Tauhiid dan Pawai Tauhiid antara Hidup dan Mati Umat Manusia



Setiap umat Islam mengharap akhir hayatnya terucap kalimat tauhiid, Laa ilaha illAllah. Bahkan andaipun semasa hidupnya penuh maksiat, tetap saja, manusia sekuat tenaga untuk melafalkan kalimat ini saat ijroil melaksanakan tugasnya. Saking pentingnya kalimat ini, umat Islam sering berdo'a agar diakhir hayatnya kalimat inilah yang terucap.

Mengapa sebegitu kerasnya umat Islam ingin lafalkan kalimat ini diakhir hayatnya? Karena ini adalah tanda khusnul khotimahnya seorang hamba yang akan menghadap pada Rabbnya. Sayangnya, sebagian umat justru ada yang menghujat kalimat ini, bahkan ia adalah muslim, menganggap kalimat ini sebagai simbol kaum radikal dan kelompok teroris, padahal Allah Swt semata-mata menurunkan nabi muhammad saw hanya untuk menyampaikan kalimat ini, Laa ilaha illAllah.



Rasulullah diturunkan kepada Masyarakat Jahilian Mekah guna menghilangkan penyembahan selain kepada Allah. Laa ilaha illAllah, tidak ada tempat yang pantas diibadahan selain kepada Allah. Dengan semangat Laa ilaha illAllah, Rasulullah membawa bangsa arab keluar dari kebodohan dan menjadikan bangsa arab diperhitungkan dalam kancah peradaban dunia kala itu.

Tentu bukan hal mudah bagi Rasulullah mendakwahkan kalimat ini, para Kafir Quraisy dengan pongah mempersekusi apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Bahkan nyawa Rasulullah menjadi taruhannya. Kaum Kafir Quraisy jelas musuh Islam karena ia mementang Kalimat Laa ilaha illAllah. Iblis musuh pertama umat manusiapun tak akan pernah tinggal diam saat umat manusia beriman pada Rabbnya, dengan sekuat tenaga iblis akan menyimpangkan umat Islam dari jalan yang lurus, jalan Tauhiid, jalan Laa ilaha illAllah.



Tipu daya iblispun kembali berulah, hingga sejarah pun terulang kembali, sebagai umat Indonesia bahkan mengaku dirinya muslim menistakan kaimat Tauhiid. Tak segan-segan mereka memfitnah, menstigma negatif kan bahkan merendahkan kalimat ini.

Bukankah dengan kalimat tauhiid ini manusia hidup? Dengan kalimat ini pula manusia mati? Bahkan dengan kalimat Laa ilaha illAllah inilah manusia akan dibangkitkan?

Selayaknya segala bentuk penistaan terhadap kalimat tauhiid harus dikutuk dan dilawan. Banyak umat Islam sadar akan penting membela kalimat ini, salah satunya agenda umat hari ini, ahad, 30 September 2018. Umat Islam Jawa Barat, khususnya mengadakan agenda besar bernama Pawai Tauhiid yang diselenggarakan di Kota Bandung dan Purwakarta.

Momen muraham menjadi momentum umat untuk lebih giat mensyiarkan kalimat ini dan menepis segala macam stigma negatif terhadap nya. Ribuan umat Islam Jawa Barat sebagaimana pantauan penulis memadati ruas jalan Diponegoro hingga depan Gedung Sate. Mengusung panji raksasa warna hitam berukuran 500 meter bertuliskan Kalimat Tauhiid, Laa ilaha illAllah. Lebih heroiknya penulis melihat sendiri salah seorang peserta pawai dari kalangan difabel dengan keterbatasan fisiknya ia tak terlihat lelah.



Begitupun pawai tauhiid di Purwakarta, atribut bertuliskan kalimat Tauhid meramaikan acara, mulai dari topi, baju, jaket, syal hingga balon. Kesemua ini adalah bukti nyata pembelaan terhadap kalimat Laa ilaha illAllah. Berbagai kalangan mengikuti pawai ini, mulai dari kalangan ulama, dosen, pendidik, ibu rumah tangga hingga pengusaha. Dari ormas FPI, BKLDK, forum ulama aswaja Purwakarta dan persaudaraan alumni 212.

Kalimat Laa ilaha illAllah adalah kalimat yang menandakan jati diri dan dasar bagi setiap umat Islam. Dasar kelemahan umat manusia dan dasar mengagungkan Allah azawazala. Mengakui keberadaan Tuhan Semesta Alam. Kalimat ini lah yang membedakan mana kawan dan mana lawan.

Sejak dulu sampai sekarang musuh islam pastilah ada. Siapapun yang menentang kalimat ini maka sudah dipastikan ia adalah lawan, apalagi dengan jelas mengakui tidak ada Tuhan bak Sosialis/Komunis.
Mengakui tidak ada Tuhan adalah penistaan paling nyata terhadap kalimat tauhiid. Komunisme jelas-jelas musuh nyata bagi umat Islam.
Haram hukumnya umat islam meyakini faham ini. Begitupun dengan kapitalisme yang beranggapan bahwa Kalimat tauhiid tidak layak diterapkan dalam kehidupan.

Kapitalis memandang bahwa alam Semesta beserta isinya diciptakan oleh Tuhan. Kapitalis meyakini adanya Tuhan, namun kapitalisme menolak eksistensi Tuhan dalam mengatur kehidupan.

Jelas Kedua faham ini bertentangan dengan semangat tauhiid, bertentangan dengan dakwah tauhiid yang diajarkan oleh baginda besar nabi muhammad saw. Laa ilaha illAllah, kalimat yang akan menyelamatkan umat manusia di dunia maupun di akhirat. Kalimat yang membedakan antara penolong agama Allah atau sebaliknya.

Tentu, sebagaimana diawal tulisan. Setiap umat islam pasti menginginkan akhir hayatnya dihiasi dengan kalimat tauhiid, Laa ilaha illAllah. Sudah sejati nya, menjadi penolong agama Allah adalah jalan yang wajib dipilih, jalan yang lurus, jalan yang hanya mengesakan Allah Swt, rabb satu-satunya yang wajib disebah, rabb satu-satunya yang aturan nya sempurna dan wajib dijalankan.

Akan seperti apa akhir hayat manusia terlihat dari cara kebiasaannya, jika ia ada dalam barisan pengagung kalimat tauhiid dan memperjuangkan penegakkan kalimat tauhiid menuju islam kaffah dalam naungan khilafah, insyaAllah Allah akan mudahkan hidup di dunia nan akhirat, sebaliknya jika ia ada dalam barisan penghujat kalimat tauhiid, bahkan menapikkan eksistensi Tuhan, janji Allah, Allah akan sengsarakan ia di dunia dan di akhirat. Sebagaiman sabda nabi salallahu 'alaihi wa salam, "Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan kondisi meninggalnya” (HR Muslim no 2878).

Wallahu'alam

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget