Tahun Baru Islam: Refleksi Hijrah; Berubah Menuju Islam Kaffah

Refleksi Hijrah; Berubah Menuju Islam Kaffah Tahun baru 1440 Hijriah sudah di hadapan. Umat Islam dari berbagai kalangan menyambutnya dengan berbagai kegiatan yang meriah. Namun di balik semua itu, tak bisa kita pungkiri jika kondisi umat Islam di seluruh dunia berada dalam keterpurukan.

Tahun Baru Islam: Refleksi Hijrah; Berubah Menuju Islam Kaffah

Tahun baru 1440 Hijriah sudah di hadapan. Umat Islam dari berbagai kalangan menyambutnya dengan berbagai kegiatan yang meriah. Namun di balik semua itu, tak bisa kita pungkiri jika kondisi umat Islam di seluruh dunia berada dalam keterpurukan. Sedangkan kebangkitan Islam seolah digiring untuk menjauh dari benak kaum muslim, mereka justru diarahkan untuk semakin berkompromi dengan peradaban sekulerisme yang sedang memimpin dunia saat ini.


Padahal jika kita menelaah sejarah hijrah Rasulullah Saw, kekuatan Islam yang sebenarnya berada pada keteguhan kaum muslim dalam menggenggam Islam. “Sehingga refleksi hijrah saat ini adalah bagaimana mengubah pemikiran yang tidak Islami menjadi pemikiran Islam. Karena perbuatan manusia terikat dengan pemahamannya,” Ucap Ust. Umuh Muhsin dalam kegiatan Tabligh Akbar Refleksi Hijrah yang diadakan Majelis Raudhatul Mukminin di salah satu masjid, Kota Tasikmalaya pada hari Ahad (9/9/2018).

Salah satu bukti bahwa umat Islam terkontaminasi pemikiran yang tidak islami adalah ketika umat Islam tidak bisa membedakan mana perkara yang halal dan mana yang haram. Bahkan terkadang halal dan haram pun terkalahkan oleh ketertundukan kaum muslim terhadap dunia. Padahal sejatinya, Allah Swt-lah yang meninggikan derajat manusia ketika mereka tunduk sepenuhnya pada ayat-ayat Allah, sebagaimana firmannya dalam Q.S. Al A’raf 175-176 yang artinya : “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, kemudian ia melepaskan diri daripada ayat-ayat itu lalu dia diikuti setan, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang sesat. Dan kalaulah Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah.”

“Bahkan para Ulama menegaskan bahwa hubbuddunya (cinta dunia, pen.) merupakan pangkal seluruh kesalahan,” ucap pembina Majelis Raudhotul Mukminin ini. Bahkan saat ini, orang-orang yang terjebak pada dunia semakin bermunculan. Apalagi saat ini musuh Islam terus menanamkan pemikiran supaya umat Islam tak lagi mempedulikan agamanya. Mereka (Barat) pun terus menanamkan keragu-raguan ke dalam benak kaum muslim akan persatuan Umat Islam serta tegaknya kembali Khilafah Islam, tegasnya.

Dalam acara yang berlangsung di waktu Dhuha ini, Pembina Ponpes Riyadlul Huda, K. Banda Syanz pun mengamini apa yang disampaikan oleh pembicara pertama bahwa hijrah itu bisa dimaknai secara bathinah dan zhahirah. Menurut beliau, hijrah secara bathinah adalah orang yang meninggalkan perkara yang telah Allah larang atas dirinya. Hal ini sesuai dengan apa yang diutarakan oleh Rasulullah Saw ketika beliau ditanya tentang siapakah orang yang berhijrah. Oleh karena itu, orang yang berhijrah secara batiniah berarti meninggalkan berbagai kemaksiatan menuju ketaatan.

Sedangkan hijrah zhahirah bermakna hijrah dari negeri kufur (negeri yang tidak menerapkan hukum Islam) menuju Darul Islam (negeri yang menerapkan Islam). Tentunya, yang dimaksud Darul Islam adalah negeri yang menerapkan Islam secara total dalam seluruh aspek kehidupan.

Adapun Ust. Ary sebagai pembicara ketiga lebih menyoroti momentum hijrah Rasulullah Saw secara historis. Menurut beliau, hijrah Rasulullah Saw tidak hanya memberikan perubahan secara sosial politik bagi Makkah dan Madinah serta Jazirah Arab, bahkan Imperium Persia dan Romawi pun tergugah dan tengadah atas peristiwa ini. Karena hijrah Rasulullah Saw bukan semata berpindahnya sekumpulan orang dari Makkah ke Madinah tetapi lahirnya sebuah negara baru yang dipimpin oleh Rasulullah Saw. Negara yang tegak di atas pandangan hidup Islam, di bawah bimbingan Allah Swt serta dipimpin oleh Rasul-Nya.

“Peristiwa Hijrah Rasulullah Saw tidak hanya berpengaruh pada kaum Muhajirin, bahkan tatanan kehidupan Madinah pun berubah 180 derajat. Yang setadinya dihukumi dengan hukum jahiliyyah menjadi dihukumi dengan hukum Islam,” ucapnya.

Setelah peristiwa hijrah, Rasulullah Saw menyatukan Makkah, Madinah, Jazirah Arab lalu Syam di bawah kepemimpinan Islam. Kemudian dilanjutkan kembali oleh para Khalifah selanjutnya hingga Islam meliputi lebih dari sepertiga dunia. Kemudian datanglah masa-masa kemunduran Islam hingga negara-negara yang memiliki dendam Perang Salib meruntuhkan Khilafah Utsmaniyyah melalui perantaraan Mustafa Kemal Pasha di Turki. Oleh karena itu, jika kita benar-benar menginginkan perubahan menuju Islam kaffah tentu tiada lain harus kembali menerapkan syariah dengan menegakkan khilafah, pungkasnya. (Ar-At, 09/09/2018)





Label:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget