Kisah Perjalanan Hidup Almarhum Ustadz Hari Moekti, Tetap Berbakti Meski Aku Telah Mati


TETAP BERBAKTI MESKI AKU TELAH MATI

Berbakti dari harta artis tak ada arti/
Laksana lilin menerangi tapi membakar diri/
Aku pun taubat dan karier menyanyi kuakhiri/
Lalu mengaji dan menjadi dai//

Jadilah aku anak shalih yang mendoakan orang tua/
Semua harta nyanyi sirna tidak mengapa/
Yang penting untaian doa tetap dipanjatkan kepadaNya/
Tapi keresahan tetap menyelimuti dada//

Karena doa pasti terhenti ketika aku mati/
Sedangkan aku ingin sekali tetap berbakti
Maka wakaf atas nama orang tua menjadi solusi/
Tidakkah Anda ingin turut berpartisipasi//

Di era tahun 1980 hingga 90-an siapa yang tak kenal saya, Hari Moekti? Kariernya melambung tinggi. Olah vokalnya banyak yang memuji. Saya jalani dunia artis yang glamour. Namun ada yang sangat menyedihkan hati. Saya jauh dari ibu. Ibu tidak suka saya menjadi artis.

Entah apa yang ibu doakan tentang saya, yang jelas pada 1995, saya mendengar ayat suci Al-Qur’an dari seseorang dan ia pun menjelaskan maknanya kepada saya. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”(QS. Al Mulk: 2)

Allah menilai amal seseorang yang sempurna (ahsanu ‘amalan, amal yang baik/sempurna). Saya selama jadi artis banyak beramal.Setiap habis bernyanyi uang saya sedekahkan. Namun orang itu menyatakan: “Hari Moekti itu bagaikan lilin yang menyala, bermanfaat menerangi lingkungan tetapi tubuhnya terbakar.”

Mengapa? Karena Allah tidak menuntut amal yang banyak, tetapi amal yang sempurna. Dan saya tidak sempurna. Manusia tidak sempurna. Mengapa Allah mengatakan amal yang sempurna? Ternyata simple saja.

Sempurnanya manusia itu melakukannya dengan ikhlas dan aktivitas itu benar, diridhai Allah. Sedangkan saat jadi artis, amal yang saya lakukan agar mendapat pujian, dan setiap manggung, saya pun jadi wasilah maksiat banyak orang; mabuk, berkelahi atau pun campur baur lelaki dan perempuan. Dan satu lagi, menjadi jauh dengan ibu.

Maka ketika karier berada di puncak, pada tahun yang kelima belas, saya merekam lagu baru, lagu ini akan meledak di pasaran, kemudian produser pun mendatangi saya, beberap iklan datang mau teken kontrak, saya bilang tidak mau. Saya mau muhasabah diri dulu.

Karena saya teringat ibu saya pernah mengatakan seorang tetangga bertanya. “Ibu hebat, punya anak terkenal, seneng ya.”

Ibu saya diam saja. “Kenapa Bu, tidak bahagia punya anak terkenal?”

Lalu Ibu menjawab. “Ah Bu, ayeuna mah, budak teh tara balik, teu jiga baheula, dititah naon wae nurut, ayeuna mah budak teh teu aya.” (Ah Bu, sekarang, anaknya tidak pernah pulang, tidak seperti dulu, disuruh apa saja menuruti, sekarang anaknya sudah tidak ada).

Itu ungkapan dari lubuk hati ibu yang merasa kehilangan anaknya. Karena saya menjadi anak yang melupakan orang tua. Ini merupakan kegelapan bagi saya. Karena ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua.

Ini yang menginspirasi saya ketika saya membaca Al-Qur’an bahwa ridha Allah itu ada pada ridha kedua orang tua. Selama saya menjadi artis saya melanggar ayat ini birrul walidayn, berbakti kepada kedua orang tua.

Berbakti kepada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, wajib ain, tidak bisa titip kepada orang lain. Pantas ibu saya sedih. Saya kirim uang untuk bisa bikin rumah, beli mobil, tidak pernah berwujud rumah, tidak pernah berwujud mobil, karena ibu saya tidak butuh itu. Uang itu oleh ibu disalurkan lagi kemana saja. Ibu saya tetap sederhana di rumah peninggalan suaminya yaitu bapak saya, yang telah berpulang sejak saya kecil.

Kemudian saya ingin mengharap ridha Allah dengan doa ibuku. Entah apa yang dia doakan. Kemudian saya bertaubat saja meninggalkan dunia artis. Saya tinggalkan dunia artis itu. Dalam waktu tiga setengah bulan, harta saya habis dan malah berutang. Karena saya tinggalkan begitu saja perusahaan saya. Saya ambil saham-sahamnya, tidak saya jual sahamnya.

Tapi ibu saya gembira. “Tah kitu atuh, sering ngalongok Mamih.” (Nah begitu, sering menjengguk Ibu). Kalau sudah miskin begini datang, sering melongok ibu. Ibu saya senang sekali. Dan dia mendoakan saya. Subhanallah, sekarang hidup saya bahagia. Ketika saya sedang menikmati kebahagiaan bersama ibu. Beliau meninggal. Saya belum banyak berbuat. Saya sedih.

Yaa Allah... apa yang harus saya perbuat untuk ibu. Mungkin ibu pun banyak membawa dosa pulangnya. Tapi sebagai anak saya tidak bisa berbakti apa-apa. Sementara uang saya sebagai artis tidak dapat menolong ibu.

Saya tidak boleh lama-lama bersedih. Kegelapan pasti akan berakhir. Pasti akan berlalu. Tapi bagaimana caranya. Dalam pertaubatan bertahun-tahun saya mengaji. Alhamdulillah bisa timbul rasa bahagia dengan mengaji bahkan menjadi dai. Karena bisa menjaga istiqamah. Agar mati dalam keadaan khusnul khatimah.

Dan yang tak kalah pentingnya lagi, saya tetap bisa berbakti meski ibu telah pergi, seperti yang dinyatakan Nabi: Jika seseorang mati, maka amalnya terputus, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim).

Tapi ada yang tidak puas dalam diri saya. Saya berutang besar kepada ibu saya. Kalau saya mati nanti, siapa yang akan mendoakannya? Alhamdulillah, pada 2005, Saya bertemu dengan teman dari Badan Wakaf Al-Qur’an (BWA) dan mereka mampu menghapuskan air mata saya.

Menurutnya ada amal yang bisa saya sampaikan kepada ibu secara berkesinambungan, meski pun saya telah mati! Ia pun membacakan hadits.

Dari Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiallahu ‘Anhu, katanya: “Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, apakah aku bersedekah untuknya? Beliau menjawab: Ya. Aku berkata: “Sedekah apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab: “Mengalirkan air.” (HR An Nasa’i dan Ibnu Majah).

Mengalirkan air adalah salah satu bentuk dari wakaf ---sedekah yang paling afdhal. Subhanallah ternyata wakaf... amazing. Inilah yang membuat saya gembira bersama istri dan keluarga saya. Ada satu perbuatan meskipun saya mati pahalanya mengalir terus kepada orang yang saya cintai. Saya sangat mencintai ibu karena Allah, maka saya berwakaf atas nama beliau.

Inilah yang membuat saya bahagia, pendorong yang paling kuat untuk meraih surga. Bukan dengan bernyanyi tetapi dengan mewakafkan harta. Maka saya pun bergabung dengan BWA menginspirasi kaum Muslimin untuk ikut berwakaf. Oleh karena itu.... Anda harus ikut!

BAHAGIA
Melalui program Wakaf Al-Qur’an dan Pembinaan (WAdP) BWA, saya menggalang dan menyalurkan Al-Qur’an wakaf dari kaum Muslimin ke berbagai pelosok Tanah Air. Dan ini membahagiakan saya.

Rasa bahagia itu kerap kali muncul, terlebih ketika melihat mereka bahagia mendapatkan Al-Qur’an wakaf. Misalnya ketika mendistibusikan Al-Qur’an kepada korban erupsi Gunung Merapi di Dusun Pule. Setelah menerima Al-Qur’an, salah seorang ustadz di sana berkata: “Subhanallah, ternyata ini sumbangan terbesar, dari mie supermi, dari beras, dari gula ternyata ini yang terbesar. Inilah sumbangan terbesar saat kita melupakan Allah.”

Ini sangat menginspirasi saya. Saya merasa puas melihat orang merasakan nikmat mendapatkan wakaf Al-Qur’an.

Begitu juga ketika ke Nias, menyerahkan Al-Qur’an kepada mereka yang terkena musibah tsunami. “Alhamdulillah... dapat Al-Qur’an, sudah sepuluh tahun kami tidak mendapat Al-Qur’an...” ini yang ngomong DKM setempat. Perjalannya cape banget tetapi bahagia banget, karena melihat orang bahagia mendapatkan Al-Qur’an.

Seringkali setiap menyalurkan wakaf, saya diamanahi untuk berbagi ilmu Islam yang saya pelajari. Usai ceramah, warga setempat menagih, “kapan tausiah di sini lagi?”

Ayo kita ke sana, membina warga di sana. Saya bukan artis lagi yang berfikir dapat duit berapa saya di sana, tetapi ada makna yang terkandung di situ, ada beberapa orang yang sadar dan kembali kepada Islam. Ke Senduro, ke Bromo, selebihnya itu ada orang masuk Islam lagi. Jadi hidup ini bermakna.

Melaksanakan program Water Action for People (WAfP), juga merupakan bagian dari aktivitas saya di BWA. Aktivitas yang pertama membangun sarana air bersih di Ponpes Yashi, Pontang, Banten. Tapi ketika warga berkata, “Opo tumon kok ono banyu” (masa sih bisa ada air), aku bilang dalam hati, eh orang ini tidak percaya ada air. Tetapi ketika air mengalir, subhanallah, mereka semua tersenyum gembira. Semoga ini menjadi amal yang pahalanya menghapus dosaku dan mengalir pada ibu bapakku.

Pada kesempatan lain, Gunung Merapa meletus, air bersih warga sekitar benar-benar habis ditutup oleh debu dan lava merapi. Kami bangun bak penampung air, tapi saya tidak punya uang lagi. Dan ini kami himpun dari kaum Muslimin yang berwakaf.

Sedangkan di Gunung Kidul ratusan tahun tidak ada air. Tapi mereka jadi bisa menikmati air dari wakaf kaum Muslimin yang saya salurkan ke sana. Karena saya punya keahlian naik gunung, turun tebing dan terjun payung, maka saya gunukan keahlian saya untuk menyenangkan warga Gunungkidul dan orang yang berwakaf, dengan masuk ke dalam gua Pego yang jaraknya 75 meter merangkak dan turun ke kedalaman 87 meter ke tempat air bersih berada.

Dan ini membahagiakan, sangat membahagiakan. Karena apa? Berbuat untuk orang lain. Emosional, dengan didorong rasa spiritual yang sangat tinggi. Sekarang tidak kurang dari 4000 penduduk di dusun-dusun sekitar gua tersebut dapat menikmati airnya. Yang biasanya mereka mendapatkan air satu jerigen setiap hari, sekarang tiga menit satu jerigen.

Setiap tetes air mengalirkan pahala bagi yang berwakaf. Inilah yang membuat saya bahagia, percaya diri menatap masa depan, berbakti kepada kedua orang tua, mengabdi kepada Allah SWT. Dan... Anda harus ikut![]

Diolah oleh Joko Prasetyo dari wawancara Joko Prasetyo dengan Ustadz Hari Moekti tahun 2014. Dipublikasikan dalam bentuk buklet yang diterbitkan Badan Wakaf Al-Qur’an pada Ramadhan tahun 2014 Masehi.

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget