Desakralisasi Pancasila: Setelah Lumer oleh Gaji Ratusan Juta Disusul Aksi Pengunduran Diri



DESAKRALISASI PANCASILA: SETELAH LUMER OLEH GAJI RATUSAN JUTA DISUSUL AKSI PENGUNDURAN DIRI

Oleh: Nasrudin Joha

Gaji ratusan juta rupiah, telah membuat kredebilitas BPIP cela di mata publik. Publik, membuat kesimpulan sederhana : bagaimana bisa Brahmana Pancasila masih lekat dan haus akan recehan dunia?

Sejak Perpres diteken, kontroversi gaji BPIP menjadi perbincangan meluas ditengah publik. Mayoritas tidak ridlo, ditengah sulitnya rakyat memenuhi hajat primer, para penganjur Pancasila yang bertengger diatas piramida lembaga pembina, justru mendapat gaji yang berkelimpahan.

Pada saat yang sama, tingkah lacur anak buah pengarah dan pembina Pancasila, dalam beberapa pekan ini justru digaruk KPK karena kasus korupsi. Slogan 'Aku Pancasila' dibuka aib oleh Allah SWT melalui berbagai kasus. Dari korupsi e KTP sampai penangkapan kepala daerah kader 'aku Pancasila' oleh lembaga KPK.

Nampaknya semua harus mulai membuka mata, menginsyafi kenyataan, setiap yang bermula pasti berakhir, kreasi manusia pasti penuh dengan cela, begitu juga dengan Pancasila. Pancasila hanya kreasi manusia, yang tidak luput dari aib dan cela, penuh keterbatasan.

Saat Yudi Latif mengundurkan diri, wibawa lembaga BPIP makin rontok. Kemudian publik bertanya-tanya : siapa sebenarnya yang Pancasilais ? Mereka yang tetap berjibaku di lembaga BPIP atau Yudi Latif yang mengambil ikhtiar moral untuk mundur? Apakah anggota BPIP bisa di tuding tidak peka terhadap aspirasi publik, atau Yudi Latif yang tidak bertanggung jawab lari dari amanah? Apakah mereka yang tetap berjuang untuk mendapat "hak keuangan" atau mereka yang rela melepaskannya, kemudian mengambil pilihan moral mengundurkan diri?

Mahfud MD menyebut Yudi mundur karena urusan keluarga. Sudahlah, itu naif. Pasti bukan karena itu, sejak sebelum dilantik urusan keluarga itu sudah ada. Seorang negarawan, tidak akan merasa keberatan mengurus tugas negara bersamaan dengan tugas keluarga.

Ayolah, kita jujur untuk apa dan siapa tafsir anti Pancasila itu dialamatkan. Para Brahmana Pancasila di BPIP jangan hanya berkutat di bilangan norma, tetapi abai digunakan untuk apa norma Pancasila. Sepanjang sejarahnya, Pancasila jika diadopsi tafsirnya oleh penguasa pasti digunakan untuk menggebuk elelemen anak bangsa yang memiliki ujaran berbeda. Pancasila ala Soekarno dan Orba, adalah contoh paling sempurna menggambarkan ini.

Bagaimana mungkin pengajar Pancasila, seorang profesor yang berpengalaman lebih dari 24 tahun, dicopot dari jabatannya hanya karena tudingan anti Pancasila? Anti NKRI? Anti sila persatuan Indonesia ? Inikah pancasila ?

Bagaimana mungkin mantan koruptor, diperjuangkan boleh NYALEG, diberi ruang untuk mengurus negara. Menolak aturan untuk menganulir caleg mantan koruptor, menolak menandatangani perkpu. Inikah Pancasila?

Mengobrak abrik kantor media, memukul, berteriak-teriak, ngamuk atas adanya aspirasi yang berbeda. Mengancam akan 'rata dengan tanah' jika terjadi di Jawa tengah. Inikah Pancasila ?

Tertangkap kasus korupsi, dalam hitungan hari hingga 4 kepala daerah. Ada juga dua kepala daerah ditetapkan tersangka tapi kabur, belum kooperatif dg KPK. KPK membuka wacana untuk tetapkan DPO. Inilah Pancasila ?

Saya kira saat ini publik musti berfikir waras, tidak ikut-ikutan latah menuding pihak lainnya sebagai 'Anti Pancasila'. Pancasila saat ini sudah menjadi Palu gada, dipegang tafsir tunggalnya oleh penguasa. Setiap yang berseberangan, dituding anti Pancasila, tanpa dialog, tanpa diskusi, langsung persekusi dan di sanksi. Bahkan, langsung di bubarkan.

Sementara deretan pelanggaran konstitusi, Gembong perusak moral, penentang nilai kebertuhanan, perusak nilai kemanusiaan, pemecah belah persatuan, pengacau nilai keadilan dan norma sosial di tengah masyarakat dibiarkan begitu saja, karena menjadi kroni dan membela kepentingan penguasa.

Bangsa ini adalah bangsa besar, memiliki visi besar. Janganlah kebesaran bangsa ini menjadi kerdil, karena ruang diskusi dipenjara pada logika "aku pancasila" atau "aku anti Pancasila". Nalar yang wajar saja, tidak mau dikungkung dan dibelenggu olah kenaifan. Apalagi, jika jiwa bangsa ini menginginkan perubahan. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget