Rupiah Melemah, Bukti Kebobrokan Kapitalisme



Oleh: Chusnatul Jannah – Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami depresiasi sebesar 5,72% sejak awal tahun. Rupiah melemah terhadap mata uang Paman Sam hingga kini berada di level Rp 14.315.(detik.com).

Muncul pertanyaan apakah rupiah yang melemah atau dolar yang menguat? Masing-masing memiliki persepsi. Pemerintah dan Bank Indonesia menganggap persoalan ini sekadar dolar AS yang menguat. Namun ekonom menilai lebih kepada pelemahan rupiah. Pengamat Ekonomi dari Institute Development for Economics and Finance (Indef) Eko Listianto beranggapan rupiah yang melemah karena tidak semua negara mata uangnya melemah terhadap dolar AS.

Untuk mengatasi gejala terseoknya rupiah terhadap dolar, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan dari 0,5% menjadi 5,25%. Cukupkah langkah ini diambil untuk mengatasi pelemahan rupiah yang terus terjadi sejak awal tahun 2018 ini?

Masalah Terbesar Ekonomi: Penerapan Kapitalisme
Persoalan melemahnya rupiah memang tidak terlepas dari besarnya pengaruh dolar AS sebagai nilai tukar yang merajai dunia internasional. Acuan dalam nilai tukar mata uang antar negara adalah dolar AS.

Ketidakstabilan rupiah juga dipengaruhi oleh ekonomi perbankan yang menjadi ciri khas dari ekonomi kapitalisme. Tatkala AS menaikkan suku bunga The Fed, hal itu berdampak pada pelemahan mata uang negara berkembang khususnya rupiah. Selain itu, perang dagang antara AS dan Tiongkok cukup membuat negara-negara lain ketar ketir.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), mengartikan kapitalisme sebagai sistem dan paham ekonomi yang modalnya bersumber pada modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan ciri persaingan dalam pasar bebas. Sistem ini medorong setiap individu terlibat dalam persaingan bebas dan memiliki hak atas kepemilikan apapun, termasuk industri, perdagangan, sumber daya alam dan lainnya. Jual-menjual kekayaan negara adalah hal biasa. Sebab, kapitalisme menganut kebebasan kepemilikan.

Untuk memahami bagaimana pelemahan rupiah terjadi maka hal itu tidak terlepas dari kesalahan asas ekonomi kapitalisme. Dikutip dari detik.com disebutkan beberapa permasalahan dalam Kapitalisme, yaitu:

1) Dalam Kapitalisme yang menjadi penopang ekonomi adalah sektor non riil, termasuk di dalamnya pasar saham, valas, obligasi, dan lainnya. Di mana pasar saham yang merupakan pasar judi dunia yang memang transaksi yang tidak jelas dan hanya menguntungkan para spekulan.

2) Standar keuangan berdasarkan dolar. Di mana uang kertas yang nilai intrinsik dan nominalnya berbeda dan mudah dipermainkan oleh para spekulan khususnya asing sehingga nilai uangnya fluktuatif.

3) Pemberlakuan sistem riba khususnya bunga bank sehingga banyak orang yang kredit dibebankan dengan bunga yang besar dan menguntungkan sebagian orang dengan tidak susah-susah bekerja. Sehingga secara implisit terjadi tindak kezaliman yaitu menzalimi sebagian pihak untuk keuntungan pihak tertentu.

4) Terjadi penumpukan (penimbunan) uang pada sebagian pihak sehingga pergerakan ekonomi tidak stabil.

5) Ketidakjelasan hak kepemilikan. Di mana dalam Kapitalisme setiap individu berhak untuk memiliki sumber daya termasuk sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak. Sehingga yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin. Karena terjadi kesenjangan sosial yang abadi dan yang berhak menikmati hanya orang-orang yang bermodal (Kapitalis).


Sistem Ekonomi Islam sebagai Solusi Dasar

Jika kelemahan ekonomi kapitalisme sudah nampak nyata, sedangkan sosialisme juga sudah usang, maka perlu sebuah solusi alternatif yang mampu menjawab pemasalahan ekonomi saat ini. Persoalan melemahnya rupiah atas dola AS hanyalah sebagian dari masalah ekonomi yangd akibatkan penerapan kapitalisme.

Solusi alternatif yang mampu menjawab tantangan ekonomi di masa depan tidak lain adalah Islam. Mengapa harus Islam? Sebab, selama 13 abad memimpin dunia, Islam mampu memberikan kesejahteraan yang gagal diwujudkan oleh sistem kapitalisme. Inilah asas sistem ekonomi islam yang bertolakbelakang dengan kapitalisme:

1) Islam tidak mengenal sektor non riil tetapi pergerakan ekonomi ada pada sektor rill sehingga jelas transaksi dan perputaran uang.

2) Standar nilai uang berdasarkan emas dan perak yang memang memiliki nilai intrinsik dan nominalnya sama sehingga sangat jauh dari inflasi.

3) Tidak boleh terjadi penimbunan uang, tetapi harus berputar, sehingga ekonomi senantiasa bergerak dan kekayaan tidak hanya pada segelintir orang.

4) Tidak mengenal (mengharamkan) riba dan tidak ada saling menzalimi.

5) Kepemilikan yang jelas. Ada kepemilikan individu, kepemilikan negara, dan

kepemilikan umum (rakyat) yaitu segala sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak tidak boleh dimiliki oleh individu, kelompok, atau negara. Tetapi, dikelola oleh negara dan hasilnya untuk kemakmuran rakyat, seperti barang tambang, hutan, laut, dan lain-lain.

Bila sudah tampak kebobrokan ekonomi kapitalis berbasis ribawi dan moneter, maka sudah saatnya umat islam berjuang menerapkan sistem islam yang mampu menjadi jawaban atas problematika yang membelit negeri ini. Baik muslim atau non muslim akan sejahtera di bawah penerapan islam yang mengemban misi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam.

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget