Dramaturgi Politik



Oleh : Ahmad Sastra

Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada yang peran wajar, ada peran berpura-pura
Mengapa kita bersandiwara

[Achmad Albar, Panggung Sandiwara : 1990]

Jauh sebelum Achmad Albar melantunkan lagu Panggung Sandiwara, Erving Goffman dalam karyanya Presentation of Self in Everyday Life [1959] telah terlebih dahulu mengemukakan teori dramaturgi. Goffman mengemukakan bahwa teatre dan drama mempunyai makna yang sama dengan interaksi sosial dalam kehidupan manusia. Dramaturgy is a sociological perspective commonly used in micrososiological accounts of social interaction in everyday life.

Dalam perspektif teori dramaturgi Goffman, Politik demokrasi tak ubahnya juga seperti panggung sandiwara, dimana masyarakat menonton berbagai macam perilaku para pemimpin dan politisi. Banyak peran antagonis yang dimainkan seperti peran penipu, pembohong, berpura-pura, bermewah-mewah, pencitraan, pemarah, berkhianat, hingga perkelahian di meja persidangan.

Modal simbolik seorang politisi atau pemimpin untuk meraup suara dalam demokrasi meniscayakan dramatisasi perilaku. Dramaturgi politik demokrasi lebih jauh lagi dapat dipahami sebagai fatamorgana politik dimana kondisi politik ditekan pada derajat serendah-rendahnya dan secara keseluruhan terserap habis ke dalam percaturan mekanisme citra dan tanda-tanda [Halim, 2014].

Drama Ratna Sarumpaet misalnya. Meski pengakuan atas kebohongannya hanya untuk konsumsi keluarganya. Namun saat informasi itu merembes ke publik, sementara dirinya sebagai publik figure, maka seketika langsung menjadi santapan drama politik demokrasi. Kedua kubu capres langsung beraksi bagai drama horor yang serem ditonton.

Sontak pengakuan Ratna menjadi tontonan horor bagi rakyat. Sebab selama ini dalam drama politik, rakyat memang hanya diposisikan sebagai penonton yang setiap saat mudah untuk ditipu. Apalagi jika datang masa kampanye, berbagai janji melangit dilontarkan mulut-mulup politisi hingga berbusa, namun pada akhirnya, rakyat hanya tertipu dan tertipu.

Dramaturgi politik demokrasi seringkali memamerkan pertunjukkan yang mengecewakan penonton. Sebab alur cerita yang ditampilkan seringkali tidak sesuai dengan endingnya. Judul dramanya tentang kesejahteraan rakyat, tapi endingnya justru kesengsaraan rakyat. Judul dramanya tentang kebebasan pendapat, tapi endingnya justru persekusi tak beradab.

Sebagaimana dialami oleh ormas HTI misalnya, ormas ini hanya menyampaikan dakwah Islam tanpa kekerasan dan tanpa paksaan bahwa hanya sebatas wacana, namun demokrasi yang sejak awal anti agama, langsung beraksi mencabut badan hukum ormas tersebut. Ini adalah drama paling buruk untuk ditonton rakyat. Berbagai apologi picisan terlontar dari pendukung pencabutan BHP hingga menyatakan ormas telah dibubarkan. Padahal belum. Sementara argumen intelektual rasional yang menolak upaya pembubaran, tak diperhatikan sama sekali. Dramaturgi sempurna dari politik demokrasi.

Begitupun terkait drama persekusi kepada para ulama dan krimininalisasi dakwah, dari mulai pembubaran pengajian hingga pembunuhan seorang ulama. Dramaturgi yang digunakan adalah peran berpura-pura gila. Seorang gila yang menunggu di masjid sejak dini, lantas menyerang seorang ulama yang usai sholat subuh hingga meninggal. Dramaturgi horor sekaligus menjijikkan.

Drama Ratna Sarumpaet adalah dalam perspektif dramaturgi politik demokrasi adalah memanfaatkan kebohongan dia menjadi komoditas politik untuk saling menjegal lawan politik. Berbagai intrik politik meluncur deras memanfaatkan kisah kebohongan wanita renta menjadi drama horor dan menjijikkan.

Ketika alur drama politik telah mencapai puncaknya, Ratna justru mengakui dirinya telah berbohong. “ Tidak ada penganiayaan. Itu hanya cerita khayalan yang entah setan mana yang berkembang dalam diri saya”, kata Ratna saat menggelar konferensi pers di rumahnya [Republika,03/10].

Pengakuan inilah yang selanjutnya menjadi babak baru drama politik di negeri ini. Ibarat Tsunami, kisah kebohongan wanita renta ini, kini menjadi bencana politik di negeri ini. Meski Ratna dan Prabowo telah minta maaf, namun goreng menggoreng akan terus mengalir bagai gelombang Tsunami.

Anehnya, para pelaku drama politik, seolah tak sadar bahwa negeri ini justru sedang dirundung berbagai musibah bencana alam, bahkan banyak yang menyatakan bencana alam adalah bentuk azab dari Tuhan atas perilaku menyimpang manusia-manusia di negeri ini.

Berbagai kebohongan, pengkhianatan, persekusi, kezoliman, korupsi, narkoba, pembunuhan, penipuan, perzinahan, ekonomi ribawi, seks bebas, perjudian, mabok-mabokan, penjarahan, perampokan, dan sederet watak busuk telah berkembang pesat di negeri ini. Wajar jika Allah murka dan menurunkan azabnya.

William Blum menulis buku yang telah diterjemahkan dengan judul Demokrasi, Ekspor Amerika Paling Mematikan. Pubhlisers Weekly mengomentari buku ini dengan menyatakan bahwa penulis telah melakukan kritik tajam dan koreksi berharga atas wacana politik mainstream.
Dalam panggung politik demokrasi, rakyat bukanlah yang berdaulat sebagaimana yang sering diteriakkan oleh para politisi. Yang sebenarnya terjadi adalah bahwa rakyat hanya sekedar menjadi penonton dalam panggung sandiwara. Rakyat hanya sekedar akan menilai performa politisi dalam memainkan peran, tidak pada proses-proses dan taktis di belakang panggung. Realitas yang dikemukakan hanyalah sebatas teatrikal dalam batas-batas yang sah untuk dipertontonkan.

Entah sampai kapan panggung sandiwara yang horor dan menjijikkan ini akan berakhir, padahal rakyat sudah muak menontonnya. Drama adalah kisah khayalan yang dibuat seorang seniman atau sastrawan. Namun dalam perpektif dramaturgi, justru kehidupan rakyat dalam politik demokrasilah yang sebenarnya khalayan. Bahwa untuk bisa hidup sejahtera, aman, rukun, dan terbebebas dari penjajahan hanyalah khayalan belaka.

Kasihan rakyat, sampai kapan kalian jadi penonton yang terus ditipu. Sampai kapan ?.

[Ahmad Sastra,Kota Hujan, 05/10/18 : 06.40 WIB]

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget