Balada Idul Qurban antara Emak dan Anak



BALADA IDUL QURBAN ANTARA EMAK DAN ANAK


Oleh: Nasrudin Joha

Kring...kring... di layar HP tertulis "EMAK MEMANGGIL", segera saja sang anak mengangkat telepon dari emak tercinta. Secara tergopoh anak mengangkat telepon dan meloundspeaker, agar terdengar oleh seisi rumah.

Anak: "Assalamu'alaikum Mak, bagaimana kabar emak ?"

Emak : "Waalaikumsalam, alhamdulilah, emak disini sehat. Alhamdulilah, akhirnya emak bisa memenuhi penggilan Allah di tanah suci".

Anak : "ya Mak, kami ikut gembira dan bahagia mendengar kabar emak sehat dan baik di tanah suci".

Emak : "oh iya, jangan lupa pesanan emak. Tolong kambing yang sudah Mak beli dua bulan yang lalu, agar disembelih di hari qurban. Mak hari Senin wuquf di Arafah, jadi tolong Selasa kambing itu disembelih ya anaku..."

Anak: "tapi Mak ?" Tanya anak sedikit menyergah, karena ada yang ingin dijelaskan.

Emak : "tapi apa anakku ?"

Anak: "tapi disini, Idul Qurban baru hari Rabu. Jadi, Selasa kami disini puasa Arafah."

Emak : "Onde mande, apa lagi aliran yang kau anut. Mak disini wuquf hari Senin, kenapa kalian puasa hari Selasa. Mak hari Selasa sudah Idul Adha, kenapa kalian masih puasa, bukankah itu puasa di hari Nahar ? Istighfar anakku".

Anak : "ya Mak, tapi penguasa dan ulama disini menetapkan puasa hari Selasa, Rabu Idul Adha".

Mamak : "apa pula argumen anak Mamak ini. Kita itu beragama diminta merujuk nabi, mengikuti tatacara nabi. Bukan bikin aturan sendiri. Nabi berpesan haji itu di arofah. Pembeda haji dengan umroh itu terletak adanya Wuquf di arofah. Mak wuquf hari Senin, Kenapa kalian memaksa menyelisihi puasa hari Selasa ? Mak berkorban hari Selasa, kenapa kalian memaksa qurban hari Rabu ? Mak teguh mengikuti petunjuk nabi, kenapa kalian teguh mengingkari Nabi ?"

Anak : tertegun dan hanya bisa terdiam.

Mak melanjutkan : "anaku, taatilah Allah, taatilah Rasul dan taatilah Mak yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Mak minta, anak-anak Mak puasa hari Senin, dan Mak minta kambing Mak di kampung disembelih pada hari Selasa".

"InsyaAllah kalian akan mendapat barokah dengan taat kepada Allah, Rasulnya, dan taat kepada Mak, orang yang melahirkan dan membesarkan kalian".

"Dalam urusan ini, Mak tegas, tetapi Mak tidak sampai memberi opsi pilih Mak atau yang lain. Tapi Mak mengajukan opsi, mengikuti petunjuk nabi atau penguasa zalim yang selama ini menyengsarakan rakyatnya ? Mengikuti nabi atau ikut ulama yang berfatwa berdasarkan tendensi kebangsaan ?".

Anak tertegun, tak bisa membantah, bukan karena kewajiban taat pada Mak, tetapi karena Sahihnya argumentasi Mak. Anak sebenarnya juga galau, karena memaksakan puasa dihari orang telah Idul Adha, dan kondisi itu diketahui secara pasti. Tidak ada udzur komunikasi, sehingga berdalih tidak mengetahui waktu wuquf dan Idul Adha jamaah haji, termasuk apa yang dikabarkan oleh Mak.

Demikianlah, ikatan nasionalisme telah meretakan hubungan, bukan hanya hubungan antara sesama saudara muslim, bahkan hubungan Mamak dan anak. Dengan penuh ketaatan, pada Allah, Rasul dan kepada Mamak, akhirnya anak mentaati perintah Mamak. [].

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget