Membayangkan Langkah Perjuangan NU di Masa yang Akan Datang



MEMBAYANGKAN LANGKAH PERJUANGAN NU DI MASA YANG AKAN DATANG
(Refleksi Momentum G30S PKI)
___
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Di masa orde lama, NU merupakan bagian dari anggota Masyumi. Bahkan, NU pula yang turut membidani lahirnya MASYUMI. Ulama-ulama yang tergabung dalam Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) ini dari awal sepakat, bahwa Indonesia harus dijadikan sebagai negara Islam.

Di tengah perjalanan, PKI bermanuver di rezim Soekarno. Mereka mau diakui eksistensinya di Indonesia. Diusulkanlah oleh Soekarno kabinet NASAKOM (nasionalis-agamis-komunis). Dari kalangan agamis, Masyumi pun menolak. Bagi mereka, umat Islam tidak boleh bersekutu dengan orang-orang yg anti Islam.

Kemudian Soekarno merayu NU yang saat itu sudah memisahkan diri dari Masyumi, walaupun masih satu garis perjuangan dengan mereka. Hingga akhirnya NU pun terpengaruh, NU lebih memilih bergabung dengan kabinet NASAKOM.

Meski banyak kiai yang tidak setuju, Partai NU tidak sehaluan dengan Masyumi. Mereka lebih memilih berpisah dengan saudara-saudara muslimnya di Masyumi itu, daripada harus meninggalkan kabinet NASAKOM bentukan Soekarno.

Karena Masyumi paling lantang menyerukan tegaknya syariat Islam, dan sering mengkritik komunisme di rezim ini, akhirnya partai inipun dibubarkan oleh Soekarno melalui dekritnya. Sementara itu, NU masih tetap tergabung dalam kabinet NASAKOM.

Dan akhirnya, tepatlah apa yg sudah diperkirakan oleh ulama-ulama di MASYUMI, ketika sudah mulai kuat, PKI berkhianat. Pesantren-pesantren dibakar, kiai-kiai dibantai, umat Islam yg sedang sholat dipenggal lehernya. Tidak peduli apakah itu NU atau bukan, semuanya dibantai. Nusantarapun banjir darah karena kebiadaban PKI.

Barulah pada saat itu ulama-ulama NU sadar akan kejamnya PKI. Mereka membentuk Banser guna membantu TNI dan umat Islam lainnya menumpas PKI dari bumi pertiwi.

Peristiwa ini seringkali dikisahkan oleh ulama-ulama NU dan para tentara veteran (penumpas PKI) dengan penuh semangat. Bahkan, konon ada salah seorang tokoh PKI di Cirebon (Sudiryo) yg kabur ke Sumedang, ketika ia tertangkap oleh TNI, untuk mengelabui TNI, disepanjang jalan ia menyanyikan lagu ”Indonesia Raya”, walaupun akhirnya ia tetap ditembak kepalanya.

Wahai warga NU!, harusnya sejarah ini kalian jadikan pelajaran! Jangan sampai kalian terjatuh kembali di dalam lubang yang sama. Ulama-ulama pendahulu kalian pernah bersekutu dengan PKI dan akhirnya mereka menyesal.

Tapi, akankah sejarah kembali terulang ?.. Pembesar-pembesar kalian di sana lebih memilih berkomplot dengan orang-orang yg anti syariat Islam, daripada harus bersatu dengan saudara-saudara muslimnya yg lain. Bahkan, pimpinan GP Ansor sendiri berani terang-terangan mengatakan, bahwa “PKI itu tidak berbahaya”. Seolah dia lebih memilih berkoalisi dengan PKI daripada dengan saudara-saudaranya yg seakidah, tanpa mau belajar dari sejarah.

Saya tidak bisa membayangkan, jika suatu saat nanti ternyata benar PKI bangkit kembali memerangi umat Islam, entah ada di kubu mana Banser dan GP Ansor berada. Menyesali perbuatannya, lalu bergabung dengan umat Islam lain bersama-sama menumpas gerombolan PKI, atau justru mereka tetep kekeh dengan posisinya bersama orang-orang PKI memerangi umat Islam yang lainnya, yang sering dituduhnya anti Pancasila.

Hasbunallah wani’mal wakiiL

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah

Cirebon, 29 September 2018

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget