Sejumput Memori Bersama Kang Hari Moekti



By Al-faqir Bahron Kamal

Kami akrab memanggilnya dengan sapaan Kang Hari. Tempat kami biasa bertemu adalah di kantor redaksi Majalah Al-wa'ie Cimanggu Bogor. Kami dipertemukan dan dipersaudarakan oleh misi hidup sebagai muslim. Di sana sejumlah kawan memang kerap bertemu meski tidak selalu ada agenda khusus. Begitu pun Kang Hari tanpa ada undangan sering sambang dan bertandang ke kantor itu.

Boleh jadi rentang waktu itu adalah masa di mana Kang Hari berupaya meneguhkan diri di jalan dakwah dari perjalanan hijrahnya. Sebelum itu sempat beberapa lama surut, seolah 'menjauh' dari interaksi bersama kami. Problem-problem dan kondisi yang dialaminya membuat kami sangat memaklumi.

Pasca itu semangat dakwah Kang Hari kembali menggelora setelah salah seorang sahabat kami yang lebih muda, berilmu, kalimat-kalimatnya berhikmah, punya kharisma dan kami sangat menghormatinya, dialah ustadzuna Hafizh Abdurahman sengaja mengunjungi beliau. Beliau memberi penguatan kepadanya. Mungkin itu salah satu hal yang dapat membantu Kang Hari dapat memenangkan pergolakan bathinnya.

Malam itu cuaca agak mendung selepas Isya Kang Hari datang. Kebetulan kantor cukup sepi hanya berdua atau bertiga dengan beliau sendiri. Seperti ada gelisah yang tengah bergayut dan terkesan ada sesuatu yang membuatnya kurang rilek dari biasanya. Rupanya malam itu Kang Hari telah dijanjikan oleh seorang Kyai di Pondok untuk dipertemukan dengan seorang Nisaa dan akan dinikahkan jika beliau berkenan. Tetapi ia bimbang. Mantan istri terkasihnya pernah berpasan kepadanya, kalau Aa (Kang Hari) mau married lagi harus kasih tahu Neng dulu. Tampaknya walau keduanya telah berpisah sebagai suami-istri namun benih-benih kasih di antara keduanya belumlah sirna. Perpisahan terjadi karena provokasi dan intervensi pihak ketiga. Lebih karena 'dunia' Kang Hari sudah tidak lagi bisa memberi harapan hidup gemerlap. Rongrongan itu begitu kuat tanpa sanggup dihadapi oleh keduanya. Akhirnya cinta kasih pun harus terberai. Secara spesifik beliau tidak bertutur kepada kami, tetapi sebagai saudara kami mengempati.

Persoalan yang muncul, beberapa kali Kang Hari mengutarakan rencana pernikahan keduanya kepada Sang mantan peragawati itu selalu berujung pada urungnya akad nikah. Kami pun paham dan berupaya mengurai dilema yang menggayuti pikirannya.

"Kang Hari, berangkat saja ke Pondok," ujar kami, "terimalah niatan mulia Pak Kyai. Tidak ada kewajiban memberitahu kepada mantan istri, sehingga tidak ada dosa bagi Kang Hari tidak memberi tahu lebih dulu. Setelah akad pernikahan nanti boleh Kang Hari beri kabar dia." Beliau pun minta doa lalu berangkat menemui Pak Kyai. Alhamdulillah pernikahan itu menjadi pernikahan yang diberkati dan mengantarkan mereka pada maghligai rumah tangga bahagia sakinah mawaddah warahmah...

Bulan-bulan setelah itu kami nyaris tak pernah lagi bertemu. Kami sekeluarga pindah domisili ke kota Malang, Jawa Timur. Hanya pada event-event tertentu atau ketika Kang Hari ada agenda safari ke Jawa Timur kami bisa bertemu. Setiap kali bertemu beliau selalu bermaksud cium tangan saat bersalaman, tetapi sekuatnya kami menghindar. Beliau seorang yang tawaddu' apalagi kepada orang yang dipandangnya berilmu. Maka cipika-cipiki yang tanpa basa-basi, peluk ketulusan lebih dari cukup untuk mengekalkan persaudara, keakraban, dan kasih sayang di antara kami...

Ahad malam itu kami berdua dengan istri baru istirah di kamar. Kami berdua masih berbincang tentang rencana esok hari, melanjutkan silaturrahim Syawwal ke famili dan lkhwanii seperjuangan. Tiba-tiba putri kedua kami mengetuk pintu kamar seraya mengabarkan bahwa Wak Hari Moekti meninggal dunia, lkhbar dari grup wa. Putra-putri kami memang kami akrabkan memanggil beliau Wak Hari. Meski beliau sendiri tidak mengenali langsung satu persatu, hanya bertemu diforum-forum dakwah bersama Ustadz Hari Moekti.

Spontan kami membuka hape: innalillahi wa innailaihi roji'uun...
Keesokan hari-hari sesudah itu kami banyak menyimak video-video yang memuat kenangan jejak hidup beliau dan tak kuasa kami memampat deraian air mata...

Wahai sahabat kami Kang Hari Moekti
Engkau berpulang setelah nyalakan terang
Dan di bawah terang yang engkau nyalakan orang-orang menemukan jalan menuju tujuan engkau bukan lagi lilin yang memancarkan terang dengan kehancuran diri yang nihil makna
engkau telah menjadi Dian yang memancar cahaya lalu engkau bersama mereka yang menyunting nyala cahaya itu berjalan bersama beriringan menuju Rabbnya
Dan tentulah cahaya itu kini tengah menerangi dirimu di sana dan niscaya engkau tidak akan ditimpa kegelapan selama-lamanya, aamiin...


Malang, Jum'at mubarak jelang akhir Juni 2018

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget