September 2018



Mercusuarumat.com. Bandung. Sejak umat manusia diciptakan, musuh-musuh umat Islam tak pernah tiada. Musuh sejati pertama umat Islam adalah Iblis Laknatulah, sebagaimana dijelaskan dalam surat Al Arof Ayat 16. Hal ini disampaikan oleh Ust Suryana, Perwakilan Pejuang Garda Aqidah yang diiakan oleh Ust Adam Anshori, Perwakilan Dewan Pengurus Pusat Sarekat Islam pada tausiyah Pawai Tauhiid Jawa Barat, Ahad 30/09/2018.



Untuk menghadapi musuh-musuh Islam, Ust Adam Anshori mengingatkan setiap umat Islam untuk berpegang teguh pada kalimat tauhiid, Laa ilaha illAllah. "Inilah (Kalimat tauhiid, red) yang akan menjadi senjata kaum muslimin, ini akan menggetarkan singgasana-singgasana musuh-musuh islam", jelasnya.

Selain itu, melalui kalimat Tauhiid jugalah umat Islam mampu mengetahui mana musuh mana kawan, sebagaimana yang di jelaskan oleh Ust Suryana. "Kalimat Tauhiid adalah dasar dan jatidiri setiap umat Islam. Kalimat Tauhiid pun pembeda antara yang haq dan bathil. Pembeda antara lawan dan saudara", terangnya.

Pawai tauhiid yang diselenggarakan oleh Komunitas Masyarakat Jawa Barat Cinta Tauhiid ini dipadati oleh ribuan umat Islam dari berbagai organisasi kemasyarakatan dan berbagai komponen masyarakat. Pawai yang diadakan mulai dari pukul 06:00 ini diawali dark depan masjid Pusdai sampai depan Gedung Sate berjalan tertib, banyak pengunjung Gasibu yang mengabadikan pawai tersebut. [IW]



Mercusuarumat.com. Bandung. Pawai Tauhiid Jawa Barat yang diinisiasi oleh Komunitas Masyarakat Jawa Barat Cinta Tauhiid sukses terselenggara, pada Ahad 30/09/2018. Ribuan umat Islam tumpah ruah memadati ruas jalan Diponegoro, Bandung, mulai dari depan Masjid Pusdai Jabar hingga depan Gedung Sate.

Berbagai komponen masyarakat ikut andil dalam Pawai ini. ulama, mahasiswa, guru, dosen, pelajar, pengusaha, ibu rumat tangga hingga kalangan difabel.



Suhu dingin Bandung di pagi hari berubah menjadi hangat nan ceria. Pekikan takbir dan shalawat nabi saling berganti dari depan barisan hingga ujung barisan. "Allahu Akbar!" terdengar menggelegar memaha besarkan Asma Allah Swt.

Umat Islam Jawa Barat dari berbagi daerah sudah mulai berdatangan dari kemarin hari, Sabtu, 29/09/2018. Tak sedikit dari mereka merelakan diri menginap di Masjid Pusdai. Tak lupa atribut bertuliskan Kalimat Tauhiid mereka pakai, mulai dari topi, syal, baju hingga jaket. Bendera raksasa warna hitam bertuliskan Laa ilaha illAllah sepanjang 500 meter dengan gagah menghiasi jalannya acara.

Berdasarkan keterangan panitia, Pawai ini diselenggarakan untuk mensosialisasikan kalimat Tauhiid, Laa ilaha illAllah. Kalimat yang setiap umat Islam ingin lafalkan diakhir hayatnya. Tak hanya itu, pawai inipun digadang-gadang untuk meluruskan pemahaman umat dari stigma negatif terhadap kalimat ini.
"Kami mengutuk dan menuntut tindakan hukum bagi siapapun penista kalimat Tauhiid baik yang terjadi di dunia maya maupun di kehidupan sehari-hari", imbuh Ketua Komunitas Masyarakat Jawa Barat Cinta Tauhiid.

Kalimat Tauhiid, Pembeda Lawan dan Kawan

Kalimat Tauhiid adalah dasar dan jatidiri setiap umat Islam. Kalimat Tauhiid pun pembeda antara yang haq dan bathil. Pembeda antara lawan dan saudara. Hal ini disampaikan oleh Ust Suryana, Perwakilan dari Pejuang Garda Aqidah. Selain itu kalimat Tauhiid ini pun yang akan mampu menggetarkan singgasana-singgasana musuh-musuh Islam.
Rasulullah diutus oleh Allah Swt ke muka buka untuk menyampaikan kalimat ini. Perjuangan Rasulullah dalam menegakkan kalimat ini sangatlah berat, dipersekusi, difitnah bahkan diancam dibunuh, hingga akhirnya dengan izin Allah Kalimat ini tegak di muka bumi kala itu.



Persekusi Terhadap Kalimat Tauhiid Terulang Kembali

Sebagaimana dulu, persekusi terhadap kalimat tauhiid terulang saat ini. "Maka bagi siapa yang menentang kalimat ini, sama halnya dengan mereka, para kafir quraisy, kelak di padang mahsyar kalimat ini akan menentukan keadaan kita, apakah kita akan termasuk kelompok penolong agama Allah pengusung kalimat ini atau sebaliknya kelompok penentang agama Allah pembenci kalimat ini", Ucap Ust Asep Sudrajat, Pembina Majelia Rindu Rasulullah Kota Bandung.

Pembela atau Penentang

Kang Ipank Fathin, Perwakilan Forum Pemuda dan Mahasiswa Islam Jawa Barat, salah satu pembicara dalam tausiyah Pawai Tauhiid ini mengajak kaula muda Jawa Barat untuk menjadi pembela Kalimat Tauhiid sebagai duta-duta Islam layaknya Mus'ab Bin Umair. Kalimat ini lah yang membawa bangsa arab keluar dari kebodohan dan dengan kalimat ini pula bangsa arab terhitungkan dalam kancah peradaban dunia kala itu.

Dengan Kalimat Tauhiid inilah Kita Hidup

"Dengan kalimat tauhiid kita hidup, dengan kalimat tauhiid kita mati dan dengan kalimat tauhiid kita akan dibangkitkan kembali", terang Ust Asep Sudrajat.

Pawai yang diakhiri dengan doa ini berharap umat berjuang bersama menegakkan kalimat Tauhiid. "Kami mengajak seluruh komponen umat untuk berjuang menegakkan kalimat tauhid menuju Islam kaffah, menjadikan Islam solusi bagi negeri ini, dalam lindungan khilafah", tegas Ust HM. Salam, selaku Ketua Komunitas Masyarakat Jawa Barat Cinta Tauhiid. [IW]



Mercusuarumat.com. Bandung. Belum matahari menyinari Bandung, ribuan umat islam telah menyemut memenuhi ruang kosong depan Gedung Sate, ahad 30 September 2018. Umat islam yang menamai dirinya sebagai Komunitas Masyarakat Jawa Barat Pecinta Tauhiid ini melakukan pawai tauhiid membentangkan panji Rasulullah berukuran raksasa dari depan masjid pusdai hingga Gedung sate.

Kalimat tauhiid, bertuliskan laa ilaha illaha muhamadaarusullah ini mereka usung lewat atribut yang dikenainya, mulai dari topi, syal, baju hingga jaket. Dalam pembukaan acara, panitia meyampaikan maksud kegiatan ini untuk mensyiarkan kalimat tauhiid juga menjelaskan khilafah sebagai ajaran islam.

"Takbir", tegas pembawa acara saraya menyemangati peserta. Shalawat nabi pun bergerumuh menyertai pemberangkatan peserta. Tidak terlihat rasa lelah di wajahnya, bahkan sebaliknya sautan takbir tanda semangat saling bergantian menyeruak dari awal sampai ujung barisan.

Suhu Bandung yang asalnya dingin terselimuti gemuruh takbir peserta mengakibatkan suasana menjadi hangat. [IW]



Setiap umat Islam mengharap akhir hayatnya terucap kalimat tauhiid, Laa ilaha illAllah. Bahkan andaipun semasa hidupnya penuh maksiat, tetap saja, manusia sekuat tenaga untuk melafalkan kalimat ini saat ijroil melaksanakan tugasnya. Saking pentingnya kalimat ini, umat Islam sering berdo'a agar diakhir hayatnya kalimat inilah yang terucap.

Mengapa sebegitu kerasnya umat Islam ingin lafalkan kalimat ini diakhir hayatnya? Karena ini adalah tanda khusnul khotimahnya seorang hamba yang akan menghadap pada Rabbnya. Sayangnya, sebagian umat justru ada yang menghujat kalimat ini, bahkan ia adalah muslim, menganggap kalimat ini sebagai simbol kaum radikal dan kelompok teroris, padahal Allah Swt semata-mata menurunkan nabi muhammad saw hanya untuk menyampaikan kalimat ini, Laa ilaha illAllah.



Rasulullah diturunkan kepada Masyarakat Jahilian Mekah guna menghilangkan penyembahan selain kepada Allah. Laa ilaha illAllah, tidak ada tempat yang pantas diibadahan selain kepada Allah. Dengan semangat Laa ilaha illAllah, Rasulullah membawa bangsa arab keluar dari kebodohan dan menjadikan bangsa arab diperhitungkan dalam kancah peradaban dunia kala itu.

Tentu bukan hal mudah bagi Rasulullah mendakwahkan kalimat ini, para Kafir Quraisy dengan pongah mempersekusi apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Bahkan nyawa Rasulullah menjadi taruhannya. Kaum Kafir Quraisy jelas musuh Islam karena ia mementang Kalimat Laa ilaha illAllah. Iblis musuh pertama umat manusiapun tak akan pernah tinggal diam saat umat manusia beriman pada Rabbnya, dengan sekuat tenaga iblis akan menyimpangkan umat Islam dari jalan yang lurus, jalan Tauhiid, jalan Laa ilaha illAllah.



Tipu daya iblispun kembali berulah, hingga sejarah pun terulang kembali, sebagai umat Indonesia bahkan mengaku dirinya muslim menistakan kaimat Tauhiid. Tak segan-segan mereka memfitnah, menstigma negatif kan bahkan merendahkan kalimat ini.

Bukankah dengan kalimat tauhiid ini manusia hidup? Dengan kalimat ini pula manusia mati? Bahkan dengan kalimat Laa ilaha illAllah inilah manusia akan dibangkitkan?

Selayaknya segala bentuk penistaan terhadap kalimat tauhiid harus dikutuk dan dilawan. Banyak umat Islam sadar akan penting membela kalimat ini, salah satunya agenda umat hari ini, ahad, 30 September 2018. Umat Islam Jawa Barat, khususnya mengadakan agenda besar bernama Pawai Tauhiid yang diselenggarakan di Kota Bandung dan Purwakarta.

Momen muraham menjadi momentum umat untuk lebih giat mensyiarkan kalimat ini dan menepis segala macam stigma negatif terhadap nya. Ribuan umat Islam Jawa Barat sebagaimana pantauan penulis memadati ruas jalan Diponegoro hingga depan Gedung Sate. Mengusung panji raksasa warna hitam berukuran 500 meter bertuliskan Kalimat Tauhiid, Laa ilaha illAllah. Lebih heroiknya penulis melihat sendiri salah seorang peserta pawai dari kalangan difabel dengan keterbatasan fisiknya ia tak terlihat lelah.



Begitupun pawai tauhiid di Purwakarta, atribut bertuliskan kalimat Tauhid meramaikan acara, mulai dari topi, baju, jaket, syal hingga balon. Kesemua ini adalah bukti nyata pembelaan terhadap kalimat Laa ilaha illAllah. Berbagai kalangan mengikuti pawai ini, mulai dari kalangan ulama, dosen, pendidik, ibu rumah tangga hingga pengusaha. Dari ormas FPI, BKLDK, forum ulama aswaja Purwakarta dan persaudaraan alumni 212.

Kalimat Laa ilaha illAllah adalah kalimat yang menandakan jati diri dan dasar bagi setiap umat Islam. Dasar kelemahan umat manusia dan dasar mengagungkan Allah azawazala. Mengakui keberadaan Tuhan Semesta Alam. Kalimat ini lah yang membedakan mana kawan dan mana lawan.

Sejak dulu sampai sekarang musuh islam pastilah ada. Siapapun yang menentang kalimat ini maka sudah dipastikan ia adalah lawan, apalagi dengan jelas mengakui tidak ada Tuhan bak Sosialis/Komunis.
Mengakui tidak ada Tuhan adalah penistaan paling nyata terhadap kalimat tauhiid. Komunisme jelas-jelas musuh nyata bagi umat Islam.
Haram hukumnya umat islam meyakini faham ini. Begitupun dengan kapitalisme yang beranggapan bahwa Kalimat tauhiid tidak layak diterapkan dalam kehidupan.

Kapitalis memandang bahwa alam Semesta beserta isinya diciptakan oleh Tuhan. Kapitalis meyakini adanya Tuhan, namun kapitalisme menolak eksistensi Tuhan dalam mengatur kehidupan.

Jelas Kedua faham ini bertentangan dengan semangat tauhiid, bertentangan dengan dakwah tauhiid yang diajarkan oleh baginda besar nabi muhammad saw. Laa ilaha illAllah, kalimat yang akan menyelamatkan umat manusia di dunia maupun di akhirat. Kalimat yang membedakan antara penolong agama Allah atau sebaliknya.

Tentu, sebagaimana diawal tulisan. Setiap umat islam pasti menginginkan akhir hayatnya dihiasi dengan kalimat tauhiid, Laa ilaha illAllah. Sudah sejati nya, menjadi penolong agama Allah adalah jalan yang wajib dipilih, jalan yang lurus, jalan yang hanya mengesakan Allah Swt, rabb satu-satunya yang wajib disebah, rabb satu-satunya yang aturan nya sempurna dan wajib dijalankan.

Akan seperti apa akhir hayat manusia terlihat dari cara kebiasaannya, jika ia ada dalam barisan pengagung kalimat tauhiid dan memperjuangkan penegakkan kalimat tauhiid menuju islam kaffah dalam naungan khilafah, insyaAllah Allah akan mudahkan hidup di dunia nan akhirat, sebaliknya jika ia ada dalam barisan penghujat kalimat tauhiid, bahkan menapikkan eksistensi Tuhan, janji Allah, Allah akan sengsarakan ia di dunia dan di akhirat. Sebagaiman sabda nabi salallahu 'alaihi wa salam, "Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” (HR Muslim no 2878).

Wallahu'alam



Mercusuarumat.com. Bandung. Setiap umat Islam ingin hidupnya selamat, bahagia dan sejahtera. Begitupun akhir hayatnya, tenang dan khusnul khotimah. Bahkan setiap umat Islam inginkan akhir hayatnya mampu mengucap kalimat ini. Asep soedrajat, Pembina Majelis Cinta Rasul Kota Bandung dalam tausiyahnya menjelaskan, dengan kalimat ini kita hidup, dengan kalimat ini kita mati dan dengan kalimat ini kita akan dibangkitkan kembali.

Kalimat ini bertuliskan Laa ilaha illAllah menurut beliau mampu membawa bangsa arab lepas dari kebodohan menuju kesejahteraan. "Rasulullah diturunkan kepada Masyarakat Jahilian Mekah menghilangkan penyembahan selain kepada Allah. Laa ilaha illAllah, tidak ada tempat yang pantas diibadahan selain kepada Allah", terangnya.

Bahkan beliau menerangkan, saat Rasulullah mendakwahkan kalimat ini Kaum Kafir Quraisy terang-terangan menolaknya. "Alih-alih tidak rela, Rasulullah dipersekusi oleh mereka", jelasnya.

Sebagaimana dulu, persekusi terhadap kalimat tauhiid terulang saat ini. "Maka bagi siapa yang menentang kalimat ini, sama halnya dengan mereka, para kafir quraisy, kelak di padang mahsyar kalimat ini akan menentukan keadaan kita, apakah kita akan termasuk kelompok penolong agama Allah pengusung kalimat ini atau sebaliknya kelompok penentang agama Allah pembenci kalimat ini", beliau mengakhiri tausiyah pada Pawai Tauhiid Jawa Barat, Ahad, 30 September 2017 depan Gedung Sate, Bandung. [IW]



Mercusuarumat.com. Bandung. Bendera hitam dengan panjang 500 meter terbentang rapi memenuhi jalan Diponegoro, Bandung. Bendera hitam yang diarak oleh ribuan umat islam dari depan Masjid Pusdai hingga Gasibu ini diprakasai oleh Komunitas Masyarakat Jawa Barat Cinta Tauhiid.

Pembentangan bendera hitam raksasa ini adalah salah satu rangkaian Pawai Tauhiid Jawa Barat. Pembawa acara menjelaskan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensyiarkan kalimat tauhiid dan menepis segala macam stigma negatif yang tertuju pada kalimat tauhiid.

Dalam rilisnya, mereka mengajak komponen umat untuk berjuang menegakkan kalimat tauhiid menuju islam kaffah, menjadikan islam solusi bagi negeri ini, dalam naungan khilafah.

Bendera hitam bertuliskan tauhiid, laa ilaha illaha muhamadaarusullah ini berdasarkan keterangan panitia dikenal dengan sebutan ar roya, panji Rasulullah. [IW]



MEMBAYANGKAN LANGKAH PERJUANGAN NU DI MASA YANG AKAN DATANG
(Refleksi Momentum G30S PKI)
___
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Di masa orde lama, NU merupakan bagian dari anggota Masyumi. Bahkan, NU pula yang turut membidani lahirnya MASYUMI. Ulama-ulama yang tergabung dalam Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) ini dari awal sepakat, bahwa Indonesia harus dijadikan sebagai negara Islam.

Di tengah perjalanan, PKI bermanuver di rezim Soekarno. Mereka mau diakui eksistensinya di Indonesia. Diusulkanlah oleh Soekarno kabinet NASAKOM (nasionalis-agamis-komunis). Dari kalangan agamis, Masyumi pun menolak. Bagi mereka, umat Islam tidak boleh bersekutu dengan orang-orang yg anti Islam.

Kemudian Soekarno merayu NU yang saat itu sudah memisahkan diri dari Masyumi, walaupun masih satu garis perjuangan dengan mereka. Hingga akhirnya NU pun terpengaruh, NU lebih memilih bergabung dengan kabinet NASAKOM.

Meski banyak kiai yang tidak setuju, Partai NU tidak sehaluan dengan Masyumi. Mereka lebih memilih berpisah dengan saudara-saudara muslimnya di Masyumi itu, daripada harus meninggalkan kabinet NASAKOM bentukan Soekarno.

Karena Masyumi paling lantang menyerukan tegaknya syariat Islam, dan sering mengkritik komunisme di rezim ini, akhirnya partai inipun dibubarkan oleh Soekarno melalui dekritnya. Sementara itu, NU masih tetap tergabung dalam kabinet NASAKOM.

Dan akhirnya, tepatlah apa yg sudah diperkirakan oleh ulama-ulama di MASYUMI, ketika sudah mulai kuat, PKI berkhianat. Pesantren-pesantren dibakar, kiai-kiai dibantai, umat Islam yg sedang sholat dipenggal lehernya. Tidak peduli apakah itu NU atau bukan, semuanya dibantai. Nusantarapun banjir darah karena kebiadaban PKI.

Barulah pada saat itu ulama-ulama NU sadar akan kejamnya PKI. Mereka membentuk Banser guna membantu TNI dan umat Islam lainnya menumpas PKI dari bumi pertiwi.

Peristiwa ini seringkali dikisahkan oleh ulama-ulama NU dan para tentara veteran (penumpas PKI) dengan penuh semangat. Bahkan, konon ada salah seorang tokoh PKI di Cirebon (Sudiryo) yg kabur ke Sumedang, ketika ia tertangkap oleh TNI, untuk mengelabui TNI, disepanjang jalan ia menyanyikan lagu ”Indonesia Raya”, walaupun akhirnya ia tetap ditembak kepalanya.

Wahai warga NU!, harusnya sejarah ini kalian jadikan pelajaran! Jangan sampai kalian terjatuh kembali di dalam lubang yang sama. Ulama-ulama pendahulu kalian pernah bersekutu dengan PKI dan akhirnya mereka menyesal.

Tapi, akankah sejarah kembali terulang ?.. Pembesar-pembesar kalian di sana lebih memilih berkomplot dengan orang-orang yg anti syariat Islam, daripada harus bersatu dengan saudara-saudara muslimnya yg lain. Bahkan, pimpinan GP Ansor sendiri berani terang-terangan mengatakan, bahwa “PKI itu tidak berbahaya”. Seolah dia lebih memilih berkoalisi dengan PKI daripada dengan saudara-saudaranya yg seakidah, tanpa mau belajar dari sejarah.

Saya tidak bisa membayangkan, jika suatu saat nanti ternyata benar PKI bangkit kembali memerangi umat Islam, entah ada di kubu mana Banser dan GP Ansor berada. Menyesali perbuatannya, lalu bergabung dengan umat Islam lain bersama-sama menumpas gerombolan PKI, atau justru mereka tetep kekeh dengan posisinya bersama orang-orang PKI memerangi umat Islam yang lainnya, yang sering dituduhnya anti Pancasila.

Hasbunallah wani’mal wakiiL

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah

Cirebon, 29 September 2018



Aldi, namanya sempat viral di dunia maya, sebab pengalamannya yang sungguh luar biasa. Betapa tidak, pemuda asal manado ini hanyut di samudera hingga 49 hari. Dalam salah satu talkshow, ia bercerita "Saya makan ikan mentah, ikan cakalang. Untuk minum saya mencelupkan baju ke laut dan dihisap biar berkurang rasa asinnya," terang Aldi.

Luar biasanya, ia pernah terfikirkan untuk bunuh diri. Namun saat ditanya mengenai alasannya untuk tetap bertahan hidup dengan tegas ia mengatakan, "Saya optimis Tuhan menyertai Saya"

Kisah Aldi ini mengandung pelajaran berharga, bahwasannya eksistensi Tuhan pastilah ada, tak seperti paham sosialis/komunis yang menapikan peran Tuhan dalam kehidupan. Sosialis/komunis menganggap semua makhluk berasal dari materi dan akan musnah menjadi materi kembali, dampaknya komunis menganggap manusia sama halnya dengan meja! Manusia sama halnya dengan binatang! Karena semua berasal dari materi.

Masih ingat peristiwa pembunuhan sadis para jendral yang dimasukan ke sumur ulah tangan PKI? Sungguh keji dan tidak berperikemanusiaan. Sekali lagi, mereka melakukan hal biadab seperti itu karena mereka menganggap manusia sama halnya dengan meja, mau dibakar, mau digergaji bahkan dimutilasi adalah hal yang biasa.

Kisah aldi ini semakin meyakinkan kita tentang eksistensi Tuhan. Tak seperti komunis dengan pongah tidak mengimani eksistensi Tuhan.

Jelas, paham komunis haram ada di Indonesia. Terlebih sejarah kelam Partai Komunis Indonesia telah menyakiti hati masyarakat Indonesia. PKI layak dibubarkan!

Lain PKI, HTI kini pun digadang-gadang haram ada di Indonesia dengan alasan merongrong indonesia ala PKI zaman dulu.

Anehnya selama ini pelarangan HTI berlandaskan asumsi semata, tak seperti PKI yang telah jelas merongrong Indonesia dan bertentangan dengan falsafah Indonesia.

HTI percaya Tuhan, PKI jelas tidak. HTI berlandaskan islam dan tidak bertentangan dengan pancasila sedangkan PKI berlandaskan Komunis dan bertentangan dengan pancasila.

Lantas selama ini masih kah kita tidak mau buka mata atas ketidakadilan ini?



Akhir-akhir ini kata “Ganti” semakin booming di telinga masyarakat Indonesia, mulai dari “2019 Ganti Presiden”, “2019 Ogah Ganti Presiden”, “2019 Ganti Status”, hingga “2019 Ganti Kolam Baru”. Tak bisa dipungkiri “Pergantian” atau sinonimya disebut “Perubahan” adalah suatu keniscayaan. Mau tak mau, perubahan pasti akan terjadi, sebaliknya menahan laju perubahan adalah sebuah kesia-siaan.

Buktikan bersama! Dulu di era 90’an masyarakat Indonesia mungkin tak pernah terpikirkan akan adanya transportasi berbasis online yang mampu mengantarkannya pada tempat tujuan dengan mudah, pun tidak pernah terbayangkan bagaimana asyiknya bertransaksi secara online dengan ribuan produk yang tersedia di dalamnya atau terbayangkah bagaimana nyamannya memesan tiket pesawat terbang juga memesan hotel seperti saat ini? Lantas bagaimana jika sampai saat ini masih saja menolak perubahan itu semua?

Begitupun umat manusia secara keseluruhan, telah mengalami perubahan dari segi tatanan kehidupan. Peradaban dunia sejak zaman Pra Sejarah hingga Zaman Kerajaan Romawi terus mengalami perubahan, bahkan hingga kini peradaban dunia tak pernah berhenti tuk berubah. Kesemua ini merupakan salah satu dari ketentuan Allah Swt, Sunatullah. Allah Swt berfirman dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 140 yang artinya: ”Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia…”. Dulu Kerajaan Romawi dan Kerajaan Persia silih berganti memimpin peradaban dunia, hingga Allah gilirkan kekuasaan pada kekhilafahan Islam, ditandai dengan diutusnya Rasul Saw, sebagaimana hadits Rasul Saw berikut:

“Muncul babak Kenabian di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Kekhilafahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Raja-raja yang menggigit selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Kekhilafahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian. Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diam.” (HR Ahmad)

Melalui lisan Rasul Saw, umat Islam mendapatkan kabar gembira sebagai pemicu dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Dulu peradaban dunia selama lebih dari tiga belas abad lamanya mengalami hidup dalam naungan Islam. Lebih dari dua pertiga dunia diselimuti dengan aturan-aturan serta ide-ide Islam. Kesejahteraan telah terbukti bagi seluruh penduduk negri, hingga tak ada satupun orang yang berhak menerima zakat. Sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mencukupinya. Kemudian Allah gilirkan, dikarenakan perbuatan manusia sendiri yang telah jauh meninggalkan syariat Allah.

Sistem Sosialis/Komunis pun muncul. Namun, dikarenakan sosialis tidak sesuai fitrah manusia, kini Sosialis/Komunis tinggal nama. Sosialis dengan pongahnya menegaskan “Alam semesta, kehidupan dan manusia tercipta dengan sendirinya”, tentu ide ini mustahil benarnya. Antaraksi yang sebegitu rapi bergerak teratur tanpa ada benturan satu dengan lainnya. Apakah semua ini bergerak dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur? Tentu akal sehat kita tidak bisa mengatakan “Ia”. Tubuh manusia sebegitu rumitnya, namun indah dipandang dan mempesona. Masihkah beranggapan manusia tercipta dengan sendirinya? Ide sosialis yang diterapkan dalam negara pun kini tiada. Uni Soviet, telah hancur!

Pengaruh sosialis makin pudar dengan ditandai munculnya Sistem Kapitalis, dengan harapan memperbaiki keadaan pasca “Zaman Sosialis”, justru keadaan dunia makin parah dengan merebaknya ide Kapitalis. “Yang kaya makin kaya, miskin makin miskin”. Kapitalis berhasil membius umat manusia dengan jargon kebebasannya. Kapitalis/liberal yang dimotori oleh barat, khususnya Amerika Serikat berhasil mendominasi dunia, termasuk negeri tercinta, Indonesia.

Hingga saat ini, negeri tercinta Indonesia masih setia dengan ide kebebasan, kapitalis dalam segi politik diimplementasikan Indonesia melalui demokrasi harapannya mampu membawa kepada perbaikan justru sebaliknya menuai berbagai masalah. Dari segi Ekonomi, Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar makin menunjukkan rata-rata penurunan, bahkan saat ini satu dollah USA setara dengan 14.912 rupiah, belum lagi Utang Luar Negeri yang telah mencapai lima ribu triliun rupiah, penduduk miskin, berdasrkan laopran Bank Dunia mencapai 30% dari jumlah penduduk. Dari segi pendidikan, betapa susahnya lulusan SMA untuk mendapatkan pekerjaan, belum lagi biaya pendidikan yang sangat mahal karena diberlakukannya UKT pada jenjang Peruguruan Tinggi. Segi hukum, segi politik tak lupa juga segi sosial mengalami keterpurukan yang nyata.

Indonesia perlu berubah!, berubah dari segi sosok serta sistem yang dijalankan. Mengacu pada firman Allah Swt Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” sejak Indonesia merdeka, perubahan sosok pemimpin silih berganti dari Era Soekarno hingga Era Jokowi, dari militer, teknokrat, ulama, kalangan wanita hingga pengusaha pernah dicoba Indonesia, namun cita-cita bangsa belum terwujud dengan seksama, karena sejak dulu sampai sekarang perubahan menuntut pada sosok semata, tanpa disertai perubahan sistem yang dijalankannya. Kebebasan menjadi landasan dalam menjalankan kehidupan hingga saat ini!

Bagaimana jika Islam dijalankan dalam kehidupan? Pergantian sosok tanpa ada pergantian sistem menjadikan perubahan tidak berlangsung secara sempurna, karena kompenan pemerintahan terdiri dari aturan/sistem dan sosok pemimpin yang menjalankannya. Sosok pemimpin yang baik tidak pernah bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik manakala sistem yang jalankan sistem yang rusak nan cacat, sebagaimana telah diuraikan di atas. Sistem Sosialis jelas tidak mungkin bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi Indonesia, begitupun sistem Kapitalis, memaksa umat manusia memisahkan agama dalam kehidupannya.

Islam turun membawa seperangkat aturan dalam kehidupan yang bersumber dari Allah Swt. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam menjadikan Indonesia berpeluang besar untuk menerapkan syariat Islam secara sempurna dalam naungan khilafah sebagaimana dulu pernah diterapkan di dunia. Moment saat ini memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menerapkan kembali sistem Islam di tanah nusantara. betapa tidak, kerinduan ini tercermin dari banyak umat Islam berbangga-bangga dengan atribut dan simbol-simbol Islam serta maraknya pembahasan-pembahasan mengenai khilafah Islamiah.

Pertanyaannya mau berubah atau tidak? Berubah atau mati (dibaca malapetaka)! Mau sampai kapan negeri ini mempertahankan sistem yang rusak lagi merusak? Sistem sosialis atau sistem kapitalis telah terbukti membawa malapetaka, sedangkan Islam dengan nyata menorehkan prestasi memakmurkan dunia. Lebih dari itu, menerapkan syariat Islam adalah kewajiban bagi setiap umat Islam, termasuk umat Islam Indonesia. Bukankah kabar gembira telah terucap dari lisan Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, bahwasannya akan muncul kembali Kekhilafahan Islam sebagaimana Rasul Saw jalankan. Mau tak mau, perubahan pasti akan terjadi, sebaliknya menahan laju perubahan adalah sebuah kesia-siaan.

Oleh: Irfan Wahyudin, S.Pd (Guru Ekonomi)


Pernyataan Direktur Pencegahan BNPT, Hamli pada Jumat 25 Mei 2018 dalam sebuah diskusi di bilangan Menteng, Jakarta Pusat yang mengatakan 7 Universitas Negeri yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Brawijaya (UB) telah terpapar paham radikalisme sungguh tuduhan yang keji dan patut dipertanyakan motif dibalik pernyataannya.

Dari tuduhan tersebut pemerintah melalui pernyataan Menristekdikti, Mohammad Nasir  berencana akan melakukan monitoring kepada para dosen dan mahasiswanya menyusul tudingan paham radikalisme di kampus. Salah satu bentuk pengawasannya adalah dengan mendata nomor telepon seluler dan akun media sosial milik dosen dan mahasiswa.

Pada pemberitaan sebelumnya juga hangat berita tentang Guru besar Undip yang dibebastugaskan sementara dari jabatannya dan juga Guru besar ITS yang diperlakukan seperti kriminal karena dipandang mendukung gerakan yang (dilabeli) radikal. Beberapa dosen yang lainpun ada yang dinilai terindikasi paham radikal.

Seakan-akan saat ini pemerintah berupaya untuk mengontrol kampus serta menekan kebebasan berpendapat, berekspresi dan mengembangkan berbagai wacana pemikiran kampus. Padahal sejatinya kampus adalah tempat untuk pengembangan berbagai wacana dan gerakan pemikiran. Sehingga kampus harus bebas dari intervensi atau tekanan dari pihak dan kepentingan apa pun, karena kampus bukanlah abdi penguasa, siapapun itu penguasanya.

Lagi pula, penempatan istilah radikalisme yang akhir-akhir ini dilakukan pemerintah untuk menilai suatu pemikiran atau perbuatan dari individu atau kelompok tertentu, tidak diikuti dengan penjelasan tolok ukur / indikator perbuatan atau pemikiran seperti apa yang masuk dalam kualifikasi radikal.

Sebaiknya pemerintah pintar dan cerdas mengambil peran dalam persoalan ini, pemerintah harus menyadari bahwa lembaga perguruan tinggi adalah tempat dimana pemikiran bisa hidup dan berkembang dengan segala macam dialektikanya, pemerintah dalam kapasitasnya sebagai regulator wajib memastikan tidak ada pemasungan pemikiran terjadi dalam dunia kampus. Dalam hal pemerintah menilai ada pemikiran ekstrim yang harus diwaspadai, maka sepatutnya pemerintah men-challenge lembaga perguruan tinggi untuk mengkritisinya dan mengajak diskusi untuk uji kelayakan ide.

Melemparkan tuduhan secara terbuka bahwa 7 (tujuh) Universitas Negeri yang terpapar paham radikalisme sebagaimana disebutkan diatas, bukanlah pilihan cerdas yang harusnya dilakukan, tuduhan sedemikan itu justru lebih bersifat “persekusi” terhadap dunia pendidikan Indonesia dari pada pengayoman dan penatakelolaan dunia pendidikan secara profesional.

Guru besar dan beberapa dosen pun mengalami persekusi karena dinilai terindikasi paham radikal yang ditunjukkan dengan adanya dukungan berbentuk tulisan dan meme yang sebenarnya masih memiliki ruang untuk diskusi dan konfirmasi. Namun label radikal begitu ampuh untuk menyalahkan dan membungkam suara para intelektual yang sudah lama mengabdi pada dunia pendidikan tinggi tersebut. Padahal yang mereka lakukan adalah mendukung ajaran Islam dan pengembannya yaitu ide khilafah dan pengembannya. Di sisi lain kita ketahui bahwa suara intelektual biasanya tidak sembarangan namun logis-argumentatif dan teristimewa dalam kasus ini: Berani dan membela Islam. Sepertinya 2 hal terakhir inilah yang menjadi dasar indikasi radikal tersebut.

Dari kejadian ini menunjukkan beberapa hal:
Pertama, makin kuatnya bukti istilah radikalisme adalah label yang menjadi hak penguasa (atau pendukung penguasa) untuk menafsirkan dan menggunakannya sebagai senjata kepada pihak yang dianggap tidak mendukung kelanggengan kekuasaannnya.

Kedua, bukti ketidakadilan sekaligus ketidak konsistenan yang secara eksplisit ditunjukkan penguasa. Karena tindakan yang sama tidak seserius dan setegas kepada komunisme yang dianggap bahaya laten dan dipayungi oleh ketetapan MPR atau perilaku kebebasan seksual serta narkoba yang juga seringkali terjadi di kampus.

Ketiga, kampus dipaksa menjadi ruangan yang kehilangan jati dirinya. Jatidiri yang membuatnya terhormat, hidup dan bisa berkembang yaitu sebagai mimbar akademik yang rasional-argumentatif. Pada hakikatnya persekusi yang menimpa intelektual di UNDIP dan ITS tersebut bukanlah sekedar perkara insidental-kasuistik tapi merupakan gambaran upaya serius dalam membungkam dunia intelektual untuk bersuara kritis terhadap berbagai isu politis-strategis yang diambil penguasa. Dan menghentikan suara lantang untuk membela Islam dan hukum-hukumnya.

Wahai para cendikiawan muslim! Wahai Ulul Albab! Jangan terbungkam! Jadikan pena dan suaramu menjadi pembela kebenaran agar menjadi hujjah di hadapan Allah yang Maha mengetahui dan yang Maha Benar bahwa: ilmumu adalah ilmu yang bermanfaat yaitu ilmu yang menunjuki pada kebenaran dan mencegah kebathilan.

"Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?"_  (TQS. Fushilat: 33)



*Tresna Dewi Kharisma*



SETELAH DIZOLIMI, KINI HTI DIFITNAH SECARA KEJI
Para Pembenci Islam Makin Pongah, Lelah dan Kalah

Oleh : Ahmad Sastra

Ibarat pepatah, sudah jatuh ketimpa tangga pula. Setelah dizolimi, kini HTI difitnah pula. Tentu hampir seluruh masyarakat Indonesia masih mengingat bagaimana drama pencabutan BHP ormas Islam HTI yang sempat menjadi perbincangan hangat dalam sidang PTUN Jakarta.

Pro kontra begitu menguat atas keputusan rezim yang dinilai otoriter. Tapi jika melihat fakta persidangan, maka bisa diambil kesimpulan bahwa rezim lebih banyak menggunakan logika kekuatan yakni kekuasaan dibanding kekuatan logika.

Berbagai argument yang diajukan HTI dalam persidangan selalu dijawab secara tidak rasional dan tidak proporsional. Konstruksi argumen yang dibangun oleh ahli yang dihadirkan pemerintah juga banyak ditemukan kekeliruan berfikir. Mereka lebih tepat disebut emosionalitas dibanding rasionalitas.

Meski hanya dihapus BHP nya, yang maknanya ormas HTI tidak bubar dan tidak terlarang, namun narasi yang dibangun justru seolah HTI adalah ormas terlarang yang sudah dibubarkan. Ada yang lupa, bahwa masyarakat sekarang sudah cerdas dan berani, tidak seperti zaman orde lama dan orde baru. Alih-alih masyarakat mengecam HTI, mereka justru berbondong-bondong bersimpati kepada HTI.

Padahal faktanya, PTUN Jakarta hanya menguatkan status pencabutan BHP HTI, tidak ada amar putusan PTUN Jakarta yang menyatakan pembubaran HTI atau menyatakan HTI sebagai ormas terlarang, tidak ada sama sekali. Termasuk amar yang menyatakan khilafah sebagai ajaran terlarang juga tidak ada. Sementara TAP MPRS no XXV/1966 justru dengan tegas melarang ajaran marxisme/leninisme, atheisme dan komunisme.

Tanpa ragu dan takut banyak masyarakat yang memberikan dukungan kepada HTI untuk terus malukukan dakwah Islam. Masyarakat lebih cerdas dan memahami bahwa HTI hanyalah ormas Islam yang sedang mealaksanakan dakwah kepada masyarakat, itu saja.

Saat dituduh anti pancasila, HTI justru terbukti tidak pernah korupsi, kolusi, nepotisme dan menjual aset negara. Anehnya di negeri ini, justru yang menuduh HTI anti pancasila itulah biang kerok korupsi. Beberapa orang yang dengan congkak menuduh dan menfitnah HTI, kini sedang meringkut di tahanan KPK.

Ada keunggulan dakwah HTI yakni dengan pendekatan intelektualitas, bukan kekerasan. Dakwah HTI mengajak masyarakat untuk berdialog secara rasional dan argumentatif. Secara substansi, isi dakwah HTI adalah sebuah kepeduliaan terhadap nasib buruk negeri ini dibawah hegemoni sistem kapitalisme dan liberalisme. Bahkan saat disintegrasi Timor-Timur, HTI justru memberikan kritik tajam dan berharap Timor-Timur tidak lepas dari Indonesia.

Dengan misi inilah kemudian HTI berinteraksi dengan semua kalangan di negeri ini dengan memberikan tawaran konsep dan solusi yakni sistem Islam. HTI hanya menawarkan dan tidak pernah memaksa kepada siapapun. Sebab dakwah adalah kewajiban, sementara hidayah adalah hak Allah, sementara kemenangan adalah kehendak Allah.

Sayangnya, HTI berkembang dalam negara yang miskin narasi. Argumentasi rasional yang dikonstruk HTI demi kebaikan negeri ini ibarat segelas susu tapi dibalas dengan air tuba. Argumentasi rasional dibalas dengan persekusi emosional. Dakwah Islam dibalas dengan dendam dan kebencian. Idealisme dibalas dengan otoriterisme. Narasi intelektual dibalas dengan logika dangkal.

Semua tuduhan kepada HTI seperti anti pancasila, anti kebhinekaan, radikal, memecah belah bangsa terbantahkan. Tak ada satupun tuduhan rezim bisa dibuktikan dalam persidangan. Rezim lebih banyak berilusi dibanding berargumentasi. Inilah kesalahan terbesar rezim ini, mulut berbusa memuja demokrasi, tapi kepada dakwah Islam justru melakukan persekusi.

Tidak sampai disini, setelah puas menzolimi, kini HTI dihadapkan dengan oknum-oknum yang menfitnah. Istilah ditunggangi HTI sempat viral di sosmed. Istilah ditunggangi HTI jika dikaitkan dengan obyeknya, maka menunjukkan kebodohan dan kedunguan. Fitnah itu tanda mereka tidak paham apa itu HTI.

Fitnah yang masih viral misalnya terkait dengan kalimat tauhid yang dikaitkan dengan HTI, padahal kalimat itu adalah kesaksian seorang muslim. Berbagai fitnah keci dialamatkan kepada panji Rasulullah tersebut.

Tulisan tauhid dikaitkan dengan HTI, padahal itu adalah tulisan yang mampu menyatukan umat Islam sedunia. Anehnya, masyarakat justru berbondong-bondong menggunakan kalimat tauhid itu, bukan malah takut. Itu bukti kebodohan fitnah. Ironisme banyak diantara para penfitnah itu mengaku sebagai muslim. Benar ucapan Rasulullah akan adanya fitnah akhirnya zaman yakni munculnya ulama su’ yang lebih berbahaya dari dajjal.

Beberapa waktu yang lalu, atribut bendera tauhid dirampas, namun tiba-tiba ada spanduk atas nama HTI justru dibiarkan. Ini bukti kebodohan fitnah. Kaum penbenci Islam akan menggelontorkan dana untuk menfitnah Islam, begitulah sejarah bertutur. Sementara fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan.

Bicara khilafah, maka sejak nabi Adam diciptakan Allah adalah untuk menjadi seorang khalifah, yakni pengelola bumi. Khalifah secara bahasa adalah pengelola bumi, manusia dan kehidupan. Hakekat semua manusia adalah khalifah, sementara khilafah adalah wadah yang sejalan dengan konsep khalifah itu. Sebab bumi itu milik Allah, maka Allah yang berhak membuat konsep pengelolaannya.

Sementara demokrasi kapitalisme sekuler atau komunisme atheis justru dua ideologi busuk yang terbukti telah merusak alam semesta, manusia dan kehidupan. Tanpa ada pondasi moral, kedua ideologi itu hanya berorientasi materialisme duniawi semata. Kedua ideologi itu bahkan tidak percaya akherat dan agama.

Jadi soal khilafah itu bukan soal HTI, tapi konsepsi yang dibangun Allah dalam al Qur’an sebagaimana telah dilakukan oleh Rasulullah dalam daulah Islam di Madinah. Karena nabi terakhir adalah Muhammad, maka sistem khilafah adalah sistem ketatanegaraan yang paling modern dibandingkan sistem kerajaan, republik dan demokrasi.

Jadi khilafah adalah milik seluruh kaum muslimin sedunia yang telah dijanjikan oleh Allah, memperjuangkannya adalah kewajiban. Kalimat tauhid adalah kalimat visi hidup dan matinya seorang muslim. Keselamatan dan kesengsaraan di akherat justru ditentukan oleh kalimat tauhid ini.

Fitnah super dungu adalah saat menyamakan antara HTI dengan PKI. Padahal PKI anti tuhan, anti agama dan kejam. Sementara HTI justru sebaliknya, menyembah Allah, mencintai Islam, dakwah damai dan cinta perdamaian. Menyamakan HTI dengan PKI adalah kedongoan terbesar abad ini.

Tapi sudah jadi sunnatullah ‘takdir sejarah’ akan munculnya kaum pembenci Islam. Sudah sejak zaman Nabi Adam setan telah berhasil menunggangi manusia untuk berbuat jahat. Kaum pembenci Islam adalah mereka yang ditunggangi setan. Sebab setan membenci ajaran yang dibawa oleh seluruh Nabi dan Rasul.

Maka yang terpenting sekarang adalah masyarakat muslim jangan mau diadu domba dan harus cerdas. Teruslah perjuangankan sistem Islam agar bisa menggantikan sistem busuk demokrasi, sekulerisme, liberalisme, kapitalisme dan komunisme di negeri ini, hingga Allah mendatangkan pertolonganNya. Tetaplah beriman dan bertaqwa kepada Allah, karena disitulah letak keberkahan hidup di negeri ini.

Sebagaimana Rasulullah yang terus difitnah dan dipersekusi oleh kaum kafir dan munafik, begitulah juga dengan dakwah Islam hari ini. Biarkan kaum kafir makin congkak seperti fir’aun, tapi ia tersungkur binasa pada akhirnya. Biarlah kafir dan munafik makin pongah, tapi mereka akan kalah. Biarlah para begundal komunis makin kesetanan tebar fitnah, tapi mereka akan segera musnah.

Semoga Allah meridhoi kita semua dan segera membinasakan para pembenci Islam. Dunia ini sudah ditepi perubahan. Saatnya bangkit menyongsong datangnya peradaban mulia. Saatnya berjuang menyambut janji Allah. Allahu Akbar.

*Hijrah adalah Perubahan*



Mercusuarumat.com. Kabupaten Bandung. Rasulullah Saw hijrah dari mekah ke madinah, berpindah dari kejahiliah menuju islam, dari daarul kufur menuju daarul islam. Menerapkan islam secara sempurna dalam naungan negara islam. Beliaulah yang mendirikan negara islam pertama di madinah, Papar H Salam Hidayah saat memberikan sambutan dalam acara tabligh akbar memperingati tahun baru hijriah 1440.

H Salam selaku muwakif masjid menjelaskan lebih lanjut, Rasulullah mendapatkan persekusi terhadap dakwahnya dalam upaya mewujudkan daarul islam, Kemudian Allah turunkan pertolongan Nya melalui hijrahnya Rasulullah yang berujung pada munculnya baiat aqobah, perjanjian untuk mendirikan daarul islam.

Tabligh akbar yang terselengara atas kerjasama Dewan pengurus masjis dan Sekolah Tahfidz Plus Bandung pada Selasa, 11 September 2018 bertempat di salah satu masjid di kabupaten Bandung ini tak kurang dihadiri oleh 700 umat muslim se kabupaten Bandung. [IW]

*Ikhlas kunci keberhasilan perjuangan*



Mercusuarumat.com. Kabupaten Bandung. "Keihlasan dalam perjuangan menegakkan syariat islam adalah hal utama, perjuangan islam tidak akan pernah berhasil jika para pejuangnya tidak ikhlas dalam memperjuangkannya", Jelas KH zam zam, Pimpinan Ponpes Miftahul Muta'alimin, Kabupaten Bandung saat memberikan tausiyah pada tabligh akbar memperingati tahun baru hijriah 1440.

Lebih lanjut ia mengatakan, Umat islam saat ini saling bermusuhan karena salah satunya, umat islam mendakwahkan islam dengan tidak ihklas. Ia menceritakan, Rasulullah teladan mulia dalam memperjuangkannya syariat islam. Beliau rela mengorbankan harta hingga nyawanya demi tegaknya syariat islam. Beliau rela menahan lapar dan dahaga dalam membela islam bahkan bercucuran darah mengorbankan raganya. Di akhir tausiyahnya, beliau berdoa mudah-mudah tahun ini Allah menghendaki khilafah tegak di negara indonesia.

Tabligh akbar yang terselengara atas kerjasama Dewan pengurus masjis dan Sekolah Tahfidz Plus Bandung pada Selasa, 11 September 2018 bertempat di salah satu masjid di kabupaten Bandung ini tak kurang dihadiri oleh 700 umat muslim se kabupaten Bandung. [IW]



Mercusuarumat.com. Kabupaten Bandung. "Setiap perjuangan pasti ada resikonya. Begitu pula dalam memperjuangkannya agama Allah,
memperjuangkan agama Allah layaknya seperti kereta express, apapun halangannya, perjuangan tidak boleh berhenti", ucap Ust Habib Umar, ulama Kabupaten Bandung saat memberikan tausiyah pada tabligh akbar memperingati tahun baru hijriah 1440.

Lebih lanjut ia mengatakan, andai kata terorisme ada pada zaman Rasulullah, dapat dipastikan Rasulullah akan mendapatkan label tersebut, begitu pun dengan label persekusi dan label sejenisnya. "Memperjuangkan agama Allah memang tidak mudah, mari kita layakkan diri menjadi bagian dari para penolong agama Allah", jelasnya.

Ia menceritakan, manakala umat islam mengambil aturan islam sebagian dan mengabaikan sebagian maka Allah akan turunkan malapetaka.
Beliau menanyakan ke jamaah, "kemaksiatan apa yang tidak ada di Indonesia? tawuran antar pelajar ada di Indonesia, LGBT ada, pemerkosaan ada, kemaksiatan apa yang tidak ada di Indonesia?"

Diakhir tausiyahnya beliau mengingatkan, setiap kemaksiatan akan mendatangkan dosa dan setiap dosa akan mendatangkan musibah, maka beliau mengajak seluruh peserta untuk bersama menolong agama Allah hingga aturan-Nya diterapkan dalam naungan negara, khilafah.

Tabligh akbar yang terselengara atas kerjasama Dewan pengurus masjis dan Sekolah Tahfidz Plus Bandung pada Selasa, 11 September 2018 bertempat di salah satu masjid di kabupaten Bandung ini tak kurang dihadiri oleh 700 umat muslim se kabupaten Bandung. [IW]



Oleh : Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra

Biasakanlah berucap dengan dilandasi keputusan hukum, jika merasa seorang warga negara yang taat hukum. Karena tidak ada satupun keputusan hukum yang menyebutkan HTI ormas terlarang.

Terus darimana ribut-ribut HTI Ormas terlarang ?

Itu adalah fitnah yang disebar untuk mem-by pass pemusnahan HTI. Fitnah yang disebar agar masyarakat termakan isu bahwa HTI adalah ormas terlarang. Bagi yang masih beranggapan HTI adalah ormas terlarang, silahkan sampaikan satu dokumen keputusan hukum, atau dokumen negara yang menyatakan HTI adalah ormas terlarang.

Tapi sudah dicabut BHP (Badan Hukum Perkumpulan) nya ?

Inilah opini jahat. Padahal dalam prosedur keormasan di negara ini, punya BHP itu hanyalah pilihan, bukan kewajiban. Ada ribuan organisasi kemasyarakatan di negara ini yang tidak mengurus BHP-nya. Dan itu sah-sah saja menurut hukum keormasan.

Jadi jikapun salah satu ormas dicabut BHP-nya, itu bukanlah vonis Ormas Terlarang, tapi cuma vonis administrasi pencabutan BHP tok. Sampai disini paham kan ???

Begitu juga dengan Dakwah Syariah dan Khilafah. Tidak ada satu dokumen keputusan hukum ataupun dokumen negera yang menyatakan bahwa dakwah syariah dan Khilafah adalah dakwah yang terlarang.

Opini terlarangnya Dakwah Syariah dan Khilafah ini muncul dari asumsi sepihak dari pemerintah bahwa dakwah Syariah dan Khilafah ini memenuhi hal yang terlarang pada UU Ormas yang baru. Padahal ini di UU Ormas itu yang terlarang adalah : Komunisme, Leninisme, Atheisme, Marxisme, dan ajaran lain yang bertentangan dengan Pancasila. Dakwah Syariah dan Khilafah itu kemudian dimasukkan sebagai ajaran yang bertentangan dengan Pancasila. Ini asumsi sepihak, karena belum ada keputusan pengadilan yang secara sah melalui peradilan bahwa dakwah Syariah dan Khilafah itu bertentangan dengan Pancasila.

Intinya, ini adalah upaya membangun asumsi menjadi kebenaran, walau tidak berpijak pada dokumen resmi dari pengadilan atau dari negara. Ini sama kasusnya dengan menyebar opini seseorang itu tukang santet kepada masyarakat. Padahal belum ada pembuktian. Sehingga ketika masyarakat termakan opini ini, maka masyarakat tidak memerlukan lagi pembuktian dan ikut bersama menghakimi si tertuduh tukang santet.

Berapa kali kejadian begini berakhir dengan penyesalan ?

Ada tertuduh maling, dibakar hidup-hidup oleh massa yang termakan tuduhan tanpa memperdulikan pembuktian, namun ternyata yang dituduh bukan maling. Ada tertuduh melarikan ampli mesjid, dihajar masa hingga mati, padahal bukan maling, tapi seorang service alat elektronik yang kebetulan shalat di mesjid sambil membawa ampli yang hendak di servisnya.

Jadi, biasakanlah memeriksa setiap tuduhan-tuduhan, opini-opini. Jangan termakan tuduhan atau opini yang tidak punya landasan hukum.

Kesimpulan :
Prof Yusril Ihza Mahendra, seorang pakar hukum tata negara saja sudah menyampaikan dengan jelas bahwa HTI sampai saat ini bukanlah ormas terlarang. Artinya apa ? Secara hukum, memang HTI itu bukan ormas terlarang.

Jadi yang terus menuduh HTI ormas terlarang adalah oknum atau pihak yang menuduh di luar hukum, atau mengadili sendiri di luar pengadilan.

Tahun Baru Islam: Refleksi Hijrah; Berubah Menuju Islam Kaffah

Tahun baru 1440 Hijriah sudah di hadapan. Umat Islam dari berbagai kalangan menyambutnya dengan berbagai kegiatan yang meriah. Namun di balik semua itu, tak bisa kita pungkiri jika kondisi umat Islam di seluruh dunia berada dalam keterpurukan. Sedangkan kebangkitan Islam seolah digiring untuk menjauh dari benak kaum muslim, mereka justru diarahkan untuk semakin berkompromi dengan peradaban sekulerisme yang sedang memimpin dunia saat ini.



Mercusuarumat.com. Bandung. Pecah! bergetarlah hati tiap muslim muslimat menyaksikan parade panji Rasulullah Saw. Enam pemuda pengusung panji Rasulullah berwarna hitam dan putih melangkah gagah dari belakang barisan jamaah menuju panggung acara tabligh akbar memperingati tahun baru hijriah 1440.

Lebih dari 700 umat Islam Kabupaten Bandung menyemut di salah satu masjid  di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Meyuarakan kalimat tauhiid, laa illaha illalahu, tiada Illah selain Allah Swt. Memohon ridho Allah di awal tahun yang mulia ini.

Gema takbir bersautan tak henti-hentinya mengiringi para pemuda pengibar panji Rasulullah. "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!".

"Kalimat tauhiid inilah yang akan menyelamatkan kita, di dunia maupun di akhirat", tegas pembawa acara pada acara tabligh akbar memperingati tahun baru hijriah 1440, selasa 10 September 2018 yang diselenggarakan oleh Dewan pengurus masjis ansarullah dan Sekolah Tahfidz Plus Khoirul Ummah Bandung. [IW]



Mercusuarumat.com. Banjar. Opini Khilafah semakin hari semakin meluas. Gaungnya semakin terdengar di banyak acara, termasuk pada agenda Tabligh Akbar Majelis Riyadhus Sholihin Kota Banjar dalam rangka menyambut tahun Baru Islam 1440 H,  pada Hari Sabtu (8/9/2018), di salah satu masjid Kota Banjar. Adapun tema yang diambil adalah "Hijrah menuju Islam kaffah".

Pada kesempatan ini Ust Jamaludin menyampaikan salah satu pelajaran dari tahun baru Islam adalah mengenai keyakinan terhadap kebenaran Islam. Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Inayah Kota Banjar ini, keyakinan yang kuat akan syariat Islam, berbuah pertolongan yang hakiki dari Allah Swt.

Keyakinan juga harus diaplikasi di dalam dakwah sebagaimana di paparkan oleh Ustadz Tatang Khaedar. Tokoh dari wilayah Langensari ini menegaskan bahwa umat Islam harus berani menyampaikan kebenaran, termasuk mendakwahkan syariah dan Khilafah.

Pembicara lainnya, Ustadz Heri Abu Rizqi menjelaskan bahwa tahun baru Islam erat kaitannya dengan hijrahnya Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Madinah, hijrah yang juga harus dilakukan oleh umat saat ini. “Apabila aturan sudah tak pantas kita laksanakan, apalagi jauh dari tatanan aturan Allah Swt, maka umat muslim mengikuti Baginda Rasulullah Saw yaitu hijrah, berpindah dari maksiat kepada taat,” terang ulama Kota Banjar ini

Sementara itu Pimpinan Rumah Tahfidz Ar-Rohman, Kota Banjar, Ustadz Zaenal Arifin, M.Pd, menegaskan bahwa hijrah harus dilakukan secara kaffah, yakni hijrah tidak hanya pada ruang lingkup pribadi dan komunitas, tapi juga hijrah sistem, dengan menerapkan aturan Islam secara kaffah. “Dan aturan Islam kaffah tidak bisa diterapkan kecuali hanya dnegan Khilafah,” tegasnya.

Makna Hijrah Hari Ini Adalah Merubah Konstitusi Sekuler menjadi Konstitusi Syariah

“Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT dan dari barokah dari syaikh Taqiyudin An-nabhani, kita mengetahui gambaran system Islam yang telah terbukti selama 13 abad ke puncak keemasan” tutur KH. M. Rifat Syadli, Lc. M.Ag Pimpinan Pondok Pesantren Baiturrahman Bandung dalam acara “Tabligh Akbar Menyambut Muharram 1440 H”, yang digagas oleh Komunitas Muslim Bandung, Sabtu (9/9), di Salah satu masjid di Kota Bandung



BUKAN ORMAS TERLARANG, HTI MEMILIKI HAK KONSTITUSIONAL UNTUK BERDAKWAH MENYERU KEPADA ISLAM.

Oleh: Ahmad Khozinudin, S.H.

Ketua Koalisi Advokat Penjaga Islam
Kornas Koalisi 1000 Advokat Bela Islam

Sebagaimana diketahui, Pemerintah melalui Kemenkumham telah mencabut status badan hukum Ormas Islam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) melalui keputusan Nomor AHU-30.AH.01.08, tanggal 19 Juli 2017.

Atas keputusan tersebut, HTI melalui kuasa hukumnya Ihza & Ihza Law Office mengajukan Gugatan Sengketa Tata Usaha Negara di Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, terdaftar dengan Nomor Perkara 211/G/2017/PTUN.JKT.

Diluar konteks persidangan, Pemerintah berusaha membangun narasi publik dengan opini sesat yang seolah ingin menyimpulkan HTI telah dibubarkan dan dianggap sebagai organisasi terlarang.

Pemerintah mulai melakukan gerakan persekusi, dengan menyisir sejumlah Aparat Sipil Negara dan Insan Civitas Akademika untuk mempersekusi (memburu) anggota HTI. Beredar luas, daftar nama tokoh dan anggota HTI berikut alamat serta institusi tempat bekerja yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sumbernya.

Kemendagri mengeluarkan surat telegram dan menurunkan beberapa kebijakan teknis untuk mengawasi aktivitas anggota HTI di daerah, bahkan Surat Telegram Kemendagri telah beredar jauh sebelum keputusan pencabutan SK BHP HTI diterbitkan Kemenkumham.

Berbagai elemen tokoh dan masyarakat yang menyuarakan kritisme terhadap jalannya pemerintahan di stigma sebagai "Kroni HTI". Di Semarang, Kapolres Kota Semarang sempat melarang aktivitas masyarakat yang ingin melakukan kegiatan menyampaikan pendapat dimuka umum (demo) dengan dalih "Mereka Kroni HTI".

Beberapa kajian Islam para ustadz dan ulama yang terindikasi atau dekat dengan HTI dihalangi, bahkan jika sudah terjadi dibubarkan. Aparat penegak hukum kadangkala menggunakan dalih "ada komplain masyarakat" untuk menghalangi pengajian atau kadangkala jika kehabisan akal langsung menggunakan jurus "kewenangannya" untuk menggagalkan. Ust Felix Shiau, salah satu anggota HTI yang paling puas mengalami pembatalan dan/atau pembubaran kajian.

Perburuan kepada anggota dan simpatisan HTI dilakukan layaknya perburuan eks PKI. Masyarakat diajak untuk ikut "horor" dan meneror aktivis HTI. Padahal, HTI tidak pernah memberontak seperti PKI. HTI tidak pernah mengganti ideologi negara seperti PKI. HTI tidak pernah melakukan kekerasan dan pembunuhan dalam aktivitas dakwahnya layaknya PKI. HTI dalam berdakwah murni menggunakan pemikiran, tanpa kekerasan dan tanpa fisik.

HTI TIDAK PERNAH DIUMUMKAN SEBAGAI ORGANISASI TERLARANG

Jika berbicara status hukum HTI, maka publik perlu merujuk pada status hukum yang dilekatkan pada HTI dan bukan merujuk pada yang selainnya.

Merujuk Keputusan Menteri Hukum Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-30.AH.01.08 Tahun 2017 tentang Pencabutan Keputusan Menteri Hukum Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-0028.60.10.2014 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Hizbut Tahrir Indonesia, tanggal 19 Juli 2017, Diktum keputusan limitatif dan tegas hanya menyebutkan :

“MEMUTUSKAN :- Menetapkan : PERTAMA : Mencabut Keputusan Menteri Hukum Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor : AHU-00282.60.10.2014 tanggal 02 Juli trahun 2014 Tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Hizbut Tahrir Indonesia, berkedudukan di Jakarta Selatan.

KEDUA : Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan.


Dalam Diktum keputusan, tidak ada satupun redaksi keputusan yang menyebut HTI dibubarkan dan/atau HTI dinyatakan sebagai organisasi terlarang.

Proses hukum terhadap HTI hanya sebatas pencabutan status badan hukum, tidak menerangkan pembubaran Ormas HTI tidak pula menyatakan HTI sebagai organisasi terlarang.

Satu-satunya hak HTI sebagai organisasi adalah hilangnya status subjek hukum selaku badan hukum (rechtperson), artinya HTI tidak dapat melakukan hubungan hukum, menuntut hak dan melaksanakan kewajiban sebagai badan hukum ormas yang terdaftar di kemenkumham.

Sementara itu, sebagai organisasi massa biasa, anggota HTI tetap memiliki keseluruhan hak dan tanggung jawab warga negara yang dijamin konstitusi. HTI baik secara kelembagaan maupun individu tetap memiliki hak untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat, sebagaimana dijamin konstitusi.

Dalam ketentuanpasal 28 E ayat (3) UUD 1945 disebutkan: "Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat."

Bahkan dalam pasal 28 UUD 1945 ditegaskan:  “kemerdekaan berserikat dan berkumpul , mengeluarkan pikiran denagn lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang.”

Hak konstitusi berupa kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat adalah hak yang melekat pada setiap individu warga negara dan tidak boleh dicabut oleh siapapun termasuk oleh negara.

Keluarnya keputusan Keputusan Menteri Hukum Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor AHU-30.AH.01.08 Tahun 2017, tidak dapat mencabut hak konstitusional warga negara untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.

Keputusan a Quo hanya mencabut status pengesahan Badan Hukum Perkumpulan HTI dan tidak dapat merampas hak konstitusional anggota dan pengurus HTI sebagai warga negara.

Kasus HTI berbeda jauh dengan kasus Partai Komunisme Indonesia (PKI). PKI telah dibubarkan oleh Pemerintah berdasarkan TAP MPRS RI NO. : XXV/MPRS/1966, TENTANG PEMBUBARAN PARTAI KOMUNIS INDONESIA, PERNYATAAN SEBAGAI ORGANISASI
TERLARANG DISELURUH WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAGI PARTAI KOMUNIS INDONESIA DAN LARANGAN SETIAP KEGIATAN UNTUK MENYEBARKAN ATAU MENGEMBANGKAN FAHAM ATAU AJARAN KOMUNIS/MARXISME-LENINISME.

Dalam TAP MPRS No. XXV/1966, jelas menyebut PKI dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Tidak sebatas itu, dalam ketentuan pasal 2 ditegaskan pula larangan mengembangkan ajaran atau paham komunisme, marxisme dan leninisme sebagai atribut ideologi yang melekat pada PKI.

Pembubaran dan pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang sangat tepat, karena PKI terbukti telah melakukan kudeta, melalui jalan kekerasan dan angkat senjata, dimana jumlah korban pembunuhan PKI sudah tidak dapat ditolerir oleh akal dan jiwa yang berperikemanusiaan.

Alhasil, adalah tidak berdasar dan menentang logika akal jika ada narasi publik yang diarahkan untuk menstigma HTI sebagai ormas yang terlarang. HTI dalam berdakwah selalu mengedepankan hikmah, pemikiran, tanpa pemaksaan, tanpa kekerasan dan tanpa fisik. HTI juga tidak pernah masuk dalam daftar organisasi terlarang.

Aktivis dan kader HTI selalu hadir bersama ditengah-tengah umat untuk mengajak umat kembali kepada nilai-nilai Islam, berakhlak Islam, berperilaku secara Islam, membentuk kepribadian Islam serta selalu berjuang mengajak kepada segenap umat untuk kembali hidup secara Islam.

Satu-satunya tudingan yang diarahkan Pemerintah kepada HTI adalah HTI memperjuangkan Khilafah. Sementara itu, telah berulang kali ditegaskan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Telah banyak bukti yang dihadirkan di persidangan, termasuk keterangan ahli yang menyebut Khilafah adalah ajaran Islam.

Sekali lagi penulis tegaskan, HTI tidak pernah dibubarkan dan bukan organisasi terlarang. HTI tetap memiliki hak konstitusional untuk berserikat, berkumpul dan mengemukakan pendapat. Setiap anggota dan/atau pengurus HTI tetap memiliki hak untuk berdakwah amar ma'ruf nahi munkar, dakwah melanjutkan kehidupan Islam dan dakwah menyeru umat agar segera menegakkan Khilafah.



Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Saya tidak mau ambil pusing dengan orang-orang yang mengatakan; "HTI itu sudah mati, sudah bubar, sudah lenyap ditelan zaman," dan lain sebagainya. Karena dengan sibuknya mereka memantau pergerakkan Hizbut Tahrir itu artinya sama saja sebenarnya mereka menganggap bahwa HTI masih ada. Malah justru mereka yang dipusingkan.

Memang benar-benar sakti HTI. Mereka sudah dibunuh tetapi "arwahnya" masih bergentayangan di mana-mana, mereka sudah mati tetapi masih saja ditakuti, mereka tidak masuk ke Parlemen tetapi mereka sangat diperhitungkan, mereka tidak memilih di setiap musim pemilihan tetapi mereka sangat ditakutkan.

Jika mereka menganggap HTI sudah mati, kenapa mereka justru meyakini bahwa HTI masih bisa menunggangi ? Jika mereka menganggap Khilafah HTI itu hanya mimpi, kenapa pula mereka justru selalu mikiri ? Jelas, itu berarti mereka meyakini bahwa HTI masih ada dan semakin berlipat ganda.

Memang seperti itulah faktanya. Sebab, Syariah dan Khilafah bukan sebatas di selembar surat BHP semata, tetapi berada dalam hati dan pikiran mereka. Jokowi bisa saja mencabut badan hukum Hizbut Tahrir, tetapi ia tidak bisa mencabut ide yang diembannya. Sudah terlalu mendarah daging ide Syariah dan Khilafah diemban oleh para pengusungnya.

Jokowi tawarkan syabab-syabab Hizbut Tahrir dengan uang jutaan dollar, agar para syabab berhenti berdakwah sekalipun, mereka tidak akan mau menerimanya. Perjuangan mereka benar-benar ikhlas karena Allah yang Maha Kuasa. Bukan karena uang, dan bukan juga karena pangkat kedudukan. Inilah rahasia utamanya.

Jangankan mereka yang berwujud manusia, iblis sekalipun, ia tidak akan mampu melawan orang-orang yang ikhlas dalam mendakwahkan agamanya. Tidak heran apabila orang-orang sekuler kuwalahan menghadapinya, wong iblis saja ketar-ketir dibuatnya.

Profesor tanpa ikhlas ia akan mudah dikendalikan dengan uang miliaran, dan kiai tanpa ikhlas ia akan mudah dilemahkan dengan iming-iming jabatan. Sementara orang yang ikhlas dia akan tetap kokoh dan istiqomah menyampaikan kebenaran, sekalipun dunia dan seisinya ditawarkan, sekalipun nyawa harus menjadi taruhan.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٣٩) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٤٠)

Iblis berkata, “ Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di muka bumi, aku akan menjerumuskan manusia semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas di antara mereka," (Qs. Al-Hijr: 39-40).

Itulah rahasia kekuatan dari Hizbut Tahrir Indonesia. Mereka tidak bisa dibeli, tidak pula bisa ditunggangi. Itulah sebabnya, jangankan mereka masih hidup, mereka sudah mati dibunuh'pun kekuatannya masih tetap saja ditakutkan.

Di antara mereka yang paling takut adalah para penikmat kemaksiatan, para penjual aset negara dan para penjilat kekuasaan. Karena apa yang diperjuangkan Hizbut Tahrir, dengan Syariah dan Khilafahnya, akan segera menenggelamkan mereka.

Allaahumma Ahyinaa Bil Islaam
Allaahu Akbar

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 4 September 2018

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget