HTI Sebuah Gerakan yang "Aneh" Tapi "Nyata"



Oleh: Dr. Ibnu C. Ma’ruf

Mercusuarumat.com. Saat ini, hampir dapat dikatakan tidak ada yang tidak mengenal HTI. Kiprahnya dalam perpolitikan nasional tidak dapat diragukan oleh siapa pun, baik yang pro atau yang kontra. Perbincangan tentangnya telah merata di hampir semua elemen masyarakat, baik di kalangan tokoh atau orang awam. Perbincangan tentangnya meluas, mulai dari stasiun TV, kampus, lembaga-lembaga penelitian hingga di warung-warung kopi. Tidak sedikit masyarakat yang menganggapnya sebagai “harapan baru” setelah masyarakat jenuh dengan tingkah polah para tokoh dan politisi yang hanya sibuk berbohong demi keuntungan diri dan kelompoknya sendiri, tanpa pernah memikirkan urusan masyarakat. Tetapi tidak sedikit yang menganggapnya sebagai “ancaman yang sangat serius”, bahkan pemerintah harus menempuh jalan yang penuh dengan onak dan duri untuk mengeluarkan PERPPU ORMAS secara spesial guna mencabut BHP-nya. Tidak diragukan, PERPPU ORMAS memang dikeluarkan hanya untuk menghabisi HTI, meski dibantah oleh pihak-pihak pendukungnya.

Apakah HTI itu sehingga pemerintah harus kalang kabut bersusah payah untuk mencabut BHP-nya? Apa yang diperjuangkannya? Siapa saja yang aktif di dalamnya?

KEANEHAN HTI

Bagi orang yang hanya melihat sekilas tentang HTI, akan tampak bahwa ia adalah ormas Islam biasa, seperti ormas-ormas yang lain. Tidak kurang dan tidak lebih. Tetapi, bagi siapa saja yang mengamati secara mendalam tentang kiprah dan aktivitas HTI dalam waktu cukup lama akan memahami bahwa HTI berbeda dengan semua ormas yang ada di Indonesia. Karena itulah, bagi saya HTI adalah ormas yang “aneh”.

Menurut catatan saya, beberapa hal di bawah ini menunjukkan beberapa keanehan itu, diantaranya:

• Saat BHP-nya dicabut dan gugatannya ditolak, massa HTI yang jumlahnya sangat besar justru sujud syukur. Bagi saya, ini adalah sesuatu yang sangat aneh, sesuatu yang tidak lazim. Sebab, siapa pun atau ormas apa pun saat “didzalimi” pasti sangat kecewa, bahkan akan memberi “perlawanan”. Jika tidak berani memberi “perlawanan”, minimal pulang dengan memendam kekecewaan. Tapi HTI justru menyambut ditolaknya gugatan pencabutan BHP dengan sujud syukur dan mereka pulang dengan optimisme yang tiada duanya. Bahkan, di media sosial, para aktivis HTI juga menumpahkan rasa syukurnya yang tiada terkira. Sungguh, mereka menampakkan diri sebagai orang-orang yang sangat dewasa dengan jiwa kesatria. Benar-benar aneh!

• Sebelum dicabut BHP-nya, HTI adalah ormas yang sangat sering menyelenggarakan acara-acara besar dengan peserta hingga ratusan ribu orang dan tersebar hampir di seluruh Indonesia. Kita tahu bahwa penyelenggaraan acara yang kolosal dan dikemas dengan sangat profesional pasti membutuhkan biaya bermilyar-milyar, padahal sebagaimana kita ketahui tidak ada satu pun unit usaha milik HTI yang diketahui oleh publik. HTI juga mengaku tidak pernah mendapat bantuan keuangan dari pemerintah, bahkan mengaku tidak pernah mau diberi bantuan oleh pemerintah dan bahkan oleh siapa pun juga. Pengakuan HTI ini tampaknya bisa dibenarkan, sebab jangankan menerima bantuan pemerintah, HTI bahkan menerima hukuman berupa pencabutan status badan hukum dari pemerintah. Ada yang berspekulasi, bahwa HTI mendapat dana dari pemerintah Arab, Amerika, dan Israil. Namun, jika kita cek di semua media, HT(I) justru merupakan organisasi yang paling dimusuhi oleh Pemerintah Arab, Amerika, dan Israel. Sebab, HT(I) adalah organisasi yang paling keras kritikannya terhadap negara-negara tersebut. Jika kita cek dari berbagai berita, HT(I) bahkan dilarang di negara-negera Arab. Jadi, dari mana dana yang sedemikian besar?

• Meskipun HTI adalah organisasi yang paling sering dipersekusi oleh ormas Islam lainnya (tidak perlu disebut namanya), HTI tampak sangat cool dan tidak terpengaruh dengan berbagai persekusi dan tekanan keras terhadapnya. Bahkan, pada acara MAPARA HTI Jawa Timur tahun lalu, massa HTI yang jumlahnya puluhan ribu orang dan dihadang hanya oleh tidak lebih dari 500 orang dari ormas lain, HTI cenderung mengalah dan tidak memberi perlawanan untuk itu sehingga tidak terjadi benturan antara sesama umat Islam. Inilah adalah sikap HTI yang sangat simpatik. Padahal, jika dihitung dari kekuatan, kekuata HTI jauh di atas jumlah ormas lain yang menghadangnya.


• Keistiqomahan HTI merupakan keanehan tersendiri. Sejak tahun 1980an hingga saat ini (lebih dari 30 tahun), HTI tak pernah bosan dan tidak pernah berubah dalam mengkampanyekan dan mendakwahkan penegakan syariah dan khilafah. Jika kita jujur, isu syariah dan khilafah sangat tidak marketable, sangat tidak menguntungkan bagi semua ormas, bahkan bagi ormas dan parpol Islam. Makanya, hingga detik ini, kita tidak pernah mendengar ada ormas yang menjadikan syariah dan khilafah sebagai isu perjuangannya, bahkan semua cenderung menjauhinya. Semua ormas, termasuk ormas dan parpol Islam lebih memilih isu yang lebih populis, seperti keadilan, kemakmuran, persatuan, perdamaian, toleransi, moderatisme, dan lain-lain. Apa rahasia keberanian dan keistiqomahan ini?

• Keanggotaan HTI merupakan keanehan tersendiri diantara keanehan-keanehan lainnya. Meskipun HTI adalah ormas Islam, dengan isu sentral yang dianggap tidak populis bahkan cenderung dianggap “radikal” oleh sebagian orang, kita menduga bahwa anggotanya pastilah hanya diisi oleh orang-orang tua atau lulusan pesantren. Tetapi, jika kita mengamati dengan seksama, justru sebaliknya, anggota HTI kebanyakan adalah anak-anak muda dari kampus-kampus ternama di Indonesia dan luar negeri. Para profesional mulai dari lawyer, akuntan publik, peneliti, dan pengusaha juga banyak yang bergabung menjadi anggota HTI. Tidak ketinggalan, para ulama dan santri di pesantren juga banyak yang bergabung menjadi bagian integral HTI.


• Tingginya intelektual para anggota HTI merupakan keanehan yang lain. Kelompok-kelompok Islam yang menyerukan penerapan syariah, biasanya hanya berpijak pada dalil-dalil dari qur’an dan sunnah secara kaku, namun tidak mampu memberi jawaban yang logis dan memuaskan atas berbagai problematika ekonomi, sosial, hukum, politik, sains dan lainnya. Tetapi, tampaknya hal itu tidak berlaku bagi para aktivis HTI. Meskipun, mereka sangat ketat dalam menjaga dalil-dalil dari qur’an dan sunnah, bahkan dapat disebut sebagain kaum tekstualis, tetapi mereka dengan sangat mengagumkan dan memuaskan dapat menjelaskan implementasi qur’an dan sunnah dalam dunia modern dengan kompleksitas secara sangat luar biasa. Saat berdiskusi dengan para ekonom, aktivis HTI bahkan tampak dengan sangat mudah menjelaskan kekurangan dan kesalahan ekonomi kapitalis. Aktivis HTI, saat bicara tentang sistem mata uang misalnya, berjam-jam penjelasannya tidak selesai. Penjelasan begitu rinci, detil, akurat dan mendalam. Sementara, saat berdiskusi dengan para pakar ushul fiqih, ahli tafsir, ahli hadits dan lain, para aktivis HTI seperti lulusan pondok pesantren yang nyantri puluhan tahun. Mereka menguasai berbagai kitab-kitab salaf yang menjadi maroji’ umat Islam. Padahal sebagian mereka adalah sarjana biologi atau sarjana teknik atau lainnya.

Dan masih banyak lagi keanehan-keanehan yang lain. Mengapa semua itu keanehan-keanehan itu benar-benar terjadi?

APA SEBENARNYA HTI?

Tidak seperi kelompok atau ormas lain yang sulit dicari jati dirinya, HTI merupakan ormas yang sangat mudah dikenali. Kitab-kitab pembinaan di dalam HTI juga dapat dengan mudah diakses oleh siapa pun. Kitab-kitab tersebut, bahkan hampir semuanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kitab-kitab tersebut tidak pernah disembunyikan HTI dari publik. Jadi, sangat mudah mengenali jati diri HTI.

Oleh karena itu, untuk mengenali HTI tidak diperlukan penelitian yang mendalam. Sebab, semua pikiran dan rahasia HTI sebetulnya tidak dirahasiakan oleh HTI. Lagi pula, aktivis HTI adalah sosok-sosok dengan kejujuran dan keterus-terangan yang tiada duanya. Para aktivis HTI, tidak membenarkan konsep tauriyah (berdusta) seperti yang diadopsi oleh syiah. Sehingga saat kita mendengar penjelasan dari mereka atau dari kitab mereka, itulah sesuangghnya pandangan mereka. Mereka tidak menyembunyikan suatu gagasan atau tujuan perjuangannya sedikit pun.

Hanya saja, untuk mengetahui hakikat HTI, kita memang harus mau mendengarkan penjelasan mereka atau membaca buku mereka dengan pikiran terbuka dan hati yang tulus. Ditambah lagi, penjelasan mereka yang sangat detil dalam hampir semua hal mengharuskan kita untuk sabar mendengarkan penjelasan mereka hingga tuntas. Memang, aktivis HTI tidak akan marah jika kita memotong penjelasan mereka, tapi konsekuensinya kita tidak akan mendapat penjelasan yang utuh dari mereka.

Jika kita baca dari buku mereka dan mendengar penjelasan dari aktivis mereka, maka dapat diketahui dengan jelas bahwa HTI adalah lembaga dakwah Islam yang misinya adalah menegakkan kembali kehidupan Islam (isti’nafu alhayati al-islamiyyah) sehingga kerahmatan Islam benar-benar dapat dirasakan oleh umat manusia, baik muslim atau non-muslim. Dalam pandangan mereka, tujuan dakwah mereka bukanlah tegaknya khilafah. Bagi mereka, khilafah bukanlah tujuan tetapi metode penerapan Islam dalam kehidupan. Apa bedanya tujuan dan metode, HTI mengulasnya dengan sangat detil.

Jika khilafah saja bukan tujuan mereka, apalagi mengatakan HTI akan menghancurkan pancasila. Itu jelas kesimpulan yang mengada-ada. Silahkan baca di buku-buku mereka dan berdiskusi dengan aktivis mereka. Mereka dan buku mereka tidak pernah membahas pancasila sama sekali. Bagi mereka, Islam adalah ideologi sehingga lawannya juga ideologi, yaitu ideologi kapitalisme atau ideologi sosialisme. Sehingga membenturkan Islam yang ditawarkan HTI dengan nilai-nilai pancasila, itu sesuatu yang absurd. Bagaimana bisa kita membenturkan antara Islam dengan ketuhanan? Bagaimana bisa kita membenturkan antara Islam dan keadilan? Bagaimana bisa kita mebenturkan Islam dan kemanusiaan? Tak mungkin bisa. Hal ini akan clear jika kita mau sedikit meredam sifat emosional kita dan berdiskusi dengan aktivis HTI dengan hati yang lapang.

Lalu siapakah aktivis HTI? Jika kita mengkaji dengan seksama, bahwa aktivis HTI terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, dari berbagai strata sosial, berbagai profesi dan berbagai latar belakang pendidikan. Namun, yang mengherankan adalah bahwa mereka memiliki perasaan, pemikiran, dan perjuangan yang sama. Hal itu terjadi, karena pembinaan yang sungguh-sungguh dilakukan oleh aktivis HTI. Diceritakan bahwa pembinaan terkadang hanya seorang diri atau hanya dua orang selama lebih dari 5 tahun. Setelah pembinaan selama tahunan tersebut, kemudian orang tersebut diberi pilihan apakah mau berdakwah bersama HTI atau tidak. Seandainya orang tersebut memilih tidak bersama HTI, aktivis HTI yang membinanya menerima dengan hati yang ikhlas tanpa ada kekecewaan sedikit pun. Apa kita bisa sesabar itu?

Lalu mengapa mereka bisa sesabar itu? Kuncinya adalah pada pembinaan sebelumnya yang dirasakan oleh aktivis HTI. Merak diajak berfikir tentang hakikat hidup, siapa pencipta hidup, kemana setelah hidup dan untuk apa hidup ini. Dari renungan dan bukti-bukti yang memuaskan akal, sesuai dengan fitrah dan sesuai dengan hati nurani, merka menyadari bahwa hidup berasal dari Allah, setelah mati akan menghadap Allah untuk mempertanggung-jawabkan hidupnya di hadapan Allah, dan mereka hidup di dunia tak lain adalah untuk beribadah kepada Allah dalam bentuknya sangat luas ini.

Kesadaran inilah yang menggerakkan dan menjadi dasar sikap aktivis HTI secara keseluruhan. Akibatnya ketundukan kepada Allah adalah ketundukan yang totalitas. Pada saat yang sama, mereka melaksanakan aktivitas hidupnya, termasuk dalam berdakwah bersama HTI, dengan sepenuh HTI dan melaksanakan dengan cara terbaik, karena mereka sadar keputusan hidup dan aktivitasnya dipersembahkan kepada sang pencipta hidup. Mereka tidak pernah kecewa dengan apapun yang terjadi, karena sadar bahwa semua yang terjadi merupakan qodlo Allah yang harus diterima dengan ikhlas.

Itulah rahasianya, mengapa mereka memiliki sikap yang kelihatan aneh. Dipesekusi tetapi diam saja, didzalimi malah sujud syukur, pengorbanan yang tulus baik jiwa, raga maupun harta, tak bisa disogok atau dibelokkan.

Jadi, HTI dan aktivisnya memang kelihatan “aneh” jika dilihat dengan kacamata sekulerisme dan kapitalisme seperti sekarang ini, atau dengan kaca mata sosialisme. Dengan kaca mata sekarang, orang hanya mau melakukan sesuatu jika ada uangnya, atau untungnya.

Tetapi, sikap dan tindakan aktivis HTI sebetulnya sikap dan tindakan yang sewajarnya, jika menggunakan kaca mata Islam. Sikap dan aktivitas seperti itulah yang diajarkan Islam.

Dengan keimanan yang mendalam dan kepasrahan yang total kepada Allah seperti itu, tampaknya semua usaha untuk menghentikan langkah HTI hanyalah upaya sia-sia. Mereka akan tetap beraktivitas dengan sungguh-sungguh tanpa memerhatikan penerimaan atau penolakan manusia. Mereka hanya mengharap pertolongan Allah saja. Padahal, jika Allah swt sudah menolong hamba-hamba-Nya, siapa yang bisa menolaknya? Saya, Anda, kita semua, bahkan semua rezim di dunia tidak akan bisa.

Wallahu a’lam

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget