Change or Die: Islam kan Jaya Kembali



Akhir-akhir ini kata “Ganti” semakin booming di telinga masyarakat Indonesia, mulai dari “2019 Ganti Presiden”, “2019 Ogah Ganti Presiden”, “2019 Ganti Status”, hingga “2019 Ganti Kolam Baru”. Tak bisa dipungkiri “Pergantian” atau sinonimya disebut “Perubahan” adalah suatu keniscayaan. Mau tak mau, perubahan pasti akan terjadi, sebaliknya menahan laju perubahan adalah sebuah kesia-siaan.

Buktikan bersama! Dulu di era 90’an masyarakat Indonesia mungkin tak pernah terpikirkan akan adanya transportasi berbasis online yang mampu mengantarkannya pada tempat tujuan dengan mudah, pun tidak pernah terbayangkan bagaimana asyiknya bertransaksi secara online dengan ribuan produk yang tersedia di dalamnya atau terbayangkah bagaimana nyamannya memesan tiket pesawat terbang juga memesan hotel seperti saat ini? Lantas bagaimana jika sampai saat ini masih saja menolak perubahan itu semua?

Begitupun umat manusia secara keseluruhan, telah mengalami perubahan dari segi tatanan kehidupan. Peradaban dunia sejak zaman Pra Sejarah hingga Zaman Kerajaan Romawi terus mengalami perubahan, bahkan hingga kini peradaban dunia tak pernah berhenti tuk berubah. Kesemua ini merupakan salah satu dari ketentuan Allah Swt, Sunatullah. Allah Swt berfirman dalam Qur’an Surat Ali Imran ayat 140 yang artinya: ”Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia…”. Dulu Kerajaan Romawi dan Kerajaan Persia silih berganti memimpin peradaban dunia, hingga Allah gilirkan kekuasaan pada kekhilafahan Islam, ditandai dengan diutusnya Rasul Saw, sebagaimana hadits Rasul Saw berikut:

“Muncul babak Kenabian di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Kekhilafahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Raja-raja yang menggigit selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak selama masa yang Allah kehendaki, kemudian Allah mencabutnya ketika Allah menghendakinya. Kemudian muncul babak Kekhilafahan mengikuti manhaj (cara/metode/sistem) Kenabian. Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam diam.” (HR Ahmad)

Melalui lisan Rasul Saw, umat Islam mendapatkan kabar gembira sebagai pemicu dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Dulu peradaban dunia selama lebih dari tiga belas abad lamanya mengalami hidup dalam naungan Islam. Lebih dari dua pertiga dunia diselimuti dengan aturan-aturan serta ide-ide Islam. Kesejahteraan telah terbukti bagi seluruh penduduk negri, hingga tak ada satupun orang yang berhak menerima zakat. Sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mencukupinya. Kemudian Allah gilirkan, dikarenakan perbuatan manusia sendiri yang telah jauh meninggalkan syariat Allah.

Sistem Sosialis/Komunis pun muncul. Namun, dikarenakan sosialis tidak sesuai fitrah manusia, kini Sosialis/Komunis tinggal nama. Sosialis dengan pongahnya menegaskan “Alam semesta, kehidupan dan manusia tercipta dengan sendirinya”, tentu ide ini mustahil benarnya. Antaraksi yang sebegitu rapi bergerak teratur tanpa ada benturan satu dengan lainnya. Apakah semua ini bergerak dengan sendirinya tanpa ada yang mengatur? Tentu akal sehat kita tidak bisa mengatakan “Ia”. Tubuh manusia sebegitu rumitnya, namun indah dipandang dan mempesona. Masihkah beranggapan manusia tercipta dengan sendirinya? Ide sosialis yang diterapkan dalam negara pun kini tiada. Uni Soviet, telah hancur!

Pengaruh sosialis makin pudar dengan ditandai munculnya Sistem Kapitalis, dengan harapan memperbaiki keadaan pasca “Zaman Sosialis”, justru keadaan dunia makin parah dengan merebaknya ide Kapitalis. “Yang kaya makin kaya, miskin makin miskin”. Kapitalis berhasil membius umat manusia dengan jargon kebebasannya. Kapitalis/liberal yang dimotori oleh barat, khususnya Amerika Serikat berhasil mendominasi dunia, termasuk negeri tercinta, Indonesia.

Hingga saat ini, negeri tercinta Indonesia masih setia dengan ide kebebasan, kapitalis dalam segi politik diimplementasikan Indonesia melalui demokrasi harapannya mampu membawa kepada perbaikan justru sebaliknya menuai berbagai masalah. Dari segi Ekonomi, Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar makin menunjukkan rata-rata penurunan, bahkan saat ini satu dollah USA setara dengan 14.912 rupiah, belum lagi Utang Luar Negeri yang telah mencapai lima ribu triliun rupiah, penduduk miskin, berdasrkan laopran Bank Dunia mencapai 30% dari jumlah penduduk. Dari segi pendidikan, betapa susahnya lulusan SMA untuk mendapatkan pekerjaan, belum lagi biaya pendidikan yang sangat mahal karena diberlakukannya UKT pada jenjang Peruguruan Tinggi. Segi hukum, segi politik tak lupa juga segi sosial mengalami keterpurukan yang nyata.

Indonesia perlu berubah!, berubah dari segi sosok serta sistem yang dijalankan. Mengacu pada firman Allah Swt Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” sejak Indonesia merdeka, perubahan sosok pemimpin silih berganti dari Era Soekarno hingga Era Jokowi, dari militer, teknokrat, ulama, kalangan wanita hingga pengusaha pernah dicoba Indonesia, namun cita-cita bangsa belum terwujud dengan seksama, karena sejak dulu sampai sekarang perubahan menuntut pada sosok semata, tanpa disertai perubahan sistem yang dijalankannya. Kebebasan menjadi landasan dalam menjalankan kehidupan hingga saat ini!

Bagaimana jika Islam dijalankan dalam kehidupan? Pergantian sosok tanpa ada pergantian sistem menjadikan perubahan tidak berlangsung secara sempurna, karena kompenan pemerintahan terdiri dari aturan/sistem dan sosok pemimpin yang menjalankannya. Sosok pemimpin yang baik tidak pernah bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik manakala sistem yang jalankan sistem yang rusak nan cacat, sebagaimana telah diuraikan di atas. Sistem Sosialis jelas tidak mungkin bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi Indonesia, begitupun sistem Kapitalis, memaksa umat manusia memisahkan agama dalam kehidupannya.

Islam turun membawa seperangkat aturan dalam kehidupan yang bersumber dari Allah Swt. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam menjadikan Indonesia berpeluang besar untuk menerapkan syariat Islam secara sempurna dalam naungan khilafah sebagaimana dulu pernah diterapkan di dunia. Moment saat ini memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menerapkan kembali sistem Islam di tanah nusantara. betapa tidak, kerinduan ini tercermin dari banyak umat Islam berbangga-bangga dengan atribut dan simbol-simbol Islam serta maraknya pembahasan-pembahasan mengenai khilafah Islamiah.

Pertanyaannya mau berubah atau tidak? Berubah atau mati (dibaca malapetaka)! Mau sampai kapan negeri ini mempertahankan sistem yang rusak lagi merusak? Sistem sosialis atau sistem kapitalis telah terbukti membawa malapetaka, sedangkan Islam dengan nyata menorehkan prestasi memakmurkan dunia. Lebih dari itu, menerapkan syariat Islam adalah kewajiban bagi setiap umat Islam, termasuk umat Islam Indonesia. Bukankah kabar gembira telah terucap dari lisan Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, bahwasannya akan muncul kembali Kekhilafahan Islam sebagaimana Rasul Saw jalankan. Mau tak mau, perubahan pasti akan terjadi, sebaliknya menahan laju perubahan adalah sebuah kesia-siaan.

Oleh: Irfan Wahyudin, S.Pd (Guru Ekonomi)

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget