Dari ‘Bungkuss’ dan ‘Mantan Setan’



Oleh : Iwan Januar

Kapan saya kenal Hari Moekti? SMP, kelas 3. Lewat lagu Ada Kamu saya tahu muka dan sosok Kang Hari. Pendekar, pendek dan kekar. Waktu itu TVRI berulang kali menayangkan video klip Ada Kamu. Kang Hari bergaya glam rock. Jaket dan celana kulit plus make up ala David Bowie. Suaranya beuuuhhh keren! Menurut kuping saya yang bertahun-tahun diisi musik cadas alias rock, vokal kang Hari lebih powerfull ketimbang Vince Neil-nya Motley Crue, lebih gahar ketimbang Don Dokken, dan lebih bulet ketimbang David Lee Roth. Lagu Ada Kamu juga sering dinyanyikan teman-teman di kelas yang waktu itu gandrung pada grup cadas mancanegara macam Loudness, Motley Crue, Judas Priest, Bon Jovi dan Iron Maiden. Ternyata ada lagu rock lokal yang catchy di telinga dan powerfull.

Sosok Kang Hari juga saya kenal lewat majalah dan tabloid musik. Di tabloid Citra Musik saya baca lagi profil Kang Hari. Eh, ini rocker beda pisan. Hobinya rock climbing mirip David Lee Roth, tapi no drug, no alcohol, no women. Dan subhanallah, eta aya foto sang rocker sholat di atas bukit ba’da climbing.


Setelah itu saya tak pernah kenal lagi jejak Kang Hari sampai kemudian di SMA, panitia mengundang Kang Hari mengisi acara pengajian. Saya tidak kaget, karena kasak kusuk yang beredar kang Hari sudah mulai berubah. Sudah mau diajak ikut pengajian. Kang Hari mulai berani isi pengajian; isinya pengalaman pribadi dan keresahan beliau sebagai musisi. Main lempar-tarik-tangkap mikropon dan kalimat “saya mantan setan!” jadi ciri khas di atas panggung pengajian. Orang-orang penasaran setiap kali ada pengajian mengundang kang Hari; bagaimana ceritanya ia bisa berubah.

Setelah lulus sekolah, saya jadi lebih sering bertemu kang Hari, itu karena saya menjadi pimred satu majalah remaja Islam, Permata. Bersama kolega saya, Oleh Solihin, beberapa kali kami berkunjung ke rumah mertua beliau dari pernikahan yang pertama, di Cicurug. Saya melihat Kang Hari sebagai sosok yang jujur, terbuka dan egaliter. Kami yang umurnya lebih muda dan bukan siapa-siapa diperlakukan sama. Diajak makan bahkan dibelikan bahan celana untuk kemudian dibayari pula ongkos menjahitnya. Wew, segitunya, kang.

Waktu itu kang Hari sering didampingi beberapa orang ustadz, ada coach Syamsul Arifin dan Luthfi yang sering mendampingi dan men-charge keislaman beliau. Lagi-lagi saya dibuat terkesima; kang Hari ini semangat belajarnya luar biasa, semangat menyampaikannya juga luar biasa. Apa yang beliau sudah pelajari biasanya disampaikan lagi di sesi tabligh. Kang Hari ini sosok yang ‘rakus’ ilmu agama.

Saya percaya orang yang ikhlas akan lebih mudah mendapatkan hidayah. Itupula yang saya lihat dari sosok Kang Hari. Beliau nothing to loose. Nggak pernah berpikir dapat apa dari dakwah. Beberapa kali amplop yang diberikan panitia beliau kembalikan ke mereka, dengan niat membantu renovasi mesjid atau musola. Belum lagi jiwa pemurahnya. Kalau berkumpul dengan kawan-kawan pengajian, tak sungkan beliau traktir makan bersama.


Untuk bisa istiqomah di jalan dakwah dan hijrah, juga perlu kesabaran ekstra. Kang Hari nampaknya punya cadangan sabar yang luar biasa. Berbagai terpaan hidup sepanjang hijrah tak membuat Kang Hari surut dari jalan dakwah. Kondisi finansial yang njomplang dibandingkan profesi artis sampai pernikahan pertama yang berujung perceraian, tidak membuat beliau meminta pamit mundur dari dunia dakwah. Totalitas hijrah beliau membuat saya geleng-geleng kepala. Kagum. Masya Allah, kang!

Pernah beliau cerita nilai show saat manggung bisa mencapai 50 juta rupiah persesi. Ini ukuran besar untuk tahun 90-an. Atau syuting sitkom beliau di satu tv swasta yang perepisodenya bernilai 10 juta rupiah. Belum lagi tawaran iklan (salah satu yang paling ngetop adalah kata “bungkusss!”). Dengan mantap beliau lepas karena merasa itu tidak sejalan dengan dakwah.

Banyak yang menyayangkan, banyak yang menuduh, dan lebih banyak lagi yang mengapresiasi mundurnya Kang Hari dari dunia entertainment. Orang-orang yang menyayangkan karena seorang Hari Moekti sebenarnya masih bisa bertahan di panggung entertainment beberapa tahun lagi. Terbukti albumnya bersama grup Adegan melejitkan hit Hanya Satu Kata dan Perbedaan. Ada juga yang menuduh Harmoek mundur karena memang sudah tak laku, ada juga yang menuduh Kang Hari itu ‘sesat’. Disebut sesat karena Kang Hari sering menyampaikan di atas panggung kalau profesi artis itu banyak haramnya. “Saya mantan syetan!” itu yang sering disampaikan beliau. Nah, pernyataan itu yang tidak disetujui sesama artis sampai muncul tudingan ‘sesat’.

Beliau pernah cerita, hijrah dan aktifitas dakwahnya membuat sebagian kawan artis bukan hanya segan tapi ‘takut’ bertemu beliau. Takut dinasihati dan dihentikan kemungkarannya. Apalagi artis-artis yang bergaya bencong, takut luar biasa bertemu beliau. Ada cerita menarik saat beliau baru pulang dari satu agenda dakwah. Ketika landing di bandara Kang Hari menyadari di belakang beliau ada seorang rocker senior di bandara yang sama. Tapi rocker ini enggan menyapa dan menemui kang Hari, agar tidak bertemu sang rekan ini melambatkan jalannya. Akhirnya Kang Hari menghampiri sang rocker, belum saja Kang Hari menyapa rocker ini duluan bicara, “Eh, Ri, gimana kabar lo? Makin sesat aja nih!” Wkwkwk.


Sebagai mantan artis, saya heran juga dengan gaya hidup beliau. Kang Hari bukan tipikal orang atau mubaligh yang rigid dengan urusan fasilitas. Beliau tak ambil pusing mau naik pesawat jenis apa, tiket kelas berapa, atau menginap di hotel bintang berapa. Setahu saya sejumlah mubaligh, coach, trainer, atau dai ada yang minta fasilitas khusus dari panitia. Hotel bintang lima dan harus penerbangan kelas satu. Alasannya? Jaga imej. Tapi kang Hari bisa nyaman saja tidur di rumah warga. Ada kejadian memalukan yang saya alami. Ceritanya saya pernah ikut dampingi Kang Hari dan supirnya ke acara di Cimahi. Usai tabligh kebiasaan beliau adalah diskusi sampai larut malam. Saya yang sudah keletihan dipersilakan oleh tuan rumah untuk tidur di kamar tidur. Saya pun langsung tumbang di atas kasur. Besok paginya saya bangun, eh Kang Hari ternyata tidur di kursi panjang. Waduh, siapa yang ceramah siapa pula yang dapat fasilitas lebih baik. Malu, bro.

Kalaupun ada yang beliau cereweti adalah kualitas sound system, karena menyangkut kualitas tabligh. Kalau ada mesjid penyelenggara yang kualitas sound-nya kurang pas, tak sungkan beliau ajari operator untuk mengatur mixer sound, lalu beliau biasanya rekomendasikan merk sound system yang bagus untuk dipakai di mesjid. Komplit dah, kang ceramahnya. Akhirat dapet, dunia juga dapet.

Kesederhanaan kang Hari itu ternyata saya tahu bentukan dari masa kecil dan masa muda. Hidup dari keluarga tentara yang sederhana dan bekerja keras, termasuk jadi room boy di hotel. Saat jadi artis pun Kang Hari lebih senang menggunakan uangnya untuk membeli peralatan climbing, nraktir kawan ketimbang shoping atau dugem. Maka saat hidayah dan dunia dakwah menyentuh kang Hari, suasana bersahaja itu menjadi semakin kuat. Rumah masih mengontrak, pakai mobil sewaan dan mau aprak-aprakan (berjibaku) ke pelosok untuk mengisi pengajian di kampung yang di ujung gunung. Yang tak berubah adalah kebiasaan beliau memuliakan tamu. Sekitar enam tahun lalu, saya dan beberapa rekan dari kantor berkunjung ke rumah beliau untuk membicarakan urusan bisnis. Entah senang karena baru bertemu lagi dengan saya (suer ini saya ge er), beliau langsung mengajak istrinya lalu menraktir kami semua makan siang di satu restoran sunda di Cibubur Junction. Ya Allah, kang, bageur teh teu robah-robah!

Kang Hari bagi saya panutan sebagai dai pejuang. Beliau sosok dai ‘cadas’. Sampai perkampungan puncak gunung beliau datangi. Tak pernah menolak. Ada foto beliau sedang siduru (menghangatkan badan) di depan hawu/tungku, bersama istri beliau. Itu lokasi tabligh yang cukup jauh dan di pelosok gunung.

Beliau juga sosok ‘cadas’ saat berdakwah. Tanpa tedeng aling-aling sampaikan Islam. Haram ya haram, mungkar ya beliau bilang mungkar. Tanpa ragu beliau sampaikan hukum wajibnya menerapkan syariat Islam dan menegakkan Khilafah di depan siapa saja. Cadas banget. Luar biasanya adalah beliau mampu mengartikulasikan pembahasan yang berat seperti tema qodlo-qodar dan kewajiban khilafah dalam retorika yang mudah dicerna audiens.


Hidup beliau bukannya tanpa ujian. Belum punya rumah pribadi, bercerai dari istri pertama, sampai sakit yang berkali-kali mendera beliau. Tapi daya juang beliau untuk berdakwah nampaknya yang membuat beliau tetap kelihatan sehat dan kuat. Suatu waktu saya mencoba dampingi beliau mengisi tabligh di satu mesjid di satu kawasan di Bogor. Sore hari ketika dikontak beliau sedang menjalani perawatan di rumah sakit di Bogor. Sampai isya beliau belum bisa keluar. Panitia sudah dag dig dug. Bada isya barulah beliau bersama istri tiba di lokasi. Membawa kendaraan sendiri. Sampai lokasi beliau minta waktu untuk istirahat sejenak di dalam mobil. Alhamdulillah tak berapa lama beliau tampil di atas panggung seperti tak sakit apapun. Cadas. Masya Allah.

Hijrah total dan istiqomah adalah hal lain yang menjadi teladan bagi saya. Meninggalkan panggung entertainment bukan perkara yang gampang. Itu berarti kehilangan popularitas dan penghasilan yang amat besar. Tapi beliau bisa istiqomah di jalan dakwah dan saya tak pernah mendengar beliau mengeluh. Beliau juga bersabar menghadapi berbagai suasana dakwah yang tak selamanya manis. Pernah beliau diminta isi tabligh di satu tempat. Berangkat naik pesawat, tiba di bandara, ternyata tak acara itu batal. Tak ada konfirmasi sama sekali. Beliau tidak kapok dan tidak berpaling dari dakwah.

Lama saya tak bertemu lagi Kang Hari Moekti selain sesekali membaca berita beliau sudah semakin sering sakit-sakitan. Sampai kemudian di WAG saya membaca berita wafatnya beliau. Pagi-pagi bersama istri dan dua anak remaja saya, berangkat ke Cikereteg, tempat peristirahatan terakhir beliau. Kami berharap masih sempat ikut menshalatkan jenazahnya. Di tengah cuaca mendung, sesekali gerimis, kami tiba di lokasi. Jamaah sudah penuh, saya tak bisa mendekat ke keranda jenazah apalagi menatap wajah beliau untuk terakhir kali. Saya hanya bisa menshalatkan, mengantarkan ke pemakaman, dan menatap keranda jenazah berbalut bendera liwa.

Saya mengingat keistiqomahan beliau di saat ada sebagian orang mundur dari jalan dakwah karena berbagai alasan. Beliau tetap berada dalam jamaah dengan segala hiruk pikuknya, saat ada orang-orang yang saya kenal pamit mundur. Beliau meninggalkan dunia untuk mendapatkan agama dan akhirat, ketika ada orang yang meninggalkan dakwah untuk mendapatkan dunia.

Selamat jalan kang Hari.

Semoga akang mendapatkan panggilan dari Rabbmu;

Wahai jiwa yang tenang

Kembalilah ke pangkuan Rabbmu

Penuh keridloan yang diridloi

Masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu

Masuklah ke dalam jannahKu

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget