October 2018



Oleh : Muhammad Shiddiq al-Jawi

Ungkapan “hubbul wathon minal iman” memang sering dianggap hadits Nabi SAW oleh para tokoh [nasionalis], mubaligh, dan juga dai yang kurang mendalami hadits dan ilmu hadits. Tujuannya adalah untuk menancapkan paham nasionalisme dan patriotisme dengan dalil-dalil agama agar lebih mantap diyakini umat Islam.

Namun sayang, sebenarnya ungkapan “hubbul wathon minal iman” adalah hadits palsu (maudhu’). Dengan kata lain, ia bukanlah hadits. Demikianlah menurut para ulama ahli hadits yang terpercaya, sebagaimana akan diterangkan kemudian.

Mereka yang mendalami hadits, walaupun belum terlalu mendalam dan luas, akan dengan mudah mengetahui kepalsuan hadits tersebut. Lebih-lebih setelah banyaknya kitab-kitab yang secara khusus menjelaskan hadits-hadits dhaif dan palsu, misalnya :

1. Kitab Tahdzirul Muslimin min al-Ahadits a-Maudhu’ah ‘Ala Sayyid al-Mursalin karya Syaikh Muhammad bin al-Basyir bin Zhafir al-Azhari asy-Syafi’i (w. 1328 H) (Beirut : Darul Kutub al-Ilmiyah, 1999), hal. 109; dan

2.. Kitab Bukan Sabda Nabi! (Laysa min Qaul an-nabiy SAW) karya Muhammad Fuad Syakir, diterjemahkan oleh Ahmad Sunarto, (Semarang : Pustaka Zaman, 2005), hal. 226.

Kitab-kitab itu mudah dijangkau dan dipelajari oleh para pemula dalam ilmu hadits di Indonesia, sebelum menelaah kitab-kitab khusus lainnya tentang hadits-hadits palsu, seperti :

1. Kitab Al-Maudhu’at karya Ibnul Jauzi (w. 597 H);

2. Kitab Al-Alai al-Mashnu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah karya Imam as-Suyuthi (w. 911 H);

3. Kitab Tanzih Asy-Syari’ah al-Marfuah ‘an Al-Ahadits Asy-Syani’ah Al-Maudhuah karya Ibnu ‘Arraq Al-Kanani (Lihat Mahmud Thahhan, Taysir Musthalah al-Hadits, hal. 93).

Berikut akan saya jelaskan penilaian para ulama hadits yang menjelaskan kepalsuan hadits “hubbul wathon minal iman”.

Dalam kitab Tahdzirul Muslimin karya Syaikh al-Azhari asy-Syafi’i hal. 109 tersebut diterangkan, bahwa hadits “hubbul wathon minal iman” adalah maudhu (palsu). Demikianlah penilaian Imam as-Sakhawi dan Imam ash-Shaghani.

Imam as-Sakhawi (w. 902 H) menerangkan kepalsuannya dalam kitabnya al-Maqashid al-Hasanah fi Bayani Katsirin min al-Ahadits al-Musytaharah ‘ala Alsinah, halaman 115.

Sementara Imam ash-Shaghani (w. 650 H) menerangkan kepalsuannya dalam kitabnya Al-Maudhu’at, halaman 8.

Penilaian palsunya hadits tersebut juga dapat dirujuk pada referensi-referensi (al-maraji’) lainnya sebagai berikut :

1. Kasyful Al-Khafa wa Muziilu al-Ilbas, karya Imam Al-‘Ajluni (w. 1162 H), Juz I hal. 423;

2. Ad-Durar Al-Muntatsirah fi al-Ahadits al-Masyhurah, karya Imam Suyuthi (w. 911 H), hal. 74;

3. At-Tadzkirah fi al-Ahadits al-Musytaharah, karya Imam Az-Zarkasyi (w. 794 H), hal. 11.

(Lihat Syaikh al-Azhari asy-Syafi’i, Tahdzirul Muslimin min al-Ahadits a-Maudhu’ah ‘Ala Sayyid al-Mursalin, hal. 109)

Ringkasnya, ungkapan “hubbul wathon minal iman” adalah hadits palsu (maudhu’) alias bukanlah hadits Nabi SAW.

Hadits maudhu’ adalah hadits yang didustakan (al-hadits al-makdzub), atau hadits yang sengaja diciptakan dan dibuat-buat (al-mukhtalaq al-mashnu) yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW. Artinya, pembuat hadits maudhu sengaja membuat dan mengadakan-adakan hadits yang sebenarnya tidak ada (Lihat Syaikh al-Azhari asy-Syafi’i,Tahdzirul Muslimin, hal. 35; Mahmud Thahhan, Taysir Musthalah al-Hadits, hal. 89).

Menurut Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, meriwayatkan hadits maudhu’ adalah haram hukumnya bagi orang yang mengetahui kemaudhu’an hadits itu serta termasuk salah satu dosa besar (kaba`ir), kecuali disertai penjelasan mengenai statusnya sebagai hadits maudhu’ (Lihat Syaikh al-Azhari asy-Syafi’i, Tahdzirul Muslimin, hal. 43).

Maka dari itu, saya peringatkan kepada seluruh kaum muslimin, agar tidak mengatakan “hubbul wathon minal iman”sebagai hadits Nabi SAW, sebab Nabi SAW faktanya memang tidak pernah mengatakannya. Menisbatkan ungkapan itu kepada Nabi SAW adalah sebuah kedustaan yang nyata atas nama Nabi SAW dan merupakan dosa besar di sisi Allah SWT. Nabi SAW bersabda :

“Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di neraka.” (Hadits Mutawatir).

Terlebih lagi Islam memang tidak pernah mengenal paham nasionalisme atau patriotisme yang kafir itu, kecuali setelah adanya Perang Pemikiran (al-ghazwul fikri) yang dilancarkan kaum penjajah. Kedua paham sesat ini terbukti telah memecah-belah kaum muslimin seluruh dunia menjadi terkotak-kotak dalam wadah puluhan negara bangsa (nation-state) yang sempit, mencekik, dan membelenggu.

Maka, kaum muslimin yang terpasung itu wajib membebaskan diri dari kerangkeng-kerangkeng palsu bernama negara-negara bangsa itu. Kaum muslimin pun wajib bersatu di bawah kepemimpinan seorang Imam (Khalifah) yang akan mempersatukan kaum muslimin seluruh dunia dalam satu Khilafah yang mengikuti minhaj nubuwwah. Semoga datangnya pertolongan Allah ini telah dekat kepada kita semua. Aamiin. [ ]



Mercusuarumat.com. Pengacara HTI Yusril Ihza Mahendra dari Kantor Hukum Ihza&Ihza Law Firm mengatakan bahwa pengajuan kasasi perkara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah didaftarkan di Mahkamah Agung RI tanggal 19 Oktober 2018 yang lalu. Dengan demikian, sampai hari ini perkara gugatan HTI melawan Menkumham RI masih berlanjut dan belum ada putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde). Hal ini dikemukakan Yusril dalam menjawab pertanyaan tertulis beberapa media di Jakarta (28/10/2018).

Yusril mengatakan semua pihak hendaknya menghormati proses hukum yang kini tengah berlangsung. HTI memang telah dicabut status badan hukumnya dan dinyatakan bubar oleh Menkumham pada bulan Juli 2018. HTI kemudian melakukan perlawanan ke PTUN Jakarta dan sekarang perkara sedang di Mahkamah Agung.

HTI memang dicabut status badan hukumnya dan dinyatakan bubar oleh Menkumham. “Tetapi tidak ada pernyataan atau keputusan yang mengatakan HTI adalah organisasi terlarang”. Organisasi yang dinyatakan terlarang di negara ini hanya PKI dan underbouwnya. Bahkan Partai Masyumi yang dipaksa membubarkan diri oleh Presiden Sukarno pada tahun 1960, juga tidak pernah dinyatakan sebagai partai atau organisasi terlarang, jelas Yusril yang pernah menulis disertasi doktor ilmu politik tentang Partai Masyumi dan Jamaat Islami Pakistan itu.

Di negara kita ini, ormas itu ada yang berbadan hukum, ada yang tidak. HTI adalah ormas berbadan hukum “perkumpulan” atau vereneging, yang didaftarkan di Kemenkumham. Status badan hukumnya itulah yang dicabut. Jadi jika mantan pengurus dan anggota HTI melakukan kegiatan dakwah secara perorangan atau kelompok tanpa menggunakan organisasi HTI berbadan hukum, maka hal itu sah saja. Tidak ada yang dapat melarang kegiatan seperti itu.

Bahwa kemudian ada insiden pembakaran bendera yang oleh pihak pembakar dianggap sebagai bendera HTI, penjelasan mantan Sekum dan Jubir HTI Ismail Yusanto sudah sangat jelas bahwa HTI tidak punya bendera. Bendera bertuliskan kalimah tauhid di atas kain hitam itu dianggap sebagai bendera yang dulu digunakan Rasulullah, S.A.W sehingga bisa digunakan umat Islam di mana saja.

Penjelasan MUI kiranya juga cukup terang bahwa pada bendera yang dibakar itu tidak ada tulisan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). “Bendera Bulan Bintang ya bisa digunakan siapa saja, dan itu tidak otomatis Bendera Partai Bulan Bintang” kata Yusril yang juga Ketua Umum PBB itu. Bendera berlambang Bulan Bintang itu hanya bisa dianggap Bendera PBB jika ada tulisan “Partai Bulan Bintang”.

Soal pembakaran bendera itu sendiri Yusril menyarankan agar diselesaikan secara musyawarah, jangan langsung dipidanakan. “Presiden tentu dapat menengahi masalah ini dengan mengajak para ulama dan tokoh2 Islam untuk mencari penyelesaian bersama” kata Yusril. Kepada HTI yang telah dicabut status badan hukumnya, namun sedang diperkarakan itu, tidak perlu ada kebencian. Pengurus dan anggota HTI itu semuanya adalah saudara-saudara kita sesama Muslim. Bahwa ada perbedaan pendapat mengenai konsep khilafah, perbedaan seperti itu lazim dalam sejarah pemikiran Islam.***

Jakarta, 28 Oktober 2018



Oleh

Uthie Siti Solihah
(Ibu Rumah Tangga)
.
Kisah heroik seorang Mush'ab bin Umair sudah ribuan tahun lamanya, namun kini hampir semua lini masa kembali mengangkat kisah sosok pemuda tampan yang syahid di perang Uhud itu. Kehilangan tangan kanan dan kirinya karena ditebas oleh musuh kafir yaitu Ibnu Qumaimah kemudian dia pegang bendera tauhid dengan sisa tangan yang putus dan didekap di dadanya hingga dadanya pun ditembus panah dan akhirnya Mush'ab syahid.
.
Sebagai muslim terutama para pemuda di zaman now, bisa banyak mengambil hikmah dari pemuda di zaman Rasul ini. Tidak hanya kegigihannya untuk membela agama Allah. Keberaniannya mempertahankan Panji Rasulullah. Namun terpatri dengan kuat iman di dadanya. Jalan lurus Agamanya yang ia ikuti dan pilihan bersama Rasul untuk berjuang hingga akhir hidupnya membuat namanya harum hingga kini.
.
Balasan terindah untuk mereka para syuhada adalah Surga. Hingga Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pun membacakan ayat ketika dihadapan jasad Mush'ab dengan berlinang air mata "Diantara orang orang mukmin terdapat pahlawan pahlawan yang telah menepati janjinya pada Allah (Al Ahzab : 23).
.
Tentu kita pun mempunyai keinginan yang sama yaitu masuk surga. Pertanyaannya apa yang sudah kita perbuat untuk itu?
.
Jika melihat bendera tauhid dibakar saja kita cuek, tidak bereaksi dan tidak marah. Tidak mau ambil peran dalam agama ini. Surga itu ditebus dengan iman jenderal bukan dengan diam saat agamamu dilecehkan.
.
Semoga di era ini kembali muncul para Mush'ab sang pembela Agama Allah.
.
Wallahua'lam Bishowab



Oleh: Dr. Ibnu C. Ma’ruf

Mercusuarumat.com. Saat ini, hampir dapat dikatakan tidak ada yang tidak mengenal HTI. Kiprahnya dalam perpolitikan nasional tidak dapat diragukan oleh siapa pun, baik yang pro atau yang kontra. Perbincangan tentangnya telah merata di hampir semua elemen masyarakat, baik di kalangan tokoh atau orang awam. Perbincangan tentangnya meluas, mulai dari stasiun TV, kampus, lembaga-lembaga penelitian hingga di warung-warung kopi. Tidak sedikit masyarakat yang menganggapnya sebagai “harapan baru” setelah masyarakat jenuh dengan tingkah polah para tokoh dan politisi yang hanya sibuk berbohong demi keuntungan diri dan kelompoknya sendiri, tanpa pernah memikirkan urusan masyarakat. Tetapi tidak sedikit yang menganggapnya sebagai “ancaman yang sangat serius”, bahkan pemerintah harus menempuh jalan yang penuh dengan onak dan duri untuk mengeluarkan PERPPU ORMAS secara spesial guna mencabut BHP-nya. Tidak diragukan, PERPPU ORMAS memang dikeluarkan hanya untuk menghabisi HTI, meski dibantah oleh pihak-pihak pendukungnya.

Apakah HTI itu sehingga pemerintah harus kalang kabut bersusah payah untuk mencabut BHP-nya? Apa yang diperjuangkannya? Siapa saja yang aktif di dalamnya?

KEANEHAN HTI

Bagi orang yang hanya melihat sekilas tentang HTI, akan tampak bahwa ia adalah ormas Islam biasa, seperti ormas-ormas yang lain. Tidak kurang dan tidak lebih. Tetapi, bagi siapa saja yang mengamati secara mendalam tentang kiprah dan aktivitas HTI dalam waktu cukup lama akan memahami bahwa HTI berbeda dengan semua ormas yang ada di Indonesia. Karena itulah, bagi saya HTI adalah ormas yang “aneh”.

Menurut catatan saya, beberapa hal di bawah ini menunjukkan beberapa keanehan itu, diantaranya:

• Saat BHP-nya dicabut dan gugatannya ditolak, massa HTI yang jumlahnya sangat besar justru sujud syukur. Bagi saya, ini adalah sesuatu yang sangat aneh, sesuatu yang tidak lazim. Sebab, siapa pun atau ormas apa pun saat “didzalimi” pasti sangat kecewa, bahkan akan memberi “perlawanan”. Jika tidak berani memberi “perlawanan”, minimal pulang dengan memendam kekecewaan. Tapi HTI justru menyambut ditolaknya gugatan pencabutan BHP dengan sujud syukur dan mereka pulang dengan optimisme yang tiada duanya. Bahkan, di media sosial, para aktivis HTI juga menumpahkan rasa syukurnya yang tiada terkira. Sungguh, mereka menampakkan diri sebagai orang-orang yang sangat dewasa dengan jiwa kesatria. Benar-benar aneh!

• Sebelum dicabut BHP-nya, HTI adalah ormas yang sangat sering menyelenggarakan acara-acara besar dengan peserta hingga ratusan ribu orang dan tersebar hampir di seluruh Indonesia. Kita tahu bahwa penyelenggaraan acara yang kolosal dan dikemas dengan sangat profesional pasti membutuhkan biaya bermilyar-milyar, padahal sebagaimana kita ketahui tidak ada satu pun unit usaha milik HTI yang diketahui oleh publik. HTI juga mengaku tidak pernah mendapat bantuan keuangan dari pemerintah, bahkan mengaku tidak pernah mau diberi bantuan oleh pemerintah dan bahkan oleh siapa pun juga. Pengakuan HTI ini tampaknya bisa dibenarkan, sebab jangankan menerima bantuan pemerintah, HTI bahkan menerima hukuman berupa pencabutan status badan hukum dari pemerintah. Ada yang berspekulasi, bahwa HTI mendapat dana dari pemerintah Arab, Amerika, dan Israil. Namun, jika kita cek di semua media, HT(I) justru merupakan organisasi yang paling dimusuhi oleh Pemerintah Arab, Amerika, dan Israel. Sebab, HT(I) adalah organisasi yang paling keras kritikannya terhadap negara-negara tersebut. Jika kita cek dari berbagai berita, HT(I) bahkan dilarang di negara-negera Arab. Jadi, dari mana dana yang sedemikian besar?

• Meskipun HTI adalah organisasi yang paling sering dipersekusi oleh ormas Islam lainnya (tidak perlu disebut namanya), HTI tampak sangat cool dan tidak terpengaruh dengan berbagai persekusi dan tekanan keras terhadapnya. Bahkan, pada acara MAPARA HTI Jawa Timur tahun lalu, massa HTI yang jumlahnya puluhan ribu orang dan dihadang hanya oleh tidak lebih dari 500 orang dari ormas lain, HTI cenderung mengalah dan tidak memberi perlawanan untuk itu sehingga tidak terjadi benturan antara sesama umat Islam. Inilah adalah sikap HTI yang sangat simpatik. Padahal, jika dihitung dari kekuatan, kekuata HTI jauh di atas jumlah ormas lain yang menghadangnya.


• Keistiqomahan HTI merupakan keanehan tersendiri. Sejak tahun 1980an hingga saat ini (lebih dari 30 tahun), HTI tak pernah bosan dan tidak pernah berubah dalam mengkampanyekan dan mendakwahkan penegakan syariah dan khilafah. Jika kita jujur, isu syariah dan khilafah sangat tidak marketable, sangat tidak menguntungkan bagi semua ormas, bahkan bagi ormas dan parpol Islam. Makanya, hingga detik ini, kita tidak pernah mendengar ada ormas yang menjadikan syariah dan khilafah sebagai isu perjuangannya, bahkan semua cenderung menjauhinya. Semua ormas, termasuk ormas dan parpol Islam lebih memilih isu yang lebih populis, seperti keadilan, kemakmuran, persatuan, perdamaian, toleransi, moderatisme, dan lain-lain. Apa rahasia keberanian dan keistiqomahan ini?

• Keanggotaan HTI merupakan keanehan tersendiri diantara keanehan-keanehan lainnya. Meskipun HTI adalah ormas Islam, dengan isu sentral yang dianggap tidak populis bahkan cenderung dianggap “radikal” oleh sebagian orang, kita menduga bahwa anggotanya pastilah hanya diisi oleh orang-orang tua atau lulusan pesantren. Tetapi, jika kita mengamati dengan seksama, justru sebaliknya, anggota HTI kebanyakan adalah anak-anak muda dari kampus-kampus ternama di Indonesia dan luar negeri. Para profesional mulai dari lawyer, akuntan publik, peneliti, dan pengusaha juga banyak yang bergabung menjadi anggota HTI. Tidak ketinggalan, para ulama dan santri di pesantren juga banyak yang bergabung menjadi bagian integral HTI.


• Tingginya intelektual para anggota HTI merupakan keanehan yang lain. Kelompok-kelompok Islam yang menyerukan penerapan syariah, biasanya hanya berpijak pada dalil-dalil dari qur’an dan sunnah secara kaku, namun tidak mampu memberi jawaban yang logis dan memuaskan atas berbagai problematika ekonomi, sosial, hukum, politik, sains dan lainnya. Tetapi, tampaknya hal itu tidak berlaku bagi para aktivis HTI. Meskipun, mereka sangat ketat dalam menjaga dalil-dalil dari qur’an dan sunnah, bahkan dapat disebut sebagain kaum tekstualis, tetapi mereka dengan sangat mengagumkan dan memuaskan dapat menjelaskan implementasi qur’an dan sunnah dalam dunia modern dengan kompleksitas secara sangat luar biasa. Saat berdiskusi dengan para ekonom, aktivis HTI bahkan tampak dengan sangat mudah menjelaskan kekurangan dan kesalahan ekonomi kapitalis. Aktivis HTI, saat bicara tentang sistem mata uang misalnya, berjam-jam penjelasannya tidak selesai. Penjelasan begitu rinci, detil, akurat dan mendalam. Sementara, saat berdiskusi dengan para pakar ushul fiqih, ahli tafsir, ahli hadits dan lain, para aktivis HTI seperti lulusan pondok pesantren yang nyantri puluhan tahun. Mereka menguasai berbagai kitab-kitab salaf yang menjadi maroji’ umat Islam. Padahal sebagian mereka adalah sarjana biologi atau sarjana teknik atau lainnya.

Dan masih banyak lagi keanehan-keanehan yang lain. Mengapa semua itu keanehan-keanehan itu benar-benar terjadi?

APA SEBENARNYA HTI?

Tidak seperi kelompok atau ormas lain yang sulit dicari jati dirinya, HTI merupakan ormas yang sangat mudah dikenali. Kitab-kitab pembinaan di dalam HTI juga dapat dengan mudah diakses oleh siapa pun. Kitab-kitab tersebut, bahkan hampir semuanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kitab-kitab tersebut tidak pernah disembunyikan HTI dari publik. Jadi, sangat mudah mengenali jati diri HTI.

Oleh karena itu, untuk mengenali HTI tidak diperlukan penelitian yang mendalam. Sebab, semua pikiran dan rahasia HTI sebetulnya tidak dirahasiakan oleh HTI. Lagi pula, aktivis HTI adalah sosok-sosok dengan kejujuran dan keterus-terangan yang tiada duanya. Para aktivis HTI, tidak membenarkan konsep tauriyah (berdusta) seperti yang diadopsi oleh syiah. Sehingga saat kita mendengar penjelasan dari mereka atau dari kitab mereka, itulah sesuangghnya pandangan mereka. Mereka tidak menyembunyikan suatu gagasan atau tujuan perjuangannya sedikit pun.

Hanya saja, untuk mengetahui hakikat HTI, kita memang harus mau mendengarkan penjelasan mereka atau membaca buku mereka dengan pikiran terbuka dan hati yang tulus. Ditambah lagi, penjelasan mereka yang sangat detil dalam hampir semua hal mengharuskan kita untuk sabar mendengarkan penjelasan mereka hingga tuntas. Memang, aktivis HTI tidak akan marah jika kita memotong penjelasan mereka, tapi konsekuensinya kita tidak akan mendapat penjelasan yang utuh dari mereka.

Jika kita baca dari buku mereka dan mendengar penjelasan dari aktivis mereka, maka dapat diketahui dengan jelas bahwa HTI adalah lembaga dakwah Islam yang misinya adalah menegakkan kembali kehidupan Islam (isti’nafu alhayati al-islamiyyah) sehingga kerahmatan Islam benar-benar dapat dirasakan oleh umat manusia, baik muslim atau non-muslim. Dalam pandangan mereka, tujuan dakwah mereka bukanlah tegaknya khilafah. Bagi mereka, khilafah bukanlah tujuan tetapi metode penerapan Islam dalam kehidupan. Apa bedanya tujuan dan metode, HTI mengulasnya dengan sangat detil.

Jika khilafah saja bukan tujuan mereka, apalagi mengatakan HTI akan menghancurkan pancasila. Itu jelas kesimpulan yang mengada-ada. Silahkan baca di buku-buku mereka dan berdiskusi dengan aktivis mereka. Mereka dan buku mereka tidak pernah membahas pancasila sama sekali. Bagi mereka, Islam adalah ideologi sehingga lawannya juga ideologi, yaitu ideologi kapitalisme atau ideologi sosialisme. Sehingga membenturkan Islam yang ditawarkan HTI dengan nilai-nilai pancasila, itu sesuatu yang absurd. Bagaimana bisa kita membenturkan antara Islam dengan ketuhanan? Bagaimana bisa kita membenturkan antara Islam dan keadilan? Bagaimana bisa kita mebenturkan Islam dan kemanusiaan? Tak mungkin bisa. Hal ini akan clear jika kita mau sedikit meredam sifat emosional kita dan berdiskusi dengan aktivis HTI dengan hati yang lapang.

Lalu siapakah aktivis HTI? Jika kita mengkaji dengan seksama, bahwa aktivis HTI terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, dari berbagai strata sosial, berbagai profesi dan berbagai latar belakang pendidikan. Namun, yang mengherankan adalah bahwa mereka memiliki perasaan, pemikiran, dan perjuangan yang sama. Hal itu terjadi, karena pembinaan yang sungguh-sungguh dilakukan oleh aktivis HTI. Diceritakan bahwa pembinaan terkadang hanya seorang diri atau hanya dua orang selama lebih dari 5 tahun. Setelah pembinaan selama tahunan tersebut, kemudian orang tersebut diberi pilihan apakah mau berdakwah bersama HTI atau tidak. Seandainya orang tersebut memilih tidak bersama HTI, aktivis HTI yang membinanya menerima dengan hati yang ikhlas tanpa ada kekecewaan sedikit pun. Apa kita bisa sesabar itu?

Lalu mengapa mereka bisa sesabar itu? Kuncinya adalah pada pembinaan sebelumnya yang dirasakan oleh aktivis HTI. Merak diajak berfikir tentang hakikat hidup, siapa pencipta hidup, kemana setelah hidup dan untuk apa hidup ini. Dari renungan dan bukti-bukti yang memuaskan akal, sesuai dengan fitrah dan sesuai dengan hati nurani, merka menyadari bahwa hidup berasal dari Allah, setelah mati akan menghadap Allah untuk mempertanggung-jawabkan hidupnya di hadapan Allah, dan mereka hidup di dunia tak lain adalah untuk beribadah kepada Allah dalam bentuknya sangat luas ini.

Kesadaran inilah yang menggerakkan dan menjadi dasar sikap aktivis HTI secara keseluruhan. Akibatnya ketundukan kepada Allah adalah ketundukan yang totalitas. Pada saat yang sama, mereka melaksanakan aktivitas hidupnya, termasuk dalam berdakwah bersama HTI, dengan sepenuh HTI dan melaksanakan dengan cara terbaik, karena mereka sadar keputusan hidup dan aktivitasnya dipersembahkan kepada sang pencipta hidup. Mereka tidak pernah kecewa dengan apapun yang terjadi, karena sadar bahwa semua yang terjadi merupakan qodlo Allah yang harus diterima dengan ikhlas.

Itulah rahasianya, mengapa mereka memiliki sikap yang kelihatan aneh. Dipesekusi tetapi diam saja, didzalimi malah sujud syukur, pengorbanan yang tulus baik jiwa, raga maupun harta, tak bisa disogok atau dibelokkan.

Jadi, HTI dan aktivisnya memang kelihatan “aneh” jika dilihat dengan kacamata sekulerisme dan kapitalisme seperti sekarang ini, atau dengan kaca mata sosialisme. Dengan kaca mata sekarang, orang hanya mau melakukan sesuatu jika ada uangnya, atau untungnya.

Tetapi, sikap dan tindakan aktivis HTI sebetulnya sikap dan tindakan yang sewajarnya, jika menggunakan kaca mata Islam. Sikap dan aktivitas seperti itulah yang diajarkan Islam.

Dengan keimanan yang mendalam dan kepasrahan yang total kepada Allah seperti itu, tampaknya semua usaha untuk menghentikan langkah HTI hanyalah upaya sia-sia. Mereka akan tetap beraktivitas dengan sungguh-sungguh tanpa memerhatikan penerimaan atau penolakan manusia. Mereka hanya mengharap pertolongan Allah saja. Padahal, jika Allah swt sudah menolong hamba-hamba-Nya, siapa yang bisa menolaknya? Saya, Anda, kita semua, bahkan semua rezim di dunia tidak akan bisa.

Wallahu a’lam



MAKNA BENDERA & PANJI RASULULLAH SAW

Oleh : KH.Muhammad Shiddiq Al-Jawi

Bendera Rasulullah saw., baik al-Liwa‘ (bendera putih) maupun ar-Rayah (bendera hitam) bukanlah sembarang bendera yang berhenti sebagai simbol. Keduanya mengekspresikan makna-makna mendalam yang lahir dari ajaran Islam. Di antara makna-makna di balik bendera Rasulullah saw. tersebut adalah:

PERTAMA,

yaitu sebagai lambang ‘Aqidah Islam. Pada al-Liwa‘ dan ar-Rayah tertulis kalimat syahadat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh. Kalimat inilah yang membedakan Islam dan kekufuran; kalimat yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Dalam hadis-hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Tirmidzi, dan Thabrani dari Buraidah ra. diterangkan, “Rayah Nabi saw. berwarna hitam dan Liwa‘-nya berwarna putih.”

Ibnu Abbas ra. menambahkan, “Tertulis pada Liwa` Nabi saw. kalimat: Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh (Abdul Hayyi Al-Kattani, ibid., I/266).

Maka dari itu, sebagai simbol syahadat, bendera tersebut akan dikibarkan oleh Rasulullah saw. kelak pada Hari Kiamat. Bendera ini disebut oleh Rasulullah saw. sebagai Liwa‘ al-Hamdi (Bendera Pujian kepada Allah). Rasulullah saw. bersabda, “Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan aku tidak sombong. Di tanganku ada Liwa‘ al-Hamdi dan aku tidak sombong.” (HR at-Tirmidzi).

KEDUA,

yaitu sebagai pemersatu umat Islam. Lâ ilâha illalLâh Muhammad rasûlulLâh adalah kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keanekaragaman bahasa, warna kulit, kebangsaan ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam.

Imam Abdul Hayyi Al-Kattani menjelaskan rahasia tertentu yang ada di balik suatu bendera, yaitu jika suatu kaum berhimpun di bawah satu bendera, artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut (ijtimâ’i kalimatihim) dan juga tanda persatuan hati mereka (ittihâdi qulûbihim). Dengan demikian kaum itu akan menjadi bagaikan satu tubuh (ka al-jasad al-wâhid) dan akan terikat satu sama lain dalam satu ikatan yang bahkan jauh lebih kuat daripada ikatan antar saudara yang masih satu kerabat (dzawil arhâm) (Abdul Hayyi al-Kattani, ibid., I/266).

KETIGA,

yaitu sebagai simbol kepemimpinan. Faktanya, al-Liwa‘ dan ar-Rayah itu selalu dibawa oleh komandan perang pada zaman Rasulullah saw. dan Khulafaur Rasyidin. Misalnya pada saat Perang Khaibar, Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh aku akan memberikan ar-Rayah ini kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan memberikan kemenangan kepada dirinya.”

Umar bin al-Khaththab berkata, “Tidaklah aku menyukai kepemimpinan kecuali hari itu.” (HR Muslim).

KEEMPAT,

yaitu sebagai pembangkit keberanian dan pengorbanan dalam perang. Makna ini khususnya akan dirasakan dalam jiwa pasukan dalam kondisi perang. Pasalnya, dalam perang, pasukan akan terbangkitkan keberaniannya dan pengorbanannya selama mereka melihat benderanya masih berkibar-kibar. Pasukan akan berusaha mati-matian agar bendera tetap berkibar dan menjaga jangan sampai bendera itu jatuh ke tanah sebagai simbol kekalahan (Abdul Hayyi al-Kattani, ibid., I/267).

Bendera sebagai pembangkit semangat dan keberanian itu tampak jelas dalam Perang Mu’tah. Saat itu komandan perang yang memegang bendera berusaha untuk tetap memegang dan mengibarkan bendera walaupun nyawa taruhannya. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa yang memegang ar-Rayah dalam Perang Mu’tah awalnya adalah Zaid bin Haritsah, tetapi ia kemudian gugur. Ar-Rayah lalu dipegang oleh Ja’far, tetapi ia pun gugur. Ar-Rayah lalu berpindah tangan dan dipegang oleh Abdullah bin Rawwahah, tetapi ia akhirnya gugur juga di jalan Allah SWT (HR al-Bukhari, Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, IV/281).

KELIMA,

yaitu sebagai sarana untuk menggentarkan musuh dalam perang. Bagi diri sendiri bendera berfungsi untuk membangkitkan semangat dan keberanian. Sebaliknya, bagi musuh bendera itu menjadi sarana untuk memasukkan rasa gentar dan putus asa kepada mereka. Imam Ibnu Khaldun dalam kaitan ini menyatakan, “Banyaknya bendera-bendera itu, dengan berbagai warna dan ukurannya, maksudnya satu, yaitu untuk menggentarkan musuh…” (Ibnu Khaldun, Muqaddimah, II/805-806).

#KhilafahAjaranIslam
#IslamRahmatanlilAlamin
#GantiRezimGantiSistem
#2019TetapBerdakwah
#AksiBelaTauhid2610
#BelaKalimatTauhid



Mercusuarumat.com. Bencana alam tak henti-hentinya menimpa Indonesia. Bukan hanya tahun ini saja. Seakan-akan tiap musim hujan datang, banjir menjadi langganan. Setiap musim kemarau tiba, kekeringan tak kunjung tiada.

Bencana alam yang telah terjadi paling dekat menimpa negeri ini adalah gempa yang disusul tsunami di Palu dan Donggala. Korban jiwa sampai saat ini telah mencapai lebih dari 1.200 jiwa, korban luka ratusan jiwa. Setiap insan pasti merasa iba dengan apa yang menimpa Indonesia.

Rasa iba yang terhujam dalam qalbu setiap insan tak sebatas sekedar mendoakan. Banyak diantaranya memberikan solusi dan tak sedikit membantu turun tangan ke lapangan. Tadi pagi pun bumi pertiwi dirundung derita dengan jatuhnya pesawat ke perairan dekat karawang.

Suatu waktu penulis pernah berbincang dengan salah satu kawan, kurang lebih ia berkata, wajar bencana alam menimpa Indonesia, bencana alam akan terus terjadi sampai Imam Mahdi turun ke muka bumi.

Setelah mendengar kalimat itu pikiran penulis melayang hinggga temukan satu titik persepsi, mungkin kawan tadi mencoba menafsirkan hadits riwayat Ahmad mengenai tanda-tanda terjadi kiamat dengan turunnnya bencana alam.

Penulis sendiri, tidak sepenuhnya mengiakan, seakan-akan pernyataannya mewajarkan bencana alam terjadi. Padahal bencana alam secara sebab, sepenuhnya hak Allah, Ia bisa kapan saja menurunkan bencana.

Jelas dalam hadits bahwa kiamat tak akan terjadi sampai imam mahdi turun ke muka bumi untuk membunuh dajal, kemudian alam semesta tentram bahagia karena syariat islam diterapkan secara sempurna.

Namun lewat persepsi ini banyak diantara umat muslim berpangku tangan dalam upaya menegakkan khilafah. Mereka berargumen bahwa khilafah akan tegak oleh imam mahdi. Sehingga, tak perlu berjuang keras untuk menegakkannya. Toh, nanti akan tegak sendiri.

Inilah salah satu kegagalan berpikir umat muslim. Kewajiban terikat pada hukum Allah berlaku sampai kiamat datang. Tak kenal waktu pun situasi. Maka sama wajibnya upaya menegakkan khilafah saat ini dengan nanti saat turunnya imam mahdi. Argumen ini dikuatkan oleh Sa’ad Abdullah ‘Asyur & Nasim Syahdah Yasin, Al Khilafah Al Islamiyyah wa Imkaniyyat ‘Audatiha Qabla Zhuhur Al Mahdi AS, hlm. 25-29.

Dengan khilafah aturan islam berjalan secara sempurna. Wajib ain dan wajib kifayah terlaksana dengan kaffah. Begitu juga dengan kesejahteraan alam semesta.

Maka, khilafah jangan ditunggu-tunggu. Tapi khilafah harus diperjuangkan. Sebagaimana jodoh. Jodoh pasti bersua. Tapi kalau berdiam diri saja di rumah, sampai kapan Allah pertemukan dengan jodoh impian Anda. Betul tidak? :) [IW]


.
© Doni Riw
.
Entah mengapa, ada sekelompok orang yang begitu benci pada HTI.

Fitnah terus dilontarkan. Kajian terus dibubarkan. Girang dengan pencabutan badan hukum HTI.

Saking bencinya, sampai panji Rasulullah dibakar, hanya karena sering dikibarkan HTI.

Mereka terus saja ngotot bahwa yang dibakar itu bendera HTI. Meski sudah dijelaskan ribuan kali.

Sudah terang benderang mereka membakar bendera tauhid, masih juga melempar kesalahan pada pengunggah video, pembawa bendera Tauhid, dll.

Mereka bilang HTI berbahaya. Mau memberontak negara. Tapi HTI itu laskarpun tak punya. Kajiannya dibubarkan diam saja. Badan hukumnya dicabut, tenang saja.

Memang benar bahwa HTI mendakwahkan syari'ah & Khilafah. Karena HTI memang mengikuti Rasulullah & Khulafaur Rasyidin.

Kalaupun mereka tidak sepakat dengan ijtihad Syaikh Taqiyudin An Nabhani pendiri Hizbut Tahrir, semestinya mereka menerimanya sebagai perbedaan pendapat yang memang dimungkinkan dalam Islam.

Mengapa mereka yang sering teriak soal tolerasi itu tetiba saja mau menang sendiri? Semua yang tidak sesuai dengan mereka difitnah, rekayasa politik, bahkan serangan fisik?

Andalan mereka; Hizbut Tahrir dilarang di 20 negara. Sedangkan kita tau, negara itu bukan sumber kebenaran.
Kalau larangan penguasa dijadikan tolok ukur, maka dakwah Rasulullah pun dilarang oleh penguasa Makkah kala itu.

Justru begitulah sunatullah penyeru kebenaran. Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Rasulullah, semua dimusuhi penguasa.

Mereka ini siap sih? Israel jadi teman sejati, amerika dirangkul mesra, dakwah syariah difitnah, ar royah dibakar.

Setelah itu menebar beragam fitnah, spanduk palsu, dll.

Demi Allah, kalau bukan karena kewajiban yang Allah bebankan di pundak kita, tak mau kami capek berurusan dengan orang bebal, angkuh, dan keras kepala semacam itu.

Tetapi karena dakwah syariah & Khilafah ini kewajiban, maka kami harus tetap melakukan sembari pasrah pada Allah.

Andaipun mereka bisa meletakkan matahari di tangan kanan, bulan di tangan kiri, kami tak akan berhenti dari dakwah ini. Sampai Allah memenangkan dakwah ini, atau kami binasa karenanya.
.
Jogja 251018
Doni Riw
.
#panjirasulullah



Mercusuarumat.com. Sejumlah Muslimah Cimahi membentang poster bernada penolakan aktivitas LGBT, kemarin (28/10). Aksi yang digelar di sekitaran Masjid Agung Cimahi ini berlangsung setelah pelaksanaan sholat dzuhur.

Aksi ini sengaja dilaksanakan pada siang hari. Berdasarkan keterangan salah satu peserta aksi, dikarenakan pada hari Ahad siang, para pelaku LGBT sering mangkal di dekat Alun-alun Cimahi.

Dalam posternya, muslimah menjelaskan bahwa LGBT bukan fitrah tapi bentuk kriminalitas. LGBT pun menurut mereka akan mengundang azab dari Allah Swt. Selian itu mereka menyerukan penerapan islam secara kaffah untuk atasi LGBT sepenuhnya.

Penolakan LGBT makin menguat di tengah-tengah pemuda, khususnya pelajar. Sebagaimana yang dilakukan oleh SMA Negeri 17 Garut pada Senin 15 Oktober 2018 dengan menggelar Aksi Menolak LGBT yang dilaksanakan di sekolah pada upacara bendera. [IW]



Mercusuarumat.com. Scooterist Hijrah dan Scooterist Politic konvoi usung bendera tauhid berwarna hitam tadi pagi (28/10). Bendera ini mereka kibarkan hingga depan Gedung Merdeka.
Di depan Gedung Merdeka, Aliansi Pemuda Islam Bangkit menyambut kedatangan mereka dengan pekikan takbir dan tahlil.

Adam, Founder Scooterist Hijrah dan rekan-rekannya berhasil menarik perhatian banyak orang dengan motor klasik miliknya yang dibalut dengan kain hitam berlafadzkan tauhid.

agenda yang diberi nama Panggung Kreatif Pemuda Islam ini mengajak pemuda islam untuk bersama memperjuangkan kalimat tauhiid sebagai jalan perjuangan menyelamatkan negeri dari bahaya penjajahan liberal.

"Dengan semangat tauhiid, kaum muda selamtkan negeri", tulis salah poster yang dibawa peserta. [WI]



Mercusuarumat.com. Ahad pagi (28/10), para pemuda islam menyemut di Masjid Agung Jawa Barat. Hujan gerimis sejak pukul 03:00 WIB tak menyurutkan para pemuda untuk mengikuti agenda Panggung Kreatif Pemuda Islam.



Agenda yang dimuali sejak pukul 04:00 sampai 07:30 WIB ini dimulai dengan sholat subuh berjamaah. Pemuda dari berbagai usia dan latar belakang pendidikan yang berbeda ini ramai mengenakan atribut berlafadzkan tauhid.

Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah, agenda dilanjutkan tausiyah inspiratif oleh Ust Dani. Ia mengingatkan peserta akan tujuan hidup nya, yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt.
Semakin matahari meninggi, semangat peserta makin meninggi. Pekikan takbir dan tahlil menggema di ruang masjid.

Saat gelap berganti terang. Peserta berurut rapi keluar masjid menuju lapang sintesis depan Alun-alun Bandung. Di sana peseta membentangkan Bendera Tauhid Raksasa dan diringi akustik sebari bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Koreografi bertuliskan Love Tauhid terpampang diangkat peserta. "Allahu Akbar", "Allahu Akbar", "Allahu Akbar"! Menarik perhatian warga Bandung yang memadati Alun-alun Bandung. Puisi yang disampaikan oleh Hari, Siswa MTSN 2 Bandung mampu mengingatkan peserta untuk mencintai Allah.



Selanjutnya, peserta melakukan longmarch menuju depan Gedung Merdeka. Di depan Gedung Merdeka, peseta membentangkan spanduk ajakan menjauhi pergaulan bebas dan mengingatkan akan pentingnya Islam dalam kehidupan. "Dengan Semangat Tauhid, Kaum Muda bangkitan negeri", "Dari pemuda islam jawa barat untuk dunia: Islam Solusi Hakiki Selamatkan Negeri", "Tauhid Rahasia Kebangkitan", " Tauhid Menyatukan Umat", dan banyak sekali ajakan yang sejenis lainnya.

Selain membentangkan spanduk dan mengibarkan bendera tauhid, di depan Gedung Merdeka peserta mendengarkan orasi, di sela-sela orasi, konvoi vespa membawa Bendera Tauhid mengundang perhatian banyak peserta. Sholawat Nabi berkumandang disertai kibaran bendera tauhid. Lantunan "Laa Ilaha illallahu", "Laa Ilaha illallahu" , "Laa Ilaha illallahu" "Laa Ilaha illallahu" seraya mengakhiri agenda bersama. [IW]



Mercusuarumat.com. Siapa saat ini tak kenal Bendera Tauhid? Bendera Rasulullah berwarna hitam dan putih, yang disebut arroya dan alliwa. Bandera milik umat ini banyak diperbincangkan oleh berbagai kalangan. Mulai dari kalangan usadz, kiayi, komunitas motor, pelajar, guru, dosen, pengusaha, politisi hingga ibu rumah tangga.

Semakin dipersekusi oleh pemerintah, keberadaan Bendera Tauhid malah makin menggurita. Semua adalah buah dari kesabaran dari para pejuang islam dan buah kebodohan dari para penghalang islam.

Betapa tidak, penulis pribadi merasakan langsung perbedaan penerimaan oleh umat, 5 tahun lalu dengan saat ini. Ramadhan 2013 penulis mengikuti agenda sebar buka puasa gratis. Saat itu panitia memasang bendera tauhid di sekitar lokasi acara, pun setiap panitia menggunakan topi tauhid. Di sana penulis merasa kurang percaya diri mengenakan topi berlafadzkan tauhid, karena pada saat itu opini terorisme dan radikalisme menjurus pada mereka yang identik mengenakan simbol tauhid. Namun sekarang, dengan mata telanjang, penulis melihat setiap kegiatan akbar umat islam selalu terpasang bendera tauhid. Jamaah pengajian tak terhitung berapa banyak yang mengenakan simbol-simbol tauhid. Mulai dari syal, topi, baju, jaket hingga tas. Bahkan banyak yang menanyakan kepada penulis dimana bisa membeli topi tauhid, karena sekarang penulis percaya diri seratus persen kenakan topi ini.

Ide khilafah pun demikian, awalnya asing di telinga umat muslim Indonesia namun sekarang idenya mulai dikenal oleh khalayak banyak. Terlepas pro dan kontra. Namun ide khilafah telah jadi buah bibir di masyarakat. Politisi, kiayi, santri, pelajar, guru, dosen, pengusaha, ibu rumah tangga hingga buruh pabrik mendiskusikan hal ini.

Setuju atau tidak dengan ide khilafah adalah pilihan. Namun harus dicatat, janji Allah adalah pasti. Kabar gembira Nabi Muhammad Saw akan terbukti juga syariat islam harus dipenuhi. Buah kesabaran dan keistiqomahan pejuang islam akan segera terrealisasi, sebagaimana islam yang didakwahkan oleh Mush'ab bin 'Umayr, sang duta pertama umat islam.

Bukan mustahil, suatu saat tiap rumah kan rindu khilafah.
Percayalah, percayalah, percayalah. [IW]



DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH.
Ketua Umum HRS Center


Mercusuarumat.com. Pembawa bendera Tauhid telah ditetapkan sebagai tersangka, padanya dikenakan Pasal 174 KUHP, "dengan sengaja mengganggu rapat umum yang tidak terlarang dengan mengadakan huru hara atau membuat gaduh". Perlu dicermati, walaupun ancaman hukumannya relatif singkat, hukuman penjara selama-lamanya tiga minggu atau denda sebanyak-banyaknya Rp.900,-, namun timbul pertanyaan serius apakah memiliki dan/atau membawa bendera berkalimat Tauhid adalah termasuk mengadakan huru hara atau membuat gaduh? Jika benar demikian, membawa bendera berkalimat Tauhid, termasuk dalam kriteria mengadakan huru hara atau membuat gaduh, dan oleh karenanya merupakan peristiwa pidana, maka dikhawatirkan menjadi preseden buruk dikemudian hari.

Hal ini bukan persoalan sepele dan oleh karenanya menjadi tidak penting untuk dianalisis. Ini menyangkut kemuliaan dan keagungan lafadz Tauhid, terlepas dimanapun kalimat Tauhid itu dituliskan/diletakkan, termasuk tetapi tidak terbatas pada bendera saja. Dengan demikian, persoalan mendasar bukan pada benderanya, melaikan pada lafadz kalimat Tauhid itu. MUI Pusat secara resmi telah menyatakan bahwa bendera yang dibakar itu bukan bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), tetapi bendera berkalimat Tauhid. Oleh karenanya, sangat disayangkan terjadinya “kriminalisasi” terhadap orang yang membawa bendera berkalimat Tauhid. Di sisi lain, sangat banyak orang yang menggunakan simbol PKI dalam berbagai bentuk dan pada berbagai kesempatan tidak diproses secara hukum, padahal keberadaan PKI sudah secara sah dinyatakan terlarang oleh Pemerintah.

Kemuliaan dan keagungan kalimat Tauhid dikhawatirkan akan semakin direndahkan, dilecehkan melalui tindakan persekusi dan/atau upaya kriminalisasi dengan berbagai modelnya. Perlu dicatat, ajaran khilafah sudah lebih dahulu “dikriminalisasi” melalui Perppu Organisasi Kemasyarakatan yang kini telah menjadi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Organisasi Kemasyarakatan. Frasa “ajaran/paham yang bertentangan dengan Pancasila” sebagaimana tersebut dalam Pasal 59 ayat 4 hurud c, melalui Penjelasannya disebutkan bahwa “yang dimaksud dengan ajaran atau paham yang bertentangan dengan Pancasila, antara lain ajaran ateisme, komunisme / marxisme-leninisme, atau paham lain yang bertujuan mengganti/mengubah Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”. Pada penerapan Perppu Ormas, Pemerintah telah menganalogikan bahwa "khilafah adalah paham lain” yang bertujuan mengganti/mengubah pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Tegasnya, Khilafah (sebagai paham lain) disederajatkan sama dengan ajaran ateisme, komunisme / marxisme-leninisme. Padahal ajaran Khilafah adalah salah satu ajaran dalam Islam, yang didalamnya terkandung sistem hukum, sistem politik dan sistem ketatanegaraan. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW telah perintahkan untuk selalu bepegang teguh pada sunnahnya dan sunnah Khulafaur Rasyidin.

Kriminalisasi terhadap ajaran Khilafah, ternyata diikuti dengan perlakuan buruk (persecution) terhadap pembawa bendera berkalimat Tauhid melalui tindakan sweeping yang berujung pada pembakaran. Pada saat pemberian keterangan sebagai ahli hukum pidana sidang uji materiil Perppu Ormas maupun Undang-Undang Ormas di Mahkamah Konstitusi, terkait dengan pembubaran HTI sebagai Ormas, penulis menyatakan sebab yang paling berpengaruh adalah bukan menganut, atau mengembangkan, atau menyebarkan ajaran atau paham yang dianggap bertentangan dengan Pancasila, namun sebab yang paling utama menurut teori hubungan kausalitas adalah ajaran agama Islam itu sendiri, yakni nash tentang Khilafah. Sekarang ini, terulang lagi hal yang sama, bahwa sebab yang paling berpengaruh adalah bukan menyangkut orang yang membawa bendera berkalimat Tauhid, namun sebab yang paling berpengaruh adalah Kalimat Tauhid itu sendiri.

Kekhawatiran penulis, begitupun umat Islam lainnya, menunjuk pada adanya gerakan sistematis dan terstruktur dilakukan secara massif untuk menegasikan syariat Islam dengan khilafah sebagai sasaran antara. Dengan lain perkataan, persekusi terhadap syariat Islam bukan lagi sebatas potensi atau indikasi, melainkan telah mewujud nyata dalam berbagai sisi.


Jakarta, 28 Oktober 2018



Mercusuarumat.com. Sholawat atas Nabi Muhammad Saw menggema di depan Gedung Merdeka tadi pagi (28/10). Pujian bagi baginda Rasulullah ini dikumandangkan dalam agenda akbar Panggung Kreatif Pemuda Islam.

Agenda yang diawali dengan sholat subuh berjamaah di Masjid Agung Jawa Barat ini dipadati oleh pemuda dari latar belakang pendidikan. Mulai dari SMP sampai Mahasiswa bersatu dalam Aliansi Pemuda Islam Bangkit.

Di depan Gedung Merdeka, peserta membentangkan spanduk ajakan membumikan tauhid solusi untuk negeri. Zulham selaku ketua Aliansi Pemuda Islam Bangkit menjelaskan agenda ini dilaksanakan dalam upaya penolakan generasi muda terhadap perzinaan dan gerakan LGBT.

Selain Zulham, Alfif, Ketua Gerakan Pemuda Anti Gaul Bebas mengajak pemuda Islam untuk menjauhi pergaulan bebas dan baginya pergaulan bebas sangat membahayakan. Bahkan, ia menyampaikan badan PBB, United Nations Development Programme (UNDP) mengucurkan dana miliaran rupiah untuk dukung LGBT. [IW]



Mercusuarumat. Masjid Agung Jawa Barat pagi dini hari tadi (28/10) dibanjiri pemuda islam Jawa Barat. Mereka memadati agenda Panggung Kreatif Pemuda Islam yang diselenggarakan oleh Aliansi Pemuda Islam Bangkit.

Dalam agenda ini bendera tauhid raksasa berwarna hitam dibentangkan oleh peserta. Diiringi dengan koreografi bergambar love dan huruf bertuliskan tauhid, dengan maksud cinta tauhid, sebagaimana yang jelaskan oleh pembawa acara.

Pembacaan puisi yang dibawakan oleh Hari mengundang tepuk tangan dari peserta. Dengan judul cinta satu tauhid, anak MTSN 2 Bandung ini berhasil mengingatkan peserta akan pentingnya mengesakan Allah Swt.

Pesan yang ingin sampaikan dalam agenda ini adalah tumbuh kesadaran bagi pemuda islam untuk mempelajari, memahami dan menjadikan islam sebagai solusi untuk keluar dari berbagai persoalan negeri, sebagaimana yang dijelaskan oleh Zulham selaku perwakilan panitia saat membacakan release.

Peserta berasal dari berbagai usia dan daerah ini dengan penuh antusias mengikuti agenda dari pukul 04:00 WIB - 07:30 WIB. [IW]



Perempuan saat melakukan aktivitas di luar rumah (kehidupan umum), untuk memenuhi berbagai keperluannya, misal: ke pasar, ke mesjid, ke rumah keluarga dan kerabatnya, dan lain-lain telah diatur oleh Islam.
Islam menetapkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh perempuan dalam hal penampilan dan berpakaian yaitu: menutup aurat, mengenakan jilbab dan kerudung, dan tidak bertabarruj

Menutup aurat
Menutup aurat merupakan kewajiban bagi seluruh kaum muslim, laki-laki dan perempuan. Untuk kaum muslimah, Allah SWT, telah mengatur ikhwal menutup aurat ini al-Quran surat An-Nur ayat 31:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ  
Katakanlah kepada perempuan yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kehormatannya, janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang (biasa) tampak padanya... (QS. an-Nur [24]: 31).
Frasa ma zhahara minha (yang biasa tampak padanya) mengandung pengertian wajah dan telapak tangan. Hal ini dapat dipahami dari sabda Rasulullah saw:
 قَالَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ
Wahai Asma', sesungguhnya perempuan, apabila telah baligh (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya kecuali ini dan ini (seraya menunjuk muka dan telapak tangannya). (HR. Abu Dawud).
Jelaslah bahwa seorang Muslimah wajib untuk menutupi seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Artinya, selain wajah dan telapak tangan tidak boleh terlihat oleh laki-laki yang bukan mahram-nya.
 
Jilbab
Jilbab adalah pakaian luas yang menutupi pakaian yang di dalam, dan diulurkan untuk menutupi kedua kaki. Allah SWT, berfirman:
 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." (TQS. al-Ahzab [33]: 59)
Yakni hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka, sebab kata "min" di sini bukan untuk menyatakan sebagian (li at-tab'idh) akan tetapi untuk menjelaskan (li-albayan). Artinya, hendaklah mereka mengulurkan mantel atau jubah ke bawah sampai menutup kedua kaki.
Jilbab harus dijulurkan sampai kedua kaki agar di situ ada irkha. Artinya, jilbab itu jatuh (menjulur) ke bawah secara menonjol sebagai realisasi firman Allah SWT "yudnina", yakni yurkhina (hendaklah mereka mengulurkan).
Ini berarti jilbab itu sampai ke tanah jika kedua kaki terbuka (tidak tertutup). Dan cukup sampai kedua kaki jika kedua kaki itu tertutup dengan sepatu atau kaos kaki, akan tetapi bukan kurang dari mencapai kedua kaki, dan hal itu agar terpenuhi konotasi kata "yurkhina-hendaklah mereka mengulurkan".
Atas dasar itu, tidak boleh bagi perempuan di kehidupan umum untuk keluar sementara dia mengenakan celana panjang dan di atasnya jubah panjang hingga kedua lutut, yakni tidak sampai kedua kakinya yang tertutup dengan sepatu. Ini tidak memenuhi makna syar'iy untuk jilbab.
Perempuan juga tidak boleh keluar ke kehidupan umum kecuali ia menutupi pakaian dalam (pakaian rumahan) dan diulurkan ke bawah sampai kedua kakinya. Dan jika ia tidak mendapati jilbab itu maka ia tidak boleh keluar atau ia harus meminjam jilbab dari tetangganya. Hal itu karena apa yang diriwayatkan oleh imam Muslim di dalam shahih-nya dari Ummu Athiyyah, ia berkata:
أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِيْ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى، اَلْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُوْرِ، فَأَمَا الْحَيّضُ فَيَعْتَزلْنَ الصَّلاَةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ، وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِيْنَ. قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ إِحْدَانَا لاَ يَكُوْنُ لَهَا جِلْبَابٌ، قَالَ: لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا
"Rasulullah saw memerintahkan kami agar kami mengeluarkan pada hari Idul Fitri dan Idul Adha, perempuan yang dipingit, wanita uang sedang haidh dan yang memiliki halangan (udzur). Adapun wanita haidh maka ia memisahkan diri dari sholat dan menyaksikan kebaikan dan seruan terhadap kaum Muslimin." Aku katakan: "ya Rasulullah, salah seorang dari kami tidak memiliki jilbab." Beliau bersabda "hendaklah saudaranya meminjaminya jilbabnya."
Kerudung
Kerudung adalah penutup kepala yang menutupi rambut, leher dan bukaan baju "al-jayb". Allah SWT berfirman:
  وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ
"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya." (TQS. an-Nur [24]: 31)
Yakni hendaklah mereka mengulurkan penutup kepala mereka atas leher dan dada mereka, untuk menyembunyikan bukaan gamis dan bukaan baju berupa leher dan dada.

Tabarruj
Tabarruj secara bahasa adalah menampakkan perhiasan dan kecantikan kepada laki-laki (asing). Di dalam Lisan al-'Arab dikatakan, at-tabarruj berarti menampakkan perhiasan kepada orang asing: Tabarruj itu tercela, sedangkan kepada suami tidak.
Allah SWT berfirman:
 وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ
Janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan (QS an-Nur [24]: 31).
Jadi, janganlah seorang wanita memukulkan kakinya dengan keras ke tanah saat dia berjalan agar gelang kakinya mengeluarkan suara sehingga kaum laki-laki tahu dan melihatnya, bahwa wanita tersebut memakai perhiasan di pergelangan kakinya di bawah pakaiannya. Semua ini menunjukkan bahwa tabarruj itu secara bahasa dan syar'i adalah perhiasan yang menarik perhatian. [tdk]



Oleh : Jaya Wijaya

Mercusuarumat.com. Ada Yang Menarik Pada Orasi Aksi Damai Bela Bendera Tauhid Di Jakarta, Jumat (26/10/18).

Tidak Hanya Memberikan Semangat, Salah Satu Orator Yakni Jubir HTI, Ustadz Ismail Yusanto Memberikan Orasi Dengan Kemampuan Dakwah Dan Komunikasi Tingkat Tinggi.

Di Sela Orasinya, Ustadz Ismail Setidaknya Melakukan 3 Tahap Penyadaran Secara Sekaligus Dalam Waktu Kurang Dari 10 Menit.

1. Ustadz Ismail Memberikan Edukasi Mengenai Dalil Al Liwa Dan Ar Rayah Sebagai Jawaban Dari Tuduhan Pihak Yang Menyatakan Hadits Mengenai Al Liwa Dan Ar Rayah Adalah Dhaif. Padahal, Menurut Penjelasan Ustadz Ismail, Hadits Mengenai Al Liwa Dan Ar Rayah Adalah Maqbul.

2. Ustadz Ismail Langsung Memahamkan Ribuan Peserta Aksi Damai, Seperti Apa Itu Al Liwa Dan Seperti Apa Itu Ar Rayah.

3. Tahap Inilah Yang Menurut Saya Merupakan Tahapan Paling Cerdas, Lugas, Dan Tegas. Seperti Apa Bentuknya? Berikut Pemaparannya.

Setelah Melakukan Penjelasan Mengenai Status Hadits Dan Bagaimana Ciri Ciri Fisik Al Liwa Dan Ar Rayah, Ustadz Ismail Langsung Mengecek Apakah Pesan Edukasi Yang Disampaikan Dirinya Sampai Atau Tidak Kepada Peserta Aksi Damai. Dalam Komunikasi, Hal Ini Untuk Melihat Apakah Pesan Dari Komunikator ( Penyampai Pesan ) Direspon Positif Oleh Komunikan ( Penerima Pesan ).

Ustadz Ismail : "Sekarang, Angkat Ar Rayah Nya Tinggi Tinggi". Maka Serentak Ribuan Peserta Aksi Damai Mengibarkan Bendera Hitam Bertuliskan Kalimat Tauhid Putih Tinggi Tinggi.

Lalu Ustadz Ismail Mengatakan : "Lalu Sekarang, Angkat Al Liwa Nya Tinggi Tinggi." Lalu Serentak Ribuan Peserta Aksi Damai Mengibarkan Bendera Putih Bertuliskan Kalimat Tauhid Warna Hitam.

Yang Menarik Adalah Ucapannya Yang Selanjutnya.
Ustadz Ismail : "Sekarang, Angkat Bendera HTI Tinggi Tinggi. Angkat Bendera HTI ! Angkat Bendera HTI ! Angkaaaatttt !!!"

Dan Tidak Ada Satu Orang Pun Dari Ribuan Peserta Aksi Damai Yang Mengibarkan Bendera Apapun.

Dalam Waktu Kurang Dari 10 Menit, Ustadz Ismail Mampu Memahamkan Ribuan Orang Mengenai Al Liwa Dan Ar Rayah, Sekaligus Mematahkan Argumen Mengenai Bendera HTI. Dalam Komunikasi, Ustadz Ismail Berhasil Mendapatkan Respon Positif Komunikan. Dari Sisi Konteks Tujuan Komunikasi, Ustadz Ismail Juga Mengubah Pemahaman, Sikap, Dan Tingkah Laku Ribuan Peserta Komunikasi.

Dan Yang Paling Spektakuler Adalah Ucapannya Yang Terakhir. Dalam Dunia Dakwah, Hal Ini Mungkin Bisa Terkategori Kasyful Khutot Dan Dharbu Alaqah, Yakni Membongkar Makar Dan Memutuskan Kepercayaan. Terhadap Apa? Terhadap Kebohongan Yang Dilakukan Oleh Penguasa Yang Zhalim.

Ustadz Ismail : "Jadi, Yang Mengatakan Al Liwa Dan Ar Rayah Itu Bendera HTI Itu Apa?" Serentak Ribuan Massa Meneriakan : "Bohoooongggg !!!"

Saya Jadi Iri Kepada Anggota HTI, Memiliki Jubir Yang Bukan Hanya Mampu Meningkatkan Semangat Dalam Orasinya, Tapi Sekaligus Bisa Mencerdaskan, Memahamkan, Dan Sekaligus Bisa Membongkar Makar Dan Memutuskan Kepercayaan Ribuan Peserta Aksi Damai Terhadap Kebohongan Penguasa Zhalim.

Maka, Saya Menilai Tidak Berlebihan Dan Sangat Pas Sekali Ketika Jubir Persaudaraan Alumni 212, Habib Novel Bamukmin Mengatakan : UMAT ISLAM HARUSNYA BERTERIMA KASIH KE HTI

Saya Jadi Ingin Ikut Mengatakan : "Ehm Anggota HTI, Meski Badan Hukum Organisasi Anda Dicabut, Pekerjaan Anda Justru Jadi Lebih Banyak. Sebab Kepercayaan Umat Sudah Di Depan Mata. Anda Mesti Jadi Ustadz Ismail Ustadz Ismail Berikutnya***



Oleh : Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra

Mercusuarumat.com. Biasakanlah berucap dengan dilandasi keputusan hukum, jika merasa seorang warga negara yang taat hukum. Karena tidak ada satupun keputusan hukum yang menyebutkan HTI ormas terlarang.

Terus darimana ribut-ribut HTI Ormas terlarang ?

Itu adalah fitnah yang disebar untuk mem-by pass pemusnahan HTI. Fitnah yang disebar agar masyarakat termakan isu bahwa HTI adalah ormas terlarang. Bagi yang masih beranggapan HTI adalah ormas terlarang, silahkan sampaikan satu dokumen keputusan hukum, atau dokumen negara yang menyatakan HTI adalah ormas terlarang.

Tapi sudah dicabut BHP (Badan Hukum Perkumpulan) nya ?

Inilah opini jahat. Padahal dalam prosedur keormasan di negara ini, punya BHP itu hanyalah pilihan, bukan kewajiban. Ada ribuan organisasi kemasyarakatan di negara ini yang tidak mengurus BHP-nya. Dan itu sah-sah saja menurut hukum keormasan.

Jadi jikapun salah satu ormas dicabut BHP-nya, itu bukanlah vonis Ormas Terlarang, tapi cuma vonis administrasi pencabutan BHP tok. Sampai disini paham kan ???

Begitu juga dengan Dakwah Syariah dan Khilafah. Tidak ada satu dokumen keputusan hukum ataupun dokumen negera yang menyatakan bahwa dakwah syariah dan Khilafah adalah dakwah yang terlarang.

Opini terlarangnya Dakwah Syariah dan Khilafah ini muncul dari asumsi sepihak dari pemerintah bahwa dakwah Syariah dan Khilafah ini memenuhi hal yang terlarang pada UU Ormas yang baru. Padahal ini di UU Ormas itu yang terlarang adalah : Komunisme, Leninisme, Atheisme, Marxisme, dan ajaran lain yang bertentangan dengan Pancasila. Dakwah Syariah dan Khilafah itu kemudian dimasukkan sebagai ajaran yang bertentangan dengan Pancasila. Ini asumsi sepihak, karena belum ada keputusan pengadilan yang secara sah melalui peradilan bahwa dakwah Syariah dan Khilafah itu bertentangan dengan Pancasila.

Intinya, ini adalah upaya membangun asumsi menjadi kebenaran, walau tidak berpijak pada dokumen resmi dari pengadilan atau dari negara. Ini sama kasusnya dengan menyebar opini seseorang itu tukang santet kepada masyarakat. Padahal belum ada pembuktian. Sehingga ketika masyarakat termakan opini ini, maka masyarakat tidak memerlukan lagi pembuktian dan ikut bersama menghakimi si tertuduh tukang santet.

Berapa kali kejadian begini berakhir dengan penyesalan ?

Ada tertuduh maling, dibakar hidup-hidup oleh massa yang termakan tuduhan tanpa memperdulikan pembuktian, namun ternyata yang dituduh bukan maling. Ada tertuduh melarikan ampli mesjid, dihajar masa hingga mati, padahal bukan maling, tapi seorang service alat elektronik yang kebetulan shalat di mesjid sambil membawa ampli yang hendak di servisnya.
Jadi, biasakanlah memeriksa setiap tuduhan-tuduhan, opini-opini. Jangan termakan tuduhan atau opini yang tidak punya landasan hukum.

Kesimpulan :

Prof Yusril Ihza Mahendra, seorang pakar hukum tata negara saja sudah menyampaikan dengan jelas bahwa HTI sampai saat ini bukanlah ormas terlarang. Artinya apa ? Secara hukum, memang HTI itu bukan ormas terlarang.

Jadi yang terus menuduh HTI ormas terlarang adalah oknum atau pihak yang menuduh diluar hukum, atau mengadili sendiri diluar pengadilan.



Mercusuarumat.com. Penyebaran berita bohong atau hoaks adalah tercela dalam pandangan Islam, pun melanggar konstitusi yang telah disepakati oleh negara.

Hoaks adalah musuh bersama. Siapa saja yang mentolelir penyebaran hoaks ia harus diadili. Pemerintahan dalam hal ini sudah lama mengkampanyekan "Perang Melawan Hoaks" dengan hastag terkenal #TurnBackHoax. Bahkan dikeluarkan UU khusus untuk berantas kejahatan ini, yakni UU ITE, terkhusus Pasal 28,  Namun sayang, komitmen pemerintah dalam memberantas hoaks perlu digugat bersama.

Mengapa? Pemerintahan dinilai berat sebelah dan tebang pilih dalam memberantas hoaks. Lihat bagaimana jika yang menyebarkan hoaks adalah dari kubu kontra pemerintah! Dipastikan secara cepat penyebarnya ditangkap dan diadili. Sebagaimana yang dialami emak-emak muslimah inisial Rin (37), yang diadili karena menyebar foto editan PDIP tak perlu suara umat muslim. Ia dihukum pidana 6 bulan penjara subsider denda 1 juta rupiah atau pengganti satu bulan kurungan. Begitu juga yang dialami Jonru , Buni Yani, Alfian Tanjung, Asma Dewi bahkan Achmad Dani.

Mari lihat jika penyebar hoaks dari kubu pro pemerintah. Seakan-akan pemerintah mengulur-ngulur penangkapan bahkan dengan mudahnya terlepas dari jeratan hukum. Misalkan, hoaks jahat bin biadab yang dikampanyekannya oleh Pimpinan GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Sampai saat ini ia belum juga diadili, padahal dengan terang-terangan ia menyebar berita bohong bahkan mendikte anggotanya untuk menyebarkan hoaks. Hoaks yang ia kampanyekan adalah mengatakan bahwa bendera bertuliskan kalimat tauhiid adalah bendera HTI. Padahal dengan sangat jelas dalam hadits, bendera yang disebutkan oleh Yaqut adalah bendera kaum muslimin. Sebagaimana penjelasan hadits yang diturunkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, Al-Rayah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam dan al-Liwa’ beliau berwarna putih (HR. Al-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Thabarani dan Abu Ya’la). Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu juga menuturkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah pada hari Fathu Makkah dan al-Liwa’ beliau berwarna putih (HR. Al-Tirmidzi, Al-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

Begitupun dengan Permadi Arya atau sering disebut Abu Janda. Ia seringkali mengkampanyekan pemberantasan hoaks namun di sisi lain iapun sering dianggap penyebar hoaks, namun sayangnya sampai sekarang Abu Janda bebas berkeliaran. Padahal banyak pihak yang melaporkan ia ke polisi terkait penyebaran hoaks.

Salah satunya, hoaks utang luar negeri Indonesia. Dalam penyebaran video hoaksnya, Abu Janda memanipulasi utang luar negeri Indonesia, dengan terang-terangan ia mendeskreditkan pemerintah SBY dengan menyebut SBY Raja Utang. Dalam vlognya ia mengagung-agungkan pemerintah Jokowi dan Megawati, ia memasukan data dan fakta mengenai jumlah utang luar negeri pada masa Jokowi dan Megawati, namun memasukan data hoaks mengenai jumlah utang luar negeri pada masa SBY, Hingga akhirnya ia dilaporkan oleh Wasekjen Partai Demokrat, Rachland Nashidik. Namun, sampai sekarang ia tak dipenjara.

Penegakan hukum negeri ini telah dikenal cacat dari dulu. Era Jokowi makin mencoreng penegakan keadilan negeri ini. Salah satunya UU ITE ini. Penanganan hoaks begitu cepat bagi mereka kontra Jokowi dan terkesan lambat bagi pro Jokowi.

Masih mau memilih pemimpin zalim ini?
Dan, masih percaya dengan hukum cacat, demokrasi? [IW]



Mercusuarumat.com. Cikarang. Sebagaimana komando ulama hari ini, Jum'at (26/10) umat muslim Indonesia akan gelar Aksi Bela kalimat Tauhid. Aksi yang diinisiasi puluhan ormas islam se Indonesia ini diprediksi akan dipadati oleh ratusan ribu umat muslim nusantara. Mereka akan melakukan longmarch dari istiqlal menuju patung kuda monas dan berakhir di kantor menkopolhukam.

Sebagaimana pantauan, Kereta Commuter Line keberangkatan Cikarang pagi ini (26/10/2018) menuju jakarta dipenuhi penumpang beratribut tauhid. Dari mulai topi tauhid, jaket tauhid, syal tauhid, dll. Ketika ditanya, mereka menjawab akan hadir ke acara Aksi Bela Tauhid di Patung kuda Silang Monas siang hari ini. Mereka datang dengan alasan karena tuntutan iman dan ghirah islam. Salah satunya disampaikan Guntur salah satu penumpang beratribut topi tauhid. "Yaa (datang ke aksi) karena panggilan iman dan ghirah islam saya terpanggil. Melihat kalimat tauhid dibakar sengaja, saya tidak rela" tegasnya.

Sebelumnya Imam besar Umat Islam Indonesia, Habib Riezieq Shihab menyerukan umat islam Indonesia untuk menggelar aksi bela tauhid di setiap daerah menyusul pembakaran bendera tauhid dengan sengaja oleh oknum banser garut pada hari santri nasional lalu. AFM



Saya secara khusus perlu memberi pernyataan dan klarifikasi sebagai berikut :

1|. Bendera Tauhid adalah Bendera Rasulullah, yakni Bendera yang bertulis Lafadz : لا إله إلا الله محمد رسول الله
Terdapat banyak dalil mengenai hal ini, diantaranya berdasarkan hadits :

«كَانَ لِوَاءُ -صلى الله عليه وسلم- أَبْيَضَ، وَرَايَتُهُ سَوْدَاءَ»

“Bendera (liwâ’) Rasulullah –shallaLlâhu ’alayhi wa sallam– berwarna putih, dan panjinya (râyah) berwarna hitam.” (HR. Al-Hakim, al-Baghawi, al-Tirmidzi. Lafal al-Hakim)

2|. Bendera yang dibakar anggota Banser di Garut adalah bendera dengan kain dasar berwarna hitam, berbentuk persegi panjang, dan didalam bendera tersebut tertulis Lafadz: لا إله إلا الله محمد رسول الله
Tidak terdapat redaksi atau lafadz lain didalam bendera yang dibakar, sehinga jelas bahwa bendera dimaksud adalah bendera Rasulullah, bendera tauhid, bendera umat Islam.

3|. Adapun klaim bahwa bendera yang dibakar Banser dianggap bendera HTI adalah keliru, disebabkan :

Pertama, tidak ada redaksi atau tulisan HTI didalam bendera dimaksud, sebagaimana bendera lain yang mencirikan organisasi tertentu.

Kedua, HTI secara resmi menyatakan itu bukan bendera HTI. Hal ini juga dikuatkan melalui dokumen AD ART HTI, yang badan hukumnya telah dicabut oleh kemenkumham.

Ketiga, bendera dengan Lafadz tauhid adalah milik umat Islam dan demi hukum menjadi domain publik, tidak boleh dan tidak bisa diklaim oleh ormas atau organisasi tertentu.

4|. Adapun klaim kepolisian yang menyebut itu bendera HTI berdasarkan keterangan saksi, tidak dapat dibenarkan dikarenakan :

Pertama, saksi yg diperiksa adalah saksi fakta bukan ahli. Untuk menerangkan realitas kepemilikan dan hak eksklusif pada simbol atau lambang tertentu adalah domain ahli, bukan saksi. Saksi fakta hanya dibatasi menerangkan fakta realitas bendera yang dibakar yakni bendera dengan kain dasar berwarna hitam, berbentuk persegi panjang, dan didalam bendera tersebut tertulis Lafadz:
لا إله إلا الله محمد رسول الله

Kedua, telah ada keterangan dari pihak yang berkompeten yakni Majelis Ulama Indonesia, yang menerangkan itu bukan bendera HTI karena tidak ada tulisan HTI.

5|. Karena itu jika ada pernyataan yang menyebut delik penodaan agama berdasarkan ketentuan pasal 156a KUHP pada kasus pembakaran bendera tauhid di Garut dihentikan hanya dengan dalih bendera yang dibakar adalah bendera HTI, bukan bendera yang menjadi simbol agama tertentu yang diakui di Indonesia, bukan bendera dan simbol agama Islam, bukan bendera Rasulullah, bukan bendera umat Islam, adalah pernyataan keliru, menyesatkan dan tidak dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Demikian pernyataan disampaikan.

Jakarta, 26 Oktober 2018

Ahmad Khozinudin, S.H.
Ketua LBH PELITA UMAT
HP/WA. 0821.2204.5279



Oleh: Nasrudin Joha

Mercusuarumat.com. Kalian Anggap urusan ini selesai ? Kalian minta umat segera diam dan menganggap masalah selesai, setelah cecunguk dan begundal pembakar bendera tauhid di bebaskan ? Tidak pernah mengunggah sepatah kata pun permintaan maaf ? Lantas apa kalian masih mengganggap kami waras ?

Kalian meminta persoalan ini diserahkan kepada hukum ? Setelah itu bisa kalian olah bersama para aparat penenggak hukum ? Berapa laporan harus dibuat ? Apakah menunggu semua umat Islam marah, baru proses penegakan hukum berjalan benar ?

Kalian terus berlindung dibalik 'gelar perkara', kalian terus berbusa dengan dalih 'berdasarkan keterangan saksi' dan bahkan kalian melumpuhkan logika kami, menjadi bodoh sebodoh bodohnya dengan ungkapan 'PEMBAKAR BENDERA TAUHID DIBEBASKAN KARENA TIDAK ADA NIAT JAHAT'.

Sejak kapan penyidikan menerawang hati penjahat ? Sejak kapan 'ada atau tidaknya niat jahat' menjadi alasan pembenar dan pemaaf bagi pelaku tindak pidana ? Apakah teori kesengajaan baik dengan sadar maksud, tujuan dan sadar kemungkinan sudah dihapus ? Bukankah yang harus di kejar adalah 'sengaja nya' bukan mengejar 'niat jahatnya'. Sejak kapan penenggak hukum merangkap tugas, dari penyidik sekaligus ahli hukum ? Dari pencari tersangka menjadi pencari alasan melepaskan tersangka ?

Apakah dengan dalih 'tidak ada niat jahat' semua kasus kecelakaan, yang karena kelalaian menyebabkan orang lain luka hingga meninggal dunia tidak perlu diproses ? Bukankah tidak ada seorang pun yang mempunyai niat jahat untuk mencelakakan orang lain dalam berlalu lintas ? Bukankah setiap kecelakaan tetap saja di proses hukumnya ?

Ayolah penenggak hukum, Ayolah negara, Ayolah Banser, kami hanya ingin pembakar kalimat tauhid dihukum. Kenapa kalian begitu gigih membelanya ? Apakah kalian mau bertaruh distabilitas bangsa hanya demi melindungi gerombolan begundal pembakar bendera tauhid ? Apakah kalian mengabaikan seruan umat Islam yang tersakiti dan menjadi korban kebiadaban pembakar bendera tauhid ?

Ingat ! Semakin kalian ngarang, semakin berdusta, semakin terbuka borok kalian. Semakin kalian membela, semakin kuat tuntutan umat Islam. Kami, bukanlah keledai bukan pula bangkai keledai yang dibungkus kain kafan. Kami adalah umat Islam, kami adalah generasi Islam cucu cucu dari Zaid Bin Haritsah, cucu cucu Ja'far bin Abu Thalib, cucu cucu Abdullah Bin Rawahah.

Wahai kaum muslimin, penuhilah seruan aksi bela Tauhid di manapun diadakan. Penuhilah, seruan kalimat tauhid yang meminta pembelaan kalian. Penuhilah, seruan Kemulian Islam dan kaum muslimin yang menanti pertolongan kalian.

Bergeraklah ! Buatlah penguasa melihat, bahwa umat Islam tidak terima dengan kezaliman yang dipertontonkan. Umat Islam menuntut pembakar bendera tauhid dihukum dengan seberat-beratnya. Umat Islam tidak terima selaku dikalahkan dan 'dibodohi' dengan berbagai pernyataan menyesatkan.

Penuhi seruan aksi bela bendera tauhid, dengan mengibarkan Al Liwa dan Ar Roya. Kita tunjukkan, kebesaran dan kemuliaan kalimah tauhid. Kita tunjukkan, umat Islam bersatu. Umat Islam bukan keledai.

Sekali lagi, rezim ini harus dibuat menyesal karena telah meremehkan umat Islam. Rezim represif dan anti Islam dibawah kendali Jokowi ini harus diberi pelajaran. Mereka, tidak boleh tidur dan terbahak melihat penghinaan pada bendera tauhid. Mereka harus selalu terjaga dan dihantui ketakutan.

"Jika Agamamu dihina engkau Tetap diam, maka pakailah kain kafan" (BUYA HAMKA). "Jika dibuat marah tapi engkau tidak marah, maka sama saja dirimu seperti keledai" (IMAM SYAFI'I).

"Jika engkau diam dan tidak marah, padahal bendera tauhid telah dibakar dan dihinakan. Maka sesungguhnya, engkau bukan manusia, engkau hanyalah bangkai seekor keledai yang dibungkus kain kafan" [NASJO].




Oleh : Nasrudin Joha

Mercusuarumat.com. Luar biasa penenggak hukum di negeri ini, mereka secara terbuka menyakiti hati umat Islam. Bagaimana mungkin pembakar bendera tauhid di bebaskan ? Bagaimana mungkin dengan dalih 'tidak ada niat jahat pelaku durjana yang membuat marah kaum muslimin dibiarkan bebas berkeliaran ?

Ingat ! Kami masih 'bisa terima' saat KPK melepaskan korupsi Ahok, dengan dalih tidak ada niat jahat pada kasus RS Sumber Waras. Kami masih bisa diam, saat uang negara dari pajak rakyat dijadikan bancakan. Kami masih bisa menahan diri, ketika korupsi freeport hanya dijadikan pajangan. Kami masih tetap bersabar, ketika anggaran negara banyak dikorupsi para pejabat.

Kami bisa diam, kalian bancakan duit e KTP. Kalian obral duit bakamla, kalian berbagi kue proyek PLTU Riau. Membobol APBN dan APBD, jual izin ini dan itu, menggadaikan aset ini dan itu.

Tapi kami sungguh tidak ridlo dunia akhirat, bendera tauhid kami dibakar, sedang pelakunya dibebaskan HANYA DENGAN DALIH TIDAK ADA NIAT JAHAT, HANYA DENGAN DALIH YANG DIBAKAR BENDERA HTI.

Wahai penenggak hukum, kami masih bisa tidak ungkit buku merah yang melibatkan pimpinan kalian. Kami masih terus menahan diri dengan kasus-kasus kriminalisasi yang menimpa ulama kami, aktivis kami, tokoh-tokoh kami.

Tapi itu semua tidak berlaku bagi bendera tauhid. Kalimah tauhid adalah simbol kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Sementara Banser telah melecehkan, tidak meminta maaf, bahkan justru sibuk mengumbar fitnah pada pihak lainnya.

Induk samang Banser, bukannya menjewer Banser, justru melindungi dan menuding pihak lainnya. MUI dikecam, Muhammadiyah dikecam, seolah NKRI ini milik mereka saja. Prestasi apa yang mereka banggakan saat ini, selain melindungi Peninsa agama ?

Tidak tersisa secuilpun sikap ksatria dan jiwa pahlawan peninggalan para pendahulunya, apalagi berkhidmat dan menjaga kewaro'an. Semua telah menjadi penyembah berhala dunia, semua telah menjadi Bal'am, semua telah menjadi antek-antek Fir'aun abad ini.

Wahai penguasa zalim, kalian puas dengan ketidakadilan yang dipertontonkan ? Kalian senang dengan menyulut segenap emosi dan kemarahan ? Kalian merasa besar dan mengesampingkan kami umat Islam di negeri ini ?

Baiklah, sebagaimana sumpah yang kami ikrarkan, kami akan bayar kontan perniagaan ini. Kami akan jaminkan, seluruh harta, keluarga dan anak keturunan Kami untuk berjuang membela kalimat tauhid. Kami akan berikan semua hidup kami, juga kematian yang juga pasti menjemput kami, untuk diwakafkan dalam perjuangan membela kalimat tauhid.

Cukup sudah apa yang kami lihat, kemarahan kami memuncak. Andai saja kami mencebur kelaut, niscaya air laut mendidih karena tak kuasa meredam kemarahan ini.

Baiklah, kalian yang meminta. Kalian tidak mau penyelesaian sederhana : meminta maaf dan menghukum pembakar bendera tauhid. Kalian telah mengambil pilihan lain : tetap berlaku congkak dan memamerkan kuasa dengan melepaskan pelaku pembakar bendera tauhid.

Ya Allah, saksikanlah urusan ini. Jadilah pihak, yang menyaksikan pembelaan kami pada agamaMu, pada kalimat tauhidMu, pada Al Liwa dan Ar Roya NabiMu.

Hasbunallah Wani'mal Wakil, Ni'mal Maula Wa Ni'man Nashier. [].


DR. H. Abdul Chair Ramadhan, SH, MH.
Ahli Hukum Pidana

Berbagai aksi sweeping yang dilakukan oleh GP Ansor melalui Banser terhadap bendera berkalimat Tauhid telah menuai keonaran dimasyarakat. Keonaran tersebut menunjuk pada aksi pembakaran bendera berkalimat Tauhid di Garut. Pembakaran tersebut adalah perbuatan penodaan terhadap agama Islam sebagaimana diatur dalam Pasal 156a huruf a KUHP.

Dengan adanya aksi pembakaran bendera berkalimat Tauhid, maka telah terjadi dua peristiwa pidana, pertama, penodaan agama Islam dan kedua, terbitnya keonaran di masyarakat.

Pada yang tersebut kedua, terbitnya keonaran di masyarakat, disebabkan adanya perbuatan “menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong” yang dilakukan oleh pimpinan GP Ansor. Perihal tentang menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong – yang lazim disebut dengan istilah hoaks – diatur dalam Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana sebagaimana telah dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 73 Tahun 1958, yang berbunyi :
“Barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggi-tingginya sepuluh tahun.”

Perbuatan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong ini disertai dengan aksi sweeping di berbagai daerah yang dilakukan secara massif dan terstruktur. Padahal, Ormas tidak diperkenankan melakukan aksi sweeping, hal ini didasarkan pada ketentuan Pasal 59 ayat (3) huruf d Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2017 Tentang Ormas, disebutkan bahwa Ormas dilarang melakukan kegiatan yang menjadi tugas dan wewenang penegak hukum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Aksi sweeping yang dilakukan oleh GP Ansor melalui Banser telah mengambil alih tugas dan wewenang penegak hukum.

Merujuk pada ketentuan Pasal 60 UU Ormas, aksi sweeping yang dilakukan oleh Banser terancam dijatuhi sanksi administratif dan/atau sanksi pidana.

Bendera berkalimat Tauhid dikatakan oleh pimpinan GP Ansor sebagai bendera HTI. Pernyataan bendera berkalimat Tauhid sebagai bendera HTI juga disampaikan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dalam surat Pernyataan Sikap Tentang Peristiwa di Garut (24/10/2018). Padahal bendera berkalimat Tauhid adalah “Arrayan” dan “Alliwa” yang merupakan bendera Rasulullah SAW, jadi bukan milik HTI semata, melainkan milik semua umat Islam. MUI menyatakan bahwa "dalam perspektif MUI karena tidak ada tulisan 'Hizbut Tahrir Indonesia', maka kita mengatakan kalimat tauhid..." (23/10/2018).

Menyikapi kasus pembakaran bendera berkalimat Tauhid yang terkait dengan timbulnya akibat keonaran dimasyarakat, teori hubungan kausalitas menjadi rujukan guna menilai sebab-musabab dari suatu akibat.

Dalam ajaran hukum pidana, teori hubungan kausalitas digunakan pada tindak pidana yang dirumuskan secara materiil dan akibat yang ditimbulkan merupakan unsur tindak pidana. Teori hubungan kausalitas dimaksud adalah teori generalisir dan teori individualisir. Baik teori generalisir maupun individualisir hanya mencari satu saja dari sekian banyak sebab, yaitu perbuatan manakah yang menimbulkan akibat yang dilarang oleh undang-undang. Perbedaannya adalah, pada teori generalisir melihat sebab secara in abstracto, menurut perhitungan yang layak yang akan menimbulkan suatu akibat, sedangkan teori individualisir melihat sebab secara in concreto atau post factum.

Menurut penulis, sebab yang paling utama atau yang paling berpengaruh adalah
pernyataan “bendera berkalimat Tauhid adalah bendera HTI” dan kemudian diringi aksi sweeping di berbagai daerah. Dengan kata lain, dapat dikonstruksikan bahwa aksi sweeping yang berujung pada pembakaran bendera berkalimat Tauhid didasarkan pada pernyataan pimpinan GP Ansor bahwa bendera berkalimat Tauhid adalah bendera HTI.

Pernyataan tersebut adalah “tidak benar alias bohong,” yang kemudian menimbulkan akibat berupa keonaran di masyarakat. Dengan demikian unsur “menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong” menunjuk pada pernyataan pimpinan GP Ansor tersebut.

Selanjutnya, frasa “dengan sengaja” pada Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 menurut ajaran hukum pidana, mencakup tiga corak (gradasi) kesengajaan baik dengan maksud (als oogmerk), dengan sadar kepastian (dolus directus) atau dengan sadar kemungkinan (dolus eventualis). Walaupun dirinya tidak dengan maksud (menghendaki) akibat yang timbul berupa keonaran di masyarakat, melainkan hanya untuk bermaksud melakukan sweeping namun akibat yang timbul berupa keonaran di masyarakat telah terjadi.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa memang perbuatan sweeping dikehendaki, sebagaimana terjadi diberbagai daerah, namun timbul akibat berupa keonaran dimasyarakat, walaupun tidak dikehendaki terjadi, menurut hukum termasuk perbuatan dengan sengaja. Apakah termasuk dengan sadar kepastian atau dengan sadar kemungkinan, adalah tugas Penuntut Umum untuk mengkonkritkannya lebih lanjut dalam dakwaan, yang jelas akibat keonaran sudah ada, sebab adanya berita atau pemberitahuan bohong tersebut. Oleh karena itu, pimpinan GP Ansor yang menyampaikan kebohongan tersebut harus bertanggungjawab secara hukum. Kepadanya dimintakan pertanggungjawaban pidana, sebab telah menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong yang mengakibatkan keonaran di masyarakat sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 14 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1946.

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget