Temuilah Janji Tuhan Mu, Wahai Jiwa yang Tenang



TEMUILAH JANJI TUHANMU, WAHAI JIWA YANG TENANG

Oleh: Nasrudin Joha


Pada akhirnya, sejauh apapun perjalanan kehidupan, ajal adalah akhir dari labuhan petualangan, gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Ajal, adalah satu diantara tanda kebesaran Allah, yang nyata dihadapan manusia, tapi seringkali tiada diindahkan.

Bagi penghamba, yang menunaikan misi taat, yang menetapi setiap jengkal jalan syariat, ajal adalah istirahat dari beban amanah. Ajal, adalah gerbang menuju janji kemuliaan sejati. Ajal, adalah pintu sebelum sang hamba bertemu dengan sang haribaan, menatap wajah-Nya, menikmati surga-Nya.

Bagi pendusta, ajal adalah gerbang duka dan nestapa tiada akhir, tiada bertepi. Tiada guna, segenggam maupun sekeranjang kebanggaan dunia, apalagi sejumput atau seujung kuku, dari tulang belulang dunia yang pernah dibanggakan. Tiada arti, semua upaya dan ikhtiar yang pernah dikorbankan.

Kabar itu, telah datang kepadaku. Kabar, dari seseorang yang telah mengambil ajal kemaksiatan dari pernik-pernik dunia, jauh sebelum ajal kematian datang padanya. Kabar, yang pada akhirnya menyampaikan ajal kematian itu menjemputnya, membawanya pergi menemui Rab-Nya, menemui Janji-Nya.

Dia, yang telah membunuh karier kemaksiatan di gegap gempita belantika musik. Dia, yang telah menenggak racun kematian dari puja-puja manusia atas kasta "Rocker" yang disandangnya.

Akhirnya dia, benar-benar berpulang. Dia benar-benar telah menyelesaikan misinya sebagai hamba. Dia, sampai pada titik kalimat "Duhai jiwa yang tenang, kembalilah pada Rabb-Mu, dan saatnya rehat dari amanah dakwahmu".

Ust. Harie Moekti, seorang yang telah mengubur kedigdayaan dunia, menyeluri serpih-serpih hidup sebagai sufi dan da'i sejati, mendermakan hidup untuk dakwah, telah berpulang kepada-Nya. Alhamdulllah 'ala kuli Hal. Dia, telah menuntaskan misi penghambaan, dia telah sampai pada janji yang ditetapkan. Dia, telah sampai pada ajal yang ditetapkan.

Dia, seorang pejuang Islam, pengemban syariat Islam, pejuang Khilafah. Dalam genggamannya, Al Liwa dan Ar Roya berkibar dalam berbagai forum dan momen perjuangan. Suara merdu melengkingnya, akan selalu terngiang menggaungkan kalimah "TAKBIR!".

Dia, telah menjadi penjaga Islam yang terpercaya, yang mengerahkan segenap daya dan upaya untuk merealisir misi melanjutkan kehidupan Islam. Dia, adalah seorang pejuang Khilafah yang teguh, Istiqomah dan menemui Rab-Nya dalam keadaan iman Islam.

Ya Allah, ampunilah dosanya, tempatkanlah dia pada sisi Mu bersama ridlo dan kemuliaan. Kumpulkan kami kelak, bersama Rasulullah SAW, bersama para sahabat ridwanullah ajmain, para Tabi'in, tabiit Tabi'in, serta segenap hamba beriman, dibawah bendera Rasulullah yang bertuliskan "LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADDARROSULULLAH".

Duhai jiwa yang tenang, temuilah Tuhanmu. Berbahagialah dengan bekal keimanan-Mu. Kelak daulah Khilafah yang kau perjuangkan, Khilafah yang dituntut dan dijanjikan Tuhan-Mu, akan tegak atas ijin dan pertolongan-Nya.

"kematian adalah nasihat kehidupan, yang akan menjadikan manusia hidup seutuhnya, memahami maqom dan misinya"

"Kematian adalah kabar gembira, bagi setiap hamba yang taat kepada-Nya. Kematian, adalah jalan menuju kebahagiaan sejati, mengetuk pintu surga dan menghadap wajah-Nya"

"Setiap kabar kematian, akan menambah ketaatan setiap hamba yang beriman. Petiklah hikmah dan kebajikan, dari setiap kabar kematian". [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget