Makna Hijrah Hari Ini Adalah Mengubah Konstitusi Sekuler menjadi Konstitusi Syariah

Makna Hijrah Hari Ini Adalah Merubah Konstitusi Sekuler menjadi Konstitusi Syariah

Makna Hijrah Hari Ini Adalah Merubah Konstitusi Sekuler menjadi Konstitusi Syariah

“Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT dan dari barokah dari syaikh Taqiyudin An-nabhani, kita mengetahui gambaran system Islam yang telah terbukti selama 13 abad ke puncak keemasan” tutur KH. M. Rifat Syadli, Lc. M.Ag Pimpinan Pondok Pesantren Baiturrahman Bandung dalam acara “Tabligh Akbar Menyambut Muharram 1440 H”, yang digagas oleh Komunitas Muslim Bandung, Sabtu (9/9), di Salah satu masjid di Kota Bandung


Kegiatan yang mengusung tema Hijrah Menuju Islam Kaffah disambut antusias oleh para peserta. Riuh hidmat para peserta ketika melantunkan kalimat tauhid sembari dibimbing ust. Asropi, M.PMat yang juga seorang guru di salah satu sekolah swasta ini menambah kerinduan para peserta akan tegaknya kalimatillah.

Menurutnya, banyaknya persekusi,kriminalisasi ulama, pengaturan volume suara adzan  adalah bentuk penyaringan dari Allah untuk menentukan siapa yang benar-benar membela agama Allah dan yang memusuhi Syariahnya.

Pada kesempatan lain,  pembicara ketiga Ust Ir. Eri Taufik Abdulkarim  Pembina Muslim Inspiring Quran menuturkan kondisi hijrah saat ini, Eri Taufik menekankan seharusnya kaum muslimin berhijrah kearah penerapan syariah dan khilafah, yang didalamnya diterapkan hukum-hukum Islam.

“jadi tuntutan kaum muslimin adalah penerapan dan pelaksanaan syariah Islam dalam konstitusi negara” tuturnya. Dirinya juga menegaskan  perjuangan hari ini dalam dakwah itu sebenarnya merubah konstitusi dari sekuler menjadi konstitusi syariah Islam.

Pembina Majelis Cinta Rasulullah Ust. Asep Sudrajat, S.Sos , sebagai pembicara terakhir menekankan tidak ada pilihan lain selain menjadi pejuang syariah.

“tidak ada alasan lagi bagi kita, karena pilihannya ada dua, pejuang syariah atau penghalang syariah” tandasnya.

Ditempat lain, seorang peserta kegiatan mengucapkan terimakasih kepada ormas Islam yang menentang ide Khilafah, karena dengan banyaknya pertentangan tersebut, ide khilafah bisa tersebar luas lewat media televisi, cetak maupun sosmed.

“saya berterimakasih kepada Ormas Islam yang gemar menolak ajaran Islam, yaitu Khilafah. Karena dengan banyaknya penolakan tersebut, mereka diundang ke stasiun televisi  untuk membicarakan khilafah, terlepas dari baik atau buruknya, kata khilafah menjadi tidak asing ditelinga masyarakat” imbuhnya. (Die/MI)




Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget