Agar Mereka Tidak Jumawa



AGAR MEREKA TIDAK JUMAWA
___
Oleh: Irkham Fahmi al-Anjatani

Banyaknya perlakuan diskriminatif terhadap tokoh-tokoh Islam tidak akan berlangsung lama. Saya yakin itu. Ulama-ulama yang saat ini menjadi korban intimidasi rezim, difitnah sebagai pemakar, suatu saat nanti akan terpampang namanya sebagai Pahlawan negara.

Abu Bakar Ba'asyir, Habib Rizieq, Ismail Yusanto dan yang lainnya, beberapa dekade ke depan akan terpampang namanya sebagai pejuang kedaulatan Indonesia.

Ini bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Sejarah sudah membuktikannya. Para ulama yang kritis menentang kebijakan-kebijakan zolim penguasa di masa orde lama, misalnya, mereka dikriminalisasi, dipenjara dan disiksa, namun saat ini namanya harum tercatat sebagai Pahlawan bangsa. Buya Hamka adalah contohnya.

Beliau adalah ulama dan penulis yang sudah terjun ke dunia politik sejak tahun 1925, serta ikut perang gerilya melawan Belanda di Medan pada 1945. Ia pernah menjadi Ketua Barisan Pertahanan Indonesia dan anggota Konstituante Masyumi pada 1947. Pada 1957 ia diangkat menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia, tetapi meletakkan jabatannya pada tahun 1981.

Pada hari Senin tanggal 12 Ramadhan 1385, bertepatan dengan 27 Januari 1964 kira-kira pukul 11 siang, Buya Hamka dijemput paksa, ditangkap dan ditahan.

Saking semangatnya memperjuangkan tegaknya Hukum Islam, di zaman Soekarno yang begitu kental dengan aroma PKI'nya, Buya Hamka difitnah sebagai pemecah belah negara. Partai Masyumi yang menjadi kendaraan politiknya dibubarkan, sementara beliau sendiri ditangkap dan dipenjarakan, atas tuduhan makar dan hendak menjual Indonesia ke Malaysia.

Dengan ditodong senapan, di meja interogasi Buya Hamka dipaksa untuk mengakui tindakan makarnya. Walaupun berulangkali beliau mengatakan tidak, sang interogator tetap saja menyudutkannya. Lima belas hari lamanya Buya Hamka diinterogasi dan diteror mentalnya.

Rezim Soekarno benar-benar menjadi pesakitkan bagi Buya Hamka. Tokoh-tokoh yang memperjuangkan Negara Islam disisir habis, termasuk beliau sendiri. Mereka difitnah sebagai pengancam kedaulatan negara. Meski begitu, bukannya melemah Buya Hamka dan tokoh-tokoh lainnya justru semakin lantang menyuarakan Islam.

Meski raganya terpenjara, semangat perjuangan Buya Hamka tidak sedikitpun reda. Terbukti, selama di dalam penjara itulah Buya mampu menulis bukunya berjilid-jilid, yang sering dikenal dengan Tafsir Al-Azhar. Penjara boleh saja menahan raganya, tetapi tidak untuk pemikirannya.

Akhirnya, walaupun rezim Soekarno memvonis Buya Hamka sebagai pemberontak negara, kini, beberapa dekade setelah tumbangnya rezim orde lama, pada 18 November 2011, oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Buya justru ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Sangat menggemparkan, seorang tokoh dari partai yang sudah divonis terlarang oleh negara, justru saat ini dinobatkan sebagai Pahlawan nasional.

Begitulah waktu menjawab perjuangan orang-orang yang beriman. Mereka yang saat ini dengan pongahnya menuduh HTI dan Habib Rizieq sebagai pemberontak negara pun, saya yakin, kelak di kemudian hari akan terbelalak matanya. Sebagaimana yang dialami Buya Hamka, suatu saat nanti waktu akan menetapkan status Kepahlawanannya.

Allaahumma arinal haqqo haqqon

#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
Cirebon, 30 September 2018

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget