adalah gerbang menuju janji kemuliaan sejati. Ajal, adalah pintu sebelum sang hamba bertemu dengan sang haribaan, menatap wajah-Nya, menikmati surga-Nya.

Bagi pendusta, ajal adalah gerbang duka dan nestapa tiada akhir, tiada bertepi. Tiada guna, segenggam maupun sekeranjang kebanggaan dunia, apalagi sejumput atau seujung kuku, dari tulang belulang dunia yang pernah dibanggakan. Tiada arti, semua upaya dan ikhtiar yang pernah dikorbankan.

Kabar itu, telah datang kepadaku. Kabar, dari seseorang yang telah mengambil ajal kemaksiatan dari pernik-pernik dunia, jauh sebelum ajal kematian datang padanya. Kabar, yang pada akhirnya menyampaikan ajal kematian itu menjemputnya, membawanya pergi menemui Rab-Nya, menemui Janji-Nya.

Dia, yang telah membunuh karier kemaksiatan di gegap gempita belantika musik. Dia, yang telah menenggak racun kematian dari puja-puja manusia atas kasta "Rocker" yang disandangnya.

Akhirnya dia, benar-benar berpulang. Dia benar-benar telah menyelesaikan misinya sebagai hamba. Dia, sampai pada titik kalimat "Duhai jiwa yang tenang, kembalilah pada Rabb-Mu, dan saatnya rehat dari amanah dakwahmu".

Ust. Harie Moekti, seorang yang telah mengubur kedigdayaan dunia, menyeluri serpih-serpih hidup sebagai sufi dan da'i sejati, mendermakan hidup untuk dakwah, telah berpulang kepada-Nya. Alhamdulllah 'ala kuli Hal. Dia, telah menuntaskan misi penghambaan, dia telah sampai pada janji yang ditetapkan. Dia, telah sampai pada ajal yang ditetapkan.

Dia, seorang pejuang Islam, pengemban syariat Islam, pejuang Khilafah. Dalam genggamannya, Al Liwa dan Ar Roya berkibar dalam berbagai forum dan momen perjuangan. Suara merdu melengkingnya, akan selalu terngiang menggaungkan kalimah "TAKBIR!".

Dia, telah menjadi penjaga Islam yang terpercaya, yang mengerahkan segenap daya dan upaya untuk merealisir misi melanjutkan kehidupan Islam. Dia, adalah seorang pejuang Khilafah yang teguh, Istiqomah dan menemui Rab-Nya dalam keadaan iman Islam.

Ya Allah, ampunilah dosanya, tempatkanlah dia pada sisi Mu bersama ridlo dan kemuliaan. Kumpulkan kami kelak, bersama Rasulullah SAW, bersama para sahabat ridwanullah ajmain, para Tabi'in, tabiit Tabi'in, serta segenap hamba beriman, dibawah bendera Rasulullah yang bertuliskan "LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADDARROSULULLAH".

Duhai jiwa yang tenang, temuilah Tuhanmu. Berbahagialah dengan bekal keimanan-Mu. Kelak daulah Khilafah yang kau perjuangkan, Khilafah yang dituntut dan dijanjikan Tuhan-Mu, akan tegak atas ijin dan pertolongan-Nya.

"kematian adalah nasihat kehidupan, yang akan menjadikan manusia hidup seutuhnya, memahami maqom dan misinya"

"Kematian adalah kabar gembira, bagi setiap hamba yang taat kepada-Nya. Kematian, adalah jalan menuju kebahagiaan sejati, mengetuk pintu surga dan menghadap wajah-Nya"

"Setiap kabar kematian, akan menambah ketaatan setiap hamba yang beriman. Petiklah hikmah dan kebajikan, dari setiap kabar kematian". [].



Harry Moekti atau Harry Mukti (lahir di Cimahi, 25 Maret 1957; umur 59 tahun) adalah mantan rocker Indonesia yang sekarang menjadi dai. Penyanyi dengan nama asli Hariadhi Wibowo ini berubah namanya menjadi Harry Moekti ketika banyak yang menanyakan dirinya Harry yang mana dan yang dijawab Harry yang kakaknya Moekti, jadilah dia dipanggil Harry Moekti.

Sejak kecil hingga menamatkan studinya di SMA, hari-hari Hari Moekti dihabiskan di Cimahi dan Bandung. Kemudian sebagai anak tentara, Harry mengikuti orang tuanya yang pindah tugas ke Semarang. Di kota Semarang Harry pernah menjadi room boy di Hotel Patra Jasa Semarang selama satu tahun. Dari kota Semarang pula karier Hari Moekti dalam bidang musik dimulai. Harry dan beberapa kawannya membentuk grup band Darodox (dari bahasa jawa yang berarti nderedeg atau gemetar).

Tahun 1980 sesudah ayahnya meninggal, Harry kembali ke Bandung. Di Bandung, Harry bergabung dengan Orbit band, Primas band bersama Tommy Kasmiri, kemudian New Bloodly Band. Perjalanan musik Harry kemudian dilanjutkan di kota Jakarta dengan bergabung bersama Makara dari tahun 1982 sampai tahun 1985. Namun ketika Harry melakukan rekaman solo grup ini bubar. Suatu hal yang dianggap mengangkat kariernya adalah ketika bergabung dengan Krakatau pada tahun 1985.

Beberapa rekaman Harry Moekti yang meledak di pasaran antara lain adalah Lintas Melawai pada tahun 1987, Ada Kamu, Aku Suka Kamu Suka dan Satu Kata bersama grup band Adegan. Selama kariernya Harry telah membuat tujuh album rekaman, albumnya yang terakhir adalah Di Sini. Album terakhir itu dibuat ketika Harry mulai menekuni agama Islam lebih mendalam, sehingga Hari tidak melakukan promosi dengan mengadakan show seperti yang dilakukan setiap penyanyi ketika albumnya muncul. Akibatnya album terakhir itu kurang laku di pasaran.

Dunia yang dekat petualangan alam adalah dunia Harry yang lainnya ketika masih menjadi penyanyi. Ia sempat membuat klub panjat tebing di Sukabumi, juga menjadi anggota SAR, aktif dalam olah raga Arung Jeram (search and Rescue) kemudian mengikuti kursus terjun payung di Australia. Semua itu dilakukannya dari tahun 1990 sampai 1996.

Hijrah dari rocker menjadi Da’i

Proses mendapatkan hidayah yang dilakukan oleh hari moekti bukanlah perjalanan yang instan, butuh proses dan pengorbanan. Harta, pikiran dan tenaga juga keluarga yang tidak mendukung beliau berubah dari rocker menjadi da’i ditentang, sehingga harta habis membayar hutang, bisnis hancur, sehingga tidak menyisakan apapun. Namun, dibalik itu semua beliau merasa terlahir kembali, dengan kehidupan baru yang sampai sekarang beliau jalani, yakni pengemban dakwah dan bergabung dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), organisasi dakwah Internasional yang berada di lebih 40 negara di dunia yang menyerukan tegaknya hukum-hukum Allah SWT dalam wadah Khilafah rasyidah ‘ala min Hajjin Nubuwah. Terdapat pro dan kontra dari fans beliau dengan bergabungnya beliau dengan HTI, namun beliau tetap istiqomah dengan dakwah bersama HTI.

Aktivitas Hari Moekti

Setelah hijrah dari rocker menjadi da’i kini ustadz Hari Moekti aktif dalam kegiatan dakwah dan juga kegiatan sosial dalam membantu kesusahan yang dialami oleh sesama di seluruh penjuru nusantara. Beliau aktif menyerukan Wakaf sebagai gaya hidup seorang muslim, hal ini beliau lakukan karena terinspirasi dari kebiasaan para sahabat Nabi Muhammad SAW yang selalu mewakafkan hartanya jika mereka mendapatkan rejeki.

Dalam menjalan aktivitas ini, beliau saat ini aktif sebagai pembina di salah satu Lembaga Wakaf yang menyalurkan wakaf untuk proyek wakaf sarana air bersih, wakaf al quran, wakaf sarana dakwah, wakaf pembangkit listrik, wakaf produktif, donasi kesehatan, donasi pendidikan dan juga zakat peer to peer di Lembaga 

Sumber:
http://harimoekti.com/profil-hari-moekti/



Oleh: Habib DR Muhammad Rizieq Syihab, Lc, MA
Imam Besar Front Pembela Islam (FPI)

Bismillaah wal Hamdulillaah … Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah …

Sebuah pusat penelitian dan pengkajian strategi tentang Islam dan Timur Tengah di Santa Monica – California di Amerika Serikat (AS), yang bernama Rand Corporation (RC) telah melakukan penelitian tentang Gerakan Islam di seluruh dunia selama puluhan tahun.

Hasil penelitian lembaga ini telah diturunkan dalam bentuk sejumlah laporan resmi yang antara lain berjudul :

1. Civil Democratic Islam yang dibuat pada tahun 2003.

2. Building Moderate Muslim Networks yang dibuat pada tahun 2007.

Laporan RC menjadi referensi penting bagi National Intelligent Council (NIC), yaitu sebuah Dewan Intelijen Nasional AS yang membawahi 15 badan intelijen dari 15 Negara.

Klasifikasi Gerakan Islam

Dalam berbagai laporan hasil kajiannya, RC memetakan gerakan Islam di dunia sesuai “kepentingan barat”. RC membuat “Klasifikasi Gerakan Islam” lengkap dengan uraian karakter, ciri, status dan cara penanganan tiap kelompok. RC membagi gerakan Islam di dunia menjadi empat kelompok, yaitu :

Pertama, kelompok “Fundamentalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta anti Demokrasi dan sangat kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “BAHAYA”, sehingga penanganannya harus “DIHABISI”, karena kelompok ini “MUSUH BARAT”.

Kedua, kelompok “Modernis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro demokrasi, tapi tetap kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIRANGKUL”, walau terkadang masih mengkritisi barat saat “kepentingan” mereka terganggu. Namun kelompok ini tetap dianggap “KAWAN BARAT”.

Ketiga, kelompok “Liberalis” : Yaitu kelompok Islam yang anti Khilafah dan anti Tathbiq Syari’ah serta pro demokrasi dan menerima sepenuhnya pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “AMAT AMAN”, sehingga penanganannya harus “DIBESARKAN”, karena kelompok ini adalah “ANTEK BARAT”,

Keempat, kelompok “Tradisionalis” : Yaitu kelompok Islam yang pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta juga pro Demokrasi tapi tetap kritis terhadap pengaruh barat. Kelompok ini oleh RC diberi status “WASPADA”, sehingga penanganannya harus “DIAWASI”, karena tiga dari empat ciri kelompok ini sama dengan ciri “Fundamentalis”, sehingga jika sering bersentuhan dengan “Fundamentalis”, maka dengan sangat mudah menjadi “Fundamentalis”. Karenanya, kelompok “Tradisionalis” harus dijauhkan dari kelompok “Fundamentalis”, bahkan harus “DIADU-DOMBA”.

Strategi dan Taktik

Dalam laporan resminya, RC memaparkan secara detail tentang strategi dan taktik penanganan tiap kelompok Islam sesuai pemetaan dan klasifikasi yang mereka buat, antara lain :

1. Stigmatisasi & Pencitraan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus distigmatisasi sebagai kelompok “intoleransi”, “anarkis”, “radikalis”, “ekstrimis” dan “teroris”, dengan mengekspos secara besar-besaran segala bentuk berita sekecil apa pun terkait mereka, yang tidak disukai masyarakat, sekaligus menutup habis-habisan segala berita simpatik sebesar apa pun tentang mereka, melalui semua media yang dikuasai barat dan anteknya.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro Barat maka harus dicitrakan sebagai kelompok “toleran”, “santun”, “ramah” dan “lembut”, dengan mengekspos secara besar-besaran segala bentuk berita sekecil apa pun terkait mereka, yang sangat disukai masyarakat, sekaligus menutup habis-habisan segala berita buruk sebesar apa pun tentang mereka, melalui semua media yang dikuasai barat dan Anteknya.

2. Pengkerdilan & Pengagungan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat* maka harus dikerdilkan sehingga terkesan sebagai kelompok “terbelakang”, “kaku”, “kolot”, “bodoh”, “tidak berpendidikan” dan “tidak kreatif”.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro Barat maka harus dibesarkan dan dimajukan, sehingga terkesan sebagai kelompok “modern”, “cerdas”, “maju”, “terhormat” dan “berpendidikan”

3. Pengucilan & Pengaktifan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dikucilkan dengan cara jangan diberi kesempatan sekecil apa pun dalam sistem kekuasaan, baik legislatif atau eksekutif atau pun yudikatif.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus dimunculkan dengan cara diajak berperan aktif dalam sistem kekuasaan.

4. Pembusukan & Penyegaran

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dibusukkan dengan cara susupi dan tunggangi serta adu domba dan pecah belah antar mereka sendiri.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus disegarkan dengan cara memberi segala bantuan material mau pun spiritual.

5. Pembunuhan & Perlindungan

Kelompok Islam yang dinilai anti barat maka harus dihabisi baik melalui pembunuhan karakter mau pun pelenyapan nyawa sekali pun jika diperlukan.

Sebaliknya, kelompok Islam yang dinilai pro barat maka harus dilindungi dan dijaga serta selalu dibela dalam kondisi bagaimana pun.

Introspeksi Diri

Nah, jika kita ingin tahu posisi kita di mata barat ada dimana, maka lihat saja karakter dan ciri diri kita berdasarkan standar pemetaan mereka tersebut.

Jika kita pro Khilafah dan pro Tathbiq Syari’ah serta anti Demokrasi dan kritis terhadap pengaruh barat, baik kita lembut atau pun tegas, baik perorangan mau pun organisasi, maka kita masuk kategori “Fundamentalis” yang sangat berbahaya, sehingga harus dihabisi.

Kalau pun kita menerima Demokrasi, tapi tetap pro Khilafah dan Tathbiq Syari’ah serta kritis terhadap pengaruh barat, maka kita masuk katagori “Tradisionalis” yang harus diwaspadai, sehingga mesti selalu diawasi. Dan bagaimana pun caranya harus ditunggangi untuk dijauhkan dari kelompok “Fundamentalis”, bahkan mesti diadu-domba.

Semoga kita tidak masuk katagori “Modernis” dalam arti dan definisi barat yaitu anti Khilafah dan Tathbiq Syari’ah, apalagi kategori “Liberalis” yang nyata-nyata jadi antek barat.

Semoga Allah SWT senantiasa melindungi seluruh gerakan Islam yang pro Khilafah dan Tathbiq Syari’ah dari makar musuh-musuhnya, dan selalu menyatukan mereka dalam kasih sayang sesama, serta memberi kemenangan dari dunia hingga akhirat.

Hasbunallaahu wa Ni’mal Wakiil … Ni’mal Maulaa wa Ni’man Nashiir ...



SELAMATKAN KAMPUS KITA: SELAMATKAN DAYA KRITIS DAN INTELEKTUALITAS SIVITAS AKADEMIKA


Ahmad Khozinudin, S.H.
LBH PELITA UMAT



Pada Ahad 10 Juni 2018 (kemarin), bertempat di Jakarta, LBH PELITA UMAT dan Divisi Hukum Persaudaraan Alumni 212 yang terhimpun dalam Aliansi Tim Bantuan Hukum PA 212, membuat pernyataan bersama terkait maraknya Tindakan Persekusi, Intimidasi, Kriminalisasi, Teror & Ancaman Terhadap Tokoh dan Aktivis Pergerakan Sivitas Akademika.

Ada 5 (lima) poin utama substansi pernyataan. Pertama, menolak segala bentuk intervensi kekuasaan diruang kampus yang berpotensi memberangus nalar kritis, naluri pembelaan terhadap kebenaran dan keadilan, yang dapat merusak tatanan keilmuan dan jiwa kemanusiaan sivitas akademika.

Kedua, mengecam segala bentuk TINDAKAN PERSEKUSI, INTIMIDASI, KRIMINALISASI, TEROR DAN ANCAMAN TERHADAP TOKOH DAN AKTIVIS PERGERAKAN SIVITAS AKADEMIKA, dan meminta kepada penguasa untuk segera menghentikannya.

Ketiga, menghimbau dan mengajak kepada segenap elemen anak bangsa, para tokoh pemuda dan mahasiswa, habaib dan ulama, politisi dan pimpinan partai, praktisi dan akademisi hukum, untuk serius dan sungguh-sungguh turut serta dalam memberikan dukungan dan pembelaan terhadap sivitas akademika, baik tehadap dosen dan/atau mahasiswa, untuk tetap teguh dan Istiqomah berpegang teguh pada nurani, logika keilmuan dan semangat pembelaan terhadap nilai kebenaran dan keadilan.

Keempat, menuntut pembebasan Imam Besar Al Habib Riziq Sihab dari status tersangka dan seluruh tuduhan, membebaskan Prof Dr Suteki, SH, MHum, Prof. Daniel M. Rosyid PhD, M.RINA, dan seluruh Sivitas akademika lainnya dari segala bentuk kriminalisasi, tuduhan dan sanksi baik berupa peringatan, pencopotan tugas dan pembebasan jabatan dari pihak Rektorat atau otoritas lainnya dan mengembalikannya seperti sediakala.

Kelima, menghimbau dan mengajak segenap bangsa Indonesia, seluruh tumpah darah Indonesia, untuk membangun sinergi bersama, berfikir serius menghadirkan kekuasaan yang adil, yang melayani, yang berpihak pada kebenaran dan keadilan, yang mentaati perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, dan bersama-sama terlibat aktif dalam kerja-kerja kolektif yang bertujuan untuk menghentikan segala bentuk tirani dan keangkuhan. Kami Aliansi Tim Bantuan Hukum PA 212 akan memberikan pembelaan hukum kepada para tokoh intelektual, ulama dan aktivis yang dikriminalisasi oleh Rezim Zalim.

Langkah hukum ini diambil, mengingat Lingkungan pendidikan tinggi adalah tempat bersemai bagi tumbuh kembang nalar kritis, ilmu pengetahuan, pengembangan dan penjagaan nilai-nilai, norma dan moral, mulai ternodai dengan adanya intervensi kekuasaan.

Hiruk pikuk dinamika politik termasuk didalamnya adanya perbedaan yang tajam antara logika penguasa dan logika kritis segenap elemen anak bangsa, menyebabkan rezim mengekspor INTIMIDASI, TEROR DAN ANCAMAN untuk memaksakan tafsir tunggal bernegara dilingkungan sivitas akademika.

Padahal, Lingkungan kampus yang didalamnya terdapat sivitas akademika, harus steril dari unsur kekuasaan dan harus tetap berdiri tegak diatas nilai, norma dan etika dan berpegang teguh pada intelektualitas yang netral, berdasarkan ilmu pengetahuan dan keahlian yang diperoleh dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab khususnya untuk melaksanakan amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Pemanggilan beberapa dosen dan mahasiswa, di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia, baik berujung teguran, surat peringatan bahkan pembebastugasan, yang disebabkan oleh adanya aktivitas penyampaian aspirasi, pembelaan dan dukungan pada nilai kebenaran dan keadilan oleh Sivitas Akademika, adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan, baik ditinjau dari aspek hukum maupun dilihat dari kacamata nilai pendidikan.

Organ-organ kekuasaan mulai memaksakan kehendak, membawa tafsir tunggal kebenaran penguasa, mendobrak dan masuk ruang kampus, menyebar teror dan ancaman, menekan dan memaksa sivitas akademika untuk tunduk, taat dan patuh, melepaskan nilai moral dan standar berdasarkan logika keilmuan, dan membenarkan seluruh tafsir kebenaran yang disodorkan penguasa.

Terakhir, Kemenristek Dikti sampai mengeluarkan kebijakan paranoid, dengan mewajibkan mahasiswa baru mendaftarkan akun sosmed mereka. Tindakan mengawasi (baca: memata-matai) mahasiswa, mengingatkan publik pada ingatan atas pemaksaan tafsir tunggal Pancasila yang dipaksakan rezim Orde Baru.

Tindakan intelek dan langkah penuh keadaban, telah diganti dengan represifme penguasa yang mengekang kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat. Padahal, konstitusi telah menjamin setiap warga negara -tidak terkecuali dosen dan mahasiswa- untuk secara bebas menjalankan hak berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat.

Terlebih lagi, Negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi Hak Asasi berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat, sebagai seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi.

Tindakan pengabaian apalagi jika terjadi pemberangusan terhadap hak berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat, sebagaimana dijamin dalam konstitusi (pasal 28 E ayat 3), berpotensi melanggar Hak Asasi Manusia sebagaimana diatur dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM.

Dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Kemenristekdikti telah dilaporkan ke Komnas HAM RI melalui divisi pemuda dan mahasiswa Persaudaraan Alumni 212. Secara politik, tindakan Kemenristekdikti yang abai menjalankan tugas pokok dan fungsinya memimpin lembaga pendidikan tinggi, menjadi pertimbangan tersendiri bagi publik untuk menuntut Presiden mencopot jabatannya.

Seorang menteri, tidak boleh mengumbar kesalahan etik bawahan keruang publik, apalagi membuat teror horor dengan membuat pilihan-pilihan paksaan yang tendensius dan radikal. Meminta seorang Guru Besar untuk memilih NKRI atau melepaskan jabatannya, adalah tindakan diktator dan radikal yang tak lazim.

Pernyataan ini melawan nalar dan logika sehat. Sebab, bagaimana mungkin seorang pengajar Pancasila yang telah lebih 24 tahun mengajar dituding anti NKRI ? Darimana vonis untuk melepaskan jabatan itu dipertimbangkan ? Apakah sudah ada pertimbangan pengadilan dimana amar putusannya memerintahkan demikian?

Jika diktatorisme kampus ini diambil atas adanya latar belakang ujaran berbeda, kongkritnya jika pertimbanannya adalah karena perbedaan pandangan penguasa dengan kaum intelektual atas menghangatnya diskursus tentang Khilafah, bukankah berdiskusi dan menguraikan argumentasi adalah pilihan bijak dan bermartabat ? Bukan secara sepihak mengambil jalan memvonis dan melakukan persekusi.

Perlu ditegaskan, hingga saat ini tidak ada satupun produk hukum yang memberi tafsir terhadap Khilafah sebagai paham atau ajaran yang dilarang. Jadi, jahat sekali jika penguasa melalui Kemenristekdikti membuat narasi sepihak untuk menggiring opini publik agar menjauhi Khilafah sebagai ajaran Islam yang agung, dengan memvonisnya sebagai ajaran terlarang.

Penjelasan fair dan berdasarkan hukum, yang memuat paham atau ajaran apa yang dilarang dianut, dikembangkan dan disebarluaskan adalah paham atau ajaran marxisme/leninisme, atheisme dan komunisme. Paham ini tegas dilarang, berdasarkan TAP MPRS No. XXV/1966.

Adapun terhadap ide Khilafah, tidak ada satupun produk hukum yang melarangnya. Apalagi, dalam khazanah fiqh Islam Khilafah adalah ajaran Islam. Khilafah sudah dikenal secara luas sebagai bagian dari ajaran Islam.

Dalam sesi tanya jawab dengan rekan media, kami telah menjelaskan secara rinci kesalahan-kesalahan pilihan kebijakan yang diambil oleh Kemenristekdikti. Maka, tuntutan kepada Presiden untuk mencopot M. Natsir dari posisi Menristekdikti adalah tuntutan yang wajar dan sangat beralasan.

Selanjutnya, pada beberapa hari kedepan Aliansi Tim Bantuan Hukum PA 212, akan melakukan serangkaian tindakan hukum agar kecerobohan dan kekeliruan mengelola pendidikan tinggi di negeri ini tidak terus berlanjut. Komitmen pada penjagaan nilai, etika dan norma perguruan tinggi wajib dijaga, semua pihak wajib menghormati tak terkecuali Kemenristekdikti. [].



PERNYATAAN BERSAMA ALIANSI TIM BANTUAN HUKUM PERSAUDARAAN ALUMNI 212 PERIHAL : KECAMAN TERHADAP MARAKNYA TINDAKAN PERSEKUSI, INTIMIDASI, KRIMINALISASI, TEROR DAN ANCAMAN TERHADAP TOKOH DAN AKTIVIS PERGERAKAN SIVITAS AKADEMIKA

Lingkungan pendidikan tinggi adalah tempat bersemai bagi tumbuh kembang nalar kritis, ilmu pengetahuan, pengembangan dan penjagaan nilai-nilai, normal dan moral, yang harus steril dari intervensi kekuasaan, apalagi jika intervensi itu bertujuan untuk menekan dan/atau mematikan bibit-bibit ilmu pengetahuan, daya kritis dan pembelaan terhadap umat, hingga mematikan unsur nilai, norma dan etika.

Hiruk pikuk dinamika politik termasuk didalamnya adanya perbedaan yang tajam antara logika penguasa dan logika kritis segenap elemen anak bangsa, tidak boleh dijadikan dasar untuk mengekspor INTIMIDASI, TEROR DAN ANCAMAN dilingkungan sivitas akademika, memaksakan tafsir tunggal penyelenggaraan bernegara menurut pandangan penguasa.

Lingkungan kampus yang didalamnya terdapat sivitas akademika, harus steril dari unsur kekuasaan dan harus tetap berdiri tegak diatas nilai, norma dan etika dan berpegang teguh pada intelektualitas yang netral, berdasarkan ilmu pengetahuan dan keahlian yang diperoleh dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab khususnya untuk melaksanakan amanat Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Akhir-akhir ini unsur kekuasaan telah secara telanjang mempertontonkan kejumawaan kuasa, dengan menerobos batas eksklusifitas ruang kampus yang memberi pandangan berdasarkan teori dan basis ilmiah, memaksa civitas akademika untuk tunduk, taat dan patuh pada logika dan nalar yang berbasis pada tekanan dan kemauan kuasa.

Pemanggilan beberapa dosen, mahasiswa, di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia, baik berujung teguran, surat peringatan bahkan pembebastugasan, yang disebabkan oleh adanya aktivitas penyampaian aspirasi, pembelaan dan dukungan pada nilai kebenaran dan keadilan oleh Sivitas Akademika, adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan, baik ditinjau dari aspek hukum maupun dilihat dari kacamata nilai pendidikan.

Organ-organ kekuasaan tidak boleh memaksakan kehendak, membawa tafsir tunggal kebenaran penguasa, mendobrak dan masuk ruang kampus, menyebar teror dan ancaman, menekan dan memaksa civitas akademika untuk tunduk, taat dan patuh, melepaskan nilai moral dan standar berdasarkan logika keilmuan, dan membenarkan seluruh tafsir kebenaran yang disodorkan penguasa.

Berkenaan dengan hal itu, kami Aliansi Tim Bantuan Hukum Persaudaraan Alumni 212, dengan ini menyatakan :

1|. Pertama, menolak segala bentuk intervensi kekuasaan diruang kampus yang berpotensi memberangus nalar kritis, naluri pembelaan terhadap kebenaran dan keadilan, yang dapat merusak tatanan keilmuan dan jiwa kemanusiaan sivitas akademika.

2|. Kedua, mengecam segala bentuk TINDAKAN PERSEKUSI, INTIMIDASI, KRIMINALISASI, TEROR DAN ANCAMAN TERHADAP TOKOH DAN AKTIVIS PERGERAKAN SIVITAS AKADEMIKA, dan meminta kepada penguasa untuk segera menghentikannya.

3|. Ketiga, menghimbau dan mengajak kepada segenap elemen anak bangsa, para tokoh pemuda dan mahasiswa, habaib dan ulama, politisi dan pimpinan partai, praktisi dan akademisi hukum, untuk serius dan sungguh-sungguh turut serta dalam memberikan dukungan dan pembelaan terhadap sivitas akademika, baik tehadap dosen dan/atau mahasiswa, untuk tetap teguh dan Istiqomah berpegang teguh pada nurani, logika keilmuan dan semangat pembelaan terhadap nilai kebenaran dan keadilan.

4|. Keempat, menuntut pembebasan Imam Besar Al Habib Riziq Sihab dari status tersangka dan seluruh tuduhan, membebaskan Prof Dr Suteki, SH, MHum, Prof. Daniel M. Rosyid PhD, M.RINA, dan seluruh Sivitas akademika lainnya dari segala bentuk kriminalisasi, tuduhan dan sanksi baik berupa peringatan, pencopotan tugas dan pembebasan jabatan dari pihak Rektorat atau otoritas lainnya dan mengembalikannya seperti sediakala.

5|. Kelima, menghimbau dan mengajak segenap bangsa Indonesia, seluruh tumpah darah Indonesia, untuk membangun sinergi bersama, berfikir serius menghadirkan kekuasaan yang adil, yang melayani, yang berpihak pada kebenaran dan keadilan, yang mentaati perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, dan bersama-sama terlibat aktif dalam kerja-kerja kolektif yang bertujuan untuk menghentikan segala bentuk tirani dan keangkuhan. Kami Aliansi Tim Bantuan Hukum PA 212 akan memberikan pembelaan hukum kepada para tokoh intelektual, ulama dan aktivis yang dikriminalisasi oleh Rezim Zalim.


Jakarta, 10 Juni 2018


Aliansi Tim Bantuan Hukum PA 212 dan Ketua LBH PELITA UMAT


Ahmad Khozinudin, S.H.

Mengetahui,

Ketua Divisi Hukum, Persaudaraan alumni 212

Ust Damai Hari Lubis, S.H MH

Mengetahui,
Ketua Persaudaraan Alumni 212

KH. Slamet Ma'arif, M.Ag



SAYA AJARI YAHYA CHOLIL STAQUF BAGAIMANA MEMPERLAKUKAN TERORIS ISRAEL


Oleh: Nasrudin Joha

Sebelum saya beri wejangan kepada Yahya, saya perlu jelaskan dulu realitas negara penjahat Israel, sebagai berikut :

Pertama, Negara Teroris Israel berdiri diatas tanah kharajiyah milik kaum muslimin. Israel telah merampas sebagian Al Quds yang dahulu dibebaskan oleh keringat dan darah kaum muslimin, menubuhkan negara Yahudi atas sokongan Amerika, dan merampas hampir keseluruhan Palestina, mendominasinya sehingga wilayah Palestina mayoritas saat ini diduduki penjahat Israel.

Kedua, Negara Teroris Israel telah melakukan pembunuhan terhadap kaum muslimin di Palestina. Tidak terhitung lagi, berapa jumlah jiwa, kerugian harta benda, rusaknya tanaman dan pepohonan atas ulah kaum najis Teroris Israel.

Ketiga, status Negara Teroris Israel adalah negara Muharibah Fi'lan (de facto negara yang memerangi kaum muslimin). Hubungan kaum muslim dengan Darul harbi seperti Israel adalah hubungan perang. Kaum muslimin membunuh Yahudi Israel, atau kaum muslimin Syahid karenanya. Dan di penghujung hari kelak, kaum muslimin akan memburu kaum Yahudi hingga jika mereka bersembunyi dibalik pohon, pohon itu akan berkata "WAHAI TENTARA KAUM MUSLIMIN, INI ADA YAHUDI DIBELAKANGKU, BUNUHLAH !".

Keempat, karenanya tidak ada satupun hubungan yang boleh dilakukan dengan Teroris Israel, baik hubungan perdagangan, hubungan diplomatik, hubungan kemaslahatan, apalagi berdalih hubungan atas dasar perdamaian dan kemanusiaan, kecuali hubungan perang.

Perdamaian, hanya menjadi hak Khalifah selaku memimpin kaum muslimin. Siapapun, tidak berhak bertindak untuk dan atas nama kaum muslimin, kemudian berdalih menjalin hubungan damai atau untuk dan atas nama perdamaian atau untuk dan atas nama kemanusiaan sebagai dalih pembenaran untuk menjalin hubungan dengan teroris Israel.

Kelima, Negara Teroris Israel kelak akan kembali kepangkuan kaum muslimin, Palestina akan dibebaskan tentara Islam -setelah kaum muslimin berhasil mendirikan daulah Khilafah yang kedua- kemudian, Khalifah mengumumkan komando jihad untuk membebaskan Palestina.

Karena itu, Yahya tidak bisa berdalih apapun untuk mengelabui kaum muslimin dan menjalin hubungan terlarang dengan Teroris Israel. Yahya, tidak bisa berbuat sekehendaknya, kecuali jika Yahya telah mengambil pilihan untuk :

Pertama, memutus hubungan persaudaraan dengan kaum muslimin. Jika ini diambil Yahya, maka telah lepasjaminan keamanan bagi Yahya berdasarkan asas persaudaraan sesama kaum muslimin.

Kedua, Yahya telah mendeklarasikan diri sebagai antek Teroris Israel. Jika ini diambil Yahya, maka telah lepas jaminan keamanan bagi Yahya berdasarkan asas persaudaraan sesama kaum muslimin.

Ketiga, Yahya telah mengumumkan diri keluar (murtad) dari agama Islam. Jika ini diambil Yahya, maka telah lepas jaminan keamanan bagi Yahya berdasarkan asas persaudaraan sesama kaum muslimin. Bahkan, Yahya akan diperlakukan sama sebagaimana Teroris Israel.

Karena itu, jika Yahya belum bisa ikut bertempur digaris depan, berbanjar diantara kubangan parit-parit pertahanan, terlibat aktif dalam ikhtiar jihad membela kaum muslimin di Palestina, memberi bantuan obat atau makanan, menyantuni yatim dan janda korban keganasan Teroris Israel, MAKA YAHYA TIDAK BOLEH MENAMBAH DERITA KAUM MUSLIMIN DENGAN MENGUNJUNGI MUSUH YANG TELAH MENUMPAHKAN DARAH KAUM MUSLIMIN.

Jika Yahya belum bisa membebaskan Palestina, mengusir tentara teroris Israel, menghapus negara Israel dari peta dunia, maka haram baginya menginjakkan kaki di tanah jajahan Israel, bercengkrama dengan musuh, dan mengabaikan penderitaan kaum muslimin.

Siapapun, baik atas nama pribadi atau organisasi, tidak boleh memberikan pembenaran kepada Yahya, baik atas dalih kunjungan pribadi atau kunjungan kemanusiaan. Jika tetap ngotot, maka laknat Allah SWT atas kalian, doa seluruh kaum muslimin akan menjadi bala' bagi kalian, apalagi di ikrarkan pada bulan Ramadhan.

Kepada Yahya, yang harus kau lakukan pada Teroris Yahudi Israel adalah membunuhnya atau kau Syahid karena membela saudaramu di Palestina. Jika belum mampu, berkata baik atau diamlah. Jangan menambah sakit luka kaum muslimin. [].



Oleh : M. Shiddiq Al-Jawi

Banyak di antara umat Islam yang menganggap Idul Fitri sekadar makan-makan, hura-hura. Padahal banyak persoalan hukum terkait Idul Fitri atau lebaran ini. Maka, seharusnya sebagai seorang Muslim mengetahui persoalan fiqih seputar masalah tersebut.

Fiqih Lebaran di sini maksudnya adalah sejumlah hukum syara’ yang terkait dengan hari raya Idul Fitri, baik sebelum, pada saat, maupun sesudah shalat Idul Fitri. Berikut ini di antara hukum-hukum syara’ tersebut :

(1). Diwajibkan secara fardhu kifayah untuk melakukan rukyatul hilal bulan Syawal pada saat maghrib malam ke-30 bulan Ramadhan. Hal ini karena menurut ulama empat mazhab rukyatul hilal inilah yang merupakan sebab syar’i bagi pelaksanaan shalat Idul Fitri, termasuk hukum-hukum lain yang terkait, seperti zakat fitrah dan takbiran pada malam Idul Fitri. Sabda Rasulullah SAW, ”Berpuasalah kamu karena melihat hilal [Ramadhan], dan berbukalah kamu (beridul fitrilah) karena melihat hilal [Syawwal]…” (HR Bukharino 1810; Muslim no 1080).

(2).Diwajibkan mengeluarkan zakat fitrah pada malam Idul Fitri bagi yang mempunyai kelebihan makanan pada malam itu, meski dibolehkan menyegerakan mengeluarkan zakat fitrah pada bulan Ramadhan. Zakat fitrah berupa makanan pokok dengan takaran satu sha’ (sekitar 2,5 kg), bukan berupa uang. Demikian menurut jumhur ulama Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. (AlMudawwanah alKubra, 1/392; AlMajmu’, 6/112; AlMughni, 7/295).

Zakat fitrah dibagikan kepada siapa? Ada dua pendapat; pertama, kepada seluruh mustahiq zakat dari delapan golongan. Ini pendapat jumhur ulama empat mazhab. Kedua, khusus kepada kaum miskin saja. Ini pendapat sebagian ulama, seperti Ibnul Qayyim. Yang rajih, pendapat jumhur. (Wahbah Zuhaili, Al Fiqh Al Islami wa Adillatuhu, 2/387).

(3).Disunnahkan takbiran sejak malam Idul Fitri, baik di rumah atau di jalan menuju lapangan/masjid, hingga keluarnya imam untuk mengimami shalat Idul Fitri. Dalam lafal takbir ini dibolehkan bertakbir dua kali “allahu akbar allahu akbar dst” dan boleh juga tiga kali “allahu akbar allahu akbar allahu akbar dst”. (Imam Nawawi, Al Adzkar An Nawawiyyah, hlm. 237). Dalil bertakbir dua kali adalah atsar dari Ibnu Mas’ud ra, dia bertakbir, ”Allahu akbar allahu akbar, laa ilaaha illallahu wallaahu akbar, allahu akbar wa lillahil hamd.” (Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 2/168).

Namun dari Ibnu Mas’ud ra juga, bahwa beliau bertakbir sebanyak tiga kali(Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 2/165). Kedua sanad hadits tersebut sama-sama shahih, sebagaimana penjelasan Syeikh Nashiruddin Al Albani dalam kitabnya Irwa`ul Ghalil juz 3 hlm. 125. Jadi berlebihan kiranya kalau ada yang membid’ahkan lafal takbir sebanyak tiga kali. Imam Shan’ani berkata,”Terdapat tatacara takbir yang bermacam-macam dari para imam. Ini menunjukkan adanya kelonggaran (tawassu’ah) dalam urusan ini.” (Subulus Salam, 3/247).

(4). Disunnahkan mandi pada pagi hari sebelum shalat Idul Fitri, juga makan sebelum keluar rumah, dan berjalan menuju lapangan tempat shalat (mushala). Dari Sa’id bin Musayyab, dia berkata, ”Sunnah Idul Fitri ada tiga; yaitu berjalan menuju lapangan tempat shalat (mushala), makan sebelum keluar rumah, dan mandi.” Kata Syeikh Nashiruddin Al Albani dalamIrwa`ul Ghalil, 3/104, “Sanad riwayat tersebut shahih.” (Sa’id Al Qahthani, Shalatul ‘Iedain, hlm. 12).

(5). Disunnahkan memakai wewangian dan bersiwak, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas mengenai adab shalat Jumat,”Jika ada wewangian, maka gunakanlah wewangian dan juga bersiwaklah.” (HR Ibnu Majah, 1/326). Kata Imam Ibnu Qudamah, “Jika ini disyariatkan untuk shalat Jumat, maka untuk shalat Ied tentu lebih utama.” (Ibnu Qudamah, Al Mughni, 3/257).

(6). Disunnahkan memakai pakaian terbaik pada Idul Fitri. Imam Ibnu Hajar Al Asqalani mengatakan bahwa Imam Ibnu Abi Dunya dan Imam Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanad sahih bahwa Ibnu Umar ra memakai pakaiannya yang terbaik pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. (Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Bari, 2/439).

(7). Disunnahkan pergi ke lapangan tempat shalat (mushala) melalui satu jalan dan pulang melalui jalan lain. Karena demikianlah apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. (HR Bukhari no 986).

(8).Disunnahkan secara sunnah mu`akkadah untuk shalat Idul Fitri. Inilah pendapat madzhab Syafi’i yang menurut kami paling kuat mengenai hukum shalat Idul Fitri/Adha di antara tiga pendapat ulama yang ada; pertama, hukumnya fardhu kifayah. Ini pendapat Imam Ahmad. Kedua, hukumnya fardhu ‘ain. Ini pendapat Imam Abu Hanifah dan satu versi riwayat dari pendapat Imam Ahmad. Ketiga, hukumnya sunnah, tidak wajib. Ini pendapat Imam Malik dan mayoritas para shahabat Imam Syafi’i. (Sa’id Al Qahthani, Shalatul ‘Iedain, hlm. 7).

(9). Disunnahkan shalat Idul Fitri di lapangan (mushala), namun boleh juga mengerjakannya di masjid meski yang lebih afdhal adalah di lapangan. Hal ini karena Rasulullah SAW melakukan shalat Idul Fitri dan Idul Adha di mushala, yakni tempat lapang yang jaraknya seribu hasta dari pintu masjid Nabawi di Madinah. (HR Bukhari no 956, Muslim no 889, dari Abu Said Al Khudri ra).

(10). Tidak disyariatkan shalat apa pun sebelum dan sesudah shalat Idul Fitri. Dalilnya, hadits Ibnu Abbas ra bahwa Nabi SAW keluar pada Idul Fitri dan melakukan shalat Idul Fitri dua rakaat dan beliau tidak melakukan shalat sebelum dan sesudahnya. Nabi SAW saat itu bersama Bilal.” (HR Bukhari no 989; Muslim no 884).

(11) Tidak disyariatkan adzan dan juga iqamah dalam shalat Idul Fitri/Adha. Dalilnya hadits dari Jabir bin Samurah ra, dia berkata.”Saya pernah shalat Idul Fitri dan Idul Adha bersama Nabi SAW tak hanya sekali atau dua kali, dan shalat tersebut tanpa adzan dan juga tanpa iqamah.” (HR Muslim, no 887).

(12). Disyariatkan khutbah setelah selesainya shalat Idul Fitri. Para ulama berbeda pendapat apakah khutbahnya itu dua kali khutbah seperti khutbah Jumat ataukah hanya sekali khutbah. Fuqaha empat mazhab sepakat khutbah Ied itu dua khutbah seperti khutbah Jumat. Bahkan Imam Ibnu Qudamah dan Ibnu Hazm menegaskan dalam masalah ini sesungguhnya para fuqaha tak berbeda pendapat. (Abdurrahman Jazairi, Al Fiqh ‘Ala Al Mazahib Al Arba’ah, 1/238).

Namun sebagian fuqaha berpendapat khutbah Ied hanya satu khutbah, bukan dua khutbah. Inilah pendapat Imam Syaukani, Imam Shan’ani, dan lain-lain. (Imam Syaukani, Nailul Authar, hlm. 695; Imam Shan’ani, Subulus Salam, 2/679). Pendapat yang rajih, khutbah Ied dilaksanakan dua kali, bukan satu kali. (Mahmud ‘Uwaidhah, Al Jami’ li Ahkam As Shalah, 2/177).

(13) Dibolehkan mengucapkan selamat (tahni`ah) setelah shalat Ied, dengan ucapan,”Taqabbalallahu minnaa wa minka/minkum.” (semoga Allah menerima amal kami dan amal Anda). (Ibnu Hajar Al Asqalani, Fathul Bari, 2/446). Memulai mengucapkan selamat adalah boleh, namun menjawabnya wajib. (Ibnu Taimiyyah, Majmu’ul Fatawa, 24/253).Wallahu a’lam.

*
Dukung terus opini syariah Islam Kaffah. Raih amal sholih dengan menyebarkan postingan ini.
==================



DESAKRALISASI PANCASILA: SETELAH LUMER OLEH GAJI RATUSAN JUTA DISUSUL AKSI PENGUNDURAN DIRI

Oleh: Nasrudin Joha

Gaji ratusan juta rupiah, telah membuat kredebilitas BPIP cela di mata publik. Publik, membuat kesimpulan sederhana : bagaimana bisa Brahmana Pancasila masih lekat dan haus akan recehan dunia?

Sejak Perpres diteken, kontroversi gaji BPIP menjadi perbincangan meluas ditengah publik. Mayoritas tidak ridlo, ditengah sulitnya rakyat memenuhi hajat primer, para penganjur Pancasila yang bertengger diatas piramida lembaga pembina, justru mendapat gaji yang berkelimpahan.

Pada saat yang sama, tingkah lacur anak buah pengarah dan pembina Pancasila, dalam beberapa pekan ini justru digaruk KPK karena kasus korupsi. Slogan 'Aku Pancasila' dibuka aib oleh Allah SWT melalui berbagai kasus. Dari korupsi e KTP sampai penangkapan kepala daerah kader 'aku Pancasila' oleh lembaga KPK.

Nampaknya semua harus mulai membuka mata, menginsyafi kenyataan, setiap yang bermula pasti berakhir, kreasi manusia pasti penuh dengan cela, begitu juga dengan Pancasila. Pancasila hanya kreasi manusia, yang tidak luput dari aib dan cela, penuh keterbatasan.

Saat Yudi Latif mengundurkan diri, wibawa lembaga BPIP makin rontok. Kemudian publik bertanya-tanya : siapa sebenarnya yang Pancasilais ? Mereka yang tetap berjibaku di lembaga BPIP atau Yudi Latif yang mengambil ikhtiar moral untuk mundur? Apakah anggota BPIP bisa di tuding tidak peka terhadap aspirasi publik, atau Yudi Latif yang tidak bertanggung jawab lari dari amanah? Apakah mereka yang tetap berjuang untuk mendapat "hak keuangan" atau mereka yang rela melepaskannya, kemudian mengambil pilihan moral mengundurkan diri?

Mahfud MD menyebut Yudi mundur karena urusan keluarga. Sudahlah, itu naif. Pasti bukan karena itu, sejak sebelum dilantik urusan keluarga itu sudah ada. Seorang negarawan, tidak akan merasa keberatan mengurus tugas negara bersamaan dengan tugas keluarga.

Ayolah, kita jujur untuk apa dan siapa tafsir anti Pancasila itu dialamatkan. Para Brahmana Pancasila di BPIP jangan hanya berkutat di bilangan norma, tetapi abai digunakan untuk apa norma Pancasila. Sepanjang sejarahnya, Pancasila jika diadopsi tafsirnya oleh penguasa pasti digunakan untuk menggebuk elelemen anak bangsa yang memiliki ujaran berbeda. Pancasila ala Soekarno dan Orba, adalah contoh paling sempurna menggambarkan ini.

Bagaimana mungkin pengajar Pancasila, seorang profesor yang berpengalaman lebih dari 24 tahun, dicopot dari jabatannya hanya karena tudingan anti Pancasila? Anti NKRI? Anti sila persatuan Indonesia ? Inikah pancasila ?

Bagaimana mungkin mantan koruptor, diperjuangkan boleh NYALEG, diberi ruang untuk mengurus negara. Menolak aturan untuk menganulir caleg mantan koruptor, menolak menandatangani perkpu. Inikah Pancasila?

Mengobrak abrik kantor media, memukul, berteriak-teriak, ngamuk atas adanya aspirasi yang berbeda. Mengancam akan 'rata dengan tanah' jika terjadi di Jawa tengah. Inikah Pancasila ?

Tertangkap kasus korupsi, dalam hitungan hari hingga 4 kepala daerah. Ada juga dua kepala daerah ditetapkan tersangka tapi kabur, belum kooperatif dg KPK. KPK membuka wacana untuk tetapkan DPO. Inilah Pancasila ?

Saya kira saat ini publik musti berfikir waras, tidak ikut-ikutan latah menuding pihak lainnya sebagai 'Anti Pancasila'. Pancasila saat ini sudah menjadi Palu gada, dipegang tafsir tunggalnya oleh penguasa. Setiap yang berseberangan, dituding anti Pancasila, tanpa dialog, tanpa diskusi, langsung persekusi dan di sanksi. Bahkan, langsung di bubarkan.

Sementara deretan pelanggaran konstitusi, Gembong perusak moral, penentang nilai kebertuhanan, perusak nilai kemanusiaan, pemecah belah persatuan, pengacau nilai keadilan dan norma sosial di tengah masyarakat dibiarkan begitu saja, karena menjadi kroni dan membela kepentingan penguasa.

Bangsa ini adalah bangsa besar, memiliki visi besar. Janganlah kebesaran bangsa ini menjadi kerdil, karena ruang diskusi dipenjara pada logika "aku pancasila" atau "aku anti Pancasila". Nalar yang wajar saja, tidak mau dikungkung dan dibelenggu olah kenaifan. Apalagi, jika jiwa bangsa ini menginginkan perubahan. [].



Oleh: Muhammad Rivaldy Abdullah (Pengajar Fiqh Syafi'I salah satu Ma'had di Kairo-Mesir)

Pengertian I'tikaf

I'tikaf (الاعتكاف) dari segi bahasa berasal dari kata (العكوف). Artinya; Menetap dan berada di sekitarnya pada masa yang lama. Seperti firman Allaah dalam surat Al-Anbiya: 52 dan surat Asy-Syu'ara: 71.

Sedangkan dari segi istilah, yang dimaksud i'tikaf adalah menetap di masjid dengan niat beribadah(taqarrub ilallaah), dengan kriteria tertentu dan dilakukan oleh orang tertentu. (Al Iqna', 2/247).

Landasan Hukum :

Syariat I'tikaf dinyatakan dalam Alquran, hadits serta pendapat para ulama salaf.

Dalam surat Al Baqarah ayat 125, Allah Ta'aala berfirman,

أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

“…Bersihkan rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang I'tikaf, yang ruku' dan yang sujud.” (QS. Al Baqarah [2] : 125)

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ -متفق عليه

“Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam melakukan I'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat. Kemudian para isterinya melakukan I'tikaf sesudahnya.” (Muttafaq alaih).

Para ulama sepakat bahwa I'tikaf adalah perbuatan sunah baik bagi laki-laki maupun wanita. Kecuali jika seseorang bernazar untuk I'tikaf, maka dia wajib menunaikan nazarnya. (Ibnul Mundzir, Al Ijma', hal. 53)

Lama i'tikaf dan Waktunya

•Pendapat pertama : Masa minimal i'tikaf adalah sehari.

Ini merupakan salah satu pendapat Imam Abu Hanifah, sebagian Malikiyyah, sebagian Syafi'iyyah, dan salah satu pendapat Imam Ahmad. (Fathul Qadir, 2/110; Mawaahib Al Jalil, 2/454; Raudhatut Thalibin, 2/391)

Dalilnya : Mereka mengatakan bahwa i'tikaf tidak sah jika tidak shaum. Dan waktu shaum adalah sehari.

•Pendapat Kedua : I'tikaf dilakukan dengan masa waktu minimal sehari semalam.

Pendapat tersebut merupakan pendapat masyhur di kalangan madzhab Maliki.

Dalilnya adalah pendapat Ibn 'Umar dan Umar Ibnul Khattab yang memerintahkan manusia untuk beri'tikaf minimal sehari semalam. (Syarh Al 'Umdah, 2/760)

•Pendapat Ketiga : Masa minimal i'tikaf adalah 10 hari.

Pendapat ini merupakan salah satu riwayat Imam Malik. Dengan dalil bahwasanya Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam beri'tikaf di sepuluh hari terakhir dalam waktu 10 hari.

•Pendapat Keempat : Pendapat mayoritas ulama yang memandang bolehnya i'tikaf walau hanya beberapa saat, dimana tolok ukurnya ialah 'urf masyarakat.

Dalil mereka ialah keumuman ayat Qur'an, Surat Al Baqarah ayat 187 :

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْـتُمْ عٰكِفُوْنَ ۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ

“dan janganlah kamu campuri mereka sedang kamu beri'tikaf..” (QS. Al Baqarah[2] :187)

I'tikaf bermakna berdiam diri. Dan segala aktivitas berdiam diri di masjid dalam rangka taqarrub ilallaah adalah i'tikaf. Baik itu lama maupun sebentar.

Adapun dalil dari Sunnah ialah hadits :

إني لأمكث في المسجد الساعة، وما أمكث إلا لأعتكف

“Sesungguhnya aku ingin berdiam diri di masjid walau sesaat, dan tidak lah aku berdiam diri di masjid melainkan aku beri'tikaf”. (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam Al Mushannaf[4/347], dan Ibn Abi Syaibah [3/89]. Sanadnya shahih)

Imam Nawawi mengatakan bahwasanya i'tikaf meski sesaat, tetap akan diberikan pahala walau sebatas duduk di masjid bahkan walau mengisi dengan perkara dunia -seperti makan minum- di masjid. (Al Jami' Al Aam fi Fiqh As Shiyam, hal. 411)

Sedangkan lama maksimal I'tikaf tidak ada batasnya dengan syarat seseorang tidk melalaikan kewajiban-kewajiban yang menjadi tanggung jawabnya atau melalaikan hak-hak orang lain yang menjadi kewajibannya.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah di tahun wafatnya pernah melakukan I'tikaf selama dua puluh hari (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Adapun waktu I'tikaf, berdasarkan jumhur ulama, sunah dilakukan kapan saja, baik di bulan Ramadan maupun di luar bulan Ramadan.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah melakukan I'tikaf di bulan Syawwal (Muttafaq alaih).

Beliau juga diriwayatkan pernah I'tikaf di awal, di pertengahan dan akhir Ramadhan (HR. Muslim).

Namun waktu I'tikaf yang paling utama dan selalu Rasulullah lakukan hingga akhir hayatnya adalah pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan.

Masjid Tempat I'tikaf

Masjid yang disyaratkan sebagai tempat i'tikaf adalah masjid yang biasa dipakai untuk shalat berjamaah lima waktu. Lebih utama lagi jika masjid tersebut juga digunakan untuk shalat Jum'at. Lebih utama lagi jika dilakukan di tiga masjid utama; Masjidilharam, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha.
Terdapat atsar dari Ali bin Thalib dan Ibnu Abbas yang menyatakan bahwa I'tikaf tidak sah kecuali di masjid yang dilaksanakan di dalamnya shalat berjamaah. (Mushannaf Abdurrazzaq, no. 8009).

Disamping, jika I'tikaf dilakukan di masjid yang tidak ada jamaah shalat fardhu, peserta i'tikaf akan dihadapkan dua perkara negatif; Dia tidak dapat shalat berjamaah, atau akan sering keluar tempat I'tikafnya untuk shalat berjamaah di masjid lain.

Yang dimaksud masjid sebagai tempat I'tikaf adalah tempat yang dikhususkan untuk shalat dan semua area yang bersambung dengan masjid serta dibatasi pagar masjid, termasuk halaman, ruang menyimpan barang, atau kantor di dalam masjid.

Lebih baik lagi jika masjidnya memiliki fasilitas yang dibutuhkan peserta I'tikaf, seperti tempat MCK yang cukup, atau ruangan yang luas tempat tidur dan menyimpan barang bawaan.

Bolehkah I’tikaf Di Mushalla?

Perlu diperjelas dahulu apa yang dimaksud dengan mushalla di sini? Sebab ada kesalahkaprahan dalam masalah ini.

Makna mushalla yang sebenarnya adalah tempat umum yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk shalat. Misalnya lapangan yang digunakan untuk shalat Id, maka ketika itu lapangan tersebut disebutk sebagai mushalla (tempat shalat). Atau lorong dan basement di perkantoran yang sewaktu-waktu digunakan sebagai tempat shalat dan jika selesai dikembalikan fungsinya seperti semula. Mushalla seperti ini jelas tidak dapat digunakan untuk I’tikaf.

Adapun apa yang disebut mushalla pada bangunan yang telah khusus diperuntukkan untuk shalat bahkan sudah diwakafkan untuk itu, sebagaimana yang banyak terdapat di tengah masyarakat, pada hakekatnya itu adalah masjid, hanya saja tempat tersebut umumnya tidak digunakan untuk shalat Jumat. Karenanya, oleh masyarakat, untuk membedakannya dengan masjid yang digunakan untuk shalat Jumat tempat tersebut disebut dengan istilah mushallah. Sementara di negeri-negeri Arab, tempat seperti itu tetap disebut dengan masjid, sedangkan masjid yang digunakan untuk shalat Jumat disebut Jami’.

Kesimpulannya, dibolehkan I’tikaf di mushalla seperti yang dijelaskan di atas dengan catatan di mushalla tersebut dilaksanakan shalat berjamaah lima waktu. Adapun untuk shalat Jum’at dia boleh keluar ke masjid lain dan segera kembali ke mushalla tersebut jika sudah selesai. Wallahu a’lam.

Kapan mulai I'tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan dan kapan berakhir?

Jumhur berpendapat bahwa awal mulai i'tikaf yang disunnahkan ialah, sesaat sebelum terbenamnya matahari(maghrib), di hari ke -20 bulan Ramadhan. (Al Minhaj, 8/240)

Adapun waktu berakhirnya, sebagian ulama berpendapat bahwa I'tikaf berakhir ketika dia akan keluar untuk melakukan shalat Id, namun tidak terlarang jika dia ingin keluar sebelum waktu itu. Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa waktu I'tikaf berakhir sejak matahari terbenam di hari terakhir Ramadan.

I'tikaf Bagi Perempuan

Perempuan dibolehkan melakukan I'tikaf berdasarkan keumuman ayat. Juga berdasarkan hadits yang telah disebutkan bahwa isteri-isteri Rasulullah melakukan I'tikaf. Terdapat juga riwayat bahwa Rasulullah mengizinkan Aisyah dan Hafshah untuk melakukan I'tikaf (HR. Bukhari)

Namun para ulama umumnya memberikan syarat bagi wanita yang hendak melakukan I'tikaf, yaitu mereka harus mendapatkan izin dari walinya atau suaminya bagi yang sudah menikah, tidak menimbulkan fitnah, ada tempat khusus bagi wanita di masjid dan tidak sedang dalam haidh dan nifas.

Keluar dari Masjid saat I'tikaf

Secara umum, orang yang sedang I'tikaf tidak boleh keluar dari masjid. Kecuali jika ada kebutuhan pribadi mendesak yang membuatnya harus keluar dari masjid.
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata,

وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيُدْخِلُ عَلَيَّ رَأْسَهُ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَأُرَجِّلُهُ وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا - متفق عليه

“Adalah Rasulullah shallallaahu 'alayhi wasallam menyorongkan kepalanya kepadaku sedangkan dia berada di dalam masjid, lalu aku menyisir kepalanya. Beliau tidak masuk rumah kecuali jika ada kebutuhan jika sedang I'tikaf.” (Muttafaq alaih)

Perkara-perkara yang dianggap kebutuhan mendesak sehingga seorang yang I'tikaf boleh keluar masjid adalah; buang hajat, bersuci, makan, minum, shalat Jumat dan perkara lainnya yang mendesak, jika semua itu tidak dapat dilakukan atau tidak tersedia sarananya dalam area masjid.

Keluar dari masjid karena melakukan hal-hal tersebut tidak membatalkan I'tikaf. Dia dapat pulang ke rumahnya untuk melakukan hal-hal tersebut, lalu lekas kembali jika telah selesai dan kemudian meneruskan kembali I'tikafnya.

Termasuk dalam hal ini adalah wanita yang mengalami haid atau nifas di tengah i'tikaf.

Akan tetapi jika seseorang keluar dari area masjid tanpa kebutuhan mendesak, seperti berjual beli, bekerja, berkunjung, dll. Maka I'tikafnya batal. Jika dia ingin kembali, maka niat I'tikaf lagi dari awal.

Bahkan, orang yang sedang i'tikaf disunahkan tidak keluar masjid untuk menjenguk orang sakit, menyaksikan jenazah dan mencumbu isterinya, sebagaimana perkataan Aisyah dalam hal ini (HR. Abu Dawud)

Pembatal I'tikaf

Berdasarkan ayat yang telah disebutkan, bahwa yang jelas-jelas dilarang saat I'tikaf adalah berjimak. Maka para ulama sepakat bahwa berjimak membatalkan I'tikaf. Adapun bercumbu, sebagian ulama mengatakan bahwa hal tersebut membatalkan jika diiringi syahwat dan keluar mani. Adapun jika tidak diiringi syahwat dan tidak mengeluarkan mani, tidak membatalkan.

Termasuk yang dianggap membatalkan adalah keluar dari masjid tanpa keperluan pribadi yang mendesak. Begitu pula dianggap membatalkan jika seseorang niat dengan azam kuat untuk keluar dari I'tikaf, walaupun dia masih berdiam di masjid.

Seseorang dibolehkan membatalkan I'tikafnya dan tidak ada konsekwensi apa-apa baginya. Namun jika tidak ada alasan mendesak, hal tersebut dimakruhkan, karena ibadah yang sudah dimulai hendaknya diselesaikan kecuali ada alasan yang kuat untuk menghentikannya.

Yang dianjurkan, dibolehkan dan dilarang

Dianjurkan untuk fokus dan konsentrasi dalam ibadah, khususnya shalat fardhu, dan memperbanyak ibadah sunah, seperti tilawatul quran , berdoa, berzikir, muhasabah, tholabul ilmi, membaca bacaan bermanfaat, dll. Namun tetap dibolehkan berbicara atau ngobrol seperlunya asal tidak menjadi bagian utama kegiatan i'tikaf, sebagaimana diriwayatkan bahwa Rasulullah dikunjungi Shofiyah binti Huyay, isterinya, saat beliau I'tikaf dan berbicara dengannya beberapa saat. Dibolehkan pula membersihkan diri dan merapikan penampilan sebagaimana Rasulullah disisirkan Aisyah ra, saat beliau I'tikaf.

Dilarang saat I'tikaf menyibukkan diri dalam urusan dunia, apalagi melakukan perbuatan yang haram seperti ghibah, namimah atau memandang pandangan yang haram baik secara langsung atau melalui perangkat hp dan semacamnya.

Hindari perkara-perkara yang berlebihan walau dibolehkan, seperti makan, minum, tidur, ngobrol, dll.

Wallahua'lam bishshaawab

❄ Grup Telegram Ngaji FIQH

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget