Mencintai Panji atau Bendera Rosulullah



Mercusuarumat.com. Baru baru ini masyarakat diresahkan oleh peristiwa pembakaran sebuah bendera berwarna hitam yang terjadi di kota Garut di tengah tengah perayaan Hari Santri Nasional. Bagaimana tidak, karena bendera yang dibakar tersebut adalah bendera umat Islam bendera tauhid yang juga diperjuangkan oleh Baginda Nabi Rasulullah Muhammad SAW.

Bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid tersebut bernama Ar-Royyah. Hal ini berdasarkan hadits berikut; Imam Ahmad, Abu Dawud dan An-Nasai di Sunan al-Kubra telah mengeluarkan dari Yunus bin Ubaid mawla Muhammad bin al-Qasim, ia berkata: Muhammad bin al-Qasim mengutusku kepada al-Bara’ bin ‘Azib bertanya tentang rayah Rasulullah Saw seperti apa? Al-Bara’ bin ‘Azib berkata:

كَانَتْ سَوْدَاءَ مُرَبَّعَةً مِنْ نَمِرَةٍ

“Rayah Rasulullah Saw berwarna hitam persegi panjang terbuat dari Namirah.”

Dalam Musnad Imam Ahmad dan Tirmidzi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah Saw telah menyerahkan kepada Ali sebuah panji berwarna putih, yang ukurannya sehasta kali sehasta. Pada liwa (bendera) dan rayah (panji-panji perang) terdapat tulisan ‘Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah’. Pada liwa yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.”.

Bagaimana bisa, dikatakan bahwa bendera ini adalah bendera suatu partai atau ormas tertentu setelah dengan jelas dari hadits di atas meyatakan bahwa bendera hitam tersebut merupakan bendera Rasulullah atau bisa kita katakan bendera umat Islam.

Sebaliknya, kita harus mencintai dan menjaga kesucian bendera tersebut dengan seluruh jiwa dan raga kita. Sebagaimana kecintaan para Sahabat terhadap bendera hitam tersebut.
Saat Rasulullah Saw menjadi panglima militer di Khaibar, beliau bersabda:

لأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ أَوْلَيَأْخُذَنَّ الرَّايَةَ غَدًا رَجُلاً يُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ أَوْ قَالَ يُحِبُّ الله َوَرَسُولَهُ يَفْتَحُ اللهُ عَلَيْهِ فَإِذَا نَحْنُ بِعَلِيٍّ وَمَا نَرْجُوهُ فَقَالُوا هَذَا عَلِيٌّ فَأَعْطَاهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّايَةَ فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ

“‘Sungguh besok aku akan menyerahkan ar-râyah atau ar-râyah itu akan diterima oleh seorang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya atau seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Allah akan mengalahkan (musuh) dengan dia.’. Tiba-tiba kami melihat Ali, sementara kami semua mengharapkan dia. Mereka berkata, ‘Ini Ali.’. Lalu Rasulullah Saw memberikan ar-rayah itu kepada Ali. Kemudian Allah mengalahkan (musuh) dengan dia.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah Saw. menyampaikan berita duka atas gugurnya Zaid, Ja‘far, dan Abdullah bin Rawahah, sebelum berita itu sampai kepada beliau, dengan bersabda:
أَخَذَ الرَّايَةَ زَيْدٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا جَعْفَرٌ فَأُصِيبَ ثُمَّ أَخَذَهَا عَبْدُاللَّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَأُصِيبَ

“Ar-Râyah dipegang oleh Zaid, lalu ia gugur; kemudian diambil oleh Ja‘far, lalu ia pun gugur; kemudian diambil oleh Ibn Rawahah, dan ia pun gugur.” (HR. Bukhari)

Maka dari itu, adanya kampanye dan edukasi terkait al-Liwa dan ar-Rayyah tersebut harus lebih dimasifkan lagi. Ini merupakan PR kita bersama. Marilah dari sekarang kita lawan arus opini negatif terhadap simbol-simbol Islam. Silahkan temui kenalan-kenalan kita, berbincanglah dengan mereka, dan sampaikan tentang al-Liwa dan ar-Rayyah ini.

Mungkin orang-orang yang membenci Islam bisa merakayasa fakta dan membuat drama jelek tentang al-Liwa dan ar-Rayyah, namun, mereka tetap pasti akan kalah bila ada kajian secara normatif bahwa memang wahyu menunjukkan bendera tersebut merupakan bendera yang baik-baik saja.

Lagipula tulisan di bendera itu kan syahadat. Itu rukun iman yang pertama. Itulah inti keislaman kita. Itulah yang menyatukan kita; tanpa melihat suku, bangsa, kelompok, level ekonomi, hobi, dan sebagainya. Itulah tujuan hidup kita. Laa illaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah.
Wallahua’lam..

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget